Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
…
"Akhir pekan ini kami akan pergi ke resor ski. Sudah lama aku tidak main ski. Dan mereka juga bilang mau pergi ke sauna." Suara Soo Hee yang riang terdengar dari pengeras suara di ponsel Jongin. "Kai, kau mau ikut?"
Jongin melirik ponsel yang menempel di dashbor mobilnya sementara ia mengemudi. "Tidak," sahutnya sambil menggeleng walaupun Soo Hee sudah pasti tidak bisa melihatnya. "Kurasa aku akan sibuk sekali akhir pekan ini. Banyak pekerjaan yang menunggu. Tapi kuharap kau bersenang-senang dengan teman-teman sekantormu."
Hening sejenak, lalu Soo Hee bertanya dengan nada serius, "Kai, kau benar-benar berencana menetap di sini?"
Jongin menghentikan mobilnya di depan lampu lalu lintas yang sudah berubah merah. "Ya," sahutnya tegas sambil menatap ponselnya. Ia memang yakin ia ingin menetap dan bekerja di Seoul. Selama tiga minggu terakhir ini ia bahkan sudah mempersiapkan pameran hasil karyanya.
"Kenapa?"
Dalam hatinya Jongin tahu alasan di balik keinginannya ini, tetapi itu adalah sesuatu yang tidak ingin dikatakannya kepada Soo Hee. Entah kenapa. Mungkin belum waktunya. "Kenapa tidak?" balasnya acuh tak acuh.
"Kau tahu aku akan segera kembali ke New York, kan?"
"Tentu saja."
"Jadi kenapa..." Soo Hee tidak melanjutkan kata-katanya. Hening sejenak. Sepertinya Soo Hee tidak mengharapkan jawaban singkat dan tegas seperti itu. Lalu ia mendesah dan berkata datar, "Setelah akhir pekan ini, aku akan langsung pergi beberapa hari. Ada tugas." Jeda sesaat lagi, lalu, "Kita akan bicara lagi setelah aku kembali dari sana."
"Oke."
Jongin menutup ponsel dan kembali mengemudi sambil melamun. Selama tiga minggu terakhir ini perasaannya sendiri membuatnya bingung. Ia memang sering bertemu Soo Hee, makan bersama, jalan-jalan, dan semacamnya. Dan Soo Hee juga teman yang menyenangkan, sama seperti yang diingatnya dulu. Tetapi Jongin mendapati ada sesuatu dalam dirinya sendiri yang berubah. Ia tidak lagi merasakan apa yang dulu pernah dirasakannya setiap kali berada di dekat Soo Hee. Seharusnya ia sekarang merasa bahagia karena Soo Hee sudah kembali bersamanya, tetapi kenyataannya Jongin malah mendapati dirinya memikirkan orang lain. Seseorang yang selalu melintas dalam benaknya, seseorang yang tanpa sadar selalu dicari-carinya, seseorang yang membuat perasaannya kacau-balau, seseorang dengan nama Do Kyungsoo.
Setelah makan malam bersama di apartemen gadis itu sekitar tiga minggu yang lalu itu, mereka sudah jarang bertemu dan berbicara. Tentu saja kadang-kadang ia berpapasan dengan Kyungsoo kalau mereka kebetulan keluar dari apartemen pada waktu yang bersamaan atau pulang pada saat yang sama. Setiap kali mereka bertemu, Kyungsoo hanya membalas sapaan Jongin dengan singkat atau tersenyum sopan, tidak menyambut usaha Jongin untuk mengobrol lebih panjang. Kyungsoo memang tetap ramah, tetapi Jongin merasa gadis itu menjaga jarak darinya, bahkan mungkin juga menghindarinya. Dan itulah yang membuat Jongin uring-uringan. Ia tidak ingin Kyungsoo bersikap seperti itu kepadanya. Ia ingin berbicara dengan gadis itu, mengobrol seperti ketika mereka makan malam bersama, tetapi kelihatannya usahanya tidak berhasil. Kalau di ajak bicara, Kyungsoo hanya akan menjawab dengan satu atau dua patah kata dan langsung menghindar.
Memikirkan makan malam mereka waktu itu, Jongin kembali teringat ia meminta Kyungsoo menerima Chanyeol. Sampai sekarang ia masih menyesali kata-katanya. Ia bertanya-tanya apakah gadis itu menuruti permintaannya? Apakah Kyungsoo sudah menerima Chanyeol?
Kekesalan terbit dalam hatinya dan mulai menggerogoti dirinya dari dalam. Jongin mengatupkan rahang dan mencengkeram roda kemudi erat-erat. Ia jenius sekali, bukan? Benar-benar jenius. Lalu sekarang bagaimana?
Tiba-tiba Jongin tersadar dari lamunannya dan memandang jalanan di depan. Di mana dia sekarang? Ia sudah mengemudi tanpa sadar ke mana tujuannya. Ia memandang gedung cokelat tidak jauh di depan sana. Bukankah itu perpustakaan tempat Kyungsoo bekerja? Ia ingat Kyungsoo pernah menyebut nama perpustakaan ini. Kenapa aku bisa sampai di sini? Pikir Jongin heran. Ia tidak ingat pernah datang ke sini. Tapi karena ia sudah ada di sini, tidak ada salahnya masuk dan melihat-lihat.
Perpustakaan itu sepertinya tidak asing. Jongin melihat berkeliling. Benar, sama sekali tidak asing. Barisan rak buku, meja-meja dan suasana tenang di sana sangat akrab baginya. Otaknya tidak tahu ia akan pergi ke mana, tetapi sepertinya kakinya tahu benar, jadi ia membiarkan kakinya melangkah sendiri. Ia menaiki tangga ke lantai dua dan memandang berkeliling. Lantai dua juga memiliki barisan rak buku yang terisi penuh seperti di lantai satu, tetapi buku-buku di sini berbeda jenisnya dengan buku-buku di lantai satu.
Pandangan Jongin terhenti pada konter panjang yang terletak tidak jauh dari tangga. Dua orang petugas perpustakaan sedang duduk di sana dan melayani beberapa tamu. Do Kyungsoo tidak terlihat. Jongin berjalan melewati setiap barisan rak tinggi dan mencari-cari gadis itu. Tidak ada.
Ia tidak tahu kenapa, tetapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Jongin menghampiri konter petugas perpustakaan dan bertanya tentang Kyungsoo. Tetapi bahkan sebelum Jongin sempat membuka mulut untuk bertanya, wanita berambut pendek dan berseragam yang duduk di balik konter itu tesenyum lebar dan bertanya lebih dulu, "Mencari Do Kyungsoo, bukan?"
Agak kaget, Jongin tidak bisa langsung menjawab. Ia hanya menatap wanita itu dengan bingung.
Wanita yang ditatapnya seakan tidak menyadari keheranan Jongin, ia melanjutkan, "Sudah lama sekali kami tidak melihatmu. Kami bertanya pada Do Kyungsoo, tapi dia tidak berkata apa-apa."
Apakah dulu aku sering ke sini? pikir Jongin bingung. Apakah dulu aku juga mengenal wanita itu? Tidak tahu harus menjawab apa, Jongin hanya bergumam, "Oh ya?"
"Kalian tidak sedang bertengkar, bukan?" tanya wanita itu penasaran dengan suara direndahkan.
"Tidak, tidak," sahut Jongin cepat, lalu kembali mengingatkan wanita itu kepada masalah utama. "Kyungsoo?"
"Tadi katanya dia mau keluar makan siang," jawab wanita itu cepat, lalu memandang melewati bahu Jongin. "Oh, itu dia."
Jongin berputar cepat dan melihat sosok Kyungsoo yang terbalut jaket panjang kuning sedang menuruni tangga ke lantai dasar. Ia cepat-cepat berterima kasih pada informannya dan bergegas mengejar Kyungsoo.
…
Kyungsoo baru mengulurkan tangan untuk mendorong pintu kaca perpustakaan ketika sebelah tangan terulur dari belakangnya dan mendorong pintu itu lebih dulu. Ia berbalik dan ucapan terima kasih yang sudah berada di ujung lidahnya tercekat ketika ia bertatapan dengan mata Kim Jongin.
"Jongin?"
Jongin tersenyum lebar ke arahnya dan napas Kyungsoo tertahan sejenak. Lalu ia tersadar dan menyelinap keluar melewati pintu yang sudah didorong terbuka karena ada orang lain yang juga akan keluar.
Berdiri di depan gedung perpustakaan, Kyungsoo menggigil sejenak karena angin yang menerpanya. Lalu ia berbalik menghadap Jongin, menyapu sejumput rambut dari wajah dan bertanya, "Jongin, sedang apa di sini?"
Jongin menarik napas dan mengangkat bahu. "Tadi aku ada sedikit urusan di sekitar sini. Karena teringat kau pernah bilang kau bekerja di sini, aku memutuskan untuk mampir dan mengajakmu makan siang bersama."
"Oh." Kyungsoo agak terkejut. Ia tidak menduga jawaban seperti itu. Saat itu Jongin terlihat tepat seperti sebelum ia hilang ingatan, mengajak Kyungsoo makan siang bersama dengan mata berkilat-kilat dan senyum lebar seperti itu. Tidak tahu apa yang harus dipikirkan atau dikatakan, Kyungsoo tetap diam.
Sejenak Jongin hanya menatap Kyungsoo, lalu berdeham, "Jadi," katanya sambil memandang berkeliling, "aku dulu sering datang ke sini?"
Kyungsoo menoleh ke arah Jongin sesaat, lalu memandang ke arah lain. "Ya," sahutnya.
"Kita sering makan siang bersama, bukan?"
"Kadang-kadang," sahut Kyungsoo sambil mengangkat bahu.
Jongin mengangguk-angguk. "Jadi bagaimana kalau kita pergi makan siang sekarang?"
"Hari ini tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku sudah ada janji dengan orang lain."
Jongin terdiam sejenak. "Dengan siapa?"
Sebelum Kyungsoo sempat menjawab, terdengar suara seseorang memanggil nama Kyungsoo. Mereka berdua serentak menoleh ke arah suara dan kening Jongin langsung berkerut melihat siapa yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Jongin, apa kabar? Kebetulan sekali kau ada di sini," sapa Park Chanyeol setelah berdiri di depan mereka berdua.
"Oh, Chanyeol," balas Jongin setengah hati. "Sedang apa di sini?"
Chanyeol menoleh ke arah Kyungsoo. "Aku dan Kyungsoo-ssi akan pergi makan siang," sahutnya ringan. Ia kembali menatap Jongin. "Kau sudah makan? Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?"
Setelah berpikir sejenak dan melirik Kyungsoo tetap diam, Jongin memutuskan ia tidak bisa membiarkan mereka pergi berdua saja. Tidak bisa. Dan Kyungsoo tidak boleh terus menghindari dirinya. Akhirnya ia tersenyum dan berkata, "Tentu saja. Aku juga sedang tidak ada kesibukan."
…
"Banyak temanku yang bilang makanan di sini enak sekali," kata Chanyeol ketika mereka memasuki sebuah kedai kecil yang ramai dikunjungi para karyawan kantoran pada jam makan siang seperti ini.
"Benarkah? Aku belum pernah ke sini." Kyungsoo memandang berkeliling mencari tempat kosong sementara seorang pelayan menyerukan ucapan selamat datang kepada mereka. "Tapi kurasa Dokter Park benar. Tempat ini ramai sekali."
Jongin menggumamkan sesuatu yang tidak bisa ditangkap Kyungsoo, tetapi ia tetap masuk mengikuti Kyungsoo dengan patuh. Mereka berjalan ke satu-satunya meja yang masih kosong. Karena Chanyeol langsung mengambil tempat berhadapan dengan Kyungsoo, Jongin pun mengambil tempat di samping Kyungsoo.
"Kalian mau makan apa?" tanya Chanyeol kepada kedua orang di hadapannya ketika seorang pelayan datang menanyakan pesanan.
Kyungsoo membaca menu yang dipegangnya. "Entahlah. Menurut Dokter Park apa yang enak di sini?"
"Kurasa udon-nya yang paling terkenal di sini," sahut Chanyeol, lalu mengulurkan tangan ke seberang meja untuk menunjuk salah satu jenis udon yang tertulis di menu Kyungsoo. "Bagaimana kalau yang nomor tiga ini?"
"Yang ini?" tanya Kyungsoo sambil membaca tulisan yang ditunjuk. Tanpa mengangkat kepala dan tanpa benar-benar berpikir, ia bertanya, "Jongin?"
"Kurasa aku ingin mencoba yang nomor lima," sahut Jongin.
"Oh, ya," timpal Kyungsoo. "Nomor lima kelihatannya lumayan. Tapi bagaimana kalau nomor enam saja?"
"Kenapa?"
"Aku ingin mencoba yang nomor enam."
"Kalau begitu, kenapa bukan kau sendiri yang memilih nomor enam?"
"Karena aku juga ingin mencoba yang nomor tiga tadi. Ayolah, Jongin. Ya?"
"Tunggu aku lihat dulu nomor enam itu apa."
Sementara kedua orang itu sibuk berdebat, tanpa mereka sadari Park Chanyeol menatap mereka bergantian dengan alis terangkat samar dan sorot mata heran, lalu seulas senyum tipis tersungging di bibirnya sementara ia menunduk dan menarik napas pelan.
"Bagaimana, Jongin?" desak Kyungsoo lagi. "Jangan lama-lama."
"Begini saja, Kyungsoo-ssi," sela Chanyeol. "Kalau Jongin memang mau memesan yang nomor lima, biar aku saja yang memesan nomor enam. Bagaimana?"
"Tidak," sahut Jongin langsung dan mengangkat wajah. Sadar kalau suaranya terdengar agak keras, ia melanjutkan dengan suara yang diusahakan lebih santai, "Bagiku yang nomor enam juga tidak apa-apa." Ia menoleh ke arah si pelayan sambil menunjukkan menu yang dipegangnya. "Aku pesan yang nomor enam, lalu nona ini memesan yang nomor tiga." Ia menoleh ke arah Chanyeol dan bertanya, "Dan kau, Chanyeol?"
Setelah menyebutkan pesanannya dan si pelayan pergi meninggalkan mereka, Chanyeol kembali menatap kedua orang di depannya. "Sepertinya kalian berdua sudah bergaul dengan baik," komentarnya.
"Tidak juga."
"Begitulah."
Ucapan yang keluar secara bersamaan itu membuat Kyungsoo dan Jongin berpandangan. Kyungsoo yang tadi berkata 'Tidak juga' sedangkan Jongin berkata 'Begitulah'.
"Apa maksudmu 'tidak juga'?" tanya Jongin.
"Tidak apa-apa," sahut Kyungsoo sambil memalingkan wajah.
"Kau sendiri yang bilang kalau hubungan kita baik-baik saja."
"Memangnya kau sudah bisa mengingat kembali?"
"Belum."
"Jadi bagaimana kau bisa tahu apakah aku berbohong atau tidak?"
"Kurasa kau tidak punya alasan untuk berbohong padaku, bukan?"
"Memang tidak."
"Jadi?"
Ketika pelayan datang membawakan pesanan, perdebatan dihentikan sementara. Kyungsoo menatap telur rebus yang menyertai udon-nya, lalu ia menoleh ke arah Chanyeol. Sebelum ia sempat membuka mulut, Chanyeol sudah berkata lebih dulu, "Aku tahu. Berikan saja padaku."
Jongin menatap Chanyeol, lalu beralih kepada Kyungsoo yang memotong telurnya dengan hati-hati. "Ada apa?" tanyanya tidak mengerti.
"Oh, aku tidak suka kuning telur," sahut Kyungsoo tanpa mengangkat wajah.
Melihat Kyungsoo memindahkan kuning telur dari mangkuknya ke mangkuk Chanyeol membuat kening Jongin berkerut samar. Ia tidak tahu Kyungsoo tidak suka kuning telur, dan kesadaran itu semakin membuatnya terganggu. Berusaha mengenyahkan kekesalan yang tiba-tiba saja terbit, Jongin mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong, sudah lama kita tidak minum bersama dan mengobrol," katanya sambil menatap Chanyeol.
Chanyeol berpikir sejenak. "Benar juga. Kita memang harus mencari waktu. Sejak reuni waktu itu aku belum sempat menelepon dan menanyakan kabarmu."
"Aku baik," kata Jongin datar. Tidak, yang benar adalah bingung dan frustrasi.
"Aku yakin kau cukup sibuk akhir-akhir ini. Kudengar kau akan mengadakan pameran dalam waktu dekat," kata Chanyeol.
Kyungsoo mengangkat wajah dan menatap Jongin dengan wajah berseri-seri. "Pameran foto? Benarkah?"
"Begitulah," kata Jongin, agak terkejut melihat Kyungsoo tersenyum kepadanya seperti itu. Walaupun senyum itu hanya bertahan sebentar, karena Kyungsoo langsung menunduk ke arah mangkuk udon-nya kembali, tetapi tidak apa-apa. Sepanjang ingatan Jongin, baru pertama kali itulah Kyungsoo benar-benar tersenyum kepadanya. Perasaannya mulai aneh, tetapi aneh dalam arti yang baik. Ia merasa... senang. Jongin berdeham dan menatap Chanyeol. "Jadi... kau punya rencana akhir pekan ini?"
"Aku akan menghabiskan akhir pekan di rumah keluargaku," kata Chanyeol. "Hari ini kakekku berulang tahun dan keluarga besarku berkumpul semua." Ia menoleh ke arah Kyungsoo. "Kyungsoo-ssi, kau jadi menemaniku sore ini?"
Alis Jongin terangkat kaget dan ia melirik Kyungsoo yang duduk di sampingnya. Apa maksudnya itu?
Kyungsoo mengangguk. "Ya," sahutnya ringan, lalu mengangkat mangkuknya ke mulut dan menyeruput kuah udon dengan lahap. "Wah! Enak sekali. Jongin, kenapa kau belum menyentuh makananmu?"
Jongin menatap gadis yang duduk di sampingnya itu dengan kening berkerut. Mulutnya gatal ingin bertanya, tapi ia menahan diri. Apa maksud Chanyeol dengan meminta Kyungsoo menemaninya sore ini? Apakah ia mengajak Kyungsoo ke acara ulang tahun kakeknya? Dan gadis itu mengiyakan dengan santainya. Selera makan Jongin langsung hilang entah ke mana.
…
Kyungsoo melambaikan tangan ke arah Chanyeol yang melaju pergi dalam mobilnya setelah menurunkan Kyungsoo dan Jongin di depan perpustakaan, lalu ia menoleh ke Jongin yang berdiri di sampingnya dengan agak canggung. Kyungsoo bingung. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan Jongin, tidak mengerti kenapa laki-laki itu berubah pendiam selama makan siang tadi.
Benar, memang sudah sebulan terakhir ini mereka jarang bertemu dan berbicara. Kyungsoo sendiri berusaha tidak bertemu atau berpapasan dengan Jongin. Kenapa? Karena setiap kali ia melihat Jongin, bayangan laki-laki itu memeluk Yoon Soo Hee selalu menyerang pikirannya, membuatnya gelisah. Kyungsoo harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa Jongin yang sekarang sudah bukan Jongin yang dulu pernah melukis bintang di langit-langit kamar tidurnya, bukan lagi Jongin yang memberikan malam Natal paling mengesankan dalam hidupnya, dan bukan lagi Jongin yang meminta Kyungsoo melupakan Chanyeol dan mulai melihat dirinya.
Memikirkan semua yang pernah dialaminya bersama Jongin kembali membuat dadanya sesak. Kyungsoo memalingkan wajah. Ini tidak sehat, pikirnya kesal. Menyadari bahwa ia sudah menyukai Kim Jongin hanya memperburuk keadaan. Ia sudah memutuskan untuk melupakan perasaannya, mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap Jongin. Setidaknya dengan begitu ia tidak akan merasa sakit hati. Ia harus ingat bahwa Jongin—setidaknya Jongin yang sekarang—tergila-gila pada Yoon Soo Hee, bukan Do Kyungsoo. Bukan Kyungsoo.
Astaga! Hal itu sedikit pun tidak membuat perasaanku lebih baik, gerutu Kyungsoo dalam hati.
Tetapi hari ini Jongin tiba-tiba muncul di perpustakaan dan mengajaknya makan siang dengan senyum yang selalu membuat jantung Kyungsoo berdebar dua kali lebih cepat. Seperti yang sering dilakukannya dulu. Kyungsoo tidak mampu berpikir apa-apa ketika mendongak menatap Jongin yang memandangnya dengan cara seperti yang selalu dilakukannya dulu. Semua tekad dan usaha yang dikerahkannya untuk melupakan laki-laki itu menguap begitu saja.
"Jadi..." Kyungsoo menoleh mendengar suara Jongin yang ragu. Laki-laki itu sedang menatapnya dengan raut wajah datar dan kedua tangan dijejalkan ke saku celana. "Kau akan pergi dengan Chanyeol sore ini?"
Kyungsoo memandangnya sejenak, lalu mengangguk. "Ya."
"Kenapa?"
"Kenapa?" ulang Kyungsoo dengan alis terangkat bingung. "Seperti yang dia bilang tadi, hari ini hari ulang tahun kakeknya dan..."
"Ulang tahun kakeknya," sela Jongin sambil tersenyum tipis dan mendengus pelan. "Dia juga bilang semua keluarga besarnya akan hadir."
Kyungsoo tidak mengerti apa yang ingin dikatakan Jongin sebenarnya, jadi ia diam saja.
"Jadi kau akan diperkenalkan kepada keluarganya," gumam Jongin sambil mengalihkan pandangan dan mengangguk-angguk.
"Apa?" Kyungsoo tidak menangkap kalimat terakhir Jongin itu.
Tepat pada saat itu ponsel Jongin berbunyi. Jongin mengeluarkan benda yang menjerit-jerit itu dengan kesal, membuka dengan gerakan kasar dan menempelkannya ke telinga. "Ya?"
Satu kata singkat itu diucapkan dengan nada yang sama sekali tidak terdengar ramah bagi Kyungsoo. Dan hal itu agak membingungkannya karena baru pertama kali itulah ia melihat Jongin uring-uringan tanpa sebab. Mungkinkah itu salah satu efek samping dari pukulan di kepalanya?
"Tidak apa-apa," kata Jongin di ponselnya. Suaranya berubah agak tenang. "Oke... aku mengerti. Aku akan ke sana sekarang."
Yoon Soo Hee. Pikiran itu tiba-tiba menyelinap masuk ke otak Kyungsoo dan membuat alisnya berkerut. Yang menelepon Jongin saat itu pasti Yoon Soo Hee. Jongin tadi bilang dia akan segera ke sana. Mungkin wanita itu menyuruh Jongin cepat-cepat datang menjemputnya. Menjemputnya di mana dan mereka akan ke mana? Kyungsoo menghentikan dirinya sebelum pikirannya melantur ke mana-mana. Ia memalingkan wajah, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan. Ke mana pun Jongin pergi bersama Yoon Soo Hee sama sekali bukan urusannya. Jongin bahkan boleh membawa wanita itu ke ujung dunia kalau memang mau. Silakan saja, pikir Kyungsoo kesal.
Jongin menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku celana. Ia menatap Kyungsoo sejenak, membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi. Akhirnya, setelah menarik napas panjang, ia bergumam datar, "Aku pergi dulu."
Kyungsoo menggigit bibir sementara menatap Jongin berjalan ke mobil yang diparkirnya di pelataran parkir di depan gedung perpustakaan. Ia memang sudah memutuskan untuk tidak memikirkan Jongin dan Soo Hee lagi. Ia sudah memutuskan hubungan kedua orang itu sama sekali bukan urusannya dan Jongin boleh pergi ke ujung dunia sekalipun bersama Yoon Soo Hee. Tetapi saat itu, sementara ia menatap Jongin yang masuk ke sedan putihnya dan mulai melaju pelan meninggalkan pelataran parkir, ia tahu keputusannya sia-sia saja.
Melihat Jongin pergi seperti itu dan menyadari laki-laki itu akan pergi menemui Yoon Soo Hee membuat Kyungsoo tertekan. Dengan susah payah ia menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kekesalan—atau tepatnya, kecemburuan—yang muncul dan menyesakkan dadanya. "Bodoh," gerutunya pelan.
…
"Kenapa kau marah-marah ketika menjawab teleponku?" tanya Kim Shin tanpa basa-basi ketika melihat keponakannya masuk restoran dan berjalan menghampirinya. "Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama."
Jongin tiba di salah satu restoran milik pamannya dengan perasaan aneh, seakan ia pernah melihat tempat ini sebelumnya. Interiornya yang bergaya pedesaan Inggris, dengan lantai kayu, taplak meja hijau, dan tirai tebal. Di setiap meja terdapat lilin dalam gelas dan setangkai bunga. Kening Jongin berkerut samar sementara ia memiringkan kepalanya sedikit. Tapi dalam benaknya ia membayangkan ada pohon Natal di sudut ruangan dan lagu-lagu Natal mengalun di udara. Lalu seseorang... wajah seseorang yang tersenyum. Lalu semuanya hilang. Jongin memijat-mijat pelipisnya yang berdenyut. Apa-apaan itu tadi?
"Maaf, Paman," sahut Jongin muram dan mengambil tempat duduk di hadapan pamannya di meja paling sudut. "Suasana hatiku sedang buruk."
"Karena Yoon Soo Hee?"
Jongin mengerutkan kening karena bingung. "Soo Hee? Bukan, bukan," sahutnya sambil mengibaskan tangan dengan tidak sabar. Ia heran kenapa pamannya bisa memikirkan hal-hal yang tidak berhubungan seperti itu.
Kim Shin mengangkat bahu. "Aku tahu benar kau kesal karena masalah wanita. Kalau bukan Yoon Soo Hee, berarti wanita yang waktu itu?"
Masih dengan kening berkerut, Jongin menoleh ke arah pamannya. "Wanita yang waktu itu?"
Pamannya yang baru akan meraih cangkir kopi di hadapannya tertegun. "Oh? Aku belum menceritakannya padamu ya?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
"Bercerita tentang apa?" Jongin mulai penasaran.
Kim Shin tidak langsung menjawab. Ia menatap keponakannya dengan penuh pertimbangan, lalu memandang berkeliling. "Jongin, bagaimana menurutmu restoranku ini?" tanyanya tiba-tiba.
Jongin mendesah tidak sabar, tetapi memaksa diri memandang berkeliling dan berkomentar singkat, "Bagus."
"Merasa pernah melihat tempatku ini sebelumnya?"
Dengan suasana hatinya saat itu, Jongin benar-benar tidak membutuhkan latihan kesabaran. Ia memijat-mijat pelipisnya lagi dan mendesah, "Paman..."
"Kau pasti tidak ingat pernah datang ke sini sebelumnya," sela pamannya cepat.
"Apa?"
"Aku lupa menceritakannya padamu, tapi kau pernah datang ke sini pada malam Natal." Kim Shin berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Bersama seorang wanita."
Kening Jongin berkerut, kali ini lebih dalam. Seorang wanita? Siapa?
"Aku tidak bertemu denganmu di sini," pamannya menambahkan. "Kau pergi ke pertunjukan balet setelah makan malam di sini. Aku bertemu denganmu di sana. Dan aku melihatmu bersamanya."
Pertunjukan balet? pikir Jongin. Sesuatu berkelebat dalam pikirannya, tapi langsung hilang lagi. Ia menggeleng-geleng sesaat, lalu bertanya. "Oh, ya? Siapa wanita itu?"
Kim Shin menggeleng. "Aku tidak tahu. Kau tidak mengenalkannya padaku. Tapi..."
"Tapi?"
"Dia mengingatkanku pada So Hyun."
"So Hyun?" Nama itu sama sekali asing bagi Jongin.
"So Hyun itu model terkenal di sini," jelas pamannya. "Aku tidak pernah menyangka kau tipe orang yang suka bermain-main dengan model."
Jongin tidak pernah menganggap dirinya suka bergaul dengan para model, tapi ia diam saja. "Seperti apa orangnya?"
"So Hyun?" tanya pamannya polos.
"Bukan. Wanita yang bersamaku ini," sahut Jongin tidak sabar.
Pamannya tersenyum. "Manis, rambut lurus sebahu, kurus... tidak juga, tidak terlalu kurus. Sudah kubilang, dia mirip So Hyun."
Wajah Kyungsoo langsung terbesit dalam benak Jongin. Apakah pamannya sedang menggambarkan ciri-ciri Do Kyungsoo? "Kyungsoo?" gumam Jongin, lebih pada diri sendiri.
Kim Shin mengangkat bahu dan menambahkan, "Kulihat sepertinya kau tertarik padanya."
"Aku tertarik padanya?"
"Menurutku begitu," kata pamannya sambil merenung.
Jongin terpekur menatap meja. Otaknya sibuk berputar. Kalau memang Do Kyungsoo yang dimaksud pamannya, berarti... berarti apa? Berarti ia lebih dekat dengan Kyungsoo daripada yang semula diduganya. Pikiran itu entah bagaimana membuat perasaannya lebih baik. "Aku tertarik padanya?" gumamnya lirih dengan nada melamun, seolah-olah baru tersadar akan sesuatu.
Pamannya mengangguk-angguk pelan, lalu menambahkan dengan nada sambil lalu, "Tapi saat itu belum ada Yoon Soo Hee. Jadi..."
Jongin mengangkat wajah menatap pamannya yang sedang menyesap kopi. Apa hubungan Soo Hee dalam masalah ini? Tapi ia tidak mau membuat kepalanya lebih pusing lagi. Hanya ada satu hal yang terpikirkan olehnya sekarang. Ia benar-benar ingin tahu bagaimana perasaannya terhadap Do Kyungsoo sebelum ia hilang ingatan, berharap hal itu sedikit-banyak bisa menjelaskan perasaan aneh yang dirasakannya setiap kali ia berada di dekat Kyungsoo atau setiap kali ia memikirkan gadis itu.
"Ngomong-ngomong, Jongin," kata pamannya tiba-tiba dengan nada serius. "Sebelum kau datang tadi, aku menerima telepon dari kepolisian. Mereka sudah mendapat petunjuk tentang orang-orang yang menyerangmu waktu itu. Dan orang-orang itu memang sudah mengincarmu sejak awal."
To Be Continued
