Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
…
Kyungsoo belum memutuskan bagaimana ia harus bersikap dalam berhubungan dengan Jongin. Apakah sebaiknya ia kembali menjaga jarak dari laki-laki itu? Tetapi siang ini mereka sudah makan dan mengobrol bersama seperti dulu ketika Jongin belum hilang ingatan, dan Jongin datang ke perpustakaan untuk mencarinya. Kembali menghindari laki-laki itu akan terasa aneh.
Tetapi kalau ia kembali dekat dengan Jongin, justru Kyungsoo sendiri yang berisiko mengalami sakit hati karena terpaksa menyaksikan Jongin dan Yoon Soo Hee bersama. Bayangan Jongin yang memeluk Soo Hee kembali menghunjam otaknya. Kyungsoo menggeleng kuat-kuat, tidak sudi mengingat itu. Pada saat-saat seperti inilah ia membenci pikirannya yang suka melayang tanpa arah.
Sambil membetulkan letak topi wol yang agak miring karena gelengan kepalanya yang terlalu keras tadi, Kyungsoo sejenak berhenti melangkah di depan gedung apartemennya dan menengadah menatap langit malam yang suram. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan keras, uap putih keluar dari mulutnya dan menghilang di depan matanya.
"Bodoh," gerutunya kepada bayangan wajah Jongin di langit malam. "Bodoh..."
Dengan langkah gontai ia menaiki tangga gedung apartemen sambil merogoh tas tangannya mencari kunci pintu. "Di mana lagi benda itu?" tanyanya pada diri sendiri. Ia sudah berdiri di depan pintu apartemennya tetapi kuncinya masih belum ketemu.
"Hei."
Suara berat yang tiba-tiba terdengar begitu dekat di belakangnya membuat Kyungsoo terkesiap dan terlompat kaget. Ia berputar begitu cepat sampai tas tangannya terlepas dari pegangan, jatuh ke lantai, dan isinya berhamburan. Punggungnya menempel ke pintu apartemennya sementara matanya terbelalak ketakutan menatap sosok tinggi dan kabur di hadapannya.
"Ada apa? Kenapa?" tanya orang di hadapannya dengan nada cemas.
Suara itu menembus bunyi debar jantung Kyungsoo yang menghentak keras di telinganya dan ia mulai menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Sosok yang tadinya terlihat kabur di matanya pun berubah jelas begitu debar jantungnya yang keras mereda. Jongin... Orang yang berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan alis berkerut bingung bercampur cemas adalah Kim Jongin.
Sebagian ketakutan Kyungsoo berubah menjadi amarah. Walaupun lega, suaranya masih agak bergetar ketika ia mendesis, "Demi Tuhan, jangan pernah sekali-kali..."Melihat kebingungan Jongin, Kyungsoo berhenti sejenak untuk menarik napas, berdeham, dan berkata dengan suara lebih tenang. "Jangan pernah melakukan hal itu lagi."
Jongin heran melihat Kyungsoo yang berdiri gemetar di depannya. "Melakukan apa? Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil menatap Kyungsoo dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, lalu kembali terpaku pada wajah Kyungsoo yang pucat. "Apa yang terjadi?"
Tidak mau membalas tatapan Jongin, Kyungsoo berjongkok dan mulai mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan. "Tidak apa-apa," sahut Kyungsoo kaku. "Kenapa kau mengendap-endap begitu?"
"Aku tidak mengendap-endap," bantah Jongin sambil ikut berjongkok dan membantu mengumpulkan barang-barang Kyungsoo. "Aku berjalan seperti biasa menaiki tangga dan melihatmu sibuk mencari-cari sesuatu di tasmu. Mencari ini?" Ia mengacungkan kunci pintu apartemen Kyungsoo yang dipungutnya dari lantai.
Kyungsoo mendongak dan menatap kunci di tangan Jongin. "Ya," sahutnya dan berdiri setelah mengumpulkan semua barangnya.
Jongin ikut berdiri, tetapi ia tidak mengulurkan kunci itu kepada Kyungsoo. Ia terlihat sedang berpikir-pikir. "Ini pernah terjadi sebelumnya, bukan?" tanyanya tiba-tiba.
"Apa?"
Jongin tidak langsung menjawab. Ia berpikir lagi, lalu berkata, "Apakah aku pernah membantumu mencari sesuatu?"
"Tidak," sahut Kyungsoo. Tiba-tiba teringat pada waktu Jongin baru pindah ke sini dan membuatnya terkejut di jalan sepi, ia menambahkan, "Tapi kau memang pernah membuatku terkejut seperti yang kau lakukan tadi." Begitu kata-kata itu meluncur dari mulutnya, Kyungsoo langsung menyesal. Sekarang Jongin pasti akan bertanya kenapa ia bereaksi begitu berlebihan ketika disapa tadi.
Tetapi Jongin hanya mengangguk-angguk dan menatap Kyungsoo sejenak, lalu bertanya, "Kau pulang lebih cepat dari dugaanku. Tapi kenapa Chanyeol tidak mengantarmu pulang?"
Kyungsoo agak kaget karena Jongin mendadak mengubah arah pembicaraan mereka. "Oh... Tadi dia memang mau mengantarku pulang, tapi karena dia harus cepat-cepat pulang untuk merayakan ulang tahun kakeknya, aku minta diturunkan di stasiun saja."
Alis Jongin berkerut samar. "Kau tidak ikut merayakan ulang tahun kakeknya?"
"Apa? Tidak," kata Kyungsoo, heran mendengar kata-kata Jongin.
"Jadi tadi kalian pergi ke mana?"
"Dokter Park ingin membeli buku langka untuk kakeknya," Kyungsoo menjelaskan.
"Kebetulan aku tahu tempat yang menjual buku-buku antik, jadi Dokter Park memintaku menemaninya ke sana."
Jongin mendadak merasa ia bisa bernapas lebih mudah. "Ah, begitu. Tadinya kukira..."
Kyungsoo menatapnya dengan alis terangkat heran. "Kaukira apa?"
"Kukira dia akan mengajakmu. Kukira kalian... karena..." Jongin mendesah dan mengangkat bahu. "Kukira dia ingin mengajakmu bertemu dengan keluarganya."
Alis Kyungsoo berkerut. "Kaukira dia ingin memperkenalkanku kepada keluarganya? Maksudmu... Oh..."
"Tapi aku senang ternyata dia tidak mengajakmu."
Mata Kyungsoo terangkat ke wajah Jongin. Apa katanya tadi?
Jongin menatap lurus ke mata Kyungsoo. "Kata-kataku waktu itu... sewaktu aku memintamu menerima Chanyeol," gumamnya pelan. Ia terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku berharap bisa menarik kembali kata-kata itu."
Kyungsoo tidak sadar ia sedang menahan napas. Jantungnya juga sekaan berhenti sejenak, lalu kembali berdebar keras secepat kereta api ekspres. Seluruh perhatiannya terpusat pada kalimat terakhir Jongin. Apa maksudnya? Kyungsoo berusaha menahan harapannya yang mulai melambung. Ia tidak ingin terlalu berharap. Harapan yang dihempas kembali ke tanah akan terasa sangat menyakitkan. Tapi apa maksud laki-laki itu?
Kyungsoo berusaha mencari suaranya yang seakan menguap begitu saja. "Kenapa?" tanyanya lirih. Suaranya terdengar agak tercekat, bahkan di telinganya sendiri.
Jongin menarik napas dalam-dalam. "Karena...," katanya sambil mengangkat bahu, "karena aku..."
Apakah jantungku berhenti berdegup? pikir Kyungsoo. Kenapa aku tidak bisa mendengar apa pun selain suara Jongin? Menunggu kata-kata Jongin selanjutnya. Karena... karena aku...
Tiba-tiba Jongin membalikkan tubuh dan bersin.
…
Jongin membiarkan Kyungsoo mendorongnya masuk ke apartemen dan membiarkan gadis itu mengomelinya tentang mudahnya terkena flu pada musim dingin, apalagi kalau ia berkeliaran seharian di luar demi mencari objek yang menarik untuk difoto.
Omelan gadis itu terasa menenangkan. Pengalihan yang bagus. Dan Jongin merasa bersyukur karenanya. Dua menit yang lalu ia hampir mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dipikirkannya. Ia hampir berkata ia tidak suka melihat Kyungsoo bersama Chanyeol. Hampir berkata ia berharap Kyungsoo bisa tersenyum kepadanya seperti gadis itu tersenyum kepada Chanyeol.
Dan hampir berkata ia menyukai Kyungsoo.
Dari mana datangnya pikiran itu? Jongin menggeleng, berusaha menarik dirinya kembali pada apa yang dikatakan Kyungsoo saat itu. "Bagaimana kau tahu aku berkeliaran seharian mencari objek untuk difoto?" tanyanya sambil melepas sepatu dan mengenakan sandal rumah.
"Tentu saja aku tahu. Aku sering ikut denganmu berkeliling Seoul kalau kau sedang ingin mencari inspirasi," Kyungsoo menjelaskan sambil lalu.
Seperti yang selalu dilakukannya selama ini begitu memasuki apartemen Jongin, Kyungsoo langsung membuka sepatu dan memakai sandal Pororo-nya tanpa berpikir. Tetapi Jongin memerhatikan hal itu. Ia menatap sandal di kaki Kyungsoo dengan alis terangkat, lalu beralih menatap Kyungsoo yang saat itu langsung menyalakan lampu dan pemanas ruangan. Ia kembali menatap sandal itu dan perlahan-lahan kesadaran baru tumbuh dalam dirinya.
Tetapi kata-kata Kyungsoo tadi menarik perhatiannya. Jongin melepas jaket dan syalnya, lalu bertanya dengan nada heran, "Jadi aku sudah banyak mengambil foto sejak aku tiba di Seoul?"
"Mm," gumam Kyungsoo tanpa memandangnya dan mengeluarkan kotak obat dari salah satu laci di ruang duduk.
Jongin tertegun melihat gadis itu sepertinya mengenal baik seluk-beluk apartemennya. "Tapi kenapa aku tidak pernah melihat foto-foto yang pernah kuambil?" tanya Jongin sambil mengempaskan diri ke sofa.
Kyungsoo menghampirinya dengan obat dan segelas air. Jongin menelan obatnya dengan patuh. "Bukankah biasanya kau menyimpan foto-fotomu di laptop?" tanya Kyungsoo.
"Biasanya begitu, tapi kulihat tidak ada apa-apa di sana," sahut Jongin, lalu merenung.
"Aku jadi ingin tahu foto-foto apa saja yang pernah kuambil."
Kyungsoo bergumam tidak jelas dan mengangkat bahu, jelas menganggap hal itu tidak perlu dipusingkan.
"Apakah sebelumnya aku sudah tahu bahwa kau tidak suka kuning telur?" tanya Jongin tiba-tiba.
"Apa?"
"Saat makan siang tadi, Chanyeol sudah tahu kau tidak suka kuning telur. Apakah sebelum ini aku juga sudah tahu?"
Agak heran, Kyungsoo menjawab, "Ya, kau tahu soal itu." Jeda sejenak, lalu, "Memangnya kenapa?"
Jongin menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan, lalu menatap Kyungsoo. Aku tidak ingin Chanyeol tahu lebih banyak tentang dirimu daripada aku, katanya dalam hati, tetapi ia tidak mungkin mengucapkannya. Kyungsoo pasti akan terkejut dan kembali menghindarinya. Dan Jongin tidak mau hal itu terjadi.
"Tidak apa-apa," akhirnya ia berkata, lalu tiba-tiba bertanya, "kenapa kau begitu terkejut ketika aku menyapamu tadi?"
Gerakan Kyungsoo terhenti, kaget karena Jongin mendadak membelokkan percakapan. "Tidak apa-apa," ia mengelak. "Hanya terkejut karena aku tidak mendengarmu naik tangga."
Jongin menatapnya dan menggeleng pelan. Gadis itu boleh membantah semaunya, tetapi Jongin yakin Kyungsoo tadi ketakutan. "Kau ketakutan," kata Jongin, "bukan sekadar terkejut. Kenapa?"
Kyungsoo mengangkat bahunya dengan gerakan sambil lalu. "Sudah kubilang, tidak apa-apa."
Jongin menatap gadis itu dan tiba-tiba sesuatu melintas dalam benaknya. Ia tertegun. "Kau tidak suka gelap," gumamnya pelan.
Kepala Kyungsoo berputar cepat ke arah Jongin yang sedang mengadah menatap langit-langit ruang duduk dengan alis berkerut. "Apa katamu?" tanya Kyungsoo.
"Kau pernah berkata padaku kau tidak suka gelap," kata Jongin sekali lagi dengan nada melamun. "Benar, bukan?"
"Kau sudah ingat?" tanya Kyungsoo, alisnya terangkat.
"Tidak. Belum," sahut Jongin. Pikiran tentang Kyungsoo yang tidak suka gelap tiba-tiba terbesit dalam benaknya. Entah bagaimana, ia bisa mengingat sesuatu tentang gadis itu. Dan ingatan tentang hal kecil itu membuatnya senang. Akhirnya. Akhirnya ia mengingat sesuatu tentang Kyungsoo. "Kyungsoo?"
Kyungsoo menatapnya dengan was-was. "Apa?"
"Apakah sebelum ini—sebelum aku hilang ingatan—aku sudah tahu kenapa kau tidak suka gelap?" tanya Jongin sambil menoleh ke arahnya.
Tubuh Kyungsoo berubah kaku dan ia mengerjap-ngerjapkan mata. "Tidak," sahutnya cepat. "Kurasa tidak."
"Kau mau menceritakannya kepadaku?"
Kyungsoo menatap Jongin dengan ragu. Jemarinya bertautan dan ia menggigit bibir. "Kejadiannya sudah lama," katanya kaku. "Kenapa kau ingin tahu?"
"Kenapa kau tidak ingin aku tahu?" Jongin balas bertanya.
Kyungsoo mendesah keras. "Karena itu sama sekali bukan masalah besar," katanya sambil merentangkan kedua tangannya. "Seorang pemabuk salah mengenaliku sebagai So Hyun."
"So Hyun?"
"Aku pernah bercerita soal So Hyun kepadamu. Tapi tentu saja sekarang kau sudah tidak ingat lagi," kata Kyungsoo sambil mengempaskan dirinya ke salah satu sofa, agak jauh dari Jongin dan menunduk menatap kedua tangannya. "Dia saudara kembarku."
Alis Jongin terangkat heran. Do Kyungsoo punya saudara kembar?
"Dan dia model terkenal," lanjut Kyungsoo sambil tersenyum ke arah Jongin.
Kali ini alis Jongin berkerut. So Hyun? Model terkenal? Tunggu... Bukankah tadi siang pamannya berkata tentang Jongin yang menghadiri pertunjukan balet dengan seorang wanita yang mirip So Hyun? So Hyun yang dikenal sebagai model terkenal di Korea? Kalau begitu, wanita yang dilihat pamannya bersama Jongin di pertunjukan balet malam Natal itu... Kyungsoo?
"Kau tentu tahu orang terkenal punya banyak penggemar." Suara Kyungsoo menarik Jongin kembali ke alam sadar. "So Hyun juga punya banyak penggemar. Beberapa di antaranya cukup...," Kyungsoo tertawa pendek, "...cukup berani. Kadang-kadang malah suka mengganggu So Hyun. Menguntitnya... yah, semacam itu."
Mata Jongin menyipit. Ia mulai merasakan firasat buruk. Sepertinya ia tahu ke mana arah cerita ini, tetapi ia berharap dugaannya salah. "Apakah mereka juga mengganggumu?" tanyanya was-was.
Kyungsoo tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat berdiam diri, seakan sedang berpikir apakah ia harus menjawab dengan jujur atau mengelak, ia mulai bergumam, "Kejadiannya musim panas dua tahun lalu. Hari sudah larut dan aku sedang dalam perjalanan pulang. Jalanan sepi dan gelap. Dan laki-laki itu mabuk. Dia salah mengenaliku sebagai So Hyun."
Jongin langsung terduduk tegak. Matanya menatap lurus ke arah Kyungsoo. "Apa yang dilakukannya padamu?" Ia tidak suka membayangkan... Semoga pikirannya salah...
Kyungsoo menelan ludah dengan susah payah. "Ke-kejadiannya sudah lama. Maksudku..."
"Kyungsoo." Jongin bergerak cepat menghampiri Kyungsoo dan berlutut di hadapan gadis itu, membuat mata mereka sejajar. Ia meraih tangan Kyungsoo dan memaksa gadis itu menatapnya. "Apa yang dilakukannya padamu?" tanyanya sekali lagi dengan suara yang diusahakannya terdengar tenang.
"Dia mencengkeram bahuku dan mendorongku ke dinding," gumam Kyungsoo sambil menunduk. Saat itu Jongin merasakan tangan Kyungsoo yang berada dalam genggamannya gemetar. "Dia begitu dekat. Aku bisa merasakan... merasakan napasnya yang bau mengenai wajahku. Lalu dia mencoba... mencoba... Maksudku, tangannya... tangannya bergerak terus. Aku sudah berusaha melawan. Sungguh. Aku mencoba sebisaku, tapi dia sangat kuat. Dia mabuk. Dan... dan... tangannya terus bergerak..." Suara Kyungsoo mulai pecah.
Tanpa berkata apa-apa, Jongin langsung mengulurkan tangan dan merangkul Kyungsoo. Tubuh gadis itu gemetar dan Jongin mempererat pelukannya. Amarah timbul dalam dirinya. Ia merasa sangat marah sampai ia hampir tidak bisa menahan diri. Seumur hidupnya ia tidak pernah berpikir untuk bertindak kasar. Tidak pernah satu kali pun. Tetapi kini ia tiba-tiba merasakan desakan hebat untuk menghajar pemabuk yang mengasari Kyungsoo itu. Tidak, menghajar saja tidak cukup. Ia bahkan bisa membunuh orang itu.
"Tapi aku tidak apa-apa," kata Kyungsoo cepat dan memaksakan tawa hambar. "Aku menjerit dan menjerit terus. Untungnya tepat pada saat itu ada dua polisi yang berpatroli di sekitar sana. Mereka mendengar jeritanku. Pemabuk itu tidak sempat melakukan apa-apa selain... selain... menyentuh. Maksudku, dia tidak sempat bertindak lebih jauh."
Jongin melepaskan pelukannya dan menatap Kyungsoo. "Polisi menahan orang itu, bukan?"
Kyungsoo mengangguk. Kemudian seakan tersadar bahwa ia begitu dekat dengan Jongin, ia bergerak gelisah dan bergeser menjauh sedikit dari Jongin. "Seperti yang sudah kukatakan padamu, aku baik-baik saja dan aku bisa menjaga diri. Sungguh." Ia menatap Jongin dan tersenyum. "Sebenarnya, Jongin, kau tahu benar aku bisa menjaga diri karena aku pernah menghajarmu ketika kau baru pindah ke sini. Kukira kau penguntit."
Alis Jongin terangkat heran. "Oh, ya?"
"Tentu saja," sahut Kyungsoo dan tertawa kecil. "Kau sampai berteriak minta ampun."
Seolah-olah punya pikiran sendiri, sebelah tangan Jongin terangkat dan menyentuh pipi Kyungsoo. "Aku yakin kau bisa menjaga diri," gumamnya sambil tersenyum, "tapi kau tidak akan mengalami hal seperti itu lagi. Aku berjanji."
Mereka berpandangan beberapa saat. Jongin bisa melihat sinar heran dalam mata Kyungsoo. Gadis itu pasti bingung dengan ucapannya. Jongin sendiri tidak paham kenapa ia selalu mengatakan hal-hal tidak terduga saat di dekat Kyungsoo.
Sambil berdeham Jongin menurunkan tangannya dari pipi Kyungsoo dan berdiri. "Kau sudah makan malam?" tanyanya ringan, dan melihat gadis itu agak heran dengan arah percakapan yang tiba-tiba berubah.
Kyungsoo menggeleng.
"Bagaimana kalau kita pergi makan?"
Kening Kyungsoo berkerut tidak setuju. "Kau masih mau berkeliaran malam-malam walaupun sudah mulai flu?"
"Di dekat-dekat sini saja," kata Jongin sambil mengenakan jaketnya. "Tentunya ada tempat makan di sekitar sini?"
Kyungsoo ragu sejenak, lalu menggerutu, "Ada Pojangmacha yang dulu sering kita kunjungi di dekat sini."
"Bagus." Jongin tersenyum lebar. "Kita makan di sana saja. Ayo."
Tadi ketika ia berlutut di hadapan Kyungsoo dan menatap ke dalam mata gadis itu, hati Jongin terasa sakit. Apa yang baru saja didengarnya dari Kyungsoo benar-benar membuatnya merasa sulit bernapas. Kyungsoo memang kini baik-baik saja. Ia gadis yang kuat. Tetapi apa yang akan terjadi kalau Kyungsoo terluka? Apa yang akan terjadi kalau sesuatu yang buruk menimpa Kyungsoo? Apa yang akan terjadi? Apa yang akan terjadi pada Jongin? Bagaimana Jongin harus menanggungnya?
Kesadaran itu sangat mengejutkan dan Jongin butuh beberapa saat untuk mencernanya. Dari mana datangnya perasaan yang begitu kuat itu?
Akhirnya Kyungsoo mendesah pelan dan tersenyum. Senyum tulus kedua dalam hari itu, dan Jongin merasa seakan ia baru menerima penghargaan. Senyum gadis itu memiliki pengaruh terhadap dirinya. Membuatnya perasaannya membaik. Membuatnya merasa gembira. Membuatnya merasa seolah-olah ia bisa menghadapi dunia.
Jongin tiba-tiba menyadari selama Do Kyungsoo berada di dekatnya, segalanya akan baik-baik saja. Dirinya juga akan baik-baik saja. Selama gadis itu ada di sisinya...
Dan saat itu juga kesadaran lain menerjang dirinya. Sepertinya ia, Kim Jongin, telah jatuh cinta kepada Do Kyungsoo.
Astaga, apakah itu mungkin?
To Be Continued
