Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

"Jadi polisi sudah tahu siapa yang menyerangmu waktu itu?" tanya Kyungsoo dengan mata terbelalak. "Mereka benar-benar sudah tahu siapa orangnya?"

Mereka duduk berhadapan di kedai langganan mereka. Jongin baru saja bercerita tentang apa yang dikatakan pamannya tadi siang tentang kecelakaan yang menimpanya dan membuatnya hilang ingatan itu.

Jongin mengangkat bahu. "Begitulah kata pamanku. Tapi pada tahap ini kurasa mereka hanya memiliki kecurigaan. Belum bisa dipastikan."

"Itu juga sudah bagus. Itu berarti polisi kita benar-benar sudah bekerja keras," kata Kyungsoo penuh semangat. Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan kening berkerut, "Jongin, mungkinkah orang-orang itu penagih hutang?"

"Aku tidak punya hutang."

Kyungsoo meringis. "Kau kan tidak ingat apa-apa."

Sebenarnya sejak tadi ada sesuatu yang ingin ditanyakan Kyungsoo kepada Jongin, tetapi ia terus menundanya. Ia melirik Jongin yang makan dengan lahap di hadapannya. Apakah ia harus bertanya? Tetapi untuk apa pula ia bertanya? Ia tahu ia hanya akan sakit hati, tetapi... Ia melirik Jongin sekali lagi, lalu bertanya dengan suara yang diusahakan terdengar ringan, "Oh ya, di mana Yoon Soo Hee? Kau tidak mengajaknya makan bersama kita?"

"Dia pergi ke luar kota," sahut Jongin singkat tanpa mengangkat wajah dan terus melahap makanannya.

"Oh?" Kyungsoo mengerjapkan mata. Bahunya merosot. "Jadi karena Soo Hee sedang tidak ada, kau baru datang mencariku? Begitu?" gumamnya kecewa.

"Apa?" tanya Jongin sambil mengangkat wajah.

"Tidak. Tidak apa-apa," sahut Kyungsoo cepat sambil menggeleng. Ia merasa kesal pada diri sendiri karena sudah menanyakan hal tidak berguna tadi. Memangnya apa yang diharapkannya dari Jongin? Astaga, ia harus berhenti berharap yang tidak-tidak, sebelum ia berubah gila dan tidak bisa membedakan impian dengan kenyataan. Sadarlah, Do Kyungsoo. Hadapi kenyataan. Kenyataan apa? Kenyataan bahwa saat ini Jongin duduk di hadapannya, mengobrol dengannya, tersenyum kepadanya dengan cara yang selalu diingatnya? Ya Tuhan, seperti kenyataan dan impian mulai bercampur aduk dalam pikirannya. Bagaimana ini?

Tiba-tiba lagu Csikos Post terdengar di antara hiruk-pikuk kedai. Kyungsoo tersentak kaget, bergegas mengaduk-aduk tas tangannya dan mengeluarkan ponselnya yang berbunyi nyaring.

"Hei, aku pernah mendengar lagu itu," komentar Jongin tertegun. Ia memang ingat lagu itu adalah nada dering ponsel Kyungsoo.

"Tentu saja kau pernah dengar. Nada dering ini sama persis dengan Do Bong Soon di serial Strong Woman Do Bong Soon. Dan lagu ini sudah menjadi nada dering ponselku sejak aku menonton serial itu dan aku menyukai ringtonenya," kata Kyungsoo tidak sabar.

"Setidaknya aku mengingat satu hal lagi tentang dirimu," gumam Jongin.

Kyungsoo tidak mendengarnya karena ia sudah menempelkan ponsel ke telinga. "Halo?Oh, Dokter Park."

Jongin langsung menyipitkan mata dan mengamati Kyungsoo yang berbicara dengan Park Chanyeol di ponsel.

"Bagus sekali," kata Kyungsoo sambil tersenyum. "Aku ikut senang kalau kakek Dokter Park menyukai hadiahnya... Tidak apa-apa... Apa?" Kyungsoo melirik ke arah Jongin yang masih menatapnya lekat-lekat. "Ya, aku sedang makan. Dokter Park sendiri sudah selesai makan malam?... Oh, begitu... Baiklah, sampai nanti."

Ketika Kyungsoo menutup ponselnya, Jongin bertanya dengan nada yang diharapkan tidak mencerminkan apa yang dirasakannya, "Mau apa dia?"

"Hanya ingin berterima kasih karena aku sudah memilihkan buku yang disukai kakeknya," jelas Kyungsoo ringan.

"Pesta ulang tahunnya sudah selesai?" tanya Jongin acuh tak acuh, agak kesal melihat Kyungsoo tersenyum saat berbicara dengan Chanyeol tadi. Kenapa gadis itu begitu gampang tersenyum pada orang lain selain Jongin?

"Kata Dokter Park mereka baru akan mulai makan," kata Kyungsoo. Ia melihat apa yang sedang dilakukan Jongin dan mendecakkan lidah dengan pelan. "Jongin, jangan menusuk-nusuk makanan seperti itu. Kau ini kenapa, sih?"

Park Chanyeol menutup ponsel sambil tersenyum. Ia gembira karena Do Kyungsoo sudah memilihkan hadiah yang bagus untuk kakeknya. Sebenarnya ia ingin mengajak gadis itu ke sini hari ini, tetapi ia lalu berpikir mungkin saat ini masih terlalu cepat memperkenalkan Kyungsoo kepada keluarganya. Gadis itu mungkin akan merasa terbebani. Chanyeol bahkan belum menyatakan perasaannya kepada Kyungsoo, tetapi seharusnya gadis itu sudah tahu. Walaupun begitu, tetap saja saat ini masih terlalu cepat. Dan seandainya pun ia ingin memperkenalkan Kyungsoo kepada keluarganya, ia harus memulai dari kedua orangtuanya. Jadi pesta keluarga besar-besaran tempat semua kerabat dekat dan jauh berkumpul sudah pasti bukan tempat yang sesuai.

"Chanyeol," panggil ibunya dari ambang pintu ruang duduk rumah kakeknya yang besar. "Sedang apa di sana? Semuanya sudah berkumpul di ruang makan."

Chanyeol bangkit dari sofa dan mengikuti ibunya ke ruang makan utama.

"Jun Ha baru saja datang," kata ibunya dengan suara pelan. "Sepertinya dia terlibat masalah lagi."

Chanyeol mengerutkan kening. Lee Jun Ha, sepupu yang lebih tua daripada Chanyeol, memang terkenal selalu terlibat masalah. Ayah Jun Ha, Lee Duk Hwa, adalah kakak ibu Chanyeol dan ia sudah berusaha keras mengendalikan putra satu-satunya itu, tetapi sepertinya usahanya selalu menemui jalan buntu. Sejak kecil Jun Ha selalu bermasalah di sekolah. Ia tidak tertarik belajar, dan ketika sudah dewasa, ia juga tidak tertarik untuk bekerja dengan serius.

"Paman Duk Hwa juga sudah datang?" tanya Chanyeol kepada ibunya. Ibunya mengangguk.

"Kalau begitu, sebaiknya aku pergi menyapanya dulu sebelum ke ruang makan," kata Chanyeol.

Chanyeol pergi ke aula depan, mendapati pamannya dan Jun Ha sedang berbicara serius. Melihat kedatangan Chanyeol, kedua pria itu berhenti bercakap-cakap. Lee Duk Hwa merentangkan kedua lengannya dan tersenyum lebar. "Chanyeol, senang sekali bertemu denganmu lagi. Sudah lama kau tidak datang mengunjungiku."

Chanyeol membungkukkan badan dalam-dalam ke arah pamannya. "Maafkan aku, Paman. Memang seharusnya aku mengunjungi Paman."

"Tidak apa-apa," sela pamannya ramah. "Aku bisa mengerti bagaimana rasanya bekerja di rumah sakit. Dokter hebat memang selalu sibuk."

Chanyeol melihat pamannya melirik Jun Ha ketika mengucapkan kalimat terakhir. Yang dilirik pura-pura tidak mendengar. Jun Ha memang tidak pernah menyukai Chanyeol karena ayahnya selalu memuji-muji Chanyeol di depannya, tetapi Chanyeol sendiri juga tidak terlalu menyukai sepupunya itu.

"Apa kabar, Hyung?" sapa Chanyeol, memaksakan diri bersikap ramah kepada sepupunya yang terlihat lebih tua daripada umurnya yang baru 35 tahun.

"Tentu saja sangat baik, seperti yang bisa kaulihat sendiri," balas Jun Ha acuh tak acuh.

Chanyeol tersenyum tipis, lalu berkata kepada pamannya, "Semua sudah menunggu di ruang makan."

"Kau duluan saja," kata pamannya. "Ada yang ingin kubicarakan dengan sepupumu sebentar."

Chanyeol membungkukkan badan sekali lagi, lalu berputar dan berjalan meninggalkan mereka berdua.

Begitu Chanyeol menghilang dari pandangan, Lee Duk Hwa berputar menghadap putranya. "Sebaiknya kau punya alasan yang bagus untuk ini," kata Lee Duk Hwa dengan nada rendah dan marah. "Jelaskan kepadaku kenapa polisi menghubungimu? Kenapa mereka menuduhmu terlibat dalam penyerangan terhadap seorang pria?"

Lee Jun Ha meringis. "Ayah sudah tahu?" katanya dengan nada tidak peduli.

"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran. Itu masalah pribadi. Dan aku bisa membereskannya. Ayah tidak perlu ikut campur."

Ayahnya terkesiap marah. "Apa katamu? Apa..."

"Apakah Ayah juga mendengar bahwa orang itu hilang ingatan?" potong Jun Ha halus. "Orang yang hilang ingatan tidak bisa ingat apa-apa. Jadi tidak bisa mengajukan tuntutan apa-apa. Ditambah lagi, tidak ada saksi mata."

Lee Duk Hwa tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya. Ia tahu anaknya memang bermasalah, tetapi ini adalah pertama kalinya Jun Ha menunjukkan sikap seperti itu tepat di depan ayahnya.

"Yang perlu Ayah lakukan," lanjut Jun Ha dengan nada ringan sambil tersenyum lebar dan menepuk bahu ayahnya, "adalah pura-pura tuli dan bisu tentang masalah ini. Oke?"

Kedua pria itu tidak tahu bahwa Chanyeol tadi tidak langsung pergi ke ruang makan. Chanyeol masih bisa mendengarkan percakapan mereka. Apa yang baru saja didengarnya membuatnya tercengang sampai ia tidak bisa bergerak selama beberapa saat. Hanya ada satu pertanyaan yang berputar-putar dalam otaknya saat itu.

Mungkinkah orang yang dibicarakan Jun Ha itu adalah Kim Jongin?

Ketika ia mendengar langkah kaki yang semakin mendekati tempatnya berdiri, Chanyeol cepat-cepat bersembunyi di balik pintu, walaupun itu bukan tempat yang cocok untuk bersembunyi. Lee Duk Hwa berjalan melewatinya dengan langkah lebar, terlalu marah untuk menyadari bahwa Chanyeol bersembunyi di balik pintu dan menguping pembicaraan mereka.

Chanyeol baru melangkah keluar dari tempat persembunyiannya ketika Lee Jun Ha berjalan lewat dengan santai sambil bersenandung pelan. "Hyung," panggil Chanyeol.

Jun Ha berhenti melangkah dan menoleh ke balik bahunya. Alisnya berkerut ketika melihat Chanyeol berdiri di belakangnya. "Sedang apa kau di situ?"

Chanyeol mengabaikan pertanyaan itu. "Apakah Hyung menyerang orang itu pada Hari Natal?" tanyanya langsung.

Jun Ha membalikkan tubuh menghadap Chanyeol. Kepalanya dimiringkan, lalu sudut mulutnya terangkat dan ia meringis. "Wah, ternyata ada yang menguping di sini."

Tanpa menghiraukan komentar sinis itu, Chanyeol bertanya sekali lagi, "Apakah Hyung menyerang orang itu pada Hari Natal?"

Jun Ha melangkah menghampirinya dan berdiri tepat di depan Chanyeol. "Memangnya kenapa? Apa urusannya denganmu?" tanya Jun Ha dengan nada datar. Lalu matanya menyipit dan ia bertanya lagi, "Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu kejadiannya pada Hari Natal?"

Chanyeol tetap berdiri tegak dan menatap lurus ke mata sepupunya. "Karena aku mengenal orang itu."

Alis Jun Ha terangkat tinggi. "Temanmu, hah? Ternyata dunia ini sempit, bukan?" katanya pelan, lalu seulas senyum mengancam tersungging di bibirnya. "Sebaiknya kau tidak ikut campur dalam masalah ini, Chanyeol."

Chanyeol tidak takut. Juga tidak mundur. Ia tetap menatap sepupunya dengan tenang. "Atau?" tanyanya datar.

"Atau kau akan menyesal. Percayalah padaku," kata Jun Ha dengan nada rendah.

"Kalau kau memang sepintar yang dikatakan ayahku, kau akan pura-pura tuli dan bisu tentang masalah ini."

Wajah Chanyeol tidak menampilkan ekspresi apa-apa, tetapi ia tidak mengalihkan tatapan dari sepupunya. "Pura-pura tuli dan bisu?" gumamnya, masih dengan nada datar yang sama. "Kurasa orang yang Hyung serang itu tidak akan bersedia berpura-pura tuli dan bisu begitu ingatannya kembali."

Alis Jun Ha berkerut dan matanya menyipit.

"Ya, Hyung," kata Chanyeol pelan, seolah-olah ia bisa membaca jalan pikiran sepupunya. "Dia tidak akan selamanya hilang ingatan. Ingatan itu akan kembali. Malah," Chanyeol tersenyum dingin, "saat ini mungkin dia sudah ingat."

Setelah berkata begitu, Chanyeol berbalik dan berjalan ke ruang makan, bergabung kembali dengan keluarganya, meninggalkan Jun Ha yang berdiri kaku dan wajah pucat.

Selama makan malam bersama itu Jun Ha tidak bisa tenang. Sesekali ia melirik ke arah Chanyeol yang mengobrol dengan kakeknya. Apa maksud Chanyeol tadi? Apa maksudnya ingatan orang itu mungkin sudah kembali?

Jun Ha memutar otak. Selama ini ia tidak pernah berpikir orang sok tahu yang dihajarnya waktu itu bisa membahayakan dirinya. Ketika mendapat kabar orang itu hilang ingatan dan sama sekali tidak bisa mengingat apa pun tentang penyerangan terhadap dirinya, Jun Ha sangat lega. Ia tidak pernah berpikir orang yang amnesia bisa ingat kembali. Tidak pernah mengira orang itu bisa membahayakan dirinya.

Apakah Chanyeol berbohong padaku? pikir Jun Ha curiga. Mungkinkah Chanyeol hanya ingin menakut-nakutinya? Mungkinkah orang yang waktu itu diserangnya sudah bisa ingat kembali?

Jun Ha mencengkeram sendoknya erat-erat. Sial! Seharusnya ia menghabisi orang itu saat itu juga. Kenapa ia tidak melakukannya? Kenapa? Sial!

Tanpa sadar ia memukulkan tinjunya ke meja karena kesal. Pukulannya tidak terlalu keras, tetapi cukup keras sampai semua orang di meja menoleh ke arahnya, termasuk kakeknya. Sambil menggumamkan permintaan maaf tidak tulus dan menundukkan kepala ke arah kakeknya dan orang-orang lain di sekeliling meja, Jun Ha kembali menatap piring dihadapannya dan memasukkan makanan ke mulutnya tanpa merasakan apa-apa.

Sekarang bukan saatnya berpikir apakah Chanyeol berbohong atau tidak. Jun Ha harus memastikan keselamatan dirinya terlebih dahulu. Bagaimanapun juga ia harus membereskan masalah ini. Ia tidak bisa mengambil risiko orang yang diserangnya itu teringat kembali dan langsung menunjuk Jun Ha sebagai orang yang menyerangnya. Kalau itu terjadi, polisi tidak akan ragu-ragu menahannya, karena sekarang ini pun polisi sudah mencurigai dirinya.

Kening Jun Ha berkerut. Kalau dipikir-pikir, kenapa polisi bisa sampai curiga padanya? Ia yakin tidak ada saksi mata saat itu. Hanya ada anak-anak buahnya dan ia yakin mereka tidak akan buka mulut. Siapa yang melaporkannya?

Jun Ha menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan, berusaha tidak menarik perhatian orang-orang kepadanya. Sekarang ini, ia tidak mau memikirkan masalah bagaimana polisi bisa mencurigai dirinya. Yang paling penting saat ini adalah memastikan orang yang hilang ingatan itu akan tetap hilang ingatan selamanya.