Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

Jongin dan Chanyeol duduk berhadapan di salah satu kafe tidak jauh dari rumah sakit tempat Chanyeol bekerja. Chanyeol baru saja selesai menceritakan semua yang diketahuinya tentang peristiwa penyerangan terhadap Jongin dan kemungkinan besar bahwa saudara sepupunya lah yang bertanggung jawab.

"Aku benar-benar minta maaf," kata Chanyeol sambil menunduk.

Jongin mengerjap, baru pulih dari kekagetannya setelah mendengarkan cerita Chanyeol. Ia mengibaskan tangan dan membantah ringan, "Minta maaf untuk apa? Kau sama sekali tidak bersalah."

"Aku tidak pernah menduga bahwa orang yang menyerangmu ternyata adalah salah satu anggota keluargaku."

"Tetap saja itu bukan kesalahanmu," kata Jongin, berusaha menenangkan Chanyeol yang terlihat sangat resah.

Chanyeol mengangkat wajah menatap Jongin. "Aku juga sudah memberikan keterangan kepada polisi," katanya mantap. "Aku memang tidak punya bukti nyata, tapi setidaknya keteranganku sedikit-banyak bisa membantu mereka. Bagaimanapun juga, mereka sudah lebih dulu mencurigai sepupuku itu."

Jongin mengembuskan napas panjang. "Sayang sekali aku masih belum ingat apa-apa, jadi aku sama sekali tidak bisa memberikan keterangan tambahan apa pun," gumamnya sambil menggeleng-geleng. Ia terdiam sejenak dan mengerutkan kening, lalu bergumam dengan nada melamun, "Kalau dipikir-pikir, akulah satu-satunya yang bisa mengenali orang yang menyerangku, bukankah begitu? Semuanya tergantung pada apa yang kuingat."

Chanyeol mengangguk. "Jadi, Kau sudah mengingat semuanya?"

Jongin mengangkat bahu. "Hanya sedikit," ia membenarkan. Dan hanya tentang Kyungsoo. "Sebenarnya aku ingin tahu kenapa sepupumu itu menyerangku. Itu juga kalau memang dia yang melakukannya. Aku ingin tahu alasannya."

Chanyeol mengangguk-angguk. "Ya. Aku juga tidak tahu. Dan dia sudah pasti tidak akan menceritakannya padaku kalau kutanya," katanya sambil tersenyum masam.

"Kuharap aku bisa membantu lebih dari ini."

Jongin ikut tersenyum. "Kau sudah sangat membantu, Chanyeol. Terima kasih karena sudah menceritakannya kepadaku."

Saat itu ponsel Jongin berbunyi. Sekilas ia menatap layar ponsel dan mengerjap, lalu menempelkannya ke telinga. "Oh, Soo Hee. Ada apa?... Besok pagi?... Oke... Oke, sampai ketemu nanti."

"Yoon Soo Hee?" tanya Chanyeol ketika Jongin menutup ponsel.

"Ya. Dia akan kembali dari Gangwon besok pagi, jadi dia memintaku menjemputnya di stasiun," sahut Jongin.

"Ngomong-ngomong, dia akan segera kembali ke Amerika, bukan?" tanya Chanyeol.

"Mm."

"Lalu bagaimana denganmu? Kau juga akan kembali ke Amerika?"

Jongin mengangkat alisnya dengan heran. "Aku? Kenapa harus kembali ke Amerika?"

Alis Chanyeol berkerut heran. "Jadi kalian akan berhubungan jarak jauh? Menurutmu itu bisa berhasil?"

Jongin mengerjap. "Hubungan jarak jauh?" gumamnya, lalu memiringkan kepala sedikit. "Aku tidak mengerti maksudmu."

"Tunggu, bukankah kalian..." Chanyeol ragu sejenak, berpikir-pikir, lalu berkata, "Kau pernah bilang akan mengajak teman wanitamu ke reuni dan memperkenalkan kepadaku. Kukira Yoon Soo Hee orangnya. Jadi dia bukan pacarmu?"

"Bukan," sahut Jongin, walaupun ia tidak yakin tentang siapa wanita yang dimaksud Chanyeol.

Tiba-tiba ponsel Jongin berbunyi lagi. Ia melirik layar ponselnya sekilas dan tersenyum lebar. "Ya, Kyungsoo," katanya di ponsel, tidak menyadari Chanyeol yang baru akan menyesap kopi mengangkat wajah menatapnya. "Iya, aku sudah tahu... Apa?... Baiklah, aku akan menjemputmu dan kita akan pergi bersama... Ya, ya, ya... Aku ke sana sekarang."

"Ada masalah?" tanya Chanyeol ketika Jongin menutup ponsel.

Jongin, yang masih tersenyum, menatap Chanyeol. "Apa? Oh, tidak. Tidak ada masalah. Tapi aku harus pergi sekarang," sahutnya. "Ngomong-ngomong, Chanyeol, sekali lagi, terima kasih."

Chanyeol menatap Jongin yang berjalan cepat keluar dari pintu kafe dengan termenung. Ia melihat dengan jelas perbedaan raut wajah dan nada suara Jongin ketika berbicara di ponsel tadi. Dan Chanyeol jadi bertanya-tanya sendiri.

Kalau bukan Soo Hee, apakah mungkin... Kyungsoo?

"Ini tidak kebanyakan?"

Kyungsoo menoleh ke arah Jongin yang berjalan di sampingnya sambil mengintip ke dalam kantong plastik besar berisi bahan makanan yang dijinjingnya. "Tidak," sahut Kyungsoo sambil tersenyum dan melirik kantong plastik lain yang dijinjingnya sendiri. "Memangnya kau lupa kita akan memasak untuk enam orang malam ini?"

"Kau benar juga," gumam Jongin dan balas tersenyum.

Mereka sedang berjalan pulang ke gedung apartemen mereka setelah membeli cukup banyak bahan makanan. Malam ini mereka akan berkumpul di tempat Kakek dan Nenek Hong untuk makan malam bersama, seperti yang sering mereka lakukan, walaupun tentu saja Jongin sudah tidak ingat lagi sekarang.

Kyungsoo menggigil kedinginan dan meniup-niup tangannya yang tidak bersarung tangan. "Ah, dingin sekali," gumamnya. "Ngomong-ngomong, Jongin, di mana mobilmu? Kenapa kau tidak membawanya hari ini?"

"Sudah kukembalikan," sahut Jongin sambil menatap Kyungsoo. "Kedinginan?"

Kyungsoo memindahkan kantong plastiknya ke tangan kiri dan meniup tangan kanannya yang sepertinya hampir berubah menjadi es. "Kau tidak merasa dingin?"

"Tidak terlalu," sahut Jongin. "Sudah tahu cuaca sedang dingin-dinginnya, kenapa tidak memakai sarung tangan?"

"Kau sendiri juga tidak memakai sarung tangan," protes Kyungsoo.

"Tapi aku masih punya saku jaket," kata Jongin sambil menggerak-gerakkan tangan yang dijejalkan ke saku jaket panjangnya. "Kenapa kau membeli jaket yang tidak ada sakunya?"

"Karena bagi wanita saku itu tidak penting," balas Kyungsoo. "Yang penting modelnya bagus."

"Dasar wanita," kata Jongin sambil mendesah panjang. "Sini, kupinjamkan sakuku."

Kyungsoo mengangkat alis. Sebelum ia sempat bertanya apa maksud Jongin, laki-laki itu sudah menggenggam tangan Kyungsoo dan memasukkan tangan mereka ke saku jaket. Terkejut, Kyungsoo mendongak menatap Jongin. Mendadak saja ia tidak bisa bernapas dan jantungnya... astaga, jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut jantungnya akan meledak.

Mata Jongin menatap lurus ke matanya, lalu laki-laki itu tersenyum. "Lebih hangat, bukan?" tanya Jongin ringan dan mempererat genggamannya pada tangan Kyungsoo.

Lebih hangat? pikir Kyungsoo pusing, lalu ia mengerjap dan mengangguk. Ya, memang hangat. Kehangatan tangan Jongin menjalari dirinya, sampai ke wajahnya yang mulai terasa panas. Kyungsoo yakin wajahnya memerah. Astaga...

Mereka kembali berjalan berdampingan seperti itu, dengan tangan Jongin yang menggenggam tangannya di dalam saku jaket. Kyungsoo bertanya-tanya apakah ia sedang bermimpi. Apakah yang menggenggam tangannya benar-benar adalah tangan Jongin?

Mungkin aku memang sedang bermimpi, pikir Kyungsoo. Beberapa hari terakhir ini Jongin kembali seperti dulu, seperti sebelum kecelakaan. Jongin mengunjunginya di perpustakaan, makan siang dengannya, meneleponnya, mengobrol dengannya, tersenyum kepadanya seperti dulu.

Kyungsoo berusaha menahan diri, berkata pada diri sendiri bahwa semua ini tidak mungkin terjadi. Ia mungkin akan terbangun suatu hari nanti dan Jongin kembali jauh darinya. Tetapi Kyungsoo tidak bisa menahan diri. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini sejak Jongin mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Ia merasa bahagia setiap kali Jongin tersenyum kepadanya. Mungkin ia tidak boleh berharap banyak, tetapi dalam situasi ini apa lagi yang dimilikinya selain harapan?

Harapan bahwa Jongin akan kembali mengingatnya dan mengingat perasaan yang dulu ada... Kyungsoo menggeleng untuk menghentikan pikirannya. Perasaan apa? Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Jangan...

Tiba-tiba ia mendengar Jongin mendesah keras dan berkata, "Aku benar-benar berharap ingatanku segera kembali."

Kyungsoo menoleh dan menatapnya dengan heran. "Oh? Kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu? Bukankah dulu kau bilang tidak ingat juga tidak apa-apa?"

Jongin tidak langsung menjawab. Setelah beberapa detik, ia berkata, "Itu sebelum aku sadar aku sudah melupakan sesuatu yang penting."

Alis Kyungsoo terangkat. "Sesuatu yang penting?"

Mereka berhenti melangkah. Saat itu Kyungsoo baru sadar mereka sudah tiba di depan gedung apartemen. Jongin yang menarik napas dalam-dalam, lalu berputar menghadap Kyungsoo. "Kyungsoo," katanya hati-hati, "aku tahu aku mungkin tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Aku juga tidak tahu kenapa dan bagaimana, tapi aku yakin dengan apa yang kurasakan. Sejak bertemu denganmu di acara reuni itu, aku..."

"Kai?"

Mereka berdua serentak menoleh ke arah suara dan Yoon Soo Hee berdiri di tangga gedung apartemen, tidak jauh dari mereka. Kyungsoo langsung menyentakkan tangannya dari genggaman Jongin. Jongin meliriknya sekilas, lalu kembali menatap Soo Hee.

"Soo Hee?" katanya heran. "Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau bilang kau akan pulang besok?"

Yoon Soo Hee berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum ragu, kemudian ia membungkukkan badannya sedikit ke arah Kyungsoo. "Selamat malam, Do Kyungsoo."

Kyungsoo buru-buru balas membungkuk dan menggumamkan selamat malamnya.

Soo Hee kembali menatap Jongin. "Ada sedikit perubahan rencana," katanya, menjawab pertanyaan Jongin tadi. "Akhirnya kami pulang sore tadi. Dan aku ke sini untuk memberimu kejutan. Ternyata kau tidak ada di rumah."

"Ya, tadi kami pergi berbelanja," kata Jongin. "Sudah lama menunggu?"

Soo Hee tersenyum dan mengangguk. "Lumayan."

"Kau terus menunggu di luar sini?" tanya Jongin lagi.

Soo Hee mengangguk lagi. "Kalau tidak, aku harus menunggu di mana?"

"Udaranya sangat dingin," kata Jongin cepat. "Sebaiknya kita masuk sekarang, sebelum kau jatuh sakit."

Jongin baru mulai bergerak, lalu ia berbalik ke arah Kyungsoo dan berkata, "Maaf, Kyungsoo..."

"Tidak apa-apa," Kyungsoo buru-buru menyela sambil memaksakan seulas senyum. "Sini. Berikan kantong plastiknya kepadaku. Aku akan memberikannya kepada Nenek."

"Terima kasih," kata Jongin pendek, lalu naik ke lantai dua bersama Soo Hee.

Kyungsoo menatap punggung kedua orang itu sampai menghilang di lantai dua, lalu ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan. Kini ia tahu bagaimana rasanya terbangun dari mimpi indah dan dihadapkan pada kenyataan.

Rasanya menyakitkan.

Jongin sangat terkejut ketika melihat Soo Hee berdiri di tengah-tengah tangga gedung apartemennya. Terlebih lagi ketika ia baru saja akan mengungkapkan perasaannya kepada Kyungsoo. Ketika ia baru saja akan berkata, Aku juga tidak tahu kenapa dan bagaimana, tapi aku yakin dengan apa yang kurasakan. Sejak bertemu denganmu di acara reuni itu, aku merasa kau adalah seseorang yang penting dalam hidupku.

Astaga! Apakah ia benar-benar akan berkata seperti itu tadi? Kedengarannya sangat konyol, tetapi itu kenyataannya. Kyungsoo memang penting baginya.

"Kai." Suara Soo Hee membuyarkan lamunannya. "Apakah kau marah karena aku tiba-tiba muncul tanpa menelepon lebih dulu?"

Jongin menoleh ke arah Soo Hee. "Tidak," sahutnya singkat, lalu tersenyum. "Aku tidak marah. Tapi kalau kau menelepon lebih dulu, kau tidak perlu menunggu di luar dalam cuaca dingin seperti ini."

"Maaf," kata Soo Hee. "Kukira kau pasti ada di rumah."

Jongin membuka pintu apartemennya dan masuk. Soo Hee menyusul di belakangnya. Setelah mengenakan sandal rumah, Jongin pergi menyalakan pemanas ruangan.

"Kai, di mana sandal itu?" tanya Soo Hee tiba-tiba.

Jongin menoleh. "Sandal?"

"Sandal Pororo itu."

Jongin tertegun. Soo Hee memang selalu mengenakan sandal itu setiap kali ia datang ke apartemen Jongin. Tetapi itu sebelum Jongin sadar sandal Pororo itu sebenarnya milik Kyungsoo. Dan setelah menyadari sandal itu milik Kyungsoo, ia...

"Eh, ternyata sandal itu milik orang lain," sahut Jongin. Ia mengeluarkan sepasang sandal putih dari lemari di dekat pintu. "Pakai ini saja."

Soo Hee terdiam, kemudian ia tersenyum tipis dan memakai sandal yang ditunjukkan.

"Mau minum apa?" tanya Jongin dari dapur.

"Tidak usah," sahut Soo Hee sambil melepaskan syal dan jaketnya. "Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu. Karena itu aku datang ke sini."

"Ada apa?"

Soo Hee duduk di sofa, melipat tangannya di pangkuan, dan mendongak menatap Jongin yang berdiri bersandar di meja makan.

"Jackson meneleponku," katanya.

Alis Jongin terangkat, tidak menduga akan mendengar nama temannya juga adalah mantan tunangan Soo Hee. "Oh? Ada masalah apa?"

Soo Hee tersenyum samar, lalu menarik napas. "Dia ingin aku memikirkan kembali soal hubungan kami." Ia terdiam sejenak, dan bertanya, "Bagaimana menurutmu, Kai?"

Jongin mengangkat bahu. "Kurasa kau sendiri yang harus memutuskannya, Soo Hee. Bukan aku."

Soo Hee menunduk. "Kau benar," gumamnya pelan. "Baiklah. Kurasa untuk mendapatkan jawaban langsung, aku harus bertanya langsung. Bukankah begitu?"

Jongin tidak mengerti, tetapi ia diam saja.

"Kai, bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Soo Hee sambil menatap lurus ke mata Jongin.

Pertanyaan langsung itu mengejutkan Jongin, walaupun seharusnya ia sudah bisa menduganya. Sejak Soo Hee berkata ia sudah memutuskan pertunangan dengan Jackson dan menyatakan perasaannya kepada Jongin, Jongin belum menjawabnya. Awalnya ia sangat terkejut mendengar pengakuan bahwa Soo Hee memutuskan hubungan dengan Jackson karena wanita itu menyadari ia menyukai Jongin. Apakah ia merasa senang ketika Soo Hee menyatakan perasaannya waktu itu? Ya, Jongin memang sangat senang, karena ia juga merasakan—tidak, ia mengira ia juga merasakan hal yang sama terhadap Soo Hee. Saat itu ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya selain memeluk Soo Hee.

Namun sejak saat itu sampai sekarang Jongin sama sekali belum menjawab perasaan Soo Hee. Sebenarnya sejak awal ada sedikit perasaan ragu yang menyelinap ke dalam hatinya, hanya saja ia tidak mau mengakuinya. Soo Hee datang kepadanya. Hanya itulah yang penting saat itu. Tetapi semakin lama, keraguan itu semakin besar, diikuti oleh kesadaran dan kepastian perasaan yang tidak dipahaminya terhadap orang lain. Seseorang yang sudah dilupakannya, namun kembali ke dalam hidupnya dan membuat hatinya tergerak.

"Kai." Suara Soo Hee menyadarkannya dari lamunan. "Bagaimana perasaanmu kepadaku?"

Jongin menunduk dan menarik napas dalam-dalam. "Kau," gumamnya pelan, "teman yang baik."

Soo Hee terdiam sesaat. Lalu ia mengerjap dan tersenyum tipis. "Teman yang baik?" katanya lirih. "Begitu? Teman?"

"Ya," sahut Jongin pelan. Ia belum pernah merasa seyakin ini seumur hidupnya.

Kyungsoo keluar dari apartemen Kakek Hong sambil mengembuskan napas. Kenapa harus ia yang melakukannya? Setelah mendengar kalau Yoon Soo Hee datang ke sini, Nenek Hong menyuruh Kyungsoo mengajaknya ikut makan bersama.

"Tidak sopan, bukan, kalau kita tidak mengundangnya makan bersama?" kata Nenek Hong tadi.

"Ah, Nenek," sela Jiwon yang sedang mencuci sayur. "Biar saja Jongin bisa mengajaknya sendiri kalau dia mau. Kenapa kita ikut-ikutan?"

"Nenek rasa sebaiknya kita mengundangnya," sahut Nenek Hong, lalu berpaling ke arah Kyungsoo. "Kyungsoo, kau mau naik dan memberitahu mereka?"

Dan Kyungsoo tidak mungkin menolak, bukan?

Ia baru akan menaiki tangga ketika ia mendengar pintu apartemen lantai dua terbuka dan tertutup, lalu langkah kaki menuruni tangga. Sebelum Kyungsoo sempat bereaksi, sosok Jongin terlihat di hadapannya. Juga Yoon Soo Hee.

"Kyungsoo?" tanya Jongin agak kaget.

Mata bulat Kyungsoo beralih dari Jongin ke Soo Hee, lalu kembali ke wajah Jongin. Tersenyumlah, kata Kyungsoo pada diri sendiri. Senyum.

"Aku baru saja mau naik ke apartemenmu," kata Kyungsoo cepat, berharap senyum yang tersungging di bibirnya tidak terlihat konyol. "Nenek menyuruhku mengajak Soo Hee-ssi ikut makan malam bersama."

Soo Hee melirik Jongin yang berdiri di depannya, lalu menatap Kyungsoo dan tersenyum. "Terima kasih, Kyungsoo-ssi," katanya, "tapi aku harus pergi sekarang. Mungkin lain kali..."

"Oh, begitu?"

Soo Hee membungkukkan badan sedikit, lalu berkata kepada Jongin, "Kai, kau tidak perlu mengantarku pulang. Aku bisa sendiri."

Jongin mencegatnya ketika Soo Hee hendak berjalan melewatinya. "Sudah kubilang aku akan mengantarmu pulang," gumamnya.

Mata Kyungsoo terpaku pada tangan Jongin yang memegang siku Soo Hee dan tiba-tiba saja ia tidak bisa bernapas. Dengan susah payah ia mengalihkan tatapan dan diam-diam menarik napas sementara kedua orang itu berjalan melewatinya.

"Kalian makan saja dulu," kata Jongin tiba-tiba.

Kyungsoo menoleh dan mendapati Jongin sedang menatapnya.

"Tidak perlu menungguku," lanjut Jongin. Setelah tersenyum singkat, ia berbalik dan berjalan pergi bersama Soo Hee.

Dada Kyungsoo terasa berat. Ia menarik napas dalam-dalam karena kalau tidak begitu sepertinya udara tidak masuk ke paru-parunya. Tetapi itu tidak terlalu berhasil. Dadanya masih terasa sesak.

Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia sadar. Mimpi tidak akan bertahan lama. Ia boleh saja hidup dalam mimpi, tetapi cepat atau lambat kenyataan akan mendesak masuk. Dan ketika kenyataan mendesak masuk dan berhadapan denganmu, kau hanya bisa menerima.

Kyungsoo tahu ia sudah hidup dalam mimpi selama beberapa hari terakhir ini. Dan kini sudah saatnya menerima kenyataan. Ia tahu itu. Ia tahu...

Jongin menepati janjinya. Ia mengantar Soo Hee sampai ke depan gedung apartemennya. Mereka jarang berbicara selama perjalanan. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.

"Kau sudah sampai," kata Jongin memecah keheningan ketika mereka berhenti di pintu depan gedung.

"Kai." Soo Hee berbalik menghadapnya. "Masuklah sebentar. Ada yang ingin kutunjukkan kepadamu."

Jongin mengikuti Soo Hee masuk ke apartemennya yang kecil namun rapi. Setelah menyalakan lampu, Soo Hee langsung berjalan ke meja kerja, membuka laci, dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar. Ia ragu sesaat sebelum berbalik dan menghadap Jongin.

"Ini," katanya sambil menyodorkan amplop cokelat itu kepada Jongin.

"Apa ini?"

"Seharusnya aku tidak melakukannya," kata Soo Hee sambil tersenyum kecil, "tapi sudah kulakukan dan aku meminta maaf." Ia menatap Jongin. "Aku mengambil itu dari apartemenmu."

Dengan heran, Jongin membuka amplop dan mengeluarkan beberapa lembar foto. Alisnya terangkat tidak mengerti ketika menatap foto-foto itu. Foto kota Seoul, orang-orang yang berlalu lalang, taman kota, kuil. Ia tidak mengerti. Ia mengangkat wajah dan menatap Soo Hee. "Apa ini?" tanyanya sekali lagi.

"Lihatlah terus," kata Soo Hee. "Kau akan mengerti."

Jongin terus melihat foto-foto di tangannya. Dan tiba-tiba gerakan tangannya terhenti. Alisnya berkerut samar menatap foto yang terpampang di hadapannya. Foto seorang gadis di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Gadis itu berdiri membelakangi kamera, tetapi Jongin langsung tahu bahwa gadis itu adalah Do Kyungsoo.

Bagaimana ia bisa yakin itu Kyungsoo kalau wajah gadis di foto itu tidak terlihat? Entahlah. Tetapi ia yakin itu Kyungsoo.

Tangannya bergerak lagi. Foto selanjutnya adalah foto Kyungsoo di perpustakaan. Lagi-lagi Jongin yakin siluet gadis yang berdiri di antara dua rak tinggi itu adalah Kyungsoo.

Kenapa? Kenapa ia yakin sekali?

Karena ia sendirilah yang memotret foto-foto ini. Ia yang memotret Do Kyungsoo. Ya, itulah sebabnya.

Tangannya bergerak lagi menampilkan foto lain dan napas Jongin tercekat. Foto close-up Kyungsoo.

Tunggu. Ia ingat hari itu. Jongin mengerutkan kening, berusaha mengingat. Hari itu ia melihat Kyungsoo sedang duduk sendirian di kafe. Mata gadis itu terarah ke buku yang terbuka di meja di hadapannya, tetapi sudah jelas perhatiannya tidak ditujukan ke buku itu. Ia sedang melamun. Dan saat itu Do Kyungsoo terlihat begitu cantik sampai Jongin terdorong untuk memotretnya, mengabadikan saat itu.

Tetapi kenapa Jongin tidak bisa mengingat lebih banyak? Ia ingin mengingat lebih banyak. Ia ingin tahu lebih banyak.

"Kau yang memotret semua itu, Kai," Soo Hee membuka suara. "Kau sangat ahli. Foto-foto itu sangat bagus."

Jongin mengangkat wajah dan menatap Soo Hee dengan bingung. "Kau tadi bilang kau mengambil foto-foto ini dari apartemenku? Kenapa?"

Soo Hee menggigit bibir, lalu tersenyum tipis. "Entahlah," katanya sambil merentangkan tangan dan mengangkat bahu. "Kurasa aku cemburu."

"Cemburu?"

Soo Hee memiringkan kepala dan menatap Jongin. "Aku mengenalmu, Kai. Kau selalu mengambil foto-foto sesuai sudut pandangmu, sesuai dengan apa yang kaulihat dan apa yang kaurasakan. Dan caramu memotret Kyungsooi..." Soo Hee terdiam sejenak. "Setelah melihat foto Kyungsoo, aku tahu. Aku bisa merasakannya."

"Merasakan apa?"

"Kau menyukainya," kata Soo Hee pelan. "Benar, bukan?"

Jongin tidak menjawab.

Soo Hee menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Lalu ia mendongak menatap Jongin sambil tersenyum muram. "Yah, kurasa pertanyaanku waktu itu akhirnya terjawab," gumamnya. "Aku memang sudah terlambat."

To Be Continued