Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
.
.
.
"Wah, hujan lagi," kata Nenek Hong sambil menatap keluar pintu kaca teras.
Keempat orang lainnya yang duduk mengelilingi meja ikut berpaling dan menatap keluar. Kyungsoo bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan Jongin saat ini. Sudah lebih dari satu jam berlalu sejak ia mengantar Soo Hee pulang, kenapa sampai sekarang belum kembali?
"Jongin pergi dengan mobilnya?" tanya Kakek Hong tiba-tiba.
"Tidak," sahut Taesoo, kembali menatap mangkok nasinya yang sudah hampir kosong. "Kurasa dia sudah mengembalikan mobilnya."
"Kurasa dia juga tidak membawa payung," gumam Nenek Hong. Lalu ia berpaling kepada Kyungsoo dan tersenyum menghibur. "Mungkin dia terlambat karena hujan ini."
Kyungsoo hanya tersenyum karena ia tidak tahu bagaimana menanggapi kata-kata Nenek Hong. Apakah kekecewaannya begitu jelas terlihat sampai Nenek Hong merasa perlu menghiburnya?
"Ya. Menurutku juga begitu," timpal Taesoo setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya. "Jongin Hyung tidak akan pulang dalam hujan selebat ini. Kurasa dia pasti menunggu hujan berhenti di..."
Jiwon memukul kepala adiknya dan melotot. "Hati-hati dengan ucapanmu."
Taesoo menatap kakaknya sambil memberengut dan mengusap-usap kepala. "Memangnya apa yang akan kukatakan?"
Kyungsoo membiarkan kedua kakak-beradik itu meneruskan perdebatan kecil mereka dan berkonsentrasi pada makanan di depannya. Ia tidak mau memikirkan Jongin. Untuk apa memikirkan hal-hal yang pasti akan membuat hatinya sendiri sakit? Sebaiknya ia mencari bahan obrolan yang menyenangkan karena ia tahu dirinya agak pendiam selama makan malam. Yah, mungkin itu sebabnya Nenek Hong berusaha menghiburnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Alis Kyungsoo terangkat ketika melihat nama yang tertera di layar. "Halo?Jongin?"
…
Jongin menutupponsel dan tersenyum. Ia sudah tahu Kyungsoo akan mengomel sedikit, setelah itu menyetujui permintaannya. Stasiun kereta bawah tanah ini tidak jauh dari gedung apartemen, jadi gadis itu tidak perlu berjalan jauh. Jongin mendongak dan mengembuskan napas panjang. Uap putih meluncur keluar dari mulutnya dan menghilang dengan cepat. Ia merapatkan jaket karena dingin dan berdiri memerhatikan hujan yang sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Ia mengedarkan pandangan. Di sekitarnya banyak orang yang juga sedang menunggu hujan berhenti. Orang-orang yang membawa payung sudah berjalan menembus hujan. Beberapa orang dijemput oleh keluarga atau teman yang membawakan payung, membuat iri orang-orang yang masih berdiri menunggu. Jongin tersenyum. Ia tidak merasa iri, karena tidak lama lagi Kyungsoo akan datang dan menjemputnya.
Dan kali ini aku akan mengatakan apa yang tidak sempat kukatakan kepada Kyungsoo tadi, putusnya sambil menyelipkan amplop berisi foto yang diambilnya dari Soo Hee ke balik sweter supaya tidak basah.
…
Kyungsoo melirik Jongin yang berjalan di sampingnya sambil memegangi payung. Dari tadi Jongin diam saja, tidak menjelaskan apa-apa. Kenapa? Akhirnya Kyungsoo berdeham dan bertanya, "Kau sudah makan?"
Jongin menoleh menatapnya dan tersenyum. "Belum. Kalian sudah selesai makan?"
"Sudah," sahut Kyungsoo.
"Oh," Jongin mengangguk pelan, lalu kembali terdiam.
Kyungsoo menggigit bibir dan melirik Jongin lagi. Apakah laki-laki itu benar-benar tidak mau menjelaskan? Apakah ia harus bertanya? Apakah ia akan terdengar terlalu ikut campur kalau bertanya? Apakah ia boleh bertanya?
Tiba-tiba Jongin mendesah keras dan berhenti melangkah. Kyungsoo ikut berhenti dan menatapnya dengan heran. "Ada apa?" tanyanya.
Jongin berbalik menghadapnya. "Tidak. Kyungsoo, ada yang ingin kautanyakan kepadaku?"
"Apa?" Kyungsoo terkejut dan mengerjap. Astaga! Apakah Jongin baru membaca pikirannya? Tidak, tidak mungkin. Mungkinkah?
"Kau benar-benar tidak ingin tahu?" tanya Jongin lagi.
"Ingin tahu tentang apa?"
Jongin ragu sejenak, berpikir-pikir. Lalu menarik napas dan berkata, "Kukira kau ingin tahu tentang hubunganku dengan Soo Hee."
Napas Kyungsoo tertahan dan matanya melebar. "Ap-apa?" katanya tergagap, tidak menyangka Jongin bisa menebak apa yang dipikirkannya dengan tepat. "Tidak, aku tidak ingin tahu."
Mata Jongin menyipit.
"Kau sudah pernah menceritakan semuanya kepadaku," lanjut Kyungsoo ketika melihat Jongin sepertinya tidak percaya. "Dia teman lamamu dan bertunangan dengan sahabatmu. Tapi, tentu saja, sekarang dia sudah tidak bertunangan lagi karena dia menyadari sebenarnya dia menyukaimu. Dan kau juga menyukainya. Tidak ada lagi yang perlu kuketahui."
Ia menghentikan kata-katanya begitu menyadari nada suaranya agak ketus dan menyadari ia sudah terlalu banyak bicara. Jongin menatapnya tanpa berkedip. Kyungsoo membuka mulut, lalu menutupnya lagi, tidak tahu apa yang harus dikatakannya dalam situasi seperti ini. Mungkin memang lebih baik tidak mengatakan apa-apa. Kyungsoo mencengkeram payungnya, lalu membalikkan tubuh dan bergumam, "Sebaiknya kita cepat-cepat. Aku kedinginan."
Ia baru berjalan beberapa langkah ketika Jongin menyusulnya dan bertanya, "Kau cemburu?"
Kyungsoo ingin berkata, Tidak, aku tidak cemburu. Sama sekali tidak. Kenapa harus? Lalu ia berpikir kata-kata yang diucapkan dengan terlalu menggebu-gebu seperti itu justru tidak akan membantu. Akhirnya ia menarik napas untuk menenangkan diri dan berkata, "Aku tidak punya alasan untuk cemburu, bukan?"
Jongin berpikir sejenak, lalu menjawab ringan, "Memang tidak."
Kyungsoo mengangguk pendek sambil terus melangkah. Benar, ia tidak punya alasan untuk cemburu. Sama sekali tidak berhak cemburu. Tetapi, astaga, kenapa hatinya masih terasa sakit walaupun ia sudah tahu sejak dulu kalau semua ini akan terjadi?
Tiba-tiba tangan Jongin memegang sikunya dan menahannya supaya berhenti berjalan. "Hubungan kami tidak seperti itu."
Kyungsoo mengerjap menatap Jongin. "Apa?"
Jongin melepaskan tangannya dari siku Kyungsoo dan tersenyum. "Hubungan kami tidak seperti itu," katanya sekali lagi.
Kyungsoo kembali mengerjap. Ia memang tidak salah dengar. "Oh? Tapi... Tapi kau menyukainya."
"Tadinya kukira begitu," aku Jongin. "Tapi kalau aku memang menyukainya, kenapa aku selalu merasa tidak tenang setiap kali melihatmu bersama Chanyeol?"
Sesaat mereka hanya berpandangan. Entah jalanan saat itu memang sedang sunyi atau Kyungsoo yang tidak bisa mendengar apa-apa selain debar jantungnya sendiri dan bunyi hujan yang terdengar samar-samar. Rasanya seperti mimpi. Apakah ia memang sedang bermimpi?
"Apa... maksudmu?" Akhirnya Kyungsoo memberanikan diri bertanya. Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar kecil dan jauh. Jantungnya berdebar keras menunggu jawaban Jongin.
Keheningan yang hanya dihiasi bunyi hujan tiba-tiba dipecahkan bunyi decit yang keras. Mereka berdua serentak menoleh dan melihat dua mobil sedan hitam berhenti mendadak di dekat mereka. Dua pria keluar dari masing-masing mobil, tanpa payung, dan menatap lurus ke arah mereka.
Kyungsoo mengerjap dan rasa panik langsung merayapi dirinya. Tangannya terangkat dan mencengkeram lengan jaket Jongin. Ia tidak tahu siapa orang-orang itu dan apa yang mereka inginkan, tetapi sudah pasti mereka tidak bermaksud baik. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang. Jalanan sunyi senyap. Jalan itu memang selalu sepi, tetapi setidaknya biasanya ada satu atau dua orang yang terlihat berjalan kaki. Hari ini, dalam hujan lebat ini, tidak terlihat orang lain di jalan selain mereka.
Jongin mengerutkan kening. Perlahan ia menarik Kyungsoo ke belakang punggungnya. "Siapa kalian?" tanya Jongin kepada orang-orang berpakaian serba hitam itu.
Mereka tidak menjawab. Saat itu pintu belakang salah satu mobil terbuka. Seorang pria keluar sambil membuka payung. Ia menegakkan tubuh, menutup pintu mobil, dan tersenyum ke arah Jongin. Senyum itu sama sekali bukan senyum bersahabat. Kerutan di kening Jongin semakin dalam. Pria itu. Kenapa pria itu terasa tidak asing?
Pria yang menatap Jongin dengan tajam itu berumur sekitar tiga puluhan, bibirnya tipis, rambutnya tipis, dan hidungnya agak bengkok. "Kau tidak ingat lagi padaku?" tanya pria itu sambil tersenyum lebar. Lalu ia tergelak. "Waktu itu aku juga menanyakan pertanyaan yang sama. Tapi tentu saja, sekarang kau sudah pasti tidak ingat padaku. Aku menghajarmu dengan baik, bukan?"
Kyungsoo terbelalak di balik punggung Jongin dan cengkeramannya di lengan Jongin mengencang. Astaga! Orang itu yang dulu menyerang Jongin. Orang itu... Orang itu yang membuat Jongin hilang ingatan. Dan orang itu... orang itu... Oh! Tiba-tiba Kyungsoo terkesiap ketika ia akhirnya bisa melihat wajah pria itu dengan lebih jelas di bawah sinar lampu pinggir jalan.
Mata sipit pria itu beralih ke arah Kyungsoo. Kyungsoo tidak berani bernapas sementara pria itu mengamatinya dengan saksama, lalu ia kembali menatap Jongin dan tersenyum lebar, "Kurasa pacarmu ingat padaku," katanya.
Jongin menoleh ke belakang ke arah Kyungsoo. Kyungsoo mendongak dan bertatapan dengan Jongin. Ia ingin berkata ia memang mengenal pria itu. Ia pernah melihat pria itu di pertunjukan balet yang dihadirinya bersama Jongin. Waktu itu pria berwajah jahat ini menatap Jongin dengan pandangan aneh. Kini Kyungsoo mengerti sebabnya. Tetapi suaranya tidak bisa keluar. Ia terlalu terkejut untuk berkata-kata.
…
"Kurasa pacarmu ingat padaku."
Jantung Jongin berdebar begitu keras sampai dadanya terasa sakit. Ia menoleh ke arah Kyungsoo. Karena Kyungsoo mencengkeram lengannya, Jongin bisa merasakan gadis itu gemetar. Ia mengerti arti tatapan di dalam mata Kyungsoo yang terbelalak ketakutan itu. Kyungsoo memang pernah bertemu dengan pria yang berdiri di hadapan mereka ini. Kalau memang pria itu yang menyerangnya, maka...
"Kau sepupu Chanyeol?" tanya Jongin datar sambil kembali menatap pria itu. "Lee Jun Ha?"
Jun Ha mendengus. "Sudah kuduga Chanyeol akan menjadi masalah," katanya dengan nada rendah. "Dia sudah memberitahumu, hah?"
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Jongin. Walaupun ia berbicara dengan nada datar dan tenang, pada kenyataannya jantungnya berdebar kencang. Ia merasa tegang, bukan karena khawatir akan keselamatan dirinya, tetapi khawatir akan keselamatan gadis yang saat ini ketakutan di belakangnya. Orang-orang yang mengerubungi mereka ini sudah jelas orang-orang kasar. Mereka sudah pernah menyerang Jongin satu kali. Kemungkinan besar hari ini mereka datang untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum tuntas.
"Seharusnya aku menghabisimu saat itu juga, jadi aku tidak perlu direpotkan masalahmu sekarang." Suara Jun Ha terdengar lagi. Ia melirik Kyungsoo. "Tapi sekarang juga tidak apa-apa. Aku bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus."
Jongin kembali menoleh ke arah Kyungsoo. Ia tidak mungkin membiarkan Kyungsoo terluka. Seharusnya ia tidak meminta gadis itu datang menjemputnya di stasiun kereta bawah tanah. Seharusnya ia tidak menempatkan gadis itu dalam bahaya. Seharusnya... Seharusnya...
Jun Ha menyunggingkan seulas senyum licik yang menampakkan giginya. "Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," gumamnya.
…
Kyungsoo tidak bisa melepaskan cengkeramannya di lengan Jongin. Pria yang berdiri di hadapan mereka bersama empat orang anak buahnya itu terlihat berbahaya. Apa yang diinginkannya? Apa yang akan terjadi pada mereka? Pada Jongin?
Jongin menurunkan payung yang dipegangnya, menunduk ke arah Kyungsoo, dan berbisik, "Telepon polisi."
Kata-kata Jongin belum sempat dicernanya ketika Kyungsoo mendengar satu kata yang diucapkan pria jahat di depan mereka itu. "Serang," gumam pria itu. Kemudian segalanya kacau.
Jongin menarik Kyungsoo ke samping ketika empat orang bertubuh besar itu dengan cepat bergerak maju. Payung Kyungsoo terlempar entah ke mana. Kyungsoo juga tidak peduli. Matanya terbelalak menatap Jongin yang memunggunginya dan berhadapan dengan empat orang yang sepertinya tidak akan ragu-ragu membunuh pria itu.
Ketika dua di antara mereka melayangkan pukulan ke arah Jongin, Kyungsoo memekik. Jongin mendorongnya menjauh. Kyungsoo terhuyung sedikit, tetapi matanya dengan ngeri menatap Jongin yang berusaha mengelak dari serangan oarng-orang itu. Jiwon pernah berkata Jongin jago karate. Memang. Kyungsoo bisa melihatnya. Tetapi orang-orang yang menyerangnya juga bukan orang-orang sembarangan. Ditambah lagi, mereka berempat sementara Jongin sendirian.
Sendirian. Bersama Kyungsoo yang tidak bisa apa-apa. Kyungsoo yang juga dianggap sebagai sasaran.
Otak Kyungsoo masih lumpuh. Ia menatap perkelahian di depannya dengan ngeri, tetapi ia tidak bisa bertindak. Ia tidak ingat kata-kata Jongin tadi, sampai salah seorang tukang pukul itu meninju rahang Jongin. Saat itu juga Kyungsoo merasa sekujur tubuhnya dingin dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Dan saat itu juga sebuah suara mendesaknya. Telepon polisi! Telepon siapa saja! Telepon!
Ia ketakutan. Ia gemetaran. Ia basah kuyup. Semua itu membuat usahanya mengeluarkan ponsel dari saku menjadi tugas paling sulit dalam hidupnya. Ia tidak sempat banyak berpikir. Ia hanya menekan tombol untuk menghubungi orang terakhir yang dihubunginya. Saat itu ia tidak ingat siapa yang terakhir kali dihubunginya. Yang paling penting adalah menelepon seseorang. Siapa saja.
Kyungsoo tidak melihat salah seorang tukang pukul itu bergerak ke arahnya. Ia sibuk berdoa dalam hati dengan ponsel ditempelkan di telinga. Angkat teleponnya... Angkat teleponnya... Tolong...
"Halo?"
Suara Jiwon! Kyungsoo hampir pingsan saking leganya. "Eonnie..."
Ia menjerit ketika lengannya disentakkan dengan kasar. Kyungsoo tersungkur ke tanah dan ponselnya terlepas dari pegangan. Ketika ia mendongak ia melihat si tukang pukul mengayunkan sebelah kakinya. Kyungsoo otomatis mengangkat tangan untuk melindungi kepala. Tetapi tidak terjadi apa-apa. Malah terdengar suara keras dan sesuatu yang berat jatuh menindihnya.
Kyungsoo membuka mata dan mendapati Jongin berlutut di dekatnya. Lengan Jongin merangkul tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jongin sambil meringis.
Kyungsoo tidak mendengarkan pertanyaan itu. Yang dilihatnya hanya darah di sudut bibir Jongin. Matanya terbelalak kaget. Tangannya terangkat ke pipi Jongin. "Jongin! Kau..."
Tiba-tiba si tukang pukul kembali melayangkan tendangan ke punggung Jongin. Kyungsoo memekik. Ia berputar dan merangkul Jongin yang tersungkur di tanah untuk melindunginya.
"Hentikan! Hentikan!" seru Kyungsoo. Ketika berteriak ia baru sadar suaranya pecah dan air mata sudah mengalir di wajahnya, bercampur dengan air hujan.
Salah seorang tukang pukul itu, entah yang mana, mencengkeram lengan Kyungsoo dan menariknya dengan kasar sampai berdiri. Kyungsoo berusaha melawan, menendang, memukul, dan berteriak. Si tukang pukul mengangkat tangan dan menamparnya dengan keras. Kepala Kyungsoo tersentak ke belakang. Ia bisa merasakan telinganya berdenging kesakitan dan ledakan warna menyilaukan terlihat di balik kelopak matanya.
Jongin bertindak cepat. Ia melayangkan tinju ke rahang orang yang menampar Kyungsoo, lalu di susul dengan tendangan di perut. Orang itu terhuyung mundur dan terjatuh ke tanah.
Lee Jun Ha, yang dari tadi menyaksikan perkelahian itu dengan senyum licik tersungging di wajah, mengangkat sebelah tangan. Anak-anak buahnya berhenti bergerak.
"Sebelum aku menghabisi kalian berdua," katanya dengan suara pelan dan dingin, "aku ingin mengatakan bahwa aku mengagumi kekuatanmu." Matanya menatap lurus-lurus ke arah Jongin. "Tapi tetap saja kau tidak bisa menang dariku."
Entah sejak kapan mereka mengeluarkan tongkat pemukul dari dalam mobil, tetapi saat anak-anak buah Lee Jun Ha kembali bergerak cepat ke arah Jongin, mereka sudah mengacungkan senjata mereka.
Kyungsoo membelalakkan mata. Tidak... Tidak... Tenaga Jongin sudah terkuras habis. Walaupun Jongin masih berdiri tepat di depan Kyungsoo dan sebelah tangannya terulur ke belakang, memastikan Kyungsoo terlindungi di belakangnya, Kyungsoo tahu laki-laki itu tidak mungkin menghadapi empat tukang pukul yang bersenjata. Kyungsoo memang tidak bisa melihat wajah Jongin, tetapi ia tidak perlu melakukannya untuk tahu bahwa Jongin juga terluka. Tidak... Kalau mereka menyerang Jongin lagi, Jongin pasti akan celaka. Tidak... Kyungsoo harus menghalangi mereka. Bagaimanapun caranya.
"Tidak! Hentikan!" Tanpa berpikir lagi, Kyungsoo berlari ke depan Jongin, ingin melindunginya, mencoba menghalangi orang-orang yang akan mengayunkan tongkat ke arah Jongin.
…
Jongin sudah tidak bertenaga. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Darah menetes dari pipi dan bibirnya. Ia tidak mungkin melawan empat orang bertubuh besar yang jago berkelahi. Tidak dalam kondisi seperti ini. Ia sulit bernapas, karena dadanya terasa sakit setiap kali ia berusaha menarik napas. Mungkin juga ada beberapa tulangnya yang patah.
Tetapi ia tidak bisa menyerah sekarang. Tidak boleh. Ia harus memastikan keselamatan gadis di belakangnya ini. Kyungsoo sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini. Ia tidak mungkin membiarkan Kyungsoo terluka. Tadi saja ia merasa jantungnya berhenti berdetak ketika salah satu tukang pukul itu memukul wajah Kyungsoo.
Jongin berusaha mengatur napas. Ia mengulurkan tangan ke belakang, menyentuh Kyungsoo, memastikan gadis itu baik-baik saja dan masih ada di dekatnya. Astaga, kalau sesuatu terjadi pada Kyungsoo, ia... ia... Apa yang harus dilakukannya?
Keempat orang di hadapannya serentak bergerak dan mengayunkan tongkat ke arahnya. Saat ini yang paling penting adalah menjauhkan Kyungsoo dari sini. Walaupun Jongin mungkin tak bisa lagi melawan, tetapi ia masih bisa melindungi Kyungsoo.
"Tidak! Hentikan!" Tiba-tiba saja Kyungsoo bergerak ke depan Jongin dengan tangan direntangkan. Jongin terkesiap. Tidak... Tidak! Matanya terpaku pada tongkat yang akan mengenai kepala Kyungsoo.
Setelah itu semuanya seolah-olah terjadi dalam gerakan lambat. Ia mencengkeram tangan Kyungsoo dan menarik gadis itu ke arahnya. Tepat ketika ia mendekap Kyungsoo, kepalanya pun serasa meledak.
…
Kyungsoo memekik ketika tongkat kayu itu menghantam kepala Jongin dan laki-laki itu terjatuh ke depan, masih mendekap Kyungsoo erat-erat. Serangan itu tidak berhenti di sana. Satu pukulan itu dilanjutkan dengan bertubi-tubi pukulan lain. Kyungsoo meminta mereka berhenti memukuli Jongin, tetapi suaranya dikalahkan bunyi hujan. Walaupun orang-orang itu bisa mendengarnya, Kyungsoo tidak yakin mereka mau menuruti kata-katanya.
Jongin tetap memeluk Kyungsoo, menahan Kyungsoo di tanah dengan tubuhnya sementara ia menerima setiap pukulan yang diarahkan kepadanya. Kyungsoo terisak memanggil namanya, tetapi Jongin tidak menyahut. Kalau bukan karena lengannya yang merangkul tubuh Kyungsoo dengan kencang, Kyungsoo pasti berpikir laki-laki itu sudah pingsan.
Lalu tiba-tiba saja terdengar bunyi melengking, beberapa berkas sinar menyilaukan terlihat dan Kyungsoo juga mendengar teriakan-teriakan keras yang mengalahkan suara hujan. Tiba-tiba saja tubuh Jongin berhenti berguncang. Orang-orang itu tidak lagi memukulinya. Terdengar teriakan lagi. Bernada mendesak. Memerintah. Lalu tongkat-tongkat kayu berjatuhan ke tanah.
Kyungsoo mendongak dan menyipitkan mata karena silau. Lalu perlahan-lahan semuanya menjadi jelas. Orang-orang yang tadi memukuli mereka berdiri memunggungi mereka dengan tangan terangkat ke atas kepala. Begitu juga Lee Jun Ha. Kyungsoo mengalihkan pandangan dan melihat beberapa orang polisi mengacungkan pistol ke arah mereka. Polisi datang!
"Jongin," panggil Kyungsoo sambil bergerak dalam pelukan Jongin. "Jongin, polisi sudah datang."
Jongin tidak bergerak. Juga tidak bersuara.
Kyungsoo mendorong tubuh Jongin dan berusaha duduk, namun memekik pelan ketika Jongin langsung jatuh terlentang di tanah. "Jongin?" panggil Kyungsoo panic sambil memegang pipi Jongin. Ia menatap mata Jongin yang terpejam, pipinya juga terluka, dan bibirnya yang berdarah. Kyungsoo merasa sekujur tubuhnya menegang ketakutan.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya salah seorang polisi yang buru-buru menghampiri mereka.
Kyungsoo mendongak menatap wajah polisi itu dengan mata terbelalak cemas dan menunjuk Jongin. "Dia... dia..."
Si polisi cepat-cepat memeriksa keadaan Jongin sementara seorang polisi lain yang lebih muda menghampiri Kyungsoo dan membantunya berdiri. Kyungsoo tidak bisa mendengar pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh polisi yang membantunya itu. Matanya terpaku pada Jongin yang sedang diperiksa polisi yang lebih tua tadi. Akhirnya si polisi berbicara di walkie-talkie-nya, meminta ambulans segara dikirim ke lokasi kejadian karena ada korban yang terluka parah dan tidak sadarkan diri.
Sekujur tubuh Kyungsoo terasa dingin. Jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa detik. Terluka parah? Separah apa? Ada apa dengan Jongin? Apa...?
"Kyungsoo!"
Kyungsoo berpaling. Ia melihat Jiwon yang memegang payung berlari-lari ke arahnya.
Dengan cepat Jiwon tiba di depan Kyungsoo. "Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada mendesak cemas. "Begitu mendengar suaramu di telepon, aku langsung merasa ada yang tidak beres dan cepat-cepat menelepon polisi. Taesoo sedang pergi menemui temannya, jadi aku panik. Aku... Astaga! Kau menggigil!"
Kyungsoo menggeleng-geleng. Kepalanya mendadak terasa pusing. "Tidak, aku tidak apa-apa. Tapi Jongin... dia..."
Dan hal terakhir yang didengar Kyungsoo adalah pekikan Jiwon ketika ia jatuh pingsan dalam pelukan tetangganya.
To Be Continued
