Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

.

.

.

Putih. Hanya itu yang dilihatnya ketika ia membuka mata. Setelah mengerjap beberapa kali, Jongin baru sadar yang dilihatnya adalah langit-langit kamar. Kelopak matanya terasa berat, pandangannya masih agak kabur, kepalanya sakit. Di mana dia? Di rumah sakit? Apa yang...?

Ah, ia ingat. Perkelahian itu. Lee Jun Ha kembali menyerangnya. Dan Kyungsoo. Di mana gadis itu? Apakah ia baik-baik saja?

"Kau sudah sadar?"

Jongin menggerakkan kepalanya ke arah suara. Wajah Kim Shin terlihat di samping tempat tidurnya. "Paman?" gumamnya serak.

"Aku senang kau masih mengingatku." Kim Shin tersenyum lega. "Kurasa kau juga sadar bahwa kau berada di rumah sakit."

"Kyungsoo?" tanya Jongin dan berusaha bangkit.

"Tunggu, tunggu," cegah pamannya dan menahan bahu Jongin. "Pelan-pelan saja."

Jongin duduk dibantu pamannya. "Di mana Kyungsoo? Bagaimana keadaannya?"

"Kyungsoo?" kata Kim Shin bingung. "Maksudmu gadis yang dibawa kesini bersamamu itu? Dia baik-baik saja."

"Dimana dia sekarang?"

"Tadi dia disini. Perawat baru saja membujuknya kembali ke kamarnya sendiri. Dia harus banyak istirahat," sahut pamannya ringan. Melihat sorot mata Jongin yang tiba-tiba cemas, ia cepat-cepat menambahkan, "Percayalah. Dia tidak apa-apa. Kata dokter dia sudah boleh pulang besok. Sedangkan kau harus tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi."

Merasa tenang mendengar Kyungsoo baik-baik saja, Jongin mengembuskan napas perlahan dan tersenyum. Kemudian ia tertegun dan menatap pamannya. "Paman, sudah berapa lama aku di sini?"

Pamannya tersenyum lebar. "Tidak selama yang waktu itu. Kau hanya pingsan beberapa jam. Hebat, kan? Apakah mungkin itu berarti kau sudah kebal dihajar?"

Jongin tertawa, dan langsung meringis ketika wajahnya terasa sakit. Ia melirik jam dinding. Belum tengah malam.

"Kenapa Paman masih ada di sini?" tanyanya heran. "Bukankah jam besuk sudah lewat?"

"Tentu saja sudah lewat," balas pamannya sambil tertawa. "Tapi aku membujuk perawat memperpanjang waktu kunjunganku. Perawat di sini baik-baik."

Jongin tertawa kecil, ingat pamannya bisa sangat mempesona kalau keadaan mengharuskan.

"Untunglah kau segera sadar," Kim Shin menambahkan. "Kalau tidak, aku harus menelepon ibumu dan mengabarkan bahwa kau di keroyok lagi. Ibumu pasti akan langsung terbang ke sini dan menyeretmu kembali ke New York tanpa banyak omong."

Jongin meringis. "Tapi Paman belum menelepon Ibu?"

"Kupikir, untuk apa membuat ibumu khawatir sebelum kita tahu hasil yang pasti? Bagaimanapun juga, sekarang kau sudah sadar dan sepertinya kau sangat baik."

"Ya, tapi badanku sakit semua." Jongin terdiam sejenak, lalu berkata, "Orang-orang itu..."

"Polisi sudah menahan orang-orang yang menyerangmu itu," sela Kim Shin. Nada suaranya berubah serius. "Mereka juga yang menyerangmu pada Hari Natal waktu itu." Jongin mengangguk.

"Aku tidak ingin kau merisaukan masalah ini..." Pamannya tersenyum menenangkan. "Aku sudah menghubungi pengacaraku dan dia yang akan mengurus semuanya. Yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah mengurus dirimu sendiri. Setelah merasa cukup sehat, kau harus memberikan pernyataan kepada polisi."

Jongin mengangguk lagi. "Bagaimana dengan Kyungsoo?"

"Kurasa polisi sudah berbicara kepadanya."

Kening Jongin berkerut samar. Ia tidak suka Kyungsoo harus menghadapi polisi sendirian.

Seolah-olah bisa membaca pikiran Jongin, Kim Shin berkata pelan, "Kau tidak perlu khawatir. Aku meminta pengacaraku menemaninya saat itu."

Jongin menarik napas panjang. "Terima kasih, Paman."

"Gadis itu... Kyungsoo," Suara pamannya terdengar agak ragu, "... dia gadis yang kubilang mirip Sohyun."

Jongin menatap pamannya dengan pandangan bertanya.

"Dia gadis yang pergi ke pertunjukan balet bersamamu pada malam Natal itu," kata Kim Shin.

Jongin tersenyum. "Ya. Dia saudara kembar Sohyun."

Alis Kim Shin terangkat. "Benarkah?"

Jongin memejamkan mata, namun ia masih tetap tersenyum. "Dia lahir lima menit setelah kakak kembarnya. Dia tidak bercita-cita menjadi model. Dia senang bekerja di perpustakaan, suka membaca buku, suka mengomel, dan suka menonton balet. Pikirannya juga suka melantur ke mana-mana. Dia takut gelap dan tidak bisa memasang bola lampu..."

"Dan kau menyukainya," gumam Kim Shin pelan sambil tersenyum mengerti.

Jongin menatap pamannya. "Apa?"

Kim Shin menggerakkan dagunya ke arah meja kecil di samping tempat tidur. "Aku sudah melihat itu."

Jongin menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat amplop besar. "Apa itu?"

Kim Shin meraih amplop itu dan menyerahkannya kepada Jongin. "Mereka menemukan ini di balik swetermu. Amplopnya yang lama sudah basah dan robek, tapi foto-fotonya masih bisa diselamatkan."

Jongin tersenyum memandangi foto-foto yang diberikan Soo Hee kepadanya. Foto-foto yang diambilnya ketika ia baru saja tiba di Tokyo, termasuk foto-foto Kyungsoo.

"Dan ini Kyungsoo-mu, bukan?" tanya Kim Shin sambil menunjuk salah satu foto. "Kau tidak akan memotret seperti itu kalau kau tidak menyukainya."

Beberapa jam setelah pamannya pulang, Jongin masih terjaga di ranjangnya. Tubuhnya memang terasa lemah, tetapi ia sangat sadar, otaknya terang benderang, dan ia tidak bisa tidur.

Mungkin sebaiknya ia pergi melihat Kyungsoo. Memastikan gadis itu memang baik-baik saja.

Jongin turun dari ranjang dengan perlahan, meringis sedikit ketika kakinya menginjak lantai dan harus menopang tubuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih ke pintu, membukanya, dan melongokkan kepala ke luar. Tidak ada siapa-siapa di koridor yang di terangi lampu itu. Kamar Kyungsoo tidak jauh dari kamar Jongin sendiri. Ia sudah bertanya kepada pamannya tadi, jadi ia tidak akan kesulitan menemukan kamar Kyungsoo.

Kamar Kyungsoo memang tidak jauh, tetapi Jongin membutuhkan waktu lima belas menit untuk berjalan ke sana. Tentu saja karena ia sesekali harus berhenti sejenak untuk menarik napas atau mengistirahatkan ototnya yang sakit. Menjadi orang lemah dan sakit memang menyebalkan.

Perlahan-lahan dan tanpa suara Jongin membuka pintu kamar Kyungsoo. Di kamar yang di terangi lampu kecil di meja sudut, Jongin melihat Kyungsoo terbaring pulas diranjang. Gadis itu berbaring menyamping, sebelah pipinya disandarkan ke bantal, dan selimut ditarik sampai ke dagu.

Jongin berjingkat-jingkat menghampiri ranjang. Ia berhenti di samping ranjang dan memandangi gadis yang terlelap itu.

Sepertinya tidak ada luka, pikir Jongin setelah menatap wajah Kyungsoo dengan saksama. Ia baik-baik saja. Syukurlah. Jongin duduk di kursi di samping ranjang. Ia menarik napas dan mengembuskannya pelan. Kini ia bisa bernapas lebih mudah. Kegelisahan yang tanpa sadar dirasakannya sejak tadi mulai menguap dari tubuhnya. Ia merasa lega. Ya, semuanya akan baik-baik saja.

Ia berkata pada diri sendiri bahwa ia hanya akan duduk di sana sebentar. Hanya sebentar. Namun kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu, walaupun ia hanya duduk di sana tanpa melakukan apa-apa selain memandangi wajah Kyungsoo yang sedang tidur?

Tadinya Chanyeol bermaksud mampir ke kamar Kyungsoo dan melihat keadaan gadis itu. Walaupun Kyungsoo dibawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan, tidak lama kemudian gadis itu sadar dan langsung menanyakan keadaan Jongin.

"Jongin tidak apa-apa," hibur Chanyeol saat itu. "Dia memang belum sadarkan diri, tapi keadaannya sudah stabil. Dia pasti bisa bertahan. Jangan khawatir."

Kyungsoo masih terlihat cemas, tetapi ia tersenyum kecil. "Aku tahu," gumamnya. Lalu ia mendongak menatap Chanyeol. "Boleh aku melihatnya?"

Chanyeol mengantarnya ke kamar rawat Jongin. Saat itu paman Jongin ada di sana, jadi Chanyeol memperkenalkan mereka berdua.

"Kukira semua keluarga Jongin sudah pindah ke New York," kata Kyungsoo setelah memberi hormat kepada pria yang lebih tua itu dan acara perkenalan berlalu.

Kim Shin tersenyum. "Rupanya dia tidak pernah bercerita tentang aku?"

"Oh, aku tidak bermaksud..."

"Tidak apa-apa. Sudah kuduga pasti begitu," sela paman Jongin ringan.

Kyungsoo beralih menatap Jongin yang terbaring di ranjang. Kepala dan kaki kiri Jongin dibebat.

"Keadaannya stabil," gumam Kim Shin, menjawab pertanyaan Kyungsoo yang tidak diucapkan. "Dia baik-baik saja."

Kyungsoo mengangguk.

"Kalau tidak keberatan, maukah kau menemaninya sebentar?" tanya Kim Shin. "Aku harus menelepon seseorang."

Tentu saja Kyungsoo tidak keberatan. Tapi setelah menyatakan kesediaannya, ia baru berpaling ke arah Chanyeol, baru teringat Chanyeol masih berdiri di dalam kamar itu juga.

"Dokter Park tidak perlu menemaniku," katanya perlahan. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya akan duduk di sini sebentar. Hanya sebentar."

"Baiklah," kata Chanyeol setelah berpikir sejenak. "Tapi jangan ragu-ragu memanggilku kalau ada apa-apa."

Kyungsoo tersenyum yakin. "Baiklah."

Setelah itu Chanyeol meninggalkan Kyungsoo yang duduk di kursi di samping ranjang Jongin.

Kini, Chanyeol berdiri tertegun di pintu kamar rawat Kyungsoo yang terbuka sedikit. Matanya menatap sosok Jongin yang duduk di kursi di samping ranjang Kyungsoo. Jongin hanya duduk di sana, dengan kedua tangan disandarkan ke masing-masing lengan kursi, kakinya yang di bebat diselonjorkan ke depan. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk di sana memandangi Kyungsoo yang sedang tidur.

Karena tidak ingin mengganggu, Chanyeol kembali menutup pintu tanpa suara dan berjalan menjauh dari kamar rawat Kyungsoo. Sebenarnya ia sudah merasakannya sebelum ini, hanya saja ia masih belum yakin atau ia tidak mau mengakuinya. Tetapi dari apa yang dilihatnya tadi, semuanya sudah jelas. Ia hanya perlu menerimanya.

Jongin tidak tahu jam berapa ia kembali ke kamarnya sendiri, tetapi ia akhirnya bisa terlelap. Dan ketika ia terbangun keesokan harinya, matahari sudah bersinar cerah walaupun rasa dingin di luar sana tetap menusuk tulang.

Tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Mungkin pamannya baru akan datang siang nanti. Apakah Kyungsoo sudah bangun?

Jongin bermaksud pergi mencari gadis itu. Tetapi ketika ia sedang berusaha bangkit dari ranjang, pintu kamarnya terbuka. Ia mengangkat wajah, berharap melihat Kyungsoo, tetapi ternyata bukan.

"Soo Hee?"

Yoon Soo Hee menyerbu masuk dan bergegas menghampiri ranjang Jongin. "Tadi aku pergi mencarimu ke apartemenmu dan salah seorang tetanggamu memberitahuku tentang penyerangan itu. Jadi aku langsung ke sini," katanya cemas, sebelum Jongin sempat bertanya. "Kai, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?"

"Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir," kata Jongin menenangkan. Ia memberi isyarat supaya Soo Hee duduk, tetapi wanita itu mengabaikannya karena sepertinya ia terlalu cemas. Lalu Jongin menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi kemarin malam.

"Mengerikan sekali," gumam Soo Hee di akhir penjelasan Jongin.

"Tapi aku akan segera sembuh," tambah Jongin. "Chanyeol juga bilang yang harus kulakukan hanya istirahat yang cukup. Setelah itu aku akan sembuh total."

Soo Hee masih terlihat cemas.

"Oh ya, kenapa kau mencariku?" tanya Jongin, teringat bahwa Soo Hee pergi mencarinya ke apartemen.

Akhirnya Soo Hee duduk di kursi di samping ranjang. "Oh, aku hanya ingin memberitahumu pelatihanku di Seoul sudah berakhir dan besok aku akan pulang ke New York."

"Oh, ya? Cepat sekali waktu berlalu."

"Tapi aku bisa tetap tinggal di sini kalau kau membutuhkanku. Maksudku, karena sekarang kau masih sakit."

Jongin menggeleng. "Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Dan aku tidak mungkin merepotkanmu."

Soo Hee tersenyum kecil. "Sama sekali tidak repot. Itu gunanya teman, bukan?" sahutnya. Ia terdiam sejenak. "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Do Kyungsoo?"

Raut wajah Jongin melembut. "Dia diizinkan pulang hari ini," sahutnya sambil tersenyum.

"Senang mendengar dia juga baik-baik saja."

Jongin mendesah dan memandang ke luar jendela. "Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kurasa aku..."

"Ya?"

Jongin menatap Soo Hee, baru sadar kalau tadi ia sudah mengucapkan apa yang sedang dipikirkannya. Ia menggeleng dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Lupakan saja."

"Kai."

"Mm?"

"Kau yakin dengan perasaanmu terhadap Kyungsoo-ssi?"

"Maksudmu?"

Soo Hee mengangkat bahu dengan bimbang. "Bukan apa-apa. Maksudku, kau tidak mengenalnya dan kau sama sekali tidak ingat apa pun tentang dia, tapi tiba-tiba kau bilang kau menyukainya. Bukankah kedengarannya gegabah?"

Jongin mendongak menatap langit-langit. "Ingatanku bisa saja bermasalah," gumamnya pelan, "tapi aku tahu apa yang kurasakan."

"Apa yang kaurasakan?"

"Kau ingat ketika kita menghadiri acara reuni SMP-ku bulan lalu?" Jongin menoleh ke arah Soo Hee. Ketika yang ditanya mengangguk, ia melanjutkan, "Saat itulah pertama kali aku melihatnya setelah aku hilang ingatan. Dia sedang berdiri di seberang ruangan. Dan ketika dia menatap ke arahku, jantungku serasa berhenti berdegup. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi saat itu... aku merasa sangat senang melihatnya." Jongin berhenti sejenak dan mengangkat bahu. "Kedengarannya konyol, bukan?"

Soo Hee menarik napas perlahan, lalu tersenyum. "Tidak. Sama sekali tidak konyol."

"Saat itu aku sangat bingung dengan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya," lanjut Jongin dengan nada melamun. "Maksudku, aku sama sekali tidak mengenalnya. Tidak ingat apa pun tentang dirinya. Tetapi aku selalu ingin melihatnya."

"Akhirnya kau berpikir dulu kau mungkin pernah menyukainya," gumam Soo Hee.

"Ya. Saat itu aku memang berpikir begitu," aku Jongin. "Tapi sekarang aku tahu memang begitulah kenyataannya."

Alis Soo Hee terangkat sedikit. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata pelan, "Ingatanmu sudah kembali."

"Kyungsoo-ssi."

Kyungsoo yang sedang dalam perjalanan ke kamar Jongin berhenti melangkah dan menoleh ketika mendengar suara Park Chanyeol. "Dokter Park," sapanya sambil tersenyum lebar dan membungkuk. "Selamat pagi."

Park Chanyeol menghampiri Kyungsoo. "Bagaimana keadaanmu pagi ini?"

"Sangat baik. Terima kasih atas bantuannya."

Chanyeol tersenyum kecil. "Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong orang sakit," sahutnya ringan. Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Kyungsoo-ssi, aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi..."

"Dokter Park," sela Kyungsoo cepat, "apa pun yang dilakukan sepupu Dokter Park tidak ada hubungannya dengan Dokter. Jadi Dokter tidak perlu meminta maaf untuk apa pun. Aku yakin Jongin juga akan mengatakan hal yang sama."

Chanyeol menarik napas panjang. "Aku hanya berharap aku bisa membantu."

"Dokter Park sudah banyak membantu dengan memberikan informasi kepada polisi," kata Kyungsoo. "Itu tindakan yang sangat berani."

Chanyeol menatap lurus ke mata Kyungsoo. "Aku sungguh tidak ingin kau terluka."

Alis Kyungsoo terangkat sedikit, tetapi ia tetap tersenyum. "Dokter Park, aku tidak apa-apa. Sungguh. Bukankah Dokter Park sendiri yang bilang begitu?"

"Benar. Kau memang benar. Aku hanya berharap..." Chanyeol ragu sejenak. Ia menatap Kyungsoo dan tersenyum kecil. "Aku hanya berharap akulah yang melindungimu saat itu."

"Kau tidak perlu mengantarku, kau tahu?" kata Soo Hee ketika Jongin bangkit dari ranjang dan ingin mengantarnya ke luar. "Kau masih belum cukup sehat untuk berkeliaran."

"Tidak apa-apa. Aku juga butuh olahraga," sahut Jongin mantap. "Lagi pula hanya sampai ke lift."

Begitu tiba di depan lift, Soo Hee berbalik menghadap Jongin. "Oh, ya, hampir saja lupa," katanya sambil tersenyum dan merogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan kotak kecil yang terbungkus kertas ungu. "Untukmu," katanya Soo Hee dan mengulurkan kotak itu ke arah Jongin.

"Apa ini?"

"Cokelat," sahut Soo Hee pendek. "Happy Valentine's Day."

Alis Jongin terangkat. "Valentine's Day? Sekarang bukan tanggal 14, bukan?"

Soo Hee tersenyum. "Tanggal 14 nanti aku sudah tidak ada di Seoul, jadi kuputuskan untuk memberikannya sekarang," katanya, lalu masuk ke lift dan melambaikan tangan.

Setelah pintu lift tertutup, Jongin berbalik, hendak kembali ke kamarnya, tetapi langkahnya tiba-tiba berhenti dan ia menoleh. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Do Kyungsoo, yang saat itu masih mengenakan piama rumah sakit, berdiri berhadapan dengan Park Chanyeol.

Jongin melihat tangan Chanyeol memegang kedua bahu Kyungsoo, sepertinya sedang mengatakan sesuatu. Kyungsoo mendongak menatap laki-laki itu, tersenyum, dan mengangguk. Lalu Chanyeol melambaikan tangan dan berjalan pergi.

Kyungsoo sendiri berputar dan berjalan ke arah kamar rawat Jongin. Sedetik kemudian gadis itu mengangkat wajah dan menatap Jongin. Matanya melebar dan senyumnya berubah cerah.

Apakah gadis itu gembira karena melihatnya atau gembira karena baru bertemu dengan Chanyeol?

"Jongin!" seru Kyungsoo dan bergegas menghampiri Jongin. "Kau benar-benar sudah sadar."

Jongin menunduk menatap gadis itu dan tersenyum lebar. Setiap kali melihat gadis itu tersenyum, ia tidak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. "Aku sduah sadar sejak kemarin malam," katanya, "tapi tentu saja kau tidak tahu karena kau tidur seperti bayi."

Kyungsoo balas menatapnya dengan mata yang juga disipitkan. "Apa maksudmu aku tidur seperti bayi?" katanya, terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Ngomong-ngomong, kenapa kau jalan-jalan sendirian? Ayo, kembali ke kamar."

Jongin membiarkan dirinya dituntun Kyungsoo kembali ke kamar rawatnya. "Aku bosan," gerutunya. "Dan aku benci rumah sakit."

Mereka masuk ke kamar dan Kyungsoo mendorong Jongin ke ranjang. "Kalau kau mau cepat-cepat keluar dari sini, kau harus istirahat. Luka-lukamu masih belum sembuh benar, tahu. Memangnya kau mau lukamu bertambah parah dan tinggal di sini lebih lama lagi?"

Jongin duduk di tepi ranjang dengan patuh, lalu menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. "Kau juga duduk di sini."

Kyungsoo menurut. Ia duduk di samping Jongin di ranjang dan menatap laki-laki itu. "Jongin... Terima kasih."

"Terima kasih? Untuk apa?"

Kyungsoo menggeleng. "Karena aku, kau jadi terluka seperti ini. Bagaimana kepalamu? Sakit sekali?"

"Kau tidak perlu mencemaskanku," kata Jongin. Ia mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh luka memar di pipi Kyungsoo.

Sentuhannya ringan, tetapi Kyungsoo meringis karena kulitnya masih terasa nyeri.

"Masih sakit?" tanya Jongin dengan nada khawatir.

Setelah menahan napas sesaat, Kyungsoo memaksa dirinya menghirup napas dengan normal dan menggeleng. "Sepertinya kau lebih kesakitan daripada aku."

Jongin menurunkan tangannya dan tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Aku kuat. Luka begini saja sama sekali bukan masalah."

Alis Kyungsoo terangkat. "Bukan masalah? Kau tahu betapa takutnya aku sewaktu orang-orang itu tidak mau berhenti memukulimu? Dan aku tidak bisa membantumu. Tidak bisa melakukan apa-apa. Dan ketika polisi datang, kau tidak bergerak. Kukira kau... Kukira..." Mata Kyungsoo berkaca-kaca. Ia mengerjap, lalu mengalihkan pandangannya ke depan, dan menarik napas panjang.

Jongin tertegun. Ia menatap Kyungsoo sesaat, lalu mengulurkan tangan meraih tangan

Kyungsoo dan meremasnya. "Maafkan aku," gumamnya. "Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi."

Kyungsoo sendiri tidak menyangka ia akan mengucapkan kata-kata itu. Tetapi semua itu benar. Saat itu ia memang sangat ketakutan. Bukan takut pada orang-orang kasar itu, tetapi takut mereka akan melukai Jongin. Yang dipikirkannya saat itu adalah bagaimana kalau Jongin celaka? Bagaimana kalau Jongin tidak bisa bangun lagi? Selama-lamanya? Apa yang akan terjadi padanya kalau orang-orang itu benar-benar membunuh Jongin? Kyungsoo menggigil memikirkan kemungkinan itu.

Saat itu Jongin menggenggam tangannya dan berkata pelan, "Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi."

Kyungsoo menahan napas, mengangkat wajah, dan menatap Jongin. Laki-laki itu tersenyum kepadanya dan meremas tangannya, meyakinkannya bahwa ia tidak perlu cemas. Benar, pikir Kyungsoo. Aku tidak perlu cemas. Semuanya baik-baik saja. Jongin baik-baik saja. Laki-laki ini kini ada di sampingnya. Dan itulah yang terpenting.

"Ngomong-ngomong, apa itu?" tanya Kyungsoo sambil mengalihkan perhatian ke arah kotak kecil di ranjang Jongin.

"Oh, cokelat. Hadiah Valentine dari Soo Hee," sahut Jongin ringan.

Alis Kyungsoo terangkat. "Yoon Soo Hee? Tadi dia ke sini?" tanyanya.

Jongin mengangguk. "Dia hanya sebentar di sini."

"Oh." Hanya itu yang bisa dikatakan Kyungsoo. Ia tidak ingin bertanya untuk apa Soo Hee datang ke sini. Walaupun Jongin pernah berkata ia tidak punya hubungan istimewa dengan Yoon Soo Hee, tetap saja itu bukan urusan Kyungsoo.

"Dia datang untuk mengatakan dia akan pulang ke New York," kata Jongin tanpa di tanya. "Masa pelatihannya sudah selesai."

"Oh?" Kyungsoo agak kaget mendengarnya. Tanpa bisa mencegah dirinya, ia bertanya, "Apakah kau juga...?"

"Aku akan tetap di sini. Bersamamu," kata Jongin sambil menatap lurus ke arah Kyungsoo. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. "Apakah kau mau menerimaku?"

Kenapa Kyungsoo tidak bisa bernapas? Kenapa ia tidak bisa bergerak? Ia balas menatap Jongin dan ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras. Akhirnya, ia memutuskan untuk menganggapinya sebagai gurauan. "Karena hanya aku yang mau memasak untukmu?" tanyanya sambil tersenyum lebar.

Jongin terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Tiba-tiba ia bertanya, "Ngomong-ngomong, aku melihatmu bersama Chanyeol tadi."

Agak kaget dengan perubahan arah pembicaraan yang tiba-tiba ini, Kyungsoo mengerjap, lalu bertanya heran, "Ya. Kenapa?"

"Apa yang kalian bicarakan?"

Kyungsoo tidak langsung menjawab. Lalu ia menunduk dan berkata, "Tidak ada yang penting."

Jongin berdeham. "Kau... berencana memberinya cokelat? Pada Hari Valentine nanti, maksudku.."

Kyungsoo mengerutkan kening, lalu tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh itu. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memberikan cokelat kepada Park Chanyeol pada Hari Valentine.

"Kau akan memberikan cokelat kepadanya?" Suara Jongin terdengar lagi.

Lalu tersenyum sendiri dan menggeleng. "Tidak."

"Kalau untukku?"

"Apa?" Kyungsoo mengerjap dan menatap Jongin.

Jongin tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kau membuat biskuit yang sama seperti yang pernah kau berikan kepadaku Hari Natal lalu? Enak sekali."

Mata Kyungsoo melebar. Apa? Biskuit? Hari Natal lalu? Tunggu... Jadi...? Ia tidak berani berharap, tapi...

"Aku sudah ingat," kata Jongin, seolah-olah menegaskan apa yang dipikirkan Kyungsoo.

"Kau sudah ingat?" ulang Kyungsoo tidak percaya. "Semuanya?"

Jongin mengangguk. "Semuanya."

Sejenak Kyungsoo tidak berkata apa-apa, hanya menatap Jongin tanpa berkedip. Ia ingin mencerna apa yang baru saja dikatakan Jongin kepadanya. Ia ingin merasa yakin ini bukan mimpi.

Jongin menatapnya dengan alis terangkat. "Kyungsoo, kenapa diam saja? Aku benar-benar sudah ingat semuanya. Tidak percaya?" Ia memiringkan kepala dan mengerutkan kening, seolah-olah sedang berpikir. "Aku ingat kau mengendap-endap di depan pintu apartemenku pada hari pertama aku tiba di Tokyo. Aku ingat kau pernah bermalam di apartemenku karena lampu di apartemenmu tidak bisa menyala. Oh, jangan menatapku seperti itu. Kau memang bermalam di apartemenku walaupun kau tidak suka dengan istilah itu. Aku ingat kencan kita pada malam Natal, pertunjukan balet, lalu kita pergi ke arena seluncur es..."

Tiba-tiba saja, tanpa berpikir dua kali—tanpa benar-benar berpikir, Kyungsoo melingkarkan kedua lengannya di leher Jongin dan memeluknya erat-erat.

Sekujur tubuh Jongin masih sakit dan ia harus menahan diri untuk tidak meringis atau mengaduh ketika Kyungsoo tiba-tiba memeluknya dan hampir membuatnya terjungkal ke belakang. Tetapi bagaimanapun juga, ada saatnya ketika rasa sakit sama sekali tidak penting. Misalnya sekarang, ketika Do Kyungsoo memeluknya untuk pertama kali.

"Kau sudah kembali," gumam Kyungsoo di bahu Jongin. "Kau sudah kembali."

Jongin tersenyum, menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan pelan. Ia merasa lega. Sangat lega. "Aku sudah kembali," gumamnya lirih. "Apakah kau juga akan kembali kepadaku?"

Kyungsoo tertegun. Lalu ia mundur sedikit dan menatap Jongin.

Tiba-tiba pintu kamar rawat Jongin terbuka dan langsung disusul oleh suara Jun Jiwon. "Dia pasti ada di kamar Jongin. Nah, kubilang juga... Lho, kalian sedang apa?"

Kyungsoo tersentak dan buru-buru menjauh dari Jongin. Wajahnya terasa panas. "Eonnie, kau sudah datang. Oh, Kakek dan Nenek juga."

"Aku juga datang!" seru Taesoo yang masuk belakangan. "Wah, Jongin Hyung sudah sadar?"

"Ingatan Jongin sudah kembali," kata Kyungsoo.

Dan kamar yang tadinya terasa agak sepi itu pun berubah ramai.

"Benarkah? Itu berita yang sangat bagus, Kyungsoo?"

"Kita harus merayakannya begitu Jongin keluar dari rumah sakit."

"Hyung, apakah ingatanmu kembali gara-gara kejadian kemarin? Maksudku, karena kepalamu dipukul sekali lagi... Aduh! Noona, kenapa kepalaku dipukul?"

"Karena kau tidak peka. Siapa suruh kau mengungkit-ungkit masalah itu? Ngomong-ngomong, kalian berdua, tentunya kalian sudah tahu mataku tajam dan aku selalu yakin dengan apa yang kulihat. Benar? Jadi mulailah menjelaskan apa yang kulihat tadi ketika aku baru masuk."

To Be Continued