Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
.
.
.
"Kenapa Jongin-ssi harus mengadakan pamerannya bertepatan dengan Hari Valentine?" desah Jiwon ketika ia dan Kyungsoo sedang berdiri di tepi jalan, menunggu lampu lalu lintas berubah warna. Suaranya terdengar tidak jelas karena hidung dan mulutnya dibenamkan di balik syal tebal yang melilit lehernya. Angin sore ini memang lebih dingin daripada hari-hari sebelumnya.
"Eonnie sendiri juga tidak ada acara, kan, malam ini?" Kyungsoo balas bertanya sambil tersenyum.
"Oh, astaga! Haruskah kau mengingatkanku soal itu?" Jiwon melotot, lalu mendesah lagi. "Tapi mungkin aku bisa cuci mata sedikit di pameran itu."
Lampu lalu lintas berubah warna dan mereka menyeberang dengan cepat, lega karena setidaknya mereka kembali bergerak. Berdiri diam begitu saja membuat mereka semakin kedinginan.
"Ngomong-ngomong, Jongin benar sudah tak apa-apa?" tanya Jiwon, sementara mereka berjalan cepat ke arah galeri tempat pameran Jongin diadakan. "Maksudku, baru beberapa hari di rumah sakit, dia sudah memaksa minta pulang."
"Kurasa dia masih sakit di sana-sini, tapi karena dia laki-laki, dia tidak akan mengakuinya," jawab Kyungsoo. "Segala persiapan sudah dilakukan untuk pameran ini dan para sponsor tidak akan mau menundanya. Jongin sendiri juga pasti tidak mau."
Begitu mereka tiba di galeri dan menitipkan jaket, Jiwon memandang berkeliling dan bergumam, "Wah, banyak juga yang datang. Baiklah, Kyungsoo, sampai juga lagi nanti. Aku harus beredar dulu."
Kyungsoo mengangkat alis tidak mengerti.
Jiwon tersenyum. "Cuci mata," katanya. "Cuci mata."
Setelah ditinggal Jiwon, Kyungsoo masuk ke ruangan pameran dan mencari-cari Jongin. Tidak ada. Jongin tidak terlihat. Mungkin sedang sibuk. Ini kan pamerannya. Pasti banyak orang yang ingin berbicara dengannya. Sambil mendesah pelan, Kyungsoo memutuskan untuk melihat-lihat sendiri dulu.
Tempat ini cukup ramai. Ternyata banyak orang yang tertarik dengan hasil karya Jongin. Beberapa orang wartawan juga terlihat. Kyungsoo jadi bertanya-tanya apakah Jongin memang sehebat itu? Apakah Jongin memang terkenal seperti yang pernah dikatakan Jiwon?
Kalau di lihat dari foto-foto yang tergantung di dinding itu, Jongin memang hebat. Bagaimana Jongin bisa memotret sesuatu yang begitu biasa dan membuatnya begitu luar biasa? Misalnya foto hitam-putih yang menampilkan tangan seseorang yang terangkat ke arah matahari, seolah-olah ingin menggapai matahari. Entah bagaimana cara Jongin memotretnya, tetapi sinar matahari yang menyelinap di antara celah jemari itu terlihat sangat indah dan berkilau.
Kyungsoo terus bergerak dari satu foto ke foto lain, terus berhenti di setiap foto untuk memandanginya dan terus terkagum-kagum. Ia memang tidak mengerti fotografi, tetapi ia tahu foto bagus. Dan Jongin sudah jelas memang sangat berbakat seperti yang dikatakan Jiwon.
Tiba-tiba sebuah foto menarik perhatiannya. Kyungsoo mengerjap dan menahan napas. Foto yang tergantung di depannya adalah foto seorang wanita berjaket hijau yang berdiri di tengah-tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang di jalan raya. Wanita yang menjadi objek utama dalam foto itu berdiri membelakangi kamera. Selain warna hijau dari jaket yang dikenakan wanita itu, segala sesuatu di sekitarnya—termasuk juga kerumunan orang yang berlalu-lalang—berwarna hitam-putih dan terlihat kabur, seolah-olah dunia di sekeliling wanita itu memudar di mata sang fotografer.
"Kau sudah datang?"
Sebuah suara pelan menyentakkan Kyungsoo dan ia langsung berputar. "Jongin." Matanya melebar dan seulas senyum tersungging di bibirnya begitu melihat Kim Jongin berdiri di sampingnya.
…
Sebenarnya Jongin sudah melihat Kyungsoo sejak gadis itu memasuki ruangan pameran. Saat itu ia sedang berbicara dengan beberapa orang penting, sehingga ia tidak bisa langsung menemui gadis itu. Begitu ia bisa menyelinap keluar dari pembicaraan, ia langsung menghampiri Kyungsoo.
"Kau sudah datang?" sapanya.
Kyungsoo berputar dan tersenyum lebar. "Jongin."
Jongin balas tersenyum, lalu kembali memandang foto yang tadi sedang diperhatian Kyungsoo. "Kau ingat hari itu?" tanyanya.
"Apa?" Kyungsoo tidak mengerti.
Jongin menggerakkan dagunya ke arah foto. "Hari ketigaku di Seoul. Kau menemaniku berkeliling untuk melihat-lihat. Hari itu kau mengenakan jaket hijau."
Kyungsoo mengerutkan kening, masih tidak mengerti. Lalu perlahan-lahan kerutan di keningnya menghilang dan ia kembali menatap foto yang tergantung di depannya.
"Perempatan yang selalu ramai dan saat itu kau hampir jatuh karena ditabrak dari segala arah." Jongin tertawa pelan.
"Itu... Itu karena kau tiba-tiba menghilang," protes Kyungsoo. "Aku sedang mencarimu. Kukira kau... Maksudku, kau bisa saja tersesat di antara begitu banyak orang."
"Saat itu aku ada di belakangmu. Aku bisa melihatmu," kata Jongin. "Aku selalu melihatmu."
Mata Kyungsoo terpaku pada foto itu. "Jadi... itu aku?" tanyanya tidak percaya. Jongin mengangguk. "Aku tahu kau tidak suka difoto, tapi menurutku foto ini sangat bagus untuk pameran. Jadi..."
"Tidak apa-apa," sahut Kyungsoo sambil tersenyum. "Foto ini memang sangat bagus. Foto-foto yang lain juga."
Senyum Jongin melebar. "Terima kasih."
Mereka masih berdiri di depan foto itu dan Jongin teringat beberapa jam yang lalu ketika Chanyeol datang ke sini. Chanyeol juga berdiri di depan foto yang sama dan memandanginya sambil tersenyum kecil.
"Kukatakan padanya bahwa aku ingin melindunginya," gumam Chanyeol saat itu.
Alis Jongin terangkat dan ia menoleh. "Apa?"
Chanyeol menggerakkan kepalanya ke arah foto. "Wanita itu. Kukatakan padanya bahwa aku berharap akulah yang melindunginya saat itu."
Jongin langsung tahu mereka sedang membicarakan Do Kyungsoo. Dan apa kata Chanyeol tadi? Apakah Chanyeol sudah menyatakan perasaannya? Tiba-tiba saja Jongin merasa tegang dan ia menahan napas.
"Begitu?" gumam Jongin, berharap Chanyeol meneruskan kata-katanya.
Tetapi Chanyeol menghela napas panjang dan melirik jam tangannya. "Aku harus kembali ke rumah sakit," gumamnya. Lalu ia berbalik dan mengulurkan tangan ke arah Jongin. "Nah, semoga berhasil, Jongin, walaupun aku yakin kau akan berhasil karena karyamu sangat bagus."
Jongin menjabat tangan yang terulur itu dan mengucapkan terima kasih. Ia sangat ingin bertanya kepada Chanyeol tentang apa yang di katakannya tadi, tetapi tidak tahu bagaimana harus menanyakannya. Jadi sampai sekarang Jongin masih tidak tenang.
Ia menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah Do Kyungsoo yang kini berdiri di sampingnya. Chanyeol sudah meyatakan perasaannya kepada Kyungsoo. Apakah Jongin sudah terlambat? Tidak mungkin. Tidak mungkin...
"Ngomong-ngomong," kata Kyungsoo tanpa mengalihkan matanya dari foto-foto yang terpajang, "apakah Dokter Park sudah datang ke sini?"
Kenapa gadis itu tiba-tiba bertanya soal Chanyeol? "Tadi sudah ke sini," sahut Jongin setengah melamun.
Kyungsoo menatapnya dan tersenyum lebar. "Oh, ya? Bagaimana tanggapannya tentang pameran ini?"
Gadis itu masih menyukai Chanyeol. Itulah yang dipikirkan Jongin begitu ia melihat wajah Kyungsoo yang berseri-seri. Saat itu juga ia mendadak merasa tidak bersemangat. Gadis itu masih menyukai Chanyeol. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus dilakukannya?
Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa melihatku?
Ketika Kyungsoo menoleh ke arahnya dengan tatapan heran, barulah ia menyadari ia
sudah mengucapkan apa yang dipikirkannya tadi.
…
Kyungsoo mengira ia salah dengar. "Apa?"
Jongin tidak langsung menjawab. Laki-laki itu hanya menatapnya dengan ekspresi bingung dan murung. Setelah terdiam beberapa saat, Jongin menghela napas panjang, menjejalkan kedua tangan di saku celana, dan bertanya, "Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa melihatku?"
Untuk sesaat Kyungsoo tidak bisa menemukan suaranya. Ia hanya bisa menatap Jongin tanpa berkedip. Napasnya tertahan dan jantungnya mulai berdebar keras.
"Sebenarnya aku sudah pernah bertanya kepadamu," lanjut Jongin sambil tersenyum kecil. "Tapi kau belum menjawabku."
Oh, ya. Kyungsoo ingat. Kyungsoo mengingatnya dengan jelas, seolah-olah semuanya baru terjadi kemarin. Hari Natal. Pelabuhan. Ia baru akan naik kapal yang akan membawanya ke Jeju ketika Jongin menghentikannya dan menanyakan pertanyaan itu. Apakah kau bisa melupakan Chanyeol... dan mulai benar-benar melihatku?
"Aku tahu saat itu bukan saat yang tepat," kata Jongin, lalu tertawa kecil. Ia memandang ke sekeliling ruangan pameran yang di penuhi orang-orang. "Sebenarnya sekarang juga bukan waktu yang tepat. Tempatnya juga tidak tepat. Tapi kurasa aku harus mengatakannya sekarang juga."
Kyungsoo bahkan tidak menyadari ada orang di sekeliling mereka. Ia tidak bisa melihat apa-apa selain Jongin. Ia tidak bisa mendengar apa-apa selain suara Jongin. Ia masih belum bisa bernapas dengan normal karena terlalu takjub dan ia masih menahan napas menunggu apa yang akan dikatakan Jongin selanjutnya.
Mata Jongin yang gelap menatap matanya lurus-lurus dan Kyungsoo hampir yakin ia melihat bayangannya sendiri terpantul di sana.
Jongin menarik napas dan berkata dengan nada rendah namun mantap, "Aku menyukaimu, Do Kyungsoo." Lalu ia menggeleng pelan. Matanya masih terpaku pada mata Kyungsoo. "Tidak. Kurasa yang benar adalah aku mencintaimu."
Dunia pun berhenti. Setidaknya Kyungsoo merasa dunianya berhenti berputar tepat pada saat itu. Seluruh jagat raya berhenti. Tidak ada suara yang terdengar selain gema yang tersisa dari kata-kata Jongin tadi.
"Apa yang harus kulakukan agar kau bisa menerimaku?" Suara Jongin yang lirih dan dalam terdengar lagi.
Tidak ada, batin Kyungsoo. Tidak ada...
Gemuruh tepuk tangan terdengar menembus kabut yang menyelimuti kepala Kyungsoo. Ia mengerjap dan memandang berkeliling. Para pengunjung pameran bertepuk tangan dan menatap Jongin sambil tersenyum lebar.
Kyungsoo baru menyadari rupanya saat itu Jongin diminta maju ke depan untuk memberikan sedikit kata sambutan dan menjawab pertanyaan dari wartawan. Seorang wanita yang memegang mikrofon dan yang terlihat seperti salah satu orang yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan acara melambai ke arah Jongin.
"Jongin, sepertinya dia memanggilmu," gumam Kyungsoo.
Jongin menunduk, mengembuskan napas dengan berat. "Pada saat seperti ini...," gerutunya pelan. Namun ia dengan cepat mengangkat kepala, menegakkan bahu, dan berbalik. Seulas senyum lebar sudah tersungging di bibirnya ketika ia berjalan—langkahnya masih agak timpang—ke arah si wanita yang memegang mikrofon, di iringi tepuk tangan semua orang.
"Sudah kubilang dia hebat," kata Jiwon yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kanan Kyungsoo.
"Aku tahu," timpal Taesoo yang berdiri di samping kiri Kyungsoo. "Aku hanya tidak menyangka dia terkenal begini."
Kyungsoo menoleh dan menatap kedua kakak-beradik itu bergantian. "Oh, Eonnie... Taesoo..."
Jiwon menyiku pelan lengan Kyungsoo. "Dia keren sekali, bukan?"
Kyungsoo menatap Jongin yang berbicara dengan lancar di depan, menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang masalah teknis dan foto-fotonya. "Ya," gumamnya sambil tersenyum. "Memang."
Salah seorang wartawan menanyakan sesuatu. "Anda sudah sangat sukses di Amerika Serikat. Apa yang membuat Anda kembali ke Korea?"
Jongin tersenyum. "Saya hanya butuh perubahan suasana. Mencari inspirasi."
"Sepertinya Anda memang sudah berhasil mendapatkan inspirasi kalau melihat hasil karya Anda yang mengagumkan ini," puji si wartawan.
Jongin berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Ya."
Alis si wartawan terangkat dan ia memperbaiki letak kacamatanya. Ada sesuatu dalam satu patah kata sederhana itu yang menggelitik rasa ingin tahunya. Memang hanya wartawan yang memiliki naluri tajam seperti itu. "Maaf, apakah sumber inspirasi Anda itu... seorang wanita?"
"Ya," jawab Jongin sambil tersenyum.
Jiwon melirik Kyungsoo dan berbisik, "Yah, kita semua tahu siapa wanita itu. Bukankah begitu?"
Kyungsoo pura-pura bodoh dan tidak menjawab sementara Taesoo tertawa pelan.
"Ceritakanlah sedikit tentang sumber inspirasi Anda itu," pinta si wartawan yang di dukung oleh wartawan-wartawan lain. "Apa yang sudah dilakukannya sampai bisa membuat Anda terinspirasi?"
Saat itu mata Jongin bertemu dengan mata Kyungsoo dari seberang ruangan. Kyungsoo langsung menahan napas dan berharap debar jantungnya yang keras tidak terdengar oleh orang-orang yang berdiri di dekatnya.
"Dia tidak melakukan apa-apa," sahut Jongin sambil tersenyum.
"Tidak?" tanya si wartawan tidak percaya.
"Tidak," Jongin menegaskan. "Dia juga tidak perlu melakukan apa-apa. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa dia ada dan saya bisa melihatnya."
"Ya, Tuhan. Ini menegangkan sekali," bisik Jiwon dengan nada mendesak sambil mencengkeram lengan Kyungsoo. Itu bagus juga, karena Kyungsoo merasa kakinya mulai goyah.
"Maksud Anda?" tanya wartawan yang mulai bersemangat. Hubungan pribadi memang selalu menarik untuk dikupas, apalagi hubungan pribadi orang terkenal.
"Yang harus saya lakukan hanyalah melihatnya. Hanya melihatnya," sahut Jongin dan kembali memandang ke arah Kyungsoo, "dan saya akan merasa saya bisa menghadapi segalanya."
Bernapaslah, pinta Kyungsoo pada diri sendiri. Ia harus bernapas. Kalau tidak ia akan segera pingsan.
Para wartawan berebut mengajukan pertanyaan, tetapi tidak ada yang terdengar jelas karena suara-suara saling tumpang-tindih.
"Saya hanya berharap..." Suara Jongin membuat ruangan itu hening. Semua perhatian terpusat kepada sosok Jongin dan kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Mata Jongin sendiri tetap terpaku pada Kyungsoo. "Saya hanya berharap dia bisa melihat saya."
Kyungsoo masih tidak bisa mengalihkan matanya dari Jongin. Ia tidak bisa mendengar apa-apa selain debar jantungnya sendiri. Tetapi mungkin juga suasana saat itu memang hening. Kyungsoo tidak tahu dan tidak peduli. Ia merasa seolah-olah sedang melayang. Apakah ia sedang bermimpi?
"Hanya itu yang bisa saya katakan." Jongin memecah keheningan. "Terima kasih."
Suasana kembali riuh dan para wartawan berlomba-lomba ingin bertanya lebih jauh. Tetapi kali ini Jongin hanya tersenyum lebar, membungkukkan badan, dan menyerahkan mikrofon kepada si penyelenggara acara, menandakan wawancara sudah selesai. Wanita itu buru-buru mengambil alih situasi, dengan ringkas dan efisien menjawab serta mengalihkan pertanyaan-pertanyaan wawancara kepada masalah yang tidak bersifat pribadi.
"O-oh. Dia ke sini," kata Jiwon ketika Jongin keluar dari kerumunan wartawan dan berjalan ke arah mereka. "Taesoo, ayo kita pergi."
"Kenapa?" tanya Taesoo sambil mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti maksud kakaknya. "Aku baru datang dan aku belum bertemu dengan Jongin Hyung. Aku harus memberikan selamat kepadanya."
Jiwon melotot dan menarik lengan adiknya. "Nanti saja. Sekarang kita harus menyingkir dari sini."
Kyungsoo hanya bisa menatap kedua kakak-beradik itu berjalan pergi. Taesoo masih sempat menoleh dan melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Ketika Kyungsoo berbalik kembali, Jongin sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.
Sesaat mereka hanya berpandangan. Kyungsoo tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia bahkan belum bisa bernapas dengan normal dan debar jantungnya belum mereda. Perasaannya masih melayang-layang.
Tiba-tiba Kyungsoo mendapati dirinya bertanya, "Kalau ingatanmu saat ini masih belum kembali, apakah kau akan mengatakan hal yang sama seperti yang kaukatakan tadi?"
Pertanyaan itu membuat Jongin agak kaget, tetapi ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. "Sejak sebelum aku hilang ingatan aku sudah menyukaimu. Ketika aku tidak mengingat apa-apa, aku kembali jatuh cinta padamu," gumamnya yakin. Ia terdiam sejenak, menatap mata Kyungsoo lurus-lurus dan melanjutkan, "Jadi, ya, aku akan tetap mengatakan hal yang sama walaupun seandainya ingatanku belum kembali."
Mata Kyungsoo terasa panas dan ia menunduk.
"Kyungsoo." Jongin menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, "Aku tahu kau menyukai Chanyeol walaupun dia sama sekali tidak seperti yang kau kira. Dan—aku tidak percaya aku akan mengatakan ini—aku tahu dia menyukaimu. Bukankah dia juga sudah bilang padamu dia ingin melindungimu atau semacamnya? Tapi katakan padaku, apa yang harus kulakukan supaya kau bisa menerimaku. Atau setidaknya memberiku kesempatan. Aku..."
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa," sela Kyungsoo.
"Aku... Apa?"
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa, Jongin," kata Kyungsoo sekali lagi sambil berusaha mengatur napas dan debar jantungnya, "karena aku memang sudah melihatmu."
Alis Jongin terangkat. Ketegangan yang sejak tadi terlihat di wajahnya mulai menguap. "Kau sudah...? Lalu Chanyeol?"
Kyungsoo menunduk. "Sudah kukatakan padanya," gumamnya pelan.
Seulas senyum tersungging di bibir Jongin. "Lalu kini kau kembali padaku?"
Kyungsoo berdeham, agak salah tingkah, lalu balik bertanya, "Apakah kau harus bertanya terus? Atau kau ingin aku menerima Dokter Park?"
"Tentu saja tidak," sahut Jongin cepat. Wajahnya pun berubah cerah. Ia mengembuskan napas dengan lega. "Kyungsoo..."
Tepat pada saat itu tiba-tiba Kim Shin muncul dan menepuk punggung Jongin dengan keras. "Foto-fotomu hebat, Jongin. Selamat," katanya riang, dan menoleh ke arah Kyungsoo. "Oh, ada Kyungsoo rupanya. Apa kabar?"
Kyungsoo buru-buru membungkuk memberi salam.
"Paman?" Jongin mengerjap bingung, seolah ia memerlukan waktu satu-dua detik sebelum menyadari bahwa orang yang berdiri di sampingnya adalah pamannya. "Paman baru datang?"
"Maaf, aku datang terlambat," kata pamannya tanpa merasa bersalah. "Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita pergi makan malam untuk merayakan keberhasilanmu setelah acara ini selesai? Tentu saja Kyungsoo juga harus ikut."
Kyungsoo cepat-cepat menggeleng. "Tidak, tidak. Paman dan Jongin saja yang pergi. Aku..."
Kata-katanya terhenti ketika ia merasakan tangan Jongin menggenggam tangannya dan menariknya mendekat. Ia bisa melihat alis paman Jongin terangkat heran, lalu senyum kecil mulai terlihat di wajah pria yang lebih tua itu. Kyungsoo merasa pipinya memanas dan ia hampir tidak berani mengangkat wajah.
"Bagaimana kalau kita rayakan lain kali, Paman?" tanya Jongin dengan nada meminta maaf. "Hari ini kami punya rencana lain."
Kim Shin menatap mereka berdua, lalu mengangguk-angguk. "Ah, rupanya sudah berhasil."
…
"Jongin, kita akan ke mana?" tanya Kyungsoo ketika mereka sudah berada di dalam mobil Jongin yang melaju di jalan.
"Karena kau sudah memberiku cokelat," sahut Jongin sambil menepuk kantong kain berisi cokelat buatan Kyungsoo yang diletakkan di dasbor, "aku juga harus menepati janjiku."
"Janji apa?"
Jongin sambil menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Bukankah kau pernah memintaku mengajakmu ke restoran favoritmu itu lagi pada Hari Valentine?"
"Ah, benar!" seru Kyungsoo gembira, baru teringat soal janji itu. "Jongin, ternyata kau masih ingat. Jadi kita akan makan malam di sana?"
Jongin mengangguk.
"Kau membawa kartu diskonmu?" tanya Kyungsoo.
Jongin tertegun. "Kartu diskon?"
"Ya, kartu diskon yang kau bilang hanya bisa dipakai pada hari-hari tertentu," kata Kyungsoo.
Jongin berdeham. "Eh, soal kartu diskon itu..."
"Ya?"
"Sebenarnya tidak ada kartu diskon."
Kyungsoo tidak mengerti. "Tidak ada? Maksudmu, kau lupa membawanya?"
"Bukan. Aku tidak pernah punya kartu diskon itu." Melihat Kyungsoo yang kebingungan, Jongin cepat-cepat menambahkan, "Sebenarnya itu restoran pamanku, jadi aku selalu mendapatkan diskon khusus kalau aku makan di sana."
"Oh, begitu?" gumam Kyungsoo heran. "Tapi kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya waktu itu?"
Jongin mengangkat bahu. Kalau dipikir-pikir, ia juga tidak mengerti kenapa ia harus berbohong saat itu. "Entahlah," jawabnya. "Kurasa aku tidak ingin dianggap memamerkan diri."
"Kau tidak pernah memamerkan diri," kata Kyungsoo sambil menepuk pundak Jongin. "Malah kau salah satu orang paling rendah hati yang pernah kukenal."
"Karena itu kau menyukaiku?" gurau Jongin.
Kyungsoo meringis, lalu tertawa kecil. "Kurasa begitu."
Jongin menggenggam erat tangan Kyungsoo. "Terima kasih, Kyungsoo," gumamnya pelan. "Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan. Terima kasih karena sudah ada di sini bersamaku."
Kyungsoo tersenyum menatap laki-laki yang duduk di belakang kemudi itu, lalu menatap tangannya yang hampir tak terlihat dalam genggaman Jongin. Hatinya terasa hangat. Ringan. Bahagia. Ia suka apabila Jongin menggenggam tangannya seperti itu, membuatnya merasa laki-laki itu akan selalu bersamanya.
"Ngomong-ngomong, Jongin, kenapa kau tadi bilang Dokter Park tidak seperti yang kukira?" tanya Kyungsoo tiba-tiba. "Ah, dulu sewaktu kau mengantarku ke pelabuhan, kau juga bilang ada sesuatu yang ingin kaukatakan kepadaku. Sesuatu tentang ingatan masa kecilku. Kau ingat?"
"Oh, itu..." Jongin tersenyum penuh misteri.
"Aku sangat penasaran," kata Kyungsoo. Ia mengubah posisi duduknya dan menghadap Jongin. "Sebenarnya apa yang ingin kaukatakan?"
"Tentang cinta pertamamu. Anak laki-laki yang membantu mencarikan kalungmu yang hilang itu..."
"Dokter Park."
Jongin menggeleng. "Bagaimana kalau anak laki-laki itu bukan Chanyeol?"
"Hah?"
"Bagaimana kalau kukatakan padamu anak laki-laki itu bukan Chanyeol?"
Mata Kyungsoo terbelalak. "Bagaimana mungkin? So Hyun yang bilang padaku nama anak itu Park Chanyeol. So Hyun kenal banyak orang dan dia tidak mungkin salah."
"Tapi Chanyeol tidak mengingatmu, bukan? Tidak ingat pernah bertemu denganmu, atau membantumu mencari kalung, atau semacamnya?"
"Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. Orang-orang bisa saja melupakan beberapa hal pada masa kecilnya," protes Kyungsoo. "Lagi pula, bagaimana kau bisa begitu yakin anak itu bukan Dokter Park?"
Jongin menatap Kyungsoo sekilas sebelum kembali menatap jalanan di depan. Ia tersenyum. "Karena akulah anak itu."
Kali ini Kyungsoo terbelalak. "Apa?" Suaranya juga melengking.
"Aku ingat pernah melihat seorang anak perempuan kecil yang sedang berjongkok di samping gedung sekolah menangis tersedu-sedu mencari kalungnya yang hilang," kata Jongin.
"Aku tidak menangis tersedu-sedu," bantah Kyungsoo.
Jongin mengabaikannya. "Waktu itu kau tidak memakai sarung tangan. Kau terus meniup-niup tanganmu. Aku ingat itu karena aku bermaksud meminjamkan sarung tanganku kepadamu. Hanya saja hari itu aku juga tidak membawa sarung tangan."
Kyungsoo terdiam dan menatap Jongin tanpa berkedip.
"Aku masih ingat, Kyungsoo. Sungguh. Semuanya tersimpan di kepalaku seperti foto," kata Jongin sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk.
"Tapi ini benar-benar sulit dipercaya," kata Kyungsoo. "Apakah itu benar-benar kau, Jongin?"
"Begitulah kenyataannya."
Kyungsoo mengerutkan kening dengan bingung. "Tapi bagaimana mungkin So Hyun salah mengenali orang?"
Jongin mengangkat bahu. "Entahlah. Yang kutahu adalah cinta pertamamu sudah pasti bukan Park Chanyeol," katanya sambil menatap Kyungsoo, "tapi Kim Jongin."
Sejenak Kyungsoo masih berpikir. Akhirnya ia tersenyum. "Akan kuingat itu," katanya, lalu memandang ke luar jendela dan melihat butiran salju tipis melayang turun. "Wah, salju mulai turun lagi."
The End
Tenang, masih ada epilognya, makasih yang sudah setia baca. Kalau nggak ada halangan, rabu epilognya aku posting, sampai jumpa lagi..
