-------------------

Ketemu lagi dg saia Avy, si Author gila reviu!!

Karena tdk ada seorang pun yg saia fave-meninggal, gak ada yg prlu saia pajang lagi disini.

Hahagkz… msih ingat motto saia??

H: Hidup

U: Untuk

R: Review

A: Anda !!

Mau diubah jadi hura-hura gak apa kok. Jadinya: Hidup Untuk Review Anda – Hidup Untuk Review Anda…-disambit sendal-

Hue… stelah sekian lama HIATUS, akhirnya saia ngelirik pic ini. kasian yg pada nungguin. Skali lagi, makasih bnyk yg mau nge-fave walaupun pic ini sangatlah ajur dan nista. Makasih bgi anda2 yg udah mau ngeRIPIU.

-

-

Thanks to:

Uchiha Yuki-chan /coret/mb dani nebeng: Uchiha nistah? Uchiha nistah? *njoget-njoget* iya emang super-gombal-sekali Ita dan Dei. Pantaslah mereka dipairingkan. Iya emang dia tega, namanya juga ayam, kagak punye otak *ditendang*

Sumpah Sakura sama Kankurou? Gak nyesel?

Daniii : Huh! Gara2 nebeng akunnya yukeh-san saia jadi blez ripiu-nya mbak dobel. Dasar Bengal deh. Tidak memberi contoh baik sama yg lebih muda. Ya sudah saia anggep bonus, tpi lain kali gak usah macem2 deh. T_T

Green_Yuki_chan: Yo. Si Dei dan Ita emang sinting. Ini udah saia update loh, pas saia lagi bolos skolah *digampar kamus*

Kucingperak: kucing! Maaf saia blom sempet ripiu sukaduka Kazekage, Orang baca chap 11 ama 12 aja blom saia tamatin! Gomenn! Perlukah saia bolos skolah lagi buat nyelesein bcanya? *ditimpuk kamus lagi*

Hahakz… Sasu n Itachi duo Uchiha emang sinting, harap maklum sajalah. Ntar dikasih side story-nya Sakura ma Lee gak ya? Berkebun bareng ato apalah…thanks 4 d fave :D

SoK4K3_ UcH1H4-kUn : ajigile ente susah bgt pen-namenya ampe aye kudu kopi-paste. Oh, sebaya sama saia? Lumayan bwt saia curhat tuh *ditendang*. Ente pndatang bru tpi males login, ya? Lain kali klo ripiu login deh, biar saia bsa bca pic ente juga. Ga tw cra nge-post? Dlu prtama saia emang gtu. Lma2 bisa sndiri, kok!

Urusan saia kagak suka Sasu itu dah crita lama. Profile dah saia genti dan Sasu naek pangkat jdi fave saia. dia naek pngkat soalnya saia suka sifatnya yg sengak (?) nggak ding, bosen aj selalu jdi haters-nya. Tpi klo soal pemBASHINGAN Sasu di pic, saia ttep menggila *dirajam si pantat ayam*

-

-

Oke, cukup kolom curhatnya wahai pembaca. Just duduk manis, megang cemilan, n Enjoy::

Age: - Gaara, Naruto, Sasuke, Sakura, Ino, Sai, Kiba, Hinata, Tenten, Neji, Lee : 16 tahun

Temari, Kankurou, Itachi, Deidara, Sasori, Shikamaru :17 tahun

Orang Tua : semua antara 43-44 tahun

Pairing:GaaNaru, SasuNaru, ItaDei, ShikaTema, minor GaaSaku.

Desclaimer : Naruto itu punya om Kishimoto, bukan saya.

Genre:Romance and Family

Rate: T

Warning: Gombal, AU, OOC, puitisme, gender bleeding.

The Kind of Life, Stress Love?!

Chapter 2 : ItaDei's Love Story

By: Avykuro sabaku

Cinta sejati.....

Tak pandang bulu, tak pandang derajat

Suatu saat kita temukan cinta itu,

Namun ada kalanya kita kehilangannya

Kehilangan adalah pengorbanan,

Sedang pengorbanan adalah bagian kehidupan

Itulah arti hidup,

Ada saat memiliki...

Ada saat kehilangan...

*

***

*

Kediaman Uchiha, apartemen elit Konoha…

"Sasukeeee…! Sahuurrr…!" teriak Itachi dari luar kamar yang sukses bikin si cowok pantat ayam itu nyungsep dari kasurnya. Ya, kali ini mereka sedang melalui masa-masa berat bulan ramadhan, Puasa sebulan penuh. Bagi duo Uchiha, ada duka plus sukanya di bulan suci ini. dukanya, mereka kagak bisa nongkrong di warteg atau bahkan di café hug*s untuk berhura-hura ria. Sukanya, akhir bulan a.k.a pas lebaran mereka bisa dapet duit angpau plus opor ayam jempolan buatan Mikoto.

TRONG…TONG…TONG…!

Terdengar bunyi kentongan bertalu-talu diluar pintu kamar Sasuke. Kakaknya dengan semangat 45 menabuh-nabuh kentongan, membangunkan seisi rumah untuk sahur. Maklum, Itachi baru pulang ronda dan dapat pinjaman kentongan gratis.

"Berisiiik!" teriak Sasuke yang langsung membenahi dirinya dari posisi nyungsep. "Super-Baka-Anikiii…!"

BRAK!

Pintu kamar Sasuke terbuka. Sebelumnya Sasuke sudah memeriksa wajah kucelnya di cermin kamar, merapikan rambut ayamnya yang awut-awutan. Biar serumah tapi tetep harus keliatan keren, dong!

"Ada apa ribut-ribut aniki?" Tanya Sasuke sambil marah-marah. Kini wajahnya berhadapan dengan sang kakak yang berkostum kaos oblong sarungan dengan sebuah kopiah yang nangkring di kepala.

"Sahur!" sembur Itachi persis di wajah Sasuke.

"Iya gue tau. Gak usah main kentong ama sembur-sembur begituan napa sih?!" Bentak Sasuke membalas semburan Itachi. Ia berjalan gontai menuju ruangan di sebelah dapur rumahnya. Ya, ruang makan.

"Okaasan masak semur tomat loh." Ujar Itachi dengan suara menggoda. Sontak Sasuke dari lantai atas bergegas menuju bawah dengan langkah menggebu –bisa dibilang lari—hingga terdengar bunyi 'gabruk' dari arah tangga.

"Dasar bodoh, Maniak tomat." hina Itachi sembari menginjak-injak kepala jabrik Sasuke yang kini dalam posisi terbalik. Ya, si anak ayam kita ini baru saja jatuh dari tangga dan sekali lagi, menampilkan sebuah posisi yang sangat tidak mengenakkan, nyungging.

"ANIKI…!" teriak Sasuke frustasi sambil memegangi kepala. Ia mengejar kakaknya yang cengengesan sampai ke dalam ruang makan, tidak terima dibuat berpose nyungsep untuk kedua kalinya.

"Apa sih pagi-pagi sudah ribut." Gumam Fugaku masih ngantuk-ngantuk. Mikoto yang sedang menghidangkan makanan di atas meja tertawa pelan.

-----

-----

Kediaman Uzumaki, rumah kardus kolong jembatan…

"Ibu, hari ini kita sahur apa?" Tanya Naruto penuh harap pada Kushina. Sedari kemarin ia belum makan sama sekali.

"Kemarin ayah dapet orderan dari mandornya, sekarang kita bisa makan enak!" Jawab Kushina semangat. Ia mengedarkan sepiring makanan di atas lantai rumah. –karena mereka tak punya meja makan tentunya—

"Uwooh… sate kerang!" teriak Naruto dan Deidara semangat. Mereka berdua langsung menyerbu menu yang terhidang di atas lantai. Kushina dan Minato hanya menatap bahagia pada kedua anak-hyper- mereka.

"Dei-Dei, Naru, jangan dihabisin sendiri ya?" ucap Kushina lembut.

"Mmmpff… iya bbu…" Jawab Naruto dan Deidara bersamaan dengan mulut penuh.

'Tuhan… terimakasih telah memberi kami rejeki yang tak terduga.' batin Minato pelan. Keluarga yang miskin, memang. Keluarga Uzumaki. Namun kehangatan dan kasih sayang yang saling mereka berikan adalah hal yang tidak ternilai, meski hanya dengan sepiring sate kerang.

Kediaman Sabaku, perumahan elit XXX

Lima orang berjejer mengitari sebuah meja makan besar yang diisi beraneka macam makanan. Mengingat ibu rumah tangga di kediaman ini keahlian memasaknya diatas rata-rata. Rumah terakhir yang kita kunjungi ini begitu sepi dan sunyi, hanya dihiasi bunyi jangkrik yang bersahut-sahutan semata.

"Yah, diambil sayurnya." tawar Karura pada suaminya yang hanya menggeleng pelan.

"Nanti aku mau keluar kota. Kalian tak usah urusi diriku." Celetuk sang ayah ketus, alias Kazekage Sabaku.

"Otousan nggak puasa?" Tanya Temari pada ayahnya yang kini beranjak dari tempat duduknya.

"Buat apa puasa? Lagipula kalau aku puasa itu bukan urusan kalian." Jawab Kazekage masih dengan suara ketus. Gini ya jawaban dari seorang ayah?

BRAK!

Terdengar pintu depan rumah kembali berdebam keras. Keempat orang yang masih tersisa di meja makan hanya menghela nafas dalam.

"Kapan ayah mau berubah, ya?" desah Kankurou diikuti gelengan kepala yang lainnya.

-

-

Konoha High School

"Wuidihh… gue telat yah?" gumam Naruto panik dan segera bergegas memasuki gerbang sekolah. "Aman…" ujarnya pelan ketika tidak ada satupun guru yang dilihatnya berjaga. Tanpa disadarinya, seorang guru cewek berperawakan sangar berdiri di belakangnya.

"Naruto Namikaze?!" geram guru itu. Tangannya yang menggenggam sebuah pemukul nyamuk bergetar hebat hingga aura disekitarnya berubah seperti setan. Naruto yang merasakan feeling buruk segera membalikkan tubuhnya ke belakang. Dan…

"Hee… Tsu…Tsu…nade Baa-chan?" Desis Naru kaget. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya.

"KAU TERLAMBAT LAGI?!!" teriak guru bernama Tsunade itu sampai suaranya menggema ke seantero sekolah. Seluruh siswa KHS langsung melonjak kaget mendengar suara toa yang sangat familiar itu.

"Ngg… saya… saya mbantu ibu nyuci baju, baa-chan. Orderan lagi numpuk nih." Naruto nervous dan membela dirinya. Kini seluruh isi sekolah memandang tajam dua orang sesama-blonde ini berhadapan. Bahkan, ada beberapa siswa juga yang iseng-iseng mefoto.

"GUE GAK PEDULI! LO LARI KELILING LAPANGAN SONO DUA PULUH KALI! DAN JANGAN PANGGIL-PANGGIL GUE BAACHAN KARENA GUE MASIH REMAJA…!!" teriak Tsunade super-keras-sekali, gimana kalo udah pake toa ya?

Sementara itu seisi sekolah udah pada mual-mual mendengar ucapan sang kepala sekolah, Tsunade sendiri yang menurut mereka alay sekali. Guru terpelajar seperti itu Pake manggil Lo-gue segala? Dan yang terakhir, setelah sukses dibuat mual semuanya langsung muntah-muntah mendengar Tsunade ngaku-ngaku masih remaja. Sungguh sebuah sebutan yang sangat tidak layak.

Gluk! Naru menelan ludahnya. 'gile banget nih guru abal! nyuruh-nyuruh gue lari pas puasa,' batinnya dalam hati. Baru saja ia mau memprotes guru sangarnya itu –kepsek juga boleh—, Tsunade sudah duluan mengacungkan pemukul nyamuk ditangannya, pertanda ajakan perang. Sudah untung bukan golok yang dibawanya.

WUSH!

Naruto dengan suksesnya ngibrit muter-muter lapangan tanpa dikomando lagi. dan Tsunade, ia hanya menggelar tikar dipinggir lapangan –yang tak jelas muncul dari mana— dan duduk berleha-leha diatasnya.

"Aaaah… angin yang sangat sejuk sekali~" gumam Tsunade pelan dan segera membuka kotak pikniknya –yang sekali lagi tidak jelas muncul darimana— "Satu… Dua… Satu… Dua…" Hitung Tsunade ketika Naruto berputar-putar di lapangan basket. "Tiga…empat…tiga…empat…."

Begitulah metode Tsunade menghitung sehingga Naruto berputar-putar dua kali lipat lebih banyak. Si Naruto sendiri hanya pasrah dan tak berani protes, ntar jadinya malah digeploki pemukul nyamuk.

"Dasar Dobe…" gumam Sasuke dari lantai atas. Gaara yang sedari tadi dibelakangnya menyiratkan tatapan iba.

"Kau tak kasihan padanya?" Tanya Gaara heran mendengar omongan Sasuke yang menurutnya ---sadis.

"Buat apa? Biasanya toh dia juga begitu." Sasuke menggelengkan kepalanya. Semilir angin menerpa rambut mereka berdua yang kini berdiri di atap sekolah. Ya, mereka berdua memang kabur dari pelajarannya guru Kakashi dan tentunya, yang mengajak adalah Sasuke. Si anak ayam bengal.

'huh, perhatian sekali dia sama Naruto.' Batin Sasuke dalam hati. Sebenarnya dia agak getir juga kalau ternyata Gaara naksir si Naru. Bakal ada saingan soalnya.

"Gaara." Panggil Sasuke pada cowok berambut merah didepannya.

"Hn."

"Kau suka Naruto? Perhatian seperti itu…"

"Itu bukan urusanmu."

"Hei! Kita 'kan teman!"

"Bukan berarti kau bisa tahu semua tentangku. Bagaimana jika aku menanyakanmu hal yang sama?" Tanya Gaara balik.

"……"

"Kau tak bisa menjawabnya kan, Sasuke?"

"Tentu saja karena itu privasi." jawab Sasuke ngeles.

"Kalau begitu sama." Balas Gaara dingin.

"Cih…"

Sasuke memandang sebal pada cowok dihadapannya itu. Setelah melakukan adegan mendenguskan nafas dari hidung, ia beranjak turun dari atap. "Aku ke kelas dulu." Kata Sasuke sengak.

"Aku juga." Balas Gaara singkat.

"Bisamu ikut-ikutan saja." Kata Sasuke menyindir.

"Yang mengajak kesini juga siapa." Ucap Gaara tepat sasaran. Sasuke yang terpojok hanya mendengus dan kembali berjalan menuruni tangga.

-

-

-

Halaman parkir sekolah. Untuk kesekian kalinya, Naruto pulang sekolah nebeng Gaara. Kehabisan ongkos, sih. Kenapa ya, kok Naru gak pernah bareng Sasuke? Alasannya si Teme pulangnya suka naik Bajaj, jadi sama aja bohong kalo tetep bayar ongkos. Sebenarnya Sasuke punya motor juga sih, sebuah Suzuki Satria. Tapi karena jiwanya yang merakyat –atau memang kampungan—jadilah ia setia naik kendaraan favoritnya, favorit rakyat yang lagi bokek, yaitu sebuah bajaj.

"Nar, lo minta dianterin sampe jembatan kayak biasanya?" Tanya Gaara pada penumpang gelap dibelakangnya. Ia menyalakan motorsport-nya dan langsung tancap gas.

"Iya dong. Emang lo mau nurunin gue di bunderan HI?" jawab Naruto asal. "Eh, lo buka puasa di rumah gue aja bro." tawarnya.

"Emang lo gak keberatan? Ntar gue ngerepotin." Tanya Gaara heran pada temannya satu itu.

"Ya enggak lah, gue malah repot kalau nantinya kagak ada yang ngabisin belut goreng gue." Jawab Naruto mantap.

"Wuidih… elu puasa-puasa masih mancing belut juga. Hebat banget euy.." kata Gaara sok takjub.

"Yaelah… Naruto Namikaze, gitu!" teriak Naruto bangga sembari memasang gaya khasnya, mengacungkan kelima jari. Gaara hanya tersenyum simpul melihatnya.

Kediaman Uzumaki, rumah kardus kolong jembatan…

"Ayo nak Gaara, dimakan belutnya. Itu di dekat Deidara ada sambalnya.." Kushina sibuk mengurusi tamu semata wayangnya itu. Saat ini, Gaara dan keluarga Uzumaki sedang menikmati hidangan buka puasa mereka. Dan kalau dilihat-lihat, yang paling banyak memonopoli makanan itu Deidara dan Naruto.

"Konbanwa." Salam seseorang dari luar rumah. Deidara yang mengenali suara orang itu langsung bergegas keluar dan membukakan pintu.

"Itachi! Ayo masuk!" pekik Deidara senang. Ia mempersilahkan Itachi masuk dan seseorang dibelakangnya, yang tidak terduga ikut juga. Adik Itachi yang berambut style pantat ayam, siapa lagi kalau bukan Sasuke?

"Ah! Sasuke ikut juga!" teriak Naruto girang. "Kau kangen denganku, kan?" tebaknya pede.

"Usuratonkachi. Aku ke sini karena bosan di rumah , tahu!" sangkal Sasuke dengan nada jutek. Sebenarnya memang benar yang dikatakan Naruto tentangnya, tapi gengsi dong kalau dia harus ngaku-ngaku?!

Mata hitam onyx Sasuke tertuju pada seorang lelaki berambut merah yang duduk di sudut ruangan. 'Gaara?' batinnya kaget.

"Wah… semuanya sudah lengkap nih! Makin ramai, ya!" teriak Naruto girang sembari mengatupkan kedua tangannya. Posisi Naruto kini sedang diapit oleh kedua orang yang sedang perang dingin, Sasuke dan Gaara. Sedangkan Deidara malah ngebet pingin dempet-dempet sama Itachi. Sampai akhirnya aksi itu berakhir karena diperingatkan oleh Kushina, "Dedek Deidara ramadhan gak boleh pacar-pacaran."

Setelah santap malam usai, dan kegaduhan para penyantapnya yang tengah rebutan belut goreng juga usai, maka ditutuplah semua dengan doa. Dipimpin oleh Minato sebagai kepala rumah tangga yang juga mantan ustad di kampungnya.

"Teteh saya pulang dulu…" pamit Itachi pada Kushina. Ia mencium tangan kedua orangtua Naruto dan Deidara itu. Setelah tersenyum simpul pada kekasihnya, Itachi beranjak pergi dan menstarter mobilnya- sebuah Honda CRV hitam.

"Bang, Sasu mau disini dulu yeh." kata Sasuke pada kakaknya.

"Boleh, tapi jangan lama-lama. Kasian mama Mikoto." Itachi tersenyum pada adiknya dan melajukan mobilnya. Sasuke hanya memandangi kakaknya dari jauh. "Jadi ntar pulang gue musti naik bajaj, ya?" desahnya.

Yang tersisa di rumah mungil itu, tinggal Gaara dan Sasuke. Mereka berdua bersama Naruto malah bermain kartu remi di ruang tengah, yang dengan suksesnya membuat Minato jantungan karena mengira mereka berjudi. Dua pangeran cool kita –yang sepertinya sudah mengantuk—akhirnya langsung pamit pulang sama empunya rumah.

"Tante, oom, kami pulang dulu." pamit Gaara dan Sasuke bersamaan. Naruto yang masih semangat berjudi –maaf—sepertinya agak kecewa melepas kepergian teman-temannya. Sudah berusaha membujuk Gaara, namun ia tak kuasa menatap wajah melasnya si Gaara. Membujuk Sasuke? Pastilah jitakan keras yang didapatnya. Dasar si Teme!

Dengan berat hati, Naru dengan lebainya melepas kedua sahabatnya itu keluar rumah. Gaara sudah menyalakan motornya, sedangkan Sasuke mojok di tepi jalan nunggui bajaj lewat.

"Dek Naru! Ada gala Bollywood tuh!" teriakan Deidara yang cempreng sukses membuat Naru melesat masuk rumah dan membanting pintu, meninggalkan Gaara dan Sasuke yang cengok diluar.

"Gak jadi ngelepas kita tuh orang." Gumam Sasuke sebal. Tangannya masih memamerkan ibu jari ke arah jalan gaya mencegat taksi, padahal yang ingin dicegatnya itu sebuah bajaj. Mengapa? sekali lagi, karena dia gengsi.

"Sas, daripada tangan lo kering begituan terus, mending nebeng gue gih." Tawar Gaara pada Sasuke. "Lagian angkutan pun gak bakal ada yang semalem ini."

Sasuke melengos. "Gue gak butuh tumpangan lo. Lagian siapa yang lagi nyegat angkot? Gue lagi nungguin limousine tuh." katanya sok menepis tawaran Gaara. Namun alam tidak menyetujui reaksi penolakan Sasuke, dan langit pun berubah mendung sampai akhirnya…

ZREEESSH…!!!

Hujan pun turun mengguyur tubuh Sasuke yang berdiri di pinggir jalan. Wajahnya langsung berubah masam. 'bahkan alam pun gak memihak gue.' Batinnya ketus.

"Gue nyerah! Gue nebeng elo!" teriak Sasuke pasrah memecah derasnya rintik hujan. Gaara tersenyum tipis dan memarkirkan motornya di depan Sasuke.

"Bawa jas hujan gak lo?" Tanya Sasuke pada Gaara, masih memasang tampang sengak. Harga dirinya serasa dijatuhkan bersamaan dengan jatuhnya hujan ke bumi.

"Waduh Sas, gue lupa tuh. Gimana ya?" Gaara segera menepuk jidatnya dengan telapak tangan. Sasuke langsung berubah lesu dan pasrah mendengar ucapan Gaara yang tidak terduga itu.

"Aduh… lo pake jaket gue aja ya." Tawar Gaara sembari melepas jaketnya dan menodongkannya ke muka Sasuke.

"Gak usah, lo pake sendiri aja deh. Gue bawa blazer." Sasuke merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah jas merah bersulam tulisan KHS, alias Konoha High School.

"Bukannya besok dipakai?" Tanya Gaara heran. Setelah memastikan Sasuke naik motornya, ia langsung meluncurkan motornya ke jalan raya.

"Biar deh, gue kan bisa pinjem aniki. Ntar aniki gue suruh bolos." Jawab Sasuke asal. Sekarang yang ada di benaknya hanya bagaimana dia bisa pulang tanpa kebasahan.

Motor besar itu mengarungi jalan raya dan memecah hujan deras, berjalan di tengah hiruk-pikuknya dunia malam kota Konoha. Sejenak hening menyelimuti kedua orang di atas motor itu.

"Gaara." Sasuke memulai pembicaraan.

"Hn?" jawab Gaara malas, masih berkonsentrasi menyetir.

"Lo suka Naru kan?"

"Ngapain lo nanya begituan?" balas Gaara nanya.

"Gue cuman mau mastiin." Kata Sasuke, kali ini nadanya berubah serius.

"Lo takut gue bakal ngerebut Naru?" tanya Gaara lagi.

"………"

"Iya gue ngaku. Gue emang sedari dulu suka Naru." Kata Sasuke blak-blakan dan reflek langsung menutup mulutnya, heran karena tidak biasanya dia mengaku-ngaku.

"………" Gaara hanya terdiam. Sasuke juga terdiam sambil mengutuki dirinya yang begitu bodoh, tapi kata-kata itu entah kenapa meluncur sendiri dari mulutnya.

"Hn. Kita sama-sama berjuang saja." gumam Gaara pelan beberapa saat kemudian. Mata Sasuke langsung membelalak mendengarnya.

"Maksud lo?!" tanyanya kaget. "Jangan bilang kalo lo juga ngebet Naru!"

Gaara mengangguk pelan. Sasuke hanya mendesah dan membenarkan posisi duduknya yang agak melorot. "Aku takkan kalah darimu…" gumamnya pelan, namun cukup untuk membuat Gaara merespon perkataannya.

"Sama." Jawab Gaara.

Motor yang mereka tumpangi terus melesat. Namun, kali ini kesunyian melingkupi mereka berdua. Sepertinya masing-masing sedang merenungi seseorang yang mereka perdebatkan tadi, seorang cewek manis bernama Naruto Namikaze. Sampai melewati sebuah jurang yang curam pun mereka masih tetap merenung, sebelum motor merah milik Gaara itu tergelincir jalan yang licin akibat ulah hujan.

"Gaara! Awaaass…!!!" teriak Sasuke dan reflek memejamkan kedua matanya.

-

-

- TBC

Sekali lagi diputus dalam kondisi tidak mengenakkan dan bikin penasaran.

Haha. Makin miripkah dengan sinetron? T_T memang begitulah maksud saia. Akhir2 ini suka bikin alur cerita yg ada kecelakaannya mulu.

Gomen! Gomen baru saia update skarang! Otak ala author saia sedang blong dan tidak berisi. Gomen juga jika fic yg saia buat kualitasnya menurun, sedang swt.

Oke dah. Ntar bagi siapa aj yg ripiu chap ini, bkal saia bales langsung karna modem saia dah keisi lagi. *goyang ngebor*

So, wanna REVIEW?!

~Saia update andapun REVIU~