~Las Noches~

Disclaimer : Bleach - Kubo Tite

(-_-)

Rate : T semi M

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Supranatural,

WARNING : AU, TYPO bertebaran dimana-mana, CRACK PAIR, OOC, OC, EYD Amburadul, Penempatan tanda yang tidak sesuai dan masih banyak kecatatan lainnya.


...

...

...

..

.

Sinar rembulan tersembunyi apik di balik awan kelabu yang membayangi langit kota Karakura, memberikan kesempatan pada gelap untuk menguasai malam. Namun begitu, gelap yang merajai langit tak membuat dua pasang iris berbeda warna kehilangan sinaranya, lautan emerald yang seakan menyimpan banyak misteri itu mengunci sepasang violet indah yang menatapnya tanpa kedip.

Saling mengunci untuk menyelami keindahan masing-masing, menghipnotis satu sama lain hingga akhirnya sepasang iris violet melebar seakan menyadari sesuatu yang telah terlupakan.

"Yylford-senpai?" ucapnya pelan, menyebut satu nama yang sosoknya sudah tak terlihat.

"Kau mengkhawatirkannya?" tanya sosok tampan itu dengan eskpresi datar yang terpatri di wajahnya.

"Tentu saja aku mengkhawatirkannya!" sungut Rukia dengan nada yang terdengar lebih keras dari sebelumnya, ia menatap sekitar, mencari tanda-tanda akan keberadaan sosok sang senpai.

"Jangan mencarinya lagi."

"Apa maksdumu?"

"Dia Vampire, kau tahu itu bukan?"

"Itu..."

Rukia terdiam, kenyataan jika Yylfordt adalah Vampire tentu membuatnya terkejut dan merasa takut. Tapi mau bagaimanapun, pria blond itu adalah senpainya, senpai yang selalu membantunya sejak awal ia masuk ke Universitas, senpai yang selalu ada setiap kali ia membutuhkan bantuan.

Lalu sekarang? Disaat ia mengetahui kenyataan yang ada, haruskah ia membenci sang senpai dan menjauhinya? Berlagak seakan tak perduli dan meninggalkannya? Haruskah? Ia tidak bisa, sungguh itu bertentangan dengan nuraninya.

"Aku tahu dia vampire, tapi dia... Dia tidak mungkin melukaiku." ucap Rukia sembari menundukkan wajah menatap tanah yang di pijaknya.

"Kau naif."

"LALU APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?!"

Pria berwajah pucat itu sedikit merubah ekspresi wajahnya, keterkejutan terpatri jelas di wajah datarnya ketika gadis di depannya mengangkat wajahnya yang berlinang air mata.

"Apa aku harus menjauhinya setelah tahu dia Vampire? Jika semudah itu lalu harus aku balas seperti apa kebaikannya selama ini padaku? Vampire atau bukan, aku tahu pasti dia tidak mungkin menyakitiku!"

Menangis tersedu, Rukia sungguh tidak menyangka jika semua ini nyata. Vampire, bukankah mereka hanyalah makhluk mitos yang keberadaannya dibuat-buat? Bukan sosok nyata yang eksis di dunia? Lalu kenapa sekarang ia harus mengetahui fakta jika makhluk penghisap darah itu benar ada dan nyata? Hidup di antara manusia yang seharusnya menjadi makanan mereka.

Dan sekarang, setelah semua yang terjadi ia tidak tahu bagaimana keadaan sang senpai. Hanya suara benturan dan ledakan yang di dengarnya, lalu yang tersisa setelahnya adalah kondisi taman yang berantakan dan sosok asing di hadapannya tanpa ada sosok Yylfordt.

Berbeda dengan Rukia yang masih menangis, pria pucat itu menatap gadis beriris violet di hadapannya dengan tatapan sendu hingga akhirnya sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Rukia yang basah.

"Dia masih hidup." ucapnya pelan, dan hal itu sukses menghentikan tangis Rukia.

"Benarkah?"

"Ya."

"Kau tidak... Berbohong?"

"Tidak."

Mengusap liquid bening yang menuruni pipi putih Rukia. "Dia kabur." lanjutnya pelan.

Diam, Rukia tidak tahu mengapa tapi degup jantungnya tiba-tiba menjadi menggila saat menerima perlakuan pria pucat di depannya. Degupan yang berbeda dari degupan yang sebelumnya ia rasakan pada sosok seniornya.

"Jangan menangis lagi." sambungnya sembari mendekatkan dirinya pada Rukia dan memeluk tubuh mungil itu lembut. Menghantarkan sensasi nyaman hingga membuat gadis dalam dekapannya hilang kesadaran, ya, Rukia tertidur dalam dekapan pria asing tersebut.

...

Deru napas terdengar di sepanjang lorong gelap nan lembab, pengap menyapa seolah seluruh oksigen yang terhirup di batasi. Sepasang kaki mungil terus berlari menyusuri lorong berharap menemukan ujung yang di carinya, mencari secuil cahaya dari kegelapan yang menyapanya tanpa celah.

"Jangan pergi!"

Teriaknya seakan memanggil seseorang, namun yang terlihat hanya warna hitam yang semakin pekat.

"Kumohon, jangan tinggalkan aku!"

Terus, bibir mungil nan pucat itu kembali mengucapkan permohonannya entah pada siapa hingga akhirnya seberkas cahaya mulai menyapa penglihatannya, sangat terang dan menyilaukan namun sosok mungil itu terus memaksa kelopak indahnya untuk terbuka agar bisa melihat punggung seseorang yang di kejarnya.

Tangan mungilnya terangkat ke udara saat dilihatnya sosok yang dilingkupi cahaya itu mengulurkan sebelah tangannya.

"Rukia." panggil sosok yang di selimuti cahaya itu, membuat gadis berperawakan mungil yang mengejarnya mengembangkan seulas senyum bahagia.

"Tunggu aku!" ucap Rukia, gadis beriris violet dengan surai hitamnya yang indah itu semakin memacu larinya, berharap tangannya berhasil menggapai tangan pucat di depannya. Tangannya hampir bisa menggapai tangan pucat tersebut saat tetes demi tetes cairan berwarna merah membasahinya.

Deg!

Menatap tangannya yang dibasahi darah membuatnya sedikit terkejut, larinya terhenti demi menatap sekitarnya yang berubah warna menjadi merah, bahkan kini kakinya tengah berdiri diatas kubangan berwarna sama, merah.

Napasnya tercekat di tenggorokan, ingin berteriak namun tidak ada suara yang mampu ia keluarkan, Rukia ketakutan, sungguh ia tidak ingin melihat warna merah itu lebih lama, memaksa menutup mata, ia bahkan tidak mengingat apa yang sudah terjadi hingga kini dirinya berada di tempat yang tidak ia inginkan.

"Rukia." lagi, suara bernada datar itu memanggil namanya. Membuatnya tersadar jika dirinya berada di tempat itu karena demi mengejar sosok yang kini kembali memanggilnya.

Menguatkan diri demi sosok yang di kejarnya. Rukia membuka kelopak indahnya dengan perlahan, berharap pemandangan selanjutnya yang ia lihat adalah wajah teduh sosok di hadapannya. Namun salah, napas Rukia kembali tercekat di tenggorokannya, rasa takut kembali melingkupi dirinya, bibirnya bergetar, air mata siap menuruni pipinya tatkala sepasang iris violet-nya menangkap sosok di hadapannya bermandikan darah yang meleleh dari luka menganga di tubuhnya.

"Tidak..." ucap Rukia lemah.

"Rukia." ucap sosok itu lagi, masih mengulurkan tangannya. Senyum tipis terpatri di wajah tampannya yang perlahan mulai tersapu angin bagai debu. Dan hal itu sukses membuat kedua iris violet Rukia melebar dengan rasa takut yang semakin menjadi.

Deg!

"Jangan..."

Rukia kembali memacu kakinya untuk berlari, wajah cantiknya sudah basah oleh air mata yang menganak sungai menuruni pipinya, semakin mempercepat larinya, tangannya terjulur ke depan siap menggapai tangan pucat yang mulai tersapu angin namun angin mempermainkannya.

"TIDAK!"

SRAK!

"Hosh! Hosh! Hosh!"

Rukia terbangun dengan peluh yang membasahi wajah serta tubuhnya, sudah beberapa hari ini ia bermimpi hal yang sama dan itu membuatnya ketakutan. Entah apa yang sebenarnya sedang menimpanya, yang ia tahu hanya satu dan itu pasti. Sosok yang dilihatnya, sosok itu dalah pria yang sudah menolongnya dari Yylfordt malam itu. Entah kenapa rasanya begitu sesak ia rasa saat mengingat mimpi itu. Apa pria itu baik-baik saja? Jujur, Rukia ingin tahu keadaannya, sangat ingin.

Sejak malam dirinya tidak sadarkan diri dalam dekapan pria asing itu, sejak itu pula terakhir kali Rukia melihat sosoknya. Bahkan dengan memberanikan diri, Rukia selalu memilih melewati taman tiap malamnya, berharap bisa bertemu lagi dengan pemilik emerald indah tersebut namun nihil, tidak ada siapapun selain dirinya sendiri, memandang bulan yang tertutup awan kelabu.

"Apa yang kuharap?" bisik Rukia pelan, wajah sendunya terlihat tengah menahan tangis. Sungguh, Rukia tidak tahu mengapa tapi hatinya selalu bergemuruh sesak saat mendapati kenyataan kalau dirinya tidak bisa bertemu lagi dengan sosok itu, dan itu membuatnya sakit

Menyingkap selimut bermotif chappy yang di kenakannya, Rukia melirik jam yang tertempel di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Melihat sekeliling kamarnya, entah kenapa udara disekitarnya terasa pengap dan menyesakkan hingga sebersit pemikiran melintas di otak Rukia, membuatnya berjalan menuju gorden berwarna soft purple itu dan menyibaknya cepat.

SRAK!

Deg!

Violet Rukia melebar sempurna, detak jantungnya berubah menggila saat irisnya menangkap sosok yang kini juga tengah melebarkan sepasang iris emerald-nya. Saling menatap dengan keterkejutan yang sama namun sang emerald berhasil menguasai emosinya hingga kini tatapan itu terlihat lebih melunak.

"Kau tidak tidur?" tanya sosok pucat itu dengan suara pelan, nada datar dalam kalimat yang diucapnya terdengar familiar di telinga Rukia. Memang kecil karena jendela kamarnya menghalangi suara dari luar untuk masuk kedalam, tapi telinga Rukia masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Rukia? Ia hanya menggeleng pelan, menunduk menyembunyikan wajahnya dari sepasang emerald yang masih menatapnya tanpa kedip.

"Maaf mengagetkanmu." ucap pemilik lautan emerald itu kembali membuka suara. Tangan pucatnya terangkat untuk membenarjan syal berwarna hijau di lehernya, sungguh kontras dengan warna kulitnua yang pucat serta pakaian serba hitam yang di kenakannya.

Tak ada sahutan dari Rukia, gadis bertubuh mungil itu hanya terdiam dengan kepala menunduk dalam. Tangan mungilnya membuka jendela di depannya pelan, memberikan akses untuk sapuan angin yang dingin berhembus masuk kedalam kamarnya, melewatinya dengan lembut.

"Kau... Baik-baik saja?" ucap Rukia pada akhirnya, suara begitu pelan bahkan mirip sebuah cicitan kecil.

"Kau sendiri? Kau terlihat kurang baik." balas sosok itu dengan suara datarnya. Emerald-nya menatap sosok mungil di depannya dari atas sampai bawah berulang kali.

"Kau terlihat lebih kurus." lanjutnya.

Rukia hanya menggeleng pelan, tangan mungilnya terangkat kedepan wajahnya yang mununduk, bergerak seakan manghapus sesuatu dari wajahnya yang tak terlihat.

"Hanya perasaanmu saja." sahut Rukia pada akhirnya, mengangkat wajah sembabnya yang memamerkan seulas senyum simpul dan hal itu sukses membuat emerald yang melihatnya tertegun.

"Syukurlah." timpal sosok pucat itu pelan.

"Ano..."

"Hn?"

"Mau minum coklat panas?"

"Ah, tentu—"

Drrrt. Drrrt. Drrrt.

Bunyi ponsel yang berdering memotong ucapan si pucat, menghentikan kalimat yang sudah berada diujung lidahnya, tangan pucatnya merogoh kantung celana hitam yang di kenakannya, mengambil ponsel berwarna hitam dujung lidahnya, tangan pucatnya merogoh kantung celana hitam yang di kenakannya, mengambil ponsel berwarna hitam dengan gantungan angka 4 menuju telinganya.

"Ada apa?" tanyanya pada sosok di seberang telepon.

"..."

"Ada Ggio, suruh dia." balasnya dengan nada datar.

Rukia hanya diam, mengamati sosok pucat di depannya yang sedang menelepon. Ia tidak mengerti apa yang sedang di perbincangkan sampai sosok itu menyebut nama yang tak lajim bagi orang jepang kebanyakan.

"..."

"Dia membuat ulah?" tanyanya pada si penelepon.

"..."

"Aku akan segera datang." ucapnya yang langsung mematikan sambungan tanpa menunggu balasan dari si penelepon.

"Minum coklat panasnya lain kali saja, kau tidurlah." ujarnya seraya berbalik memunggungi Rukia.

Rukia yang sadar kalu sosok itu akan pergi lantas saja kelabakan, ia ingin menahan kepergian sosok itu untuk pergi namun ia sadar, ia bukanlah siapa-siapa selain orang asing yang pernah di tolong sosok itu.

"Siapa namamu?"

"Hm?"

"Namamu."

"Eeekh? Ah! Namaku Rukia! Rukia Kuchiki."

Sungguh, Rukia merasa bodoh. Bagaimana mungkin otaknya lamban memperoses pertanyaan biasa yang harusnya bisa langsung ia jawab?

"Aku Ulquiorra." ucap sosok pucat itu sebelum melompat dari balkon lantai 3 apartemen Rukia, memperkenalkan dirinya dengan seulas senyum tipis yang terpahat di wajah tampannya, sangat tipis sehingga orang yang tidak melihatnya dengan jeli tidak akan tahu kalau bibir tipis dan seksi itu menyunggingkan senyum.

Rukia terpana dibuatnya, wajahnya begitu tampan, sangat tampan dengan sepasang iris emerald yang terlihat menyimpan banyak rahasia di dalamnya, hidungnya mancung dengan bibir tipis yang terlihat seksi menambah daya tariknya. Bahkan Rukia yakin tingginya hanya sampai dada sosok yang baru saja berpamitan padanya.

Ulquiorra.

Mengingat nama itu membuat tubuh mungilnya merosot terduduk dilantai, padahal celana pendek serta kaos oblong yang dikenakannya taka dapat melindungunya dari angin yang semakin terasa dingin menerpa kulitnya. Namun herannya kini ia merasa hangat, lubang kosong di dalam dadanya entah kenapa seakan terisi dengan kehangatan yang tidak diketahuinya apa. Dengan wajah memerah sempurna, Rukai menutup wajah dengan kedua tangannya seraya menggeleng keras.

"Ada apa denganku?!" gumam Rukia dengan wajah memerah, melupakan fakta jika Ulquiorra melompat dari lantai 3 Apartemennya dengan begitu mudah.

Jika Takdir itu nyata, maka pertemuannya dengan Ulquiorra bukanlah kebetulan semata, jika awal pertemuannya dengan Ulquiorra adalah saat dirinya ditolong pria tampan dengan kulit pucat tersebut, pertemuan kedua justru Ulquiorra yang datang menemuinya. Menyadari akan hal itu, bolehkah ia berharap jika pertemuannya kali ini bukanlah pertemuan terakhir? Bukankah Ulquiorra mengatakan sampai jumpa? Jadi, bisakah Rukia berharap jika besok ia akan kembali bertemu dengan Ulquiorra?

((TBC))

Gaje? Garing? Abal?

Itulah fanfi saya yang absurd ini..

Di kolom ripiu saya melihat ada yang menyebut Devils Line, ok saya jujur..

KYAAAAAA! Memang benar ff inu saya buat karena saya jatuh dalam jerat Devils Line yang storynya cuamik!

Vampire di Devils Line itu Vampire yang berbeda dari vampire kebanyakan aduh, saya tergila gila pada sosok Anzai yang tampan dan rupawan..

*Digampae Tsukasa*

Jdilah saya buat ff ini ok abaikan curcolan saya yang nggak jelas ini..

Btw, makasih untuk yang sudah meripiu ff gaje bin abal saya ini..

Jujur, saya mempublish ff ini murni untuk kesenagan pribadi saya tanpa banyak berharap akan mendapat sambutan krna saya tahu ff saya ini abal jdi siapa jg yg mau menyambut?

Tpi nyatanya kalian hadir dan menyambut ff saya ini dengan berlapang dada, apalah saya ini..

Hiks, hiks.

Segini aja curcolan gaje saya..

Akhir kata, see ya! :)

(Untuk kesenangan pribadi, jdi updatenya nggak nentu tpi saya usahakan untuk tetap update)