Disclaimer:Bulan puasa yang penuh barokah ini… kita harus jujur, tidak boleh iri dan dengki. Saya mengakui bahwa hanya Kubo-sensei semata-lah yang dapat membuat Bleach terlihat nyata dan disukai banyak orang. Subhanallah… Allahu akbar. Maha Hebat Allah yang memilki alam semesta ini dan mengisinya dengan berbagai keragaman untuk membedakan setiap manusia satu sama lain. Itu membuat dunia ini… sempurna.


This is the second chapter of story The Golden Box of Memories. This fic is my masterpiece. I like this fic, and I love all of my Fic.

So, ladies and gentleman, please welcome, HitsuHina strike…

The Golden Box of Memories

Chapter Two:
Sorrowness Behind His Honest Love

"Meski aku akan tiada?" tanyanya tiba-tiba kemudian.

Toushiro mengkerutkan alisnya. Ia nampak tak suka melihat kekasih sekaligus sahabat kecilnya itu bertanya hal yang bukan-bukan. Toushiro menarik pundak Hinamori dan mencengkramnya kuat-kuat.

"Dengar Hinamori… aku tak suka kau berbicara seperti itu," Toushiro memandang serius lawan bicaranya, mata hijaunya memancarkan ketulusan hati. "Apa kau ingin kita berpisah begitu saja?"

Hinamori menggelengkan kepalanya, ia menghapus air mata yang masih menggenangi mata ungunya yang besar itu.

"Lalu kenapa kau berkata seperti itu?"

"Aku hanya… memberitahumu yang sebenarnya bahwa aku…" Hinamori melanjutkan kalimatnya dengan suara rendah.

[End of Second Flashback]


Toushiro menegakkan tubuhnya. Ia terduduk semenjak ia mengenang apa yang ia dengar dari Hinamori. Disitulah untaian kisah sesungguhnya berawal. Maka dari itu kita tahu, Toushiro menghentikan penglihatannya akan kenangan dalam pikirannya itu.

Ia gemetar. Ia menahan sakit yang menghujam tubuhnya seperti malam ini. Ia menahan segala rasa pilu yang ia bisa.

Toushiro menyentuh pipinya sementara ia sadar bahwa air mata mengalir dari hijaunya binar mata. Kekuatan di dalam tubuhnya tak berdaya sama sekali. Ia tertunduk, menyalahi dirinya dan menambah pilu yang teralir dalam sakit di tubuhnya. Tidak, di hatinya.

Di dalam hitam malam, lentingan-lentingan bambu hias yang tergantung indah di bawah genting yang di dudukinya membahana indah menyuarakan malam seiring angin menggodanya. Awan kelam sedikit demi sedikit dan perlahan menghalangi pesona bulan. Bintang-bintang yang tadinya menyadur cahaya bulan tampak gelap dan tak terlihat lagi oleh mata.

Setitik air turun dari langit ketujuh.

Hujan membasahi Toushiro hingga kuyup. Dirinya yang masih frustasi tak bergeming sedikitpun dari hadapan langit malam. Hujan terus berlarut dan mencampuri masalah dirinya yang menyesakkan dada. Toushiro ingat, seorang kawannya yang bernama Ichigo pernah berkata padanya: "Bila hujan turun, itu artinya dia sedang membersihkan bumi yang sedang kotor, dan hati kita yang sedang galau."

Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita paruh baya memanggilnya. Suaranya yang mengikuti alur angin sampai di telinganya.

"Toushiro? Kau di sana?" panggilnya berulang kali. "Turun, nak! Hari sudah hujan!"

Toushiro membangkitkan diri dan turun melalui balkon rumah yang terletak di depan kamarnya. Wanita paruh baya yang tadi memanggilnya di bawah kini menunggunya dengan sabar di depan pintu kamar sambil memegang handuk. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali.

Wanita paruh baya ini rupanya adalah ibu angkat Toushiro yang mengasuhnya sejak Toushiro memasuki masa kuliah. Ayahnya yang saat itu single parent menggantikan tugas sang ibu yang telah mendahuluinya, kini telah meninggal dunia akibat kecelakaan kerja yang dialaminya.

"Belum mandi ya, makanya hujan-hujanan?" tanyanya seraya mengusap kepala putih Toushiro yang basah dengan handuk. Bibi Sahiko tersenyum nakal menggodanya.

"Ah, bibi! Toushiro tadi cuman ketiduran kok di atas genting rumah!"

"Lalu? Hujannya datang kau tidak merasakan apa-apa?"

Toushiro menahan senyumnya. Pipinya memerah karena malu dirinya ketahuan hujan-hujanan lagi.

"Dasar…" keluh bibinya, "keringkan badanmu di kamar mandi sana! Habis itu kita makan malam. Paman sudah pulang,"

Toushiro mengangkat dagunya. Matanya terlihat senang mendengar berita itu. "Benarkah paman sudah pulang, bi?"

"Iya… makanya cepat!" serunya sambil mendorong Toushiro dari belakang menuju kamar mandi.

Sebelum mengeringkan dirinya dengan handuk, ia terlebih dahulu membasahi tubuhnya yang basah dengan air shower. Ada petuah berkata bahwa, 'Setelah hujan-hujanan harus membasuh diri dengan air lagi, agar tidak masuk angin dan sakit."

Lagi-lagi, Toushiro tak mampu menahan dirinya untuk larut dalam guyuran air. Matanya lurus tajam memandang ubin tembok kamar mandi yang ada dihadapannya. Tapi, pandangan yang ia ciptakan hampa, sehampa angkasa.

Pikirannya melambung lagi menjauh…


[Third flashback of Memories]

Toushiro menyangga dagunya di atas setir motor hitam bermotif biru miliknya. Ia hanya duduk termenung menunggu seorang gadis keluar dari gerbang sekolah SMA dan menyapanya. Memang, tak lama, itu terjadi.

"Shirou-chan? Kenapa kau menjemputku?" tanya gadis itu terheran-heran setelah menghampirinya dengan tergesa-gesa.

"Aku sudah berjanji, bukan? Aku akan melindungimu selalu," katanya beracuh-tak-acuh, dan memasang kunci motor. "Ayo naik!"

Hinamori berkeluh. Pipinya menggembung dan ia memangku kedua tangannya. "Aku tidak mau!!" dengusnya kemudian.

"Ayolah Momo…" rengek Toushiro.

"Shirou-chan," panggilnya melemah. Toushiro mennyahutinya dengan bertanya 'apa'. "Aku memang mengidap penyakit itu."

Toushiro melepas helm yang telah ia gunakan baru saja. Alisnya menekuk tanda prihatin.

"Tapi aku gadis kuat yang tak perlu dilindungi terus…"

Toushiro mengkibaskan rambut putihnya yang basah karena keringat. Ia menarik nafas panjang dan mengeluh, "kau betul-betul tak menghargai aku."

"Eh?"

"Kalau kau menolak segala yang aku tawarkan, itu artinya kau tidak menghargai rasa sayangku padamu," lanjutnya. "…dan artinya kau tak menyayangiku balik." Toushirou tersenyum, karena ia tahu hal itu benar.

Hinamori menyerah. Ia menapak maju dan naik ke motor Toushiro. Toushiro mengenakan kembali helm yang sempat ia lepaskan tadi karena mendengar pernyataan bodoh dari Hinamori.

"Emm, Shirou-chan?"

"Apa?" Toushiro menstrater motornya. Ia menengokkan kepalanya setengah ke belakang.

Hinamori menatapnya untuk bertemu pandang dengan mata Toushiro yang selalu tampak mengkerut itu. "Boleh aku memelukmu dari belakang?" tanyanya dengan warna merah menghiasi pipinya.

Toushiro menelan ludahnya. Ia palingkan kembali kepalanya menuju ke depan, untuk membunyikan diri yang salah tingkah.

"Shirou-chan?" panggil kembali Hinamori untuk memastikan Toushiro baik-baik saja.

Toushiro berpaling kembali ke arah yang sama seperti tadi. Namun, tampak kaca hitam menutupi wajahnya yang tersembuyi di balik topeng helm. Kepala yang ditutupi helm itu mengangguk.

Hinamori dengan bahagia memeluknya dari belakang.

(wajah Toushiro dibalik helm: Wajahnya dipenuhi keringat yang mengucur di mana-mana. Merah menyeluruhi wajahnya yang nampak dalam ekspresi sangat tidak enak untuk dilihat saat ini.)

Toushiro menancapkan gas dan melayang menjelajahi jalan. Mereka makin tak terlihat, seiring memori itu memudar…

...dalam buaian ingatannya.

[End of Flashback]


Pintu kamar mandi tergedor hingga menciptakan suara keras.

"Toushiro? Kau lama sekali! Sedang apa kau? Paman sudah menunggumu di ruang makan!"

Toushiro menghapus pikirannya. 'Rasanya jiwaku sedang tak sehat akhir-akhir ini…' batinnya. Ia segera menyingkirkan diri dari guyuran air, ia mengeringkan tubuh dengan handuk. Kemudian mengganti bajunya segera.

Toushiro menuruni tangga, menuju ruang makan.

"Toushiro, maaf paman pulang terlambat," sapa Paman Nichiru ramah padanya. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"

Toushiro membalas dengan senyum ramah. Ia duduk di samping pamannya. "Baik paman. Aku hari ini pulang cepat karena akan dipromosikan menjadi ManagerUtama perusahaan." Senyum bibirnya makin tersungging. Matanya bahagia. "Tampaknya, aku akan membeli rumah baru agar tak selalu menyusahkan paman dan bibi."

Bibi Sahiko tertawa kecil. "Kau sama sekali tak menyusahkan kami. Aku senang merawatmu sebagai anak kami sendiri," sahutnya kemudian.

"Itu benar Toushiro. Ayahmu adalah satu-satunya kakak terbaik paman sedunia, aku menyayanginya. Maka dari itu, paman akan selalu berjanji menjaga apa yang dimilikinya dan diperjuangkannya!" sambung paman Nichiru yang diringi tinjuan kecil ke bahu Toushiro.

Toushiro tak membuyarkan senyum dari bibirnya. Setelah beberapa suap makanan ia masukkan ke dalam mulutnya, ia membuka pembicaraan baru.

"Oh, ya, paman," panggilnya. "Bagaimana keadaan Hinamori?"

Sesuap nasi yang akan melayang ke dalam mulut sang paman, mendadak terhenti. Ia meletakkan kembali nasi yang terjepit di kedua bilah sumpit hitam itu. "Yah, paman sudah memeriksanya tadi. Suster Nanao yang melaporkan keadaannya pada paman bilang tetap tak ada perubahan."

Pandangan Toushiro melemah. "Begitu…"

"Jangan khawatir, nak," elus paman Nichiru di kepala Toushiro. "Paman akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikannya seperti semula."

"Paman dokter yang baik. Aku rasa paman sudah berusaha sekuat tenaga," sahutnya sambil melanjutkan makannya. Ia nampak tak nafsu untuk melahap makanan malam ini. Padahal, dapat dikatakan menu makanan ini sangat enak. Buatan bibi Sahiko memang selalu manjur untuk membuat lidah bernafsu menambah tiga kali, seperti yang dilakukan Toushiro seperti biasa.

"Goushimasuta," ucap Toushiro menaruh sumpitnya di atas mangkok nasi.

"Toushiro? Kau yakin tak ingin menambah? Bibi memasak banyak hari ini," tanya Bibi Sahiko heran.

Toushiro melenggang menaiki tangga, "tidak, bi," jawabnya sesingkat mungkin.

Paman dan Bibi Hitsugaya saling berpandangan.


Toushiro menutup pintu kamarnya keras-keras. Ia membanting tubuhnya membelakangi pintu, dan melongsorkan dirinya hingga terduduk di lantai. Desahan nafasnya tampak terengah-engah. Mengingat dirinya tak melakukan aktifitas apapun yang melelahkan tubuhnya, itu hal yang ganjil.

Rasa kecewa yang ia rasa tak dapat keluar dari jeruji gengsi hati. Layunya air hujan turut menjadi saksi dirinya yang tersakiti. Di luar jendela, badai kias terasa menertawainya, memojokkan Toushiro dalam gemetarnya aliran darah, peningnya hulu pilu, dan…

…rasa rindu yang beradu.

Toushiro membangkitkan diri sekuat tenaga. Air tak berguna kembali menetes di balik kerlipnya kemilau hijau, yang sembab karena terus mendung meratapi kisah yang telah berlalu. Kadang Toushiro berpikir, apalah arti sebuah ingatan bila hanya menyimpan hal yang pahit dan menggetirkan setiap malam dalam mimpinya saja?

Ia menghampiri meja kerjanya. Sebuah kotak coklat berukir pahat klasik berbentuk hati dan berwarna emas menunggunya di bawah spotlight lampu meja kerja. Terasa sekali olehnya, bahwa benda yang kumal itu sangat lain daripada yang lain. Benda itu memancarkan cahayanya sendiri dan selalu memikat perhatian Toushiro setiap kali meliriknya.

Toushiro perlahan mengangkat kotak mungil itu dan membukanya. Lantunan merdu lagu klasik mendengung seisi ruangan. Lambaian musik yang diciptakan benda manis itu mampu menggugah harmoni di hati setiap orang yang mendengarnya. Seolah, belasan kata 'cinta' dan 'kasih sayang' terukir di setiap detik tempo yang mengiringinya. Sungguh melodi yang merasuki hati.

Tapi butiran air tak berhenti mengalir dari matanya. Membasahi kotak manis berbau racun.

Toushiro menutup sang kotak musik. Ia hapus air matanya, kemudian mengenakan jaketnya dan pergi meninggalkan ruangan. Sementara itu di jendela, hembusan dewa badai, kemarahan dewa petir, dan tangisan awan kelabu mengintipnya, dan menunggunya untuk datang kepangkuannya.

Toushiro menuruni tangga berlari menuju pintu keluar.

"Toushiro! Kau hendak kemana?" tanya bibi Sahiko sambil merajut pakaian.

Toushiro membuka pintu. Yang menunggu untuk datang kepangkuannya menyambut. Beberapa ubin dekat pintu menjadi basah dan rasa dingin mengisi seisi ruangan karena sambutan itu.

"Di luar badai Toushiro!"

"Aku pamit, bi. Ada yang harus ku selesaikan," pamitnya kemudian keluar dengan jas hujan yang sudah menutupi segala sisi tubuhnya kecuali bagian mata. Kunci motor siap di tangannya.

"Toushiro!!" jerit Bibi Sahiko memanggil. Namun terlambat, Toushiro telah menghilang dari hadapannya, masuk ke dalam pangkuan yang telah menyambutnya tadi.


Toushiro tiba di tempat tujuan. Ia menelan ludahnya. Tubuhnya yang telah ditutupi jas hujan itu masih saja terasa basah kuyup, aneh, mengingat sama sekali tak ada celah air hujan dapat menembus jas hujan yang sangat tebal itu. Ia turun dari motornya dan temangu tegak di depan sebuah Rumah Sakit.

Ini jam 11.00 malam.

Toushiro mendangah. Batinnya berharap pintu rumah sakit akan terbuka, seorang kawan yang ia kenal akan menunggunya untuk membukakan pintu. Dan hal itu pun terjadi.

"Kalian sudah menungguku dari tadi?"

"Seperti biasanya kami selalu menunggumu di sini, setiap malam, bukan?"

"Kau dokter yang baik, Kurosaki… Pantas menjadi rekan kerja Paman Nichiru," tatap Toushiro berharap banyak. "Kau juga, suster Nanao."

Nanao membetulkan letak kaca matanya. "Tapi jangan terlalu banyak berharap. Kepala Rumah Sakit ini akan marah kalau tahu kami memperbolehkan seseorang menjenguk jam 11 malam."

"Ayolah, Nanao. Ishida takkan begitu marah pada kita. Toh kita ini satu angkatan!" protes Ichigo karena ia merasa tahu benar bagaimana sifat teman, sekaligus bosnya itu. "Lagipula, aku sudah meminta izin padanya!"

"Aku tak yakin Ishida sebaik itu," ujar Toushiro dengan ragu.

"Mau kubuktikan?" ucap seseorang di belakang Toushiro.

"Ishida! Darimana saja kau!" seru Ichigo padanya.

"Biasa, dari toko 24 jam Himawari. Aku sepertinya harus menjahitkan baju baru untuk anakku, Orihime terus merengek padaku untuk membuatkan baju baru si kecil," sahutnya sambil membetulkan kacamata.

"Uwaah… senangnya sudah memilki anak, Ishida…" iri Ichigo, "istriku Rukia baru mengandung empat bulan…"

"Ngomong-ngomong, Hitsugaya, kapan kau akan menikah?" tanya Nanao padanya.

Toushiro berdiam diri tak menjawab. Ia tahu, semua temannya yang ada di sini telah menikah. Bahkan Nanao pun baru saja menikah dengan seorang lelaki yang lebih tua darinya. Ia dengar namanya Kyoraku. Kyoraku Shunsui.

Toushiro menggelengkan kepalanya. "Aku masih menikmati pekerjaanku." Sahutnya lugas.

"Pada umurmu yang ke 26 itu? Kau masih menikmati pekerjaanmu?" tanya Nanao dengan bingung.

"Oh, ya, kudengar kau di promosikan menjadi Manager Utama, bukan?" tanya Ishida. "Selamat, ya," lanjutnya datar.

"Ah, terima kasih."

"Oh, sampai lupa! Kamar Hinamori sebelah sini, Toushiro!" ajak Ichigo.

"Ya, aku tahu. Aku tahu dimana kamarnya."


"Sudah dua bulan dia koma," jelas Ichigo, dimana pernyataannya itu diketahui semua temannya yang ada di situ. Tak terkecuali Toushiro yang sedang menatap tulus seorang gadis yang terkulai lemah menanti datangnya nyawa baru.

"Aku takut ketika dia sadar nanti, mengetahui bahwa orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat sebulan yang lalu…" iba Nanao.

Ichigo tersenyum. Ia memegang pundak Toushiro. "Aku tak khawatir, karena dia memiliki seseorang yang selalu setia menunggunya…"

Toushiro membalas senyumnya. Tapi tatapan yang ia perlihatkan adalah sebaliknya.

"Sebenarnya, kau bukan menikmati pekerjaanmu kan, Hitsugaya?" ucap Ishida dengan tiba-tiba. Nadanya seolah tahu dan dapat membaca tatapan Toushiro.

"Eh?"

"Kau… menunggu gadis ini untuk menjadi istrimu kan?" pertanyaan Ishida benar-benar langsung menancap batin Toushiro.

"Ishida!" protes Nanao.

Ishida tak menggubrisnya. Ia menunggu jawaban kebenaran dari Toushiro. Sementara, Toushiro tak bergerak dari tempatnya. Tak bergeming, hanya menekan nafas sekuat yang ia bisa.

"Aku tahu itu benar, Hitsugaya," lanjut Ishida, "tapi bagaimana kalau dia… tak dapat melanjutkan hidupnya?"

"Ishida! Kau minta aku hajar ya!!" seru Ichigo mencegahnya. Suaranya membahana seisi ruangan dan koridor. Ia mencengkram kerah putih Ishida. "Kau…!"

"Kalau begitu… aku takkan menikah seumur hidupku," ucap Toushiro tiba-tiba. Ia menengokkan kepalanya pada teman-temannya.

Sekali lagi, kantong matanya tak mampu menahan keluarnya air tak berguna. Air itu menetes melampaui pipinya.

Ishida terbelalak.

"Kau belum pernah melihat aku seperti ini kan, Ishida? Tapi ini perasaanku yang sesungguhnya. Beginilah keadaanku setiap malam."

Semua turut merasakan pahit getirnya. Pria kecil yang mereka kenal sangat jenius itu, tak disangka menjadi seperti ini. Atmosfir ruangan menjadi tak enak dirasakan bila telah menyentuh hangatnya kulit.

Toushiro membuka tas ransel hitam yang ia kenakan. Ia mengeluarkan sebuah kotak musik yang telah mengingatkannya pada Hinamori selalu.

Ia menatap kotak musik itu.


[Fourth Flashback of Memories]

"Shirou-chan, lihat!" seru gadis kecil itu menarik tangan Toushiro. "Kotak apa ini?" tanyanya.

"Itu namanya kotak musik, Momo…!" seru Toushiro bertolak pinggang padanya. "Kau ini hidup zaman apa? Masa' tak tahu benda sederhana seperti ini!"

"Bendanya klasik ya…" serunya. Ia menaruh kembali benda itu ke tempatnya seiring Toushiro menariknya keluar.

Di café…

"Es krimnya enak!" nyaring Hinamori.

"Enak sih enak, tapi lihat, ada es krim tersisa di bibirmu tuh!" Toushiro menyeruput tetes terakhir jus semangkanya yang kedua.

"Mana?" tanya Hinamori polos. Jari-jemarinya meraba wajahnya. Tapi es krim yang menempel di sebelah kiri bawah dekat hidungnya itu tetap tak terjangkau olehnya.

"Dasar," gumam Toushiro. Ia memajukan badannya sedikit, kemudian menghapus sisa es krim itu dengan tissue. "Lain kali kalau kau masih makan es krim tersisa di dekat bibirmu seperti itu, aku akan mencium bibirmu untuk membersihkannya."

"Shirou-chan! Kau nakal!" protes Hinamori menggembungkan pipinya. Toushiro hanya tertawa kecil melihatnya seperti itu. Selalu seperti itu.

Setelah meminta bill pada pelayan, mereka beranjak pergi lagi.

Hinamori menggandeng tangan Toushiro. "Shirou-chan, kita kemana lagi?"

"Hem," Toushiro berpikir. "Kau ingin kemana, bed-wetter-Momo?"

"Aku?" tanyanya menunjuk hidungnya sendiri. "Aku ingin ke sekolah SMP kita dulu!"

"Kenapa kesana?" Toushiro mengernyit, "di sana sudah tak ada siapa-siapa, Momo…"

"Ayolah…" Hinamori menyeret Toushiro, "aku ingin kembali ke tempat…" ia menghentikan kalimatnya.

"Ke tempat apa?"

"Tempat… Shirou-chan menyatakan perasaan pada Momo pertama kali…" ujarnya dengan pipi merah. Ia terus menyeret Toushiro.

Toushiro juga memerah. Tapi dirinya tak mampu menahan seretan Hinamori seperti biasanya, meski kini sudah jelas terlihat Toushiro sudah bukan pria yang bertubuh lebih kecil darinya. "Tapi Hinamori! Motorku ada di arah sana!" tunjuknya ke arah berlawanan dengan arah Hinamori menyeretnya.

Hinamori tersenyum padanya. "Kita naik bus saja!"

"APA…? LAGI?!"

SMP Negeri Kota Karakura…

Hinamori berlarian menuju lapangan meninggalkan kekasihnya jauh di belakang. Hinamori berputar di lapangan sekolah, melepas rindunya pada sekolah penuh kenangan itu.

"Momo… teganya kau meninggalkan aku…" keluh Toushiro dengan nada manja.

"Yee…! Shirou-chan kan udah gede!" sahut Hinamori dengan lantang dan nyaring dari arah lapangan sementara Toushiro masih di pintu gerbang terengah-engah.

Toushiro tertawa geli melihat Hinamori yang sudah 'anak kuliahan' itu bertingkah laku seperti anak kecil. Toushiro berlari menyusul Hinamori yang sekarang berlari menuju lantai dua. Letak kelasnya terdahulu.

Lagi-lagi Hinamori menyeret Toushiro yang sudah tak berdaya dan pasrah mengikuti Hinamori yang lincahnya bukan main. Padahal saat itu, mereka sehabis memutari kota untuk berjalan-jalan selama 10 jam. Motor Toushiro menjadi tak berguna karena hanya terpakir di salah satu basemen Mall Kota Karakura selama itu pula.

"Di tempat ini, kan, Shirou-chan?" tanya Hinamori setelah berhenti menyeret Toushiro dari lorong ujung pertama menuju lorong kedua.

"Momo, lihat!" lantang Toushiro tiba-tiba dengan menunjuk sesuatu ke arah depan pintu kelas Toushiro yang dulu.


...Bersambung...

Datanglah padaku
Wahai bulan berlatar masa lalu
Aku dengan menyulut lembar syahdu
Mampu menghadapi apapun yang beku

Sakura menyadur keladi
Bahwa kepala putihku akan mati
Cinta ku pada jiwanya abadi
Sebagai kisah lain yang terukir sejati

Kotak musik inilah, sebagai pembagi nyawa yang puji


Bahas review:

Yumemiru Reirin: Maksud Hinamori? RHS duonk!! Just check out the next chapter!

Argentum Silver Chan: Iya… nii-san suka Agatha Christie sekali… hehehe… Eh, Ferri-chan punya yang early cases? Hem, kalo gak salah latar cerita early cases sama ama yang di last cases nya. Tempat pertemuan pertama kali Hercule Poirot dengan Kapten Hastings. Yaitu villa styles. Eh, kok jadi ngomongin novel?. Arti dari puisinya yah? Nii-san kasih tau deh sekedar pelajaran: Toushiro merasa tak tahu dengan apa yang akan ia perbuat, dia hanya bisa terus menyesali takdir yang menurutnya kejam. Kalau puisi yang di atas Ferri-chan bisa?

Quinsi Vinsis: Benarkah…? Aih… jadi malu…

RiiXHitsuHina: Momo mati…? Gimana ya…? Check the next chapter.

Hinamori14137 Yoriko: Haduh… saia terharu anda bilang keren… -ge er MODE-

ichironatsu23: Iaph, deskripsi nya emang mateng (menurut gw sih). Iya… ini juga apdet…