Disclaimer: Bleach hanya milik Kubo-sensei seorang. This last chapter, I presented for you, Kubo-sensei… and for all Bleach fans in the whole Indonesia Country.

Episode Perdana:

The Golden Box of Memories

Last Chapter:
The Golden Is Not The Box, But Honest Love

"Momo, lihat!" lantang Toushiro tiba-tiba dengan menunjuk sesuatu ke arah depan pintu kelas Toushiro yang dulu.

"Ihh, Shirou-chan! Kaget tahu!" kerut Hinamori sambil menutup telinganya. Toushiro yang baru sadar bahwa ia tadi berteriak tepat di samping telinga Hinamori hanya cengir.

"Baik, aku ulangi," ucap Toushiro, "Momo… lihat…" lanjutnya dengan suara berbisik-bisik.

Hinamori tertawa kecil. "Shirou-chan ada-ada saja," ucapnya sambil menahan tawa. Tapi kemudian, Toushiro menarik tangan Hinamori dan menariknya menuju depan kelas atau arah yang ia tunjuk tadi. Wajah Hinamori yang tadinya tampak senang, kini tampak heran.

"Kelas Shirou-chan…"

Rupanya yang Toushiro berusaha tunjukkan adalah sebuah pintu kayu bercat hitam yang terbuka. Dari jarak sekian meter, dapat terlihat di dalam ruangan terdapat berbagai peralatan musik.

"Kelasku yang dahulu… rupanya kini dijadikan Ruang Seni…" ucap Toushiro memelan. Guratan ekspresi wajahnya mengatakan bahwa dia cukup kecewa melihat pemandangan ruangan yang mereka masuki sekarang.

Di pojok ruangan itu, terdapat Grand Piano hitam yang tertutupi plastik berdebu. Hinamori merabanya dengan jari-jemarinya. "Berdebu," gumamnya.

"Sudah berapa tahun mereka tak menggunakannya? Padahal, piano ini kan sering kita gunakan dulu…" curah Toushiro.

"Ya! Ketika pelajaran musik!" nyaring Hinamori mengingat-ingat kenangan dahulu.

Toushiro tersenyum. Ia membuka plastik berdebu yang menutupi piano tersebut, kemudian duduk di kursi depan Grand Piano itu. Sangat pelan, jari telunjuknya menekan salah satu tuts. Ternyata, tuts itu berbunyi dengan sempurna, menghasilkan notasi 'sol'.

"Shirou-chan, jangan…" halang Hinamori, "kalau rusak bagaimana?"

Toushiro menatapnya dengan penuh arti. Matanya yang hijau besar itu berkilau seiring cahaya sore hari menyapanya melalui salah satu jendela ruangan itu. Ia tersenyum lembut.

"Kau tahu, semenjak ayahku meninggal, aku sudah tak pernah menyentuh satu nada pun dalam piano," ujarnya dengan suara yang begitu lembut. Sejujurnya hati Hinamori merasa damai ketika mendengarnya. "Padahal, aku dan ayah sering bermain piano bersama. Ia mengajari semua yang aku tahu. Dulu… aku sempat bercita-cita menjadi pemain piano handal."

Hinamori turut menatap dalam menelusuri pandangan mata damai Toushiro. Hinamori menyunggingkan bibirnya.

"Kalau begitu, Shirou-chan tunjukkan padaku suara indah permainan pianomu itu lagi," ucapnya riang.

Dengan terdengarnya suara, "Eh?" dari lawan bicaranya, ia duduk di samping Toushiro. "Tapi, Momo, sudah lama aku tak bermain piano…" Toushiro merendah. Guratan tipis warna merah muncul di pipinya.

"Ayolah Shiro-chan…" manja Hinamori sambil memegang tangan kiri Toushiro dan menempelkannya di pipi Hinamori. Hati Toushiro mencair karenanya.

Toushiro memejamkan matanya sejenak, kemudian menarik nafas dalam. "Baiklah," katanya, "lagu ini kupersembahkan untukmu." Hinamori tersenyum, ia pun merendahkan kepalanya di pundak Toushiro, merasakan bergeraknya otot-otot Toushiro kerena tangannya mulai bermain.

Jari-jemari Toushiro mulai bermain di atas tuts-tuts piano. Gerak-gerik lincah tangannya mengiringi sentuhan daya tarik, membuat jari-jemari itu sendiri terlihat sedang berdansa. Nada-nada yang dicurahkan setiap tapak ujung jarinya mengalir mengikuti arahnya bar tangga nada setiap pojok musik. Melodi damai yang tercermin, membuat kita yang mendengarkannya pun turut bersenandung, menjalari dongeng yang disembahkan sang lirik lagu. Sungguh permainan notasi yang handal.

Meski saat itu, Toushiro sudah dua tahun tak mempergunakan jari-jemarinya lagi pada musik.

"Kau tahu lagu ini, Momo?" tanyanya masih sambil memainkan piano.

Pipi Hinamori terhiasi warna merah yang samar. "Sa… Sakura no Unmei?" tanyanya tak yakin.

Toushiro tersenyum lemah. Ia tetap asyik menggerakkan jari-jemarinya. Barulah tak sekian lama, ia angkat bicara. Masih memainkan musik.

"Lagu ini mengisahkan dua orang kekasih yang saling menyayangi pada zaman dahulu kala. Meski jarak mereka sangat jauh, tapi cinta mereka tak padam. Suatu ketika, takdir mengharuskan mereka untuk menempuh jalan berlainan arah. Sang gadis yang memiliki tubuh lemah jatuh sakit. Sang lelaki yang mendengar berita itu, ia pun bersikeras berdo'a pada dewa untuk menukarkan nyawanya pada sang gadis. Dewa menjawabnya. Gadis itu selamat…"

Permainan notasi hanya cukup sampai di sini, hingga Toushiro membantingkan seluruh kepalan tangannya pada tuts-tuts Grand Piano Hitam tak bernoda itu.

BREENG!!!

Suara harmoni lantunan lagu itu terhenti, berganti dengan suara erangan nada yang tak beraturan. Toushiro menundukan kepalanya. "Seandainya… sendainya saja…!" gumamnya dengan suara engah.

Hinamori menatapnya lekat.

"Seandainya saja aku bisa memberikan masa hidupku atau menukarkan nyawaku seperti yang dilakukan lelaki itu untuk gadis yang dicintainya…! A…a-aku…!" desahnya kuat-kuat. Kepala putihnya terbanting di atas piano. "Aku pasti dapat menyelamatkanmu!"

Hinamori mengusap tangan Toushiro. Tangan lembut yang satunya lagi menghampiri pipi Toushiro untuk dapat membawanya memandangi dan memaknai kehadiran raganya di situ. Tapi Toushiro tetap tak mau menatapnya.

"Aku ingin Shirou-chan tak seperti itu!" lugasnya menatap wajah Toushiro. Meski yang ditatapnya masih tak membalasnya. "Aku ingin Shirou-chan baik-baik saja. Aku tak mau Shirou-chan menukarkan nyawanya untukku. Sebab…"

Kalimat Hinamori terhenti oleh pelukan erat nan hangat yang dilayangkan Toushiro untuknya.

"Teganya kau meninggalkanku…" isak Toushiro di pundak Hinamori. "Aku tak mau kau pergi, Momo. Aku… aku mencintaimu."

"Semua orang akan menghilang, Shirou-chan," sahut gadis itu serak, "ada yang meninggalkan, dan… ada yang ditinggalkan…"

Toushiro memejamkan matanya.

"Aku ingin Shirou-chan tetap hidup."

Toushiro melepas pelukannya. Dengan pelan dan kesan santai, ia mengecup dahi Hinamori. "Aku juga demikian padamu, Momo…"

Keesokan paginya…

Toushiro berjalan gontai menyusuri koridor rumah. Sedikit demi sedikit, ia sampai pada kotak surat di depan rumahnya.

'Paket?' pikirnya selagi matanya menerawang sebuah bungkusan coklat berbentuk kotak.

Ia mengangkat kotak itu. Diatasnya tertulis ' "HARTA", Ditujukan Untuk: HITSUGAYA TOUSHIRO'. Matanya terbelalak dari rasa kantuk. Ia mengenali tulisan tangan itu. Setelah mengucek matanya beberapa kali, dengan gundah, ia segera merobek bungkusan coklat yang menutupi kotak aneh itu. Tapi ketika baru setengah ia membukanya, ada secarik kertas lagi didalamnya yang membuat hatinya tertarik. Ia membuka kertas itu dan membacanya.

10 September 2003

Dear My Shirou-chan,

Aku ada hadiah untukmu. Hadiah ini, aku sembahkan karena kupikir, kau akan bisa mengobati rasa rindumu pada musik. Di saat kau rindu ingin bermain piano lagi, hadiah ini akan membantumu sedikit menghapus rasa kecewamu karena tak bisa bermain piano. Ini juga sebagai ucapan terima kasihku karena selalu mengkhawatirkanku…

(PS: tapi maaf, lantunan lagunya bukan Sakura no Unmei… aku tak tahu lagu apa)

Your sweety, Bed-Wetter-Momo…

Toushiro tak dapat menahan rasa penasarannya lagi. Ia segera menyobek bungkusan itu dengan tanpa ampun.

Terteralah ukiran tulisan di atas sebuah kotak. Ia pun membacanya, "La Doré Boîte De Mémoire…"

Ia henyak membaca tulisan itu.

"The Golden Box Of Memories…?"

[End of Flashback]


Toushiro meletakkan tas ransel hitam miliknya di lantai. Ia melangkah maju, menghampiri seseorang tak berdaya, andai mati.

"Hitsugaya, kalau kau membutuhkan kami, kami ada di ruang tunggu," ujar Nanao. Semua kecuali Toushiro melangkah keluar ruangan, meninggalkan dirinya.

"Aku tak tahan melihatnya seperti itu," iba Ichigo menelusuri koridor. Ishida yang berada di sampingnya, hanya membenarkan letak kacamatanya tanda sebuah jawaban. Sementara itu Nanao nampak terisak.

"Aku juga, Kurosaki," matanya mengembung menahan air mata, "Momo adalah teman geng-ku saat SMP. Maka dari itu, aku tahu semua kisah mereka dari awal…"

"Hinamori gadis yang sangat beruntung," lanjut Ishida dengan datar. "Meski ia sudah akan menghadapi kematian, Hitsugaya tetap saja menungguinya. Bahkan membiayai semua biaya rumah sakit."

"Butuh keajaiban agar Momo sembuh dari penyakit leukemia," sahut Ichigo. "Dipikir-pikir, Momo hebat juga dapat bertahan dengan penyakit itu selama lebih dari delapan tahun. Padahal, penyakit itu bisa membunuhnya kapan saja bila lebih dari dua tahun…"

Ishida menatapnya, "Perasaan dan keinginannya sangat kuat untuk tetap bersama Hitsugaya."

Ichigo berkedip. Ia setuju akan hal itu.


Toushiro meraih tangan gadis yang terkulai tanpa suara itu. Ia memegang dengan erat tangan kurus gadis itu, ber-angan, ia akan membuka matanya untuk menyapanya dengan suara nyaring dan berisiknya itu lagi. Sungguh ironi, hal itu tak terjadi.

Suara mesin penghitung detak jantung menggantung di seluruh gema ruangan. Membuat lelaki itu, makin tak yakin akan harapannya. Karena suatu saat, bisa saja mesin itu, akan membunyikan suara yang lain. Seperti…

suara kematian misalnya?

Toushiro memperhatikan setiap inchi dari gadis yang dicintainya itu. Tubuhnya yang kini kurus, mampu menahan dewa kematian untuk menjemputnya. Ia masih mampu bertahan, akan keinginannya untuk selalu bersama lelaki harapannya itu. Tapi, ia saat ini terjerembab di dalam dunia yang lain. Dunia yang hitam tak berbintang, yang hampa tak berisi, dan beranda maut yang tak berjalan.


[Fifth Flashback of Memories]

"Aku benci begini terus, Shirou-chan," tatap gadis itu lemah, namun nampak jari-jemarinya makin kuat menggenggam gelas. Guratan tegangnya nadi nampak menonjol di punggung tangannya.

Toushiro menyentuh tangan Hinamori yang masih menggenggam lekat gelas berisi air obat itu. "Jangan menyerah, Hinamori… sayangku…" sahutnya setengah berbisik, suaranya serak tertahan buih perih melihat gadis yang dicintainya bergeletak di atas kasur rumah sakit sejak tiga minggu yang lalu itu. Toushiro menahan rasa lelahnya, "aku tahu kau bisa, aku akan selalu di sini untuk melihatmu tersenyum dan nyaring (berisik) seperti biasanya."

Hinamori tersenyum. Senyumnya yang bahagia dan lebar sama sekali tak nampak sedikit pun cerminan tubuhnya yang dalam keadaan lemah itu.

"Kau gadisku," balas Toushiro turut tersenyum lebar. Ia pun menyapu rambut Hinamori.

"Aku bisa saja mati setiap saat," bisiknya ketus.

Toushiro tak menjawabnya. Ia hanya bisa memandangi bibir pengucap kata tak pantas tadi.

"Leukeumia, tak ada obatnya," Lanjut Hinamori dengan tatapan lemah. Namun, lawan bicaranya malah sebaliknya, menatapnya dengan tatapan kuat.

"Ada,"

"Bagaimana kau tahu?" Hinamori terhenyak, menaikkan alis kanannya.

"Rosy periwinkle,"

"Eh?"

Toushiro menahan nafas. Kemudian melepaskannya, untuk menyusun kalimat baru. "Satu-satunya obat paling manjur di dunia untuk virus HTLV. Bunga ini hanya tumbuh di hutan Pulau Madagaskar dan jumlahnya hanya tinggal sekitar 300 tanaman. Warna bunganya merah muda dan hampir mirip dengan Bunga Sakura."

"Lalu?"

"Kenapa 'lalu'?"

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Tentu saja aku akan mendapatkannya untukmu,"

"Bagaimana caranya?"

"Aku akan ke sana dan mencarinya!"

"Tak mungkin, Shirou-chan," dengus Hinamori, "Madagaskar sangatlah jauh! Hutannya pun berbahaya!"

"Apa yang tidak mungkin kalau untukmu?"

Hinamori terdiam. Ia menatap kekasihnya lekat-lekat. "Kau serius?" kerutnya.

Toushiro menganggukkan kepala.

[End Of Flashback]


"Setelah itu, aku tak bertemu denganmu selama tiga minggu, bukan begitu?" gumamnya berbicara sendiri. Toushiro menundukkan kepalanya. Tangannya berpindah tempat ke sebuah kotak coklat berpahat emas. Ia membukanya. Seperti biasa, meski sudah bertahun-tahun, mesin kecil di dalamnya tetap berbunyi dan mengisi ruangan dengan dendang layu.

Dibalik beludru biru yang melapisi kotak bagian dalam kotak musik itu, terdapat sebuah ruang kecil yang dikelilingi kaca buram berwarna kecoklatan karena umurnya yang mungkin sudah lebih dari delapan tahun. Toushiro membuka lapisan beludru itu. Dalam ruang kecil yang aku bicarakan tadi, tersimpan seonggok kelopak bunga merah muda yang berserakan.

"Aku berhasil mendapatkannya, meski aku rela terluka. Darah dan uang, bukan hal yang impas bila disandingkan denganmu, Hinamori," ucapnya. Ia memang ingat bagaimana perjuangannya mendapatkan seonggok kecil bunga itu. Saat itu, ia sempat terluka karena tangannya tertimpa pohon, dan saat mobil jeep yang ia tumpangi terlempar sangat jauh karena badai di padang pasir beberapa mil sebelum hutan rimba Madagaskar.

Tapi itu tak berguna. Karena mesin penghitung detak jantung, telah menurunkan temponya menjadi nol. Itu tandanya, mesin itu sama sekali tak mendeteksi adanya detak pada jantung Hinamori. Tidak ada sama sekali, baik detak jantung, maupun jiwa Hinamori.

Perjuangannya selama ini sia-sia saja. Takdir yang terus dipersalahkan, kini mengambil alih bagiannya.

Angin bertiup cukup kencang, mengingat malam itu sedang hujan. Jendela yang terbuka sedikit hampir meniup seluruh kelopak bunga yang tak bernoda andai binasa itu. Toushiro menangkap salah satu kelopak tersebut. Ia menggenggamnya cukup kuat, kemudian membuka lipatan tangannya. Setetes dua tetes, air matanya jatuh membasahi kelopak itu.

Tak berselang lama, ia pun membuka tangan dingin seseorang yang ada di hadapannya, dan menaruh kelopak bunga itu dalam genggaman seseorang yang kini kehadirannya sudah tak ada lagi di ruangan ini.

Ia pun keluar ruangan. Meninggalkannya seorang diri terbujur kaku. "Padahal sedikit lagi…" sesalnya dalam hati.

Toushiro menghampiri ruang tunggu, seperti yang ia duga, ia mendapati kawan-kawannya sedang mengobrol. Salah seorang dari mereka pun menyapanya.

"Jadi, Hitsugaya," sapa Ishida, "sudah selesai?" tanyanya kemudian. Ia menatap Toushiro dengan serius di balik kacamatanya yang cukup tebal itu.

"Kalian sebenarnya tahu kalau waktu kematian Hinamori adalah malam ini, bukan?" jawabnya ketus.

Kawan-kawannya menunduk. Mereka rupanya mengakui hal itu. Bila Paman Nichiru ada di sini, maka dirinya terhitung tak terkecuali.

"Kenapa kalian tak memberitahuku lebih awal?" sesalnya.

"Untuk apa? Untuk menambah luka di dalam hatimu?" tanya Ishida tak kalah ketus.

"CUKUP!" halang Nanao. "Di saat ada kawan kita yang pergi selamanya, kalian masih mampu bertengkar?"

"Ya, kalian berdua, cukup." Tatap Ichigo sedih. "Tak ada gunanya."

Semua terdiam meratapi keadaan. Tak ada satupun yang berani berbicara, semua mengukur kesalahan masing-masing dirinya. Dan kesalahan itu, pastinya, tak memiliki ukuran.


Tetesan air menyatu dengan bulir serbuk bunga Rosy perwinkle dan mengalir menjalari pori-pori kulit dalam genggamannya. Kemudian bulir-bulir air itu masuk dan senantiasa mengarungi darah yang sudah tak memiliki kecepatan, karena sudah tak bekerja lagi. Tapi dengan satu titik harapan, bulir-bulir air itu melaju, menghidupkan darah, membangunkan kinerja jantung, dan kemudian meresap kembali ke dalam cœur…


Toushiro dan yang lainnya dalam suasana berkabung. Dengan gontai, mereka memasuki ruangan kamar Hinamori satu persatu. Malam itu, hanya mereka dan Paman Nichiru yang ada di rumah lah, yang menikmati kelamnya suasana malam ini.

Ichigo memejamkan matanya, tubuhnya nampak gemetar memandangi sosok seorang kawan SMP nya itu. "Aku… tak bermaksud, Hinamori. Aku berjuang semampuku untuk menolongmu dan Toushiro. Tapi, Maafkan aku…" suaranya yang kecil tampak gemetar pula. Serak, bagai banyak rasa perih yang mencekiknya.

Sementara itu, Toushiro nampak tegar. Meski kita tahu di dalamnya ia tersayat seperti seekor anjing yang dikuliti. "Tak apa, Kurosaki. Kau, Nanao, Paman Nichiru dan yang lainnya sudah berusaha dengan baik. Terima Kasih."

Ishida menaikkan alisnya. Agaknya ia tahu mengapa nama dirinya tak disebut. Ia akui, dirinya tak begitu berperan banyak mengenai hal ini. Ia hanya menarik nafas panjang dengan kesan lelah. "Mari kita semua mendo'akan untuknya,"

Semua pun menundukkan kepalanya untuk beberapa menit atas pimpinan Ishida. "Suasana berkabung, selesai."

"Ayo kita pindahkan dia ke rumahku," ujar Toushiro. "Sementara, biarkan ia di rumahku sampai aku menghubungi sanak keluarganya yang lain. Biarkan aku yang mengurus semuanya untuk terakhir kalinya."

Ishida dan Ichigo mengangguk. Nanao hanya terus gemetar dan menangis.

"Baik, akan aku hubungi supir ambulans," sahut Ishida.

"A… Aku… akan mengambilkan kasur darurat," lanjut Nanao berlari meninggalkan ruangan masih tak mampu membendung air matanya.

"Aku bantu Nanao!" Ichigo mengikutinya dari belakang, "Toushiro, Kau di sini saja, menungguinya untuk yang terakhir kalinya!" seru Ichigo berlarian keluar mengejar Nanao, dan meninggalkan Toushiro sendirian. Namun Toushiro tak tergubris sama sekali.

Toushiro sudah tak mampu bergeming. Pikirannya kini melayang sudah tak tentu arah. Pikirannya itu mungkin takkan kembali lagi bila ia tak kuat diri.

Tapi Toushiro rupanya masih mampu memandang seseorang berkulit pucat itu dengan lekat. Meski mata hijaunya kosong, matanya enggan lepas dari wajah lembut nan damai Hinamori. Terkadang, pikiran Toushiro sempat menyiratkan pertanyaan akan wajah damainya itu. Toushiro tahu betul bahwa sebenarnya sosok Hinamori memiliki banyak sekali pahit dalam hidup. Tapi memang, wajah itulah yang selalu mengkiaskan sisi hati lembutnya.

Keajaiban tiba kapan saja…

Deph… tuut… tut… Deph… tuut… deph…

Toushiro membuka matanya lebar-lebar seiring telinganya menjabarkan apa yang seharusnya tak mungkin terjadi. Mesin penghitung detak jantung kembali menyala, meski dengan nada dan tempo degup jantung tak beraturan. 'Tak mungkin… tadi mesinnya benar-benar menujukkan indikasi 'nol''? ragunya dalam hati.

Matanya beralih dari mesin penghitung detak jantung menuju tubuh Hinamori. Ia segera berlari kecil menuju tubuh Hinamori dan memastikan, kalau mesin penghitung detak jantung itu benar. Toushiro menyentuh nadi arteri Hinamori yang berada di pangkal kepal. Tak salah lagi, mesin itu tak berbohong.

Toushiro tahu dengan apa yang harus ia perbuat. Ia menekan dada Hinamori berulang kali sebagai tindakan pertolongan pertama. Wajah Toushiro nampak berbeda dari yang tadi. Wajah yang pernah ia tunjukkan tatkala petualangan mendapatkan bunga itu. Wajah semangat, penampakan hamparan harapan dari pangkal hati.

"Hinamori, ayo berjuang Hinamori!! Aku tahu kau masih pantas hidup! Aku tahu kau masih ingin hidup!! Ayo bangun Hinamori!!" teriaknya berulang kali. Ia semakin keras menekan dada Hinamori saat tahu tempo degup jantung yang ditunjukkan sang mesin semakin terarah. "HINAMORI!!! BANGUUNN!!!"

Lebih tepat dikatakan pekikan, daripada panggilan. Pekikan kesengsaraan yang ditahannya karena,

kesepian…

Tuut… Deph…

"Tidak… kenapa detak jantungnya berhenti lagi?"

Toushiro terus melakukannya. Ia tak menyerah karena Tuhan membukakan secercah asa untuknya.

Deph… tuut… tut… tuut…

"HINAMORIIII!!!!!!!!!!!!!"

Nanao, Ichigo, Ishida dan supir ambulans (Asano) berlari memasuki ruangan seiring mendengar teriakan aneh dari Hitsugaya Toushiro.

"Ada apa, Toushiro?!" panggil Ichigo ketika ia masuk ke ruangan pertama kali. Toushiro memalingkan muka kepada kawan-kawannya, dengan tangan yang masih saling bertumpu dan menekan dada Hinamori.

"Cepat tolong Hinamori!" pintanya.


Lagu kematian tak berhenti berdendang semenjak peti mati kayu jati itu diturunkan. Segerombolan orang-orang berpakaian hitam tampak dalam suasana berkabung dan hikmat. Wajah-wajah sedih mereka nampak, meski kita tak tahu di dalam nuraninya apakah benar keadaannya seperti yang ditunjukkan ekspresi wajah mereka.

Toushiro terus memandangi peti mati itu tanpa henti. Hingga peti itu dimasukkan dan dikubur dalam-dalam. Toushiro pun masih lekat memandanginya. "Selamat Jalan…" ucapnya dengan suara menahan tangis.

Wanita paruh baya dengan kepala putih yang ditutupi kerudung hitam itu terus menangis, beberapa remah tisu menempel di beberapa bagian wajahnya. Make up-nya walau sederhana, tapi jelas tampak luntur. Toushiro merangkul wanita itu dan mengusap punggungnya beberapa kali. Toushiro berusaha menghiburnya.

"Sudahlah, bibi… mungkin memang sudah saatnya paman pergi meninggalkan kita semua di sini…" ujarnya berusaha menghibur.

"Ya, Toushiro. Bibi memang berusaha tegar. Tapi, air mata bodoh ini tak henti-hentinya mengalir…" ia pun mengusap pipinya dengan tisu. Toushiro menatapnya sedih, karena ia pun merasakan hal yang sama.

Beberapa menit setelah upacara penguburan…

"Oh, ya, Toushiro. Kemana istrimu?" tanya Bibi Sahiko, matanya memutari sekeliling.

"Ia menunggu di mobil, bi," sahutnya sambil tersenyum. "Itu dia!" tunjuknya pada seseorang yang sedang duduk di samping jok supir mobil dengan pintu mobil terbuka.

"Ayah!!" teriak seorang anak kecil berambut perak dengan matanya yang berwarna ungu besar nan indah itu. Ia berlari menghampiri ayahnya, dan langsung memeluk kaki sang ayah. Toushiro mengusap rambutnya.

"Hallo Hishori," sapanya hangat, matanya ia alihkan pandang pada Momo yang kini sedang tersenyum padanya. "Kau tak menyusahkan ibumu kan?"

Anak kecil itu menggeleng. "Tidak ayah! Hishori 'kan kuat seperti ayah! Jadi bisa menjaga ibu dengan tangan Hishori sendiri!!" ia pun tersenyum, "seperti yang dilakukan ayah pada ibu waktu dulu, kan?"

Toushiro menggendong Hishori dan berjalan menuju mobil. "Anak laki-laki ayah memang harus kuat!" Toushiro pun membawanya pada pangkuan Hinamori. Tak sampai sepuluh menit, anak laki-laki itu tertidur pulas dalam pelukan sang ibu.

"Hishori, kau ini…" usap Momo pada Hishori. 'Ya, Nak… jadilah kuat seperti ayahmu…' batin Momo. '…dan miliki lah hati yang kuat dalam menjaga apa yang kau sayangi…'

Momo menatap suaminya dengan wajah yang sedikit merona. Bibirnya yang tipis, tersenyum manis.

­


Berbagai lorong kami tempuh
Meski harapan semakin lumpuh
Padahal kenyataan pelik semakin rapuh
Merengkuhkan diri pada kertas hitam yang lusuh

Lembayung cinta dalam genggam sudah
Asmara kata menguatkan lidah janji
Mengarahkan jalan agar lebih mudah
Meraih syukur keberkahan abadi

Dan itu semua tak lepas
Dari kekuatan harapan berpadu hati
Yang kini tersimpan rapih
Dalam kotak manis berseduhkan langit kenangan


TAMAT…


Terima kasih atas dukungannya selama ini… terutama untuk teman-teman (Yoriko-chan, Ichironatsu23, Ferri-chan, RiixHitsuHina dan semua reviewer yang tetap setia menantikan dan mereview cerita indah ini). Semoga, fanfic saya yang satu ini dapat diambil hikmahnya. Sekedar catatan dari saya, saya hanya ingin menunjukkan bahwa tak benar cinta itu seperti yang kita ketahui selama ini, apalagi di usia kita yang belia. Tapi ketahuilah cinta sejati adalah yang dijunjung dengan pengorbanan dan rasa saling memiliki dalam arti melindungi. Dunia ini akan lebih indah lagi bila semua orang mengerti akan hal itu…


(PS: Ada yang bisa ngebayangin Toushiro pake kumis tipis?)