Disclaimer : Pastinya Masashi Kishimoto dong! Belum direbut sama saya soalnya.

Ohayo!!??!!

Akhirnya apdet juga setelah seminggu ulum. Chappie 2 dah selesai nih! Kalo kalian udah baca, review ya??

Please???

Chappie 2

Hinata menunggu hampir satu jam di tempat itu. Naruto belum juga datang. Mengesalkan memang. Tapi demi orang yang amat berarti baginya itu, Hinata rela menunggu lama. Akhirnya tiga jam lima belas menit tiga puluh detik dan seperempat milisekon kemudian Naruto datang.

"Ah—Gomen Hinata. Kamu lama nunggu, ya??" Naruto datang dengan wajah bersalah (Kalo watados mah, nggak tau malu namanya).

"Nggak papa, kok" Hinata tersenyum. Naruto memandang iba pada gadis yang berada di depannya.

Gue keterlaluan banget sih! Kasian banget Hinata. Dia pasti udah nunggu lama banget. Naruto mulai ngerasa amat sangat bersalah.

"Ehm…Naruto-kun?? Kita mau kemana sekarang??" Hinata membuyarkan lamunan Naruto.

"Gimana kalo kita ke festival kota aja?? Mau nggak??"

"Boleh" Hinata mengangguk. Akhirnya mereka berdua pergi ke festival kota.

"Hinata, kamu laper nggak?? Makan dulu, yuk!!" kata Naruto sambil memegangi perutnya. Hinata tertawa pelan. (Naruto mah belum apa-apa juga, udah laper lagi).

"Ayo aja. Naruto-kun mau makan apa??"

"Ke Warung Ramen Ichiraku aja, yuk!" usul Naruto.(Yah, Naruto mah nggak ada bosennya makan ramen).

"Ayo" Mereka akhirnya menuju ke warung ramen Ichiraku.

"Ah Irrashaimase!!" sapa Ayame saat mereka berdua masuk.

"Ah, Naruto. Mau pesan apa??" Tanya Paman Teuchi ramah.(Ya mau pesen ramen lah. Masa pesen cumi-cumi bakar??)

"Seperti biasa paman, ramen komplit" Naruto lalu menoleh kepada Hinata. "Kau mau pesan apa, Hinata??"

"Eh, terserah Naruto-kun saja"

"Baiklah. Paman, ramen komplit satu lagi!!" teriak Naruto.(Gak teriak juga kedengeran kali).

"Ngomong-ngomong, kalian sedang kencan, ya??" Tanya Ayame. Mereka berdua blushing.

"Ah…Ayame-san ini. Kami hanya sedang berjalan-jalan" Naruto menjelaskan.

"Oh…"

"Ini ramennya" Paman Teuchi lalu memberikan dua porsi ramen komplit.

"Arigatou" Kata Hinata. Mereka lalu menikmati ramen panas itu. Setengah jam kemudian, Naruto membayar ramen dan bergegas pergi.

"Arigatou ramennya, Paman Teuchi, Ayame-san" kata Naruto. "Arigatou" Hinata menambahkan.

"Sudahlah, jangan sungkan. Datang lagi, ya" ujar Paman Teuchi. Mereka berdua tersenyum, lalu meninggalkan warung.

"Kita mau kemana, Hinata-chan??"

"Ehm…Bagaimana kalau kita ke taman dulu??"

"Baiklah" Mereka akhirnya pergi ke taman.

"Ah, Hinata-chan, bagaimana kalau kita membeli es krim dulu??" Naruto udah teriak-teriak gajebo.

"Ah…Boleh aja" Hinata tersenyum. Naruto dan Hinata lalu menuju ke counter ice cream.

"Hinata, kamu mau yang rasa apa??" Tanya Naruto sambil melihat-lihat daftar menu.

"Ehm…Vanilla aja deh"

"Kalau gitu, aku mau yang chocholate aja deh!" Mereka lalu memesan ice cream itu. Setelah membayar, mereka duduk-duduk di kursi taman.

"Hinata, nyobain dong ice creamnya" kata Naruto tiba-tiba.

"Oh…ini Naruto-kun" kata Hinata sambil menyodorkan ice creamnya plus blushing. Ah, emang dasar Naruto rakus. Punya ice cream sendiri juga.

"Ih, Hinata! Ice creamnya manis banget deh! Kayak kamu!" Naruto sedikit ngegombal.

"Na—Naruto-kun??" Muka Hinata udah bener-bener merah.

"Hinata, abis ini kita jalan-jalan aja, yuk!" ajak Naruto.

"Iya" jawab Hinata masih sedikit blushing. Akhirnya, mereka berdua jalan-jalan gak jelas keliling Konoha.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Apa?? Dia telat ampe tiga jam??" Temari teriak-teriak sendiri. Hinata mengangguk.

"Itu udah keterlaluan banget. Trus kamu marah ama dia, Hinata??" Emma ikut berpendapat.

"Aku nggak marah ama dia kok" Hinata kalem.

"Gila kamu nggak marah ama dia. Kamu terlalu sabar, Hinata" puji (????) Emma.

"Kalian ini. Aku nggak bisa marah ama Naruto"

"Iya, iya. Kita tau kok. Abis itu kamu ngapain??" Tanya Temari.

"Ehm…Naruto ngajak makan"

"Ramen?" tebak Temari. Hinata mengangguk.

"Wah, pasti" Emma manggut-manggut.

"Lalu??" kata Temari sambil mengerutkan alisnya.

"Makan ice cream"

"Wuih, so sweet. Trus??" Emma komentar lagi.

"Abis itu, ya jalan-jalan" Kata Hinata sambil mengangkat bahu.

"Keren" Emma –lagi-lagi– cuma nanggepin.

"Kayaknya Naruto naksir ama kamu, deh" Temari ngambil kesimpulan, bikin muka Hinata merah dikit.

"Ma—Maksudnya??" Hinata bingung.

"Dia suka sama kamu, Hinata" Emma nambahin.

"Ah…kalian ini!" kata Hinata sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Tapi—" kata-kata Temari terputus karena bel masuk sudah berbunyi.

Kelas X~5…

"Woy, Nar!! Gue mau ngomong ama lo!!" kata Temari pada Naruto yang lagi baca buku.(Komik maksudnya. Nggak mungkin Naruto baca buku pelajaran).

"Apaan?? Penting banget, emang??"

"Lo kemaren ngajak Hinata jalan, ya??" Tanya Temari to the point dan langsung duduk di depan Naruto.

"Iya. Emang napa??"

"Lo ada 'rasa' ke dia??"

"Ehm…Nggak tau"

"Serius lo!!" bentak Temari.

"Ehm…Kayaknya ada deh!! Napa emang??" Naruto rada kesel juga diinterogasi kayak gitu.

"Kalo lo suka ama dia, gue minta jangan mainin perasaan dia. Dia tuh cinta mati ama lo, tau!!"

"Masa sih??" Naruto rada-rada nggak percaya.

"Iya. Makanya, kalo lo suka, tembak aja sekarang. Daripada Hinata entar keburu nggak suka lagi ama lo" ancam Temari. Ancaman kosong memang. Mana mungkin Hinata bisa nggak suka ama Naruto.

"Bener juga, sih. Entar deh gue cari waktu yang tepat" Temari tersenyum. Tiba-tiba Kiba dateng dan langsung duduk di sebelah Naruto.

"Eh, ngomong-ngomong, waktu itu kalian dapet salam dari Shikamaru" kata Temari. Spontan mereka berdua terkejut.

"Weits!! Apa lo bilang?? Kapan lo ngobrol ama Shikamaru??" Tanya Kiba dengan muka heran luar biasa.

"Pas istirahat waktu itu"

"Wuih!! Lo ada kemajuan dong ama Shikamaru. Gue bantuin deh biar lo bisa jadian ama dia" goda Naruto.

"Apaan sih?? Siapa juga yang mau jadian!!" Kata Temari sambil mengalihkan pandangannya, menyembunyikan mukanya yang memerah.

"Boong banget kalo lo nggak mau. Coba, kalo tiba-tiba Shikamaru nembak lo, emang ama lo mau ditolak?" Tanya Kiba.

"Ya…Nggak juga" kata Temari ragu-ragu.

"Yah, itu namanya lo mau-mau tapi malu!" terang Naruto.

"Udah ah, diem!" Temari ngomong setengah ngebentak. Susah ngeberentiin Naruto ama Kiba kalo udah ngegodain orang.

"Iya,iya" Naruto dan Kiba tertawa. Tak lama kemudian, suasana hening karena Anko-sensei yang ngajar. Naruto nggak berenti-berentinya nguap.

Duh, ni pelajaran ngebosenin banget sih. Gerutunya dalam hati.

Kiba yang duduk paling belakang, nutupin mukanya pake LKS. Temari sibuk nulis-nulis sesuatu di diary-nya. Anak-anak lainnya mayoritas merhatiin Anko-sensei dengan tatapan lama-banget-belnya-mana-sih? Anko-sensei sendiri sibuk ngejelasin, tapi nggak merhatiin anak-anak. Kebanyakan guru kan kayak gitu.

……….

Waktu istirahat, trio murid kelas X-5 itu duduk-duduk di kantin.(Duduk mesen makanan biar hemat katanya)

"Gila! Anko-sensei tadi ngomong apaan sih?" Naruto uring-uringan.

"Tau. Gue juga nggak merhatiin" jawab Temari. "Eh, Kib! Gue liat tadi lo rajin banget baca-baca dari LKS. Tumben" kata Temari heran.

"Siapa bilang gue baca-baca LKS? Gue dari tadi tidur kali. Cuma di tutupin buku aja" Jelas Kiba. Temari ama Naruto cuma melongo dan menatap Kiba dengan tatapan –dasar-stres-

Nggak lama kemudian, Hinata ama Emma menghampiri mereka.

"Hey Hinata!" teriak Naruto dengan muka ceria. Temari ama Kiba lagi-lagi cuma melongo ngeliat Naruto nyapa Hinata.

"Hai juga, Naruto-kun" Hinata tersenyum.

"Kok kalian nggak pesen makanan? Puasa? Diet?" Emma heran ngeliat trio yang kadang-kadang rakus itu nggak pesen satu makanan pun.

"Kita lagi ngehemat" kata Kiba simpel.

"Ngehemat darimana! Paling ntar juga duitnya di abisin ke Timezone" gumam Emma. "Ya udah, aku mau pesen mochi dulu, ya. Hinata, mau beli apa?" Tanya Emma lagi.

"Ehm…Aku mau ice cream aja deh"

"Ya udah. Aku pesenin deh." Emma lalu pergi mesen makanan.

"Naruto! Katanya mau ngomong sesuatu ama Hinata" kata Temari tiba-tiba.

"Eh??? Ngomong apaan???" Naruto heran sendiri.

"Aduh Naruto!! Kamu pelupa banget sih???" Temari rada kesel juga.

"Tapi kayaknya aku…AAAAWWWW" Tiba-tiba Naruto teriak. Ternyata kakinya diinjek keras-keras ama Temari.

"Na—Naruto-kun? Kenapa?" Hinata bertanya dengan heran sekaligus cemas.

"Nggak papa kok" kata Naruto sambil melotot pada Temari. Temari pura-pura nggak ngeliat.

"Ehm…Hinata, aku mau ngomong ama sesuatu ama kamu. Tapi aku ngomongnya entar aja, ya. Kalo udah ulum. Minggu depan ulum, kan?" setelah mikir mateng-mateng, akhirnya Naruto mengungkapkannya pada Hinata.

"Eh?? Ngomong apa? Kenapa nggak sekarang aja?" Hinata heran.

"Ehm…entar aja deh! Ntar ngeganggu pikiran kamu lagi" kata Naruto dengan gentle-nya.

"Ngeganggu??" Hinata tambah nggak ngerti.

"Udahlah. Nggak usah di pikirin" Naruto nasehatin Hinata. Nggak lama kemudian, Emma dateng bawa mochi dan pesenannya Hinata.

"Kalian ngomongin apa, sih? Keliatannya serius banget" kata Emma.

"Telat lu mah" kata Kiba.

"Mending telat daripada enggak tau kali" bales Emma. Kiba senyum sinis.

"Ntar aja deh gue ceritain" kata Temari.

"Ih…Temari baik deh"

"Dari dulu kali"

"Dasar" tambah Emma lagi. Tiba-tiba tanpa hujan maupun badai, Shikamaru ngedatengin meja mereka.

"Hey, Naru! Kiba!" sapa Shikamaru dengan muka happy.

"Wey, Shikamaru. Kemana aja nih?? Sibuk?" kata Naruto.

"Nggak kok. Gue diem aja di kelas" kata Shikamaru lagi. "Oh, hai Temari" sapa Shikamaru ramah. Temari yang dari tadi emang udah merhatiin Shikamaru tambah merah aja mukanya. "Hai" jawab Temari setelah lama terdiam. Yang lainnya sibuk cekikikan.

"Woy, Shikamaru! Kesambet apaan lo sampe bisa nyapa cewek??" kata Kiba sambil ngakak.

"Gak kesambet apa-apa, kok" Shikamaru yang sadar maksud Kiba langsung buang muka.

"Tem, kayaknya ada sesuatu yang mau lo omongin ama Shikamaru deh!" bales Naruto.

"Eh?? Siapa bilang?? Ngaco lo!" kata Temari sambil mandangin Naruto dengan aura killernya. Naruto cuma mesem-mesem aja. Shikamaru menatap mereka dengan tatapan nggak mau tau.

"Ngomong-ngomong, kalian ulum ruangan berapa??" Tanya Shikamaru.

"Ruangan 11" jawab Kiba.

"Ruangan 11?? Sama dong! Perasaan kita juga di ruangan 11, kan??" kata Shikamaru sambil menatap Hinata ama Emma. Hinatanya sih ngangguk, tapi Emmanya masih sibuk makan mochi.

"Kok bisa sekelas, sih? Biasanya kan per kelas." Kiba masih heran.

"Katanya tahun sekarang sih, bakal di campur. Berarti sebagian anak kelas X-5 bareng ama sebagian anak kelas X-3, dong!" jelas Temari.

"Yeah, kalo sekelas ama Shikamaru kan, enak. Ntar gue nyontek, ya?" kata Naruto dengan penuh harap.

"Kalo pengawasnya bukan orang yang ngerepotin" kata Shikamaru.

"Eh kalian, balik ke kelas, yu. Bentar lagi masuk loh!" kata Emma.

"Yah, ni anak. Mochinya udah abis baruuu aja inget ama kita" Naruto geleng-geleng. Tanpa pikir panjang lagi, mereka masuk ke kelasnya masing-masing.

……..

Wauw, enak banget kalo seruangan ama anak X-3. Bisa ngeliat Shikamaru terus, dong. Batin Temari.

Kalo seruangan ama anak X-3, bisa ngecengin Hinata dong. Enak banget sih. Batin Naruto.

Wah, payah kalo seruangan ama anak X-3. Gue ketemu terus ama si bawel Emma, dong! Batin Kiba.

Sementara itu di kelas X-3….

Satu ruangan sama Naruto-kun, ya? Kebetulan banget yah! Batin Hinata.

Yah, seruangan ama trio X-5. Pasti ni kelas nggak ada tenang-tenangnya. Batin Emma.

Seruangan ama nak X-5. Yah, paling enggak, ni kelas nggak bakal ngebosenin. Batin Shikamaru.

Akhirnya Ulum pun tiba. Mari kita lihat situasi dan kondisi di ruangan 11…

(Warning! Bangku ke samping, baris ke belakang. Bangku pertama deket pintu, bangku keempat deket meja guru). Terdapat empat bangku dan enam baris ke belakang. Anak X-3 sebangku sama anak X-5. Hinata kebagian duduk di bangku kedua baris kedua. Naruto duduk di bangku ke kedua baris keempat. Emma duduk di bangku pertama baris ke tiga. Kiba duduk di bangku pertama baris terakhir. Shikamaru ama Temari?? Weleh, weleh. Emang dasar jodoh, mereka duduk sebangku di bangku keempat baris ketiga.

"Wuih, Temari beruntung banget sih!" keluh Naruto.

"Namanya juga jodoh, Nar!" kata Kiba sambil duduk di kursi sebelah Naruto.

"Licik banget. Gue juga mau kali ama Hinata" gumam Naruto.

"Hn…terserah deh" kata Kiba lagi.

Dibangku Hinata…

"Ih, itu tuh yang di namain takdir" kata Emma ke Hinata.

"Temari beruntung, ya" kata Hinata sambil tersenyum.

"Kayaknya mereka jodoh deh!" Emma berpendapat. Hinata ngangkat bahu.

Sementara itu, kita liat Temari yang ketiban rejeki dari langit ketujuh. Temari ama Shikamaru udah duduk di tempatnya masing-masing. Temari salting banget duduk di sebelah Shikamaru.

"Ehm…Temari?" Tanya Shikamaru tiba-tiba. Temari yang kaget langsung noleh, "Ya?"

"Lo bawa pensil 2 nggak?" Tanya Shikamaru.

"Bawa kok. Lo mau minjem?" kata Temari rada-rada salting. Shikamaru menggangguk. Temari lalu memberikan pinsilnya.

"Lo bawa penghapus gak?" kata Shikamaru lagi. Temari lagi-lagi mengangguk. "Kalo pulpen?" Tanya Shikamaru lagi. Temari mengangguk lagi. "Bawa Tipe X juga?" Shikamaru lagi-lagi nanya. Temari tetep mengangguk.

"Ntar gue minjem, ya" kata Shikamaru lagi. Temari mengangguk lagi. Sambil sedikit tertawa kali ini.

Shikamaru…Shikamaru…Lo ke sekolah bawa apa aja, sih? Sampe-sampe nggak bawa alat-alat tulis! Pikir Temari.

Nggak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Ulum pertama hari itu matematika. Nggak di sangka, yang ngawas Tsunade-sensei.

Wah, mampus! Gue nggak bisa nyontek sama sekali nih! Batin Naruto.

Tsunade-sensei lalu dengan cepat membagikan LJK dan soal.

"Kerjakan semampunya, waktunya 90 menit. Kalau ada yang ketahuan nyontek, silakan langsung keluar" tegas Tsunade-sensei. Anak-anak langsung ciut nyalinya ngedenger ultimatum itu.

Selama ulangan berlangsung, suasana tetap hening dan sunyi. Jangankan nyontek, batuk aja lo langsung diliatin ama Tsunade-sensei.

Mampus! Nggak ada soal yang gue ngerti, nih! Batin Naruto. Beralih ke Kiba,

Gila ni soal. Siapa sih yang bikin! Mana gue cuma bisa no.1 doang lagi. Kiba udah mencak-mencak dalam hati. Sementara Emma,

Waduh! Kok soalnya rumit gini sih! Perasaan belum di pelajari deh! Pikir Emma.(Belum di pelajarin dari mana? Orang setiap pelajaran matematika Emma baca buku Harry Potter). Scene berikutnya, Hinata.

Soalnya susah juga. Mana baru no.20 lagi. Keluh Hinata.(Baru kali ini seorang Hinata mengeluh). Sementara itu, kita lihat Romeo dan Juliette kita.

Huh! Ngerepotin banget sih ni soal! Shikamaru udah nyumpahin dalam hati.

Shikamaru…Lo kok jadi keren gini sih kalo lagi serius. Hn…beruntung banget sih gue! Batin Temari sambil terus menatap Shikamaru.

"Ehem!" Temari yang lagi mandangin Shikamaru spontan menoleh untuk melihat siapa yang berdehem itu. Shikamaru yang lagi terkantuk-kantuk itu pun menoleh juga.

"Eh, Tsunade-sensei" kata Temari sambil senyum kepaksa.

"Ngapain kamu ngeliatin Shikamaru terus? Kamu nggak bakal dapet jawaban kan dengan ngeliatin Shikamaru terus?" semprot Tsunade-sensei.

Mampus! Gue ketangkep basah lagi ngeliatin Shikamaru! Gerutu Temari dalam hati.

"Eh—nggak sih, Tsunade-sensei" jawab Temari, malu banget. Shikamaru memandang iba pada Temari. Samar-samar ia tersenyum padanya.

"Terus kenapa kamu ngeliatin Shikamaru terus?" Tanya Tsunade lagi.

"Ehm…Biar tambah semangat ngerjain soal!?!" kata Temari ragu-ragu, berharap yang ia katakan tidak salah. Shikamaru mengangkat alis. Begitu pula Tsunade.

"Ya udah. Kerjain lagi" perintah Tsunade.

"Psst..Tem? Apa maksud lo tadi?" kata Shikamaru setelah Tsunade-sensei beranjak dari situ.

"Eh—nggak papa kok. Gue cuma cari alesan aja tadi" Temari mengelak.

"Oh…"

Dasar Temari baka! Kenapa lo bilang cuma buat alesan doang? Batin Temari menyesal.

Istirahat…

"Tem, lo pasti malu banget deh tadi" kata Kiba. Temari menggangguk.

"Eh, abis ini ulangan apaan, sih?" Naruto mendadak nanyain pelajaran.

"IPA"

"Ya udah bentar lagi masuk nih." Kata Naruto lagi.

"Ya udah"

………….

Hari terakhir ulangan…..

Hinata kaget gara-gara ada kertas yang tiba-tiba jatuh di mejanya. Untung yang ngawas Kakashi-sensei yang sibuk baca icha-icha paradisenya. Kayaknya sih dateng dari bangku belakang. Ternyata isinya :

AISHITERU, HINATA…

By : Naruto kerren

Muka Hinata sampe semerah strawberry pas baca kertas itu.

"Kamu sakit, Hinata?" Tanya Kakashi-sensei tiba-tiba. Semua orang kini terlihat memandangnya.

"Eh—Anu—Enggak, sensei. Saya nggak sakit, kok" kata Hinata, gugup saat semua orang merhatiin dia.

"Oh, saya kira kamu sakit. Soalnya muka kamu merah" jelas Kakashi-sensei. Hinata tersenyum. Saat Kakashi-sensei sibuk baca buku Icha-ichanya lagi, Hinata menoleh kea rah Naruto. Samar-samar dia tersenyum. Naruto yang emang lagi mandangin Hinata, spontan aja cengengesan waktu Hinata senyum ke dia.

Kayaknya dia nerima gue, deh! Pikir Naruto PD. Lagi asyik-asyiknya mandangin Hinata, sepotong kertas menghantam kepalanya.

"Aaaawwww!! Sialan! Siapa nih?" gumam Naruto sambil ngeliat sekeliling. Dia lalu ngeliat Kiba nyengir sambil ngacungin potongan kertas dengan ukuran sedang. Tulisannya : No. 23 apaan??

"Ah dasar Kiba. Lagi enak-enakan ngehayal juga" gumam Naruto lagi. Naru lalu melemparkan kertas jawaban ke Kiba. Sementara itu, Emma keliatannya udah selesai ngerjainnya. Dia sibuk memandang ke bawah. Nggak disangka, dia lagi baca bukunya Stephenie Meyers. Maniak buku-buku sihir tuh. Lain lagi ama Shikamaru and Temari, mereka malah sibuk nyamain jawaban.

"Shika, kok kamu no. 13 B sih? Bukannya harusnya D?" bisik Temari.

"Tau! Gue kan nebak doang!" balas Shika santai.

"Hn…no. 30 apaan sih?" Tanya Temari lagi.

"Menurut gue sih, C."

"Menurut elo?" Tanya Temari heran.

"Iya. Gue kan selalu ngikutin kata hati" jelas Shikamaru.

"Oooohhhh….."gumam Temari.

Akhir ulangan…….

"Hinata, gimana jawaban yang tadi?" Naruto langsung ngedatengin bangkunya Hinata.

"Oh—Anu—Naruto-kun…" jawab Hinata dengan terbata-bata.

"Mau aku ulangin?" Tanya Naruto. "Eh—" belum sempet Hinata ngejawab, Naruto tiba-tiba ke depan kelas.

"Hari ini, gue, Uzumaki Naruto-Cowok paling keren di SHS 12 ini, bilang kalau gue, suka ama lo Hinata. Aishiteru. Apa jawaban lo?" kata Naruto dengan lantangnya dan bikin satu kelas heran ngeliatin dia. Temari ama Kiba bener-bener kaget saat Naruto bilang gitu.

"Terima aja, Hinata!!" Emma udah teriak duluan. Semua mata memandang Hinata.

"Eh—Na—Naruto-kun? Aishiteru too" jawab Hinata.

"Oh ya? Thank's Hinata!" Naruto langsung meluk Hinata. Spontan satu kelas langsung ngeliatin mereka dan ber cie-cie ria. Emma ama Kiba langsung minta pajak jadian. Sementara Shikamaru ama Temari cuma ngeliatin dari bangku mereka. Kayaknya mereka lagi ngobrol serius.

"Wah, mereka jadian juga" kata Temari. Shikamaru mengangguk.

"Akhirnya, ulum selesai juga" kata Temari lagi.

"Iya. Gue seneng duduk ama lo. Lo nggak kaya cewe kebanyakan" kata-kata Shikamaru bikin Temari yang biasanya jaim jadi salting and blushing nggak jelas.

"Ma—maksud lo??" Tanya Temari balik. Nggak percaya dengan apa yang barusan Shikamaru bilang.

"Iya, gue suka sifat lo!" puji Shikamaru lagi. Temari kali ini, nyaingin mukanya Hinata yang merah padam karena di peluk Naruto. Detak jantungnya terasa sangat cepat. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya.(Kok kaya ekspresi kalo ngeliat setan, ya?).

"Thank's Shika" kata Temari setelah sekian lama membisu. Shikamaru tersenyum. Naruto tetep meluk Hinata dengan erat. Nggak peduli ama seisi kelas yang pada ribut minta pajak jadian. Dunia terasa indah bagi mereka semua.

Sementara itu di Ruangan Kepala Sekolah……..

"Jadi, untuk semester depan kamu akan masuk ke kelas X-3" kata Tsunade-sensei pada seorang anak lelaki berambut ayam warna biru tua.

"Terima kasih, Tsunade-sama" ujar cowok berambut ayam itu.

TBC…………TBC……………..TBC…………………TBC………………TBC………………

Heloow!

Lama banget nge-apdetnya. Btw, gimana nih buat yang masih sekolah dan yang udah nerima rapor, bagus nggak hasilnya?? Kuchi anjlok banget nilainya. Karena itu, Kuchi kayaknya bakalan lamaaaa banget buat nge-apdet fic Kuchi. Soalnya Kuchi kan dah kelas IX dan harus menyiapkan diri buat ujian. Jadi, maaf ya fic yang 'Kok Gitu Sih?' bakalan apdet entah kapan. Makasih buat semua yang udah ngereview chap 1. Ternyata review fic pertama lebih banyak daripada fic-fic sesudahnya. Hn…….

Maaf kalo di chap ini banyak kekurangannya, yaw!!

Minta reviewnya dong!! Pleaseeee!!!

Buat Review yang masuk,thanks banget. Trus Emma kayaknya gak bakal jadian ama Kiba deh! Soalnya Kuchi ngggak sebaik itu sama Emma! Ho...Ho!

Sayonara sampai chapter depan!!