Woy!!Woy!!Woy!!
Chapter 3 dah apdet nih!!! Hik..Hik..Udah dari tahun kemaren Kuchi nggak nge-apdet ni cerita. Dari tahun 2008-2009 loh! (Stres!).
Kalo udah baca review, ya???
WARNING ! Sasuke-nya sedikit OOC!
Chapter 3
Suasana di SHS 12 Konoha masih sama kayak hari-hari biasa. Yang baru hanyalah berita jadiannya Hinata sama Naruto. Sejak kejadian pernyataan cinta yang memalukan oleh Naruto, anak X-3 dan X-5 tambah deket aja tuh.(Grupnya Naruto aja). Siang ini mereka lagi ngobrol-ngobrol di kantin.
"Ngebosenin banget sih nih hari" Shikamaru seperti biasa menggerutu.
"Emang setiap hari lo ngebosenin, kan?" timpal Temari sambil tersenyum. Shikamaru membalasnya.
"Cie,, makin mesra aja nih!" goda Naruto.
"Apaan sih! Kayak lo ama Hinata enggak aja. Tiap hari kan lo penginnya kalo makan siang disuapin Hinata mulu." Balas Temari sambil menutupi mukanya yang memerah.
"Ih, biarin! Kita kan udah jadian. Lo ama Shikamaru kapan, Tem?" goda Naruto lagi. Shikamaru dan Temari sama-sama blushing.
"Eh, kalian enak banget sih! Gue ama siapa dong?" Kiba mulai bicara.
"Sama Emma aja. Dia juga single kan? Entar jadi Emma Inuzuka dong!" kata Naruto.
"What?? Aku ama Kiba?? Kalo sampe gitu, dunia udah mau kiamat tuh! Iiihhh….Kalo ama Daniel Radcliffe ato ama Elijah Wood aku mau" jawab Emma panjang lebar.
"Emma khayalannya tinggi, yah!" tambah Hinata. Yang lainnya ngakak.
"Eh, Emma. Aku punya tebak-tebakan nih. Dengerin yah. Aku bilang lawan kata. Ehm…Siang?" Kiba mulai.
"Malam" jawab Emma."Tinggi?"
"Pendek"
"Jelek?"
"Cakep"
"Kayak gue nih!" Naruto tiba-tiba motong pembicaraan." Shut up!" kata Emma kejam."Lanjutin Kib!"
"Putih?"
"Hitam"
"Rajin?"
"Males"
"Cerah?"
"Mendung"
"Salah!" teriak Kiba.
"Kok salah sih? Apaan emang jawabannya? Hujan, ya?" kata Emma bingung.
"Salah juga" jawab Kiba. Yang lain juga heran. Kok salah sih?
"Aku bilang lawan kata. Nih, gue ulang. Siang?"
"Malem"
"Tinggi?"
"Pendek"
"Rajin?"
"Males"
"Cerah?"
"Hujan"
"Salah!" kata Kiba lagi.
"Kok salah mulu sih? Kasih tau aja deh yang bener" Emma mulai kehabisan kesabaran.
"Nih ya, kan aku bilang lawan kata. Siang ama Malem, Tinggi ama Pendek, Rajin ama Males, Cerah lo bilang ama ujan. Kalo gue bilang salah, lawan katanya apa?" jelas Kiba.
"Bener" jawab Emma rada ragu-ragu.
"Ya bener! Kalo gue bilang salah, lo tinggal jawab bener! Duh, tebak-tebakan kayak gini aja kok nggak bisa, sih?" Kiba ngejelasin dengan lebih rinci.
"Ah kurang ajar nih!" Emma marah-marah.
"Eh, semester ini ada kejadian yang rame, nggak ya?" kata Naruto. Yang lain geleng-geleng kepala.
"Apa semester ini nggak ada anak baru, ya?" Tanya Temari. Yang lain ngangkat bahu. "Mungkin ada, tapi nggak tahu di kelas mana" jawab Shikamaru.
"Eh, bosen nih disini. Ke kelas yuk!" ajak Naruto. Akhirnya mereka semua kembali ke kelas masing-masing. Anak-anak X-5 mampir dulu ke kelas X-3.
"Eh, buku Matematik aku ketinggalan di loker nih! Aku ambil dulu, ya!" seru Naruto. Naruto nutup pintu kelas dan berlari ke lokernya. Yang lain pada duduk-duduk.
"Duh, panas banget sih ni hari" keluh Shikamaru lagi.
"Harusnya di setiap kelas tuh di pasangin AC! Kan, keren" kata Emma. Kiba ngangguk. "Tapi biayanya mahal, gila!" tambah Kiba.
"Eh, Hinata. Tolong bukain pintunya dong! Panas banget nih!" kata Temari. Hinata lalu berjalan kearah pintu. Pintu kelas itu dibukanya ke arah luar. Pas Hinata buka pintu,
"AADDAAWW!!!" Hinata langsung ngeliat ke balik pintu. "Ya ampun, Naruto-kun! Naruto-kun nggak apa-apa? Gomen, aku nggak tahu ada Naruto-kun." Kata Hinata. Yang lain pada ketawa ngeliatnya.
"Makanya ati-ati dong, Nar! Muka lo kejeduk pintu deh!" seru Kiba. "Ah, dasar lo! Tertawa di atas penderitaan orang lain!" Naruto mencak-mencak.
"Eh, dah masuk nih! Kib, Nar, ke kelas yuk!" ajak Temari. Kiba dan Naruto lalu mengikuti Temari. "Bye semuanya!"
X~Z
Pulang sekolah, hujan turun tanpa ampun.
"Yah, kok ujan sih! Tadi panas banget juga" Emma mulai ngomel.
"Mana gak bawa payung lagi" tambah Hinata. Temari malah senyum-senyum. "Wah ujan! Keren banget!" kata Temari ceria.
"Temari! Apaan sih! Kayak kagak pernah liat ujan aja!" komentar Kiba.
"Emang jarang liat ujan. Di Suna kan jarang ujan" jelas Temari.
"Duh, gimana nih pulangnya??" kata Hinata bingung.
"Hinata, aku anterin pulang aja, yuk! Tapi aku nggak bawa payung." tawar Naruto. Muka Hinata sedikit memerah.
"Apa nggak apa-apa, Naruto-kun?" Tanya Hinata ragu-ragu. Naruto mengangguk.
"Eh, Nar, pake daun pisang aja tuh!" kata Kiba sambil cekakan. Yang lainnya pada ketawa.
"Ah, kalian! Yuk, Hinata!" ajak Naruto. Naruto lalu melepas jaket abu-abunya dan memakainya untuk melindungi Hinata dari hujan. "Dah kalian!!" kata Naruto. Mereka berdua lalu pergi.
"Yah, kita mau ngapain dong sekarang??" kata Emma.
"Shikamaru! Ujan-ujanan yuk!" ajak Temari asal. Shikamaru ngangkat alis. "Heh?"
"Ayo!! Tasnya simpen sini aja biar nggak kebasahan!" Tanpa pikir panjang, Temari menarik lengan Shikamaru dan membawanya menikmati hujan. "Temari!! Tunggu!! Aku nggak suka ujan-.."
"Apa?? Ke taman belakang, yuk!" Temari tidak mengacuhkan Shikamaru. Temari lalu menggeret Shikamaru ke taman belakang. Membiarkan Emma dan Kiba berdua disitu.
"Yah, ditinggalin juga. Sekarang kita mau ngapain nih??" kata Kiba.
"Kita? Lo aja kali, aku kan bawa payung. Nunggu disini bareng kamu?? Ogah deh!! Bye!!" Kata Emma sambil mengeluarkan payung dari dalam tasnya.
"Eh–Eh, Ma, tunggu. Sini payungnya aku pinjem!" kata Kiba. Emma ngangkat bahu, "Nggak Mau!!" jawab Emma.
"Cepetan!!"
"Enggak!!"
"Cepetan!! "
"Enggak!! Enggak!! Enggak!!" kata Emma sambil setengah teriak kali ini.
"Ya udah! Kita buat kesepakatan. Kamu jawab tebak-tebakan dari aku dan kalo kamu nggak bisa jawab, payungnya aku bawa. Gimana, deal?" kata Kiba. Nawarin kesepakatan yang emang cuma nguntungin dia.
"Ok deh!!" kata Emma.
"Ok. Mulai. Ehm…Dimiliki oleh kucing tapi tidak dimiliki oleh binatang lain. Apa itu??" kata Kiba dengan tebak-tebakannya.
"Ehm…apa ya? Bulunya?" jawab Emma.
"Semua binatang punya bulu kali!" kata Kiba. "Ikan nggak punya bulu kali! Kalo mukanya?" jawab Emma lagi. "Semua binatang punya muka kali!" kata Kiba lagi.
"Ekornya?"
"Bukan!"
"Ok. Aku nyerah. Apaan emang?" Tanya Emma penasaran. "Anak kucinglah! Emang ada anjing melahirkan anak kucing??" kata Kiba sambil ngerebut payungnya Emma.
"Eh…Tunggu dulu. Kalo kamu bisa jawab tebak-tebakan dari aku, baru kamu boleh ambil tuh payung!" kata Emma. Kiba ngangguk.
"Nih, aku bilang kata ulang. Alat pemotong padi: Ani-ani. Binatang penghisap nectar: Kupu-kupu. Hewan yang jalannya lama: Kura-kura. Kalo kakek yang suka makan semut??" Tanya Emma.
"Hah? Apaan?? Yang suka makan semut kan, apa namanya? Tapir? " Tanya Kiba nggak sabaran. Emma geleng-geleng. "Bukan! Nyerah nih?" kata Emma.
"Apaan emang?" Kiba udah nggak sabar. "Aku bilang kata ulang. Kakek yang suka makan semut? Amit-amit" jawab Emma.
"Nih, jalan besar disebut jalan raya. Panen besar disebut panen raya. Kebun besar disebut kebun raya. Kalo celana besar disebut apa?" balas Kiba.
"Hah? Celana…raya??" jawab Emma ragu-ragu.
"Salah! Celana besar ya disebut 'kedodoran'!" kata Kiba sambil tertawa. Emma senyum kepaksa.
"Oh, aku punya lagi. Disebut apa kue tart yang diatasnya ada bawangnya?" Tanya Emma.
"Ehm..apa ya?" Kiba garuk-garuk tengkuk. "Kue vampire?" jawab Kiba.
"Salah banget. Yang bener kue tart salah adonan!" kata Emma sambil ketawa-ketawa. Kiba ikut tertawa kali ini.
"Eh, aku punya lagi…" Dan akhirnya mereka berdua yang tadinya rebutan payung malah perang lelucon.
Parah…
X~Z
Sementara itu…
Naruto dan Hinata sedang berlari-lari menghindari hujan. Mereka akhirnya berteduh dulu di depan sebuah restaurant. Hinata terlihat menggigil. Naruto meliriknya.
"Hinata?? Apa kamu kedinginan?" Tanya Naruto ramah.
"Eh, enggak kok." Jawab Hinata sambil tersenyum. Naruto membalas senyumannya.
"Eh, apa ntar kamu nggak dimarahin pulang ujan-ujanan gini?" Tanya Naruto lagi. "Nggak papa, Naruto-kun" kata Hinata menenangkan Naruto.
"Beneran nih?" Tanya Naruto lagi. Hinata mengangguk. Naruto lalu mengelus rambut Hinata. Hinata blushing.
"Eh, Hinata. Kan kita udah keujanan nih, kenapa nggak sekalian ujan-ujanan aja?" usul
Naruto. Usul yang gila memang.
"Eh? Tapi Naruto-kun, gimana kalo nanti kita sakit?" Tanya Hinata polos.
"Ya, kita kan suka dan duka ditanggung bersama" kata Naruto sedikit ngegombal.
"Ehm…Baiklah!" kata Hinata akhirnya. Naruto lalu menggandeng tangan Hinata dan membawanya berlari. Berlari menuju lebatnya hujan sambil tersenyum riang. Senyum yang teramat manis terkembang di wajah Hinata. Begitu juga dengan Naruto. Senyuman lebar menghiasi wajahnya.
Semua itu…karena rasa kasih sayang …
X~Z
Sesampainya di taman belakang…
Shikamaru memperhatikan Temari. Gadis itu langsung merentangkan tangannya sambil berputar-putar. Rambutnya yang dikuncir empat basah kuyup. Shikamaru tersenyum.
Dasar cewek aneh, batinnya.
Puas berputar-putar, Temari menendang genangan air ke arah Shikamaru. Membuat lelaki itu lebih basah lagi. Shikamaru lalu membalas gadis itu. Puas bermain-main, mereka merebahkan diri di rumput yang basah. Memejamkan mata dan menikmati air hujan yang menyirami tubuh mereka. Tak berapa lama, Shikamaru melirik Temari. Wajah Temari yang basah oleh air hujan itu terlihat semakin cantik saja. Baru kali ini Shikamaru merasa bahwa hujan itu menyenangkan…
Shikamaru kembali memandang langit sambil memejamkan matanya. Tangan Temari tiba-tiba menggenggam tangannya. Shikamaru menoleh kearah Temari. Temari masih tetap memandang langit sambil memejamkan matanya. Tampaknya ia sedang berada dalam pikiran bawah sadarnya. Temari lalu bangkit dari tidur-tidurannya.
"Hey, Shikamaru! Rambut nanasmu jadi aneh bila basah" kata Temari refleks.
"Hn..kau juga aneh!"
"Aku tak seaneh dirimu!" balas Temari lagi.
"Terserah!" jawab Shikamaru seadanya.
"Hm…Andai aku bisa ada disini selamanya…" Gumam Temari.
"Kau bilang apa?" Tanya Shikamaru heran.
"Ah, tidak!" Elak Temari. Dalam guyuran hujan, mereka sama-sama memendam suatu perasaan. Yaitu kasih sayang…
X~Z
Keesokan paginya…
"HATSYI!" Naruto dan Temari sama-sama bersin.
"Woy, napa lo Tem? Pasti gara-gara kemaren ujan-ujanan!" kata Naruto.
"Lo juga kan?" Tanya Temari balik.
"Wah, wah! Kasian banget sih kalian. Untung aja gue gak ujan-ujanan." Kata Kiba.
"Kemaren lo pulang pake apaan Kib? Pake daun pisang? Bukannya kemaren lo juga nggak bawa payung?" Tanya Temari dan Naruto heran.
"Iya. Tadinya sih gue mau balik ujan-ujanan. Ternyata si Emma bawa payung. Tadinya sih payungnya mau gue pinjem. Tapi karena nggak boleh, akhirnya gue ma dia main tebak-tebakan. Siapa yang bisa nebak, dia boleh bawa tu payung." Jelas Kiba.
"Trus?" kata mereka berdua pengin tahu.
"Trus kita malah main tebak-tebakan. Eh, pas diliat, ujannya malah udah reda. Ya udah, akhirnya tu payung nggak dibutuhin deh!" kata Kiba lagi.
"Stres!" komentar Temari dan Naruto.
"Kalian sendiri ngapain??" Kiba penasaran.
"Mau tahu aja" kata Temari. "Iya nih!" tambah Naruto sambil memasang earphone-nya.
"Ah, dasar kalian pelit!" komentar Kiba. Temari mencibir.
X~Z
Kelas X-3 …
"HATSYI!" Hinata bersin.
"HATSYI!" Shikamaru ikut-ikutan bersin.
"Duh, Hinata. Pasti kemarin kamu ujan-ujanan ya?" Tanya Emma. Hinata mengangguk.
"Shikamaru juga keliatannya sih kena flu juga. Temari kan ngajak dia ujan-ujanan kemarin" kata Emma. "Untung aja aku nggak keujanan. Kalau aku sakit kan nggak enak. Musti diem di rumah dan nggak bisa ngejailin orang" Emma keliatannya ngoceh sendiri karena Hinata keliatannya nggak konsen. Mukanya udah kayak kepiting rebus.
"Eh, Hinata! Kamu nggak papa??"
X~Z
Di kelas X-5, Pelajaran Kakashi-sensei, Bahasa Jepang.
"Woah!!!" Kiba nguap. Entah keberapa kalinya dia melakukannya dalam pelajaran ini. Temari sibuk menulis sesuatu dalam diary-nya.
Pasti tentang Shikamaru, Pikir Kiba.
Semua begitu membosankan sampai Naruto yang duduk paling belakang berteriak,
Almost
laughed myself to tears,
hahahahahaha
"Ada apa itu?" Tanya Kakashi-sensei terkejut. Hampir semua murid memandang Naruto. Sementara yang di pandangin blushing.
"Eh, maaf sensei. Nggak sengaja ketiduran tadi. Terus mimpi lagi konser deh." Elak Naruto. Seisi kelas langsung tertawa.
"Eh, Nar! Lu pasti manggungnya di kolong jembatan" teriak Kiba. Seisi kelas tambah keras tertawa.
"Udah, udah! Naruto, kamu berdiri di luar sekarang!" Perintah Kakashi. Dengan langkah yang berat Naruto beranjak ke luar kelas.
Nggak papa lah. Orang di kelas juga aku ngantuk! Pikir Naruto.
"Baik anak-anak! Kita lanjutkan" seru Kakashi-sensei.
Sementara itu Naruto…
"Huh payah. Kenapa pake ketiduran segala, sih! Dasar Naruto baka" Naruto yang udah stress mulai ngoceh sendiri. Tiba-tiba, seorang murid lelaki berwajah tampan dan berambut ayam lewat di depannya. Dengan senyum sinis, dia melirik Naruto. Naruto naik darah.
"Heh, rambut ayam! Ngapain liat-liat!" bentak Naruto. Si cowok rambut ayam itu langsung menghampiri Naruto.
"Apa lo bilang? Rambut ayam? Daripada elo kepala duren!" balas cowok rambut ayam itu.
"Siapa sih lo? Cari masalah aja!" kata Naruto lagi.
"Gue Uchiha Sasuke. Udah deh nggak usah ngajak berantem. Payah!" kata cowok bernama Sasuke itu sambil pergi meninggalkan Naruto.
Cih, kurang ajar banget tu rambut ayam. Uchiha, ya? Awas kalo ketemu lagi! Gerutu Naruto dalam hati. Tiba-tiba, Kakashi-sensei muncul.
"Naruto, ngapain kamu teriak-teriak sendiri? Kamu nggak mimpi lagi, kan?" Tanya Kakashi.
"Eh, enggak Kakashi sensei. Saya cuma latihan drama aja kok!" Elak Naruto –lagi-
"Oh, ya udah! Jangan terlalu berisik, ya!" nasihat Kakashi sambil kembali menutup pintu.
"Wuih, selamat deh gue!" kata Naruto sambil menghela napas.
Istirahat…..
"Hey, Nar! Kok lo bisa ketiduran sih?" Tanya Kiba heran. Temari mengangguk.
"Tau. Gue kecapean kali!" kata Naruto ngasal.
"Mana lo pake nyanyiin lagu gue lagi" tambah Kiba.
"What? Lagu elo? Sejak kapan lo jadi personelnya Avenged Sevenfold?" Bales Naruto. Kiba cengegesan.
"Udah deh kalian! Ke kantin yuk! Nyari anak X-3." ajak Temari.
"Bilang aja nyari Shikamaru. Pake bawa-bawa anak X-3 lagi!" goda Naruto. Temari blushing. "Udah ah! Cepetan!" bentak Temari.
Di kantin…..
"Hey, kalian! Disini!" teriak Emma sambil melambaikan tangannya pada Trio anak X-5.
"Wah, udah pada pesen makanan nih! Em, pesenin dong!" kata Kiba.
"Enak aja. Punya tangan punya kaki, pesen sendiri!" Sembur Emma.
"Ah dasar." Gerutu Kiba. Kiba lalu pergi memesan makanan.
"Eh, tau anak baru yang namanya Uchiha…Uchiha…Uchiha siapa ya namanya? Uchiha ayam kali" Tanya Naruto.
"Uchiha Sasuke kali!" Emma menjawab.
"Nah itu! Kok lo tau sih?" Tanya Naruto heran.
"Ya iyalah. Orang tu anak masuk kelas kita. Ya kan Hinata?" tambah Emma.
"Masuk kelas kalian??" Naruto teriak.
"Orangnya kaya gimana?" Tanya Temari. "Lumayan cakep sih. Rambutnya aja yang rada aneh. Mirip ayam gitu deh!" kata Emma.
"Gue jadi pengin liat orangnya deh!" kata Temari.
"Jangan, Tem! Kalo lo mendadak naksir dia, gimana? Shikamaru mau dikemanain?" Goda Kiba yang baru dateng, membuat muka Temari dan Shikamaru sama-sama blushing.
"Hey hey! Lo kok bawa-bawa gue sih? Ngerepotin" Gerutu Shikamaru. Kiba cuma senyum-senyum.
"Eh, tu anaknya" tunjuk Hinata. Mereka semua refleks melihat kearah yang ditunjuk Hinata. Mereka lalu melihat cowok rambut ayam yang sedang menyeberangi lapangan dengan cool-nya. Lalu tangan kirinya menyibakkan rambut birunya, membuat semua orang yang ada di lapangan itu bertekuk lutut dihadapannya.(Cewek doang loh!).
"Wuih, gila! Semua cewek langsung bertekuk lutut gitu" komentar Kiba.
"Wah, Naruto! Kamu punya saingan tuh!" tambah Emma. Maklum, sebelum ada Sasuke, Naruto adalah cowok idola di SHS 12 ini.
"Orang kayak dia nggak mungkin bisa ngalahin aku!" Naruto menyangkal.
"Tapi orangnya lumayan loh!" tambah Temari. Naruto udah amat sangat panas waktu itu.
"Udah ah! BERISIK!!!!" Naruto teriak-teriak gajebo. Yang lain langsung nengok dan udah nggak pada ribut ngomongin Sasuke. Mau kena Rasengan loe?(Tunggu! Kok Naruto bisa pake Rasengan sih? Sudahlah, LUPAKAN!)
Tiba-tiba cowok berambut ayam itu menghampiri meja Naruto dan kawan-kawan.
"Lo bukannya yang tadi berdiri depan kelas itu, ya?" Tanya Sasuke angkuh.
"Iya. Emang napa? Ada masalah?" balas Naruto sengit.
"Nggak. Males banget gue cari masalah ama lo! Nggak level" jawab Sasuke dengan angkuhnya. Muka Naruto merah padam.
"Eh, kamu temen sekelas aku, ya?" Tanya Sasuke tiba-tiba pada Hinata. Hinata mengangguk. "Nama kamu siapa?" Tanya Sasuke lagi.
"Hinata" jawab Hinata lembut.
"Heh, ayam!! Jangan ganggu cewek gue!!" teriak Naruto sambil berdiri. Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Oh, jadi dia cowok lu, Hinata?" Sasuke memalingkan mukanya kearah Hinata. Hinata mengangguk lagi. "Kok lo mau ama dia sih? Rasanya nggak ada yang bisa dibangggain dari dia deh!" kata Sasuke dengan nada bicara yang sangat menyebalkan.
Naruto lalu berusaha memukul Sasuke, tapi udah keburu ditahan sama Kiba dan Shikamaru. Sasuke cuma menyibakkan rambutnya.
"Sabar Nar! Bisa berhadapan sama kepala sekolah lo!" kata Kiba menenangkan Naruto.
"Kayaknya udah panas banget disini ya! Gue cabut dulu deh. Oh ya Hinata, sampai jumpa di kelas ya!" kata Sasuke sambil beranjak pergi. Kiba dan Shikamaru melepaskan Naruto.(Dari tadi dirante ).
"Sombong banget tu anak. Cakepnya jadi ilang, deh!" komentar Emma.
"Gue setuju ama lo, Em!" tambah Temari.
"Hinata, aku mau kamu jauhin dia!" perintah Naruto. Hinata mengangguk takut-takut.
"Heh, Shikamaru! Emma! Gue titip Hinata ke kalian, ya!" tambah Naruto. Shikamaru dan Emma cuma ngangguk. Ngeliat Hinata yang rada terguncang, Naruto lalu duduk disebelahnya.
"Hinata, maafin aku ya? Aku bener-bener marah tadi" Kata Naruto sambil menggenggam tangan Hinata.
"Nggak papa kok, Naruto-kun. Aku juga ngerti" jawab Hinata.
"Woy! Mesra-mesraannya udah dulu. Udah bel tuh!" teriak Kiba. Mereka semua lalu beranjak ke kelas masing-masing.
TBC…..TBC…….TBC……TBC…….
TalKShoW
Sasuke : "Kok sifat gue beda jauh ama aslinya sih?"
Kuchi : "Jangan salahin gue. Emma yang minta kok!"
Sasuke : "Emang dia mintanya gue jadi kayak gimana?"
Kuchi : "Dia maunya lo jadi tokoh antagonis"
Sasuke : "Ya tetep aja elo yang ngerubah! Awas lo ya!" (Sasuke udah nyiapin Chidori)
Kuchi : "Waa!! Tidak!! Ampuni saya!!" (Kabur)
Wahahahaha….
Selesai juga nih chapter 3. Maaf buat Sasuke loverz, ya! Soalnya sifat Sasuke bener-bener dirubah di fic ini. Bukan Kuchi yang ngerubah lo. Emma yang minta. Suer! Salahin Emma, jangan ke Kuchi.
Eh, review ya???
Dan sampai jumpa sampe bulan selanjutnya!!! Bye!!!
