Disclaimer : Masashi Kishimoto
Konnichiwa! (?)
Chap 4 dah apdet nih! Yuu baru sadar kalo fic ini di apdet satu tahun sekali. Terakhir kali Yuu nge-update fic ini soalnya pas Januari 2009. Eh, sekarang udah Januari 2010. –Parah-
Ok, ini chap 4. Enjoy!
Warning : AU, OOC, straight pair, bahasa tidak baku
Chapter 4
Seorang gadis manis berambut lavender berlari menyusuri lorong sekolahnya yang sepi. Wajahnya yang putih bersih dihiasi oleh butir-butir keringat. Kedua tangannya yang lembut membawa dua buah buku tebal bersampul coklat. Dari sorot matanya, terlihat bahwa ia sedang diliputi kecemasan yang amat sangat. Bagaimana tidak, seorang Hinata Hyuuga terlambat datang ke sekolah pada hari Senin. Apa yang bisa ia katakan pada gurunya? Terlambat bangun karena tidak bisa tidur memikirkan Naruto? Bisa ditertawakan seisi sekolah kalo dia menjawab seperti itu. Atau mungkin, berbohong saja?
Tanpa disadari gadis tersebut, seseorang mengikutinya di belakang.
"Hai!" Sapa orang itu.
"Ah, Sasuke-kun. Ohayo." Sapa gadis tersebut seraya menghentikan langkahnya. Pemuda yang dipanggil Sasuke itu kini berdiri tepat di sampingnya.
"Kau terlambat?" Tanya pemuda rambut ayam tersebut sambil menyisir rambutnya menggunakan tangan kanannya.
"I- Iya. Sasuke-kun sendiri kenapa berada disini?" Tanya Hinata sambil kembali melangkahkan kakinya menuju kelas.
"Sama sepertimu. Aku juga terlambat." Jawabnya santai.
"Ah, Sasuke-kun! Kelas sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu. Ayo kita bergegas!" Hinata yang menyadari bahwa situasinya kini tidak memungkinkan untuk melakukan percakapan ringan kembali berlari. Diikuti oleh pemuda berambut ayam tersebut.
X~Z
Sementara itu di kelas X-3…
'Mana Hinata? Tumben telat dateng. Apa ada apa-apa, ya?' Batin Emma yang kini sedang sibuk mencatat sesuatu di mejanya dengan serius. Setelah diteliti lebih lanjut, apa yang Emma tulis bukanlah pelajaran hari itu. Ternyata dia sedang sibuk mencatat sebuah lirik lagu dari buku yang dipinjamkan oleh temannya. –stres-
"Baik, anak-anak. Apa ada pertanyaan?" Tanya Kakashi-sensei yang kebetulan menggantikan guru yang tidak masuk.
BRAK!
"Maaf sensei, kami terlambat." Ujar Hinata dan Sasuke berbarengan. Mendengar hal tersebut, seisi kelas langsung menyoraki mereka.
"Terlambatnya kok janjian?" Celetuk salah seorang siswa. Kontan pertanyaan tersebut menimbulkan gelak tawa dan rona merah di pipi kedua murid yang baru saja datang.
"Kami bertemu di jalan kok." Jawab Sasuke tenang dan berusaha untuk tersenyum. Padahal dalam hatinya dia ingin sekali mengutuk siswa kurang ajar itu.
"Yah, sudahlah. Kalian duduk saja. Aku juga sering terlambat, kok." Ujar Kakashi-sensei yang langsung disoraki oleh murid-muridnya. Mendengar hal itu, Hinata dan Sasuke langsung menuju bangkunya masing-masing.
"Hinata, tumben kamu telat. Kenapa?" Tanya Emma tanpa mengalihkan pandangannya dari catatan yang ia buat.
"Ah, aku cuma terlambat bangun, Emma-chan."
"Oh."
"Ano–– Kenapa Kurenai-sensei nggak masuk?"
"Entahlah. Katanya sih sakit." Jawab Emma. Sebenernya dia sendiri nggak tahu kenapa Kurenai-sensei nggak masuk.
"Ooh." Gumam Hinata sambil mengeluarkan buku-bukunya.
X~Z
Di kelas X-5 …
"Itu tadi penjelasan singkat mengenai tabel periodik." Jelas Anko-sensei.
Anak-anak memandangnya dengan pandangan kosong.
'Anko-sensei ngejelasin 20 halaman buku paket dan dia masih bilang itu singkat?" Pikir Temari. Sepertinya teman-temannya juga setuju. Kalo 20 halaman itu termasuk singkat berarti yang termasuk 'panjang' itu berapa halaman ya?
Kiba yang duduk di bangku paling belakang mulai gelisah. Dia paling nggak kuat ngikutin pelajaran ini. Dia hampir saja ketiduran kalo nggak dilemparin kertas sama Naruto. Dengan mata setengah terbuka, dia mencoba untuk membaca sesuatu yang mungkin bisa membuatnya bertahan menghadapi pelajaran ini. Tanpa disangka, dia menemukan secarik kertas di bawah bangkunya. Dengan wajah penasaran, dibacanya kertas tersebut.
Fugaku Uchiha, salah seorang pengusaha terbesar di Jepang tewas terbunuh pada hari Rabu, 16 Desember XXXX. Beliau ditemukan bersimbah darah––dengan gunting rumput yang menikam jantungnya–– di kamar kerjanya pukul 2 dinihari. Diduga pelaku pembunuhan adalah putra sulung Fugaku Uchiha sendiri, Uchiha Itachi.
Kiba tercengang membaca cuplikan berita tersebut. Anak mana yang tega membunuh orang tuanya sendiri.
'Eh, sepertinya nama ini familiar sekali. Aku pernah mendengarnya dimana ya?' Pikir Kiba sambil mengerutkan keningnya.
PLUK!
"ADAW! Siapa yang ngelemparin kertas?!" Teriak Kiba.
"Ehem. Aku yang melempar kertas. Kenapa?" Jawab Anko-sensei sambil melipat tangannya di depan dada.
"Oh, sensei. Nggak papa, sensei. Dikirain Naruto yang iseng, sensei." Elak Kiba sambil tersenyum kecut.
"Kamu nggak memperhatikan, ya?" Tanya Anko-sensei lagi.
'Mampus. Ketauan lagi. Gimana nih?'
"Eh, enggak kok sensei. Saya cuma lagi heran aja." Jawab Kiba sambil senyum-senyum nggak jelas.
"Heran kenapa?"
"Kok bisa ya ada orang yang bikin tabel periodik. Apa dia nggak cape ngurutin semua itu?" Tanya Kiba polos.
"KAMU INI! KELUAR!" Teriak Anko-sensei sambil menunjuk kearah pintu menggunakan tangan kirinya. Kiba cuma tersenyum pasrah mendengar perintah sensei-nya itu. Dengan langkah lunglai, dia keluar dari kelas.
'Enak banget Kiba! Bisa keluar dari pelajaran membosankan ini.' Pikir Naruto iri.
Sementara itu, Kiba yang udah ada diluar kelas bingung mau ngapain. Akhirnya dia duduk-duduk aja di koridor. Baru aja Kiba duduk, terlihat dua orang yang familiar dari ujung lorong. Kiba menyipitkan matanya.
'Kayaknya gue kenal. Siapa ya?' Pikir Kiba sambil terus mengamati kedua orang tersebut.
Setelah jarak mereka sudah sedikit mendekat, Kiba akhirnya menyadari siapa mereka.
'Oh, Hinata dan si rambut ayam. Eh, rambut ayam? Kenapa si rambut ayam itu bersama Hinata?' Teriak Kiba dalam pikirannya.
Hinata dan Sasuke masing-masing membawa tumpukan buku. Mereka yang melihat Kiba duduk di koridor tersenyum.
Ralat.
Hinata tersenyum melihat Kiba sedang duduk di koridor.
"Kiba-kun, kenapa duduk disini?" Tanya Hinata ramah.
"Ah, biasa. Dikeluarin dari kelas." Jawab Kiba santai.
"Lo temennya si duren ya?" Tanya Sasuke angkuh.
"Duh, Hinata. Kayaknya ada yang ngomong tapi kok nggak ada orangnya, ya?" Ujar Kiba dengan tampang innocent. Sasuke yang ngeliat itu berharap dia lagi nggak bawa buku sekarang supaya bisa menghajar lelaki dengan tato taring merah di kedua pipinya itu.
"Hinata, ayo. Nggak ada gunanya kita diem disini." Balas Sasuke.
"Ah, Kiba-kun. Duluan ya."
"OK."
Baru aja mereka berjalan lima langkah, Kiba kembali memanggil Hinata.
"Eh, Hinata!"
"Hm?"
"Hati-hati, ya! Kayaknya disebelah lo ada setan deh!" Teriak Kiba santai. Hinata cuma senyum kepaksa dan buru-buru pergi dari situ. Sasuke yang belum juga bales dendam sama Kiba mukanya udah merah. Buru-buru dia melangkah pergi dari tempat itu.
'Cih, dasar tato aneh. Ntar gue bales lo!' Pikir Sasuke sambil memikirkan apa yang akan dilakukannya terhadap Inuzuka Kiba.
Kembali ke tempat Kiba. Setelah merasa puas mengejek si rambut ayam, Kiba memikirkan pemandangan yang baru saja dia lihat.
'Kenapa Hinata bisa bareng sama si rambut ayam? Kalo Naruto tau kan bisa ngamuk-ngamuk dia. Gue bilang nggak ya kalo gue tadi ngeliat mereka?'
Kiba masih diliputi perasaan kebingungan antara menyampaikannya atau tidak. Setelah sekian lama berdiam diri, seseorang menepuk pundak Kiba.
"Hey, Kib! Ngapain duduk disini?" Tanya Shikamaru yang kebetulan lewat di depan kelas X-5, dan kini duduk di samping Kiba.
"Oh, Shikamaru. Temari masih di dalem kelas tuh." Jawaban Kiba sukses membuat Shikamaru melongo.
"Perasaan gue nanyain kenapa elo duduk disini deh. Kenapa nyasar ke Temari?" Tanya Shikamaru sambil mengerutkan keningnya. Yang ditanya cuma senyum-senyum.
"Yah, mungkin aja entar pertanyaan lo nyambung-nyambung ke Temari." Jawab Kiba dengan wajah tanpa dosa. Shikamaru memandangnya dengan tatapan –gue-bunuh-lo-
"Oh, iya. Gue dikeluarin dari kelasnya Anko-sensei." Sambung Kiba. Shikamaru manggut-manggut. "Jadi Temari masih di kelas, ya?" Tanya Shikamaru.
"Tuh, kan! Gue bilang juga apa! Pasti lama-lama pertanyaan lo nyerempet-nyerempet ke Temari." Ucapan Kiba sukses membuat semburat merah di pipi Shikamaru.
"Eh, Shikamaru! Kok tadi gue liat Hinata bareng ama anak baru yang bikin Naruto kesel kemaren sih?" Bisik Kiba. Takutnya Naruto yang masih di kelas ngedenger semua pembicaraannya dengan Shikamaru.
"Iya. Tadi pagi aja mereka terlambat bareng."
"Oooh."
KRING!!
"Wah, bel istirahat tuh. Ke kantin yuk!" Ajak Shikamaru. "Bentar! Nggak nungguin pacar lo dulu?" Kiba bertanya dengan tampang polosnya dan sukses membuahkan sebuah jitakan di kepalanya.
"KIBA!" Teriak Uzumaki Naruto dengan suara super bising yang sukses membuat murid-murid pingsan di tempat. –halah- Yang dipanggil hanya bisa menutup telinganya.
"Jangan teriak-teriak, Naruto!" Protes Temari sambil menjitak kepala sahabatnya tersebut.
"Auw! Gomen, ne."
"Hai, Temari." Sapa Shikamaru sambil tersenyum. Temari yang baru keluar kelas langsung gelagapan. "Hai."
"Hei, kalian! Ada yang lihat Hinata?" Tanya Emma sambil berjalan kearah mereka.
"Kita baru keluar dari kelas." Jawab Kiba, Naruto, dan Temari berbarengan.
"Lo udah keluar dari tadi, Kib." Koreksi Temari.
"Oh, tadi sih gue ngeliat dia. Katanya mau ke ruang guru sama si rambut ayam." Ucap Kiba sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"AAPPPAA???!!!" Teriak Naruto lagi. Hal ini sukses membuat siswa-siswi dalam radius 1 Km mengalami sakit kepala. (?)
"Sabar, Naruto-kun. Aku tahu ini berat buat kamu. Tapi mungkin Hinata lebih milih Sasuke daripada kamu. Kamu yang tabah aja, ya." Ucap Emma dengan nada tidak bersalah. Semua temannya yang ada disitu langsung memberinya deathglare. Bukannya bikin suasana cerah malah makin parah.
"Emma, nggak ada yang bilang kalo Hinata selingkuh." Jelas Temari dengan sabar. Sahabatnya yang satu ini emang suka nyimpulin suatu hal seenaknya.
"Aku cuma mencoba memperkeruh suasana, kok." Jawab Emma datar. Malah terkesan seperti orang yang stress berkepanjangan. Semua temannya sweatdrop. Tak disangka, Naruto yang udah diliputi nafsu membunuh itu langsung berlari kearah ruang guru.
"Awas! Rubah ngamuk!" Teriak Kiba pada murid-murid yang berjalan di koridor yang dilewati Naruto.
"Bego! Kejar, dong!" Perintah Temari.
"Iya, iya. Ayo, Shikamaru!" Ajak Kiba sambil berlari mengejar Naruto. Shikamaru cuma pasrah mengejar teman-temannya.
"Kira-kira Naruto bakalan mukulin Sasuke, nggak?" Tanya Emma polos. Temari yang berdiri disebelahnya cuma sanggup geleng-geleng kepala.
TBC
Yah, tadinya sih nggak bakal TBC disini. Tapi berhubung pas ngetik ini tiba-tiba mati lampu, (Yang mengakibatkan kebutaan sementara untuk melihat huruf-huruf di keyboard), Kuchi mutusin untuk nerusin fic ini lain kali. –idenya langsung ilang-
Oh, Emma. Sorry baru nerusin fic ini lagi sekarang. Lo udah request dari waktu kita kelas 8, sampe sekarang kita udah nggak satu sekolah. Gomen nasai!!!
Review, please?
