Yewook Present

"Danger; Thespian Love"

Chapter 1: The Meeting

Rated: T (maybe changed soon)

Warning: Alternate Universe, Yaoi life, Vampire fic :3

Disclaimer isn't mine. I just play with the chara~

Enjoy, please~

.

.

.

.

Di dunia ini ada banyak kehidupan. Diantara milyaran manusia yang hidup di muka bumi ini, sebenarnya tak hanya manusia saja yang benar-benar hidup. Diantara mereka ada juga seorang manusia biasa, penyihir, vampir bangsawan, vampir darah campuran, dan vampir darah Murni Istimewa. Tetapi banyak yang tak lebih mengetahui daripada manusia. Kenapa? Hanya satu alasan dan itu adalah minoritas. Siapa peduli?

Mari kita jelaskan satu-persatu dari kasta terendah. Ah bukan, sebenarnya tak ada pembagian kasta. Hanya saja bagaimana mereka bertindak dan bersikap akan menjadi sebuah generasi yang akan dipandang.

Pertama adalah vampir bangsawan. Seorang vampir darah Murni Istimewa akan dapat dengan mudah membedakan setiap manusia dari aroma tubuhnya. Dan vampir bangsawan memiliki aroma kayu jati. Vampir bangsawan biasanya memiliki aristokrat sesuai keluarga mereka. Kedua, seorang penyihir memiliki aroma tubuh layaknya tumpukan kapas. Mungkin karena pembawaan mereka yang cukup ringan dengan sihir yang terucap dari lisan mereka tanpa perantara apapun. Berikutnya adalah seorang vampir Darah Campuran, yang memiliki aroma seperti daun. Biasanya seorang 'Darah Campuran' hadir karena pernikahan cinta terlarang seorang vampir Murni Istimewa bersama seorang manusia. Meskipun begitu, keluarga ini adalah yang paling romantis dan menyedihkan, karena cinta mereka yang kuat dan keinginan tak ingin saling menyakiti dan membiarkan seorang manusia (yang biasanya pihak istri) mengandung anak vampir yang tentu saja memiliki hormon berbeda yang lebih kuat dari seorang manusia. Dan biasanya lagi, setelah melahirkan, mereka akan membiarkan anak mereka hidup sendiri karena sang Ibu tak kan bisa bertahan lama. Terlalu menyedihkan karena memang seorang vampir tak bisa menjadikan seorang manuisa biasa menjadi setara dengan vampir Murni. Lain lagi dengan vampir Murni Istimewa, mereka memiliki aroma teh. Kalangan vampir yang sangat terhormat karena kelebihan mereka yang Istimewa, yaitu kenyataan bahwa mereka memiliki kekuatan penyihir secara turun-temurun yang tak kan pernah putus.

.

.

.

Malam yang cerah menghiasi langit kota Seoul hari ini. Manusia-manusia berlalu lalang di trotoar jalan dan di dalam gedung melakukan rutinitas masing-masing individu. Tetapi, siapa yang tahu diantara manusia-manusia itu ada juga yang bukan sepenuhnya seorang manusia? Entahlah. Semua bergantung pada diri masing-masing. Siapa peduli.

Sebuah mobil ferrari merah metalik berhenti di halaman parkir sebuah cafe mini bar. Di atas gedung bernuansa tenang yang bertuliskan La Verita, menunjukan bahwa itu adalah nama cafe tersebut.

Sang Pemilik mobil sport itu keluar dari mobilnya dan menatap pintu masuk cafe itu sejenak sebelum akhirnya ia melangkah kan kedua kakinya untuk benar-benar masuk ke dalam cafe itu.

"Aku merasakan getaran aneh disini."

*o*

Delapan tahun telah berlalu sejak Ramalan yang dilakukan salah satu keturunan vampir Murni Istimewa yang kini hidup di tengah kota Seoul. Dia adalah Kim Jong Woon. Lelaki berumur 25 tahun itu telah mendapatkan cincin petunjuknya beberapa tahun yang lalu. Sebuah cincin permanen yang melingkar indah di jari telunjuk kirinya. Menandakan bahwa dia telah dekat dengan jodohnya. Dengan batu permata lapis lazuli kecil sebagai mata cincin. Dimana batu permata itu akan berubah warna ketika sang Pemilik menemukan Orang yang ditakdirkan untuknya.

Kim Jong Woon dengan pakaian semi formal berwarna tosca itu melangkah dengan perlahan sembari memperhatikan sekeliling dan interior di dalam cafe La Verita ini, berbagai macam bau manusia dan vampir dapat ia rasakan di indera penciumannya yang cukup tajam. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju meja bar berbentuk separuh oval dengan lapisan obsidian yang mewah seperti iris dikedua bola matanya itu.

Mari kita sebut saja dia Yesung (sebuah nama panggilan yang diaberikan kedua orangtuanya) kini duduk di atas kursi bulat dengan lapisan kulit dan busa yang lembut. Ia menaikkan jari-jari kecilnya untuk memanggil bartender yang ada disana. Namun belum sempat sepatah kata yang keluar dari bibir tipisnya, seorang namja berpakaian layaknya seorang bartender mendekatinya dan memberinya salam dengan iringan sebuah senyum yang manis.

"Selamat malam di cafe kami, Tuan. Apa yang ingin Anda pesan malam ini? Kopi atau wine?" ucapannnya terdengar halus di telinga Yesung. Lelaki berpakaian kemeja putih yang dilapisi vest hitam khas seorang bartender sedikit membungkuk hormat kepada tamunya. Tak lupa dengan senyuman manis di mulut kecilnya dan tatapan ceria dari kedua irisnya yang bagaikan lelehan karamel sang lelaki berambut cokelat keemasan itu.

Yesung sedikit tertegun menatapnya. Ia merasakan tubuhnya bereaksi dengan detakan jantungnya yang perlahan semakin memacu. Ia juga merasakan cincin yang melingkar di jarinya menghangat. Dan ketika ia tengok kearah jarinya, mata sipitnya terbelalak. Batu permata lapis lazuli di cincin itu berubah warna. Memudar sampai sebening airmata.

Sang Bartender sedikit berdehem pelan karena ucapannya tak digubris oleh Yesung. Membuat Yesung seketika langsung kembali menatap bartender di hadapannya.

"Kopi atau wine? Pilihan yang sulit. Tetapi mungkin malam ini aku ingin robusta." Ucap Yesung membalas senyuman sang Bartender.

"Baiklah, sepuluh menit." Jawabnya lalu meninggalkan Yesung untuk meracik kopinya.

Yesung kembali tertegun dan menatap cincin di jarinya dan lelaki manis yang sedang menyendok bubuk kopi di tempat dimana biasanya seorang bartender menyajikan minuman untuk para pelanggan.

'Kebetulan sekali responnya, mungkinkah dia orangnya? Baunya memang seorang darah campuran. Umm dia juga manis..' batin Yesung sambil terus memperhatikan lelaki yang masih sibuk dengan kopinya di depan mesin penggiling kopi.

"Silahkan Tuan. Robusta kami adalah yang terbaik. Selamat menikmati." Ucap sang Bartender meletakkan secangkir kopi panas yang dibawanya menggunakan nampan kayu coklat dan meletakkan cangkirnya dihadapan Yesung. Begitu perlahan dan anggun sampai rasanya ia meletakkan cangkir itu seperti menerbangkannya tanpa ada suara berbenturan sama sekali antara porselen cangkir dan meja bar.

"Terima kasih." Yesung tersenyum menerima kopinya. "Tunggu, bolehkan aku bertanya satu hal?" Yesung merutuki dirinya sendiri. Untuk apa dia berkata hal seperti itu.

Sang Bartender yang sudah hampir membalikkan tubuhnya kembali tersenyum. "Ada apa, Tuan?"

"Err... itu jadi kau seorang bartender atau barista?" tanya Yesung kemudian. Ia merasa aneh dan tentu saja dia juga tahu jawabannya.

"Mungkin keduanya." Ucap sang Bartender ramah sambil menempelkan nampan yang tadi dibawanya ke dada dan membulatkan jari telunjuk dan ibu jarinya sedikit ke atas sejajar dengan pipi tirusnya. "Saya permisi. Kalau butuh sesuatu tekan lonceng di sebelah kiri Anda." Ucapnya dan kemudian meninggalkan Yesung untuk kembali ke pekerjaannya.

Yesung terkekeh pelan melihat tingkah lelaki manis itu. Ia menatap kopinya sejenak sebelum ia menghirup dan menyesapnya. Menikmati setiap tetes larutan biji kopi yang walau tak lebih nikmat dari setetes darah.

*o*

Waktu menunjukkan pukul satu dini hari waktu bumi belahan subtropis Korea Selatan. Yesung masih setia menunggu di tepi jalan raya yang sudah mulai sepi bersama mobil ferrari merahnya itu. Ia menunggu. Menunggu sang Bartender yang beberapa jam lalu telah berpapasan dengannya di sebuah cafe yang tak jauh dari tempatnya menunggu saat ini.

Ia cukup mengerti kenapa ia bisa menunggunya sampai seperti ini. Ada sebuah ikatan kasat mata yang menghubungkan dirinya dengan namja itu. Dan setiap detiknya, ia merasa ikatan itu terus mengerat.

Sudut bibir lelaki tampan beriris sekelam obsidian itu sedikit terangkat. Penantiannya telah muncul di trotoar dan berjalan searah dengan tempatnya menunggu dari dalam mobilnya. Ketika tepat sang Bartender yang kini telah berganti dari seragam pekerjaannya itu disamping mobilnya. Yesung segera menyapanya terlebih dahulu.

"Hei, Bartender. Baru ingin pulang, eh?" tanya Yesung dari balik pintu mobilnya dan menghadapkan wajahnya keluar menghadap namja yang dipanggilnya bartender itu.

Sang Bartender tersentak. Mungkin ia sedikit kaget. "Eh, Tuan?" tanyanya menggantung sembari melihat Yesung dengan tatapan sedikit senang. Ya, senang karena sejujurnya juga ia ingin bertemu lagi dengan Yesung. Karena menurutnya Yesung adalah orang yang menarik. Tetapi siapa yang tahu kalau dirinya ternyata telah terikat oleh Yesung?

Yesung tersenyum. "Naiklah, aku akan mengantarmu pulang." Tawarnya dan mengedikkan sebelah bahunya menunjukkan tempat kosong jok penumpang di sampingnya.

"Eh? Te-terima kasih tapi..," ucapan Sang Bartender terhenti ketika ia merasa dirinya tertarik oleh sesuatu yang tak terlihat sampai akhirnya dalam sekejap mengedipkan matanya ia telah berada di dalam mobil tepat disebelah Yesung yang terduduk dibelakang kemudi.

Ya, Yesung menggunakan sihirnya ketika sang Bartender manis itu menatap kedua matanya.

Yesung mulai menjalankan mobilnya perlahan. "Apa setiap hari kau pulang jam segini, Kim Ryeowook?" tanya Yesung memecah pikiran namja disampingnya yang masih tetap mengekspresikan rasa terkejutnya. 'Bagaimana dia bisa tahu namaku?'

"Ah, namaku Kim Jong Woon. Kau bisa memanggilku Yesung-hyung." Yesung tersenyum dan terus menatap jalanan dihadapannya tanpa terlalu fokus. Karena dalam jarak sedekat ini ia merasa kalau namja disampingnya adalah benar-benar orang yang diramal oleh Vermilion delapan tahun yang lalu ketika ia masih berusia 17 tahun. Terlihat dari cincinnya yang berubah warna dan sebuah rasa yang mengikatnya.

"Aku sudah terbiasa pulang pada jam seperti ini. Se-sebenarnya kau siapa? Dan kenapa aku harus memanggilmu –hyung? Dan kenapa juga kau mengetahui namaku?" tanya sang Bartender dengan segala keheranan yang telah ia dapatkan dari namja yang menurutnya asing namun terasa dekat itu.

Yesung hanya tertawa pelan dan melanjutkan argumennya terlebih dahulu. "Kim Ryeowook. Yatim piatu dan seorang darah campuran. 23 tahun. Tinggal sendiri di sebuah apartemen di hadapanku ini pada lantai sebelas. Pekerjaan sebagai seorang Bartender dan Barista sekaligus."

Kini sang Bartender yang ternyata memang bernama Kim Ryeowook itu mengarahkan pandangannya keluar mobil dan benar saja ia memang telah berada di halaman parkir apartemennya yang biasa dijangkau olehnya hanya dengan berjalan kaki selama sepuluh menit. Ia lalu mengalihkan pandangannya kearah Yesung. Pandangan yang menyiratkan ketakutan, keheranan dan juga kekaguman. Setidaknya seperti itu yang dapat dilihat oleh Yesung dari kedua mata beriris lelehan karamel itu. "Kenapa bisa tahu semuanya! Siapa kau sebenarnya! Dan apa itu darah campuran? Mana mungkin aku—"

Yesung mendekatkan tubuhnya dan membuat namja karamel itu terdiam kaget dan mundur sampai punggungnya bertumpu pada pintu mobil dan menghentikan ucapannya yang sedikit berteriak itu. Kini ia benar-benar ketakutan. Namun tetap saja ia merasa terus kagum pada Yesung walau itu hanya rasa sekilas. Kagum oleh ketampanannya dan juga hal yang sulit membuatnya percaya seperti tahu tentang identitasnya. Entah kenapa tetapi lelaki yang tak diketahuinya sama sekali kecuali bahwa ia adalah pelanggannya beberapa jam yang lalu mampu membuat sesuatu dalam dirinya berdesir halus.

"Aku adalah jodohmu." Ucap Yesung datar dan membuat namja yang dipojokkannya itu mengerutkan kening dengan emosi yang terluap. Tentu saja hal itu dapat terasa oleh Yesung yang kepekaannya lebih tajam.

"Yak! Apanya yang jodoh! Kau ini gila! Aku turun disini saja..," ucap Ryeowok dan mencoba membuka pintu mobil. Namun apa daya. Pintu itu terkunci karena Yesung memang sengaja tak membukanya. Oke, Ryeowook akui kalau ia tertarik pada namja dihadapannya itu. Tetapi tak sampai sebegitunya dan masih dalam batas tertarik. Dan lagi apa yang diucapkan namja bersurai gelap dan berkulit pucat itu bahwa ia adalah jodohnya. Penuh tekanan, jodoh.

"Tenanglah, aku tidak gila dan aku adalah..,"

"Kau bukan jodohku. Dan aku butuh istirahat..." ucap Ryeowook memotong ucapan Yesung dan kini memijit pelipisnya yang terasa pening. Ia merasa kejutan malam ini adalah balasan dosa-dosanya selama hidup. Bagaimana mungkin ia bertemu dengan seseorang nyaris berpenampilan sempurna yang beberapa jam yang lalu telah mengetahui identitasnya dan mengaku sebagai jodohnya dan juga menuduhnya sebagai darah campuran? Campuran darah apa? Jerapah?

"Aku mengatakan yang sebenarnya. Dan aku juga seorang vampir." Yesung masih mempertahankan posisinya yang memojokkan lelaki bersurai cokelat keemasan itu dan berusaha meyakinkannya. Namun Yesung tahu, mungkin harus pelan-pelan meyakinkan lelaki manis dihadapannya itu. Tak bisa dipaksakan begitu saja.

Sesaat rasa pening di kepala Ryeowook terasa berdenyut. Apa namja dihadapannya baru saja mengatakan bahwa dia adalah seorang vampir? Sulit dipercaya. Ryeowook yang memang merasa lelah karena bekerja semalaman itu menundukkan kepalanya. Sebenarnya apa yang diinginkan lelaki tampan dihadapannya sekarang ini? Kalau memang tampan kenapa dia harus sedikit gila? Seketika Ryeowook merasakan kepalanya semakin terasa berat. Posisinya yang seperti dihimpit oleh Yesung membuatnya merasa lebih hangat dan nyaman. Dan beberapa detik kemudian ia merasa pandangannya semakin memudar sampai akhirnya gelap memenuhi ruang matanya.

*o*

"Umma.. aku telah bersamanya. Mungkin aku akan menjelaskan padanya secara perlahan sebelum aku ajak dia kesana."

"..."

"Baiklah, akan kucoba. Terima kasih, Umma."

"..."

Yesung mengakhiri pembicaraan singkatnya bersama sang Umma. Ia kemudian menatap jam dinding digital yang menggantung di kamar sebuah apartemen yang minimalis dan sangat rapi itu. Tertera pukul 05.00 AM. Kejadian didalam mobil tadi mungkin membuat sang namja karamel itu syok sampai ia begitu lelah dan tertidur di hadapan Yesung. Dan Yesung sendiri hanya bisa membawanya ke apartemen Ryeowook yang diketahuinya dari intuisi seorang vampir yang memang telah terikat oleh Ryeowoook. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur dimana seorang lelaki manis bernama Kim Ryeowook tertidur pulas dengan selimut bercorak kartun Winnie The Pooh oranye menutupi tubuhnya hingga batas dagunya.

Yesung tersenyum menatap wajah polos yang damai dalam tidurnya.. Ia sedikit tak menyangka jodohnya bisa semanis itu walaupun nyatanya adalah seorang namja. Yah, walau begitu ia merasa telah mencintainya. Seorang darah campuran yang belum tersadar.

Dengan mengisi waktu sampai menunggu Ryeowook bangun dari tidurnya, Yesung mulai memikirkan bagaimana caranya membangunkan 'jiwa lain' yang masih tertidur didalam tubuh Ryeowook agar dia bisa 'memurnikannya' dengan segera.

*o*

Halo semua~ ini masih permulaan. Berasa aneh? Tanyakan sama saya langsung -_-

Buat genre mungkin agak sedikit fantasy tapi saya bakal lebih prefer ke drama romance hehe~

Terima kasih atas reviewnya yang lalu, karena itu amunisi buat terus lanjutin cerita ini.

Review lagi, ya? :3

#salamkecup