"Aku merasakan getaran aneh disini."

"Aku mengatakan yang sebenarnya. Dan aku juga seorang vampir."

Yesung mulai memikirkan bagaimana caranya membangunkan 'jiwa lain' yang masih tertidur didalam tubuh Ryeowook agar dia bisa 'memurnikannya' dengan segera.

Yewook Present

"Danger; Thespian Love"

Chapter 3 : What I Feel

Rated: T (maybe changed)

Warning: Alternate Universe, Yaoi life, Vampire fic :3

Disclaimer isn't mine. I just play with the chara~

Enjoy, please~

Sinar matahari membelai wajah lelaki bersurai cokelat keemasan itu dengan kehangatannya. Membuatnya segera bangun untuk menjalani hari ini seperti biasa yang telah ia lakukan seperti hari-hari sebelumnya.

Ryeowook menggeliat pelan merasakan sinar matahari dimatanya. Jendela apartemennya memang berhadapan langsung dengan tempat tidurnya yang membuat sinar matahari atau cahaya bulan mampu menerpa dirinya ketika berbaring diatas ranjang single bed itu.

Ryeowook mengerjapkan kedua kelopak matanya dalam keadaan masih berbaring. "Aku dirumah? Jadi semalam itu mimpi ya?" gumamnya pelan tanpa sadar bahwa seorang makhluk berdarah dingin berada dalam satu ruangan dengannya.

"Tentu saja bukan mimpi, Kim Ryeowook." Yesung yang terduduk diatas sofa mungil tak begitu jauh dari tempat tidur Ryeowook dengan sebuah novel tebal dipangkuannya merespon ucapan Ryeowook tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari novel dipangkuannya.

Ryeowook seketika bangun terduduk dan membulatkan mata kecilnya. Memberi tatapan aneh pada Yesung yang sedang membaca. "Kau! Sejak kapan ada di apartemenku, Tu—"

"Bukankah sudah kubilang untuk memanggilku Hyung, eh?" Yesung menutup novel dipangkuannya. "Ah ya, selamat pagi." Yesung memberikan senyuman yang membuatnya terlihat semakin tampan.

'Kenapa jadi sok akrab begitu sih, deduksinya tinggi sekali. Apa dia seorang Sherlock Holmes?' Ryeowook membatin dengan pandang curiga.

Yesung seketika tertawa pelan. "Mana ada di dunia ini Sherlock Holmes? Dia tak lebih hebat dari Sir Arthur."

"Kau bisa membaca pikiranku?" tunjuk Ryeowook dengan tatapan terkejutnya.

"Tentu saja. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku ini seorang vampir?"

Kini giliran Ryeowook yang tertawa. "Kau ini, mana ada di dunia ini seorang vampir? Terlebih di abad 21 seperti ini. Dan lagi yang berpenampilan seperti ka—" ucapan Ryeowook seketika terhenti saat itu juga. Dalam sekejap Yesung telah berada tepat di depan hidungnya. Membuatnya bernafas dengan tertahan. Kedua bola mata karamel Ryeowook seakan terkunci dengan obsidian lelaki di hadapannya. Membuatnya tak mampu hanya untuk sekedar mengalihkan pandangan.

Yesung yang berada di atas ranjang Ryeowook merangkak dengan perlahan. Membuat punggung namja beriris karamel yang terduduk itu kembali berbaring dan Yesung yang berada di atasnya dengan kedua telapak tangan dan lutut yang bertumpu di kedua sisi tubuh Ryeowook dan masih menatapnya tajam. "Kenapa sulit sekali untuk percaya, eh? Akan kutunjukkan kepadamu... sekarang..."

Ryeowook merasa tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan suaranya pun seakan sulit untuk ia keluarkan dari tenggorokannya. Kedua matanya menatap lekat obsidian yang terbingkai sempurna di kedua kelopak mata Yesung yang sipit.

Yesung menyeringai dan menunjukkan kedua taringnya yang memanjang secara perlahan. Ryeowook kembali tertegun, ia merasa sesuatu dalam tubuhnya merespon apa yang dilihatnya menjadi sesuatu yang begitu ia inginkan.

Yesung mendekati perpotongan leher kiri Ryeowook yang tak terekspos jelas karena Ryeowook hanya memakai kaus yang ia pakai semalam sepulang bekerja. Yesung lalu menempelkan hidung dan bibirnya diatas leher putih itu. Menghirupnya lamat-lamat, menyesapi aroma khas darah campuran dan juga wangi lilac yang dapat tercium oleh indera penciumannya yang tajam. Yesung merasa hasratnya meninggi, ia membuka mulutnya dan menjilat leher putih itu dengan gerakan naik secara perlahan. Melumaskannya terlebih dahulu. Dan sedetik kemudian, Yesung pun mengeluarkan kedua taringnya dan menancapkannya pada leher Ryeowook dengan perlahan.

"Aghh.." erangan Ryeowook tertahan ketika ia merasa pembuluh darah di lehernya dirobek paksa. Dengan refleks Ryeowook memiringkan kepalanya ke lain arah yang malah membuat Yesung semakin leluasa diatas lehernya. Ia mencoba meronta, namun apa daya Ryeowook hanya bisa mencengkeram setelan yang dipakai Yesung. Bahkan setelahnya, Ryeowook bisa mendengar suara Yesung yang menghisap darahnya. Tak bisa berbohong, ia juga merasa sesuatu dalam dirinya bergetar aneh ketika Yesung menghisap darahnya.

Merasa cukup, Yesung melepaskan taringnya dan menjilat bekas gigitannya dan meniupnya pelan. Ryeowook hanya mendesah pelan dan terengah mengatur nafasnya sendiri ketika Yesung melakukannya.

Yesung mengangkat kepalanya dan menatap Ryeowook dibawahnya dengan tatapan bersalah. Sebenarnya ia ingin melakukannya nanti saja. Tetapi sikap Ryeowook yang seakan merendahkannya—dan juga rasa haus dalam dirinya—membuat ia tak bisa menahan hasratnya itu.

"Mianhae..," ucap Yesung dengan bibir memerah karena darah Ryeowook yang dihisapnya.

Ryeowook menatap bibir Yesung yang berlumuran darahnya dan taringnya yang perlahan mengecil dan bersembunyi menjadi gigi taring layaknya manusia biasa. Terlihat begitu tampan. Dan Ryeowook... menginginkannya.

Ryeowook mengangkat kepalanya dan mempertemukan bibirnya dengan Yesung. Merasakan darahnya sendiri yang menempel di bibir tipis namja tampan diatasnya itu.

"Kenapa... kenapa rasanya begitu segar?" mata Ryeowook memerah. Airmata segera memenuhi kedua bola matanya sampai akhirnya ia menangis. Ia begitu bingung sejak semalam kehadiran Yesung. Sebuah rasa dalam dirinya mendesak untuk segera menguar.

"Sst... tenanglah," Yesung yang melihat Ryeowook mulai bereaksi setelah ia menghisap darahnya, hanya tersenyum menenangkan. "Akan kujelaskan semuanya."

*o*

"Maksudmu... ada darah vampir yang mengalir dalam diriku?" Ryeowook meneguk susu cokelat yang berada digenggamannya sampai habis.

"Benar, hanya saja kau belum menyadarinya." Kini mereka berada di dapur kecil milik Ryeowook. Yesung pun menceritakan semua tentang dirinya dan Ryeowook sendiri yang merupakan seorang darah campuran. Semuanya.

"Menurut umma kemungkinan apa yang kulakukan akan berpotensi mempengaruhi instingmu. Tetapi tak kusangka reaksinya akan secepat ini." Yesung tersenyum puas, ia melihat Ryeowook telah meminum tiga gelas ukuran sedang berisi susu cokelat dan kini ia melihat namja mungil itu sedang meneguk kembali jus jeruk dalam kemasan yang berada dalam lemari pendingin di ruangan mungil ini. Dan ia tahu itu semua dapat disimpulkan bahwa sang Darah Campuran merasa 'kehausan'.

"Tetapi selama ini aku tak merasakan apapun dalam diriku. Aku tak meminum darah dan bisa berjemur dibawah sinar matahari." Ucap Ryeowook menanggapi. Ia tahu dalam dirinya mulai berubah dan ia juga merasa lebih nyaman berada di dekat Yesung walau lelaki itu baru saja menghisap darahnya. Sampai ia sendiri bingung, logikanya berkata seharusnya kau marah dengan seseorang yang tiba-tiba menggigit dan menghisap darahmu tetapi perasaannya berkata sebaliknya.

"Itu karena manusia-mu menguasai semuanya." Ryeowook menganggukkan kepalannya. Sejenak ia menatap Yesung intens dan kemudian dengan sekali teguk ia menghabiskan jus jeruk dalam genggamannya. Entah kenapa melihat Yesung membuat dirinya merasa semakin haus.

*o*

Malam telah tiba. Ryeowook mengganti pakaian bartendernya dan dengan tergesa-gesa menghampiri sang kekasih yang telah menunggu di tepi jalan di hadapan sebuah cafe dimana ia bekerja. Setidaknya apa yang dirasakan olehnya membalas apa yang dirasakan oleh Yesung terhadap dirinya. Walau secara nyata tak ada perkataan yang mengiyakan, tetapi sehelai benang merah telah mengikat erat dirinya bersama Yesung sejak pertamakali mereka bertemu.

"Hyung!" Ryeowook menghampiri Yesung dengan senyum cerianya. Sedangkan Yesung hanya tersenyum ketika Ryeowook kini terbiasa memanggilnya Hyung dan mengelus surai coklat keemasan Ryeowook kemudian mendorong bahunya pelan untuk masuk ke mobil ferrari merah miliknya.

"Bagaimana sudah kau coba wine-nya?" Yesung menstarter mobilnya dan menjalankannya perlahan. Kembali menuju apartemen Ryeowook.

Ryeowook menganggukkan kepalanya dan berkata antusias. "Enak sekali. Rasanya dehidrasiku menghilang dalam sekejap."

Yesung hanya menatap Ryeowook sekilas lalu kembali fokus ke jalanan yang dilewati mobilnya. Sebenarnya ia yang merekomendasikan salah satu red wine yang biasa dikonsumsi oleh para vampir untuk menekan rasa haus mereka. Mengingat sebagai seorang vampir mereka juga mempunyai etika dimana tidak untuk memangsa manusia secara besar-besaran. Dan cara mereka untuk menekan rasa haus akan darah ialah dengan red wine jenis Merlot. Cairan gabungan bordeaux wine dari st. Emilion dan pomerol yang rasanya lebih tanin dapat mengurangi dehidrasi seorang vampir akan darah. Tetapi walau ada penekan rasa haus akan darah, seorang vampir tetap membutuhkan darah 'asli'. Dan Ryeowook juga membutuhkannya.

Sesampainya di apartemen, Ryeowook langsung menuju dapur mungilnya. Ia mengeluarkan sebotol ramping red wine yang dia beli di cafenya sendiri. Ia segera menyiapkan dua buah gelas ramping tinggi yang memang dipergunakan untuk menyajikan wine.

Yesung menghampiri Ryeowook dan duduk dihadapannya. Dilihatnya Ryeowook sedang membuka gabus alami pada botol wine, meletakkan jari-jari lengan kirinya pada leher botol dan mengangkat badan botol dengan telapak tangan kanannya lalu menempelkan ujung botol dengan bibir gelas lalu menuangkan cairan merah itu dengan perlahan. Hal sama juga Ryeowook lakukan di gelas kedua.

"Benar-benar seorang bartender sejati." Yesung menerima segelas wine dari tangan Ryeowook dan mengangkat gelas itu sejajar dengan matanya. Mengajak Ryeowook untuk bersulang dengannya.

Tring

Suara gelas yang beradu membuat keduanya tersenyum. Segera mereka menghabiskan cairan beraroma buah beri itu.

Ryeowook menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik gelas dari tangan Yesung dan menuangkan Merlot tahun 1998 itu kembali. "Kau tak bisa menikmatinya, hyung."

Yesung hanya mengedikkan bahunya. "Maksudmu?"

Ryeowook meletakkan gelas dihadapan Yesung dan ia berdiri di sampingnya. "Begini cara menikmatinya, kau pegang leher gelas ini dan goyangkan sedikit cairan didalamnya sampai berputar," Yesung mengikuti intruksi yang Ryeowook lakukan.

"Lalu tempelkan bibirmu diujung gelas dan hidungmu diujung satunya lagi. Kemudian hirup aroma wine ini dan terakhir sesaplah rasanya. Ah, jangan lupa pejamkan kedua matamu agar kau dapat lebih merasakannya." Ucap Ryeowook dan memperagakannya.

Yesung berhenti dari pergerakannya yang mengikuti intruksi Ryeowook 'cara menikmati wine'. Ia meneguk ludahnya ketika melihat lelaki bersurai coklat keemasan itu meneguk wine-nya. Tatapan tajam dari kedua mata sipitnya menuju leher Ryeowook. Menatap jakun kecil yang bergerak perlahan ketika Ryeowook meneguk wine-nya sampai habis.

Menyadari Yesung yang menatapnya dengan tatapan lapar, Ryeowook dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya menghentakkan gelas dalam genggamannya ke atas meja. "Jangan bilang kau akan menggigitku lagi, hyung!" ucap Ryeowook kemudian berlari menuju tempat tidurnya dan menyembunyikan dirinya dibalik selimut.

Yesung tersadar kemudian tertawa pelan melihat tingkah lelaki yang menjadi jodohnya itu. "Hei, aku hanya menghisapnya." Balas Yesung yang kemudian duduk di sofa mungil tak jauh dari ranjang Ryeowook.

"Tetapi sebelumnya kau gigit dulu, kau tahu itu!" teriak Ryeowook masih di dalam selimutnya.

Yesung hanya tertawa mendengarnya. Kekasihnya itu memang polos dan pandai membuat hati seorang makhluk berdarah dingin sepertinya dapat tertawa dengan lepas.

*o*

Hari demi hari berlalu dengan perputaran rutinitas seorang lelaki beriris lelehan madu yang berbeda dari sebelumnya. Kehadiran Yesung dan red wine Merlot kini menjadi hal yang setiap hari ditemuinya. Ia tahu sesuatu dalam dirinya mulai terusik dan mendesaknya untuk mempertunjukkannya dengan segera.

Ryeowook terbangun dari tidurnya di pagi hari dengan tiba-tiba. Ia meraba batang lehernya sendiri lalu berlari ke dapur. Mencari botol ramping bertuliskan Reserve Henri Marc di sebuah lemari kecil penyimpan makanan.

Yesung yang kini setiap hari berada di apartemen Ryeowook menghampirinya dengan pandangan tak suka ketika melihat Ryeowook meneguk segelas tinggi cairan beralkohol itu.

"Kurasa aku harus membawamu ke tempatku." Yesung menarik pergelangan tangan Ryeowook ketika namja itu selesai meminum minumannya.

Ryeowook tersentak dan reflek menarik paksa lengan Yesung untuk berhenti ketika ia hampir keluar dari dapur. "Kenapa tiba-tiba sih, tanganku sakit tahu." Protesnya.

Yesung kemudian menatap tajam Ryeowook dengan kedua obsidian hitamnya. "Kau terus merasa haus, seharusnya kau bisa mengeluarkan taringmu."

Ryeowook kembali tersentak. "Ma-maksudmu, aku harus..."

"Sudahlah, cepat ganti bajumu. Jangan lupa gunakan syal." Yesung mendorong Ryeowook untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan ia tetap berada di dapur. Menatap sebotol red wine yang masih terisi setengahnya. Sudah lebih dari dua minggu setelah ia menghisap darah Ryeowook dan menyebabkan namja manis itu mulai bereaksi dengan jiwa vampir dalam dirinya. Sejak saat itu pula ia mulai terus kehausan dan Yesung merekomendasikan Merlot yang biasa diminum oleh para vampir lainnya dan membuat Ryeowook ketagihan. Ia tahu Ryeowook-nya membutuhkan darah dan tak harus meminum wine terus-menerus hingga mabuk. Tetapi yang jadi masalah adalah bahkan Ryeowook sendiri belum mampu mengeluarkan taringnya. Bisa saja ia mendapatkan darah dari rumah sakit atau semacamnya tetapi itu tak akan membangkitkan insting vampirnya yang hanya separuh didalam dirinya. Dalam hal ini, Yesung membutuhkan bantuan dari kedua orangtuanya.

*o*

"Distrik Gangnam. Benarkah keluargamu tinggal disini?" Ryeowook menatap sebuah gedung apartemen yang menjulang di hadapannya. Setelah Yesung memarkirkan mobilnya ia menarik lengan Ryeowook untuk memasuki apartemen tersebut.

"Sepertinya." Jawab Yesung sekilas. Ia kemudian memasuki lobi apartemen tersebut. Berjalan menuju lift dan ketika tepat pada pintunya Yesung mengucapkan mantera. "Mi revenos1."

Entah kenapa Ryeowook merasa tak asing dengan mantera yang diucapkan Yesung. Ia seakan mengerti dengan sangat jelas kata-kata tersebut. Dan itu membuat ia mengingat sosok seseorang yang ditemuinya saat ia masih kecil.

Ting!

Ryeowook kembali tertegun. Lift yang ia tumpangi bersama Yesung telah terbuka dan mereka keluar dari sana dan lift itu kemudian menghilang. Ryeowook melangkahkan kaki kanannya. Ia sedang tak bermimpi, tetapi yang dia tahu kini ia menginjak rerumputan. Dan pemandangan dihadapannya adalah pepohonan rimbun yang hijau dan juga asri.

"Apartemen macam apa ini..." Ryeowook memutar tubuhnya untuk menatap sekeliling.

Yesung tersenyum. "Tentu saja bukan apartemen. Naiklah ke punggungku, aku harus berlari." Yesung membungkukkan dirinya dan Ryeowook hanya menurut dan dengan canggung naik ke punggung Yesung dan melingkarkan kedua lengannya pada leher Yesung.

"Berpeganglah yang erat. Kuris2!"

*o*

Tanpa terlihat lelah dan berkeringat, Yesung menurunkan Ryeowook yang berada dalam gendongannya. Ryeowook hanya terkagum melihatnya. Yesung membawanya berlari sejauh itu tanpa merasa lelah sedikitpun.

"Bagaimana bisa... ah, kau tinggal disini?" Ryeowook kini melangkah masuk bersama Yesung yang menggenggam tangannya ke dalam sebuah rumah besar bergaya victoria bercat gading itu. Terlihat begitu gotik dan anggun secara bersamaan.

"Tunggulah sebentar, aku akan kembali." Yesung melepas genggaman tangannya dan menyuruh Ryeowook untuk duduk di sebuah sofa berlengan dalam rumah besar ini. Ryeowook menatap Yesung dengan tatapan khawatir ketika namja itu akan pergi.

Yesung mengusap surai coklat keemasan Ryeowook dan tersenyum. "Hanya sebentar."

Dan Ryeowook pun hanya menurut dan duduk dalam diam dan memperhatikan interior yang sepertinya adalah ruang tamu rumah bergaya victoria ini. Ukurannya besar dan terbilang mewah dengan benda-benda antik yang kebanyakan terbuat dari marmer putih.

Seketika Ryeowook tersentak kaget dari lamunannya yag mengagumi rumah mewah ini saat seseorang menarik lepas syalnya dari belakang. Ia menolehkan kepalanya dan melihat dua orang lelaki berdiri di belakang sofa yang didudukinya kini.

"Halo, kau manusia ya?" salah satu lelaki yang berambut almond berjalan memutari sofa dan berdiri tepat dihadapan Ryeowook.

"A-aku... aku—" Ryeowook gugup dan sangat takut. Ia tahu kedua orang lelaki didepan dan belakangnya kini adalah vampir. Ia yakin itu.

"Hyung, jelas-jelas baunya adalah darah campuran." Ucap seorang lelaki bersurai coklat yang berdiri dibelakang Ryeowook dan memainkan syal yang ia ambil dari leher Ryeowook menanggapi ucapan lelaki almond yang kini mendekati Ryeowook dengan perlahan.

"Tetapi bau manusianya sangat terasa..." ucapnya kemudian memegang kedua lengan Ryeowook agar tetap duduk dan ia mengendus perpotongan leher kiri Ryeowook.

"Lepaskan aku—" Ryeowook mencoba berontak, namun sia-sia saja ketika lelaki yang berdiri di belakangnya juga mengendus perpotongan leher sebelah kanannya. Membuatnya tak bisa bergerak sedikitpun.

"Benar hyung, aku jadi ingin mencicipinya." Dan kedua namja dihadapan dan dibelakang Ryeowook semakin menempelkan hidung mereka dikedua sisi leher putih itu. Ryeowook sendiri hanya bisa menangis dan mengharapkan kedatangan Yesung.

"Ye-hyung tolong aku..."

To Be Continued

*1 : Aku datang untuk kembali

*2 : Berlarilah

Halo semua, bagaimana weekend kalian kali ini? :3

Ah ya yang kemarin tanya barista itu apa, sebenarnya adalah seorang peracik kopi gitu. Kebalikan dari bartender, barista hubungannya kopi kalau bartender hubungannya sama bir atau wine. Ada yang kurang jelas? Hanya mengikuti alur imajinasi bersama YeWook 8D

Terimakasih atas respon kalian dan viewers lainnya, saya harap ada yang mendukung ff ini. Review lagi ya :3