Yesung lalu menempelkan hidung dan bibirnya diatas leher putih itu. Ia membuka mulutnya dan menjilat leher putih itu dengan gerakan naik secara perlahan.
"Kurasa aku harus membawamu ke tempatku."
Yewook Present
"Danger; Thespian Love"
Chapter 4 : You Are a Vampire
Rated : T (Will be changed)
Warning : Alternate Universe, Yaoi life, Vampire fic :3
This story belongs to me. But, I just play with the chara.
Enjoy, please~
Ryeowook terbangun dengan suara-suara bising yang tertangkap oleh gendang telinganya. Dapat dicerna oleh otaknya bahwa dari salah seorang dari tiga orang yang sedang terlibat dalam pembicaraan itu adalah Yesung.
"Secepat itu? Dan aku harus melakukannya sendiri?"
"Tentu saja, kau pikir dia itu istriku."
"Ta-tapi—"
"Lakukan sesuai perintah! Jika tidak, takkan ku biarkan kau bersamanya lagi Kim Jong Woon."
Yesung menatap kesal kedua orangtua di hadapannya. Kini kedua orangtuanya dengan tiba-tiba akan pergi ke Phoenix. Memang Phoenix di tanah Inggris adalah wilayah dengan mayoritas penduduk vampir darah Murni Istimewa dan kedua orangtuanya pergi dengan alasan untuk pertemuan (bukan pertemuan singkat) rutin yang selalu diadakan oleh Pemimpin disana. Lantas apa yang dikhawatirkan Yesung? Tentu saja jodohnya; Kim Ryeowook. Karena orangtuanya adalah petunjuk untuk dirinya memurnikan sang Kekasih kelak.
Dengan ucapan selamat tinggal dan memeluk Yesung sekilas. Kedua orangtua itu menghilang di balik pintu ebony bercat gading tersebut.
Yesung kini hanya menghela nafas. Memang tanpa kedua orangtuanya pun Yesung dapat memurnikan Ryeowook karena sebelumnya mereka telah memberi petunjuk teori yang sekiranya harus dilakukan oleh Yesung. Tetapi tetap saja semua itu membuat Yesung sendiri menjadi sedikit... gugup.
"Hyung..," sebuah suara yang sudah sangat Yesung kenal itu berseru. Ryeowook dengan wajah yang sedikit pucat itu berdiri diambang pintu kamar. Menyembunyikan sebagian tubuhnya dibalik pintu dan menatap Yesung penuh keheranan. Terlihat begitu manis.
Yesung balas tersenyum. Ia menghampiri Ryeowook dan menariknya untuk duduk di sofa. Mengacak surai cokelatnya dan memeluknya untuk sekedar memberi Ryeowook kehangatan. "Apa kepalamu masih pusing, hm?" tanya Yesung.
"Yah sedikit." Kembali pada kejadian malam lalu...
"Bru-li-gi—" hampir saja Ryeowook menyelesaikan manteranya dengan sempurna ketika percikan sihir itu mulai keluar dari kedua telapak tangannya kalau saja Yesung tak datang tepat waktu.
Saat itu segera saja Yesung menenangkan Ryeowook yang masih menangis dengan emosi menguasainya kemudian menghisap darahnya dan membuatnya tertidur. Sebelum tertidur, Ryeowook sempat mengeluhkan kepalanya terasa sangat pusing pada Yesung.
Setelah itu Yesung menatap horor kedua orang (yang menurutnya adalah bocah) yang telah mengganggu kekasihnya. "Kalian berdua! Apa yang coba kalian lakukan, hah? Bagaimana kalau aku tak segera datang?" ucapnya cepat. Sedangkan kedua orang yang sebelumnya mencoba mengganggu Ryeowook hanya tersenyum kaku menghadap Yesung.
"Maafkan kami hyung. Kami tak menggigitnya kok! Kami kira kekasihmu adalah darah campuran biasa, tapi tak kusangka ia juga memiliki darah Murni Istimewa." Salah satu diantara namja tersebut berkata dan kemudian keduanya membungkuk dalam pada Yesung. Mereka tak ingin membuat seorang Yesung mengamuk hanya karena mencoba mengganggu kekasihnya.
"Aish kalian benar-benar bocah." Dan setelahnya kedua namja tadi segera pergi pulang karena memang mereka adalah tetangga Yesung sendiri yang sering berkunjung ke rumah ini untuk bertemu sang Umma.
*o*
"Tadi aku mendengar suaramu berbicara dengan dua orang, hyung. Siapa mereka?" tanya Ryeowook.
"Mereka adalah orangtuaku." Jawab Yesung. Ia masih betah dalam posisinya mengelus surai kekasihnya itu.
"Ah, jadi yang pergi ke Phoenix itu orangtuamu?"
"Ya. Sudahlah jangan bicarakan mereka." Yesung semakin mengeratkan pelukannya. Tetapi tiba-tiba Ryeowook terhentak bangun dan melepaskan pelukan mereka kemudian memandang Yesung dengan tatapan memelas. Yesung sendiri hanya bisa menggigit bibir bawahnya mendapat tatapan seperti itu dari kekasihnya.
"Aku haus, hyung..."
"Lalu?"
"Aku ingin Merlot."
"Minum saja darahku."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena tidak mau."
"Padahal darahku lebih enak."
"Hyung!" pekik Ryeowook dan kemudian memajukan bibir bawahnya sambil memicingkan kedua matanya dengan tatapan tak suka ke arah Yesung. Membuatnya terlihat begitu menggemaskan.
Yesung kemudian meraih wajah Ryeowook. Menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Ryeowook dan menekan pipi yang menggembung itu. "Dengar aku. Perkembanganmu mulai bagus. Kau bahkan bisa memakai sihirmu. Selanjutnya kau harus bisa mengeluarkan taringmu. Kumohon..." pinta Yesung dengan pandangan tulus.
Ryeowook yang melihatnya hanya bisa menganggukkan kepalanya yang masih ada dalam rengkuhan tangan Yesung. Dan Yesung hanya tersenyum kemudian mengecup sekilas bibir yang sedikit pucat milik kekasihnya itu.
"Aku mau Merlot, hyung~" pintanya manja.
*o*
Ryeowook meneguk sisa Merlot di gelasnya. Ia baru akan menuangkan kembali sisa Merlot yang masih berada dalam botol ramping itu. Ketika tangannya hampir menyentuh botol minuman red wine itu, dengan gerakan cepat Yesung meraihnya terlebih dahulu dan langsung menegak habis sisanya dengan menjauhkan diri sebelumnya.
Ryeowook kemudian merengut kesal. "Hyung! Kenapa kau habiskan? Aku masih haus." Teriaknya.
Yesung hanya menatap datar Ryeowook dan meletakkan botol ramping yang telah kosong itu diatas meja. "Aku takkan membiarkanmu mengonsumsinya lebih banyak."
Tatapan yang diberikan Yesung membuat Ryeowook menundukkan kepalanya. "Ma-maaf..."
Yesung kemudian menghela nafasnya, tak tega juga membuat kekasihnya seperti itu. "Baiklah, ayo kita pergi keluar. Kurasa aku butuh sesuatu yang menyegarkan."
Yesung mengusap lembut pundak Ryeowook kemudian menautkan jarin-jarinya dengan sang Kekasih kemudian menariknya untuk berjalan bersama.
*o*
Yesung mengajaknya ke sebuah taman yang cukup sepi. Sebuah taman kota yang tak cukup luas yang dipenuhi dengan beberapa tumbuhan tinggi dan hamparan rumput hijau yang terawat. Dengan pemandangan separuh rembulan keduanya duduk di atas sebuah bangku taman yang telah tersedia.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Seorang wanita muda berpakaian resmi layaknya pekerja kantor terlihat berjalan terhuyung-huyung tak jauh dari tempat Yesung dan Ryeowook duduk. Wanita itu terlihat tersengal-sengal dengan menekan dadanya. Sepertinya penyakit yang dideritanya sedang kambuh.
"Hyung, bagaimana kalau kita tolong dia?" tanya Ryeowook sambil melihat wanita yang terus berjalan perlahan tanpa arah tersebut. Wajahnya menyiratkan rasa khawatir. Khas rasa kemanusiaan.
Yesung hanya tersenyum kaku. Manusia sekali sikap kekasih manisnya itu. Begitu perhatian. "Tunggu disini dan lihat apa yang akan aku lakukan."
Ryeowook memandang Yesung penuh tanda tanya. Sedangkan Yesung sendiri hanya tersenyum penuh arti. Mengelus surai Ryeowook sebentar kemudian berjalan menghampiri wanita muda yang masih berjalan tertatih sekitar 12 meter dari hadapan mereka.
.
.
"Hyuung..." Ryeowook menggigit bibir bawahnya melihat pemandangan kekasihnya bersama wanita muda tersebut. Yesung terlihat memeluk wanita tersebut dari belakang. Tangan kanannya memeluk pinggang sang wanita dan tangan kirinya membekap mulutnya yang kini sudah lemas tak berdaya. Cahaya kehidupan yang dipancarkan dari kedua bola mata wanita itu perlahan meredup. Menandakan bahwa hidupnya memang telah berada diujung.
Yesung masih menghisap darah dari perpotongan leher wanita yang kini telah tak bernyawa. Wajar saja bila Yesung membunuhnya. Karena memang vampir Murni Istimewa memangsa manusia harus membunuhnya agar tak meninggalkan jejak dengan cara menggigitnya langsung dan merobek urat lehernya kemudian menyihirnya. Masih dengan posisi menghisap darah sang wanita, Yesung memandang kekasihnya yang mulai berjalan perlahan menghampirinya.
Ryeowook merasa getaran dalam dirinya semakin menggebu. Ia berjalan menghampiri Yesung dengan berat. Entah mengapa melihat Yesung seperti itu rasanya ia ingin juga merasakannya dan mengganti posisi dengan Yesung. Dan lagi, sepertinya rasa haus menggerogoti tenggorokannya dan... oh Tuhan, dapat dirasakan oleh mulut Ryeowook yang terkatup rapat bahwa dua gigi atasnya memanjang.
Yesung masih mempertahankan posisi bersama wanita yang baru saja menjadi mangsanya. Ia menatap Ryeowook penuh rasa heran. Dapat dirasakan oleh dirinya bahwa Ryeowook merubah auranya sendiri dan juga bau tubuhnya lebih ke vampir di indera penciuman Yesung.
Ryeowook berhenti sekitar dua meter dari hadapan Yesung. Ia merasa kedua kakinya mati rasa seketika dan ingin menangis. Ia tak kuat untuk mengatupkan lagi mulutnya dan membuka mulutnya perlahan, seolah sengaja menunjukkannya pada Yesung. Dan benar saja, kedua taring Ryeowook memang muncul.
Yesung membelalakkan kedua mata sipitnya seketika. Tanpa peduli ia melepas wanita yang telah menjadi mangsanya dan membuat sang wanita itu langsung terkulai di atas rumput taman yang dingin. Yesung tak bisa lepas menatap Ryeowook. Tak disangka bahwa tindakannya memancing jiwa Ryeowook kembali dan bisa membuatnya mengeluarkan taring.
Yesung menghampiri Ryeowook dan memeluk tubuh mungilnya. Dapat dirasakan oleh Yesung bahwa tubuh kekasihnya itu bergetar. Yesung sedikit menundukkan dirinya agar sejajar dengan Ryeowook, kemudian dengan lembut Yesung menangkup kepala Ryeowook dan mengarahkannya pada perpotongan leher kanannya.
Ryeowook menggeleng menolak ketika Yesung secara nonverbal menitah untuk menghisap darahnya. Namun Yesung menganggukkan kepalanya dan menempelkan mulut Ryeowook tepat di lehernya.
Ryeowook menatap leher putih kekasihnya sejenak. Satu sisi ia merasa bimbang, tapi sisi lainnya berkata bahwa ia merasa haus dan memang butuh darah.
Setelah beberapa menit keheningan menyelimuti sepasang kekasih vampir ini. Akhirnya Ryeowook memantapkannya. Dijilatnya perlahan leher Yesung seperti saat pertama kali Yesung menggigitnya. Setelahnya Ryeowook menancapkan taring putihnya yang tajam dan sesaat kemudian dia menghisap darah vampir Murni Istimewa milik Yesung untuk yang pertama kalinya.
Ketika cairan kental hangat itu menyentuh lidah Ryeowook, ia cukup kaget karena rasa karat yang begitu menyengat. Namun ketika ia menghisapnya sedikit lebih banyak ia merasa bahwa darah Yesung lebih nikmat dari Merlot yang beberapa lama ini menjadi pelepas dahaga yang tiba-tiba datang.
Sssh..
"Ahh..."
Suara hisapan Ryeowook terdengar menggema di kedua indera pendengaran Yesung dan Ryeowook di taman yang begitu hening malam ini.
Akhirnya hanya tinggal selangkah untuk memurnikan Ryeowook agar bisa seutuhnya menjadi milik Yesung. Ya, memurnikannya.
Dengan rasa senang Yesung semakin mengeratkan pelukannya pada kekasihnya yang bersurai cokelat keemasannya itu. Membuat hisapan taring Ryeowook semakin dalam di leher Yesung.
To Be Continued
AN : sebelumnya maaf atas keterlambatan update. Tuntutan sebagai murid kelas XII yang membuat segalanya menjadi lebih kompleks *nangis bareng Kiki*
Sebisa mungkin cerita ini akan saya lanjutkan, dan juga butuh dukungan kalian *bow*
Btw, HAPPY YEWOOK DAY~~ *tebar confetti* kalian berdua memang yang terbaik, teruslah bernyanyi~~
Review, please~
4 NOVEMBER 2012
