Akhirnya hanya tinggal selangkah untuk memurnikan Ryeowook agar bisa seutuhnya menjadi milik Yesung. Ya, memurnikannya.
Dengan rasa senang Yesung semakin semakin mengeratkan pelukannya pada kekasihnya yang bersurai cokelat keemasan itu. Membuat hisapan taring Ryeowook semakin dalam di leher Yesung.
Yewook Present
"Danger; Thespian Love"
Chapter 5 : The Epilogue
Rated : T (Won't be changed orz)
Warning : Alternate Universe, Yaoi life, Vampire fic :3
This story belongs to me. But, I just play with the chara.
Enjoy, please~
.
.
.
Yesung memeras handuk kecil bersama air hangat dalam sebuah mangkuk. Diusapkannya handuk tersebut disekitaran mulut Ryeowook yang berlumuran darah. Darah bekas hisapan dirinya terhadap Yesung. Ryeowook sendiri masih setia menangis sejak sekembalinya mereka dari taman tersebut.
"Uljimarayo... jangan membuatku takut, kau tak akan terluka." Ucap Yesung setelah membersihkan wajah Ryeowook dan meletakkan kembali handuk yang dipakai tersebut kedalam mangkuk. Membuat sisa darah yang menempel pada handuk tersebut larut dalam air hangat yang tertampung.
Ryeowook meremas sebelah tangannya sendiri kemudian menatap Yesung sendu. "Aku hanya... takut, hyung. Bagaimana kalau aku tak bisa—"
Ucapan Ryeowook terhenti ketika Yesung menggenggam kedua tangannya lembut. "Ini takdirmu. Kau pasti bisa." Yesung meyakinkan dan mengangguk dihadapan Ryeowook. Menunggu beberapa saat sampai Ryeowook memantapkan dirinya dan membalas anggukan dari Yesung.
Yesung tersenyum. "Aku mencintaimu."
*o*
Ryeowook membuka matanya perlahan. Menyingkap selimut putih tebal yang berada diatas tubuhnya hingga ke pinggang lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
"Jam sembilan," ucapnya perlahan dengan mata tertuju pada jam dinding klasik yang tergantung lurus berhadapan dengan dirinya. "Rasanya hidupku berubah semakin malas menjadi seorang vampir."
Cklek
Ryeowook menolehkan kepalanya kearah pintu. Kemudian tersenyum manis kepada seseorang yang telah membukanya tersebut.
"Selamat pagi, Karamel." Sapa Yesung seraya masuk kedalam kamar dengan membawa segelas susu di tangan kanannya dan segelas Merlot di tangan kirinya kemudian meletakkan keduanya pada meja nakas disebelah Ryeowook. "Bagaimana tidurmu, hm?" Yesung mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Mengelus surai Ryeowook sudah menjadi kebiasaan barunya setiap hari.
Ryeowook menurunkan tangan Yesung yang berada di kepalanya dan menggenggamnya lembut. "Lain kali, aku ingin ketika aku terbangun kau ada disisiku, Hyung." Ucapnya penuh harap.
Yesung hanya terkekeh menanggapi, "Tentu saja." Yesung kembali mengelus surai emas kecokelatan milik Ryeowook. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening di dalam kamar bernuansa gading tersebut.
"Hyung..," Ryeowook memecah keheningan. Ia mengambil segelas Merlot disebelahnya dan kemudian menghabiskan separuh isi dari gelas tersebut dan kembali meletakkannya. "Ini sudah sebulan dari yang kau janjikan."
Yesung seketika berhenti mengusap surai Ryeowook. Ia menaikkan seluruh tubuhnya keatas ranjang dan memeluk Ryeowook untuk menenggelamkan dirinya di dada Ryeowook. "Aku... tak sanggup kalau kau akan kesakitan."
Ryeowook membalas pelukan Yesung dan gantian mengelus surai hitam milik kekasihnya. Ia tahu kalau hal ini cukup menegangkan untuk Yesung. Tapi walau bagaimanapun, hal ini juga membuatnya cukup tersiksa. Menjadi seorang manusia setengah vampir membuatnya merasa seperti zombie. Ryeowook tak menginginkan itu.
"Kau tahu kan, aku harus mengirimkan racunku ke jantungmu. Dan itu..." Yesung mengeratkan pelukannya di dada Ryeowook. Tak sanggup membayangkannya.
Ryeowook yang mengerti mengelus punggung lebar kekasihnya. Ia tahu semuanya dari apa yang harus dilakukan Yesung untuk memurnikannya (ketika itu Yesung menceritakan semuanya). Mengirimkan racun Yesung melalui gigitannya langsung menuju jantungnya. Hal itu pasti menyakitkan. Mungkin ia juga merasa gugup, tetapi menjadi pendamping 'utuh' dengan Yesung adalah hal yang harus dicapainya. Tak peduli apapun resikonya. Satu yang pasti, karena Ryeowook... begitu mencintai Yesung.
"Tatap aku, Hyung." Ryeowook mencoba mengangkat kepala Yesung menghadapnya. Membuat Yesung menengadah untuk mencapai tatapan Ryeowook.
"Aku..." Ryeowook menghela nafas dan memejamkan kedua matanya kemudian menatap kedua mata beriris gelap milik Yesung dengan tegas. "Siap, Hyung."
Yesung sedikit tersentak oleh ucapan yang baru saja keluar dari mulut kecil itu. "Kau yakin?"
Ryeowook menghela nafas sekali lagi. "Tentu saja. Lakukan sekarang saja, Hyung."
Yesung menegakkan bahunya. Menatap Ryeowook dalam dengan tatapan tajamnya. Mencari kesungguhan disana.
Tiba-tiba Ryeowook mencium bibir Yesung sedikit lama. Masih ingin meyakinkannya. "Aku serius."
*o*
Yesung kemudian memeluk Ryeowook erat. Membalas ciumannya dan perlahan membuka kancing piyama putih yang dikenakan Ryeowook satu-persatu.
Yesung berhenti sejenak untuk menatap Ryeowook yang entah sejak kapan telah berbaring dan Yesung berada di atasnya. Mencoba mencari keyakinan yang meski ketika Yesung menatapnya telah penuh oleh keyakinan.
"Aku mencintaimu, Hyung. Sungguh. Lakukanlah sekarang." pinta Ryeowook dengan tatapan khasnya pada iris sewarna lelehan madu tersebut.
Yesung tersenyum membalas tatapan Ryeowook. "Tahan sedikit, Karamel."
Yesung mengecup leher Ryeowook sebentar, merasai aroma darah campuran bercampur lilac yang mungkin setelah ini tak akan bisa ia sesap lagi. Terus menyesapnya dan perlahan turun hingga ke dada Ryeowook.
Yesung mengecup dada putih mulus itu dan menjilatnya perlahan untuk melumaskannya. Membuat Ryeowook mendesah dibuatnya. Yesung menarik nafasnya dalam dan merapalkan mantera untuk mengeluarkan racun vampir Murni Istimewa melalui taringnya.
"Mia veneno per la sango..." Yesung membuka mulutnya, membiarkan taringnya memanjang dengan cepat kemudian menancapkannya pada dada kiri Ryeowook. Tepat dimana jantungnya berada.
"Ssshh..." Ryeowook mendesis perlahan. Ia meremas seprai dengan kuat mencoba untuk mengurangi rasa sakitnya. Ia dapat merasakan jantungnya berpacu dengan cepat ketika ujung taring Yesung dapat dengan jelas ia rasakan menyentuh gumpalan darah tersebut.
Setelah beberapa menit, Yesung melepaskan gigitannya. Menarik perlahan taringnya dan menjilat lubang gigitannya. Yesung bangkit dari tubuh Ryeowook dan kembali merapalkan mantera untuk kedua tangan dan kedua kaki Ryeowook agar tak banyak bergerak.
"Ligita..."
"Ligita..."
Setelahnya Yesung menatap Ryeowook cemas. Menggenggam sebelah tangan Ryeowook untuk mencoba menenangkannya walau itu tak berpengaruh sama sekali.
Ryeowook tak bisa memejamkan kedua matanya. Racun Yesung mulai bereaksi saat itu juga. Ia hanya berteriak keras untuk melampiaskannya. "Aaarggh!"
Sedangkan Yesung hanya dapat menatap pasrah kekasihnya. Ia telah melakukannya dengan baik; memurnikan Ryeowook, tinggal menunggu reaksinya. Yesung mengeratkan genggaman tangan dinginnya pada Ryeowook.
Ryeowook dapat merasakan tubuhnya seolah terbakar saat itu juga. Aliran-aliran kecil yang mengalir di setiap inci tubuhnya terasa seperti ingin memeras tubuhnya.
Dapat dilihat oleh Yesung perubahan Ryeowook saat ini. Kedua iris mata sewarna lelehan madu itu menggelap, berubah warna menjadi hitam sekelam obsidian milik Yesung. Begitu pula surai cokelat keemasan tersebut kini menghitam. Yesung kembali mengelus surai yang telah berganti warna seperti miliknya tersebut. Ryeowook tak lagi berteriak, setelah beberapa menit berlalu ia kini menatap Yesung dengan mata setengah terbuka dan nafas yang terengah-engah.
Dan untuk pertamakalinya Yesung menerima tatapan dari Ryeowook yang kini memiliki iris mata sewarna obsidian yang begitu hitam dan mengagumkan dengan setitik pearl yang terpancar dari kedua belah matanya.
"Yesung-hyung..."
Sesaat kemudian Ryeowook memejamkan kedua matanya yang terasa berat. Yesung yang melihatnya hanya tersenyum dan perlahan mengecup bibir mungil milik Ryeowook. Ia menutupi tubuh Ryeowook sebatas lehernya dan bergumam pelan.
"Mimpikan kita di tidur terakhirmu. Saranghae, Kim Ryeowook."
.
.
.
.
.
Ryeowook mematut dirinya didepan cermin besar yang dapat memperlihatkan tubuhnya dari kepala hingga ke ujung kaki. Ia yang saat itu mengenakan kemeja putih besar yang menutupi tubuhnya hingga dua puluh senti diatas lutut yang terlihat begitu manis.
Ryeowook kemudian membuka tiga kancing teratas kemejanya. Menatap melalui cermin di bagian dadanya yang kini terdapat simbol lingkaran rumit yang simetris. Tentu saja lambang Murni Istimewa.
"Kau menyukainya, Karamel?" sepasang lengan segera memeluk Ryeowook dari belakang. Tanpa perlu menoleh, Ryeowook dapat memastikan bahwa orang tersebut adalah kekasihnya.
"Tentu saja." Ryeowook tersenyum seraya mengusap lengan Yesung di perutnya. "Kenapa kau masih memanggilku karamel? Mata dan rambutku kini sama seperti milikmu, Hyung."
Yesung terkekeh dan mengarahkan tatapan Ryeowook dan dirinya pada cermin. "Karena kau tetap manis seperti karamel."
Ryeowook hanya tersenyum cemberut menanggapi kata-kata kekasihnya. Ia kemudian mengarahkan kedua tangannya keatas. Menepuknya pelan dan merapalkan mantera sihir.
"Garnitan, Bluebells."
.
.
.
.
.
"Sepotong kisah minoritas yang tak pernah kau lihat namun dapat kau rasakan."
.
.
.
.
.
~ THE END~
Bonvenigas reen! #halah
Akhir yang tak diharapkan tapi saya mengharapkan akhir T_T
Setelah sekian lamanya, entah kenapa rasanya saya harus mengakhiri cerita ini. Dan lagi sangat tidak memuaskan, maafkan~ -_-
Review, ne? :3
Sampai jumpa! :)
