;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;- ;-;-;
Am I Woken Up? (Part II)
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;- ;-;-;
A/N : Disclaimer dan yang lainnya ada di ujung chapter 1
.
.
"GRRROOOARRR~RRR!"
Aku yang masih menyembunyikan kepalaku seketika terpaku saat melihat apa yang telah memecahkan kaca jendela kamarku dan mengaum sekeras ini. Tubuhku perlahan mulai bergetar dan paru-paruku kalang kabut untuk mengatur oksigen agar bisa mengimbangi kecepatan laju darahku yang terpompa lebih kencang. Aku tak ingin melepas jemari kananku yang mencengkeram erat seragam Lily saat ini. Aku… takut.
"Miku chan… tenang ya, ada Lily Nee-chan di sini" ucap Lily sambil mengusap lembut kepalaku. Mencoba menenangkanku, tapi bagiku itu tidak berpengaruh sama sekali selama makhluk menyeramkan itu masih ada di depan mataku. Makhluk berwarna abu-abu dengan tubuh bak binaragawan dan memiliki kepala serta sepasang sayap kelelawar, juga taring dan kuku tajam yang bisa merobek maupun mengoyak tubuhmu hingga menjadi gumpalan daging.
"Tch… Gargoyle…" kudengar Lily kembali berbicara, kali ini pada dirinya sendiri dan menyebut makhluk mengerikan itu gargoyle. Eh? Gargoyle? Tunggu, Lily mengetahui makhluk apa ini, jadi, ia pernah menjumpainya sebelumnya? Apa ia juga memiliki pengalaman pahit sepertiku? Aku sembulkan kepalaku dari dekapan Lily dan menatapnya.
Tapi, apa yang baru saja kulakukan membuatku semakin terkejut dan mengubah ekspresi yang hendak kutunjukkan padanya dengan instan. Lily yang sekarang kulihat, benar-benar berbeda. Ada keganjilan yang mencolok pada dirinya. Ia menggeram hingga ku bisa melihat deretan gigi putihnya, yang mana ukuran gigi taring atas bertambah beberapa senti. Iris mata yang bulat berubah membujur, seperti mata kucing. Telinga runcing dan berambut halus di atas kepala… cukup! Lily… siapa kau sebenarnya? Dan secara reflek, aku pun mendorongnya hingga terjatuh di lantai.
"Kyaaa!" pekiknya sebelum membentur lantai keramik yang keras. ia kemudian melihat kearahku seolah bertanya "apa yang ku lakukan?" sambil menggerak-gerakkan telinga di atas kepalanya. Kemudian ia terdiam, kembali menggerak-gerakkan daun telinga aneh itu, dan memberiku tatapan sangat terkejut saat ia meraba kedua benda itu. "Mi-Miku chan… "
Kurasakan aliran darahku tiba-tiba melambat, telingaku berdenging lagi. Sekejab kemudian, aku menjadi tuli, tak bisa mendengar apapun kecuali detak jantungku sendiri yang perlahan-lahan. Otot-otot dan persendianku melemas, kulitku mati rasa, bayangan gelap mulai merambat dari sudut pandanganku dan yang terakhir… semua menjadi hampa.
x-X-x
"Miku, mengapa kamu murung?" suara yang sangat ku kenal tiba-tiba merangsek gendang telingaku. Membuat kegelapan sejauh pandanganku sekejab lenyap dan berganti padang rumput yang luas. Aku terduduk di sana, menatap kosong ujung yang menghilang di titik buta.
"Apa kamu sedang ada masalah?" suara itu kembali bertanya padaku. Akupun menoleh ke arah kananku dan menemukan senyum dari gadis pirang berpita besar yang mengembang seolah menyambutku, ia mengenakan pakaian sailor dengan corak kuning yang ku kenal. Itu… Rin?! Mataku seketika terbelalak mendapati sosok yang tak pernah lagi ku lihat setelah sepuluh tahun. Bahkan, bukan hanya ada Rin di sini, tetapi juga ada Gumi, Len dan Luka! Sedetik kemudian, kurasakan air mata mulai membanjiri pelupuk mataku, di susul rasa hangat menuruni pipiku.
Seketika, rindu yang selama ini ku pendam membuncah ruah, bergolak hebat bagai ombak samudra di dada. Aku pun menyambar tubuh kecil di hadapanku ini dan memeluknya erat, seperti ingin membuatnya melebur bersamaku sehingga aku tidak akan kehilangannya untuk kedua kali.
"Ekh?" Rin memekik kecil, aku tersenyum bahagia. Ia kemudian mengelus lembut punggungku dan aku masih tetap tersedu di pundaknya.
"Aku merindukan kalian" isakku. Rin mendorong tubuhku perlahan, membuat sedikit jarak dariku. Ia masih dengan senyumnya. Senyum yang tidak mungkin ada duanya di dunia, senyum yang bisa membuatku mengenalinya dari saudara kembarnya.
"Kami di sini juga sama" ia berujar sambil menyisihkan sebuah poni yang menggantung di wajahku. Tangannya menggenggam tanganku. Waktu kini terasa berjalan sangat lambat di sekitarku. Berbagai macam memori indahku bersama mereka satu persatu bermunculan bagai lembaran album nostalgia yang terbuka tertiup angin yang lembut.
"Jika begitu! Aku juga bisa tetap bersama kalian di sini bukan?" tanyaku kemudian penuh harap. Namun Rin terdiam, senyumnya sirna dan ia terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku. Len yang berdiri di belakang menepuk pelan pundak Rin, menggelengkan kepalanya saat Rin mendongakkan wajah pada saudara kembarnya itu dan gadis itu tertunduk lesu. Kudengar suara sesenggukkan, lalu Rin kembali menatapku, tapi matanya kali ini berkaca-kaca.
"Maaf Miku, kamu tidak bisa" ucapnya lirih. Kesedihan kembali menjalar dalam diriku. Mataku membulat, kerongkonganku mengering. Aku ingin mempertanyakan alasan Rin berkata demikian. Tapi yang keluar dari mulutku hanya potongan-potongan kalimat yang tidak utuh sama sekali. Mengapa? Kalian juga rindu padaku bukan? Mengapa aku tidak bisa?
"Kau tidak bisa, Miku Hatsune" kali ini kudengar suara yang lain. Suara datar, dingin dan sinis. Bukan suara, Rin, bukan Len. Bukan juga Luka maupun Gumi. Tetapi suara dari sosok pria misterius itu. Pria berpakaian setelan hitam yang menghampiri dan menyerangku malam itu. Mustahil! Bagaimana mungkin?
"Mustahil? Selama itu masih di dunia, tidak ada yang mustahil bagiku" lanjutnya seperti membaca isi kepalaku. Aku pun menoleh ke sisi yang lain dan secara tiba-tiba sensasi sedingin es melingkar di pergelangan tangan kiriku, bersamaan dengan itu, kudapati pria yang ku maksud telah duduk di sampingku, dan sensasi dingin tadi rupanya berasal dari genggamannya yang erat. Pria itu tengah menghadapkan wajahnya ke arah cakrawala, seperti mengacuhkanku. Tapi tentu saja, ia tidak benar-benar melakukannya.
"Apa maumu!" bentakku sambil mencoba melepas genggaman yang mengunci tangan kiriku. Aku coba gerakkan lenganku kesana kemari dengan sekuat tenaga, menarik tangannya dengan tangan kananku, memukul-mukul. Namun tak satupun itu membuahkan hasil, malah ia semakin mempererat jemarinya. Pergelanganku sampai sakit luar biasa, seakan ingin remuk. Aku pun menjerit kesakitan.
"Rin! Tolong aku! Lepaskan dia dariku!" rengekku pada Rin yang masih berada di sampingku. Ia tersentak lalu berusaha meraih tanganku yang di genggam oleh pria misterius ini. Sekilas rasa sakitku terasa berkurang karena Rin masih mau melakukan sesuatu untukku. Tapi lagi-lagi, di setiap aku merasa bahagia, seseorang merusaknya, tapi kali ini… Len? Dengan cepat Len meraih tangan saudarinya, menariknya ke atas dengan paksa. Aku terpaku tak percaya! Mengapa, Len?! Kenapa kau menghalangi Rin!
"Sentuh aku, dan kalian akan hancur menjadi serpihan debu" ku dengar pria itu menghardik. Aku tak tahu apa maksudnya, tapi aku bisa melihat Len menggertakkan giginya dan menatap pria ini dengan tatapan tidak suka.
"Siapapun kau, jika kau berani mencelakai Miku, kami tidak akan tinggal diam" ancam Len. Untuk pertama kalinya salah satu selain Rin berbicara di depanku. Sejak aku berada di sini, hanya Rin yang tampak lebih banyak berkomunikasi denganku.
"Oh, begitu? Untuk orang yang sudah mati, kamu masih punya cukup nyali" pria ini berujar dingin. Tunggu, mati?
"Ya, dia sudah mati, Miku Hatsune. Apa kau lupa? Ataukah berpura-pura lupa?" cibirnya padaku. Aku hanya bisa terdiam untuk kesekian kali, kurasakan sesuatu menyesakkan dadaku.
Mati…?
Mati…?
Luka, Gumi, Len, Rin…
"Jika kau sebegitu pelupa, kurasa ini akan menyegarkan pikiranmu" lanjut pria ini lalu menjentikkan jari. Padang rumput indah tiba-tiba lenyap seperti pasir di tiup angin. Cahaya terang berganti remang, lalu di depanku… peristiwa yang ingin kulenyapkan dari pikiranku terulang kembali. Malam berdarah itu, makhluk-makhluk yang tak ku lihat jelas itu, bau amis darah, tubuh yang tergolek tanpa jiwa, semua sama persis seperti waktu itu.
"Hentikan… siapapun kau! Hentikan! Cukup!" pekikku histeris. Pria itu kembali menjentikkan jari dan semua kembali seperti semula. Padang rumput dengan angin sepoi.
Keringat dingin mulai membanjiri keningku, jantungku kembali menderu, napasku juga bergemuruh. Aku menoleh ke arah Rin dan yang lain, mereka semua tertegun. Tak jauh beda denganku. Namun saat ku menoleh kearah pria tadi, sebuah senyum sinis tergantung di bibirnya. Dia… dia benar-benar orang yang sadis.
"Bagaimana sekarang? Masih ingin mengancamku? Dan kau, Miku Hatsune, kau pasti sudah ingat, kan?" tanyanya datar.
"A-Aku ingat semuanya…" jawabku bercampur isakan yang tak bisa kuhentikan. Jadi, itukah alasan aku tak bisa bersama Rin dan lainnya saat ini? aku memperhatikan mereka lagi, Rin tersenyum pedih, begitu juga yang lain.
"Jika tiba saatnya, kita akan kembali bersama, Miku" ucap Rin seolah menjawab pertanyaan dalam pikiranku. Dan setelah itu, aku merasakan pergelanganku di tarik dengan keras, aku merintih, lalu kembali menoleh pada pria itu.
"Sekarang, ada hal yang lebih penting dari sekedar duduk di sini, selebihnya, tempat ini membuatku muak" ucapnya sambil menarikku lebih keras lagi, aku mengerjap, berdiri dari tempat dudukku dan mulai mengikutinya saat ia berjalan, aku tak punya pilihan lain selain menurutinya.
"Maaf, Miku" ucap Rin untuk terakhir kali. Jarak kami pun perlahan-lahan semakin melebar seiring langkahku yang tertatih. Kemudian, setelah beberapa langkah aku berjalan, kurasakan tubuhku seperti di sapu angin kencang. Semua terasa melayang dan penglihatanku menghitam.
x-X-x
"Lily, cepat bawa dia pergi! Aku akan menahan Gargoyle ini!"
"Rinto!"
"Jangan hiraukan aku!"
Sayup-sayup kudengar suara dua orang saling menyeru. Seorang perempuan dan… aku tak yakin satunya lagi, suaranya terlalu melengking untuk laki-laki, tapi juga tidak terlalu tinggi seperti perempuan. Seperti…
"Rinto! Awas!"
Dan setelah itu yang kudengar adalah suara benda membentur tembok di susul auman keras. Aku ingin membuka mataku untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi. Kelopak mataku berat, tapi aku tetap mencoba membukanya. Dan yang kulihat… Lily, masih tetap dengan wujud anehnya. Aku ingin mendorongnya lagi saat aku sadari ia tengah memegang kedua lenganku, tapi tubuhku terlalu lemas untuk melakukannya setelah mengalami kejadian sebelumnya saat aku tak sadarkan diri. Semua usahaku hanya membuatnya tertawa riang melihatku telah terbangun. Ia masih memanggilku Miku chan, meski aku meneriakinya monster.
Tidak ada gunanya, aku buang wajahku ke arah lain, dan aku pun melihat sosok lain yang di sebut Rinto oleh Lily. Ia memiliki sepasang sayap putih di punggungnya dan menoleh ke arah kami karena mendengarku tengah berontak.
"Lily? Ada apa lagi?" ujarnya dengan nada kesal lalu menatapku. Mata kami saling bertemu dan saat itu juga aku terdiam. Apakah aku masih tidak sadarkan diri? Apakah mungkin dia kembali ke dunia dengan sepasang sayap itu? Karena aku seperti melihat…
"Rin…?" rambut pirang itu, wajah itu, jepit yang terpasang di poninya. "Kamu… Rin?" tanyaku lagi, suaraku bergetar. Ia memandangku bingung, lalu Lily mengguncang tubuhku dan menanyakanku ada apa. Aku kembali menoleh pada Lily dan entah mengapa ketakutanku padanya lenyap. Aku tergagap, hanya bisa mengarahkan telunjukku pada sosok itu dan tetap menyebutnya… "Rin…?"
Lily memandangku lekat-lekat seperti keheranan, lalu ia berkata, "Jika yang kau maksud Rin itu Rinto, maka iya, dia Rinto"
"Rin… to?" ulangku, aku kembali memperhatikan sosok tadi. Mata yang sama, wajah yang sama, rambut yang sama, jepit yang sama. Tapi… tunggu… badan yang kecil tapi cukup kekar dan maskulin… perut six-pack… rambut yang lebih pendek… dia… laki-laki?
"Namaku Rinto Kagamine. Aku seorang Harpy dan Lily di sebelahmu adalah seorang Lycan. Sekian perkenalanku, kau harus pergi dari sini. Karena asal kau tahu, Gargoyle itu menyebalkan"
.
.
A/N : Terima kasih atas waktunya. n_n
