;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

I Hate Your Moe Face, But Fortunately, Not With Your Banana

;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

.

.

.

Aku membuka mataku yang sebelumnya terpejam. Langit malam tanpa bintang membentang di hadapanku. Aku segera beranjak dari tempatku membaringkan diri lalu menggerak-gerakkan leherku yang terasa kaku. Setelah menarik kesadaran gadis berambut teal barusan, tubuhku benar-benar terasa pegal, ah, memang bukan hal yang simpel. Tapi lumayan, aku bisa sedikit mendapat hiburan, sebulan ini entah mengapa semua terasa menyebalkan. Tidak ada satupun yang bisa membuatku merasa sesenang tadi. Sebenarnya, aku ingin berlama-lama, andai saja bukan karena adanya Gargoyle itu, pasti aku bisa melihat wajah sedih gadis itu, wajah putus asa, kehilangan, ketakutan.

Dasar "benda" sialan, mengapa selama ini ia selalu menghalangiku untuk memasuki alam bawah sadar gadis itu. Apa ia tidak tahu kalau aku di sini bosan setengah mati? Tujuan awalku memberikannya pada Miku Hatsune adalah agar aku selalu bisa memantau keadaan gadis itu dan menyelinap dalam mimpinya. Tapi apa yang kudapat? Selama ini aku hanya bisa mengendus keberadaannya saja tanpa bisa berbuat apa-apa, dan dia hanya memanggilku di saat seperti tadi yang mana itu baru pertama kalinya aku bisa memasuki isi kepala gadis itu. Aku akan benar-benar mengeluarkannya dari tubuh gadis berkuncir dua itu saat Lily dan Rinto membawanya kemari, dan melumatnya hingga hancur seperti jus. Aku tak peduli walau ia bagian dari tubuhku. Menolak kemauanku berarti meminta mati. Kulangkahkan kakiku dan berjalan di atap gedung yang cukup luas ini, kedua tanganku kusarungkan di saku celana hitamku. Dan aku Menunggu.

Sebenarnya, aku bukanlah orang yang suka diam menunggu, namun aku juga bukan orang yang akan mengumbar emosi jika siapa yang kutunggu tak kunjung ku dapati batang hidungnya. Aku hanya tidak betah jika hanya diam mematung. Instingku bisa membuatku gila dengan bisikan-bisikannya yang tidak satu atau dua kali membuat kerongkonganku kehausan oleh rasa darah.

"Ojii Sama…" kudengar suara kecil tapi melengking memanggilku, di susul hembusan angin dingin lalu berganti langkah kaki seseorang di belakangku. Aku tahu siapa itu. Sebetulnya aku sudah mencium keberadaannya dari jauh, Cuma aku malas untuk mempedulikannya. "Apakah… Rinto baik-baik saja…?" tanyanya padaku dengan hati-hati.

Aku palingkan wajahku ke kiri dan memutar satu-satunya bola mataku yang mampu meraih sosok itu. Seorang gadis Harpy berambut pirang berkuncir tengah menatapku cemas. Ia memakai shortpants hitam dan singlet putih. Sarung tangan tanpa jari dan bertelanjang kaki. Oh ya, tentu saja, mana ada Harpy memakai sepatu? Apa unggas tampak cocok dengan memakai sepatu?

"Saudaramu itu? Julukannya bukan lagi Archangel jika ia tidak bisa mengatasi tantangannya malam ini, Lenka Kagamine sang Valkyrie" jawabku datar pada gadis itu. Matanya yang biru cerah bergulir memandangi beton di bawah kakinya, di ikuti pelupuk yang mengatup setengah dan alis yang mengerucut sehingga ekspresi khawatirnya semakin nyata. Hmm, lumayan, sebuah camilan.

Setelah cukup puas memandanginya, aku palingkan kembali wajahku mengikuti arah langkah kakiku. Lalu aku menghentikannya begitu saja setelah ku menginjak tepian, sembari memejamkan mata dan mulai menerawang dalam bilik ingatanku.

Entah sudah berapa ribu tahun aku memimpin perlawanan mereka pada Cardinal Seven. Pada kaumku sendiri yang telah membuangku dan berusaha mengacau keseimbangan. Semua seperti berputar tanpa habis bak roda yang menggelinding di jalanan penuh kerikil. Ada masa di mana aku menyunggingkan senyum penuh kesombongan dan ada masa juga aku harus menggila membantai lawanku di medan perang. Tapi aku sebagai salah satu makhluk abadi, lama-lama menjadi jemu juga dengan semua ini, semua yang terus berlalu dan berganti baru. Meninggalkanku yang tetap bergumul dengan dendam dan obsesi yang terus menggerakkan tubuh tanpa denyut nadi ini.

Mungkin kata-kata yang muncul di benakku kini terdengar konyol dan berlawanan dari apa yang biasa aku perlihatkan. Aku yang pendiam namun sarkastis dan gemar mengumbar senyum sinis. Ha ha ha, apakah… semua tadi terdengar seperti aku mulai merasa putus asa? jangan salah kira, aku tak pernah putus asa, tidak ada putus asa dalam kamusku. Seperti yang ku bilang, justru semua itu adalah apa yang membuatku tetap berada di sini. Tetap berdiri bersama kegilaanku dan hasrat menuntut balas. Yah, walau sedikit demi sedikit aku mulai peduli pada semua yang ku seret, atau lebih tepatnya tanpa sengaja terbawa oleh pusaran yang ku buat.

Dark Being… Julukan yang sering ku dengar dari media massa tentang keberadaan makhluk-makhluk sepertiku entah mengapa melintas begitu saja di kepalaku sekarang. Sebutan itu sebenarnya kurang tepat jika mereka menujukannya pada semua yang muncul di sini. Karena Dark Being yang sebenarnya hanyalah aku dan para Cardinal Seven. Sedangkan yang lainnya adalah para Fantasinian dan Corrupted, sisanya lagi Lesser Demon.

"Ojii sama… anda… mau pisang?" gaya bicara ragu-ragu ini kembali ku dengar. Hanya untuk menawarkanku sebuah… pisang?

Pisang? Ku buka kembali mataku dan ku lihat sebuah benda lonjong berwarna kuning telah berada di ujung hidungku. Benda bernama pisang itu seketika mengusik indera penciumanku dengan wangi manisnya yang menguar dan menggelitik syaraf. Ku ikuti lekuk jari-jari lentik pemilik tangan yang menggenggam benda ini, berlanjut ke lengan, lalu berakhir pada seulas senyum hambar Lenka yang entah sejak kapan mengahampiriku. (Terlalu tenggelam pada pikiranku hingga tidak peduli keadaan sekitar. Ah, dasar kebiasaan)

"Huh?" hanya itu yang kemudian ku ucap seraya membuka sedikit mulutku yang terkatup dan menurunkan alis mata kiriku. Gadis itu memperhatikan perubahan ekspresi di wajahku lalu mengerjap takut.

"Anda… tidak suka… maaf kan saya!" seru Lenka seraya menarik pisang dari hadapanku, memeluknya lalu membungkuk meminta maaf.

"Maaf… Ojii Sama… hamba hanya mencoba menenangkan diri, hamba terlalu khawatir memikirkan Rinto… memakan buah ini sendirian malah membuat hamba semakin tidak bisa tenang" sambungnya yang menurutku panjang lebar. Huft… kembar memang tidak bisa pisah jauh lama-lama.

"Kalau begitu, jangan di makan" responku malas. Gadis itu menegakkan kembali badannya lalu menatapku kecewa.

"Eh? Tapi… hamba lapar" ujarnya di susul suara gemericik (?) perut kecilnya, lalu memberiku sepasang Puppy-eyes. Argh, oke-oke… Lenka… itu super Moe dan aku sangat tidak tahan sampai perutku mual. Aku pun melenguh pelan dan terpaksa mengulurkan tanganku untuk meminta benda yang ia peluk itu kembali. Sial, hukum kebalikan berlaku pada diriku, namun untungnya tidak berlaku pada apapun yang masuk ke tubuhku. Jadi aku masih bisa santai saja menemani gadis ini memakan buah favoritnya.

"Sini… berikan padaku, satu hal lagi, tak perlu memanggilku Ojii Sama dan berhenti memanggil dirimu hamba, mengerti?" ucapku datar sambil menggerakkan jari-jariku. Ia mengangguk senang, memberiku pisangnya lalu duduk mengayunkan kakinya di sampingku yang masih berdiri sambil mengupas pisang miliknya sendiri. Ojii sama? Rasanya aku ingin tertawa dalam hati, panggil aku seperti itu jika aku berhasil menyapu bersih Cardinal Seven.

Sebelum itu terpenuhi, panggil aku Kurone Yamikawa.

.

.

.


Beelzebub : "Eh? Jadi orang jelek yang bikin Miku ampe nangis itu agan toh? Wah, wah, ane ga mau tanggung jawab dah kalo ampe di kejar fans-nya Miku pake beragam senjata kek tawuran antar pelajar kemaren. Gimana? Bener ga readers?"

A/N : (Cuek) Terima Kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca…

Beelzebub : "Membaca? Yang mampir aja dikit, boro-boro mau baca"

A/N : (Mau nangis sambil melototin pet) segala macam review akan author terima dengan lapang dada.

Beelzebub : "wakakakakakakaka, rasain tuh, kualat abis bikin Miku nangis"

A/N : (ngacungin raket listrik sambil ngejar pet yang mau kabur)