;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

Fulfilled Wish

;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

.

.

.

"Namaku Rinto Kagamine. Aku seorang Harpy dan Lily di sebelahmu adalah seorang Lycan. Sekian perkenalanku, kau harus pergi dari sini. Karena asal kau tahu, Gargoyle itu menyebalkan"

Sosok itu menyebutkan nama lengkapnya dengan gamblang dan jelas saat ia memperkenalkan diri di hadapanku. Menyebutkan marga yang seharusnya sudah hilang dari hidupku sembari menepukkan tinjunya di dada penuh percaya diri dan kebanggaan. Tingkahnya, benar-benar mengingatkanku pada sisi tomboy Rin yang ku kenal.

"Katakan… katakan kau adalah Rin!" ucapku lirih bercampur isakan. Sembari meremas selimut ranjangku, ku sembunyikan wajahku darinya dan terus menggumam bahwa dia adalah Rin… dia adalah Rin… Kagamine Rin, teman dekatku! Walau apa yang ku lihat padanya berbeda dari apa yang terekam dalam benakku selama ini. Tapi isi hatiku dan rasa akrab yang kembali ku rasakan walau sekilas, menepis semua logika yang terbaca oleh otakku. Membuatku tetap bersikeras bahwa yang berdiri di hadapanku ini adalah Rin.

"Eh? A-apa maksudmu, Hatsune-San?" ucap sosok itu sekali lagi yang terdengar bingung dengan tingkahku. Apa maksudmu? Apa maksudmu dia bilang? Siapapun dirimu sekarang ini, aku yakin kau adalah Rin. Tolong, akui dirimu sebagai Rin. Aku ingin Rin! Kabulkan impianku untuk berjumpa kembali dengan Rin!

"KATAKAN BAHWA DIRIMU ADALAH RIN KAGAMINE!" akhirnya aku memekik keras seraya menyibak selimut, melompat kearahnya dari ranjang yang mengekangku selama sebulan di tempat yang penuh sesak dengan aroma obat-obatan ini, dan membentangkan kedua tanganku untuk meraihnya. Aku tak tahu sejauh mana tubuhku yang lemah bisa melontarkan ku. Aku hanya bisa berharap, aku bisa meraihnya, merengkuhnya, merasakan kembali indahnya masa lalu yang terrenggut paksa.

"Mi-Miku Chan!" jerit Lily karena aksiku tiba-tiba. Aku tak peduli lagi pada sekelilingku saat ini. Yang ku tuju dan yang ku ingin sekarang ada di hadapanku, aku harus bisa mendapatkannya.

"Whoa! Apa yang kau lakukan?!" sosok itu dengan sigap berlari ke arahku, sayap putih di punggungnya mengepak, mendorong tubuh sehingga melesat dalam sekejap mata. Aku sempat terkejut karena dia menghilang begitu saja dari pengelihatanku, namun tanpa ku sadari, ia telah menangkapku, melingkarkan lengan di pinggang dan punggungku. Aku terbelalak.

"Dasar, apa yang kau pikirkan Hatsune-San?" ucapnya dengan nada serius. Aroma manis jeruk yang kucium saat ia mengucap kata-kata di wajahku barusan membuatku semakin yakin. Aku tak sanggup lagi berkata-kata padanya. Pada akhirnya, tangisku pun pecah begitu saja bersama wajah yang ku tenggelamkan di dada bidangnya.

"Hat-Hatsune-San, kenapa kau menangis? Hey, Lily, ada apa dengannya?"

"Sepertinya… dia mengira kau adalah Rin, teman dekat semasa kecilnya yang terbunuh saat kita datang ke dunianya"

"Oh, pa-pantas saja…"

"Tapi Rinto, Rin itu perempuan loh"

"A-Apa?! jadi… dia mengira aku perempuan?! Apa dia buta?"

"Bukan hal yang mengejutkan juga sih, dia baru saja terbangun dari pingsan karena shock melihat wujudku. Lalu tiba-tiba tanpa sengaja melihat wajah shota mu dan mengira kau adalah teman dekatnya itu"

"Jangan panggil aku shota!"

Sederetan dialog barusan silih berganti tertangkap oleh indera pendengarku. "Rin" yang bertanya penuh kebingungan, Lily lalu menjelaskan tentang pengalaman pahit yang pernah ia dengar dariku dan di lanjut berbagai protes dari "Rin" karena tidak terima di sebut sebagai shota. Membuatku teringat pada saudara kembarnya yang bernama Len, bocah itu dulu benar-benar marah saat kami berempat mengejeknya shota. Mungkin itu juga alasan kenapa ia selalu bersama kami waktu itu. Selain ia adalah saudara Rin, ia juga memiliki wajah seperti anak perempuan. Rasa menggelitik pun tak ayal meliputiku saat ini begitu aku mengingatnya.

"Hik… Hik… hi hi hi hi…"

"Rinto, perhatikan Miku-Chan, dia tertawa… dia tertawa… ha ha ha!"

"Hatsune-San…?"

"Dia tertawa saat aku memanggilmu shota, ha ha ha!"

"Diam kau Lily! Itu tidak mungkin!"

x-X-x

Dingin malam dengan sadis menusuk-nusuk kulitku yang hanya berbalut pakaian khusus pasien rumah sakit. Rambut ku yang berwarna Teal berkibar tersapu angin kencang yang berhembus. Sambil tetap menahan perasaan ngeri, aku mendekap erat Lily yang menggendongku di punggungnya. Saat ini, kami tengah lari dari kejaran Gargoyle yang ternyata berjumlah lebih dari satu dan tepat berada di belakang kami.

Lily, yang memberitahukan dirinya padaku bahwa ia adalah lycan, dengan lincah berlari dan berlompatan dari satu bangunan ke bangunan yang lain. dari atap ke atap, dari tembok ke tembok, menjebol kaca jendela lalu keluar dengan cara yang sama dan bermanuver indah di udara. Ia seperti kucing yang sedang bermain-main di taman bermain jika ku perhatikan. Sesekali ia menoleh padaku dengan senyum mengembang lalu berkata, "Perhatikan Miku-Chan, aku bisa melakukan ini loh, pegangan yang erat ya" atau "Miku-chan tidak apa-apa kan?" tanpa peduli bagaimana dengan belasan Gargoyle di belakang kami atau aku yang memucat setiap kali aksinya membuat jantungku serasa meledak karena terlalu keras memompa darah.

Sedangkan "Rin", ia tak jauh beda dengan Lily. Ia melesat di atas kami dengan sayap yang membentang seolah memeluk bulan purnama di langit malam, beberapa kali berakrobat karena seekor dua ekor musuh menerjangnya dengan kecepatan penuh, atau membalas mereka menggunakan kemampuan khususnya dalam menggunakan pedang sihir yang kemudian ku tahu bernama Zephyr seraya memberi petunjuk arah, sekaligus menuntun kami menuju ke tempat tersebut.

Setelah musuh kami habis tak bersisa karena terbunuh oleh "Rin", kami pun bisa bernapas lega. Dan yang sangat menikmatinya adalah aku, karena apa? di gendong Lily saat sedang dalam pelarian itu lebih mengerikan dari mengendarai jet coaster. Di tambah tanpa pengaman, aku tak bisa membayangkannya jika sampai terjatuh dari ketinggian antara tiga sampai lima lantai.

"Hei Rinto, berapa jauh lagi sekarang?" Tanya Lily dengan muka cemberut. Napasnya sudah tersenggal-senggal, mungkin dia kecapekan karena melompat-lompat sambil menggendongku.

"lima puluh kilo lagi, gedung tua di sana" jawab "Rin" sambil menambah kecepatan lajunya di udara, meninggalkan beberapa helai bulu putih melayang-layang menghujani kami yang berada jauh di bawah. Putihnya bulu-bulu yang beterbaran dan terpoles cahaya bulan membuat "Rin" tampak bagaikan malaikat.

"Indah" gumamku pelan memperhatikan bayangan putih yang semakin jauh mendahului kami. Entah berapa lama aku terpaku hingga yang ku lihat darinya hanya titik putih di ujung mata, lalu kudengar Lily kembali berbicara.

"Archangel" ia kemudian menoleh padaku dan aku menatapnya bingung. Apa maksud perkataannya barusan? Memahami ekspresi yang ku gunakan untuk menggambarkan isi pikiranku, Lily kembali tersenyum ─yang tak ku tahu sudah berapa lama atau berapa kali terpampang di bibirnya yang merah jambu─ dan mulai menjelaskannya padaku.

Selama perjalanan singkat kami, aku pun mulai memahami apa maksud dari Archangel yang ia ucapkan. Rupanya Itu julukan orang yang masih ku panggil "Rin" tersebut. Tidak hanya itu, aku sekarang tahu ada apa di balik sepuluh tahun terakhir.

"Kami adalah para Fantasinian, makhluk-makhluk yang di kenal manusia sebagai makhluk mitologi. Sebelumnya, kami tinggal di dimensi parallel sebelum terseret ke sini karena artifak Titan Gate yang sekarang di miliki oleh Prof. Mikuo Hatsune." Ujar Lily mulai bercerita.

"Seperti yang pernah di gambarkan, di antara kami terdapat yang berwujud hampir menyerupai manusia seperti harpy, dryad, lycan, mermaid, satyr, vampire, elf dan sebagainya. Tapi tidak sedikit juga yang berwujud makhluk-mahkluk lain yang mengerikan seperti hydra, griffin dan wyvern" mendengar penjelasan tadi, aku pun mulai mengingat beberapa siaran televisi yang pernah melaporkan berbagai penampakan makhluk-makhluk tersebut serta beragam kerusakan yang mereka perbuat selama ini.

"Tapi… mengapa mereka menyebut kalian Dark Being?" tanyaku kemudian. Bukankah itu sedikit aneh menyebut makhluk-makhluk seperti mereka sebagai Dark Being. Nama yang berkonotasi monster dari kegelapan serta haus darah yang selalu mengancam nyawa siapa saja mereka jumpai. Padahal tidak semuanya demikian. Lily melenguh pelan sebelum menjawab pertanyaanku barusan.

"Sebenarnya, itu para Corrupted dan beberapa Lesser Demon"

"Corrupted? Lesser Demon?" ulangku lalu di sambut anggukan Lily.

"Iya, Corrupted adalah Fantasinian yang terkena pengaruh kekuatan dari Dark Being, kebanyakan dari mereka berbentuk makhluk-makhluk mengerikan. Sebab, sebagian dari kami tidak memiliki akal pikiran jadi mudah di kendalikan, bagian buruknya, tidak sedikit juga yang memiliki kekuatan besar. misalnya hydra, ia berwujud naga laut berkepala banyak, setiap kali kau potong, akan tumbuh dua menggantikan yang hilang. Kami dulu sempat melawannya ketika menolong para mermaid" jelasnya panjang lebar.

"Tunggu, kau…"

"Miku-chan, Miku-Chan kan sudah janji buat manggil Lily Nee-chan" sela Lily sebelum aku sempat bertanya lebih jauh.

"Uh… Eh… jadi… Lily Nee-chan, selain empat tadi, Dark Being memiliki golongan sendiri dan benar-benar ada?" tanyaku lagi setelah memperbaiki bentuk kalimat pertanyaan yang ku buat dan mengganti kata "Kau" menjadi namanya tidak lupa dengan tambahan Nee-chan, uh, Lily benarbenar Nee-chan yang cerewet sekali.

"Mereka yang memimpin pasukan Lesser Demon, sekaligus musuh kami sebenarnya." ujarnya tenang, lalu perlahan-lahan ku lihat ekspresinya mulai berganti serius, hal yang baru ku lihat darinya seharian ini. "Sudah ribuan tahun kami bertempur dan berusaha mengembalikan mereka ke tempat asalnya, namun, mereka cukup tangguh , meski di pihak kami ada The Forgotten One, kami masih belum sanggup mewujudkan mimpi kami agar bisa lepas dari mereka"

"The Forgotten One, siapa lagi dia? Kalian punya cukup banyak julukan hingga membuatku bingung."

"Tenang Miku Chan, Miku chan akan menemuinya sebentar lagi, dan Nee-chan yakin, Miku chan pasti kenal."

.

.

.


A/N : maaf kalau penulisan rentetan cerita di chapter ini sedikit berantakan, karena sudah tiga hari sakit kepala. Terima kasih karena menyempatkan diri untuk membaca fic ini.

Beelzebub : "sedikit? ini sih hancur total gan, kok malah di publish?"

A/N : (headbang 100x)

Beelzebub : "ckckckckck... efek samping khayalan tingkat tinggi kalau prosesornya kurang canggih. Udah gih, tidur sana, biar rada adem dikit"