;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
When Fun Go Mad
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
.
.
.
"Kurone-San, itu Rinto-Chan! Rinto!"
Teriak Lenka nyaring dari tempat duduknya saat sekelabat bayangan putih terbang mendekat ke arah gedung ini. Gadis yang menyiksaku dengan wajah Moe-nya selama kurang lebih dua jam ini melambai-lambaikan tangannya menyambut si bocah Harpy berwajah Shota itu. Ku rasa, dengan kembalinya bocah itu, kini aku akan terbebas darinya. Bayangkan saja, bagaimana rasanya jika selama dua jam kau harus makan pisang? Seumpama aku manusia, mungkin aku sudah mati sejak tadi. itu fakta.
Huff… dasar Lenka, sebenarnya ia sejenis Kong si gorilla raksasa dalam ukuran portable atau monyet atau apa? ia seperti kerasukan Beelzebub, si tukang makan dari Cardinal Seven, tiap kali melahap makanan kegemarannya itu. Dan yang membuat ku tidak habis pikir, dari mana ia mendapatkan buah lonjong berwarna kuning yang sejak tadi kami makan? Yang ku tahu ia terus menyodorkan satu demi satu setiap kali aku melahap habis pisang-pisang tersebut sambil mengenakan topeng Moe-nya yang memuakkan. Apa ia juga memiliki semacam kantong ajaib di saku celananya seperti dalam sebuah anime anak-anak di televisi? Ah lupakan, tidak ada gunanya memikirkan hal sepele semacam itu.
Sekarang ini, pasti akan terjadi sebuah komedi klasik antara dua anak kembar bersaudara. Rinto, bocah dengan jepit rambut di poninya itu berputar-putar di atas kepalaku sebelum mendarat di balik punggungku. Aku bisa menebak ia kemudian akan berteriak seperti…
"Lenka-Chan!" sambil membentangkan kedua tangannya dan memasang tampang gembira. Lalu gadis di sebelahku akan menghampirinya dengan wajah cemberut, yang dilanjutkan dengan memukul kepala bocah itu sambil berkata…
"Rinto-Chan Baka! Baka! Baka!" di susul gempa lokal berskala kecil yang mampu membuat pengelihatanku ikut bergetar. Aku tak tahu pasti apa yang di lakukan oleh seorang Valkyrie jika sedang kesal karena lama menunggu kepada sang Archangel saat ia kembali, karena aku tetap berdiri membelakangi mereka.
Berkali-kali ku dengar suara pukulan, beton remuk, erangan si Shota itu dan... jeritan rajawali? Owh, gadis yang liar ternyata. Tapi tak bisa melakukan apapun karena senyum sinis yang sejak tadi mengendap di bibirku kini mengembang sempurna bercampur rasa menggelitik yang membuat tubuhku seolah mati rasa. Selain itu, aku memang tidak memiliki niat menolongnya sama sekali. Momen-momen inilah yang ku sebut dengan hangatnya sebuah keluarga. Ha ha ha, terima kasih untuk camilannya, Shota.
"Kamu mengapa lama sekali?! Aku sampai khawatir menunggumu!"
"Ma-Maaf Lenka-Chan…"
"Aku sampai hampir menghabiskan seribu pisang agar bisa tenang!"
"Ampun! Jangan pukul kepalaku lagi!"
"Jika aku sampai gemuk dan tidak bisa terbang lagi, apa kau mau tanggung jawab, hah?!"
"Gwaaa!"
Oke-oke, Gadis remaja memang yang terbaik. Mereka sangat mudah meluapkan perasaan mereka apa lagi untuk tipe childish seperti Lenka. Tetapi maaf Lenka, Aku belum ingin kehilangan salah satu pion terbaikku, jadi terpaksa aku harus menyudahi kesenanganmu.
"Hei Gumiya, bersembunyi di mana kau, tunjukkan dirimu dan hentikan si rajawali sebelum si walet mati tanpa di sadari olehnya." Perintahku pada si Dryad bermata empat berambut hijau, yang baru ku sadari kalau dia lah dalang di balik ratusan pisang yang entah datang dari mana. Mengendalikan tanaman dan memiliki beberapa sifat tanaman adalah kemampuan makhluk ini. Pantas saja sejak tadi ada yang terasa aneh, mengapa di tempat penuh beton aku mencium bau tanah.
"Huh, lagi-lagi seperti ini, Rinto benar-benar seorang kakak yang malang, tapi ia cukup tangguh juga, di hajar seperti itu, kalau aku sendiri pasti sudah mengidap Gynophobia" komentar sebuah kepala yang tiba-tiba muncul di permukaan lantai beton beberapa kaki di depanku.
"Sudah, jangan banyak bicara, tenangkan dia atau aku akan menjadikanmu kayu bakar untuk malam ini" ucapku dingin sambil menginjaknya. Dia melenguh pelan, lalu mulai mengeluarkan seluruh tubuhnya dari balik beton sambil menggerutu dan berjalan menghampiri Lenka yang hendak membanting Rinto dengan gaya pegulat pro.
"Lenkaaa-chaaan…" serunya seperti merayu anak kecil, dan uniknya, di sambut suara imut menjijikkan dari Lenka. Apa aku sedang menonton sebuah iklan produk camilan?!
"Iiiyaaa…"
"Gumiya Nii-Chan punya yang baru loh…" baru? ia hanya mengeluarkan sebuah pisang seukuran lengan dari balik rompinya. Apa yang baru dari itu, itu hanya pisang. Tapi sepertinya, bagi Lenka, selama itu pisang, itu akan menjadi benda yang selalu terlihat baru di matanya. benar saja, gadis itu langsung menoleh dengan mata berbinar dan senyum lebar… sekaligus yang terburuk bagiku karena itu… Moe Attack! Memalukan, aku sampai harus segera mengalihkan wajahku untuk menahan rasa mual di perutku yang semakin menggila.
"Apa? Pisang?" balas gadis itu, masih dengan suaranya yang mengerikan.
"Tapi turunin Rinto dulu yah" dan setelah Gumiya memintanya, seketika itu juga dia melempar Rinto sembarangan seperti gadis kecil yang bosan dengan bonekanya. Lalu berlari-lari kecil seolah tengah berada di ladang bunga menghampiri Gumiya, dan mengambil pisang tersebut. Tidak mempedulikan bagaimana nasib Rinto yang entah sekarang mendarat di mana.
"Gu-Gumiya Nii-chan" gumamnya menatap Gumiya lekat-lekat.
"Lenka-Chan…" bisik Gumiya. Terima kasih dengan kelebihan inderaku, aku bisa mendengar suara dari mulutnya yang hanya bergerak seperti ikan. Eh, tunggu, apa maksud dari semua ini? jangan bilang kalau aku sedang menonton iklan yang entah sejak kapan berubah menjadi salah satu adegan mesra di mana gadis Harpy akan mencium pangeran Dryad karena telah memberinya sebuah pisang raksasa (?) di bawah cahaya bulan purnama di atas atap seperti dalam sebuah manga shoujo fantasy!
Cih, aku benar-benar bisa gila jika terus berada di tempat ini. lihat saja, wajah mereka saling berdekatan sekarang.
"Gumiya Nii-Chan…" ucap Lenka lirih dengan pipi yang mulai bersemu merah jambu dan mata yang terlihat seperti sedang terhipnotis, pasti setelah ini ia akan berkata... "ada upil"
eh, ada upil?
"U-Upil?" ulang si kepala rumput dengan sebelah mata berdenyut-denyut. Tidak menduga serangan balik (?) dari si pirang berekor kuda ini. ia hanya bisa menepuk jidat lalu memijit-mijitnya sambil menyembunyikan wajahnya yang mungkin sekarang terlihat muram. "Sial, aku kalah taruhan. Pasti si Vampire maniak terong itu akan memerasku sampai tidak bisa berbuah selama satu musim" gerutunya sambil terisak.
Vampire maniak terong ya? Tidak salah lagi, Kamui Gakupo, cerdik juga dia. Lenka adalah gadis paling childish untuk usianya, tuan sok keren itu saja tidak bisa menodai pikiran polos makhluk kuning itu, pasti dia memanfaatkan Gumiya yang suka tantangan untuk bertaruh apakah dia bisa melakukan sesuatu ─yang tidak ingin ku tahu─ pada gadis super polos yang di kepalanya hanya ada pisang selain Rinto, untuk memenuhi hobinya mengoleksi terong (?)
Huff… mengapa orang-orang berpotensi seperti mereka memiliki sifat dan kegemaran yang tidak wajar? Tapi terserah, asal mereka bisa mewujudkan keinginan balas dendamku, biarpun memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata…
"Ini jari… ini es krim… dari pada gigit jari, mending gigit es krim"
Grrr, jika tuhan masih sudi mendengarku, aku pasti akan membanting kepalaku berkali-kali sambil berdoa agar mereka semua sembuh dari ketidakwarasan yang mulai membawa pengaruh buruk pada kesehatan otakku. Suara ceria nan idiot barusan, hanya satu orang yang ku ketahui memilikinya.
"Yuki-Otoko, Shion Kaito" panggilku sambil mendongak ke arah si manusia salju yang melayang di atas kepalaku. benar saja, dengan santainya dia melahap es krim batangan di tangannya.
"Di mana? Di mana dia?"
"Itu kau"
"Oh aku, ada apa Ojii-Sama?"
"Bagus, kau mengingat siapa aku"
"Tentu saja, Kaito kan anak yang pintar"
"Terserah, sekarang turun dari atas sana, lelehan es krim mu berjatuhan di kepalaku" jujur, dia benar-benar menjatuhkan lelehan es krim rasa mint tersebut. Aih, seseorang, ingatkan aku untuk mencuci rambt ketika pulang nanti.
"Ojii-Sama juga ingin es krim?" tawarnya yang mulai turun sambil menodongkan Es Krim batangan kepadaku.
"Tidak, terima kasih" tolakku. Aku tidak mau kehilangan otakku sepertimu. Pasti radang dingin karena kebanyakan makan es krim telah membuat semua jaringan syarafmu rusak. Tidak heran jika kau sekarang menjadi Bakaito.
x-X-x
Rencanaku untuk menemui Miku Hatsune dan menerornya menjadi berantakan dalam hitungan detik. Sial, mengapa hampir semuanya ada di sini? Mulai dari Lenka…"Apakah… Rinto baik-baik saja…?" itu yang ia katakan saat datang pertama kali kemari. Entah bagaimana ia bisa menemukanku? Lalu, Gumiya, yang rupanya sedang membuntuti Lenka karena taruhannya dengan si Vampire kolektor terong. Di susul "penampakan" Kaito yang mengaku tersesat saat kembali pulang ke persembunyian kami.
Dan terakhir, si tuan Vampire, Kamui Gakupo yang datang menagih janji bersama Luki, si Elf. Mereka berdua penasaran kenapa ada suara kami semua di atas gedung ini ketika kembali dari berbelanja untuk persediaan. Lalu memutuskan untuk memeriksanya.
"Putri dari Prof. Mikuo Hatsune akan datang!"
"Iya, jadi, bagaimana kalau kita mengadakan pesta penyambutan?"
"Wah, benar sekali!"
"Setuju!"
Benar-benar GAGAL… berkali-kali aku memberi mereka tatapan membunuh, tapi tak satupun menggubris, bahkan si Bakaito bertanya apa aku sedang sakit mata? selanjutnya, dengan kemampuan mereka masing-masing, atap gedung tua inipun kini tidak lagi terlihat menyeramkan seperti sebelumnya.
Sebuah meja kayu besar lengkap bersama kursi-kursinya menyembul dari lantai beton, lalu beragam buah-buahan segar di persiapkan di atasnya oleh Gumiya. Kaito membantunya dengan membuat gelas-gelas kaca es yang tipis tapi keras lengkap bersama botolnya, yang kemudian di isi perasan buah oleh Rinto dan Lenka menggunakan angin puyuh kecil yang mereka ciptakan di antara kedua telapak tangan mereka untuk memeras sekaligus memasukkan perasan tersebut. Dan Luki yang menguasai berbagai macam sihir pelindung, menciptakan bulatan-bulatan cahaya seperti kunang-kunang sehingga beterbangan memenuhi tempat ini.
"Dengan begini, kita akan berpesta!"
"Hore!"
Pekik mereka bersahut-sahutan tanpa peduli padaku. Ah, mungkin sebaiknya aku menenangkan diri saja sejenak, pikirku seraya menyeret kaki dengan malas dari tempat ini. kepalaku serasa ingin pecah sekarang. Aku datang kemari untuk melihat bagaimana ekspresi Miku Hatsune setelah berjumpa kembali dengan mimpi buruknya di dunia nyata, bukan sekelompok Fantasinian yang membuatku gila dan ingin muntah!
.
.
.
A/N : Awalnya author ingin membuat chapter ini sesuram chapter satu, tapi karena khayalan author yang tiba-tiba berkelok kelok ala orang mabok. chapter yang surem pun jungkir balik jadi humor garing, semoga OC author tidak OOC di sini. Terima kasih untuk readers yang menyempatkan waktunya untuk membaca fic ini. Buat saki-chan, rahma mizuki dan Laila Sakatori 24, terima kasih atas reviewnya... m(_ _)m
Beelzebub : "Uda seneng ente gan? he? tapi apa ga kependekan nih cerita? di baca juga rasanya ngebut banget, = . =a"
A/N : sewot aja lu, makanya bantuin mikir, = 3 =
Beelzebub : "Minta di bantuin? gopek dulu dong" #pak-ogah-mode
A/N : susah kalau punya pet bisanya cuma ngoceh #facepalm
