;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
Ding-Dong
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
warn : translated soc-fic
.
.
.
"Ding-dong, Hurry, open the door,
I have come for you, Trying to hide from me is futile."
Ku senandungkan lagu ini hanya dalam iringan langkah kaki di lorong gelap satu arah. Membayangkan bahwa akulah Yokai yang memburu sepasang kakak-beradik di balik kisah lagu ini, Gadis kecil berpakaian putih dengan rok berenda bermandi peluh, tanpa henti berlari berada di depanku. Berbelok ke kanan, ke kiri, ke kanan, ke kiri sambil sesekali menoleh kebelakang, dan bertanya dalam hati, apakah aku sudah berada cukup dekat dengannya? Sungguh menyenangkan.
Seringai sadis merobek mulutku menjadi dua layaknya bentuk bibir boneka kain yang tercabik. Bola mataku membulat lebar, serasa tidak sabar ingin keluar dari rongga mata untuk menggelinding mengikuti langkah kecil sepasang kaki mungilnya. Aku berjalan santai, menyusuri jejak yang di tinggalkan di lantai berdebu dan jeritan histeris yang bergema di telingaku tanpa henti.
"Ding-dong, Hurry, open the door,
I have come for you, It's already too late to run, dear."
Lanjutku menyanyikan deretan lirik selanjutnya. Tetap mengikutinya, menjaga jarak darinya., bersembunyi dalam kepekatan bayangan yang mengungkung sepanjang jalan. Gadis itu tak dapat melakukan apapun untuk menyelamatkan diri selain tetap menapakkan kaki sejauh yang ia bisa, sepanjang napas menyangga pundi-pundi udara dalam rongga dadadnya, sekuat jeritan pilu yang membuatku semakin menelan ludah saat mendengarnya.
Ia menoleh padaku untuk kesekian kali, kemudian kembali memutar kepalanya sembari meneriakkan Nii-Chan, tolong aku! Sebelum jatuh dan merintih karena pergelangan kakinya terkilir. Masih belum menyerah, gadis kecil segera bangkit. Menjauhkan diri dariku meski harus terseok dan menahan perih. Aku tak bisa menahan imajinasiku yang liar ini lagi, tawa beratku pun lepas begitu saja, menggema lantang mengguncang kerapatan udara.
Aku dan dia masih menikmati permainan ini, ini bukan lagi Hide and Seek. Ini adalah Play Tag sekarang, dan itu berarti jika aku mendapatkan-nya, maka sepenuhnya ia akan menjadi milikku. Hmm, mungkin kata-kataku ini terkesan seperti seorang pedhopilia, jadi, bagaimana kalau, ia akan sepenuhnya menjadi menu makan malamku hari ini? Ku dengar dari beberapa Corrupted, tekstur daging anak manusia itu lembut, berasa manis madu dan darahnya bagai gulali.
Tapi sayang, gadis kecil ini hanya refleksi di mataku saja, sedikit hiburan untuk menenangkan diri dari rasa emosi yang kutimbun karena kejadian di atas atap. Seandainya ia adalah sebuah kenyataan, bukan sekedar khayalan semu, mungkin, tidak ada salahnya untuk sekali-kali mencoba, bukan?
"Peering through your window, Our eyes met out of pure luck,
You're too frozen in fear, I want to see you up close."
Ah, betapa nikmatnya. Setiap lirik lagu di dalam rongga kepalaku sungguh terasa bagai ekstasi. Hampir-hampir aku kehilangan kesabaran melihat bagaimana fatamorgana yang ku ciptakan menipu diriku sendiri. Begitu hidup, begitu nyata. tanpa aku sadari sebagian dariku yang asli terekspos dengan sendirinya di tempat yang bahkan tak satupun arwah ku lihat berlalu lalang. Sungguh konyol, sampai sebegitukah aku terobsesi pada gadis itu? pada Miku Hatsune? Mungkin benar. Ah, mengapa tidak aku ganti saja si gadis kecil dengan gadis remaja berkuncir dua tersebut, mungkin permainan menjadi lebih menyenangkan.
"Ding-dong, I am coming in now,
Hurry up and run, Let us play chase and have fun together."
Bukankah sekarang lebih baik, seorang Miku Hatsune yang sedang ketakutan. Dengan mata teal-emerald yang belum kulupakan keindahannya. Kulit pucat yang kontras dengan bibir mungilnya yang merah jambu. Figurnya yang terlihat rapuh karena postur ramping tubuhnya yang menawan. Serta jeritannya yang sama seperti malam itu, juga tidak ketinggalan ekspresi yang membuatku ingin melahapnya bulat-bulat.
Benar! Benar! Seperti itu, lari lah dariku seperti itu, angkat lututmu tinggi-tinggi. Lebarkan setiap jengkal kakimu. Secepat apapun, aku akan mengejarmu. Aku akan menjulurkan tanganku, meraihmu, merengkuhmu. Membuat setiap helai rambut-rambut halus di permukaan kulit seputih bias purnama malam ini meremang hingga hatiku puas.
"Ding-dong, Now I have walked in here,
Make sure you hide well, We need to play a game of go seek."
Miku-Chan? Miku-Chan? Apa aku boleh memanggilmu Miku-Chan? Tak ada jawaban berarti iya. Aku merasa benar-benar kehilangan kewarasan sekarang. Satu persatu pintu di lantai ini aku buka. Beberapa terlepas dari engselnya saat ku tarik paksa, beberapa jebol saat kakiku dengan beringas menendangnya dan tidak terhitung jumlah pintu yang hancur berkeping-keping saat kepalan tangan aku adu dengan permukaan berbahan kayu atau metal. Hanya untuk memastikan mataku pada isi ruangan yang kosong dan berantakan karena di telantarkan begitu saja.
"The clear sound of footsteps, You can be heard throughout your house,
And your trembling breathing, Is echoing around this room."
Aku berjalan sempoyongan menyusuri lantai ini. Aku tidak dalam keadaan mabuk, tapi aku juga tidak bisa di katakan sadar seratus persen. Kedua lenganku bergelayut malas mengikuti gerakan tubuhku yang sedikit membungkuk sesekali oleng ke samping kanan dan kiri. Mulutku tidak berhenti mengeluarkan suara tawa nyaring yang lebih terdengar seperti cicitan kelelawar bercampur keletuk riang dua rahang yang saling bertumbukan.
Belokan demi belokan ku lewati, ruangan demi ruangan ku amati, hingga akhirnya mataku tertuju pada satu-satunya pintu yang terlihat masih utuh. Bola mataku yang hitam sekali lagi membulat, iris biru terangku berkontraksi. Gagang pintu yang berjarak cukup jauh kini terlihat bagai di perbesar berkali-kali. Aku berjalan menghampiri. Kali ini aku memperlakukan satu-satunya pintu yang tersisa ini layaknya sebuah pintu.
You need to learn how to hide … (I see you…) You need to learn how to hide … (I see you…)
You need to learn how to hide… (I see you…) Oh look, I can see your hair...
Ku putar perlahan knob berbentuk bulat berlawanan arah jarum jam. Ku buka perlahan dan ku intip isi ruangan ini. Sepertinya sebuah ruangan pribadi. Cukup luas dengan sederetan kaca jendela yang telah pecah sehingga sinar rembulan bisa masuk dengan leluasa tanpa harus terhalang benda bening yang seharusnya ada di sana. Untuk sejenak, laguku berhenti di sini.
Ku amati lebih detail lagi, di tengah-tengahnya, sebuah benda berbentuk kotak, berkaki empat dan berwarna hitam kusam karena tertutup debu terpajang begitu saja, selebihnya tidak ada. Ku buka pintu lebih lebar lagi lalu ku langkahkan kaki menghampiri benda itu. Dan setelah aku berjalan ke sisi lainnya untuk mengamati lebih jauh, rupanya benda tadi hanya sebuah piano tua.
Sedikit penasaran, ku hampiri dan ku buka penutup tuts alat musik itu. Menekan satu demi satu deretan balok putih dan beberapa balok hitam yang di susun dengan jarak beberapa kotak antara satu dengan lainnya. Secara berurutan, suara khas alat musik itupun mengalir memasuki lubang telingaku.
Sekali lagi, Ku lantunkan lagu favoritku yang tadi terhenti, di temaram cahaya malam purnama. Di temani sebuah piano tua yang kutemukan berada satu lantai di bawah atap. Ku biarkan Jari-jari ku bermain liar pada deretan tuts putih yang berjejer rapi di hadapanku. Waktunya pertunjukan.
"Knock, knock, I'm outside your room now,
I am coming in, I won't bother to ask permission.
Knock, knock, I am inside your room,
Show me where you are, This game will surely be ending soon.
I check under your bed, Located beside your table,
There's no sign of movement, Next, I guess, I'll try your closet…
(Ding-dong, oh look, here you are…)
Berbagai luapan rasa yang tumpah dalam iringan melodi, bercampur dengan desir angin dan jeritan gagak membuat rambut-rambut halus di tubuhku serasa berdiri. Sensasi ngeri menggelitik, dingin mencabik, dan selimut kegelapan yang mampu menyulut halusinasi bagi mereka yang takut akan kesendirian, membuat seringai wajahku semakin menari-nari.
Membuatku membayangkan, bagaimana jika gadis itu di sini? Di tempatku sekarang ini, sendirian? Tidak, berdua saja, denganku.
Bergidik ngeri tanpa daya, terduduk lemas di sudut ruangan, dengan sisa keberanian sekecil lilin yang bisa lenyap hanya dengan sekali hembusan nafas. Rasanya aku ingin membuka mataku lebar-lebar untuk bisa menangkap dan merekam momen menakjubkan seperti itu dalam kepalaku!
"Ding-dong, You were here all the time, (You're it)
Ding-dong, I have found you now, (Now you're it)
Ding-dong, That must mean I've won (Now you're it)
Ding-dong, Time for your demise.
(Ding-dong, The game has finished, No one's left…
Ding-dong, Goodbye, everyone…)
Lagu ini pun akhirnya selesai ku mainkan. Tak ada tepuk tangan meriah, tak ada sorak sorai gembira. Namun ku dapati sesuatu yang lebih membuatku… antusias. Aku mencium aroma bunga yang sangat familiar, satu orang saja yang ku tahu memilikinya. Bukan hanya itu, rupanya ia membawa aroma lain bersamanya. Aroma yang sangat aku nanti-nantikan kedatangannya…
"Miku-Chan, sepertinya suara piano tadi ada di ruangan ini. Pasti dia ada di sini. Selain SeeU, tidak ada lagi yang begitu suka menyanyikan lagu ini"
"T-Tunggu, Lily Nee-chan, jangan jalan cepat-cepat, aku takut"
"Tenang saja, tidak apa-apa."
"Sungguh?"
Decit pintu yang sebelumnya tak ku hiraukan saat masuk kemari, kali ini menyita pendengaranku. Aroma yang tadi hanya merambat samar-samar di kelembaban udara, sekarang menguar bagai kabut bergulung-gulung di sekelilingku.
"Ding Dong" dan lagu ini pun sekali lagi kumainkan.
.
.
.
A/N : Terpikir kalau dalam bulan ini ada halloween, jadi teringat lagu yang di nyanyikan oleh SeeU. Umm, horror-nya kurang terasa ya? Thanks buat rahma mizuki dan Laila Sakatori 24 yang memberikan review dan masih sedia mengikuti fic acakadut author, XD.
n _ na
Soal macam-macam makhluk mithologi, itu karena terlalu doyan baca, nonton sampai iseng-iseng cari infonya di web dan wikipedia, jadi lumayan tahu tentang dewa-dewi, monster, spirit dan sejenisnya. Cuma dalam cerita ini author hanya mengambil yang cukup familiar aja dan setidaknya mudah di cari referensinya atau apalah #plak :ditabokBeelz:, kan mitologi ada banyak, bejibun, iseng buka dewa-dewi Greek aja nyantolnya kemana aja. = 3 ="a
Beelzebub : "ini namanya DEGRADASI, ckckckck, di liat-liat writing-style agan nurun tajem nih dari chapter ke chapter"
A/N : ' - 'a... gue kira cuma gue doang Beelz
Beelzebub : "Ya, emang ente doang lah, siapa lagi yang bikin fic ini? = . ="
