;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
Re-
-demption- / -Union-
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
.
.
.
"Miku-Chan, sepertinya suara piano tadi ada di ruangan ini. Pasti dia ada di sini. Selain SeeU, tidak ada lagi yang begitu suka menyanyikan lagu ini" seru Lily yang begitu bersemangat sembari menarik pergelangan tanganku yang sudah ia lakukan sejak kami melompat masuk ke dalam gedung ini, bertepatan dengan berakhirnya suara denting piano berirama asing yang terdengar cukup manjur untuk membuat bulu kudukku berdiri sepanjang langkahku menuju satu-satunya pintu utuh di sini.
Jujur, aku merasakan keganjilan yang belum bisa ku terka itu apa. Bermula dari perkataan Lily bahwa ada seseorang di dekat kami setelah mengendus udara dan mempertajam pendengaran telinga runcing di kepalanya. Lalu, kondisi lantai ke enam dari tempat kami pertama kali menginjakkan kaki yang begitu berbeda dari lima lantai sebelumnya ─bagai baru di hempas badai atau kurang lebih itulah pendapatku ketika melihat setiap pintu hancur dengan ruangan acak-acakan di baliknya. Dan terakhir, lagu aneh yang berkumandang saat kami menemukan sebuah pintu yang masih utuh di ujung lorong.
"T-Tunggu, Lily Nee-chan, jangan jalan cepat-cepat, aku takut" protesku yang hanya mendapat jawaban singkat darinya agar aku tidak terlalu khawatir ketika ia tiba-tiba melepas jemarinya dari ku, dan berjalan menghampiri pintu yang tinggal beberapa langkah lagi.
"Tenang saja, tidak apa-apa." ia mulai meraih knob kemudian memutarnya perlahan.
"Sungguh?" tanyaku lagi setelah aku berhasil menyusulnya, dia mengangguk. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengabaikan semua keraguan dan mencoba meyakinkan diri pada kata-katanya. Toh, dia juga sudah membuktikan bahwa dia benar-benar tidak memiliki niatan buruk padaku dengan menyelamatkanku dari incaran lesser demon yang tak ku tahu mengapa mereka mengejarku.
Dan hal itu mengingatkanku kembali pada sosok yang masih ku yakini sebagai "Kagamine Rin". Lily sebelumnya berkata bahwa satu-satunya dari Dark Being yang menjadi sekutu mereka lah yang meminta mereka berdua untuk datang. Maka, sudah seharusnya aku memenuhi keinginan siapapun dia untuk bertemu denganku sekaligus bentuk terima kasihku karena telah mempertemukanku dengan "Rin".
Namun, begitu sosok di balik pintu yang menjadi garis pembatas kami dengannya tersingkap,
"Ding-dong, Hurry, open the door,"
dan lagu aneh sebelumnya kembali mengalun saat kaki ku melangkah masuk,
"I have come for you, Trying to hide from me is futile."
Saat itu juga aku menyadari bahwa aku telah membuat sebuah kesalahan. Tuxedo hitam yang di kenakan sosok lelaki misterius itu, rambut putih keperakan yang bergelayut mengikuti keagresifan gerakan tubuh ketika sepuluh jemari menjelajahi balok-balok tuts piano, lalu tawa sinis di antara senandung lirik yang di nyanyikan…
"Selamat datang, kita bertemu lagi, Miku Hatsune,"
Datar berbisik, dingin mendesis. Rasa takut dan jijik yang terakhir kali di berikannya padaku malam itu, hingga ku merasa seperti dalam cengkeraman suatu tenaga luar biasa, dan setiap simpul syaraf di balik setiap inci kulitku di lucuti hingga tak bersisa ─sama seperti sekarang ini─, mana mungkin aku bisa lupa?
Seketika itu juga ku ingin menjerit sekuat tenaga. Aku ingin berbalik dan berlari sejauh kedua kaki ini mampu melangkah. Ini tak bisa kupercaya, sungguh mustahil! Tapi aku hanya bisa terpaku di atas kedua lututku, sementara permainan musik yang di mainkan menjadi semakin liar membombardir gendang telinga tanpa ampun lagi. Aku sudah menduga ada yang salah sejak Lily menuntunku menuju suara piano misterius di luar pintu ini, yang mana bagiku lebih seperti latar pengiring opera bertema gothik begitu jarak kami dan tujuan hanya tersisa beberapa langkah.
"sebulan tak berjumpa, kau masih tetap semenarik saat kita bertemu"
Dia yang berbalut tuxedo dan duduk bak seorang maestro pianis orkestra di depanku kini perlahan memalingkan wajah, tetapi bukan sekedar memalingkan wajah, sebab dia memelintir kepalanya sendiri seratus delapan puluh derajat kebelakang. Sehingga aku bisa melihat dengan jelas… sebuah wajah mengerikan bak topeng porselen dengan bagian bibir hancur terpecah, rongga mulut hitam menganga dan soket mata kosong bersimbah darah.
Tentu saja, jantungku berdebar tidak karuan tanpa di perintah. Seumpama benda berdetak ini memiliki keinginan sendiri, pasti ia akan mencabut diri dan meloncat keluar dari kerongkonganku begitu sosok di depanku bersorak gembira seperti menemukan mainan lama yang terkubur dalam kotak waktu masa kecilnya.
"Ha ha ha, tetap seperti itu Miku Hatsune!" ia berseru, beranjak dari tempat duduknya. Sepasang lengan yang di gunakan untuk memainkan balok-balok putih alat musik di hadapannya masih menari riang, seolah mereka memiliki mata dan pikiran masing-masing yang bergerak dengan kompleks dan harmoni.
"Aku tahu kamu bukanlah seorang gadis yang akan pingsan dengan begitu mudah melihat semua ini" memiringkan kepala yang sudah melenceng jauh dari posisi wajar padaku, ia menegakkan postur tubuhnya. Tak lama kemudian, suara putus urat-urat daging di ikuti bunyi pembuluh nadi dan vena yang pecah, bergema nyaring berkecipak entah dari mana asalnya. Lalu ia berbalik badan ke arahku sembari memperbaiki letak kepala dengan dua lengan yang sekarang berupa kerangka saja. Kali ini aku menyadari, dari mana suara tadi berasal.
"Miku chan, jangan tunjukkan ketakutanmu padanya" bisik Lily yang hampir ku lupakan kalau ia masih di sampingku dan mencoba membuatku tenang. Aku melirik sekilas padanya, gadis ini masih tersenyum ceria. "kau boleh tidak percaya padaku" ia menggantungkan kalimatnya lalu menatap dia yang ada di depanku "tapi sebenarnya The Forgotten One benci dengan wajah perempuan yang imut" tutupnya.
Apa dia tengah mempermainkanku? Yang benar saja?! mustahil makhluk seperti itu membenci hal sederhana semacam itu! aku memejam mata lalu menggelengkan kepalaku kuat-kuat sebagai ungkapan bahwa aku memang tidak percaya sama sekali pada ucapannya. Air mataku mulai merembes dari celah-celah pelupuk dan ku tak tahu harus bagaimana sekarang.
Saat itu lah ku dengar Lily menjerit, suara tembok remuk di hantam sesuatu dengan keras, lalu di susul gerutuan gadis berambut pirang itu yang tidak jelas tentang "Aku lupa kalau dia melepas matanya" atau semacamnya. Kemudian sesuatu bertekstur keras dan dingin menyentuh daguku, membuatku terbelalak hanya untuk mendapati makhluk mengerikan ini sedang mengamati ekspresi putus asa di wajahku.
"Bagus, Miku Hatsune," ucapnya, sementara lelehan hangat berlompa-lomba menuruni pipiku setalah pelupuk mataku terbuka lebar-lebar. Hembusan hawa dingin dari mulut yang terdeformasi itu seketika bisa kurasakan tengah merayap di wajahku, membuat bola mataku semakin membulat sempurna karena rasa ngeri luar biasa "tataplah aku hingga rasa yang menggelitik ini terpuaskan"
Dia kembali tertawa, mencengkeram garis rahangku dan menghela napas dalam-dalam, "Kau tahu, aroma tubuhmu itu sangat menggoda" menjijikkan, apa maksud ucapan itu! apa dia akan… "aku bisa mencium bau manis darah yang bersembunyi di tiap sumsum tulangmu hingga kau memucat seperti ini" …memakanku? apa ku datang menemuinya untuk menjadi santapan makan malamnya? Lily… tolong aku… jauhkan dia dariku, kumohon.
"Hei tuan sok seram"
"Lily?!"
"Coba lihat apa yang ku temukan?"
Entah apa yang Lily lakukan saat ini, makhluk bernama Dark Being ini membuat pandanganku hanya tertuju padanya sehingga ku tak bisa memperhatikan sekelilingku. Namun tiba-tiba dia meronta dan melepas cengkeramannya dari ku setelah Lily memanggilnya dan membuatnya tersentak, mengacak-ngacak rambut dan meremas kepala tanpa henti, sebelum jatuh ke lantai seperti orang yang meringkuk sehabis di pukuli.
"Sentuh lagi Miku chan dan kamu akan mendapat 'dosis ekstra' dari suster Lily" ancam Lily yang sekarang bisa ku lihat tengah menggenggam dua ekor tarantula mengeliat-geliat di masing-masing tangannya. Berbeda dengan tarantula biasa yang ku tahu dari buku-buku bacaan. Bagian ekor sedikit lonjong, terdapat titik merah dengan cincin biru melingkar di sekelilingnya. Tunggu! Jangan-jangan…
"Bereng…" makhluk yang berguling di depanku ini hendak mengumpat tapi kembali meronta "kembalikan mataku!" teriaknya geram.
"Lily…" aku terperangah begitu mengetahui apa yang sebenarnya dia genggam.
"Benar Miku-chan, ini adalah bagian tubuh yang menjadi kelemahannya, sepasang mata" ucap lycan itu sambil tertawa riang, dan lagi-lagi makhluk ini menjerit bahkan semakin keras dan berat suaranya. Seperti binatang buas. "The Forgotten One, tubuhnya terdiri dari beberapa serangga dan parasit" jelasnya.
Lily lalu melempar salah satu tarantula kepada sosok itu. Serangga berukuran hampir menyamai telapak tangan itu segera berlari menuju inangnya, merambati wajah dan masuk ke dalam soket mata kirinya dengan suara yang menjijikkan. Makhluk itu berkedip beberapa kali, lalu menatap tajam ke arah Lily. "APA?!" hardik gadis itu, dan dia berdecih.
"Maaf untuk hal yang tidak di inginkan seperti ini ya, Miku chan, bocah ini memang perlu sedikit di beri pelajaran biar tidak macam-macam" ucap Lily kepadaku seraya menghampiriku, tetapi aku sedikit mengambil jarak darinya karena dia masih menggenggam seekor dari dua tarantula tadi. "Lihat, Lily nee-chan tidak bohong kan, dia tidak akan tahan"
Sejenak aku mengerjab lalu mengalihkan perhatianku pada sosok anak laki-laki ini. napasnya seperti tersenggal bahkan tubuhnya bergetar hebat, apa mungkin hanya dengan melihat senyuman Lily?
"Gynophobia" ucap gadis ini menyela pikiranku "kurang lebih itu yang dia alami, tapi sedikit aneh karena dia hanya menunjukkan reaksi seperti itu jika kita menunjukkan wajah yang moe" lalu dia termenung, menatapku usil "yah, Miku Chan bisa mencobanya sendiri untuk di jadikan semacam meteran imut" yang benar saja nee-chan.
"Beraninya kalian menyamakanku dengan sebuah benda!" lihat, dia marah! Spontan saja aku segera memeluk Lily, aku tidak mau lagi dia menyerangku secara tiba-tiba seperti tadi.
x-X-x
"Jadi dia putri dari prof. Mikuo? Cantik sekali!" seorang Harpy yang memperkenalkan diri sebagai Lenka Kagamine, saudara kembar sosok yang mirip dengan "Rin", berseru. Dia terus menatapku dengan polosnya. Entah mengapa, tapi dia juga terlihat hampir sama seperti Len, jika saja rambut panjang yang di kuncir itu tidak ada padanya dan fakta bahwa dia adalah perempuan.
"Silakan di nikmati" kali ini seorang anak laki-laki berkacamata menawarkanku beragam hidangan yang ada. Ia memiliki rambut berwarna hijau rumput dan berkacamata. Memakai hem putih di balik rompi hitam yang di kenakannya juga celana hitam dan sepatu berwarna serupa. "tidak usah malu-malu" lanjutnya.
Lagi-lagi, anak laki-laki ini pun memiliki kesamaan dengan salah satu temanku yang terbunuh malam itu, Gumi. Namun dengan penampilan dan versi yang berbeda. Lily berkata dia adalah seorang dryad, atau semacam peri tumbuhan dan orang yang mempersiapkan semua jamuan.
"Jangan takut, kami di sini tidak memiliki niat buruk apapun padamu" sekarang seorang pria tampan berambut merah jambu tiba-tiba muncul di sampingku. Ia tersenyum seraya menuangkan jus lemon yang bisa ku kenali aromanya ke dalam gelas es milikku. Sekilas, bayangan wajah luka seolah terpantul padanya. Aku sedikit tertegun lalu menggelengkan kepala karena malu saat ia memperhatikanku yang tampak melamun memandanginya. saat ia berlalu ke tempat duduknya, aku melihat sepasang teringa runcing mendatar dari sosok itu.
"Namanya Luki Megurine" aku terbelalak tak percaya saat Lily di sampingku membisikkan marga itu, lalu menatapnya penuh tanya "dia seorang Elf yang tampan bukan?" aku tidak terlalu memikirkan apa yang di ucapkannya barusan. Apa ini? apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku seperti melihat mereka di sini, apakah ini yang di maksud oleh Rin saat ia berkata jika suatu saat kami akan kembali bersama? Benarkah kejadian yang di maksud olehnya benar-benar terjadi saat ini juga?
"Hatsune san? Apakah kamu sejak tadi ada di sini?" dan sosok yang begitu memiliki kesamaan dengannya kini menampakkan diri, mengambil tempat duduk di depanku dan tersenyum memandangiku "Maaf, tadi adikku memintaku mengambil sesuatu untuknya di rumah jadi tidak menyadari kalau kamu sudah datang" ucapnya seraya bertopang dagu.
Aku tersenyum padanya, mengukir tawa di bibirku dan berkata seraya menghapus air mata haru yang berdesakan di balik mataku, "Tidak" isakku tanpa bisa ku tahan lagi "Lily baru saja mengantarku ke sini, Rin"
"Hey, dia memanggilmu apa?" seorang berambut ungu menyikutnya pelan. dia yang sedikit terkejut dengan panggilan yang ku berikan, mengerjap dan menatap pria berkulit pucat itu dengan tidak suka.
"Apa sih kau, terong! Mau tahu aja" sungutnya.
"Rin? Bukannya itu terdengar seperti perempuan?" celetuk Lenka di sampingnya. Dia pun melenguh dan terlihat seperti hampir menangis, lucu sekali.
"Diam kau, Lenka! Itu bukan apa-apa!"
"Itu karena Miku Chan menganggap Rinto sebagai teman dekat masa kecilnya, perempuan yang imut"
"Lily!"
Dan di malam ini, akhirnya aku bisa kembali merasakan kehangatan yang telah lama lenyap dari genggamanku... sekali lagi.
.
.
.
A/N : terima kasih bagi yang telah mereview dan terlebih memasukkan cerita ini ke dalam list favorit dan alert meski telah lama terbengkalai. maaf jika chapter ini kurang memuaskan karena memang, melanjutkan kembali fic lama butuh konsentrasi lebih untuk author yang hanya mengarang tanpa kerangka cerita pasti. apa lagi ini adalah Part Miku yang... yah... semakin sulit, n_na
Beelzebub:"loncat-loncat terus, bikin fic kok ga pernah fokus, -_- "
maklum lah Beelz, kayak lu ga tau gue aja.
Beelzebub:"berapa lama ente kecebur FFn gan? masa ga ada perubahan malah kemunduran, kemundruan mental pula"
asem lu! /ngacungin raket listrik/
