"Ish! Lepaskan dia! Dia… Dia bukan dongsaeng ku!"
JDER
Bagai di sambar petir di tengah hari, Kyuhyun menatap Donghae dengan tatapan shock. Tadi hyung nya mengatakan apa? Kekuatan dan tenaga Kyuhyun seakan meluap dan menghilang seketika mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari mulut Donghae. Nafasnya terasa tercekat dan dada nya sesak.
"Hyung…"
BE CLOSE MY BROTHERS
.
.
Main Cast :
Park Jung Soo / LeeTeuk
Lee Donghae as Park Donghae
Kim Kibum as Park Kibum
Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun
.
Genre : Family and Friendship
.
Summarry :
Kasih sayang selalu ada di dalam sebuah keluarga walaupun seakan ada pembatas yang membuat suasana menjadi canggung. Selalu ada cinta di balik semua pertengkaran dan perdebatan. Tapi bukankah akan lebih indah jika suasana canggung dan pertengkaran yang terjadi itu lenyap, terganti dengan sebuah kehangatan dan kebersamaan setiap anggota dalam sebuah keluarga besar.
.
.
OOOoooßCMB oooOOO
PART 7
Taecyeon menyeringai mendengar pernyataan Donghae dan ekspresi yang di tunjukan oleh Kyuhyun. Ia yakin apa yang di katakan oleh hanyalah bualan belaka.
"Habisi bocah itu" titahnya pada Jinyoung.
Tak membuang waktu, Jinyoung kembali mendekati Kyuhyun dan mulai menendang kaki bocah yang sudah meringkuk di sudut gang itu. Kyuhyun hanya bisa memeluk kakinya sendiri dan menyembunyikan wajahnya. Ia tak punya tenaga untuk melawan lagi. Ia sudah pasrah di pukuli seperti itu.
"Brengsek! Hentikan!" pekik Donghae berulang kali tapi tak mampu membuat Jinyoung menghentikan tendangannya pada tubuh Kyuhyun.
Tanpa di sadari setetes cairan bening sudah meluncur indah dari sudut mata kanan Donghae. Entah mendapat kekuatan darimana, Donghae terus berontak dan akhirnya ia bisa melepaskan diri dari cengkraman kedua namja yang memiliki paras mirip itu. Donghae langsung meninju perut Kwangmin dan menendang kaki Youngmin hingga kedua namja itu tersungkur.
Dengan cepat ia berlari dan menarik tangan Jinyoung. Dengan emosi dan tatapan marah ia mendorong tubuh Jinyoung hingga membentur dinding. Tak mempedulikan apapun lagi, Donghae segera berlutut di samping Kyuhyun. Tatapan cemas itu terlihat sangat jelas di manic coklat Donghae. Tubuh adiknya itu bergetar hebat dengan beberapa luka di tangan dan kakinya.
"K-kyu? G-gwen-chana?" tanya Donghae sembari mengusap rambut dongsaeng nya itu.
"Pabbo! Sudah ku bilang pergi kan? Kau ini keras kepala!"
Kyuhyun mendongakan wajahnya. Hati Donghae terasa berdenyut sakit saat melihat air mata sudah membanjiri wajah adiknya, Kyuhyun menggigit bibirnya yang bergetar.
"Cih, menyebalkan. Habisi mereka!" pekik Taecyeon pada ketiga teman sekaligus anak buahnya itu.
Donghae menggeram kesal saat keempat namja itu sudah mengerubungi nya. Ia ingin melawan namun ia sadar perlawanannya hanya sia-sia saja. Hei, dia hanya seorang diri.. bagaimana bisa melawan 4 orang sekaligus?
"H-hyu-ng" isak Kyuhyun dengan suara bergetar. Donghae kembali menatap Kyuhyun.
Tak pikir panjang, Donghae segera menarik tubuh Kyuhyun kedalam pelukannya tepat saat Taecyeon melayangkan sebuah tinju. Donghae mengeratkan pelukannya seakan tak membiarkan sedikit pun celah bagi 4 orang itu untuk melukai adiknya. Kyuhyun pun hanya terisak sambil mencengkram erat seragam Donghae.
"Ukh!"
DUAGH
BUGH
Entah sudah berapa pukulan yang di dapatkan oleh Donghae saat ini. Pukulan dari berbagai arah secara bersamaan dengan kekuatan yang tidak bisa di bilang pelan.
Sakit…
Seluruh tubuh Donghae terasa sakit. Berulang kali ia meringis kesakitan namun ia tak bisa melakukan apapun saat ini. Ia hanya terdiam, memejamkan matanya sambil memeluk erat tubuh Kyuhyun yang masih saja bergetar.
Drrttt… drrttt…
"Yeoboseyo? Mwo? Aish arrasso. Aku pulang sekarang!" Taecyeon baru saja menerima sambungan masuk dari smartphone nya. Ia berdecak kesal saat kesenangan nya di ganggu. Ia menatap teman-temannya masih saja memukuli rivalnya itu.
"Sudah hentikan!" satu perintah itu membuat 3 orang itu menghentikan kegiatannya.
"Park Donghae! Kau selamat hari ini. Lakukan apa yang ku tawarkan tadi atau kau akan merasakan lebih dari ini nanti" ancam Taecyeon sebelum bocah itu melangkah pergi di ikuti oleh ketiga temannya meninggalkan gang yang menjadi saksi buta dari pembully-an itu.
Hening…
Tak ada suara di gang itu setelah kepergian empat orang itu. Hanya terdengar hembusan angin dan deru nafas yang masih memburu.
"Hyung…"
Suara pelan yang masih terdengar bergetar itu memecahkan keheningan yang terjadi. Donghae melepaskan pelukannya. Dia duduk bersandar di dinding yang dingin dengan kaki di luruskan. Rasa sakit dan nyeri mendera seluruh persendiannya.
Kyuhyun membuka matanya dan segera mengusap kedua kelopak matanya. Ia menatap Donghae yang masih memejamkan matanya seakan tengah meredam seluruh rasa sakit yang di rasakan. Kyuhyun menundukan kepalanya. Ia memandangi pergelangan kakinya yang memar karena di tendang cukup keras tadi.
"Kenapa tidak menuruti ku bodoh? Kau bisa mati tadi" ucap Donghae dengan nada pelan membuat Kyuhyun menatapnya kembali. Kyuhyun menggelengkan kepalanya tanpa berucap apapun.
Donghae menghembuskan nafas berat lalu mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"K-kyu… Kyu tak mungkin meninggalkan hyung" ujar Kyuhyun kemudian dengan sangat lirih.
"Pabbo! Kau bisa pergi dan kembali kemari setelah meminta bantuan. Jangan sok menjadi jagoan yang tidak bisa apa-apa" umpat Donghae membuat Kyuhyun menyembunyikan wajahnya lagi. Pikiran Kyuhyun juga kacau tadi. Mana bisa ia memikirkan untuk pergi meminta bantuan? Ia tak berpikir hingga ke sana.
"Tch"
Donghae merenggangkan tubuhnya yang sangat nyeri. Kompetisi dance hanya tinggal beberapa hari lagi dan ia justru terluka seperti ini? Aish!
"Naik!"
Kyuhyun tersentak kaget saat mendengar suara hyung nya lagi. Ia tak merespon.
"Cepat naik Kyu! Langit sudah mendung, sebentar lagi hujan. Kita harus segera pulang" ucap Donghae. Kyuhyun mendongakan kepalanya dan terkejut saat Donghae sudah berjongkok di hadapannya. Ia masih terdiam sembari menatap punggung Donghae.
"Kyu!" pekik Donghae lagi.
"K-kyu bisa jalan sendiri" tolak Kyuhyun sambil berusaha bangkit dari duduknya. Namun belum bisa berdiri dengan benar, bocah itu terduduk kembali. Aish, kakinya terasa nyeri.
"Cepat naik atau ku tinggal kau di sini" ancam Donghae.
Tanpa banyak pikir, akhirnya Kyuhyun pun naik ke atas punggung Donghae. Mana mau ia di tinggal di gang sepi dan gelap seperti ini, hiii~
Donghae segera berdiri. Ia menggendong Kyuhyun di punggungnya. Walaupun tubuhnya masih sakit tapi ia masih sanggup berdiri dan berjalan. Kyuhyun hanya terdiam sambil memeluk erat leher hyung nya itu. Sungguh ia merasa tak enak di gendong seperti ini. Ia tahu Donghae juga terluka. Walaupun begitu, ada perasaan hangat dan senang menyelimuti hatinya. Baginya, ini pertama kalinya ia gendong kakaknya itu, bukankah sangat menyenangkan? Tidak juga jika dalam situasi seperti ini.
Keduanya sudah berada di jalanan ramai pertokoan. Terkadang orang-orang akan menatap mereka kebingungan. Tentu saja, anak sekolah dengan seragam lusuh dan lebam di wajah tengah menggendong seorang bocah yang juga memakai seragam yang tak kalah lusuh nya.
"Kyu…" panggil Donghae dengan nada pelan.
Tak ada respon di awal. Tak tahukah Donghae jika adiknya itu tengah menahan rasa sakit di tubuhnya? Lebih tepatnya rasa sesak di dadanya. Entah mengapa beberapa saat yang lalu dada Kyuhyun terasa begitu sesak, ia seakan tak bisa mendapatkan oksigen dalam jumlah cukup untuk paru-parunya. Pori-pori permukaan kulit Kyuhyun melebar dan keringat dingin mulai keluar. Bocah itu hanya bisa diam, memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada leher sang hyung.
"Heum?" balas Kyuhyun akhirnya dengan sebuah gumamam kecil.
Donghae terdiam. Ia bingung harus merangkai kata seperti apa untuk mengutarakan isi hatinya saat ini. Walaupun begitu, kakinya tetap melangkah melewati jalanan aspal dengan irama teratur. Angin dingin mulai berhembus cukup kencang dan aroma hujan mulai bisa tercium walau belum ada air yang meluncur dari langit.
"Kata-kata ku yang tadi… Itu… a-aku…" Donghae menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia sangat bingung harus mengatakan apa. Rasa gengsi masih menutup hatinya untuk berkata sebenarnya tapi perasaan aneh yang membuatnya hatinya berdenyut juga memaksanya untuk angkat bicara. Dia bukan pujangga yang bisa merangkai kata dengan mudah.
"Aku mengerti hyung. A-aku mengerti—arraso Hae hyung"
Donghae baru saja ingin membuka suaranya lagi namun Kyuhyun sudah menyelaknya. Adiknya itu mengatakan sudah mengerti. Benarkah? Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?
Tanpa Donghae berbicara pun Kyuhyun bisa menebak apa yang ingin hyung nya itu katakan sejak kakaknya itu hendak menggendongnya tadi. Donghae ingin meminta maaf—mungkin. Atas? Sebuah ucapan yang cukup membuat hati Kyuhyun sakit dan membuat bocah itu shock. Sebuah pernyataan seperti awal Kyuhyun bertemu dengan ketiga kakaknya.
Ya, saat Donghae mengatakan dia bukan dongsaeng nya. Ucapan itu meluncur lagi dari bibir kakaknya. Awalnya Kyuhyun benar-benar sakit mendengar ucapan itu. Namun saat Donghae memeluknya dengan erat dan melindungi nya dari pukulan orang-orang tadi, perasaan itu langsung meluap berganti dengan perasaan senang sekaligus bersalah. Ia baru menyadari, Donghae mungkin sengaja mengatakan itu agar Kyuhyun bisa di bebaskan ataupun lari dari keempat orang itu tapi kenyataan nya berkata lain, semua kejadian yang terjadi bertolak belakang dengan apa yang di pikirkan nya.
"K-kau ingin me-lindungi-ku kan, Fishy-hyung?"
Sungguh untuk mengucapkan satu kalimat itu, Kyuhyun harus menarik nafas panjang dan berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Sepertinya ia sudah melewati batas lelahnya hari ini.
Donghae hanya mengangguk sekali dengan canggung namun Kyuhyun bisa merasakannya. Bocah itu tersenyum tipis dan mengeratkan pelukannya pada leher hyung nya itu, kepalanya ia sandarkan di pundak Donghae dan matanya sudah terpejam sempurna, nafas yang sebelumnya memburu pun sudah mulai stabil. Ia sudah tertidur rupanya atau justru—pingsan?
Tes…
Tes…
Donghae mendongakan kepalanya ke langit dan rintik hujan itu mulai turun dengan intensitas yang tidak bisa di bilang kecil. Donghae seakan mengumpat pada langit kenapa harus menangis saat seperti ini—saat mereka belum sampai di rumah. Ia mulai membenarkan posisi gendongannya pada Kyuhyun dan sedetik kemudian bocah yang beranjak remaja itu segera berlari kencang menembus hujan dan angin itu.
.
.
Tuk…
Kibum yang sedang asyik duduk di sofa sambil mengelus lembut bulu snowy mendongakan kepalanya saat sebuah gelas sudah terhidang di meja hadapannya. Jung Soo tersenyum lalu mendudukan dirinya di samping Kibum.
"Hot choco" ujar Jung Soo seakan tahu apa yang hendak di tanyakan oleh Kibum.
"Gomawo hyung" balas Kibum. Jung Soo hanya mengangguk.
Kibum mengambil gelas itu lalu menyesap sedikit hot choco yang di buatkan sang hyung. Setelahnya ia menoleh dan menatap wajah Jung Soo. Raut cemas tercetak jelas di wajah tenang kakaknya itu. Jung Soo tengah menatap ke arah jendela, rintik hujan di luar rumah terlihat dari jendela itu.
"Kenapa mereka belum pulang juga" gumam Jung Soo tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada kedua dongsaeng nya yang belum tiba di rumah padahal hari sudah sore.
"Apa hyung sudah menghubungi Hae hyung lagi?" tanya Kibum. Jung Soo mengangguk untuk menjawab pertanyaan adiknya itu. Kibum juga cemas. Ia hanya tahu, Kyuhyun pergi menjemput Donghae setelah pulang sekolah tadi dan setelahnya ia tak tahu kemana dua orang itu pergi dan kenapa mereka tak kunjung pulang juga.
Melihat kecemasan yang mulai tercetak di wajah stoic Kibum, Jung Soo mengulurkan tangannya dan mengusap surai hitam adiknya itu, memberikan ketenangan, kehangatan dan kelembutan dari tangan nya.
"Mereka akan segera pulang" ujar Jung Soo, Kibum hanya tersenyum tipis.
BRAK!
Jung Soo dan Kibum tersentak kaget saat suara debuman pintu yang sangat keras menyelimuti seluruh ruangan di rumah itu. Mereka segera menoleh kea rah pintu utama.
"Ada apa?" Jung Soo segera beranjak dari sofa dan setengah berlari menuju pintu depan. Kibum pun menurunkan snowy dari pangkuannya dan ikut berlari mengekori Jung Soo. Keduanya merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Ya Tuhan… Donghae Kyuhyun!"
Jung Soo dan Kibum membelalakan matanya sesaat setelah sampai di pintu depan dan mendapati Donghae sudah berdiri di sana dengan tubuh basah dan beberapa luka yang menghiasi wajahnya juga Kyuhyun yang terlihat dalam gendongan Donghae.
.
.
Kriieet~
Dengan perlahan daun pintu itu terbuka menampakan seorang namja yang sudah berdiri di ambang pintu dengan senyuman khas di wajahnya. Namja itu—Jung Soo melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sang maknae. Ia tersenyum lega saat mendapati kedua adiknya berada di sana. Adik terkecilnya terlihat terbaring di ranjang dan adik pertamanya duduk di kursi sebelah tempat tidur dengan raut cemas.
"Hae…" panggil Jung Soo membuat Donghae melirik kearahnya sekilas lalu kembali ke kegiatannya semula.
Donghae duduk diam di kursi, sesekali ia menggigit kuku jarinya untuk menyalurkan rasa cemasnya. Matanya bergerak gelisah memperhatikan Kyuhyun yang tertidur dengan wajah polos dan damai itu. Jung Soo menggelengkan kepalanya, ia mulai melangkah ke belakang kursi yang Donghae duduki.
Jung Soo merengkuh tubuh Donghae dari belakang. Ia memeluk adiknya itu dan mengelus pucuk kepala Donghae dengan sangat lembut. Donghae sedikit meringis saat Jung Soo menyentuh pundaknya yang masih nyeri membuat hyung nya tersenyum getir.
"Hyung… kenapa bocah itu belum sadar juga?" tanya Donghae entah sudah berapa kali ia menanyakan hal seperti itu pada Jung Soo.
Jung Soo mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun masih dengan senyuman miris. Tak bisa di pungkiri, ia juga sangat mencemaskan adik kecilnya itu. Donghae dan Kyuhyun pulang dalam keadaan basah kuyup dan beberapa luka lebam di wajah. Hal itu saja sukses membuat Jung Soo memekik cemas, belum lagi saat ia menyadari Kyuhyun ternyata pingsan dalam gendongan sang kakak. Dan untuk kedua kalinya dalam minggu ini, lee uisa harus rela mengunjungi rumah itu lagi untuk memeriksa Kyuhyun juga Donghae. Untung, dokter itu hanya mengatakan Kyuhyun hanya terlalu lelah sehingga pasokan udara di rongga paru-parunya menipis. Bocah itu hanya perlu tidur untuk memulihkan kondisinya.
Donghae pun sudah menceritakan semua yang terjadi pada Jung Soo walaupun ada beberapa hal yang membuat nya harus berdusta. Ia mengatakan beberapa preman mengganggu keduanya dan ia juga Kyuhyun harus berlari menghindar namun akhirnya mereka tertangkap dan di pukuli. Ayolah, ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Jung Soo, ia tak mau menambah beban pikiran kakaknya itu.
"Hyung…" panggil Donghae lagi sambil menggengam tangan Jung Soo yang masih melingkar di lehernya.
"Tenanglah Hae. Kyu hanya tertidur. Kau dengar sendiri apa yang di katakan uisa kan? Dia sudah sadar dari pingsannya dan tengah tertidur nyenyak" terang Jung Soo dengan perlahan. Donghae hanya mengangguk.
"Andai bocah itu tidak datang ke sekolahku…"
"Andai orang-orang itu tidak memukulnya…"
Jung Soo menghela nafas saat mendengar racauan Donghae tentang berbagai macam kata andai. Percuma berkata andai karena waktu tak bisa berputar ulang.
"Sstt, sudahlah Hae cukup" seru Jung Soo setengah berbisik di telinga adiknya itu. Ia tahu adiknya itu sedikit shock dengan kondisi Kyuhyun yang pingsan tanpa ia sadari. Bagaikan sebuah perintah, Donghae terdiam setelah mendengar suara lembut kakaknya.
Jung Soo melepaskan rengkuhannya dan beralih ke samping Donghae dan berlutut di lantai. Ia mengarahkan Donghae agar menatap dirinya.
"Dengarkan hyung. Sekarang kau tak perlu khawatir lagi, semua sudah baik-baik saja. Kyu akan bangun besok pagi, kembali dengan semangat dan wajah ceria nya, arrachi?" Donghae mengangguk mengerti membuat Jung Soo menunjukan angelic smile nya. Sekeras kepala apapun Donghae dan segengsi apapun adiknya itu, Jung Soo tahu Donghae sangat menyayangi semua saudaranya.
"Sekarang kembali ke kamarmu dan istirahatlah. Kau juga harus tidur sehingga luka-luka mu cepat sembuh" ucap Jung Soo lagi.
"Tapi hyung—"
"Apa kau mau luka mu tambah parah karena kurang istirahat dan kau tidak bisa ikut perlombaan?" tanya Jung Soo yang langsung di balas dengan gelengan kepala oleh Donghae. Jung Soo tersenyum geli. Ia mengacak surai hitam Donghae gemas.
"Hae akan tidur sekarang" ucap Donghae lebih mirip gumaman. Jung Soo menganggukan kepalanya lalu menegakan tubuhnya kembali. Ia mengecup pucuk kepala Donghae membuat adiknya itu tersenyum.
"Gomawo hyungie. Hae sangat menyayangi mu" Donghae memeluk tubuh Jung Soo dengan erat sejenak sebelum bangkit dari kursinya.
Setelahnya ia melangkah keluar dari kamar Kyuhyun dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia sadar tubuhnya membutuhkan istirahat juga.
Jung Soo beralih duduk di sisi kosong tempat tidur Kyuhyun. Adik kecilnya terlihat sangat manis saat tertidur. Wajah polos dan damai itu dapat terlihat dengan sangat jelas, senyuman tipis di bibir kecilnya pun menambah kesan imut Kyuhyun. Tangan kanan Jung Soo mulai mengelus surai coklat sang adik, tangan kanannya menggenggam tangan Kyuhyun menyalurkan kehangatan dan ketenangan lebih lagi.
"Hyung mau kau bangun besok pagi dengan senyuman lebar dan raut ceria mu lagi Kyunnie. Jangan hanya berbaring di tempat tidur, nde? Kau akan membuat hyung sedih dan cemas jika seperti itu" bisik Jung Soo pada Kyuhyun yang terlelap. Entah keyakinan darimana, Jung Soo merasa Kyuhyun masih bisa mendengar suaranya di alam bawah sadar sana. Jung Soo tersenyum lembut lalu mengecup kening Kyuhyun.
"Jal jayo uri Kyunnie"
Blam
Setelah mengucapkan salam tidur pada Kyuhyun, Jung Soo segera keluar dari kamar sang adik. Ia beralih menuju pintu di hadapan kamar Kyuhyun dan membukanya perlahan. Ia tersenyum lega saat melihat Donghae sudah tertidur pulas di kasurnya sendiri. Donghae yang tak bisa tidur di tempat gelap membuat ruangan kamar itu sangat terang oleh lampu kamar. Tak ingin mengganggu, Jung Soo menutup pintu itu kembali dan beranjak menuju lantai 2. Ia juga perlu istirahat. Baru beberapa hari yang lalu kondisi tubuhnya down dan ia tak mau sakit lagi karena kelelahan.
Masih ada satu kamar yang belum ia periksa membuat Jung Soo beralih menuju kamar di sebelah kamarnya terlebih dahulu. Jung Soo mengeryit saat membuka kamar Kibum dan kamar itu masih terang. Biasanya Kibum tertidur dalam keadaan gelap. Ia semakin terheran saat mendapatkan sosok adiknya masih terjaga dan duduk di kursi meja belajarnya. Tak ada satu pun buku di meja itu, hanya sebuah pulpen dan selembar kertas.
"Kibummie?"
Sikap yang di tunjukan Kibum sama seperti yang Jung Soo lihat tadi pagi—terkejut. Kibum segera melipat kertas itu dan menyimpan nya di laci meja saat Jung Soo masuk ke dalam kamar dan menghampirinya. Kibum bisa melihat raut heran di wajah kakaknya itu membuat dirinya sedikit salah tingkah.
"Ne hyung?" tanya Kibum saat Jung Soo sudah berada di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jung Soo dengan penasaran. Kibum menggeleng dan mengulas senyuman tipis. Jung Soo menatap adiknya itu dengan tatapan menyelidik namun akhirnya ia menyerah saat Kibum menunjukan raut datarnya.
"Kenapa belum tidur?"
Jung Soo mengelus kepala Kibum pelan.
"Bagaimana keadaan Kyuhyun?" tanya Kibum tanpa menjawab pertanyaan kakaknya. Ia tak ingin hyung nya itu bertanya macam-macam jika ia menjawab ia tak bisa tidur karena memikirkan sesuatu. Jung Soo tersenyum.
"Dia baik-baik saja. Anak itu sudah tertidur pulas" jawab Jung Soo membuat Kibum mengangguk paham.
"Tidurlah Bummie, ini sudah malam"
"Hum! Aku akan tidur sekarang hyung"
Kibum bangkit dari kursinya dan beranjak menuju kasurnya. Ia segera membaringkan tubuhnya di sana dan menyelimuti tubuhnya agar terlindung dari angin malam yang dingin. Jung Soo hanya memperhatikan dalam diam.
"Jal jayo Kibummie" ucap Jung Soo tulus masih diam di tempatnya. Kibum tidak seperti Donghae dan Kyuhyun yang senang dengan kecupan salam tidur. Bocah itu tak terlalu menyukai skinship yang akan membuatnya canggung sendiri dan Jung Soo mengetahui hal itu. Karena itulah, Jung Soo hanya mengucapkan salam tidur.
"Jung Soo hyung…"
Jung Soo yang hendak melangkah keluar kamar mengurungkan niatnya saat mendengar panggilan dari adiknya itu. Ia menatap Kibum dengan tatapan bertanya namun Kibum tak kunjung membuka suaranya kembali. Jung Soo pun memutuskan untuk mendekati Kibum dan duduk di sisi kosong ranjang dongsaeng nya itu. Ia mengelus pucuk kepala Kibum yang entah mengapa hanya diam, tidak seperti biasanya.
"Waeyo heum?" tanya Jung Soo dengan nada lembut. Kibum masih terdiam sambil memejamkan matanya.
"Jika ada masalah, kau bisa menceritakan nya pada hyung Bummie" tambah Jung Soo lagi. Dua kali ia memergoki sikap aneh Kibum membuat Jung Soo menyimpulkan jika adiknya itu mempunyai sebuah masalah.
Kibum membuka matanya kembali dan menatap ke dalam manic coklat Jung Soo. Selama beberapa saat keduanya hanya saling bertatapan hingga Kibum menghela nafasnya dan mengalihkan tatapan nya ke langit-langit kamar.
"Kita… Kita akan selalu bersama kan hyung?" tanya Kibum dengan nada lirih membuat Jung Soo menaikan sebelah alisnya. Ia terdiam berusaha menyerap maksud dari ucapan Kibum.
"Bagaimana jika kita berpisah lagi?"
Tangan yang sedaritadi mengelus pucuk kepalanya sontak menghentikan kegiatan nya saat Kibum mengucapkan hal itu. Kibum melirik Jung Soo yang terdiam dengan raut terkejut.
"Kenapa kau menanyakan hal itu, Bummie?" tanya Jung Soo dengan nada tenang. Kibum menggelengkan kepalanya. "Hanya bertanya saja"
Jung Soo pun mengangguk maklum lalu mengulas senyuman tipis. Ia kembali mengelus kepala Kibum dengan lembut.
"Walaupun kita terpisah lagi tapi hyung yakin tidak akan seperti dulu. Hati kita sudah menyatu dan tidak akan bisa terpisah lagi walau kita tidak berada di tempat yang sama. Keluarga tidak hanya sebuah nama dimana kita selalu bersama setiap hari. Ada saatnya kita semua akan terpisah kembali saat dewasa nanti tapi selamanya hati kita tak akan terpisahkan"
Kibum terkesiap mendengar penuturan hyung nya itu. Ia menatap Jung Soo dengan nanar. Jung Soo menunjukan angelic smile nya.
"Bagaimana? Apa kau mempercayai nya?" Kibum menganggukan kepalanya menyetujui ucapan hyung nya itu.
"Oke sudah malam. Sekarang saat nya tidur, nde?" Jung Soo merapikan selimut yang di kenakan Kibum hingga menyelimuti seluruh tubuh Kibum hingga batas leher.
"Jung Soo hyung…"
"Heum?"
"Bisakah kau memeluk ku?" ucap Kibum tanpa menatap kearah Jung Soo yang sudah tersenyum geli melihat rona merah di pipi dongsaeng nya. Jung Soo segera memeluk Kibum sejenak sembari mengelus pucuk kepala nya. Kibum hanya diam memejamkan matanya menikmati kehangatan dari pelukan Jung Soo.
"Gomawo hyung"
"Ne. Jal jayo Kibummie"
Jung Soo melepaskan pelukan nya dan tersenyum melihat Kibum yang sudah terlelap. Ia segera memadamkan lampu kamar dan melangkah keluar.
Tugasnya selesai…
Dengan cepat Jung Soo kembali ke kamarnya sendiri dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur yang sangat nyaman itu. Ia tak memusingkan posisi tidur nya saat ini. Ia menguap sekali dan langsung memejamkan matanya. Tubuhnya cukup lelah hari ini dan hal itu sangat memudahkan Jung Soo untuk segera terlelap dalam tidurnya. Biarlah mereka semua tidur dengan nyenyak malam ini untuk melepaskan lelah yang mendera masing-masing diri kakak-adik tersebut.
.
.
.
OOOoooßCMB oooOOO
"PARK KYUHYUN!"
"HAHAHAHA"
Suara teriakan keras di balas dengan tawa nista itu menggelegar menyelimuti seluruh ruangan di kediaman keluarga Park. Seorang namja berwajah childish sudah berkacak pinggang di depan pintu kamar mandi dengan wajah memerah padam menahan amarah. Sedangkan bocah yang baru saja di serukan namanya itu justru tertawa terpingkal sambil memegangi perutnya saat melihat wajah hyung nya sudah di penuhi lumpur berwarna coklat pekat.
"Haha—Jika seperti itu kau sangat mirip dengan ikan-ikan mu hyung hahahaha" ujar Kyuhyun di tengah tawanya membuat Donghae membelalakan matanya.
Donghae hendak mengejar bocah yang sudah mengambil langkah seribu menjauhi nya namun mengingat wajahnya yang ternodai oleh lumpur membuatnya kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah tampannya. Beberapa saat yang lalu ia hanya ingin memindahkan pistol air Kyuhyun yang ada di wastafel namun entah kenapa saat ia memegang nya, pistol itu langsung menyemprotkan lumpur yang mengenai kaos dan wajahnya.
Kyuhyun berlari menuju taman belakang dengan langkah riang, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman untuk mencari objek yang bisa ia jadikan mainkan untuk meluapkan rasa senang yang menyelimuti hatinya sejak ia terbangun.
"Snoowwwyy~" pekik Kyuhyun kesenangan saat melihat seekor kelinci putih tengah melompat-lompat kecil di teras taman belakang rumahnya. Entah mengapa mendengar teriakan Kyuhyun, kelinci itu terdiam di tempat dan mengerjapkan matanya menatap Kyuhyun yang semakin gemas. Kyuhyun segera berlari untuk menghampiri kelinci sang hyung. Kedua tangannya sudah terjulur ke depan hendak mengambil kelinci tersebut namun… hilang! Eh?
Kyuhyun mendongakan wajahnya kemudian menggembungkan pipinya kesal saat melihat sang pemilik snowy sudah ada di hadapannya dan kelinci itu sudah berada dalam gendongannya.
"Bum hyung~ Kyu mau gendong snowy" rengek Kyuhyun pada Kibum yang sudah menatapnya ragu.
"A-ah untuk apa? Ini saat nya snowy makan" ucap Kibum seakan mencari alasan untuk menolak permintaan adiknya.
"Jinja? Kalau begitu kajja kita beri makan snowy. Kka berikan snowy padaku, ppalli hyung~"
Kibum masih terdiam sambil memeluk erat snowy, ia enggan memberikan kelinci kesayangannya pada Kyuhyun yang entah mengapa terlihat sangat aktif sejak tadi pagi.
"Ya Bum hyung!"
Tak ingin ambil resiko, Kibum langsung berlari masuk ke dalam rumah mengacuhkan permintaan sang dongsaeng atau lebih tepatnya menyelamatkan hewan kesayangannya dari tangan Kyuhyun yang sedang mengaktifkan aksi jahilnya.
Tanpa kedua bocah itu sadari, seorang remaja berusia 16 tahun atau anak tertua keluarga Park itu tengah duduk santai di ayunan besar yang berada di sudut taman. Ia hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakukan Kyuhyun dan Kibum yang terlihat sangat jelas dari tempat itu. Entah mengapa ia enggan memisahkan kedua orang itu dan memilih diam di ayunan saja. Kepalanya sudah cukup berdenyut sejak tadi pagi.
Tak tahu apa yang terjadi sejak Kyuhyun bangun pagi ini, bocah itu terlihat sangat ceria dan err hiperaktif. Kyuhyun terlihat sangat sehat seakan lupa dengan dirinya yang pingsan kemarin dan beberapa luka di tubuhnya. Bahkan bocah itu sudah bisa berlari-lari padahal kemarin kakinya masih terkilir. Apa sekarang adiknya mempunyai daya sembuh yang sangat cepat? Kenapa Kyuhyun seakan melupakan luka dan sakit di tubuhnya? Hanya satu yang ia yakini. Hati yang bahagia adalah obat paling ampuh di dunia ini. Dan itu berarti Kyuhyun sedang senang entah karena hal apa.
Jung Soo menghela nafas nya saat mengingat tingkah Kyuhyun pagi ini. Bocah itu sudah membantu nya pagi tadi membersihkan peralatan makan walaupun akhirnya sebuah piring pecah karena kecerobohan bocah itu. Dan Kyuhyun tak bisa duduk diam sejak pagi, dia senang sekali berlari dan menjahili siapapun, ckck
"Huwaaa~ Jung Soo hyung, tolong Kyunnie!"
Jung Soo mengalihkan tatapannya pada sosok Kyuhyun yang muncul kembali di taman tengah berlari kearahnya dengan Donghae yang juga berlari di belakang bocah itu.
Kriiett
Suara ayunan yang berdenyit nyaring saat Kyuhyun naik ke ayunan itu dan duduk di sebelah Jung Soo lalu memeluk hyung nya dengan erat untuk meminta perlindungan.
"Ya kemari kau bocah!" Jung Soo menatap Donghae yang sudah berkacak pinggang di sebelah ayunan itu dengan wajah kesalnya.
"Hae…" seru Jung Soo menegur adiknya itu.
"Hyung! Anak itu membuat wajahku di penuhi lumpur tadi!" adu Donghae membuat hyung tertua berbalik menatap Kyuhyun.
"Kyu tak melakukan apa pun. Itu karena Hae hyung ingin memindahkan pistol airku tanpa izin" Kyuhyun membela dirinya sendiri.
"Tapi—"
"Sudahlah Hae itu hanya hal kecil…" Donghae mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Jung Soo. "Kyu minta maaf pada hyung mu" titah Jung Soo selanjutnya.
"Mianhae Hae hyungie~" ujar Kyuhyun dengan nada manja dan wajah yang di buat sepolos mungkin membuat Donghae merinding.
"Terserahlah"
Tak ingin memperpanjang masalah, Donghae membalikan badannya dan beralih pergi dari taman tersebut menyisakan Jung Soo dan Kyuhyun di taman itu.
"Aku menyesal sudah mengkhawatirkan bocah itu kemarin" gumam Donghae lirih entah dapat di dengar atau tidak oleh kakak adiknya itu.
Tuk!
Jung Soo menjitak pelan pucuk kepala Kyuhyun "Kurangi kejahilanmu, Kyu" ujarnya kemudian. Kyuhyun hanya menyengir lebar.
"Hari ini Kyu sedang senang sekali hyungie~" ungkap Kyuhyun dengan nada riang membuat Jung Soo tertawa kecil. Ia merangkul bahu dongsaeng nya itu dan memainkan surai coklat milik Kyuhyun.
"Ne, hyung bisa melihatnya" balas Jung Soo membuat Kyuhyun ikut tertawa.
"Bagaimana keadaan mu? Apa kaki mu sudah tidak sakit, kenapa berlari-lari sejak tadi heum? Kau sudah tidak sesak lagi kan?" tanya Jung Soo cemas. Kyuhyun menggeleng dengan cepat.
"Ani hyung. Kyu sudah sehat! Haha Kyu hebat kan?" bangga Kyuhyun sambil menepuk dada nya sendiri. Jung Soo menggelengkan kepalanya sendiri dan mengacak rambut Kyuhyun gemas.
Setelahnya mereka berbincang sejenak di taman yang sejuk itu sebelum keduanya memutuskan masuk ke dalam rumah. Kyuhyun menggandeng dan sesekali menggoyangkan tangan Jung Soo sembari berjalan dengan senang. Langkah keduanya terhenti saat berada di ruang santai. Mereka mengernyit saat melihat Kibum tengah duduk diam di sofa dengan tatapan kosong ke udara di depannya, kelinci yang ada di pangkuan bocah itu seperti di hiraukan begitu saja.
"Jung Soo hyung…" panggil Kyuhyun membuat Jung Soo menoleh kearahnya.
"Bum hyung… sejak kemarin dia terlihat aneh" ungkapnya yang entah sadar atau tidak Jung Soo langsung menganggukan kepalanya seakan membenarkan pernyataan dongsaeng nya itu.
Kyuhyun melepaskan gandengannya pada tangan Jung Soo lalu berlari menghampiri Kibum.
"Bum hyuungg~" Kibum sedikit terkejut namun ia segera menoleh dan menatap Kyuhyun dengan wajah stoicnya seakan bertanya ada apa.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tidak ada" Kyuhyun mendengus sebal mendengar jawaban singkat dari hyung nya itu.
"Bum hyung! Temani aku untuk membeli buku dan kaset nde? Aku juga ingin es krim~" ucap Kyuhyun dengan puppy eyes nya.
"Kau mau keluar? Kau masih sakit Kyu, jangan makan es dulu" balas Kibum.
"Ayolah hyung~ Kyu sudah sehat! Jebal~" rengek Kyu sambil menarik-narik tangan Kibum.
"Lebih baik kau katakan ingin beli apa saja, hyung akan membelikannya. Kau di rumah saja" niat baik Kibum di balas membuat Kyuhyun menggembungkan pipinya.
"Bum hyung jebal~ Kyu juga ikut. Kita pergi berdua saja nde? Ayolah hyung~"
Kyuhyun masih terus merengek membuat Kibum menghela nafas. Kibum mengalihkan tatapannya pada Jung Soo yang sudah berdiri di samping Kyuhyun seakan meminta tolong atau pun saran. Sadar dengan arah pandang Kibum, Kyuhyun ikut menatap Jung Soo dengan tatapan memohon. Jung Soo sendiri sedikit salah tingkah di tatap seperti itu. Ia menatap Kyuhyun dan memperhatikan raut yang di tunjukan oleh adiknya itu, ada sesuatu hal yang misterius di dalam raut memelas itu dan Jung Soo sangat menyadarinya.
"Biarkan dia ikut Bummie dan Kyu kau tak boleh terlalu lelah. Setelah selesai segera pulang, arrachi?"
"Yeaayy! Ne hyung!"
Kibum hanya menggedikan bahunya mendengar ucapan Jung Soo dan sorakan adiknya. Ia tak bisa apa-apa lagi.
Tak membuang waktu setelah Kibum dan Kyuhyun berganti pakaian, keduanya segera meninggalkan rumah dan melaju ke pertokoan Myeondong yang tak jauh dari rumah mereka.
.
.
Keramaian jalan sekitar pertokoan Myeondong tak pernah berkurang apalagi saat weekend seperti ini. Kibum dan Kyuhyun pun sudah menyusuri jalanan ini. Keduanya asyik melihat ke kanan dan kiri, memperhatikan toko yang sebenarnya sudah tak asing lagi bagi mereka. Hampir tiap hari mereka pun melewati jalanan itu. Hanya ada obrolan ringan di antara keduanya. Kyuhyun lebih banyak bercerita tentang berbagai macam hal dan Kibum akan membalas dengan jawaban singkat ataupun gumaman.
Mereka pun sampai di tujuan pertama, sebuah toko buku. Keduanya masuk ke dalam dan mulai berpencar mencari buku yang menarik hati. Sebenarnya Kyuhyun tak terlalu suka dengan tempat ini, sedikit membosankan menurutnya. Namun ia tahu, Kibum menyukai tempat tenang dan penuh dengan buku seperti itu. Inilah yang di rencakan bocah itu setidaknya Kibum bisa sedikit terhibur karena sejak kemarin Kyuhyun memang memperhatikan wajah Kibum yang sedikit murung.
"Kyu, sudah dapatkan buku yang ingin kau beli?" Kibum berjalan menghampiri Kyuhyun yang sudah duduk di sofa panjang yang di sediakan tempat itu. Ia sudah membawa beberapa novel dan buku lainnya yang menarik hati. Sudah hampir 30 menit mereka berada di dalam toko itu. Kyuhyun tersenyum lalu mengibaskan sebuah buku yang sudah ada di tangannya.
"1000 games menarik dan macam teknik penyelesaiannya" Kibum membaca judul yang ada di sampul buku yang di pegang Kyuhyun dengan alis bertaut. Kyuhyun hanya menyengir membuat kakaknya hanya menggelengkan kepala.
Tak ingin menanyakan banyak hal lagi, Kibum dan Kyuhyun segera melangkah menyusuri bilik rak buku menuju kasir. Namun tiba-tiba Kibum terhenti membuat Kyuhyun mengernyit bingung. Kyuhyun mengikuti arah pandang Kibum yang terfokus pada sebuah buku dengan title 'Canada'.
"Wae hyung?" tanya Kyuhyun sambil menatap Kibum dengan tatapan menyelidik. Tak ada respon membuat Kyuhyun semakin penasaran.
"Bum hyung?" Kibum hanya tersenyum misterius membuat Kyuhyun memiringkan kepalanya bingung.
"Bagaimana jika salah satu dari keluarga kita harus terpisah lagi, Kyu?" pertanyaan dengan nada pelan dan lirih itu mampu membuat Kyuhyun membulatkan mata nya. Ia menatap Kibum seakan meminta penjelasan lebih.
"Haha jangan kaget begitu. Aku hanya bercanda" Kibum mengacak rambut Kyuhyun gemas lalu kembali melangkah menuju kasir.
Kyuhyun masih terdiam di tempat, menatap punggung Kibum yang sudah menjauh.
"Sebenarnya ada apa dengan mu Bum hyung? Jangan membuatku takut" gumam Kyuhyun sangat pelan yang tak mungkin di dengar oleh Kibum. Bocah itu menghela nafas panjang sebelum melangkah mengekori Kibum menuju kasir.
Setelah membayar semua buku yang di beli keduanya segera keluar dari toko itu. Tujuan selanjutnya adalah toko games dan inilah yang di nantikan Kyuhyun sejak tadi. Dengan riang ia menggandeng tangan Kibum namun baru beberapa langkah dari toko buku, Kibum berhenti lagi.
"Aish! Aku lupa membeli buku yang di minta Kim ssaem!" ucap Kibum dengan wajah kaget.
"Kyu, aku akan kembali ke toko buku sebentar untuk membeli buku itu. Kau tunggu di sini saja nde? Aku akan segera kembali"
Entah mengapa Kyuhyun hanya menganggukan kepalanya patuh, Kibum pun segera berlari kembali masuk ke dalam toko buku. Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mulai menyandarkan punggungnya di dinding untuk menunggu kedatangan Kibum.
TAP
"Hei bocah!"
Kyuhyun menoleh saat merasa seseorang memanggil dirinya dan seketika plastic berisi buku yang ia beli jatuh ke aspal begitu saja. Raut kaget bercampur takut menghiasi wajah Kyuhyun yang tengah membelalakan matanya menatap dua namja yang baru ia temui kemarin sore. Nafas Kyuhyun terasa tercekat melihat 2 orang yang sudah memukulinya kemarin. Ia ingin kabur dan berlari dari tempat itu namun kakinya seakan tidak bisa di gerakan.
"Aigoo, tak perlu ketakutan seperti itu" ucap seorang namja yang di kenali bernama Taecyeon yang sudah berdiri tak jauh dari tempat Kyuhyun bersama dengan Jinyoung yang ada di sampingnya.
"Senang bisa bertemu dengan mu lagi" ucap Taecyeon sambil tersenyum misterius. Namja itu berjalan mendekati Kyuhyun membuat bocah itu memundurkan dirinya. Kyuhyun mengepalkan tangannya dan sudah merutuk dalam hati. Tunggu… Dia tak perlu setakut ini. Sekarang dirinya tengah berada di keramaian dan tak mungkin dua orang ini memukulinya lagi bukan?
Ya seharusnya begitu namun Kyuhyun tetaplah anak kecil yang masih trauma dengan kejadian kemarin saat melihat dua namja itu.
"Kau sendirian? Mana Hae hyung mu itu?" tanya Taecyeon saat sudah berada tepat di hadapan Kyuhyun yang sudah menundukan kepalanya dalam.
"A-a..aku sen—di-ri" jawab Kyuhyun terbata. Lidahnya terasa kelu untuk berucap namun ia tak ingin di bentak karena tak menjawab pertanyaan orang itu.
"Benarkah? Beruntung sekali diriku"
Taecyeon sedikit membungkukan tubuhnya condong kearah Kyuhyun seakan mensejajarkan tingginya dengan bocah itu. Tubuh Kyuhyun semakin bergetar merasakan aura jahat yang tidak ia sukai.
"Aku ingin minta tolong padamu dan kau harus melakukan apa yang ku perintahkan, nde?" bisik Taecyeon. Kyuhyun tak bisa menjawab lagi, ia hanya menggigit bibir bawahnya dengan keringat dingin mulai keluar di permukaan kulit.
"Tolong kau bujuk agar hyung mu mau mengundurkan diri dari kompetisi dance itu. Bagaimana pun caranya aku tak ingin melihat anak itu di kompetisi atau aku akan menghajar hyung mu lebih dari yang kemarin" desis Taecyeon masih berbisik di telinga Kyuhyun yang sudah membulatkan matanya.
Entah keberanian darimana, Kyuhyun menatap Taecyeon dengan kilatan marah.
"A-aku tak akan melakukannya!" tolak Kyuhyun membuat Taecyeon tertawa meremehkan.
"Jadi kau mau hyung mu terluka? Aku bisa mematahkan kaki anak itu sehingga dia tak bisa meraih impiannya lagi. Bagaima—"
"Kau curang!"
Taecyeon mengelus pipi chubby Kyuhyun yang sudah memerah menahan amarah. Dengan sentuhan dingin yang terkesan mengerikan itu, Kyuhyun kembali ketakutan.
"Aku hanya ingin meraih apa yang ku inginkan. Jadi bagaimana bocah kecil?"
"K-kau tak akan bisa melakukan apapun pada Hae hyung. A-aku… aku akan melaporkan nya pada appa eomma juga polisi" jawab Kyuhyun tanpa ragu sedikit mengancam.
Sreett
Klik!
Kyuhyun membelalakan matanya dan tubuhnya semakin gemetar saat namja di hadapannya itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku jaketnya. Kyuhyun ingin mundur namun Jinyoung sudah berada di belakang Kyuhyun membuat bocah itu terjepit. Mata Kyuhyun memanas, ia takut!
"Sebelum kau melakukannya, pisau ini pasti sudah berada di tubuh hyung mu itu. Apa kau mau hyung mu terluka bocah?" Kyuhyun menggelengkan kepalanya membuat Taecyeon tersenyum. Ia menyimpan pisau nya kembali lalu menepuk-nepuk kepala Kyuhyun.
"Jadilah dongsaeng yang baik, adik kecil. Pikirkan ucapanku" bisik Taecyeon kembali.
Setelahnya mereka berdua pun melangkah pergi menjauhi Kyuhyun yang langsung jatuh terduduk. Kakinya tak mampu menahan beban tubuhnya sendiri dan Kyuhyun masih terlihat gemetar.
Mungkin hanya ancaman atau mungkin bisa saja terjadi. Tapi bagi bocah 8 tahun yang belum mampu memikirkan banyak hal berat dan panjang, ancaman itu cukup berpengaruh padanya. Kyuhyun tak mau Donghae terluka—tidak boleh!
"Kyu!"
Kibum yang baru saja keluar dari toko buku langsung berlari menghampiri Kyuhyun yang masih terduduk di aspal. Dengan cemas di tatapnya wajah Kyuhyun yang memucat.
"Gwenchanayo? Sudah ku bilang kau belum sehat kan" ujar Kibum. Kyuhyun menggelengkan kepalanya lalu berhambur memeluk Kibum seakan perlindungannya ada di sana. Kibum hanya mengernyit heran dan tak sengaja Kibum menangkap dua orang sosok yang berdiri di ujung jalan tengah menatap kearah dirinya sambil tersenyum misterius.
"Kyu…"
"Pulang. Kyu mau pulang, hyung. Pulang" ucap Kyuhyun dengan nada bergetar. Kibum menghela nafasnya, sedikit menyesal meninggalkan adiknya sendirian di luar seharusya ia mengajak Kyuhyun masuk saja.
"Ne, kita pulang sekarang. Ayo" Kibum berdiri lalu membantu Kyuhyun berdiri. Ia mengambil plastic yang berisi buku yang masih tergeletak di jalan kemudian yang menggandeng tangan Kyuhyun berjalan pulang ke rumah.
.
.
.
OOOoooßCMB oooOOO
Rintik air hujan kembali membasahi kawasan Myeondong malam ini membuat udara semakin dingin dari biasanya. Jalanan sudah terlihat sepi, jarang orang yang berlalu lalang di tengah hujan dan pada jam yang sudah cukup larut ini.
"Haafftt"
Helaan itu kembali terdengar dari sebuah kamar di rumah keluarga Park. Terlihat seorang bocah tengah duduk di kasurnya, bersandar di tepi tempat tidur sambil memeluk lututnya. Walaupun sudah cukup malam, Kyuhyun masih saja terjaga. Pikiran yang terasa penuh membuatnya tak bisa tidur. Aneh mungkin jika seorang bocah sudah memiliki banyak pikiran tapi inilah yang di alami oleh Kyuhyun.
"Hae hyung… otthoke?" gumam Kyuhyun entah pada siapa.
Ia memandang kosong kamarnya yang masih terang itu. Sejak masuk ke dalam kamar, hanya terdiam dalam posisi ini lah yang ia lakukan, ia juga bergumam beberapa hal yang mengganjal pikirannya. Kyuhyun mengalihkan tatapan nya pada jendela yang sudah tertutupi korden, ia bisa mendengar rintik hujan dari dalam kamarnya.
"Sebenarnya siapa orang itu? Kenapa dia jahat pada Hae hyung? Aku membencinya!" gumam bocah itu lagi.
Ya, Kyuhyun masih saja memikirkan ancaman namja yang ia temui tadi siang. Entah mengapa ia tak bisa mengabaikan nya, dia hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa tapi ia juga terlalu takut jika hyung nya benar-benar akan di sakiti lagi oleh orang itu. Kyuhyun juga tak mungkin membujuk Donghae untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh namja tadi. Donghae pasti menolak permintaan itu. Ia sempat berpikir untuk menceritakan semuanya pada Jung Soo agar kakaknya itu bisa memberi saran dan melindungi Donghae tapi…
"Eommaaaa~ Apa yang harus Kyunnie lakukan? Hiks. Kapan kalian pulang? Kyu butuh kalian sekarang" bocah itu mulai terisak.
Ctak!
JDER!
Kyuhyun yang masih terjaga itu sontak membulatkan matanya saat ruangan kamar atau mungkin seluruh ruangan menjadi gelap seketika—listrik padam. Tak sampai di situ, Kyuhyun semakin kaget saat mendengar suara petir di tambah kilatan cahaya yang terlihat dari celah jendelanya. Bocah itu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tiba-tiba saja bergetar.
Kyuhyun takut!
Ya, ia ketakutan sekarang. Bukan karena listrik padam, ia sudah biasa tidur dalam keadaan gelap. Tapi ia takut akan kilatan dan suara petir yang semakin bergemuruh. Ia benci petir!
"Hiks.. petir, eommaaaa—hiks" isaknya yang tertahan itu semakin menjadi saat gemuruh petir di luar sana terus bersahutan satu sama lain. Hujan semakin deras dengan petir dan angin yang bertiup kencang.
JDER!
"Huuwwaaa~"
Tidak kuat dengan suara mengerikan itu, Kyuhyun langsung turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamar walaupun beberapa kali kakinya membentur perabot di kamar. Kyuhyun menelan ludahnya kecut saat membuka pintu kamar dan mendapatkan suasana rumah yang horror. Gelap di semua ruangan walaupun terkadang kilatan cahaya dari petir mampu terlihat dari balik korden. Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya dan menggigit bibir bawahnya.
Ia ingin menuju kamar Jung Soo tapi jika seperti ini…
Ia membutuhkan seseorang untuk menemaninya sekarang. Mata Kyuhyun bergerak gelisah, tak bisa di pungkiri ia juga bergidik ngeri berdiri sendirian di depan kamar dengan situasi gelap rumah yang cukup besar itu.
Akhirnya pandangan Kyuhyun terfokus pada sebuah pintu yang berada di hadapan kamarnya. Tak banyak pikir, bocah itu langsung berlari ke kamar hyung nya itu. Tanpa meminta izin, ia langsung mendobrak kamar Donghae lalu berlari masuk dan naik ke tempat tidur Donghae yang berukuran medium.
"Ya! Apa yang kau lakukan?"
Suara pekikan Donghae menyambut Kyuhyun yang sudah meringkuk di sebelah hyung nya itu. Sebenarnya Donghae sudah terbangun dari tidurnya sejak lampu padam. Ia tak terlalu suka tempat gelap. Ia hendak keluar dari kamar tapi adiknya itu sudah mengagetkan dengan muncul di kamar dan langsung berhambur ke tempat tidurnya.
Tak menjawab pertanyaan sang hyung, Kyuhyun langsung memeluk Donghae dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada hyung nya itu. Tentu saja Donghae berontak.
"Park Kyuhyun! Lepas! Ish, kau ini apa-apaan sih" pekik Donghae sambil berusaha melepaskan pelukan Kyuhyun yang membuatnya sesak.
"Hiks—Kyu t-takut hiks petir hyung petir—hiks"
Donghae berhenti memberontak dan membiarkan Kyuhyun memeluknya seperti itu. Ia bisa merasakan tubuh Kyuhyun yang bergetar. Donghae tahu jika Kyuhyun takut dengan suara petir karena setiap ada petir adiknya itu pasti berteriak memanggil sang eomma. Donghae menghela nafas berat. Kegelapan ini sudah membuatnya sesak di tambah dengan pelukan Kyuhyun... Aish!
"Ya! Tapi ini sesak pabbo!" pekik Donghae lagi yang sudah tidak tahan dengan kesesakan itu. Kyuhyun melonggarkan pelukannya walaupun tangannya masih melingkar di pinggang sang hyung.
Donghae bisa mendengar isakan dan melihat air mata di wajah Kyuhyun walaupun terlihat samar di kegelapan ini. Ia menghela nafas tak suka melihat wajah dongsaeng nya seperti itu, kemudian ia mulai menjauhkan tubuh Kyuhyun darinya. Ia membalikan badan ke arah lain membuat Kyuhyun menggembungkan pipinya.
Suara petir kembali bersahutan membuat Kyuhyun kembali memeluk Donghae tanpa sadar. Ia menyembunyikan wajahnya di punggung kakaknya. Isakan kembali meluncur dari bibir kecilnya.
"Jika mau tidur di sini, diamlah bocah! Berisik! Kau membuatku tak bisa tidur" ucap Donghae dengan nada sedikit tinggi.
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya menahan isakan yang ingin keluar. Ia mengeratkan pelukannya pada Donghae. Setidaknya Ia senang hyung nya mengizinkan dirinya tidur di sini dan Donghae tidak berontak saat di peluk.
Malam semakin larut dengan udara yang semakin mendingin karena hujan, tak lupa suara petir yang masih mengiringi malam seakan sebagai lagu pengantar tidur bagi setiap orang yang mulai berlabuh di dunia mimpi.
2 jam sudah berlalu sejak Kyuhyun pindah ke kamar Donghae. Kamar itu kembali terang karena listrik yang sudah nyala beberapa saat yang lalu. Dengkuran halus sudah terdengar memenuhi ruangan kamar itu, tak peduli dengan keadaan kamar saat ini.
"Sudah menyala"
Kyuhyun bangkit dari tidurnya dan terduduk di kasur Donghae yang sudah tertidur dengan pulas di sampingnya. Kyuhyun mengucek matanya yang sedikit sembab karena menangis tadi. Suara petir sudah tak terdengar membuat nya bisa bernafas lega.
Kyuhyun mengalihkan tatapannya ke arah Donghae. Senyuman tipis terukir di wajahnya melihat kedamaian di wajah kakaknya itu. Ini pertama kalinya ia bisa tidur bersama Donghae.
"Gomawo, Hae hyung" gumam Kyuhyun dengan nada pelan.
Setelah mengatakan itu, Kyuhyun terdiam dan mengalihkan tatapannya ke arah meja belajar yang ada di dekat pintu kamar. Entah apa yang di pikirkan anak itu lagi, Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya, meremas selimut yang menutupi tubuhnya dan Donghae. Ia memejamkan matanya sejenak masih dengan posisi seperti semula.
"Keundae… Mianhae hyung. A-aku harus melakukan ini untukmu"
Kyuhyun membuka matanya kembali dan tanpa membuang waktu, bocah itu segera turun dari tempat tidur dan beralih ke meja belajar. Ia segera mengeluarkan selembar kertas dan pulpen. Ia juga mencari sebuah buku dari rak buku Donghae dengan pelan tanpa menimbulkan suara apa pun.
Dengan tangan sedikit bergetar, bocah itu membuka buku dan mulai menuliskan sesuatu di kertas yang telah ia siapkan. Sesekali ia menengok ke arah Donghae yang masih terlelap dan terus melanjutkan kegiatannya.
"Ish! Bukan seperti ini" gumam nya pelan lalu meremas kertas yang sebelumnya ia tulis itu. Ia mengambil kertas baru dan kembali melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan sebelumnya hingga senyuman puas terukir di wajahnya.
Ia menatap kertas hasil pekerjaan nya dengan puas namun sedetik kemudian tatapan itu berubah menjadi sendu. Ia mengerjapkan matanya yang terasa berkabut lalu menepuk dadanya yang terasa sesak. Dalam hati nya berteriak untuk segera merobek kertas hasil kerjanya sendiri namun pikirannya berkata lain.
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya lalu menghela nafas. Ia segera mengembalikan buku yang tergeletak di meja ke rak buku lalu menyimpan pulpen yang ia gunakan. Ia langsung mengambil beberapa remasan kertas dan selembar kertas yang masih rapi lalu membawanya pergi keluar kamar Donghae.
"Mianhae hyung—jeongmal mianhae" ucap Kyuhyun sebelum pintu kamar itu ia tutup sempurna. Bocah itu segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
.
.
.
OOOoooßCMB oooOOO
"Sempurna"
Donghae tersenyum puas saat melihat pantulan dirinya di cermin. Senyuman menawan itu menghiasi wajah tampan kekanakannya. Kaus berwarna putih di padukan dengan kemeja lengan pendek berwarna biru yang tidak di kancingkan, celana panjang skinny dari kain . Kalung metalik terlihat melingkari lehernya, handbed juga melingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia merapikan tatanan rambutnya terlebih dahulu sebelum mengenakan sebuah topi yang sengaja ia pakai sedikit miring.
Hari ini adalah hari yang sudah ia tunggu selama sebulan lebih. Hari kompetisi dance yang sudah ia nantikan. Sebenarnya ini masih hari selasa dan hari sekolah, tapi demi dance Donghae sudah meminta izin satu hari toh Jung Soo sudah mengizinkannya walau dengan beribu permohonan.
Rumah sudah sepi. Jung Soo, Kibum dan Kyuhyun harus sekolah hari ini. Dengan berat hati Donghae akan berangkat sendiri ke lokasi kompetisi padahal sesuai rencana yang ia susun ia bisa mengajak Jung Soo tapi karena kompetisi yang di undur, ya sudahlah…
Donghae segera beralih memasukan beberapa barang ke tas nya yang tak terlalu besar. Ia memasukan handuk kecil, air minum dan pakaian ganti.
"Dimana kasetku?" Donghae kembali mengeluarkan barang yang sudah ia masukan ke dalam tas dan memeriksa nya dengan perlahan. Ia terus mencari sebuah disc yang akan ia gunakan sebagai back sound nantinya.
Tak menemukan kaset itu di dalam tas, ia mulai mencari nya ke seluruh ruangan dalam kamar itu. Meja belajar, tempat tidur dan lemari. Rautnya mulai berubah menjadi khawatir saat beberapa menit ia masih belum menemukan kaset itu dan ia sudah mencari nya di seluruh sudut kamar.
"Aish! Semalam kaset itu masih ada, sekarang dimana?" gumam Donghae berulang kali sambil melihat jam yang bertengger di dinding kamarnya. Tak ada banyak waktu lagi.
Donghae segera berlari keluar kamar dan mencarinya di tempat-tempat yang mungkin ia datangi semalam. Ruang tengah, ruang santai, taman belakang, dapur, ruang makan, dan banyak ruangan yang sudah ia datangi. Matanya semakin bergerak gelisah, penampilan sempurna nya sudah sedikit acak-acakan sekarang. Keringat dingin mengucur dari permukaan kulitnya.
"Dimana kasetku?!" pekik Donghae kesal.
Lebih lama lagi ia berada di rumah maka ia bisa terlambat ke lokasi kompetisi. Donghae membuka topinya dan mengacak rambutnya kesal. Bodoh! Harusnya ia menduplikat kaset itu seperti saran Shindong beberapa waktu yang lalu. Sekarang apa yang harus ia lakukan tanpa kaset itu? Donghae merasa ingin menangis saja saat ini.
Donghae mengusap wajahnya kasar. Ia menghela nafas berat dan melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Ia mendudukan dirinya di tempat tidur dengan pandangan kosong. Otaknya tengah bekerja keras mencari ide ataupun jalan dari menghilangnya kaset sebagai backsound dance nya nanti. Bisa saja ia tampil tanpa music tapi poin nya pasti berkurang banyak. Dance juga di nilai dari tempo dan irama gerakan yang pas dengan alunan musik.
Donghae mengalihkan tatapannya pada laci meja nakasnya lalu tangan nya mulai membuka laci itu. Ada beberapa kaset di dalamnya. Dengan tergesa ia mengeluarkan semua kaset koleksinya dan melihat nya dengan seksama. Jika tak bisa menemukan kaset yang lama, setidaknya ia harus menemukan lagu yang cukup cocok dengan gerakan yang sudah ia latih.
Pilihan Donghae jatuh pada sebuah disc dengan tempat kaset bercover putih dengan corak hitam. Kaset yang berisi remix lagu dari kompetisi dance tahun lalu.
"Hanya ini yang sedikit banyak mirip dengan tempo lagu ku yang sebelumnya walaupun pasti terlihat aneh juga" gumamnya lemas. Entahlah semangat nya yang berkobar sejak kemarin seakan memudar saat ini.
Donghae segera menggelengkan kepalanya. Setidaknya ia harus mencoba. Ia harus ikut kompetisi apa pun yang terjadi karena jika berhasil menang, ia bisa mendapat beasiswa sekaligus bisa ikut kursus dance di tempat seorang dancer ternama tanpa bayar sepeser pun.
"Ne kau pasti bisa Hae. Kau pasti bisa melakukan nya. Percaya lah!" semangat Donghae pada dirinya sendiri. Ia memakai topinya lagi kemudian memasukan kaset yang ia pilih ke dalam tas kemudian ia beranjak pergi meninggalkan rumah yang sepi itu.
.
.
Suasana ramai terlihat memenuhi hallroom sebuah hotel ternama di kawasan Gangnam. Suara music memenuhi ruangan itu di tambah dengan seruan dari para pendukung peserta kompetisi. Sebuah stage yang cukup besar sudah berdiri kokoh di tengah ruangan itu. Dua orang host sudah memulai tugasnya memandu acara yang telah di mulai beberapa menit yang lalu.
Beberapa peserta dance sudah di panggil naik ke atas stage untuk menunjukan keahlian nya dan beberapa lagi terlihat tengah melatih gerakan nya di sekitar ruangan itu. Namun seorang namja tak melakukan apa pun. Ia hanya duduk diam di kursi memperhatikan lawan nya yang tengah melakukan gerakan di atas stage. Park Donghae terlihat tenang duduk di kursinya. Tak hanya Donghae sebenarnya, ada beberapa anak sepantaran nya yang memilih duduk sama seperti Donghae. Menyimpan tenaga dan menenangkan diri akan lebih berguna daripada mengeluarkan energi untuk latihan lagi bukan?
Donghae berdecih kecil saat ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan matanya bertemu pandang dengan Taecyeon—rival besarnya tengah menyeringai di ujung ruangan. Taecyeon terlihat tengah berlatih bersama teman-temannya.
Donghae segera mengalihkan tatapannya menuju stage lagi. Tak ada gunanya ia memperhatikan rival yang mengancamnya beberapa waktu lalu. Sebenarnya dalam hati Donghae sedikit mengernyit takut mengingat ancaman itu tapi tekadnya untuk mengikuti kompetisi sudah bulat.
"Peserta nomor 27 harap naik ke atas stage" seru host wanita memanggil peserta selanjutnya.
Donghae mulai memasukan botol minum nya ke dalam tas dan mulai menyiapkan diri, 2 nomor lagi setelah ini adalah giliran bisa di pungkiri, jantung Donghae berdegub kencang. Rasa gugup itu mulai muncul. Ia mengepalkan tangannya kemudian menggumamkan rapalan doa dan semangat untuk dirinya sendiri.
28… 29…
Donghae menghembus nafasnya. Ia bangkit dari kursinya dan beranjak menuju ke samping stage. Setelah ini, ia akan tampil. Senyuman percaya diri sudah terlukis di wajahnya. Ia yakin bisa melakukannya dengan baik walau dengan kaset yang berbeda. Kaset itu sendiri sudah ia serahkan ke DJ yang bertugas mengurus music dari kaset yang di berikan setiap peserta.
"Wow mereka sangat berbakat nde, JungHoon-ssi" ujar host yeoja setelah peserta nomor 29 menyelesaikan penampilannya. Seperti biasa, host akan bercakap beberapa detik untuk menyiapkan peserta yang akan tampil berikutnya.
"Ne, Suyeon-ssi mereka memang sangat berbakat. Baiklah kita langsung lanjutkan saja, berikutnya adalah…"
"Mari kita sambut peserta nomor 31, harap naik ke atas stage!"
Langkah Donghae yang hendak menaiki tangga menuju stage terhenti seketika. Ia mengernyit bingung saat mendengar urutan yang di panggil sang host. Apa ia salah dengar? 31? Bukankah seharusnya 30 dulu—nomornya! Apa host itu tidak bisa berhitung?
Senyuman Donghae pudar saat peserta nomor 31 sudah menaiki tangga dan memulai aksinya. Dengan raut bingung bercampur cemas, Donghae mengedarkan pandangannya. Tatapannya terfokus pada dua host yang ada di sebrang stage sana. Dengan tergesa, ia langsung berlari menghampiri dua host itu.
"Jeosonghamnida…" sapa Donghae sambil membungkukan badannya. 2 host itu memperhatikan nya lalu melempar tatapan bertanya.
"Ne, ada apa?" tanya host namja.
"Ano… Heum, kenapa peserta nomor 30 tidak di panggil? Kenapa langsung ke peserta 31, apa kalian melewatinya?" tanya Donghae dengan cemas. Host yeoja mulai melihat beberapa kertas dan di tangannya lalu menggeleng.
"Aniyo. Kami tak melakukan kesalahan. Tak ada nomor 30 di susunan peserta di kertas ini" ujar sang yeoja sambil menunjukan kertas panduan nya. Donghae membulatkan matanya kaget. Tanpa sadar ia merebut kertas itu dan mengeceknya lebih teliti lagi.
Mwo? Tidak ada? Kenapa nomor peserta nya tidak tertera di sana?!
"Tapi… Tapi aku peserta nomor 30. Aku yakin sudah mendaftarkan diriku tapi kenapa nomornya tidak ada di susunan ini?" tanya Donghae panik.
"Jinja? Tenanglah. Coba kau tanyakan pada bagian panitia. Kami di sini hanya bertugas membacakan apa yang ada di kertas ini" jelas host namja.
"Arraso. Kamsahamnida" Donghae kembali membungkukan badannya berulang kali pada dua host itu kemudian ia segera berlari menuju ruang panitia yang ada di sebelah hallroom. Cemas, panik dan takut sudah menyelimuti perasaan nya sekarang. Bagaimana bisa seperti ini? Oh Tuhan… Kenapa?
Dengan sopan, Donghae masuk ke ruangan itu lalu menghampiri seorang yeoja paruh baya yang tengah mengecek data pada komputernya.
"Jeosonghamnida…" sapa Donghae sopan. Yeoja itu mengalihkan tatapannya dari laptop kepada Donghae.
"Ne, ada yang bisa saya bantu?" tanya nya.
"Itu… Saya ingin menayakan kenapa peserta nomor 30 di lewati tadi? Kenapa langsung menuju ke peserta 31?" tanya Donghae sambil meremas-remas tangannya sendiri untuk mengurangi rasa panik.Yeoja itu mengernyit bingung namun sedetik kemudian ia menganggukan kepalanya. Ia beralih ke komputernya lagi dan mulai mengetikan sesuatu di sana. Donghae memperhatikannya dengan seksama.
"Dari data di sini, status dari peserta 30 itu telah mengundurkan diri sehingga tentu saja kami melewati nomor itu" terang yeoja itu perlahan dan membuat Donghae membulatkan matanya tak percaya.
"MWO? Bagaimana bisa? Saya tak pernah mengundurkan diri dari kompetisi ini!" pekik Donghae tak terima. Yeoja itu menatap Donghae dengan tatapan bingung.
"Kau peserta nomor 30?" tanya nya penuh selidik. Donghae menganggukan kepalanya lalu dengan tergesa ia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan sebuah kertas bertuliskan angka 30.
"Saya tak pernah mengundurkan diri jadi anda pasti melakukan kesalahan nona" ucap Donghae yang mulai kesal.
Yeoja itu terdiam sesaat sebelum bangkit dari kursinya dan beranjak menuju sebuah lemari kaca yang ada di sudut ruangan. Tak membutuhkan banyak waktu, yeoja itu kembali sambil membawa 2 map berwarna biru dan meletakannya di atas meja.
"Ini surat pendaftaran mu dan surat pengunduran mu, bukan?" tanya yeoja itu memastikan. Donghae segera mendekat dan matanya semakin terbelalak melihat sebuah kertas pernyataan pengunduran diri dari kompetisi.
"I-itu… aku tak pernah menulis surat pengunduran seperti itu!" pekik Donghae tanpa mempedulikan rasa sopan santun lagi. Ia menatap marah yeoja yang masih memperhatikan nya dalam kebingungan.
"Tapi tulisan dan tanda tangan ini milikmu bukan? Ini sama seperti gaya tulisan mu di data pendaftaran" ucap yeoja itu lagi. Donghae langsung merebut kertas itu dan memperhatikan nya dengan seksama.
Harus ia akui, gaya dan model tulisan ini sangat mirip dengan tulisannya terlebih dengan tanda tangan itu walau terlihat sedikit kaku dan berantakan. Donghae menggelengkan kepalanya tidak percaya. Siapa yang menulis pernyataan seperti ini?
"Bagaimana?" tanya yeoja itu lagi membuyarkan lamunan Donghae.
"Ne, ini memang mirip dengan tulisan dan tanda tangan saya" ucap Donghae lirih. Yeoja itu menghela nafas lalu menutup kedua map itu dan kembali beranjak menuju kursinya lalu melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda.
"Tapi… Tapi bukan saya yang menulis ini nona. Jebal biarkan saya mengikuti kompetisi itu, saya mohon" pinta Donghae dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Maaf tapi saya tak bisa mengabulkan permohonanmu. Kau sudah mengundurkan diri kemarin jadi kau tak mungkin mengikuti kompetisi ini lagi. Kami harus bersikap professional dan set time tidak bisa di ubah lagi" tolaknya membuat Donghae semakin bingung.
"Tapi bukan aku yang menulis surat itu! Biarkan aku ikut kompetisi" pinta Donghae lagi setengah merengek. Yeoja itu hanya menggelengkan kepalanya dan tak merespon lagi.
"Nona… jebal, aku sudah menyiapkan semuanya sejak beberapa bulan yang lalu hanya untuk kompetisi ini" ucap Donghae lagi membuat yeoja itu gemas.
"Tolong anda keluar dari ruangan ini. Bersikap lah professional. Sudah terbukti tulisan di surat itu milikmu bukan? Jangan paksa saya untuk memanggil security untuk memaksa anda pergi" ucap yeoja itu penuh penekanan.
Donghae menggigit bibir bawahnya. Sungguh ia ingin menangis sekarang tapi ia tak mungkin menangis di depan yeoja itu. Ia bisa di cap lemah dan kekanakan nanti. Ia memejamkan matanya sesaat. Semua rencana nya gagal. Ia kalah sebelum bertarung, sungguh memalukan.
Bayangan Taecyeon muncul dalam pikiran Donghae membuatnya membuka mata kembali. Kilatan marah terlihat jelas dalam manic coklat itu. Dugaan nya, namja itu yang membuat pengunduran palsu.
"Nona, tolong beritahu saya. Siapa yang memberikan pengunduran itu kemarin?" tanya Donghae sopan membuat yeoja itu kembali menatapnya. Yeoja itu terdiam sejenak sambil berusaha mengingat.
"Itu… Ada seorang anak yang menemui kami lalu menyerahkan surat ini. Ia mengatakan bahwa keluarga nya ada acara penting dan kakaknya meminta nya menyerahkan pengunduran diri ini" terang yeoja itu membuat Donghae tercengang. Bayangan Taecyeon yang masih menari di pikiran nya sirna seketika.
"Mwo?!"
"Waeyo? Bukan kah kau sendiri yang menyuruh adikmu mengantarkan ini? Ckck lain kali kau harus mengantarkan nya sendiri"
Tak mendengarkan ucapan staff itu, Donghae segera membuka dompetnya kembali lalu menyodorkan sebuah foto yang selalu terpajang di dalam sana.
"Beritahu saya, siapa yang memberikan nya? Yang ini atau yang satu ini?" tanya Donghae penuh selidik sambil menunjuk dua sosok yang ada dalam foto itu.
"Ah! Yang ini, bocah ini yang mengantarkan surat itu kemarin"
Nafas Donghae semakin memburu, ia menggeram kesal dan tanpa sadar ia meremas foto yang ada di tangannya setelah mendengar penuturan yeoja yang saat ini menatapnya bingung. Staff itu hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Donghae masih berdiri di ruangan itu selama beberapa saat berkelut dengan pikirannya sendiri. Setelah nya ia segera meninggalkan ruangan tersebut tanpa memberi salam sedikit pun membuat yeoja itu menggelengkan kepalanya kembali melihat kelakuan remaja sekarang, tak ada sopan santun menurutnya.
.
.
-To be Continued-
.
.
Maaf atas keterlambatan update nya hehe /nyengir watados/
Terimakasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan FF ini yaa~ ^ ^
Oiya, jeongmal gomawo untuk semua feednya. Sangat membantu lye untuk mengkoreksi tulisan lye sendiri, maklum lye juga masih newbie-mungkin haha
Ada beberapa yang bilang problem nya terlalu berat untuk umur seperti mereka. Benarkah? Kyaa~ mianhae /deepbow/ lye emang suka eror kalo buat nge-klopin umur sama masalahnya. Awalnya Cuma ngitung perbedaan yang pas untuk chap2 awal mereka di titipin itu n gak terlalu mikir ke sana nya, ternyata gak pas sama umur ya -_-v Karena sudah terlanjur kalo di rubah, jadi biarkan saja nde? Toh kalo umur Kyu lebih gede (?) ntar dia gak bisa lari-lari konyol kayak bocah /apaini #peace/
Welcome to new readers~ seneng nya kalo ada reader yang sebelumnya gak suka genre brothership kayak gini tapi sekarang jadi baca dan suka sama BCMB~~ Semoga makin banyak yang suka brothership deh XD
Maaf kalau cerita tak bisa sejalan kemauan kalian ya n plot muter2 mulu kayak bianglala (?), jangan bunuh saya~~ ^ ^v
Jangan bosan-bosan baca FF ini~ story di panjangin karena lye pengen cepet-cepet nyelesaiin nya maklum kelamaan jadi bercabang pikiran nya -_-
Okelah, maaf gak bisa balas review kalian satu per satu. Terimakasih untuk support, semangat dan teror karena lama updetnya /eh kkkk~
See ya next chap~
-LyELF-
Special Thanks to :
Blackyuline, Kadera, rizahasdiana, AyuClouds69, Jmhyewon, ay, 92line, nunnaelf, aninkyuelf, sfsclouds, cece, dhilla, DesvianaDewi12, IrumaAckleschia, lianapangestu, arumfishy, Kim Rae Sun, hikmajantapan, dinikyu, Kyulate, Kyuqie, yolyol, Kheai Dyanka, AngeLeeteuk, ichaElfs, DewiDestriaPutri, , EvMar, choYeonRin, bella, tweenies, KyuChul, KyuHaELF, Anonymouss, Aulia, lee minji elf, riekyumidwife, Gyurievil, Arum Junnie, marlinkyu, gyu1315, heeeHyun, shipper, ayu, 137ken, Okta1004, dew'yellow, Hikari Dewi, OnyKyu, bryan ryeohyun, cho-i-chahyun, Kyuminhae, qyukey, TikaClouds2124, Cupcake, RTDhilla, EveCho and all Guest
