BE CLOSE MY BROTHERS

.

.

Main Cast :

Park Jung Soo / LeeTeuk

Lee Donghae as Park Donghae

Kim Kibum as Park Kibum

Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun

.

Genre : Family – Brothership

.

Rated : T

Warning : Typo (s), bad plot, gaje, bored

Disclaimer : All cast isn't mine. They're belong to God and themselves. But, all story and plot is mine!

LyELF

.

-Enjoy reading-

.

.

OOOoooßCMB oooOOO

PART 12

Angin berhembus cukup kencang. Memainkan daun-daun yang tergantung rapi di dahan pepohonan. Bergerak seirama dengan hembusan angin itu. Pucuk daun yang rapuh tak mampu menahan hembusan angin membuatnya harus terlepas dari ranting pohom. Hingga akhirnya daun-daun itu terlepas dari induknya dan terbang bebas sekaligus pasrah mengikuti arah angin. Satu daun mulai terbang turun dan akhirnya jatuh di sebuah telapak tangan yang tengah membuka.

Senyuman terpantri di wajah bocah yang sedaritadi duduk di kursi roda nya. Duduk diam sambil memejamkan matanya menikmati hembusan angin segar di taman belakang sebuah rumah sakit swasta. Kelopak matanya yang tertutup perlahan terbuka, menampilkan sepasang manic coklat jernih yang terlihat indah. Ia menundukan kepalanya menatap sebuah daun yang sudah ada di atas telapak tangan nya.

Tangan itu mulai memainkan daun berwarna hijau yang terlihat segar, memutar-mutar pucuknya seakan daun itu adalah mainan yang cukup menarik.

"Bum hyung…"

Suara pelan itu menggelitik pendengaran seorang anak lain yang tengah duduk di bangku taman berwarna putih. Anak yang bernama Kibum itu mengalihkan pandangan nya dari buku menuju ke wajah dongsaeng yang tengah duduk kursi roda hadapan nya. Mata berobsidian coklat kehitaman itu menatap onyx berwarna coklat cerah.

Kibum menarik sudut bibirnya membentuk senyuman maut yang bisa membuat orang ketagihan untuk melihatnya.

"Waeyo? Apa mau kembali ke kamar sekarang?" tanya Kibum yang tengah menatap Kyuhyun yang sudah tersenyum lebar.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya lalu menunjukan daun yang masih di pegang nya. Kibum mengernyit sesaat sebelum menganggukan kepala seakan mengerti maksud dari dongsaeng nya. Tangan Kibum mulai menutup buku yang sedaritadi di bacanya sembari menemani Kyuhyun yang meminta nya jalan-jalan ke taman belakang rumah sakit.

"Apa buku itu menarik?" tanya Kyuhyun sambil menunjuk buku yang ada di tangan Kibum.

"Heum… Lumayan"

Kibum menaikan alisnya sebelah melihat Kyuhyun menggembungkan pipinya dan menunjukan ekspresi kesal.

"Tapi sedaritadi kau membaca nya seakan buku itu lebih menarik daripada dongsaeng mu ini" Sontak anak berambut hitam pekat itu tertawa pelan mendengar penuturan adik nya. Ia meletakan buku nya di bangku lalu mengacak rambut Kyuhyun pelan.

"Mianhae, Kyu sendiri hanya diam dan menutup mata seperti itu" balasnya dengan nada geli. Kyuhyun sedikit meringis namun mulai mengembalikan senyuman manis di wajahnya.

"Sudah sore… Sebaiknya kita masuk, Kyu"

"Sebentar lagi hyung. Jebal~ Kyu bosan berada di kamar"

Kyuhyun menangkupkan kedua tangan nya di depan dada dan memasang tampang memelas pada hyung nya. Sungguh ia merasa bosan berada di kamar beraroma obat tersebut. Ini adalah hari kedua ia di rawat dan rencana nya ia akan keluar esok hari. Tangan nya sudah terbebas dari jarum infuse sejak siang tadi namun entah mengapa ia masih belum di izinkan pulang ke rumah. Inilah yang membuat Kyuhyun merutuk namja paruh baya yang berstatus sebagai dokter nya. Tidak tahukah namja itu jika bocah 8 tahun ini membenci rumah sakit? Huh!

"Bum hyung…"

"Heum?"

Mata kedua saudara itu kembali saling tatap. Kibum tersenyum saat melihat pancaran bahagia dalam manic adik nya.

"Apa hyung tahu? Kyu sangaaatt senang~"

Dan benar dugaan Kibum! Adik nya memang sedang senang dan mata nya sudah memberitahu kan hal itu terlebih dahulu sebelum bibir itu melontarkan kata-kata.

"Teuki hyungFishy hyung… Bum hyung… Kalian semua membuat Kyu senang hari ini"

Kyuhyun tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang melingkupi seluruh lerung hatinya. Sejak kemarin hingga hari ini, Kyuhyun merasa seperti terbang ke langit dengan seluruh curahan perhatian dari kedua orang tua juga ketiga hyung nya. Rasa sakit dan perih yang masih sering di rasakan dari luka di kepala dan goresan di tangan tidak sebanding dengan rasa bahagia yang di dapatnya.

"Ne, hyung juga sangat senang" balas Kibum membuat Kyuhyun semakin melebarkan senyuman nya. Jika hyung nya tentu ia akan lebih senang lagi.

"Kyu berharap bisa selalu seperti ini. Selalu berkumpul bersama kalian. Itu kebahagian Kyunnie" ungkap Kyuhyun tulus.

Obsidian Kibum yang menatap teduh Kyuhyun tadi tiba-tiba berubah. Tatapan mata itu berubah menjadi sendu. Senyuman Kyuhyun sedikit memudar saat menyadari perubahan dari tatapan sang hyung. Segera Kibum mengalihkan tatapan nya saat Kyuhyun menatap nya intens dan menyelidik ke dalam matanya. Kupu-kupu berwarna kuning bercorak hitam dan putih sekarang menjadi perhatian nya.

"Bum hyungWaeyo?"

Kyuhyun menatap Kibum dengan tatapan bertanya. Ia sangat yakin ada sesuatu yang terjadi pada hyung nya itu. Sejak dua minggu lalu, tatapan sendu dari manic Kibum masih menjadi misteri bagi nya. Ia kira itu hanya sementara namun buktinya hingga saat ini, ia masih bisa melihat tatapan sendu itu.

"Haha kenapa? Aku tidak apa-apa"

Kibum tertawa pelan sambil merapikan helai rambutnya yang sedikit di acak oleh hembusan angin. Ia masih menatap ke arah depan, tak menghiraukan Kyuhyun yang masih menatapnya. Meneliti seluruh ekspresi yang di tunjukan sang hyung baik yang terlihat maupun tersembunyi.

"Apa hyung masih belum percaya pada Kyunnie? Apa hyung masih meragukan Kyu sebagai dongsaeng yang bisa berbagi denganmu?"

Pertanyaan Kyuhyun membuat Kibum beralih menatap adik nya lagi. Ada sirat bersalah dari wajah stoic itu. Dengan cepat Kibum menggelengkan kepalanya. Kyuhyun hanya diam memperhatikan setiap gerak gerik Kibum.

"Aku percaya pada Kyu dan Kyu adalah dongsaeng ku. Jangan berkata seperti itu lagi" balas Kibum dengan nada tegas dan penuh penekanan.

"Bum hyung … adalah hyung yang paling sulit ku tebak. Ada banyak hal dari mu yang tidak bisa Kyu tebak jika hyung tidak mengatakan nya. Walaupun Kyu sangat penasaran tapi Kyu hanya bisa menunggu hyung menceritakan nya"

Keheningan seketika terjadi. Tak ada yang membuka suara nya kembali seakan membiarkan suasana taman yang tenang menjadi semakin sunyi. Langit yang tadi sudah memerah mulai beranjak menggelap. Samar-samar rembulan mulai tampak untuk menyinari seluruh permukaan bumi.

"Impian dan kebahagiaan. Mana yang lebih baik?"

Kyuhyun mengerutkan dahi nya mendengar gumaman dari Kibum yang terus menerawang jauh ke depan. Tidak mengerti maksud dari ucapan Kibum membuat bocah itu hanya terdiam. Menanti Kibum melanjutkan kata-katanya. Dan entah mengapa Kyuhyun bisa merasakan jantung nya berpacu lebih cepat.

"Saat kita harus memilih salah satu… mana yang seharusnya di pilih? Terkadang kebahagiaan tidak membuat kita bisa meraih impian. Dan saat kita meraih impian maka kebahagiaan bisa di dapatkan juga bukan?"

Sungguh Kyuhyun tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh Kibum. Ucapan Kibum terdengar begitu berat dan merumitkan bagi nya. Bagaimana Kibum bisa merangkai kata seperti itu? Apa karena terlalu sering membaca membuat kosakata bocah menjadi lebih banyak dan ia bebas mengeluarkan rangkaian kata tersirat?

"Hyung…"

Kibum menoleh dan menatap Kyuhyun dengan senyuman tipis. Senyuman dari hyung nya tak kunjung membuat Kyuhyun menarik sudut bibirnya. Kepalanya kembali berdenyut sakit. Entah karena luka di kening nya atau karena di paksa berpikir.

"Apa impian Kyunnie? Beritahu aku…" ujar Kibum dengan nada serius.

Kyuhyun tak kunjung menjawab pertanyaan sederhana dari kakak nya. Ia terdiam meneliti obsidian Kibum yang menatap dalam matanya. Otak nya tengah bekerja mencari dan merangkai apa impian paling di inginkan. Hembusan angin yang mulai dingin itu semakin menggelitik permukaan kulit membuat bulu roma sedikit berdiri.

"Kalian…"

Akhirnya setelah beberapa saat terdiam Kyuhyun membuka suara nya kembali. Menggerakan bibirnya yang terkatup dengan begitu lirih. Kibum mengernyit mendengar ucapan sang dongsaeng sembari menajamkan pendengaran nya.

"Impian Kyunnie adalah kalian. Appa, eomma, Jung Soo hyung, Hae hyung dan Bum hyung. Bisa selalu melihat dan bersama kalian. Hanya itu impian terbesar Kyu"

Kibum terkesiap mendengar penuturan dari adik nya. Jawaban yang tidak ia duga sebelumnya. Ia termenung menatap seluruh permukaan wajah Kyuhyun yang mulai membentuk senyuman manis walaupun sarat—sangat tipis.

Keheningan kembali terjadi. Kedua bersaudara itu hanya saling menatap dan menyelidik ke dalam manic di hadapan nya. Saling berbicara lewat pandangan mata tanpa sepatah kata pun yang terlontar.

"Gomawo…"

Ucapan Kibum membuyarkan lamunan Kyuhyun. Ia menatap Kibum yang sudah memberikan senyuman lembut dan kedua mata itu terlihat membentuk eye smile. Senyuman itu tentu membuat Kyuhyun balas tersenyum sadar maupun tidak sadar.

"Gomawo Kyunnie"

Kyuhyun memejamkan kedua matanya saat Kibum mengecup kening nya yang terbalut perban putih. Bum hyung… hanya dua kata itu yang terus di rapalkan Kyuhyun di dalam hati berulang kali. Mata yang sempat terpejam itu kembali terbuka saat sebuah buku sudah berada di pangkuan nya dan Kibum sudah berdiri di belakang kursi roda nya.

"Kita kembali ke kamar sekarang. Mereka pasti sudah mencari kita"

Baru saja Kyuhyun ingin membuka mulutnya untuk berucap, Kibum sudah mendahului nya berbicara. Akhirnya ia pun hanya terdiam tanpa menolak saat Kibum mendorong kursi roda nya kembali ke dalam rumah sakit. Pergelangan kaki kanan nya yang sedikit bengkak karena membentur aspal sekaligus terkilir membuat nya mau tak mau duduk di kursi ini.

"Kyu percaya pada Bum hyung dan Kyu sangat menyayangi mu, hyung" ucap Kyuhyun di tengah perjalanan nya menyusuri lorong rumah sakit menuju ke lift yang akan membawa mereka ke kamar rawat di lantai 3. Kyuhyun memeluk novel yang tidak terlalu tebal yang ada di pangkuan nya lalu tersenyum manis seakan memberi salam pada setiap orang yang mereka lewati.

.

.

.

OOOoooßCMB oooOOO

Hembusan napas memecah keheningan yang terjadi di sebuah ruang rawat. Tak ada suara yang terdengar sejak beberapa saat yang lalu. Hanya detikan jarum jam dan hembusan angin dari pendingin ruangan yang menyelimutinya sejak tadi. Hingga akhirnya seorang bocah yang tengah duduk di kasur nya menghela napas panjang.

Kyuhyun mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan. Sepi! Hanya ada dirinya sendiri di kamar rawat nya ini. Berulang kali ia menoleh kearah jam dinding yang tergantung indah. Jarum jam itu terasa begitu lama. Hampir 10 kali ia menoleh dan jarum pendek dari jam tersebut masih saja menunjuk angka 3. Bocah itu menggembungkan pipi nya kesal. Merutuk jam yang berputar sangat lambat.

Bocah itu beralih menatap seorang yeoja yang notaben adalah eomma nya sendiri yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan membawa beberapa buah apel yang baru saja di cuci nya. Nyonya Park tersenyum menyadari anak bungsu nya tengah memperhatikan kegiatan nya sekarang. Yeoja itu meletakan buah itu di mangkuk kaca besar yang ada di meja nakas.

"Waeyo Kyunnie?" tanya nya lembut. Kyuhyun menghela napas nya kembali lalu menunduk pasrah.

"Bosaaannn eomma!" balas nya dengan ekspresi menyedihkan namun justru membuat sang eomma terkikik geli.

"Sabarlah, sebentar lagi Hae akan kemari"

Nyonya Park beralih duduk di kursi dengan membawa piring, pisau dan sebuah apel berwarna merah segar.

"Hae hyung lama padahal dia bilang akan datang secepat kilat, huh!"

Kyuhyun melipat kedua tangan nya di depan dada masih dengan ekspresi di buat kesal sekaligus menyedihkan. Bocah 8 tahun yang sudah menempati kamar rawat itu selama tiga hari sangat merasa bosan hari ini. Bagaimana tidak? Sejak pagi hanya ada eomma yang menemani. Sesekali uisa beserta kanhosa yang datang untuk memeriksa dan memberikan obat.

Tidak seperti hari kemarin yang sepanjang hari hingga sore ia di temani oleh Donghae yang masih izin dari sekolah. Hari ini Donghae terpaksa kembali ke sekolah karena sang appa yang menyuruhnya. Appa bilang tidak ada guna nya Donghae berada di rumah sakit. Dia tidak sakit dan Kyuhyun sudah ada eomma yang menemani toh ia juga akan pulang hari ini. Jadi lebih baik hyung pecinta ikan nya itu sekolah. Haaahh~ tidak tahukah appa jika Kyuhyun membutuhkan salah satu kakak nya itu untuk melepaskan nya dari rasa bosan?

Kyuhyun memperhatikan nyonya Park yang tengah serius mengupas buah untuk di makan bocah itu nanti. Dengan telaten tangan lembut itu menggerakan pisau mengupas kulit apel yang tidak di sukai Kyuhyun—ia lebih suka memakan daging buah tanpa kulitnya.

Semakin lama memperhatikan kegiatan sang eomma semakin membuat bocah itu terlarut dalam pikiran nya sendiri. Dan sekarang pikiran nya sudah melayang pergi tak berada di tempat itu. Ekspresi Kyuhyun mulai berubah sedikit murung dan bocah itu tanpa sadar meremas selimut yang ada di kasurnya.

Pembicaraan nya dengan Kibum di taman kemarin sore kembali berputar di tambah dengan kenangan saat ia pergi berdua hyung nya itu ke toko buku. Beberapa kali memikirkan hal itu membuat Kyuhyun mulai merangkai kepingan puzzle yang akan membentuk sebuah kata kunci. Namun ia menolak dengan beberapa hal yang sudah terpikirkan oleh nya. Berharap agar semua yang di duga nya tidak menjadi nyata.

"Kyu!"

Lamunan Kyuhyun buyar saat panggilan cukup keras itu menyelusup dalam pendengaran nya. Matanya mengerjap polos menatap sang eomma yang sudah menatapnya bingung namun cemas.

"Kau melamun? Apa ada yang sakit chagi-ya?" tanya nyonya Park cemas ketika mendapatkan anak nya hanya terdiam dengan pandangan kosong.

Kyuhyun membuka mulutnya hendak bertanya ada apa dan mengutarakan kebingungan nya namun sebelum terlaksana otak nya sudah bisa menangkap maksud ucapan eomma nya. Cengiran lebar pun ia persembahkan untuk ibu nya itu.

"Hehe gwenchana eomma. Kyu hanya bosan~" ucapnya sedikit berdusta. Tidak mungkin ia menceritakan keadaan salah satu hyung nya pada sang eomma tanpa tahu pasti apa yang terjadi.

"Jangan melamun chagi. Kau membuat eomma cemas"

"Ne, mianhae"

Nyonya Park kembali mengerjakan kegiatan nya yang tertunda—mengupas kulit apel. Kyuhyun kembali terdiam dan untuk kedua kalinya ia memperhatikan eomma nya itu. Namun kali ini ia tak membiarkan pikiran nya melayang lagi.

"Eomma…" panggil Kyuhyun lirih yang di balas dengan gumaman singkat dari yeoja cantik di sebelah ranjangnya.

Bocah itu terdiam sesaat sebelum mengeluarkan pertanyaan yang membuat hatinya gelisah sejak semalam. Merangkai kata agar tidak terbaca maknanya secara langsung.

"Mempertahankan harapan atau melepas nya demi kebaikan. Mana yang akan eomma pilih?"

Nyonya Park kembali menghentikan kegiatan nya. Ia meletakan pisau yang ia pegang di piring kemudian beralih menatap Kyuhyun. Belum ada kata yang terucap namun Kyuhyun sudah menggigit bibir bawahnya. Sang eomma pun tak langsung menjawab pertanyaan anaknya. Ia lebih memilih meneliti ekspresi Kyuhyun dan menggunakan feeling nya sebagai ibu untuk membaca apa yang di pikirkan anak itu.

Kyuhyun mulai memainkan jemari tangan nya salah tingkah dengan tatapan ibu nya. Namun ia terpaku saat sang eomma tersenyum begitu lembut dan hangat. Sungguh ia selalu merasa tenang melihat senyuman khas dari eomma nya itu. Dan senyuman itu tidak ada yang menyamai—ah! ada satu orang yang menyamai nya. Jung Soo hyung… Ya, sepertinya hanya hyung tertua nya itu yang mewarisi senyuman lembut dan khas dari sang eomma.

"Setiap orang selalu memiliki harapan di dalam hati masing-masing. Ada kalanya kita harus mempertahankan harapan karena harapan itu adalah motivasi kita untuk berusaha. Namun kadang kita harus rela saat harapan tidak bisa terwujud…"

Nyonya Park memberi jeda sejenak dari ucapan nya agar anaknya yang masih tergolong kecil itu bisa menangkap maksud nya. Ia tahu Kyuhyun itu cerdas sehingga ia yakin anak bungsu nya bisa menangkap maksud ucapan nya.

"Dan ketika harapan tidak terwujud jangan pernah menjadi sedih dan putus asa. Satu harapan pupus maka kau hanya perlu membuat sebuah harapan baru yang lebih baik dari harapan sebelumnya. Karena harapan kita tidak hanya satu. Ada banyak harapan didalam hati ini"

Kyuhyun termenung mendengarkan dengan serius setiap kata dari eomma nya. Mencerna, menyusun dan merangkai setiap kata itu menjadi jawaban yang ia cari sebelumnya.

"Saat kau mampu melakukan hal itu maka kau sudah menekan rasa egois yang tertanam di bagian terdalam hati yang mungkin akan berontak meminta agar semua harapan kita terwujud"

Tangan lembut sang eomma yang mengelus pucuk kepala Kyuhyun membuat bocah itu menatap ke dalam manic indah yeoja cantik itu.

"Kyunnie mengerti maksud eomma kan?"

Kyuhyun menganggukan kepalanya sekali dengan pelan menjawab pertanyaan eomma nya. Yeoja itu pun melebarkan senyuman nya.

"Jadi?"

"Tidak apa kehilangan satu harapan karena masih ada harapan lain nya dan sebisa mungkin jangan menjadi egois. Begitu kan eomma?"

Kyuhyun menarik sebuah kesimpulan yang di dapatkan nya. Ia mengulas senyum tipis saat eomma mengangguk pasti. Namun senyuman itu tersirat sebuah ketidakrelaan. Benar yang di katakan eomma, rasa egois dalam dirinya bahkan sudah berontak sebelum ada kepastian dari harapan nya yang pupus atau tidak.

Apa aku harus melepasnya? Bisakah?

Cklek

Suara pintu yang terbuka menginterupsi seluruh kegiatan yang ada di dalam kamar itu. Nyonya Park dan Kyuhyun beralih menuju pintu berwarna abu-abu yang terbuka dan menampakan sosok yang mereka tunggu tadi.

Seseorang yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan ransel yang bertengger di pundaknya. Tangan kanan nya memegang sebuah kantong yang berisi penuh dengan makanan juga snack. Dengan santai dia melangkah masuk setelah menutup pintu, menghampiri sofa yang ada di sudut ruangan.

"Hae hyung kau lama sekali! Tadi kau bilang akan datang secepat kilat tapi hyung justru lebih lama dari siput!" decak kesal yang di lontarkan Kyuhyun hanya di balas dengan cengiran lebar tanpa dosa oleh Donghae yang tengah melepaskan ranselnya dan meletakan ransel biru nya di sofa.

Donghae berjalan menghampiri eomma dan adik nya. Ia meletakan kantong berisi makanan kecil itu ke pangkuan Kyuhyun. Dan tanpa bicara Donghae beralih ke belakang sang eomma dan memeluk yeoja itu dari belakang.

Nyonya Park tersenyum dan mengulurkan tangan nya mengelus kepala Donghae yang di sandarkan di bahu kanan nya. Donghae mengecup pipi sang eomma lalu menunjukan senyum kekanakan nya.

"Err manja sekali kau, hyung" cibir Kyuhyun yang sudah menggelengkan kepala menyaksikan tingkah hyung kedua nya itu.

"Kau ini berisik, Kyu~"

Kyuhyun memutar bola matanya malas. Tak ingin menanggapi ucapan hyung nya lagi, ia memilih membuka kantong itu. Dan dengan mata berbinar bocah itu mulai memilah berbagai makanan kecil yang di beli kakaknya. Ada coklat, keripik, cookies, susu dan banyak lagi.

"Fishy hyung membeli ini untuk Kyu?"

Donghae terkikik geli melihat Kyuhyun yang sudah menatapnya dengan mata berbinar dan senyuman lebar. Sudah ia duga maknae nya itu akan suka jika di belikan berbagai makanan seperti itu. Yah anggap saja makanan itu sebagai permintaan maaf karena Ia datang terlambat, salahkan songsaengnim yang memberi pelajaran tambahan.

Kyuhyun mulai mengeluarkan beberapa makanan yang menarik hatinya. Ia susun snack itu berbaris di ranjang nya. Sedangkan Donghae masih asyik memeluk sang eomma sambil menerima suapan buah apel yang di kupas yeoja terbaik di dunia bagi keluarga mereka.

"BumBum tidak kemari?"

Donghae melepaskan pelukan nya dan beralih duduk di ranjang tepat bersebelahan dengan Kyuhyun.

"Kibummie ada club hari ini jadi pulang agak sore. Eomma menyuruhnya langsung pulang ke rumah saja dan menunggu kepulangan kita bersama Jung Soo" jelas nyonya Park yang mulai melanjutkan acara mengupas buah yang hanya tinggal sedikit lagi. Donghae mengangguk mengerti.

Donghae tersenyum geli memperhatikan Kyuhyun yang terlihat lucu memilih mana snack yang akan di makan nya terlebih dahulu. Tanpa sadar Donghae mengulurkan tangan nya mengelus rambut sang dongsaeng. Kyuhyun beralih menatapnya dengan senyuman. Dengan pelan Donghae mengelus sekitar kening Kyuhyun yang masih saja di perban.

"Apa masih sakit?" tanya nya lembut. Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

"Tidak pusing lagi hanya sedikit nyeri" jujur Kyuhyun akhirnya karena Donghae masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

Donghae beralih menatap sikut kanan Kyuhyun yang tergores. Luka di sana sudah mengering. Lalu beralih menuju kaki Kyuhyun yang silakan. Mengamati dengan seksama pergelangan kaki kanan dongsaeng nya. Sudah tidak sebengkak kemarin namun masih terlihat membiru. Pasti masih terasa nyeri. Ada sedikit perasaan lega namun tetap saja belum hilang sepenuhnya rasa khawatir itu hingga seluruh luka di tubuh adik nya hilang.

"Ya! Hae hyung, ish! Eommaaa~ Hae hyung menyebalkan!"

Donghae tertawa geli saat Kyuhyun merajuk dan mengadu karena ia berulang kali merebut cookies yang hendak di masukan bocah 8 tahun itu ke dalam mulutnya. Kyuhyun menggembungkan pipi nya kesal menatap Donghae yang terus tertawa.

"Hae-ah jangan begitu…" tegur sang eomma namun Donghae tak menghiraukan nya karena ia mengulang tingkah nya menggoda Kyuhyun lagi.

"Ish! Sekali kau lagi merebut nya, aku akan minta eomma masak seluruh ikan mu, hyung!"

Kyuhyun menjauhkan plastic berisi penuh makanan itu dari Donghae dan menyembunyikan cookies yang hendak di makan nya.

"Eomma itu baik, tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu bocah"

"Aniyo. Eomma pasti melakukan nya untuk ku, benar kan eomma?"

Donghae berdecih pelan melihat Kyuhyun yang menatap nya tajam. Jika di dalam komik, keduanya sudah saling melemparkan sengatan listrik dari mata masing-masing. Donghae dan Kyuhyun meringis saat dengan baik nya sang eomma menghadiahi kedua nya cubitan sayang di tangan mereka.

"Kalian selalu saja berisik!" gumam nyonya Park sambil memberikan sepiring potongan buah kepada Kyuhyun lalu mengambil kotak cookies dari bocah itu dan menyerahkan nya pada Donghae "Habiskan dulu buahnya".

Donghae menyengir lebar mendapatkan cookies di tangan nya sedangkan Kyuhyun menggembungkan pipinya lalu dan dengan kesal ia memasukan sepotong apel ke dalam mulutnya.

Setelahnya, Kyuhyun beralih mengambil PSP nya yang tergeletak di sebelah bantal dan mengajak Donghae untuk bermain. Donghae dan Kyuhyun pun larut dalam kegiatan mereka. Donghae yang tidak mengerti game hanya bisa memperhatikan jari Kyuhyun yang bergerak lincah di atas keypad. Ia lebih memilih memakan snack-snack yang di bawanya sesekali menyuapkan snack itu kepada Kyuhyun yang sudah serius dengan dunia visual nya.

Nyonya Park pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua nya. Kadang akur kadang bertengkar bahkan melebihi kucing dan anjing. Namun yang terpenting melihat Donghae dan Kyuhyun akrab seperti ini membuat nya merasa lega. Tidak sia-sia ia menekan perasaan rindu dan bersalah meninggalkan keempat anaknya kemarin. Yeoja paruh baya yang masih cantik itu beralih menuju sofa dan mulai sibuk memasukan pakaian dan barang ke dalam tas. Tuan Park akan menjemput mereka sepulang kerja untuk kembali ke rumah.

Cklek

Untuk kedua kali nya pintu di ruangan itu terbuka. Terlihat seorang uisa dan kanhosa masuk ke dalam dengan senyuman manis. Nyonya Park langsung menghampiri dan menyambut mereka. Uisa beralih menghampiri Kyuhyun yang tidak menghiraukan kehadiran nya.

"Hae hyung…" desis Kyuhyun sambil mendelik ke arah Donghae saat tiba-tiba hyung nya merebut PSP nya begitu saja. Ia ingin kembali membuka suara melontarkan protes namun Donghae sudah menunjuk dengan dagu nya seseorang lain yang sudah berdiri di samping ranjang.

Kyuhyun menggembungkan pipinya melihat uisa yang sudah di hafal nya itu berdiri di sana sambil tersenyum. Dengan terpaksa ia membaringkan tubuhnya di ranjang, siap untuk di periksa.

"Kyu sudah sehat, uisa!"

Kyuhyun menekankan ucapan nya. Ia kesal dengan uisa yang senang sekali memeriksa kondisinya dan tak memperbolehkan nya pulang sejak kemarin di tambah harus meminum obat yang paling di benci nya padahal ia sudah merasa sehat total.

"Kau banyak protes, Kyu" celetuk Donghae membuat bocah manis itu semakin merengut.

Uisa hanya bisa tersenyum. Ia mengelus pucuk kepala Kyuhyun dengan lembut.

"Ne tenang saja, ini terakhir kali uisa memeriksa mu. Setelah nya kau bebas Kyuhyun-ah"

Kyuhyun pun tersenyum lalu mengangguk pasrah. Ia terdiam saat uisa memeriksa seluruh kondisinya dengan kanhosa yang setia mencatat di note yang di pegang nya. Nyonya Park dan Donghae pun setia memperhatikan kegiatan uisa tersebut.

"Uisa, bisakah kau lepaskan perban ini?" Kyuhyun menunjuk perban yang masih membalut kening nya dengan ekspresi memohon. Sungguh perban itu sangat menganggu nya, seperti ada sesuatu yang menekan kepala nya dan itu sangat tidak nyaman.

"Jangan uisa, biarkan saja seperti itu. Kyu lebih tampan begitu, sangat mirip dengan mummy~"

"Ya fishy hyung!"

Kyuhyun berdecak kesal dan langsung memberikan hyung nya itu death glare nya. Donghae hanya tertawa mendengar kekesalan Kyuhyun akan ejekan nya. Sedangkan tiga orang dewasa di antara mereka hanya bisa tersenyum geli sambil menggelengkan kepala.

"Waeyo? Apa tidak nyaman?" Kyuhyun mengangguk pasti menjawab pertanyaan dari dokternya.

"Baiklah, perban ini kita lepas saja. Tapi luka mu masih harus di tutup dengan kapas nde?"

Uisa segera memerintahkan kanhosa untuk mengambil kapas dan plester sedangkan dirinya mulai membuka perban yang membalut kepala Kyuhyun. Bocah itu hanya terdiam dalam posisi duduk sembari memejamkan matanya membiarkan uisa menyelesaikan pekerjaan nya.

Tak berapa lama, perban itu terlepas dan luka di sudut kanan kening Kyuhyun sudah di tutup dengan kapas yang sudah di bubuhi antiseptic dan obat lalu di rekatkan dengan plester. Bocah itu mulai tersenyum lega, jari kecilnya mengelus sekitar luka. Ia juga penasaran luka sebesar apa yang ia dapat sehingga harus di perban seperti tadi. Ia kembali meringis saat tangan nya tak sengaja menyentuh luka yang belum kering sepenuhnya. Bola matanya bergerak keatas ingin melihat bagaimana lukanya walaupun usahanya sia-sia.

Tanpa yang lain menyadari, Donghae juga memperhatikan wajah dongsaeng nya intens. Melihat luka yang ada di bagian sudut kanan kening. Tak terlalu jelas bentuk luka itu karena sudah di tutup kembali dengan kapas namun masih terlihat samar sebuah memar berwarna biru keunguan di sekitar luka dan Donghae yakin itu terasa nyeri. Ia menghela napas nya pelan.

"Bagaimana?" tanya uisa. Kyuhyun tersenyum lebar lalu menganggukan kepalanya.

"Ini jauh lebih baik. Gomawo uisa~"

Uisa menganggukan kepalanya lalu mengacak rambut Kyuhyun pelan, merasa gemas dengan bocah itu.

"Baiklah. Kau akan pulang nanti, tetap minum obat mu dengan teratur dan istirahat dengan baik. Cepat sembuh dan selalu sehat Kyuhyun-ah"

Kyuhyun hanya mengangguk pasti mendengar pesan dari dokter nya. Uisa dan kanhosa pun mulai keluar dari ruangan itu. Nyonya Park ikut keluar untuk membicarkan beberapa hal dengan uisa. Jadilah Kyuhyun dan Donghae berada di ruangan tersebut.

Bocah itu tersentak saat merasakan jemari hyung nya kembali meraba kening nya dan sekitar luka. Ia tak protes walau sedikit meringis saat hyung nya menyentuh memar yang menghiasi sekitar luka itu.

"Pasti rasanya sakit. Mianhae…" sesal Donghae yang sudah menarik tangan nya dan menatap Kyuhyun sendu.

Kyuhyun tak suka dengan tatapan sendu itu namun ia tersenyum saat melihat raut kekhawatiran di wajah tampan hyung nya. Perlahan Kyuhyun mengambil tangan Donghae lalu menggenggam nya dengan erat.

"Gwenchana. Kyu sudah sangat senang seperti ini. Gomawo Fishy hyung~" Donghae tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun yang sedikit manja itu. Ia mulai mengelus kepala Kyuhyun dengan lembut.

"Aku menyayangi mu hyungie~"

Kyuhyun memeluk Donghae dengan erat membuat sang hyung sedikit tersentak kaget. Namun setelah nya ia pun membalas pelukan adik nya dan mengelus punggung Kyuhyun pelan.

"Kyunnie manja eoh?"

"Biarin~"

"Haha dasar manja—Kyunnie manja~"

Kyuhyun mulai merengut mendengar Donghae terus mengejek dan menggoda nya. Ia ingin membalas namun kecupan manis di pucuk kepalanya membuat Kyuhyun diam seribu bahasa.

"Cepat sembuh nae dongsaeng"

Bisikan Donghae bagai sebuah lantunan melodi yang begitu indah. Kyuhyun mengangguk pasti, senyuman lebar terpantri di wajahnya dan ia semakin mempererat pelukan nya pada tubuh sang hyung.

Tanpa kedua nya sadari, ada dua orang lain yang tengah memperhatikan moment indah itu dari ambang pintu. Tuan dan nyonya Park hanya bisa tersenyum lega juga senang melihat kedua anak nya. Beberapa saat lalu tuan Park memang telah sampai di rumah sakit dan bertemu dengan nyonya Park di luar kamar. Mereka hendak masuk namun melihat moment indah itu mereka hanya diam di tempat dan memperhatikan nya dengan hati senang.

.

.

.

OOOoooßCMB oooOOO

"Impian Kyunnie adalah kalian. Appa, eomma, Jung Soo hyung, Hae hyung dan Bum hyung. Bisa selalu melihat dan bersama kalian. Hanya itu impian terbesar Kyu"

Hembusan angin dingin di malam hari ini seakan membawa kalimat yang terekam dan terulang berkali-kali di dalam pikiran Kibum. Bocah itu tengah berdiri santai di balkon rumah nya. Menjadikan pagar pembatas sebagai tumpuan kedua tangan nya. Wajah nya menengadah ke langit, memperhatikan setiap kerlipan bintang yang seakan tengah mengajak nya berbincang. Hanya sebuah hoodie berwarna abu-abu yang di kenakan untuk menghalau udara dingin malam yang sejak kemarin terasa lebih dingin dari biasanya.

Mata Kibum terpejam, menikmati desiran angin yang memainkan helai rambutnya. Wajah stoic nya menunjukan ekspresi tegang. Terkadang bibir bawahnya di gigit kecil menjadi petunjuk ada sesuatu yang di pikirkan.

Helaan napas terdengar begitu lirih bercampur dengan suara desiran angin. Kelopak matanya kembali terbuka dan sepasang manic kembar itu menatap lurus ke depan, menerawang jauh dengan pandangan kosong.

"Apa keputusan ku sudah benar?" gumamnya sangat pelan.

Tanpa di sadari oleh bocah itu, seseorang memperhatikan gerak geriknya sejak beberapa saat yang lalu. Seorang namja yang berbeda 7 tahun darinya dan berstatus sebagai kakak kandung nya itu tengah berdiri bersandar di pintu kaca penghubung balkon. Matanya menatap teduh sang adik yang sejak tadi berdiri di balkon itu sendirian.

Jung Soo memang baru keluar dari kamarnya. Banyak materi yang harus di pelajari sejak pulang sekolah tadi. Sembari menunggu kepulangan adik kecilnya dari rumah sakit, ia memutuskan untuk belajar. Namun karena rasa penat yang didapat, Jung Soo pun akhirnya keluar. Dan di sinilah ia sekarang setelah mengecek kamar sang dongsaeng yang kosong dan ternyata Kibum berada di balkon.

Dengan langkah perlahan dan tanpa suara, Jung Soo berjalan mendekati Kibum. Karena masih terlarut dalam pikiran nya, Kibum sendiri tak menyadari kehadiran hyung tertua nya yang sudah berdiri di samping nya dan meneliti wajahnya.

Beberapa saat Jung Soo hanya terdiam, memperhatikan wajah Kibum dengan seksama. Menebak ekspresi yang tercetak dalam wajah itu, hingga akhirnya ia memutuskan membuka suaranya.

"Bummie…" panggilnya dengan pelan. Namun tak ada respon dari Kibum yang menanggapi. Bocah itu masih menerawang jauh ke depan.

"Kibummie…"

Kibum tersentak saat merasakan sentuhan di kepalanya dan mendengar panggilan lembut. Ia menoleh dan matanya membulat mendapatkan sosok hyung tertua nya sudah ada di sana dengan senyuman lembut khasnya "H-hyung…"

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jung Soo sambil mengelus kepala Kibum sebentar lalu beralih menumpu kedua tangan nya di atas pagar pembatas sama seperti adik nya.

Kibum tak segera menjawab. Ia masih menstabilkan detak jantung nya yang berpacu lebih cepat karena kaget dengan kehadiran sang hyung. Sejak kapan hyung nya berada di sini?

"Hum? Ah! Hanya diam saja hyung. Aku bosan di kamar jadi mencari udara segar di sini" jawab Kibum apa adanya. Jung Soo mengangguk mengerti.

"Mianhae hyung membiarkan mu bosan, Bummie. Seharusnya hyung menemani mu sejak tadi" balas Jung Soo yang langsung mendapat gelengan kepala dari Kibum.

"Aniyo hyung. Kau kan harus belajar" Kibum tersenyum tipis seakan meyakinkan bahwa ini bukan salah hyung nya.

Jung Soo melebarkan senyuman nya melihat senyuman samar dari adik nya itu.

Setelah itu kedua nya terdiam. Membiarkan keheningan menyelimuti mereka yang tengah bergelut dengan pikiran masing-masing. Walaupun begitu Jung Soo masih sering curi lirik pada dongsaeng nya. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Kibum saat ini. Tapi keraguan masih menyelimuti nya. Sikap diam Kibum membuat nya ragu untuk menanyakan hal tersebut.

"Kenapa mereka belum pulang juga hyung?" tanya Kibum memecah keheningan yang terjadi. Jung Soo sedikit kaget namun akhirnya ia menjawab.

"Tadi appa menghubungi ku. Mereka masih di jalan. Tadi mampir di sebuah restoran untuk membeli makanan untuk makan malam kita hari ini" terang Jung Soo yang di balas dengan anggukan mengerti dari Kibum.

Jung Soo mengulurkan tangan nya kembali mengelus surai lembut Kibum yang tengah menyandarkan kepala nya di atas lipatan tangan yang bertumpu pada pagar pembatas.

"Kibummie…" panggil Jung Soo dengan lembut. Kibum hanya menatap hyung nya dengan tatapan bertanya. Jung Soo terdiam sejenak, meyakinkan hati nya untuk berkata lebih lanjut.

"Apa ada yang ingin kau beritahukan pada ku? Maksudku pada kami semua?"

Kibum mengernyit bingung mendengar ucapan hyung nya. Ia hanya terdiam memikirkan ucapan hyung nya. Beritahukan apa? Jung Soo sendiri memilih berdiam sesaat membiarkan Kibum yang terlihat jelas tengah berpikir bahkan mengingat.

"Maksud hyung?" tanya Kibum akhirnya. Setelah mencoba berpikir, ia masih belum mendapatkan maksud dari ucapan kakak nya itu. Jung Soo menarik tangan nya dan otomatis sentuhan lembut di kepala Kibum terhenti. Jung Soo menengadah menatap bulan purnama yang bersinar begitu terang. Senyuman manis terukir di wajah tampan nya.

"Berita bahagia yang masih kau sembunyikan. Kapan kau memberitahukan pada kami tentang itu?"

Sontak Kibum menegakan posisi berdirinya. Mata dan mulutnya membulat kaget dengan penuturan sang hyung. Jantung nya kembali berdegub kencang.

Jung Soo melirik ke samping dan tersenyum geli mendapatkan keterkejutan dari adik nya itu.

"Surat itu… Mianhae. Hyung membaca nya saat kau tidak berada di rumah. Aku berniat meminjam pulpen tapi aku justru menemukan surat itu dan membaca nya. Mianhae" sesal Jung Soo yang kembali teringat bagaimana kejadian beberapa hari lalu saat dirinya menemukan surat itu.

Kibum masih terdiam. Jemarinya sibuk meremas tangan nya sendiri, mengalihkan rasa khawatirnya. Kepala nya mulai tertunduk menatap lantai keramik berwarna putih dengan sedikit ukiran di tepinya.

"Kibummie…"

"H-heum?"

Jung Soo merubah posisi berdiri nya menyamping. Menghadap lurus kearah Kibum yang masih menundukan kepalanya. Memperhatikan gerak gerik adik nya sejenak sebelum maju dua langkah semakin mendekati Kibum. Kedua tangan nya mulai terjulur menyentuh lengan Kibum dan membawa bocah itu dalam pelukan nya.

Kibum tak menolak. Ia hanya terdiam dalam pelukan Jung Soo. Entah mengapa ia selalu merasa aman dan tenang berada dalam rengkuhan hyung tertua nya ini. Sentuhan lembut mulai di rasakan kepala bagian belakang nya. Nafas tenang Jung Soo bisa di dengar begitu dekat.

"H-hyung…"

"Kenapa tidak segera memberitahu hyung heum?" tanya Jung Soo namun Kibum enggan menjawabnya. Ia justru memejamkan matanya menikmati kehangatan yang tersalur dari pelukan itu. Kehangatan yang bahkan mengalahkan rasa dingin dari angin malam.

"Chukae Bummie"

Bisikan pelan itu menyapa pendengaran nya dan entah mengapa membuat hatinya di liputi rasa senang. Perlahan kedua tangan nya yang sejak tadi terselampir di samping tubuhnya mulai terangkat—membalas pelukan dari hyung nya.

Beberapa saat menikmati kehangatan itu, Kibum mulai melepaskan pelukan nya. Dengan raut ragu ia menatap hyung tertuanya yang masih menghumbar senyuman manis.

"Hyung senang?" tanya bocah itu masih dengan sangat pelan.

"Apa Bummie senang?"

Kibum menaikan sebelah alisnya saat Jung Soo justru membalikan pertanyaan nya. Mata Kibum mulai menatap intens ke dalam manic kembar kakaknya yang jernih itu. Dengan ragu Kibum menganggukan kepalanya sekali. Jung Soo pun tersenyum melihat itu walaupun ada sesuatu yang berbeda dari senyuman tersebut. Senyuman senang bercampur sedikit kesedihan.

"Kalau Kibummie senang maka hyung juga akan senang" jawab Jung Soo akhirnya menjawab pertanyaan yang di lontarkan Kibum sebelumnya.

Kibum cukup terkesiap dengan jawaban sang hyung. Tangan nya mulai meremas celana bahan selutut yang di kenakan nya.

"Tapi… Kalau aku menerima nya, itu berarti aku…"

Mata Kibum mulai bergerak gelisah, bibir bawahnya kembali ia gigit kecil. Jung Soo hanya menggeleng entah karena apa. Ia mulai menangkup pipi Kibum yang mulai terasa dingin.

"Apapun keputusan Kibum, hyung akan menerima dan mendukung nya. Dengarkan kata hati mu dan lakukan tanpa ragu. Jangan memikirkan hal lain yang membuat mu bimbang"

Kibum hanya terdiam mencerna setiap ucapan Jung Soo. Matanya mulai terfokus kembali pada mata kakaknya yang seakan menghipnotisnya.

"Kami semua pasti akan mendukung mu jadi Kibummie tenang saja"

Jung Soo tersenyum saat Kibum mulai menganggukan kepalanya. Ia mengacak rambut Kibum dengan gemas. Kibum masih terdiam hanya bisa mengulas senyuman tipis.

"Gomawo hyung" gumam nya pelan.

"Beritahu appa dan eomma. Ceritakan pada kami semua nya. Lebih cepat lebih baik, arrachi?" Kibum kembali menganggukan kepalanya.

Jung Soo menghela nafas lega. Ia memperhatikan Kibum intens. Senyuman manis itu sedikit demi sedikit berubah menjadi senyuman getir. Jujur hati bercampur ego nya ingin berteriak untuk langsung menolak tapi ia sadar apa yang menjadi kebahagiaan adik nya itu juga yang akan menjadi kebahagiaan nya.

TIN

Suara klakson itu menginterupsi kegiatan kedua nya. Jung Soo dan Kibum langsung menoleh ke arah bawah. Sebuah mobil chevrolet berwarna hitam sudah berada di depan pagar. Tak lama seorang yeoja turun dari dalam mobilnya dan membuka pagar besar itu membuat jalan bagi mobil untuk memasuki halaman rumah menuju garasi.

"Mereka sudah pulang, kajja!"

Jung Soo mengulurkan tangan nya kepada Kibum yang masih setia memperhatikan mobil yang di kendarai appa nya itu. Setelah mobil itu masuk ke dalam garasi, Kibum pun menyambut uluran tangan hyung nya. Mereka pun meninggalkan teras balkon, masuk ke dalam rumah untuk menyambut kedatangan sang maknae.

.

.

Mata Kyuhyun berbinar melihat seluruh makanan yang sudah terhidang di meja makan. Ada banyak makanan untuk makan malam ini. Walaupun bukan masakan sang eomma dan mereka membeli nya di sebuah restoran tapi makanan itu tetaplah terlihat menggiurkan.

"Waahhh~ Kyu tidak menyangka eomma membeli makanan sebanyak ini" ucap Kyuhyun dengan nada ceria nya. Ia masih memperhatikan setiap hidangan yang tersaji memenuhi meja makan itu.

"Ini semua untuk menyambut mu chagi-ya. Kita pesta kecil malam ini"

Nyonya Park mengacak rambut anak bungsunya gemas sebelum duduk di kursi yang biasa di tempati nya—di bagian ujung kanan dekat kepala keluarga. Kyuhyun hanya tersenyum lebar mendengar penuturan eomma nya.

"Kalau begitu lebih baik kau sering sakit saja Kyu jadi kita bisa makan enak sebanyak in—aww hyung! Appo~"

Donghae mengerucutkan bibirnya saat Jung Soo mencubit tangan nya dengan pelan. Jung Soo hanya menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya bercanda" Seakan mengerti maksud tatapan sang hyung, Donghae meralat kata-kata nya.

Tuan dan nyonya Park hanya tersenyum geli melihatnya.

"Boleh saja. Tapi kalau Kyu sakit bukan nya Hae hyung yang akan sangat mengkhawatirkan Kyu?"

Kyuhyun menatap fishy hyung nya dengan senyuman tersirat seringai itu. Donghae memalingkan wajahnya masih dengan bibir mengerucut. Melihat tingkah Donghae sontak tawa geli pecah menyelimuti ruangan itu. Kyuhyun, Kibum dan Jung Soo tertawa geli membuat wajah Donghae yang sudah memerah semakin merona.

"Hei hei sudah, lebih baik kita makan sekarang" lerai kepala keluarga Park sambil menatap setiap anggota keluarga nya satu per satu yang mulai mengangguk menyetujui ajakan namja itu.

"Selamat makan~"

Kyuhyun berseru keras dan dengan riang ia segera mengambil sepotong ayam yang sudah menggoda nya.

Suasana hangat dalam meja makan pun terlihat. Tidak seperti keluarga lain yang makan dalam diam, mereka lebih memilih makan sambil berbincang ringan. Suasana makan ini lebih terasa hidup dan menyenangkan saat makan bersama dengan santai.

Donghae sedikit ribut dengan Kyuhyun karena memperebutkan udang terakhir yang ada di piring hingga akhirnya Jung Soo merelakan udang yang masih belum di sentuhnya untuk menghentikan keributan dua adik nya itu. Nyonya Park sesekali menyeka mulut Kyuhyun yang duduk di sampingnya.

Tanpa mereka sadari, Kibum terlihat lebih diam di makan malam kali ini. Bocah itu lebih senang memandangi setiap wajah ceria keluarga nya. Senyuman tipis terukir kala mendapatkan ekspresi lucu dari kakak dan adiknya di tambah kelembutan yang jelas tercetak di wajah sang eomma dan perhatian yang di perlihatkan sang appa dalam sikap tegasnya.

Beberapa kali matanya bertemu pandang dengan Kyuhyun yang hanya memberikan senyuman lebar padanya.

'Apa aku sanggup berjauhan dari mereka semua?'

.

.

OOOoooßCMB oooOOO

Detik jam terdengar begitu merdu di sebuah kamar yang terlihat sepi ini. Bukan karena tak ada orang di dalam nya namun sang penghuni terlihat hanya duduk terdiam di kursi meja belajarnya. Beberapa buku terbuka di meja nya namun sepertinya tak niat untuk menyentuhnya. Hanya sebuah kertas putih yang menjadi perhatian nya. Matanya fokus memandang kertas dan menyerapi setiap kalimat yang sebenarnya sudah ia hafal seluruhnya.

Helaan nafas terdengar darinya lagi dan lagi sejak setengah jam lalu ia masuk ke dalam kamar setelah makan malam bersama keluarga. Ada beberapa tugas yang harus di kerjakan namun otaknya tidak bisa berpikir dan tak minat untuk mengerjakan nya sekarang.

"Jebal jangan tinggalkan aku. Bummie harus menemani hyung, jebal~"

Sosok Donghae tiba-tiba mulai muncul dalam pikiran nya. Kibum meletakan kertas di meja begitu saja lalu mulai menopang dagu dengan tangan kirinya. Menerawang jauh ke arah lampu belajar yang menyala terang.

"Kalau Kibummie senang maka hyung juga akan senang"

Sosok Donghae dalam pikiran Kibum berganti menjadi sosok Jung Soo. Ucapan hyung nya tadi kembali terngiang dalam pikiran nya. Ekspresi tulus bercampur sedih dan tidak rela mampu Kibum tangkap dari Jung Soo. Kibum memejamkan matanya sesaat dan seketika sosok itu kembali berubah menjadi bocah kecil yang tengah menangis dan merengek sambil memeluknya erat saat ia memutuskan akan pergi menemani hyung nya.

"Bum hyung… Bum hyung jangan pergi juga"

Helaan napas itu kembali keluar dari bibir tipisnya. Dengan kasar Kibum mengusap wajahnya yang terlihat kusut. Beberapa kali ia menepuk pipi putih nya untuk mengembalikan kesadaran nya.

Kibum beralih memandang dua figura yang ada di sudut meja belajarnya. Satu figura berisi foto dirinya bersama appa dan eomma beserta dua hyung dan satu dongsaeng nya. Sedangkan satu figura lagi berisi foto dirinya bersama keluarga Shim dulu.

Matanya terus berfokus dan menatap intens setiap wajah dalam figura itu. Tangan Kibum mulai terjulur mengambil figura keluarganya. Jemari nya mengusap wajah appa dan eomma lalu beralih mengusap wajah Jung Soo, Donghae dan Kyuhyun.

Setelah beberapa saat memperhatikan foto itu di tambah kenangan kebersamaan yang berputar dalam pikiran nya bagai sebuah video, Kibum meletakan figura itu kembali di tempatnya. Matanya masih menatap foto itu hingga entah sadar atau tidak, ia menarik kedua sudut bibirnya. Senyuman lega terpantri di wajahnya.

Dengan santai, Kibum mulai menutup semua buku yang terbuka di meja nya lalu menyimpan semua buku itu di rak buku. Ia pun beralih menatap kertas putih yang masih tergeletak pasrah di atas meja. Ia tersenyum lalu mengangguk pasti. Di lipatnya kertas itu lalu memasukan nya ke saku celana.

Kibum beranjak dari kamarnya dengan langkah pasti. Satu tempat yang menjadi tujuan nya sekarang. Ruang santai dimana keluarga nya biasa berkumpul bersama.

"Teuki hyung…"

Jung Soo yang beru saja akan berbelok dan menuruni tangga pun menoleh dan membalikan badannya setelah mendengar panggilan itu. Ia tersenyum melihat Kibum yang berjalan menghampiri nya.

"Haha kau memanggil ku dengan nama itu juga eoh?"

Kibum terkesiap dengan pertanyaan hyung nya. Ia sendiri tidak sadar memanggil sebutan yang di berikan Kyuhyun pada Jung Soo tadi. Cengiran itu hanya di berikan Kibum pada Jung Soo yang sudah terkikik geli.

"Kyu sering memanggil mu dengan sebutan itu lalu Hae hyung juga ikut memanggil mu begitu. Jadi aku…"

"Gwenchana"

Jung Soo mengacak rambut Kibum gemas sedangkan adik nya hanya tersenyum malu.

"Hyung sudah selesai belajar?" tanya Kibum yang dib alas dengan anggukan dari hyung nya.

"Ne. Hyung mau ke ruang santai. Bummie juga?"

Kibum mengangguk membuat Jung Soo tersenyum. Jung Soo pun menggenggam tangan kanan Kibum dan mengajak nya untuk turun bersama. Namun ia menoleh saat mendapati Kibum masih terdiam di tempat.

"Wae?" tanya Jung Soo heran.

"I-itu… Surat itu… Akua akan memberitahu appa dan eomma. Aku akan menceritakan semua nya sekarang"

Jung Soo terdiam dengan mulut sedikit terbuka mendengar ucapan Kibum. Namun sedetik kemudian ia mengulas senyuman tipis yang lembut untuk dongsaeng nya. Ia mengangguk menyetujui keputusan adik nya itu. Sedikit tidak menyangka Kibum akan menceritakan nya sekarang, walau lebih cepat lebih baik.

Kibum beralih menuruni tangga terlebih dahulu. Sekarang giliran Jung Soo yang terdiam di tempat memperhatikan punggung adik nya itu dengan tatapan sendu. Jujur ia sangat penasaran dengan keputusan Kibum tapi ia juga tak ingin mendengar keputusan yang mungkin akan menyedihkan itu.

Panggilan dari Kibum membuyarkan lamunan Jung Soo. Ia pun menyusul Kibum dan menuruni tangga itu segera.

.

"Bum hyung~ Teuki hyung!"

Kedatangan dua anak keluarga Park itu langsung di sambut dengan pekikan senang dari si bungsu. Kyuhyun beranjak berdiri dari duduknya dan menghampiri kedua hyung nya walaupun jalan nya masih sedikit terpincang.

"Kyunnie kenapa berlari? Aigoo, kaki mu pasti sakit" Jung Soo langsung memapah Kyuhyun yang sudah meringis merasakan nyeri di kaki kanan nya.

"Bodoh…" celetukan dari Donghae yang tengah duduk di karpet berbulu dan sibuk dengan benda hitam yang biasa di bawa Kyuhyun.

"Kalian sudah selesai belajar, chagi?"

Jung Soo dan Kibum menoleh ke arah eomma yang baru saja muncul dari ujung lorong. Yeoja paruh baya itu membawa setoples cookies dan beberapa minuman dingin. Kibum beralih mendekati sang eomma dan membantu membawa cookies yang sedikit merepotkan eomma nya. Mereka meletakan semua itu di karpet berbulu yang ada di depan sofa.

Kyuhyun kembali duduk di karpet setelah di papah oleh Jung Soo. Bocah itu memeluk hyung tertua nya dengan manja membuat Jung Soo terkikik geli. Kibum pun ikut duduk di karpet bersebelahan dengan Kyuhyun dan Donghae.

Nyonya Park menghampiri tuan Park yang duduk di sofa sambil memangku laptop nya, menyelesaikan beberapa laporan pekerjaan. Ia duduk di sebelah suami nya dan memperhatikan kegiatan anak-anak nya di karpet.

Ruangan yang tadi nya hanya di dominasi dengan suara tv dan terkadang pertengkaran Donghae dan Kyuhyun mulai ramai. Tuan dan nyonya Park pun hanya tersenyum mendengar keramaian yang mulai menyelimuti ruangan tanpa merasa terganggu.

"Haahh~ benda bodoh ini membosankan"

"Ya fishy hyung jangan melemparnya!"

Kyuhyun memberikan death glare nya pada Donghae yang dengan santai melempar PSP nya di karpet begitu saja. Donghae hanya menyengir "Salah sendiri memaksa ku memainkan nya" jawab nya santai.

Kibum beralih mengambil PSP dongsaeng nya dan menatap layarnya yang sudah berkedip dengan tulisan game over. Ia tersenyum geli menatap hyung kedua nya itu.

"Sejak kapan kau mau bermain game lagi, hyung?"

"Eerr~ bocah itu yang memaksa ku!"

Donghae melipat kedua tangan nya di depan dada lalu menyandarkan punggung nya di kaki sofa dan menyandarkan kepalanya di sofa. Nyonya Park mengelus rambut Donghae sayang membuat namja itu memejamkan mata, menikmati sentuhan dari eomma nya.

"Teuki hyung, Bum hyung~ weekend ini kita ke lotte world ya? Appa, eomma dan fishy hyung sudah setuju"

Kyuhyun memilih mengalihkan pembicaraan. Ia menatap Jung Soo dan Kibum bergantian dengan menggunakan puppy eyes nya. Beberapa saat Jung Soo dan Kibum hanya terdiam seakan ajakan adik nya itu.

"Hyuuungg~ ayolah, Kyu ingin kita bermain bersama. Ya ya ya?" bujuk Kyuhyun lagi. Kibum tersenyum geli lalu menganggukan kepalanya pasti membuat Kyuhyun bersorak senang. Bocah itu kembali fokus menatap Jung Soo yang masih terdiam.

"Teuki hyuungg~"

"Haha ne ne, arrasso. Terserah saja"

Kyuhyun tak bisa menyembunyikan senyuman lebar nya saat Jung Soo menjawab sambil mengacak rambutnya gemas. Semoga waktu berjalan cepat hingga weekend. Ia tak sabar menunggu bisa bermain bersama keluarga lengkap nya itu bersama. Suatu hal yang sangat di impikan oleh nya. Bocah itu memeluk Kibum yang ada di samping sambil tertawa riang.

Setelah perbincangan rencana weekend itu, mereka pun mulai terlarut dengan kegiatan masing-masing. Tuan Park masih sibuk mengecek laporan-laporan di dalam laptopnya, nyonya Park asyik menonton drama kesayangan nya yang baru di tayangkan beberapa saat lalu. Sesekali kedua nya berbincang bersama dan berceletuk mengomentari ucapan anak-anak mereka.

Kyuhyun kembali memaksa Donghae agar mau belajar memainkan game di psp nya. Tentu Donghae menolak. Ia bosan dengan gambar-gambar visual yang membuatnya pusing namun akhirnya ia menyerah kala Kyuhyun merengek dan pura-pura terisak. Jung Soo hanya diam memperhatikan kedua adiknya yang terus bergelut sendiri dan menciptakan keributan kecil hanya karena game.

Mata Jung Soo juga bergerak mengawasi Kibum yang terlihat tengah mengamati setiap ekspresi yang di tunjukan keluarganya. Ada pancaran takut juga bingung dalam mata adik nya itu. Beberapa saat Jung Soo bertemu tatap dengan Kibum. Ia menganggukan kepala meyakinkan adiknya itu.

Kibum ingin membuka suara nya namun pekikan keras dari Donghae yang kesal dan suara tawa Kyuhyun membuatnya kembali mengatupkan bibirnya.

Jung Soo menghela napas memperhatikan hal itu. Sepertinya ia harus membantu adik nya untuk memulai berbicara.

"Ehem!"

Dehaman keras dari Jung Soo membuat semua nya beralih menatapnya. Jung Soo hanya menyengir namun akhirnya ia menatap kedua orang tua nya dengan serius.

"Ada yang ingin Kibum sampaikan pada kita" ucapan Jung Soo sontak membuat kedua orang tua nya di tambah Donghae dan Kyuhyun mengalihkan tatapan mereka pada Kibum.

Kibum sedikit kaget dengan ucapan hyung nya. Ia menatap Jung Soo intens. Senyuman manis dan anggukan dari Jung Soo seakan meyakinkan bocah itu untuk segera berucap. Kibum masih terdiam memperhatikan kedua orang tua nya, Donghae dan Kyuhyun yang menatapnya penasaran.

"BumBum mau bicara apa?" tanya Donghae akhirnya, tidak sabar dengan Kibum yang hanya diam sambil mengamati mereka satu persatu.

"Ada apa Kibummie?"

Tuan Park pun ikut menanyakan hal itu pada Kibum dengan nada pelan. Ia menatap anak ketiga nya yang baru saja menghela napas.

Kibum beranjak berdiri dan berjalan mendekati appa dan eomma. Ia terdiam di hadapan kedua orang tua yang menatapnya heran. Kibum tersenyum sejenak sebelum mengeluarkan secarik kertas dari saku celana nya.

Tuan Park memperhatikan kertas yang di sodorkan ke arah nya. Menatap kertas itu dan Kibum secara bergantian.

"Apa ini chagi?" tanya tuan Park. Kibum tak kunjung menjawab membuat namja paruh baya itu berinisiatif mengambil kertas yang memang di berikan Kibum pada nya. Perlahan ia membuka lipatan dari kertas itu dan mulai membaca deretan kalimat yang ada di dalam nya. Nyonya Park yang penasaran pun ikut membaca kertas di tangan suami nya. Kibum kembali duduk di karpet menghadap kedua orang tua nya yang masih membaca.

Kyuhyun menautkan kedua alisnya melihat kertas itu. Seperti nya ia pernah melihat kertas tersebut tapi dimana? Kyuhyun membulatkan matanya saat samar-samar ia mengingatnya. Itu kertas yang pernah di baca hyung nya di taman sekolah seorang diri dengan tatapan sendu. Hati nya mulai bergemuruh. Ia menelan ludahnya sulit dan mulai meremas tangan nya sendiri.

Donghae yang berada di samping Kyuhyun dan menyadari ekspresi kaget dan takut dari adik nya hanya bisa diam menahan rasa penasaran yang sudah menyelimutinya. Ia beralih menatap kedua orang tua nya yang masih membaca dengan serius dengan berbagai ekspresi yang tidak bisa di tebaknya. Tatapan nya kembali beralih kepada Jung Soo hanya terdiam sambil menundukan kepalanya. Sebenarnya ada apa? Akhirnya tatapan nya terfokus pada Kibum yang duduk diam dengan wajah stoicnya.

Beberapa saat tuan dan nyonya Park fokus membaca setiap kalimat dalam kertas itu hingga kedua nya membulatkan mata tidak percaya. Mereka segera beralih menatap Kibum meminta penjelasan. Kibum masih terdiam bingung harus berkata apa.

"Pertukaran pelajar? Canada?"

Tuan Park membuka suara nya terlebih dahulu memecah keheningan yang terjadi. Sungguh mereka tidak mengerti—ah! lebih tepatnya tidak percaya. Anak nya masih duduk di sekolah dasar namun mendapatkan sebuah kesempatan yang… Wow!

"Eum… Ne" Kibum menganggukan kepala nya gugup. Hal tersebut sontak membuat appa dan eomma semakin tercengang namun ada perasaan bangga yang seakan meledak dalam hati nya.

Tidak hanya kedua orang tuanya yang tercengang, Donghae dan Kyuhyun pun sudah membulatkan matanya tidak percaya. Kedua nya menatap Kibum dengan intens. Tak ada suara yang keluar dari mereka. Kyuhyun mulai menggigit bibirnya dan Donghae mulai mengepalkan tangannya.

Kibum menghembuskan napasnya kembali lalu menatap hyung tertua nya. Jung Soo yang merasa di perhatikan mulai mengangkat wajahnya lalu memberikan senyuman manis. Kibum memperhatikan wajah Jung Soo sejenak. Sepertinya wajah hyung nya yang tersenyum manis itu seakan menjadi sebuah kekuatan dan ketenangan tersendiri bagi nya.

"Beberapa bulan yang lalu sekolah kami mendapat kunjungan dari sebuah yayasan sekolah Santa Monica di Canada. Setelah melihat seluruh sekolah mereka memutuskan untuk memilih beberapa anak untuk pertukaran pelajar di sana" cerita Kibum akhirnya. Ia menatap seluruh keluarga nya yang hanya diam menyimak ceritanya satu per satu.

Kyuhyun terlihat terkesiap. Ia ingat saat beberapa orang luar datang ke sekolahnya dan melihat pembelajaran yang ada di sana. Tak heran jika sekolah mereka mendapat kunjungan seperti itu karena sekolah yang di tempati Kibum dan Kyuhyun menjadi salah satu sekolah terbaik di korea. Banyak sekolah luar yang bekerja sama dengan sekolahnya baik membicarakan masalah kurikulum ataupun sistem pembelajaran.

"Miss Angela merekomendasikan diri ku karena bahasa inggris ku cukup baik begitu pula dengan setiap nilai pelajaran yang masih di atas rata-rata kelas. Beberapa kompetisi yang ku ikuti juga menjadi pertimbangan. Awalnya aku hanya berniat iseng mencoba test yang di berikan Miss Angela dari yayasan itu tapi 2 minggu yang lalu aku mendapatkan surat yang menyatakan aku lulus" Kibum memberi jeda kembali dalam ceritanya.

"A-aku mendapatkan kesempatan melakukan pertukaran pelajar di Santa Monica selama setahun setelah aku melakukan ujian kenaikan kelas di sini"

Tuan dan nyonya Park masih tercengang dengan semua yang di dengarnya. Santa monica adalah salah satu sekolah terbaik di Canada dan mereka mengetahui hal itu. Kedua orang dewasa itu mulai mengulas senyuman bangga bagi anak ketiganya.

"Sekolah itu terdiri dari 3 tingkatan. Dari sekolah dasar hingga sekolah tinggi. Ada sebuah asrama untuk para murid yang tempat tinggal nya jauh. Semua biaya sekolah dan asrama akan di tanggung oleh yayasan nantinya. Appa dan eomma hanya perlu menandatangani surat itu jika menyetujui nya"

"Jika prestasi ku baik dan memuaskan saat masa pertukaran pelajar di sana, mereka menjanjikan akan memberikan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya juga di Santa Monica"

Kibum bisa melihat senyuman lebar terkembang di wajah kedua orang tuanya. Tak bisa di pungkiri ia juga sangat senang melihat nya kebanggaan appa dan eomma pada dirinya. Namun senyuman itu mulai berubah menjadi senyuman getir saat mendapati Donghae dan Kyuhyun yang hanya menatap nya dalam diam dengan tatapan shock. Ekspresi itu sudah sangat Kibum duga sebelumnya.

"Aigoo~ eomma masih belum mempercayai nya. Eommaeomma benar-benar kaget dan tentu saja senang chagi-ya~"

Nyonya Park terlihat bingung harus berkata apa lagi. Ia beranjak dari sofa dan menghampiri Kibum. Pelukan hangat di berikan yeoja itu pada anak nya. Sungguh ia merasa bahagia sekaligus bangga pada anak nya ini. Tak pernah ia menyangka jika Kibum mempunyai prestasi yang bahkan tidak ia bayangkan sebelumnya. Beberapa kali ia mengecup kening dan pipi Kibum. Bocah itu pun tak menolak, eomma nya bebas melakukan apa saja pada dirinya.

"Kau hebat Kibummie. Appa bangga padamu" ucap tulus tuan Park yang juga tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Ia merasa tidak sia-sia bekerja keras untuk memberikan fasilitas sekolah yang sangat baik kepada keempat anak nya. Pertukaran pelajar di usia sedini Kibum, sungguh tak bisa ia bayangkan. Kibum hanya tersenyum mendengar seluruh pujian dari appa dan eomma untuk nya.

Selama beberapa saat tuan dan nyonya Park masih bergumam sendiri mengekspresikan kebanggaan dan kebahagian nya. Kibum hanya tersenyum menanggapi tak berniat membuka suara lagi.

Jung Soo ikut memperhatikan kegembiraan yang di tunjukan appa dan eomma nya. Senyuman tipis ia sunggingkan. Saat pertama kali membaca apa yang tertulis di kertas itu, ia pun terkejut. Bahkan sekarang ia masih tercengang mendengar penuturan Kibum yang mengatakan ada kemungkinan beasiswa setelah pertukaran pelajar selama setahun. Jung Soo menundukan kepalanya kembali membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

Dua bocah terlihat diam, duduk membeku di tempatnya. Masih tergambar jelas raut shock dalam wajah kedua nya. Donghae dan Kyuhyun hanya menatap Kibum yang masih dalam pelukan sang eomma dengan tatapan sulit di artikan.

Senang… Ya, tentu saja. Siapa yang tidak senang jika mendengar salah satu keluarga mereka mendapat sebuah prestasi langka seperti itu. Sekolah gratis di luar negri pula.

Namun…

Canada? Apa Kibum akan pergi?

Donghae memalingkan wajahnya sembari mengepalkan kedua tangan nya erat sedangkan Kyuhyun hanya bisa menundukan kepalanya sembari mengerjapkan matanya yang mulai berair.

Tuan Park seakan menyadari keheningan yang terjadi di antara ketiga anaknya yang lain. Ia mulai mengedarkan pandangan nya menatap Jung Soo, Donghae dan Kyuhyun secara bergantian.

"Hei~ Kalian bertiga kenapa hanya diam eoh?" tanya tuan Park akhirnya.

Jung Soo menatap sang appa dengan senyuman sebelum menjawab pertanyaan appa nya itu.

"Aku sudah mengetahui nya sebelum ini. Hyung juga bangga pada mu Bummie, chukae ne~"

Kibum menganggukan kepala nya saat Jung Soo menatapnya dengan lembut. Walau sudah berusaha menyembunyikan nya, Kibum masih bisa melihat pancaran sedih di mata Jung Soo.

"Canada? Haha BumBum akan ke Canada? Kau hebat sekali Bummie, hyung jadi iri—hahaa, selamat!"

Kibum mengalihkan tatapan nya pada Donghae yang mulai mengeluarkan suaranya yang terdengar bergetar. Tak bisa menyembunyikan kesedihan nya, Donghae segera memalingkan wajah kembali dari tatapan intens dongsaeng nya itu. Kibum hanya bisa tersenyum getir.

Tatapan Kibum teralih pada Kyuhyun yang masih terdiam sambil menundukan kepala nya. Tidak jelas apa yang terlihat dalam wajah adik kecil nya itu tapi Kibum bisa menduga nya. Tak kunjung mendapat respon, Kibum beranjak berdiri dan menghampiri Kyuhyun.

Dengan pelan bocah itu menarik adik yang hanya berjarak setahun darinya itu dalam sebuah pelukan. Kyuhyun hanya terdiam,menyembunyikan wajahnya di dada sang hyung. Kibum tersenyum saat merasakan kaus nya yang mulai basah. Dugaannya benar—Kyuhyun menangis.

Tuan dan nyonya Park saling melempar tatapan sebelum kedua nya memperhatikan anak mereka. Mereka mengerti apa yang di rasakan anak-anak. Mereka juga merasakannya. Pertukaran pelajar, itu berarti Kibum harus pergi ke Canada. Perpisahan itu bisa kembali terjadi. Selain itu ada perasaan khawatir yang menyelusup, Kibum masih kecil. Apa mereka tega membiarkan anak itu tinggal sendiri di tempat jauh tanpa pengawasan mereka langsung dalam waktu lama? Tapi jika Kibum setuju mereka pun pasti akan menyetujui nya. Tidak mungkin membuang kesempatan emas itu bukan?

"Kyunnie…"

Hanya bisikan itu yang bisa Kibum lontarkan tepat di samping telinga Kyuhyun yang masih menyembunyikan wajahnya. Tangan Kyuhyun mulai mencengkram kaus yang Kibum kenakan seakan tak ingin membiarkan hyung nya itu pergi. Kibum menghela napas nya kembali. Perlahan ia mengelus punggung Kyuhyun untuk menenangkan dan akhirnya isakan kecil mulai terdengar menggelitik pendengaran semua yang ada di ruangan itu. Isakan yang sedaritadi di tahan Kyuhyun tidak bisa ia sembunyikan.

Nyonya Park yang tidak tega melihat itu hendak menghampiri anak bungsunya itu namun lengan nya sudah di tahan oleh tuan Park. Sang appa hanya menggelengkan kepala seakan menyuruh istri nya untuk membiarkan itu.

Donghae yang juga sudah tidak tahan mendengar isakan Kyuhyun mulai beranjak berdiri. Dengan tergesa ia menghampiri Jung Soo dan langsung berhambur memeluk hyung nya itu. Jung Soo hanya bisa tersenyum dan membalas pelukan dari adik nya. Donghae juga menangis, ia menyadari hal itu. Jung Soo sendiri sudah menahan tangisan nya. Matanya yang merah dan berair menunjukan tangisan yang bisa pecah kapan saja. Tangan Jung Soo mulai mengelus kepala Donghae lembut.

"Bum—hyung… ungh-hiks… Bum hyung hiks a-kan per-gi?"

Kibum tak menjawab apa pun dari pertanyaan Kyuhyun. Ia terdiam seribu bahasa membuat Kyuhyun semakin mencengkram kaus kakak nya begitu erat.

"Hyung… Bum—hyung hiks"

Nyonya Park menyeka sudut matanya. Melihat tangisan anaknya membuat hatinya juga tersayat. Cairan bening itu sudah menggenangi pelupuk matanya. Tuan Park merangkul dan mengelus lengan istrinya untuk menenangkan. Ia mulai meneliti kertas yang masih ada di tangan nya kembali. Jujur ia juga tidak ingin anaknya pergi tapi… apa kesempatan seperti ini akan datang dua kali? Dia juga belum menanyakan pada Kibum bagaimana perasaan anak itu dan apa keinginan nya.

Setelah beberapa saat mengeluarkan rasa sesak di dalam hatinya. Kyuhyun mulai melepaskan pelukan nya. Kepalanya masih tertunduk. Tangan nya bergerak menghapus jejak air mata di wajahnya sendiri dengan kasar. Kibum memperhatikan setiap gerak gerik Kyuhyun yang berada tepat di hadapan nya. Ia mengelus kepala Kyuhyun lembut.

"Haahhh~" helaan napas itu terdengar dari bocah terkecil dalam keluarga tersebut. Ia mulai mendongakan kepalanya dan menatap wajah Kibum yang berada di hadapan nya. Sedikit demi sedikit Kyuhyun mulai menarik sudut bibirnya mengulas sebuah senyuman lebar.

"Waeyo? Kenapa hyung menyembunyikan hal ini pada ku? Harusnya hyung beritahu Kyu sejak hyung menerima surat itu~" protes Kyuhyun sembari membuat raut kesal—menggembungkan kedua pipinya.

Melihat perubahan drastis dari sang maknae membuat semua nya tercengang. Mereka menatap Kyuhyun dengan tatapan kaget namun juga bingung. Kibum tak berucap. Ia memilih memperhatikan raut senang yang mulai di tunjukan oleh adik nya itu. Sebuah ekspresi dan senyum palsu.

"Haha hyung memang yang paling hebat. Kau memang jenius Bum hyung. Kyu bangga punya hyung sepertimu~"

Kyuhyun memeluk Kibum sekilas lalu menunjukan cengiran lebar nya kembali, cengiran yang menurut Kibum terlalu di paksakan itu.

"Chukae Bum hyung~~" ucap Kyuhyun riang.

Kyuhyun terlihat salah tingkah dengan tatapan intens sang hyung. Ya, bocah itu memang berusaha terlihat ceria walau hatinya sangat sedih. Seperti yang di katakan eomma nya, Ia tidak mau menjadi anak yang egois. Ini adalah kesempatan emas yang di dapatkan hyung nya dan sudah seharusnya Kyuhyun ikut senang dengan berita ini bukan? Walaupun hati kecil nya berteriak memohon agar hyung nya tidak pergi tapi… sekali lagi ia tidak boleh egois!

Ctak!

"Aww! Ya hyung! Appoooo~"

Kibum tersenyum geli melihat Kyuhyun meringis kesakitan saat Kibum memberikan sebuah sentilan di kening adiknya. Sentilan pelan yang tidak mengenai luka nya itu membuat Kyuhyun merengut kesal.

Dengan gemas Kibum mencubit kedua pipi chubby Kyuhyun yang sudah meronta meminta di lepaskan.

"Bodoh" gumam Kibum pelan sambil terkikik geli.

"Bwaahh! Bum hyung jangan menyebalkan seperti Fishy hyung!" decak kesal Kyuhyun setelah menepis kedua tangan Kibum lalu mengelus pipinya sendiri.

"Ya bocah, kenapa jadi membawa nama ku?!"

"Heehh? Hae hyung sudah mengakui nama mu berubah jadi Fishy eoh?"

"Mwo? Aish Kyu!"

Donghae melemparkan death glare nya pada Kyuhyun yang hanya memeletkan lidahnya meledek. Donghae mengusap matanya kasar menyingkirkan buliran bening yang masih tergenang di sana saat bertemu tatap dengan Kibum. Sebisa mungkin ia tersenyum manis untuk adik nya itu.

Sontak tawa kecil keluar dari bibir appa, eomma dan Jung Soo mendengar perdebatan dan ledekan itu. Kibum mengacak rambut Kyuhyun gemas. Dongsaeng nya itu memang selalu bisa mencairkan suasana dan merubah situasi tegang menjadi lebih menyenangkan.

"Jadi…?"

Suara appa seketika merubah suasana yang lebih santai itu menjadi tegang kembali. Tuan Park menatap Kibum dengan intens. Menatap ke dalam manic mata yang mirip dengan milik istri nya itu. Mencari sesuatu di dalam sana.

"Apa Kibummie menerima pertukaran pelajaran ini? Apa Bummie sanggup hidup sendiri di tempat jauh itu sendiri?"

Tak ada respon dari Kibum membuat tuan Park melontarkan pertanyaan lagi dengan lebih jelas. Seketika sosok Kibum kembali menjadi pusat perhatian di ruangan itu. Semua menatap bocah itu dengan tatapan was-was. Kibum terdiam sejenak menyusun kata yang akan di ucapkan dan memantapkan hatinya.

Tanpa sadar, Kyuhyun meraih tangan Kibum dan menggenggam tangan itu dengan sangat erat. Kibum yang menyadari hal itu hanya tersenyum geli. Adik kecilnya itu hanya menatapnya sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Kibum beralih menatap Donghae dan Jung Soo yang sudah menatapnya dengan penasaran sekaligus penuh harap akan suatu hal.

Kibum tersenyum saat menatap sang eomma yang hanya diam memberikan bocah itu senyuman lembutnya. Kemudian barulah Kibum kembali menatap appa nya dengan tatapan pasti.

"Heum… Sepertinya aku sanggup hidup di sana. Mereka sudah menjamin semua fasilitas dan tidak hanya aku yang terpilih menjadi siswa pertukaran dari Korea. Tapi…"

Jawaban Kibum langsung membuat genggaman tangan Kyuhyun melonggar. Tangan nya terasa lemas dan bocah itu kembali menundukan kepalanya. Donghae pun mengalihkan tatapan nya dari Kibum kepada Jung Soo. Lalu kedua nya hanya bisa menghela napas pasrah.

Kibum akan pergi…..?

Perlahan Kibum melepaskan tangan Kyuhyun yang masih memegangi tangan nya. Tak ada penolakan dari Kyuhyun membuat Kibum hanya tersenyum tipis.

Kibum segera beranjak berdiri dan melangkah menuju sang appa yang masih setia menatap anak ketiga nya itu. Kibum berdiri di hadapan appa nya, terdiam sejenak sebelum mengulurkan tangan nya ke hadapan namja itu. Tuan Park sempat terheran namun ia bisa menebak maksud Kibum, ia mengembalikan kertas yang ada di tangan nya kepada Kibum.

Kibum tersenyum mendapatkan kertas itu kembali. Ia memperhatikan kertas itu sesaat sebelum mengedarkan pandangan nya kepada seluruh anggota keluarga nya yang masih terdiam menatapnya. Kibum menghela napas sebelum melakukan apa yang sudah ia pikirkan sejak tadi hingga akhirnya—

SREEKKK~~

Lima pasang mata yang masih memperhatikan gerak gerik Kibum langsung terbelalak tak percaya dengan apa yang di lakukan bocah 9 tahun itu. Mereka tercengang bahkan nafas mereka terasa tercekat saat….

Dengan santai nya Kibum merobek kertas berharga itu hingga kini kertas tersebut tersobek menjadi 2 bagian.

"Tapi aku yakin kalau aku tak akan sanggup hidup jauh dan terpisah dari keluarga ini lagi. Karena itu setelah memikirkan nya berulang kali, aku memutuskan tidak akan menerima kesempatan itu. Aku tidak mau tinggal jauh dari kalian lagi"

Kibum menundukan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah menahan malu. Pengungkapan dari perasaan di hati kecilnya membuatnya sedikit malu, apalagi sekarang suasana ruangan tersebut menjadi sangat tenang.

Baik tuan dan nyonya Park, Jung Soo, Donghae maupun Kyuhyun masih terdiam mencerna dengan baik apa yang baru saja di katakan oleh Kibum. Hingga akhirnya Kyuhyun menarik sudut bibirnya membuat sebuah senyuman lebar. Ia segera berdiri dan berhambur memeluk Kibum. Rasa sakit di pergelangan kaki kanan seakan menghilang dan membuat bocah itu bebas berlari memeluk hyung nya itu.

"Bum hyung~ hiks kau membuatku takut"

Tangisan itu kembali di lantunkan Kyuhyun walau ini bukan sebuah tangis kesedihan melainkan sebuah rasa haru dari kegembiraan. Jung Soo dan Donghae yang baru tersadar dari lamunan mereka pun beranjak dari sofa dan menghampiri Kibum.

"Aish anak ini! BumBum jangan membuatku kacau seperti ini~" Donghae ikut memeluk Kibum dengan erat. Kibum bisa melihat Donghae dan Kyuhyun yang sudah meneteskan air mata kembali. Ia pun hanya tersenyum lega lalu membalas pelukan kakak dan adiknya.

"Seharusnya kau mengatakan ini lebih awal, Bummie. Kau membuat hyung tidak bisa tidur dan hampir jantungan tadi!"

Kibum memejamkan matanya saat Jung Soo mengecup pucuk kepalanya. Setelahnya ia kembali menatap wajah Jung Soo yang sudah menatapnya dengan mata berair namun raut lega tergambar jelas.

"Mianhae hyung…" Jung Soo hanya menganggukan kepala nya membalas ucapan sesal dongsaeng nya itu.

"Jadi Bum hyung tidak akan pergi kan?"

Kyuhyun bertanya dengan penuh harap setelah ia dan Donghae melepaskan pelukan nya pada Kibum. Sebuah anggukan pasti dari Kibum menjawab pertanyaan maknae. Tak berkata apa pun lagi, Kyuhyun kembali memeluk Kibum dan meletakan kepalanya di bahu sang hyung "Gomawo hyung—gomawo"

Kibum mengelus kepala Kyuhyun pelan sebelum melepaskan pelukan Kyuhyun lalu mengalihkan tatapan nya pada kedua orang tua mereka yang sudah berdiri di hadapan nya dengan senyuman lembut.

"Appa… eomma… Mianhae. Bummie—"

Cup

Nyonya Park segera memeluk Kibum lalu mengecup kening dan kedua pipi anak ketiga nya. Kibum hanya terdiam, memejamkan mata merasakan kehangatan dari sentuhan sang eomma.

"Gwenchana. Apapun yang Bummie pilih dan lakukan, eomma akan selalu mendukung mu dan bangga pada mu, chagi" ucap nyonya Park lembut. Kibum sedikit terkesiap namun akhirnya ia tersenyum senang.

Kibum beralih menatap tuan Park saat merasakan sebuah tangan mengacak pelan helai rambutnya.

"Appa senang dengan keputusan mu, Bummie"

Senyuman itu semakin terkembang di wajah Kibum setelah mendengar ucapan sang appa. Bocah itu langsung berhambur memeluk appa dan eomma nya.

"Gomawo appa, eomma~"

Tuan dan nyonya Park tersenyum mendengar ucapan tulus Kibum. Sadar ataupun tidak ini pertama kali nya, Kibum memeluk mereka terlebih dahulu dengan sangat erat seperti ini.

Kebahagian terbesar dalam diri kedua orang tua itu adalah melihat senyuman senang dari seluruh anaknya. Apa pun akan di lakukan agar membuat anak nya senang dan bahagia. Terlebih dengan keharmonisan dalam keluarga sebagai sebuah bonus bahagia dalam sebuah keluarga.

"Fuh~ Bum hyung menolak ke luar negri. Padahal kalau Bum hyung menerima nya, Kyu sudah bertekad akan belajar keras agar mendapatkan kesempatan sama seperti Bum hyung, bisa sekolah di luar negri~"

Celetukan dari Kyuhyun membuat Kibum melepaskan pelukan nya dan mengalihkan tatapan pada sang maknae.

"Kyu mau aku pergi eoh? Aku bisa meminta kertas itu lagi pada Miss Angela" ucap Kibum dengan nada serius membuat Kyuhyun membulatkan matanya. Ia segera menggelengkan kepalanya cepat sambil mengibaskan tangan nya.

"Andwae! Hyung tidak boleh pergi~" Kibum tersenyum geli melihat penolakan dari Kyuhyun. Ia menoleh saat tangan lembut eomma merangkul di pundaknya.

"Kyu kan hanya ingin mencoba ikut test seperti Bum hyung. Pasti keren bisa dapat beasiswa seperti itu~"

"Kau tidak akan bisa mendapatkan nya, evil"

Kyuhyun mengalihkan tatapan nya pada Donghae dan menatap hyung nya itu kesal.

"Mwo? Hae hyung meremehkan ku? Oke, Kyu akan buktikan kalau Kyu bisa mendapatkan nya!"

"Andwae! Kau tidak boleh mengikuti test-test bodoh seperti itu"

"Waeyo? Hyung takut kalah dari ku kan?"

"Ish, siapa bilang? Aku juga bisa mendapatkan hal seperti itu dengan mudah. Tapi kau tetap tidak boleh ikut test seperti itu!"

"Fishy hyung menyebalkan~! Kenapa Kyu tidak boleh ikut?!"

"Intinya kau tidak boleh ikut. Tidak boleh, tidak boleh dan tidak boleh!"

Tuan dan nyonya Park hanya bisa menghela napas mendengar perdebatan antara Kyuhyun dan Donghae lagi. Tuan Park memilih duduk kembali di sofa dan memangku laptopnya kembali walau ia masih memperhatikan apa yang di lakukan keluarganya dengan senyuman geli di wajah tegasnya.

Jung Soo hanya diam di belakang Donghae dan Kyuhyun sambil menggelengkan kepalanya.

"Kyu tidak boleh ikut karena Hae hyung takut Kyu pergi kalau Kyu mendapatkan nya nanti" ucap Kibum menginterupsi perdebatan kakak dan adiknya.

Kyuhyun menatap Kibum sejenak sebelum menatap Donghae intens. Sedangkan Donghae sudah memalingkan wajahnya di tatap seperti itu oleh adiknya. Senyuman lebar terlukis di wajah manis Kyuhyun. Ia mendekati Donghae lalu menyikut pelan perut hyung nya itu.

"Hae hyung takut eoh? Hae hyung takut Kyu pergi? Jeongmal? Hyung pasti sangat menyayangi ku kan?" goda Kyuhyun berulang kali sambil menunjukan senyuman jahilnya. Ia tertawa saat melihat rona merah samar di pipi Donghae.

"Aigoo appa, eomma, Teuki hyung, Bum hyung~ lihat… Fishy hyung tidak bisa jauh dari Kyunnie~"

"Ya bocah! Kau mengejek ku? Aish!"

"Hwaaa~ Teuki hyuungg"

Kyuhyun segera berlari ke belakang Jung Soo dan berlindung di balik badan hyung tertua nya itu saat Donghae bersiap menangkapnya.

Sontak tawa menyelimuti ruangan tersebut. Appa, eomma, Jung Soo dan Kibum hanya tertawa melihat hal itu tanpa niat memisahkan kedua saudara yang masih dalam acara kejar mengejar. Dengan gesit Donghae menangkap Kyuhyun lalu menggelitiki perutnya- titik kelemahan bocah itu. Kyuhyun pun hanya tertawa sembari berusaha menyingkirkan tangan nya namun hasilnya nihil. Donghae pun mulai tertawa melihat wajah Kyuhyun yang sudah memerah karena terlalu banyak tertawa.

Rumah itu pun terlihat semakin hangat, dengan suara tawa saling bersahutan memecah keheningan malam. Membuat sang rembulan dan bintang menjadi saksi bisu kebahagian yang selalu di impikan keluarga dalam rumah tersebut.

.

.

-To be Continued-

.

.

Annyeooong~

Oke, ini updet nya memang lebih lemot dari biasanya. Minggu kemarin lye full jadwal /sok sibuk/ hahaa Tapi beneran sibuk sampe gak bisa edit and apdet deh /peace/

Nah! Semua nya selesaiiii~

Masalah Kibum terungkap dan tebakan kalian tepat hehe /plot pasaran gampang di tebak -_-"/

Dari info realfact yang lye dapatkan, itu yang sekolah santa monica memang sekolahan nya Kibummie waktu pindah ke Canada saat umur 10 tahun, benar gak? Kalo salah mianhae hahaa

Intinya cerita ini sudah selesai! Fin! Dan sebenarnya bisa aja ini langsung di end-in sekarang. Chap depan cuma acara seneng-seneng mereka aja hehe

So, Terimakasih banyak untuk semua readers yang sudah setia membaca bcmb ini hingga akhir… Semua yang sudah berkenan review, favorite dan follower cerita ini—sangat terimakasih!

Lye gak nyangka akan sebanyak ini respon yang di dapatkan bcmb~ /bow bareng TeukHaeBumKyu/

Sign,

LyELF

Special Thanks to :

ichaELFs, lianpangestu, TeukTeukTeukie, yolyol, tiaraputri, kyuro, , Kim Soo Jin, kkyu32, 92line, vha chandra, Blackyuline, ayu, AyuClouds69, cece, FitriMY, MissBabyKyu, cho-i-chahyun, TikaClouds2124, Ryeohyun, ay, Chocojjee, Aulia, ndah951231, IrumaAckleschia, gaemgyu0321, KyuChul, sfsclouds, bella0203, Kyuminhae, aninkyuelf, hikmajantapan, Anonymouss, Augesteca, Sachiko Yamaguchi, Arum Junnie, yayaELFsparkyu, qyukey, haekyu, kyuzi, Xoxory, arumfishy, riekyumidwife, lee minji elf, , gyu1315, heeeHyun, KimCha, bryan ryeohyun, Gyurievil, BluePrince14, K my name, Shinjoo24