By : lovgrafanime14

Main pair : Wonkyu

Genre : Romance, Angst, Comfort

Rated : T

#Kyuhyun pov

Hari sudah menjelang sore saat aku selesai mengajar kursus vokal di tempatku bekerja. Hyung ku menyuruh agar aku membelikan persediaan makanan kami. Jadi aku berjalan pergi menuju supermarket yang tak jauh dari tempat kerjaku.

Aku mengambil barang-barang sesuai dengan apa yang di pesan hyung. Dan segera membayarnya di kasir. Selesai semua, aku pun mulai berjalan pulang karena kebetulan apartement yang aku tempati dengan hyung ku dekat dari sini. Aku melewati sebuah jembatan yang mengalir sungai di bawahnya. Ini juga merupakan salah satu tempat favoritku. Bahkan aku selalu menyempatkan diri untuk berdiam disini beberapa menit atau mungkin berjam-jam. Entahlah, rasanya begitu menyenangkan melihat air sungai yang mengalir dan hanya mendapati dirimu sendirian disana. Rasanya..begitu tenang dan nyaman.

Dari kejauhan, terdengar seperti seorang muda mudi bercakap-cakap. Perlahan, suara itu semakin mendekat. Aku memicingkan mataku dan di ujung sana mulai terlihat(Sepertinya)sepasang kekasih saling berangkulan dan berbincang seru. Entah ini hanya perasaanku atau apa, aku seperti mengenali salah satu diantara mereka berdua. Lebih tepatnya yang namja. Saat mereka semakin dekat, aku terkesiap pelan. Ya, namja itu. Namja yang aku lihat tadi pagi. Namja yang mampu membuatku merasa menjadi orang paling beruntung di dunia(oke, ini memang berlebihan). Aku hanya terpaku saat mereka berdua melewatiku. Aku mulai tersenyum sendiri dan berbalik arah melihatnya yang semakin menjauh. Oke, mungkin ini memang sudah takdir Tuhan untukku dengan mengirimkan seseorang yang sangat aku impikan bisa menjadi salah satu( Ah, maksudku semuanya) objek fotoku. Ya, ini pasti hadiah dari Tuhan. Dengan pemikiran itu, aku melangkah pulang dengan hati yang bahagia dan tak sabar lagi untuk menanti hari esok.

#Siwon pov

"Nah, kalau begitu oppa pulang dulu ne." Aku mengecup lembut dahi yeojachinguku.

"Eum. Hati-hati oppa. See you soon." Ia melambaikan tanganku dan masuk ke dalam rumahnya.

Aku mulai berjalan pulang menuju rumahku. Sebaiknya aku lebih cepat pulang. Ini sudah menjelang sore dan sebentar lagi Appa akan pulang. Aku harus sampai di rumah lebih cepat dari Appa. Karena, waktu pulang Appaku sama dengan waktunya makan malam bagi keluargaku.

Aku sudah sampai di rumah 5 menit kemudian. Huft..di depan rumah tidak ada mercedez milik Appa, dan Itu berarti ia belum pulang.

"Aku pulang." Seruku. Di ruang keluarga terlihat Jiwon yang sedang sibuk berkutat dengan laptop miliknya. Merasakan aku berada di dekatnya ia menoleh, "Selamat datang oppa." dan kembali sibuk dengan laptopnya.

"Umma mana?" Tanyaku sambil meletakkan ranselku di sofa.

"Ada di dapur. Sepertinya sedang menyiapkan makan malam."

"Harusnya kau membantu umma. Masa kau biarkan umma sendirian memasak untuk kita eum?"

"Aku tahu. Tapi belum sempat aku membantu, umma sudah bilang, 'Jiwonnie nanti tanganmu teriris pisau bagaimana?' atau 'Tidak usah Jiwonnie, umma tidak ingin anak umma yang cantik ini jadi bau karena berada di dapur" Katanya mengikuti gaya bicara umma.

Aku tertawa geli melihatnya, "Oke oke, aku mengerti. Oh ya, ini." lalu menyerahkan sebuah bingkisan cokelat padanya. "Ini dari Stella. Ia tahu kau suka cokelat. Makanya saat ke swiss ia membelikan ini untukmu." Ucapku pelan.

Jiwon langsung mendelik kesal kearahku, reaksi yang sudah kuduga. "Aku tidak mau 'apapun' yang berkaitan dengan wanita itu." mengacuhkan bingkisan cokelat yang kuserahkan padanya.

Well, Jiwon memang tidak menyukai Stella, yeojachinguku. Entah apa alasannya. Ia bahkan tidak segan bersikap ketus dan dingin pada Stella bila mereka bertemu. Aku selalu membujuknya untuk berusaha menerima Stella. Tapi ia langsung bilang, "Demi apapun di dunia ini, aku tidak akan pernah menerimanya ataupun mencoba menerimanya walaupun oppa akan membenciku."

Dan aku tak bisa berbuat banyak mendengar ucapannya. Jiwon memang tidak melarangku untuk bersama Stella. Tapi aku tetap saja merasa tidak enak(?).

Akupun pergi ke dapur dan menemui umma yang sedang menata makan malam di meja makan. Ia menoleh kearahku dan tersenyum lembut, "Sudah pulang Siwonnie?"

"Eum." Jawabku singkat. Lalu menaruh cokelat dari Stella ke dalam kulkas.

"Cokelat dari siapa?" Tanya umma.

"Stella."

"Untuk Jiwonnie?" Umma sudah pasti tahu.

"Eum." Mendengar jawabanku, umma hanya menghela nafas pelan dan mengusap bahuku menenangkan.

"Kau tahu kan adikmu tidak pernah bermaksud buruk padamu?"

"Ne. Aku tahu umma.."

#Kyuhyun pov

"Aku pulang."

"Kau sudah pulang kyu?"

Dari arah dapur sudah berdiri hyung ku yang sedang memegang spatula. Aku merapihkan sepatuku dan berjalan kearahnya dan memberikan belanjaan ku. "Ini hyung."

"Gomawo kyu.." Katanya sambil mencubit sebelah pipiku.

"Appo..hentikan hae-hyung." Aku segera melepaskan dengan paksa cubitannya dan Hae-hyung hanya tertawa.

Pernahkah aku mengatakan pada kalian akan mengenalkan sahabatku yang sudah kuanggap Hyung kandung sendiri? Kenalkan, ini adalah Hae-hyung. Nama lengkapnya adalah Lee Donghae. Berbeda denganku yang bekerja. Ia adalah seorang anak kuliah. Tapi juga bekerja part time di sebuah toko hewan. Hae-hyung sudah bersahabat denganku sejak kecil. Ia juga kini diasuh oleh umma ku semenjak orang tuanya meninggal dikarenakan kecelakaan.

"Kau kelihatan senang hari ini. Apa ada kejadian bagus?" Tanya Hae-hyung sambil memasak untuk makan malam kami.

Aku yang sedang menemaninya memasak, mengangguk dengan semangat. "Ne."

"Ceritakan padaku." Hae-hyung tahu jika aku bersemangat seperti ini berarti ada yang ingin kuceritakan dengannya.

"Aku bertemu dengan Dewa hyung." Kataku dengan mimik misterius.

Hae-hyung langsung menoleh padaku. "Dewa?"

"Ya. Dewa. Dewaku hyung."

"Ah, apakah ini berhubungan dengan objek fotomu Kyu?"

"Tepat sekali. Kau tahu hyung..ia benar-benar berbeda dari semua pilihan yang ada di mataku. Dia..bersinar hyung."

"Kau kenal dengannya?" Hae-hyung meletakkan sepiring nasi goreng dihadapanku.

"Tidak..tapi mungkin akan segera tahu." Aku mengambil suapan pertama nasi gorengku dan melahapnya.

#Siwon pov

Pernahkah kau merasa ada seseorang yang mengikutimu disaat kau hanya sendirian? Well, itu yang kurasakan sekarang. Entahlah, aku merasa ada seseorang yang terus mengikutiku sejak aku keluar dari gerbang kampus. Saat ini aku memang tidak pulang dengan Stella atau teman-temanku yang lain. Bukannya aku merasa takut atau apa. Hei, aku ini sudah memegang sabuk hitam pada bela diri Taekwondo. Aku bisa saja menghajar orang yang mengikutiku jika ia memang berniat yang macam-macam padaku.

Sebelum aku sempat menoleh kebelakang, tiba-tiba saja terdengar suara khas dari jepretan(?) kamera. Aku menoleh dan mendapatkan seorang namja yang sedang mengarahkan kameranya kearahku. Kemudian ia melihat ke layar kamera dan tersenyum puas. Aku hanya bisa terdiam beberapa saat dan baru sadar kembali ketika ia memfotoku kedua kalinya. Ya ampun..apa yang sedang ia lakukan? Memfotoku?

"Kau, apa yau kau lakukan?" Akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulutku.

Ia hanya mendongak kearahku sambil tersenyum cerah, "Tentu saja memfotomu."

"Apa maksud-"

"Ah, ternyata sudah sore. Hae-hyung pasti menungguku." Ia tiba-tiba saja berbalik dan pergi meninggalkanku sendiri disana.

What the-setelah ia dengan seenaknya saja memfotoku(Tanpa izin pula)tiba-tiba saja ia pergi begitu saja?

Apa-apaan..

Apa-apaan itu?

Satu kata yang hanya bisa kupikirkan.

Ini benar-benar hari yang aneh.

#Kyuhyun pov

My God! Aku dapat fotonya! Aku dapat fotonya lagi! Thanks God!

Aku terus berseru riang tak mempedulikan orang-orang yang menatap aneh padaku. Sekarang aku hanya ingin duduk di depan komputerku dan segera mengedit foto yang baru kudapat beberapa menit yang lalu. Oh, aku benar-benar tidak sabar.

Sesampainya di apartement, aku buru-buru masuk ke kamarku mengabaikan seruan Hae-hyung yang memanggilku. Dengan tak sabar, aku menyalakan komputerku dan langsung membuka photoshop untuk mengedit hasil fotoku.

Rasanya benar-benar menyenangkan saat kau harus mengeluarkan semua kemampuanmu untuk sebuah foto. Dan itu membuat semua foto yang kau hasilkan terlihat sangat berharga di matamu. Bukankah aku benar?

Suara khas dari mesin print yang sedang mencetak foto membuatku semakin excited. Aku mengambil selembar foto yang sudah selesai dicetak itu dan menempelkannya di dinding kamarku yang sudah penuh dengan foto-foto sebelumnya. Aku tersenyum sangat puas dengan hasil karyaku.

Tanpa kusadari Hae-hyung sudah berdiri disampingku dan ikut memperhatikan foto 'Dewa' ku.

"Itukah orangnya Kyu?" Tanyanya. Aku mengangguk sebagai jawabannya.

Hae-hyung kembali memperhatikan foto itu, "Kau sangat menyukainya?"

"Tentu saja aku sangat menyukainya. Ini salah satu foto terhebat yang pernah aku dapatkan."

"Maksudku, apakah..kau menyukainya dalam kehidupan nyatamu Kyu. Bukan dalam pandanganmu secara aspek photography."

Kini aku menoleh padanya, "Maksudmu Hyung?"

Hae-hyung menggeleng pelan. "Tidak. Bukan apa-apa. Lupakan saja ucapanku tadi. Oh ya, aku sudah menyiapkan makan malam. Aku tunggu di meja makan." Dan meninggalkanku begitu saja. Aku hanya menatap pintu kamar yang sudah tertutup olehnya. Apa maksud Hae-hyung tadi? Menyukainya(maksudnya orang yang difoto Kyu)dalam kehidupanku nyataku?

Memutuskan untuk tidak ambil pusing, akupun keluar kamar menyusul Hae-hyung untuk makan malam.

-TBC-

Chapter 2 is coming!apakah ada yang menunggu-nunggu(readers: gak ada tuh-Author pundung di pojokan bareng Kyu#plak!)nah, kali ini readers yang menanyakan siapa pacar siwon dan sahabat kyuhyun udah terjawabkan^-^Author tetep setia menunggu review dari kalian lho..jangan lupa yaa:)