Chapter 2

Hallo, perkenalkan namaku Ziidiie..

Aku Author pemula banget, saking gugupnya waktu nulis fanfic perdana aku jadi lupa perkenalan di Chapter 1.. :(

Salam kenal dan mohon bimbingannya..Arigatou.. :)

Happy reading..

Konoha, Sabtu 22.26 malam

"Sasuke kemana ya?" Suigetsu Hozuki dan Karin kini sedang bingung menatap sekitar, masalahnya Sasuke yang akan dijemputnya tidak ada dimanapun.

"Ini gara-gara kau memaksa ikut Karin" kata Suigetsu.

"Aku kan ingin ketemu Sasuke" balas Karin tidak mau kalah.

Mereka berjalan mencari keberadaan Sasuke dan sesekali meneriakkan namanya, Sampai kaki Karin menginjak sesuatu.

"Dompet?" Karin membuka dompet itu dan ternyata itu kepunyaan Sasuke.

"Sui, kemari" teriak Karin, Suigetsu pun dengan cepat menuju kearah Karin.

"Ini punya Sasuke" katanya.

Firasat buruk pun mulai memenuhi benak Karin ditambah dengan kosongnya dompet Sasuke, hanya ada tanda pengenal.

"Sasuke tidak pernah ceroboh seperti ini" kata Karin.

"Kau benar, Sasuke tidak pernah membiarkan dompetnya kosong tanpa uang Cash" Ucap Suigetsu.

BLETAK

"Aww!" Ringis Suigetsu. Kepalanya langsung benjol karena jitakan Karin.

"Baka Sui, yang kau perhatikan hanya uangnya" Karin benar-benar kesal disaat seperti ini bisa-bisanya Suigetsu becanda.

Dengan cepat Karin men-dial nomor Sasuke tetapi tidak aktif.

"Ini gawat, kita harus memberitahu yang lain atau keluarganya" Dia kembali masuk kemobilnya dan memacunya menuju Cafe.

.

.

.

"Aku senang bisa bicara bersama anda tuan Hyuuga" Kata Fugaku sambil menyesap teh yang dihidangkan. disebelahnya duduk Uchiha Mikoto yang duduk dengan manis.

"Begitu juga saya tuan Uchiha, dan saya harap kedua anak itu juga sama seperti kita" kekeh Hiashi.

"Ah, kau benar. Bagaimana kalau kita pergi melihat mereka" ajak Fugaku.

"Ide bagus" sahut Hiashi.

Mereka bertiga pun berjalan menuju taman keluarga Hyuuga. Ditengah jalan Fugaku dan Hiashi tidak henti-hentinya membicarakan bisnis mereka, dan Mikoto hanya diam. Entah kenapa hatinya tidak nyaman dan merasakan firasat buruk tentang Sasuke. Ikatan batin antara Ibu dan anak, eh.

Benar saja saat mereka tiba yang ada hanya Hinata yang duduk sambil memberi makan ikan.

"Dimana Sasuke, Hinata?" tanya Fugaku.

"Pa-paman, ano i-itu katanya Sa-sasuke-Kun dia sa-sakit perut jadi pulang du-duluan" gagap Hinata dengan wajah merah padam sambil meremas roknya, dia terus menunduk. Hiashi menatap anaknya, dia tahu betul kebiasaan Hinata saat berbohong yaitu tidak berani menatap lawan bicaranya dan wajahnya merah menahan gugup.

"Jangan bohong Hinata, lihat ayah" Kata Hiashi tegas.

"A-aku" Hinata semakin gugup, berbohong adalah kelemahannya karena dia tidak bisa melakukannya dengan baik. Akhirnya Hinata hanya menunduk.

"Dasar anak itu!" Fugaku hampir meledak karena kelakuan Sasuke, Mikoto mengelus punggung suaminya agar bisa menenangkannya.

Dia harus tenang karena jika dia seperti Fugaku hanya akan menambah masalah. Mikoto semakin gelisah, kemana Sasuke pergi pikirnya. Jangan sampai dia kehilangan anaknya untuk kedua kalinya.

.

,

.

"Naik naik kepuncak gunung tinggi tinggi sekali" Nyanyian terus terdengar dari dalam mobil dengan terbuka dibagian belakangnya disepanjang jalan dari Konoha menuju Iwagakure.

"Kau tidak lelah atau mengantuk, Konohamaru?" tanya laki-laki besar disebelah yang bernama Jiraiya.

"Tentu tidak, Tou-chan" Ujar si anak. "Sudah lama aku tidak ke Konoha" katanya kemudian.

Tapi tiba-tiba tatapannya menjadi sendu.

Melihat hal itu Jiraiya langsung tahu apa yang dipikirkan anak disampingnya. Jiraiya tersenyum kecut kemudian mengacak acak rambut Konohamaru.

"Berhenti mengacak rambutku" Sepertinya dia benci diperlakukan seperti anak-anak walaupun dia masih terbilang anak-anak.

"Baiklah, tapi pakai syalmu disini dingin, kalau kau sakit Kaachan pasti akan membunuhku" Kata ayahnya. Si anak pun memakai syal berwarna birunya yang sejak tadi tergeletak disamping tubuhnya.

.

.

.

Otogakure, Minggu 08.00 pagi

"Tadaima" Jiraiya memasuki rumah bersama Konohamaru.

TAP TAP

BUAGH

"Aww sakit, apa salahku Tsunade?" tanyanya sambil memegang pipinya yang memar.

"Dasar Jiraiya bodoh, kenapa kau bawa Konohamaru ikut denganmu!" teriak wanita bernama Tsunade itu.

"Dia yang memaksaku" lirihnya. Mata coklat madunya berbalik menatap Konohamaru yang berusaha kabur duluan.

"Konohamaru mulai sekarang jangan pergi tanpa seizinku, mengerti!" perintah Tsunade penuh penekanan disetiap katanya.

Konohamaru membalikkan badannya dan bergaya memberi hormat.

"Ha'i Kaachan" katanya dan langsung lari terbirit-birit kelantai atas.

.

.

.

DRAP DRAP

Konohamaru terus berlari dari lantai bawah hingga atas menuju kamarnya.

"Hei jangan berlarian dikoridor!" kata seseorang dari dalam kamar bercat hijau yang dilewati Konohamaru.

"Cerewet!" Katanya, belum dia masuk kekamar terdengar suara pintu dibanting dengan keras. Terlihat sosok gadis berambut dengan warna tidak lazim yaitu Pink dari balik pintu.

"Beraninya kau! Kemari kau!" Dengan cepat dia berhasil menarik syal biru yang dipakai Konohamaru. Dengan ketakutan Konohamaru berusaha melepaskan syalnya, tapi terlambat sepasang lengan mengamit kedua lengannya dari belakang.

"L-Lepaskan aku Sakura-Neechan" Ketakutan terpancar dari wajahnya.

"Hoho, mau dilepaskan ya?" Gadis bernama Sakura itu menyeringai. "Baiklah" Sakura melepaskan Lengannya dari Konohamaru.

"Fiuuhh, syukurlah" Konohamaru menghembuskan nafas lega. Belum sempat Konohamaru pergi menjauh pipinya sudah ditarik oleh Sakura.

"Hehashan hahu!(Lepaskan aku!)" Jeritnya kesakitan.

"Hoho, adikku yang manis ini minta dilepaskan ya?" Kata Sakura dengan suara dibuat-buat manja. "Asal kau berjanji tidak berlari dilorong lagi" Konohamaru menganggukkan kepalanya lemah.

Sakura pun melepaskan Konohamaru, dan secepat kilat dia masuk kekamarnya meninggalkan Sakura yang masih berdiri. Tiba-tiba kepala Konohamaru menyembul dari pintu.

"Dasar monster Pinky" ejek Konohamaru sambil menjulurkan lidahnya. Perempatan siku-siku tercetak jelas didahi lebar Sakura dan tangannya mulai mengepal, melihat itu Konohamaru langsung menutup pintunya. Sakura hampir mendobrak pintu kamar seandainya suara Tsunade tidak menginterupsinya.

"Sakura kemari bantu Kaasan!" teriak Tsunade dari bawah.

"Aarrgh, aku datang" geram Sakura.

.

.

.

Sakura POV

"Ada apa Kaasan?" tanyaku basa basi padahal aku sudah tahu kalau Kaasan memanggilku karena membantunya mengangkut barang, aku terdengar seperti kuli saja.

"Periksa kotak-kotaknya apa masih ada sayur yang tersisa dibelakang sana" tunjuknya kearah mobil yang terparkir dihalaman. Seenaknya dia menyuruhku, sedangkan dia bersantai atau aerobik rutin bersama ibu-ibu, mentang-mentang ini hari minggu. Dengan malas ku langkahkan kakiku menuju bagian belakang mobil.

"Ng.."

Tunggu sebentar, aku mendengar sesuatu.

"Ugh"

Tuh kan aku tidak salah dengar tapi tidak ad siapa-siapa disini, kecuali ada sesuatu yang tidak kasat mata disini.

Berbekal latihan beladiri,latihan otot dan angkat beban bersama Kaasan tiap minggu, ku beranikan diri untuk mendekat.

Kulihat ada semacam buntut berwarna gelap disela-sela kotak dan bergerak-gerak. Apa mungkin ada ayam kesasar?, kalau beneran ayam mungkin bisa dibuat Chicken Katsu buat makan malam neh, ngiler.

Ku tarik buntut itu dengan sekuat tenaga, satu, dua, ti..

Ooh, Ternyata yang keluar kepala manusia.

Loading...

5%

24%

50%

85%

99%

100%

HEHHHH...!

Kepala manusia...!

KYAAAA...!

To be continued

Aduhh,amburadul..

Saya ngetik dengan mata merem melek ditengah malam, jadinya ancurr n pndek abz..

Tpi semoga terhibur..

Read and Review..:)