Disclaimer: Harry Potter milik J.K. Rowling.
Pairing: Hermione Granger & Theodore Nott.
Rating: T
"Merlin, Hermione! Jangan biarkan Nott merusak hidupmu seperti ini."
Meniup-niup teh kental manis yang masih berasap, Hermione mengawasi Ginny yang berkacak pinggang di dekat daun jendela. Dilatarbelakangi naungan matahari terbenam, rambut merah mencolok Ginny tampak semakin menyala-nyala. Tak kalah dengan pijar kemarahan yang berdansa di sepasang bola mata keemasan yang bercahaya.
"Jika kau hengkang dari Kementerian Sihir, kau hanya membuat monster busuk itu semakin berpuas diri," bibir Ginny membentuk garis keras ketika helaan napas singkat terlepas dari mulut Hermione yang setengah mengatup.
"Ini bukan masalah puas atau tidak puas, Gin," sela Hermione, menyeruput pelan-pelan teh manis pekat yang sedikit berasap. Mendesah puas menikmati kehangatan cairan gula yang membanjiri tenggorokan, Hermione kembali menjawab apa adanya.
"Sebagai pejabat publik, aku dituntut untuk mempertanggung jawabkan semua tindakan. Aku tak mungkin bertahan di Kementerian Sihir setelah ide pernikahan campuran yang kugagas gagal total."
"Omong kosong! Nonsens!" Ginny mengumpat dengan semua kosakata kasar yang dihafal luar kepala. Untung saja saat itu ibundanya tercinta, Molly Weasley sedang sibuk memasukkan ayam-ayam peliharaan ke dalam kandang, sebab kalau tidak mulut Ginny pasti sudah dicuci ibunya dengan cobekan sambal.
"Peraturan antah berantah macam apa itu? Karier cerahmu sedang cemerlang-cemerlangnya, Hermione. Kesalahan satu dua biji pasti bisa ditoleransi," balas Ginny sengit, terus memaku Hermione dengan tatapan khas. Sirat tajam dan membujuk yang diharapkan bisa membuat Hermione merevisi niat undur diri dari Kementerian Sihir.
"Kau tak usah mempedulikan gonjang-ganjing di luar sana, Hermione. Kau jangan dengarkan omongan ngaco orang-orang yang tak tahu pokok masalah sebenarnya!" Ginny menyabet udara dengan kepalan tangan, geregetan luar biasa menyaksikan respon Hermione yang aman terkendali.
Mencermati bibir Ginny yang membentuk kerucut, Hermione meletakkan cangkir teh di tatakan. Terdiam sejenak, Hermione menelaah kembali semua pertimbangan yang diajukan teman terdekatnya itu.
Ditilik di atas kertas, semua perkataan Ginny memang berdasarkan fakta dan masuk di akal. Sebagai salah satu penyihir paling genius se-Inggris sekaligus pahlawan perang yang berjasa memaketkan Lord Voldemort ke neraka, Hermione tentu punya akses lebih untuk menyegel posisinya di Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir.
Ditambah dengan koneksi total dari Menteri Sihir Kingsley Shacklebolt, Hermione yang tercatat sebagai salah satu pemimpin termuda dalam sejarah Kementerian Sihir bisa dibilang tinggal duduk kalem di atas singgasana. Berpura-pura menganggap tragedi perceraiannya sebagai fenomena biasa. Tak ubahnya gulungan salju yang biasa memayungi Inggris di setiap musim dingin.
Sayangnya, dari segi moral, Hermione tak bisa berpura-pura menutupi telinga dan mata hatinya. Badai caci-maki serta ejekan bertubi-tubi yang datang dari sesama kolega maupun khalayak luas membuat Hermione mantap melepaskan jabatan bergengsinya di Kementerian Sihir.
Memang, semenjak berita perceraiannya dengan Theodore Nott dimuat di seluruh koran nasional, posisi empuk Hermione di Kementerian Sihir langsung meluncur ke ujung tanduk.
Komunitas darah murni, yang sudah lama menantikan kesempatan emas ini langsung meludahi Hermione dengan kalimat-kalimat provokatif yang dimuat di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.
Selain mempertanyakan kinerja dan kredibilitas Hermione karena tak mampu menjalankan gagasan yang dibuatnya sendiri, etnis ras murni menuding Hermione ngotot menggolkan Undang-Undang Perkawinan Campuran yang kontroversial demi memuluskan ambisi individual semata.
Dikipasi congor Rita Skeeter yang getol bercuap-cuap tanpa fakta, termasuk menyajikan propaganda hiperbola tentang penderitaan bekas tunangan Nott, Daphne Greengrass, kalangan non-darah murni ikut terhasut dan menuntut hal serupa. Mendesak pemimpin egois dan tak kompeten seperti Hermione untuk secepatnya angkat kaki dari Kementerian Sihir.
"Aku tak bisa tetap bertahan di Kementerian Sihir, Gin. Kingsley memang membujuk untuk tinggal tapi aku tak kuat lagi. Bagiku, ketenangan dan kesehatan batin lebih penting ketimbang karier mashyur tapi sarat hujatan," jawab Hermione panjang lebar, menuang teko teh ke cangkir bermotif bunga hortensia.
Mendesah terluka, Ginny melempar pantat ke bangku kayu cokelat gelap di seberang Hermione. Meskipun serabut benak menggerung memprotes, Ginny sadar tak bisa memaksakan kehendak pada Hermione. Biar bagaimanapun juga, Hermione adalah nahkoda dalam pelayaran hidupnya. Satu-satunya pihak pengambil keputusan yang tahu hal terbaik untuk dirinya sendiri.
"Sialan si Nott itu. Kalau saja aku ada di sana saat itu, langsung aku kutuk dia jadi codot," rutuk Ginny ganas. Sembari mengunyah kue plum buatan ibunya, mata tajam keemasan Ginny menerawang jauh, berimajinasi mentransfigurasi Nott menjadi seekor codot; kelelawar jelek pemakan buah yang hidup di negara beriklim tropis.
Mendengar komentar menyengat Ginny, Hermione nyaris tersedak teh manis yang belum tuntas terhirup. Untungnya, tepukan halus Charlie Weasley menyelamatkan Hermione dari ancaman muntah teh di atas taplak linen putih berbordir sederhana.
"Kau tak apa-apa, Hermione?" Charlie merogoh saku baju dan mengeluarkan saputangan abu-abu berbau rempah-rempah. Menjulurkan tangan, pemuda bermata biru jernih itu dengan hati-hati membersihkan sudut bibir Hermione dari lelehan teh.
Di bawah tatapan bengong Ginny yang rahang indahnya menganga sempurna, Charlie mengangsurkan segelas air putih. Berbisik lembut, penyihir tampan yang piawai menangani naga itu meminta Hermione untuk membersihkan kerongkongan dengan air mineral tersebut.
Mengucapkan terima kasih dengan suara kecil, Hermione menghabiskan segelas air putih yang disodorkan Charlie. Selama Hermione minum, Charlie terus membelai punggung dan leher Hermione dengan kasih sayang nyata. Tindakan mesra yang membuat mata cokelat keemasan Ginny dipenuhi ribuan tanda tanya.
"Sebaiknya kita hentikan debat kusir tentang lengser jabatan ini. Termasuk pembicaraan tentang Nott dan antek-anteknya," Charlie mengulas senyum ramah, tangan kanannya yang tak menggosok bahu Hermione menangkup jemari Hermione yang terkepal di atas meja. Melemaskan tinju kosong Hermione dengan usapan mesra jemari kokohnya yang banyak dihiasi bekas luka cakaran dan patukan.
"Ya, sebaiknya begitu," angguk Hermione, mengedarkan mata ke sekeliling ruang makan. Sama seperti Ginny yang ternganga-nganga, semua kepala yang berdiam di bilik bercat warna salamander itu memasang ekspresi melongo. Tampak terpana menyaksikan aksi intim yang dipertontonkan pria yang baru saja pulang dari penangkaran naga di Ukraina.
Ron, misalnya. Menggantung sendok di udara, penyihir kurus berhidung panjang itu menyipitkan mata biru langit hingga membentuk garis tipis. Sorot spekulasi berpendar di pupil mata yang sedikit berkedut.
Di samping Ron, Harry yang terbatuk-batuk kecil terantuk-antuk ke meja setelah punggung bidangnya dikemplang si kocak George yang bersemayam di kursi nyaman samping kanan.
"Baik-baik saja, Harry? Sudah tak keselek lagi?" tanya George iseng, terus menggebuk pundak Harry dengan kekuatan yang bisa membalikkan kapal tanker. Hanya cubitan pedas Ginny-lah yang membuat pemuda kocak bermata cokelat jenaka itu menghentikan usaha penyelamatan yang kebablasan.
"Memang sebaiknya kita mengubur semua diskusi tak jelas ini," Percy Weasley, anak ketiga keluarga Weasley yang sedari tadi asyik menyantap salad bayam mendadak berkomentar. Mengelap mulut dengan serbet kotak-kotak, pria necis yang baru-baru ini diangkat sebagai Asisten Menteri Sihir kembali bercuap-cuap dengan nada sangat resmi.
"Hermione sudah memilih babak baru dalam hidupnya dan kita harus menghormatinya. Sebagai teman dan saudara, kita cuma bisa mendukung sepenuhnya," koar Percy sok bijak, mengernyit sengit ketika George nyengir culun sembari berpura-pura pingsan, meneriakkan kata-kata yang terdengar seperti "Oh Tuhan, tumben si Perce berkata benar. Besok pasti tumbuh menara di kepala Ratu Inggris."
Menahan senyum melihat interaksi konyol antara Percy dengan George, Hermione menatap bayangan wajah yang terpantul di cairan teh. Meski saat ini kariernya tengah terjungkir ke roda terbawah, Hermione merasa bersyukur memiliki keluarga dan teman-teman yang setia mendukung dan menyokong.
Sebulan lalu, sewaktu taktik kejam Nott dan Daphne terungkap, Hermione langsung dibanjiri dukungan beraneka bentuk. Orangtuanya, termasuk Molly dan Arthur Weasley yang sudah dianggap sebagai orangtua kedua berduyun-duyun memberikan nasihat menguatkan. Petuah khas manusia dewasa yang setidaknya bisa mendongkrak ketegaran mental Hermione yang sempat merosot ke titik nadir.
Bertolak belakang dengan para manula yang menempuh trayek biasa (jalur berbusa-busa penuh nasihat), teman-teman Hermione yang berjiwa muda memilih langkah frontal untuk membalas dendam.
Sehari setelah kabar merebak, Harry, Ron dan Ginny yang sudah bersumpah bakal mengebiri Nott jika penyihir bermata hijau gelap itu berani menyakiti Hermione langsung menyingsingkan lengan baju. Bersiap-siap mengutuk Nott dengan lusinan jampi-jampi keren yang mereka pelajari.
Sayangnya, aksi ekstrem itu batal dilakukan sebab bos Harry dan Ron di Kementerian Sihir, Kingsley Shacklebolt mengancam bakal memecat mereka jika dua pahlawan perang itu nekat menodai reputasi Kementerian Sihir dengan aneka respon barbar.
Gagal menganiaya Nott dengan kutukan kelas berat, George dan Luna buru-buru mengambil alih penyerbuan. Dibantu Mantra Penyamar, George dan Luna intens mengirimkan surat-surat benci ke kediaman Nott dan Daphne, termasuk bingkisan maut Tanduk Erumpent, tanduk magis asal Afrika yang berdaya ledak tinggi. Tanduk mistis yang setidaknya sempat memaksa Daphne kabur tunggang-langgang seperti Hagrid kebakaran jenggot.
Si kaku Percy lain lagi. Meskipun tak begitu akrab, penyihir berkacamata gagang tanduk itu menyuarakan dukungan dengan mengklarifikasi beraneka ragam tudingan palsu yang dialamatkan pada Hermione. Penjernihan masalah yang sedikit banyak mengurangi jumlah surat kaleng bernada mengancam yang diterima Hermione.
Sedangkan Charlie...
Menengok lambat-lambat ke samping kiri, Hermione disambut oleh sorot biru bercahaya. Manik sewarna bunga forget-me-not, bunga musim semi favoritnya itu semakin berkilau saat bertatapan dengan iris cokelat miliknya yang redup redam.
Menyusuri setiap detail wajah Hermione dengan belaian mata, ujung bibir Charlie membentuk seulas senyuman tipis. Seringai hangat memuja yang secara otomatis melembutkan figur wajah yang jantan dan keras.
Sebagai seorang ahli naga yang harus berhadapan dengan reptil raksasa bernapas api, fitur Charlie memang jauh dari kata kesempurnaan maskulin yang flamboyan. Dengan karakter dasar yang gemar beraktivitas di luar ruangan, Charlie tak pernah karib dengan minyak wangi maupun busana rapi nan necis. Sehari-hari, bekas Kapten dan Seeker tim Quidditch Gryffindor itu terbiasa memakai kaus oblong, celana jins belel atau jubah katun sederhana.
Kendati tak berdandan menor ala pria metropolis seperti Theodore Nott dan Draco Malfoy, popularitas Charlie tak kalah dari dua penyihir tajir tersebut. Dari tahun ke tahun, jumlah pemuja Charlie semakin bertambah. Kian membludak setelah penyihir bersahaja itu disebut-sebut bakal merebut posisi Kepala Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk Gaib.
Dengan semua barisan pengagum, popularitas dan masa depan cerah, banyak pihak bertanya-tanya mengapa Charlie setia melajang dan belum mau menikah juga. Keengganan naik pelaminan yang sejak bertahun-tahun lalu sudah Hermione ketahui secara pasti penyebabnya.
"Babak baru? Memangnya apa rencanamu setelah pensiun dini dari Kementerian Sihir, Hermione?" Charlie bertanya dengan perhatian lembut, memutus Hermione dari alam lamunan yang mendiami pikiran.
Menyelipkan sehelai rambut ikal Hermione yang terjurai menyebar bagai ombak, jemari Charlie memijat dan membelai cuping telinga Hermione dengan sentuhan sehalus kupu-kupu bersayap beledu. Melihat Hermione sedikit mengalami kesulitan merangkai kata-kata, sudut bibir Charlie melambai ke atas, membentuk seringai menyenangkan.
"Aku berpikir untuk mengabdi di Hogwarts sebagai pengajar Transfigurasi," jawab Hermione pelan, mencoba tak memikirkan jari Charlie yang menari di lekuk telinga. Belaian halus yang membungkus saraf-saraf indra sentuhan dalam perasaan nyaman dan aman. Perasaan menenangkan yang benar-benar dibutuhkannya saat ini.
"Kerja di Hogwarts? Memangnya ada posisi lowong di sana?" sembur Ron dengan mulut penuh, membuat steik daging kerbau yang baru setengah terkunyah beterbangan dan menempel di rambut Percy yang tersisir rapi.
"Tentu ada, Ronald. Aku yang memberi tahu Hermione tentang posisi itu," ujar Luna samar-samar, mengaduk-aduk kopi penuh ampas dengan gerakan selamban kura-kura keracunan.
"Guru Transfigurasi yang lama tak bisa kembali ke wujud semula. Saat ini ia sedang menjalani proses perubahan wujud di Rumah Sakit Saint Mungo. Sayang sekali, padahal dia terlihat imut-imut saat jadi kuda nil bersayap," urai Luna melamun, terus mengocok buih kopi dengan teratur.
"Jadi pada intinya, aku dan Luna akan menjadi teman sekerja," Hermione berdeham, membuat beberapa kepala yang saling berpandangan heran kembali ke posisi semula.
"Betul," tukas Luna bersahabat, menatap Hermione dengan mata ungu keperakan yang menonjol. "Di sana juga ada Neville. Kau pasti betah, Hermione," kata Luna gembira, mengingatkan Hermione akan salah satu anggota Laskar Dumbledore, Neville Longbottom yang saat ini menduduki posisi guru Herbologi.
Membalas tatapan sayu Luna, Hermione mengucapkan terima kasih tanpa suara. Jika bukan karena informasi Luna yang bekerja sebagai guru Pemeliharaan Satwa Gaib, menggantikan si jenggotan Rubeus Hagrid yang hijrah ke Prancis pasca menikah dengan Kepala Sekolah Akademi Sihir Beauxbatons, Madame Olympe Maxime, Hermione mungkin masih bingung ke mana dirinya harus mencari nafkah pasca berhenti dari Kementerian Sihir.
Setidaknya, dengan mengajar di sekolah berasrama yang terletak di daratan Skotlandia itu, Hermione bisa bersembunyi dari hiruk-pikuk London yang melelahkan. Menjauh dari kenangan menyakitkan yang ditorehkan Theodore Nott padanya.
Theodore Nott...
Urat-urat di pelipis Hermione terasa berdenyut tatkala ingatan tentang Nott dan konspirasi keji tingkat tingginya terapung ke permukaan. Walau sudah tiga puluh hari berlalu, Hermione masih mengingat dengan jelas kehancuran yang dicecapnya di malam terkutuk itu.
Seusai mendeklarasikan ikrar perceraian, Hermione kembali ke Nott Manor untuk mengambil barang-barangnya yang tersimpan di sana, termasuk kucing muka gepeng, Crookshanks yang setia menemani selama ini.
Abai terhadap sorakan gembira lukisan hidup nenek moyang Nott, yang tampaknya sudah mengetahui permufakatan biadab itu, Hermione bergegas pergi ke kamar yang biasa ditempati bersama Nott.
Dengan bekas air mata masih terpeta jelas di wajah, Hermione merapikan semua benda peninggalan dalam waktu singkat. Setelah puas mengamat-amati kondisi kamar yang sudah ditiduri selama enam bulan terakhir, Hermione membidikkan tongkat sihir, mengubah dekorasi kamar ke wujud semula hanya dengan satu jentikan ringan.
Setelah memastikan tak ada satu hal pun yang bisa mengingatkan Nott akan dirinya, Hermione melangkah tegak menuju pintu depan Nott Manor yang terpentang lebar.
Di bawah tatapan sinis dan tepuk tangan menjijikkan lautan wajah lukisan hidup yang berderet di koridor depan, Hermione berkelebat menghilang. Meninggalkan kastil bergaya Palladian yang sempat menjadi istana cinta baginya. Istana yang ternyata hanya menghadirkan luka menganga dalam hatinya...
Ciuman menenangkan yang menyapu pucuk kepala membuat Hermione tersentak. Menatap Hermione lekat-lekat dari balik bulu mata yang lebat, Charlie merengkuh punggung Hermione dengan lengan berotot yang beriak padat. Membungkukkan muka, Charlie berbisik lembut di dekat lubang kuping Hermione.
"Lupakan dia, Hermione. Lupakan lelaki bodoh yang tak tahu arti mencintai dan dicintai itu," Charlie bergumam halus, mengecup pipi Hermione dengan hembusan napas hangat.
Sekali lagi, manuver mesra Charlie membuat ruang makan merangkap dapur sunyi senyap. Bahkan Luna yang biasa melamun dan melupakan keadaan sekeliling kini kembali menginjak bumi. Sepasang mata bola lavender perak Luna yang menonjol terus menatap dua insan yang duduk berdempetan dengan minat terang-terangan.
"Err... bagus itu. Hogwarts memang membutuhkan pengajar secerdas kau, Hermione," akhirnya Ginny-lah yang mematahkan cangkang keheningan ganjil yang berdering menyakitkan. Meminum teh manis amat kental banyak-banyak, Ginny menatap Hermione dari atas cangkir berukir, menghunuskan sorot bermakna Hermione-jelaskan-semuanya-padaku-usai-makan-malam -nanti.
"Betul, betul, betul. Apa jadinya Hogwarts tercinta kita kalau terus diajar guru kuda nil bersayap?" George ikut berkomentar, mata cokelat jelinya yang menyala-nyala hangat mengedip nakal sewaktu tangan Charlie terus bergerilya mesra di rambut lebat Hermione.
Charlie yang sadar gerakan intim tangannya dipelototi George dan Percy menyeringai tak peduli. Memainkan rambut tebal yang menjuntai panjang di antara jemari, Charlie menatap bahagia, memuaskan diri memandangi Hermione dalam-dalam. Mencermati profil gadis yang sudah menyihir dan mencuri hatinya.
Terkadang, manusia tak butuh alasan untuk mencintai seseorang...
Charlie sendiri tak mengetahui alasan pasti mengapa dirinya jatuh cinta setengah mati pada Hermione. Begitu terobsesi pada gadis yang lebih muda tujuh tahun darinya. Begitu menyayangi penyihir kecil yang di masa-masa awal perkenalan hanya dipandangnya sebagai adik perempuan keduanya.
Memang, sewaktu pertama kali bertemu dengan Hermione jelang tugas pertama Turnamen Triwizard, sembilan tahun lalu, tak ada perasaan khusus yang bersemi di hati Charlie. Hal yang wajar mengingat saat itu Hermione yang duduk di tahun keempat masih tergolong bocah ingusan.
Di tahun-tahun berikutnya, setiap kali bersua dengan Hermione yang sering menghabiskan masa liburan musim panas di The Burrow, Charlie masih menstempel Hermione sebagai adik perempuannya. Namun lama kelamaan, betapa pun kerasnya berusaha, ia tak bisa lagi memandang Hermione sebagai seorang saudara.
Pertentangan batin itu semakin menggila saat Charlie mengetahui Hermione berkelana ke seantero Inggris bersama adik laki-lakinya yang terkecil, Ron. Kendati Harry juga ikut dalam petualangan mencari Horcrux, jimat jiwa abadi Lord Voldemort, Charlie tetap tak bisa memadamkan api emosi yang membakar diri.
Bara kemarahan yang muncul saat dirinya membayangkan Hermione tidur di atap tenda yang sama dengan lelaki lain yang bukan dirinya...
Meski nurani mengatakan kalau emosi yang dirasakannya merupakan bentuk kecemburuan, Charlie tetap menyanggah habis-habisan. Penyangkalan serupa juga ditekankan Charlie saat dirinya melihat cara Hermione menatap Theodore Nott sewaktu sidang pengadilan Pelahap Maut digelar seusai Perang Besar Hogwarts.
Kala itu, melihat binar memuja yang menguar dari pupil bening Hermione, hati Charlie terasa melepuh seperti ditetesi air raksa. Walau dirinya berulang-ulang mengingatkan posisi Hermione di hatinya, Charlie tetap tak bisa membendung keinginan untuk mencabik-cabik Nott di depan juri Pengadilan Sihir Wizengamot.
Lelah terhanyut dalam dilema, Charlie memilih menjauhi Hermione yang dicap sebagai penyebab keresahan. Beralasan dirinya sibuk dan butuh konsentrasi prima selama menangani naga di Ukraina, Charlie tak pernah pulang ke rumah setiap kali liburan musim panas tiba.
Selama menetap di Ukraina, Charlie memang membenamkan diri dalam pekerjaan. Di negara pecahan Uni Soviet yang terletak di Eropa Timur itu, Charlie memfokuskan diri mempelajari dan mengontrol Zmeys, naga legendaris berkepala tiga yang memiliki tingkat kecerdikan di atas rata-rata.
Sayangnya, betapapun kuatnya Charlie berjuang melupakan Hermione, mantan Prefek Gryffindor itu tak bisa meraih hasil yang diinginkan. Setiap saat, Charlie selalu dihantui kenangan tentang wajah manis, tawa ceria penuh pesona dan tingkah-polah Hermione yang menggemaskan.
Berpikir bisa mengenyahkan bayangan Hermione dengan jalan mengencani wanita seumurannya, Charlie akhirnya menerima tawaran berpacaran yang diajukan seorang arkeolog cantik berkebangsaan Swedia, asisten riset setia yang selama beberapa tahun terakhir ini getol membuntuti.
Celakanya, usaha darurat tersebut juga berujung sia-sia. Setiap kali berkencan, Charlie tak pernah berhenti membandingkan pacar pirangnya dengan Hermione. Akhirnya, setelah setahun berpacaran, Charlie yang tak mau memberi harapan palsu memutuskan kekasih darah murninya. Pemutusan hubungan asmara yang untungnya bisa diterima dengan baik oleh kedua belah pihak.
Setelah resmi melajang, Charlie kembali menenggelamkan diri dalam pusaran membingungkan terkait perasaannya pada Hermione. Akhirnya, setelah sekian lama tak bisa menentukan, mengunduh dan mengidentifikasi emosi, titik terang menjumpai Charlie di hari kelahiran keponakan perempuannya, Dominique Weasley.
Sewaktu melihat Hermione dengan penuh kasih menggendong putri kedua Bill Weasley dengan penyihir Veela Prancis, Fleur Delacour Weasley, Charlie tak bisa lagi menipu diri sendiri. Charlie akhirnya mengerti kalau cintanya pada Hermione bukan cinta seorang kakak pada adiknya. Ia mencintai Hermione seperti seorang laki-laki mencintai perempuan.
Semenjak menyadari isi hati yang hakiki, Charlie tak lagi bersembunyi dari Hermione. Setiap kali rehat dari kesibukan, Charlie menyempatkan diri berjumpa dengan Hermione yang tengah merintis karier di Kementerian Sihir Inggris.
Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, belum sempat Charlie menuntaskan mimpi, Hermione dikabarkan bakal menikah dengan taipan berduit, Theodore Nott. Bajingan tengik yang dulu ditatap dengan penuh gelora cinta di Pengadilan Sihir Wizengamot.
Meski hatinya patah dan berdarah, Charlie tetap memberi doa restu terbaik untuk Hermione, termasuk menghadiri upacara pernikahan Hermione yang dihelat di ruang serbaguna Nott Corporation.
Selepas pemberkatan, Charlie segera kembali ke pondok kecil di Ukraina. Setiap hari, di pedalaman belantara, Charlie terus menguntai doa semoga kebahagiaan senantiasa mengiringi Hermione, malaikat kecilnya yang telah menjadi milik pria lain.
Terkadang, demi mendapatkan keinginan, manusia bisa melakukan berbagai kemungkinan...
Saat mendengar kabar pernikahan Hermione dengan Nott bubar jalan, tanpa membuang waktu Charlie langsung mengepak koper dan buru-buru pulang ke Inggris. Dan, di sinilah ia berdiam sekarang. Melantunkan kata-kata penuh kelembutan, rangkaian kalimat menenangkan yang diyakini bisa membasuh luka pujaan hatinya.
Keasyikan Charlie mengingat kembali napak tilas rasa cinta terpangkas ketika Ron bersendawa puas seperti habis menelan satu gentong acar kodok. Memicingkan mata biru dalam-dalam, Charlie berdecak takjub mengawasi tingkah adik kandungnya yang persis bayi raksasa.
"Tapi Hogwarts baru memulai tahun ajaran baru dua bulan lagi, Hermione. Itu artinya kau bakal menganggur enam puluh hari ke depan," Ron membuka mulut besar yang disesaki ikan haring asap, benar-benar keajaiban kalimatnya kali ini terdengar jelas. Mungkin pengalaman ngomong dengan mulut penuh selama bertahun-tahun membuat lidah tak bertulang Ron semakin lentur.
"Hermione akan jalan-jalan bersamaku. Dia mau melihat penangkaran naga dengan mata kepalanya sendiri," sela Charlie, mengagetkan Hermione yang masih memelototi etiket meja makan Ron yang memprihatinkan.
"Tapi, aku-" Hermione terdiam, tak tega menyangkal omongan Charlie saat sorot memohon terpancar jelas dari manik biru forget-me-not yang berpijar menggelora.
Menarik napas dalam-dalam, Hermione mengangguk, mengiyakan penjelasan Charlie tentang rencana liburan mereka. Sebenarnya, Hermione berencana menghabiskan masa kosong dengan berwisata ke Australia, negara eksotis yang pernah menjadi tempat perlindungan kedua orangtuanya selama pertempuran melawan Lord Voldemort.
Tapi, tatapan mengiba yang merajai mata hangat Charlie membuat Hermione tak sampai hati menolak keinginan penyihir kharismatik yang sempat menjadi bahu tempat bersandar dan menangis kala Nott mengkhianatinya.
Tak apa-apa, Hermione. Anggap saja ini kompensasi setelah semua penolakan yang pernah kau berikan pada Charlie, Hermione berbisik pada diri sendiri sembari terus memandangi paras cerah Charlie yang berseri-seri.
Memandangi wajah ceria seorang penyihir baik hati yang pernah melamarnya berkali-kali...
"Kapan kau akan melamar Daphne, Nott?"
Mengangkat tampang kurang tidur dengan gerakan perlahan, Nott memelototi Draco Malfoy dengan pandangan segalak ular sanca kelaparan. Malfoy yang pada dasarnya kurang peka terus melangkah sok sebelum mendudukkan pinggul dengan penuh gaya di tepi meja kerja yang penuh sesak.
"Kapan aku melamar atau menikahinya itu urusanku, Malfoy," Nott menjawab sekenanya, memicingkan mata kolam hijau pekat yang menyemburat galak tatkala rinai tawa meledak dari kerongkongan bekas teman sekolahnya.
"Itu bukan cuma urusanmu, Nott. Tapi, sudah menjadi hajat hidup orang banyak dan urusan sejuta umat," Malfoy berdecak mencela, menepuk-nepuk bahu sekutunya dengan tepukan sok bersahabat.
Menepis tangan Malfoy, Nott melepas belitan dasi hitam dengan gerakan kasar. Melempar dasi mahal ke sembarang arah, Nott membuka beberapa kancing atas kemeja sutra hitam, berharap bisa membebaskan dada dari kegelisahan yang melanda setiap kali sepak terjang memuakkan dan perilaku tidak patut calon istri barunya, Daphne Greengrass disebut-sebut.
Sepak terjang memuakkan...
Ya, sehari setelah warta perceraian dengan Hermione dimuat di media seluruh Inggris, Daphne langsung bergerak secepat Seeker kebelet pipis. Tanpa memedulikan dana yang diperlukan (tentu saja semua biaya pengeluaran mau tak mau harus ditanggung Nott), Daphne mengumumkan rencana pernikahan di seluruh media internasional.
Benar, catat itu! Seluruh media internasional, mulai dari ujung dunia sampai Ujung Kulon.
Tak cuma menyewa lapak depan semua media cetak, Daphne juga menyiarkan kabar pertunangan di berbagai saluran televisi papan atas. Seakan belum cukup, penyihir modis yang sangat memperhatikan penampilan itu kembali membuat rekening bank Nott susut saat meluncurkan dua program layar kaca yang berkisah tentang dirinya, dirinya dan dirinya. Acara membosankan bertajuk Aku yang Ajaib serta Me, MySelf and I yang muncul dua minggu berturut-turut tanpa jeda iklan di jam tayang utama.
Tak heran, berkat promosi besar-besaran itu, seluruh warga dunia sihir mengetahui bahwa Daphne Greengrass, si finalis kontes kecantikan Miss Teen Witches, akan segera menikah dengan duda lajang keren, Theodore Nott. Miliuner kelas kakap dan penyihir terpenting di kalangan atas yang baru saja bercerai dari istrinya; si pahlawan perang, Hermione Jean Granger.
Hermione Jean Granger...
Setiap kali nama Hermione bergentayangan di otak, Nott langsung teringat akan malam di mana skenario bengis kreasi otak liciknya terlaksana. Malam pesta ulang tahun yang ironisnya membuat Nott memahami hal penting yang selama ini diabaikannya.
Terkadang, manusia baru menyadari arti seseorang jika orang itu telah pergi meninggalkannya...
Meskipun berulang kali mengelak, Nott tak bisa menutupi fakta bahwa kepergian Hermione meninggalkan lubang mendalam di hatinya. Relung hampa yang semakin terbuka setiap kali memori tentang Hermione menari-nari di ceruk benak.
Nott masih ingat tatkala dirinya pulang ke rumahnya seusai perayaan yang berlangsung gegap gempita. Menolak tawaran Daphne untuk menggelar pesta seks maraton di hotel dengan alasan dirinya harus menyiapkan rapat penting esok hari, Nott kembali ke rumahnya. Bersiap-siap menghadapi hujan kemarahan yang disemburkan ayahnya yang minggat dari pesta tak lama setelah Hermione pergi.
Tak seperti dugaan, saat berjumpa di pintu utama, Mister Nott hanya memandang putranya dengan sorot iba. Tatapan miris yang menyatakan bahwa pria bodoh dan tolol seperti Theodore Nott patut dikasihani karena telah menggali lubang kuburnya sendiri.
Usai mengucapkan sapaan basa-basi, Nott beranjak meninggalkan ayahnya yang masih melotot dengan pandangan berduka. Setelah melewati koridor depan yang riuh-rendah (lukisan hidup nenek moyang Nott merayakan terdepaknya Hermione dengan menggelar pesta miras), Nott menuju kamarnya yang terletak di sayap timur kastil.
Sewaktu memasuki ruangan yang ditempati bersama Hermione, Nott menyadari kalau Hermione telah mengembalikan dekorasi kamar ke interior semula. Dekor suram berwarna hijau perak Slytherin yang di masa lalu sangat digandrunginya.
Melangkah jauh ke kamar, hati Nott semakin teriris-iris saat mengetahui Hermione telah menghapus jejak keberadaannya dengan sempurna.
Kemanapun ia melangkah, tak ada lagi tumpukan buku setebal batu bata yang dulu sering membuatnya terjungkal. Tak ada lagi harum vanila karamel yang biasa menyapa lubang hidung. Bahkan, tak ada lagi bulu kucing jingga yang selalu membuatnya bersin-bersin setiap kali berbaring di peraduan yang nyaman.
Kegelisahan Nott kian menebal tatkala ia merebahkan tubuh di ranjang. Meskipun badan dan otaknya sangat penat, ia tak bisa tidur nyenyak. Betapapun dahsyatnya berusaha, ia tak bisa memaksa mata untuk terpejam. Betapapun hebatnya berjuang, ia tidak bisa melarang matanya untuk tak terus menatap sisi ranjang sebelah kiri, tempat di mana Hermione biasa tidur sambil memeluknya erat-erat.
Malam itu, saat jarum jam berdetik ke angka dua, saat tangannya tanpa sadar membelai sisi kiri yang tak berpenghuni, Nott menyadari kalau penyakit insomnia yang pernah menghilang kini kambuh kembali. Sindrom susah tidur yang sempat menghilang saat Hermione masih ada di sisi.
Saat Hermione masih menyandang status sebagai istrinya...
"Bagaimana kalau kita pergi ke Monako? Ada bar eksklusif dan rumah judi bagus yang baru dibuka di sana."
Ajakan hura-hura Malfoy melentingkan Nott dari alam memori. Menggosok-gosok pelupuk mata yang kemerahan karena kurang istirahat, Nott menggeleng pelan. Menegangkan mulut, tanpa banyak cakap Nott kembali berkutat memandangi deretan grafik dan statistik yang tersaji.
"Ya Tuhan, Nott! Jangan kerja terus! Sudah sebulan ini kau bersembunyi di balik meja seperti ini. Tidak bosan apa?" Malfoy merampas berkas kerja yang tengah ditelisik Nott. Tak menghiraukan semburat galak dan repetan omelan Nott yang geram aktivitas kerjanya terusik, jemari pucat Malfoy yang dihiasi cincin emas bersegel meneliti lembaran perkamen yang dipenuhi deretan bilangan dan angka-angka rumit.
"Astaga! Lagi kejar setoran ya? Bukankah ini mega proyek untuk dua tahun ke depan?" Malfoy berdecak kagum, melempar kertas kerja Nott ke tempat semula. Mengamati dua lingkaran hitam yang terpahat jelas di bawah mata Nott, Malfoy menaikkan alis pirang pucat yang terukir rapi.
"Insomnia-mu kumat lagi ya? Padahal dulu kau bilang sudah tak terserang gangguan tidur lagi."
Menggoyangkan bahu asal-asalan, Nott menangkup wajah dengan tangan, segan berkontak mata dengan teman sepermainannya. Enggan menjawab pertanyaan yang bakal membongkar kerinduan memabukkan dan rahasia yang tersimpan di ceruk hati terdalam.
Ya, bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan pada Malfoy kalau Hermione-lah yang membuatnya terlepas dari rasa dingin kesendirian dan penyakit yang sudah menjangkiti semenjak kematian ibunda tercintanya?
Bagaimana mungkin ia bisa menjabarkan pada Malfoy kalau dirinya merindukan pelukan dan kecupan yang biasa diberikan Hermione sebelum dan sesudah tidur? Merindukan sepotong perhatian tulus yang ternyata berperan besar di balik mimpi-mimpi indah yang dialami selama ini?
Bagaimana mungkin ia mampu menjelaskan pada Malfoy kalau ia merindukan hal sekecil apapun yang bisa mengingatkannya akan Hermione?
Bagaimana mungkin ia bisa mengisahkan pada Malfoy kalau setiap malam ia merindukan wangi tubuh Hermione yang semanis karamel? Merindukan tawa renyah yang membahana dan dengusan hidung penuh bintik yang menggemaskan?
Hell, ia bahkan merindukan bulu ekor Crookshanks yang sering menggelitiki setiap bangun pagi. Merindukan dengkuran manja kucing berkaki bengkok yang sering tidur berguling-guling di atas perutnya itu. Merindukan kucing bermuka penyek yang sering meninggalkan jejak bulu jingga di lusinan jubah hitam dan jas mahal.
Tapi, sedalam apapun ia merindukan hal-hal familier yang kini tercerabut dari hidup, ia tak bisa berbuat apapun. Tak ada yang bisa diajaknya bertukar pikiran saat ini. Tak juga ayahnya, yang menolak berbicara empat mata lagi dengannya semenjak palu perceraian diketuk Pengadilan Sihir Wizengamot.
"Kalau kau tak bisa tidur nyenyak, kenapa tak cari kegiatan lain yang bisa membuatmu lelah seketika? Sudah sebulan ini kau tak pernah berpesta atau menginjakkan kaki di klub malam. Apa kau tak kasihan pada Daphne yang harus foya-foya sendirian?" Malfoy bertanya menyelidik, sorot investigasi merayapi sekeliling iris abu-abu perak pucat yang berpijar penasaran.
Mencibir masam, Nott bangkit dari kursi, berjalan menuju jendela besar yang terletak di tengah ruangan kantornya yang super-luas. Berdiri membelakangi Malfoy yang masih bergumam tak sabar, Nott memandangi lanskap gedung bertingkat dengan pandangan kosong.
Meletakkan tangan di kaca, Nott menghembuskan napas lelah. Pandangan hampanya menerawang, memikirkan jarum jam hidup yang berdetak tak teratur.
Sebulan ini, sejak insomnia menyerbu kembali, Nott memilih menghabiskan hari-hari di balik meja kerja. Dengan bekerja banting tulang, ia berharap bisa menyembuhkan penyakit gangguan tidur sekaligus melupakan bayangan Hermione yang menghantui.
Malangnya, hasilnya tak berjalan seperti yang diimpikan. Semakin keras ia berusaha, semakin letih tubuhnya, kerinduan akan sosok Hermione semakin membuncah.
Terkadang, di sela-sela kesibukan bernegoisasi, Nott melirik pintu kantor yang tertutup rapat. Berharap Hermione muncul dan membawa bekal makanan untuknya, seperti yang biasa dilakukan mantan istrinya itu selama usia perkawinan mereka.
"Ketimbang menggeluti kertas kerja dan rancangan tender membosankan seperti ini, kenapa kau tak menggauli Daphne? Bercinta gila-gilaan sampai lelah dan puas? Akhir-akhir ini kuperhatikan hubungan kalian semakin renggang," Malfoy menggerutu hilang sabar, mengebor punggung sayu Nott dengan tatapan tajam menakutkan.
Menahan dengusan, Nott terus membisu seribu bahasa. Seperti pertanyaan usil sebelumnya, ia tak ingin menjawab pertanyaan Malfoy barusan.
Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan pada Malfoy kalau dirinya sudah tak peduli lagi pada Daphne? Tak berminat lagi pada kenikmatan erotis menyegarkan, kesenangan gelap atau hal seremeh apapun yang dilakukan teman sejak kecilnya?
Bagaimana mungkin ia bisa menceritakan kepada Malfoy kalau ia sudah kehilangan selera pada potensi seksual Daphne semenjak malam pesta ulang tahunnya? Semenjak malam terkutuk di mana Hermione meninggalkan dirinya?
Bagaimana mungkin ia bisa mengemukakan pada Malfoy kalau ia tak pernah lagi menerima ajakan kencan yang dilayangkan Daphne? Penolakan kenikmatan erotis yang harus ditebus dengan harga mahal, baik dalam arti kiasan maupun harfiah.
Setiap kali rayuan kencan yang berujung seks hewan kasar dan liar ditepis, Daphne selalu menuntut ganti rugi materiil. Berkilah sebagai obat pelipur lara, anak kelab bersuara serak-serak basah itu mendesak Nott untuk mendanai semua keperluan, termasuk membiayai agenda pesta hura-hura setiap malam.
Tak sekali dua kali Nott harus menjebol dompet untuk melunasi nota belanja dan lembar tagihan kartu kredit Daphne yang membengkak. Belitan hutang setinggi langit yang timbul sebagai buah dari tabiat boros dan kegemaran belanja Daphne yang melewati ambang batas.
Meskipun Daphne terang-terangan memeras secara materi, Nott tetap tak ambil pusing. Nott lebih suka margin profit dan pundi-pundi uang menyusut ketimbang membiarkan Daphne menggerecoki hidupnya. Nott lebih senang aset korporat dan rekening bank-nya menguap ketimbang mengizinkan Daphne menjamah tubuhnya.
Pada awalnya, Nott sendiri sempat terheran-heran saat mengetahui ia tak lagi tertarik pada Daphne. Tak lagi berhasrat pada seorang wanita berpostur sempurna yang dulu sempat dianggap sebagai sang belahan jiwa.
Terkadang manusia bisa salah mengartikan kekaguman sebagai cinta...
Semakin dipikirkan, Nott semakin memahami bahwa apa yang dirasakannya pada Daphne bukanlah cinta tulus melainkan cuma kekaguman belaka. Semakin dalam ditelaah, ia kian mengerti kalau gairahnya pada Daphne hanya terbatas pada pemujaan fisik semata. Cuma berkutat pada aspek dangkal yang cepat pecah menghilang seperti gelembung sabun.
Sayangnya, seperti pepatah nasi sudah menjadi bubur, meskipun perasaan suka pada Daphne sudah mengendur, ia tak bisa mundur. Sesuai perkataan Malfoy, rencana pernikahannya dengan Daphne sudah diketahui seisi dunia. Jadi, mau tak mau, rela atau tidak rela, ia harus tetap menikahi Daphne.
Harus...
Meskipun hal itu akan membunuhnya secara perlahan-lahan...
"Tunggu. Jelaskan secara perlahan-lahan, Hermione."
Duduk bersila di atas ranjang lama yang mulai dimakan hama, Ginny menggeser Crookshanks yang bertengger di tumpukan bantal tepos. Acuh tak acuh pada desisan berang kucing berekor sikat botol itu, Ginny mendesak Hermione untuk mengambil posisi di samping kiri.
Memungut Crookshanks yang mengeong keras, Hermione dengan ogah-ogahan mematuhi perintah teman baiknya. Setelah Hermione duduk kaku di dekatnya, Ginny menembakkan tongkat sihir ke pintu. Merapalkan Mantra Pengunci dan Mantra Peredam Suara, mantra yang bertujuan membredel semua gangguan yang mungkin terjadi selama berlangsungnya proses interogasi.
Meletakkan tongkat sihir di nakas, alis Ginny melesat ke atas. Menampakkan isyarat agar Hermione segera mengklarifikasi pertanyaan tentang afeksi Charlie di sesi minum teh sore tadi.
Tindakan romantis ala seorang kekasih yang terus berlanjut sampai acara makan malam barusan. Segurat perhatian yang membuat Ginny tak henti bertanya-tanya dalam hati.
Mengelus bulu Crookshanks yang tegak lebat, Hermione melekatkan bibir rapat-rapat. Untuk beberapa saat, kedua sahabat dekat itu saling menemani dalam diam. Hanya helaan napas dan gerungan pelan Crookshanks yang mengisi keheningan. Sesekali, suara sayup-sayup Luna yang tengah mengajari jembalang kebun jurus-jurus Kung Fu dan karate merembes masuk ke ruangan berdinding kuning kusam tersebut.
Menatap Ginny yang balik memandang dengan intensitas jelas, Hermione menghembuskan napas panjang. Sejujurnya, Hermione malas mendiskusikan hubungannya dengan Charlie, mengingat ia tak memendam perasaan apapun pada si pria bermata penuh cahaya. Tapi, jika ia tak angkat bicara, Hermione yakin mereka akan terus duduk diam-diaman seperti ini sampai esok pagi.
"Sebenarnya, Charlie sudah tiga kali melamarku."
Pekik kaget Ginny terdengar mengguntur, membuat Crookshanks yang mendengkur kabur ke balik kasur. Meringkuk di balik bantal kapuk, mata kuning Crookshanks yang bulat besar menyorot seperti senter, memelototi Ginny dengan pandangan mencela.
"Benarkah itu, Hermione? Tiga kali? Wow! Kenapa kau tak pernah bilang padaku?" Ginny bertanya bertubi-tubi. Menggenggam tangan Hermione, wajah elok Ginny berbinar-binar bahagia. Tampak senang dengan prospek bakal mendapatkan kakak ipar seperti Hermione.
"Aku tak bilang padamu sebab aku sudah menolak lamaran itu, Gin," jawab Hermione ragu-ragu, sedikit meringis saat rona kegembiraan di paras Ginny berangsur-angsur memudar.
"Kenapa, Hermione? Charlie itu sempurna luar dalam. Dia punya pekerjaan bagus, masih bujangan dan tampan," Ginny berpromosi, menghabiskan waktu lima belas menit kemudian untuk mengobral semua kelebihan kakak nomor duanya.
"Charlie memang menarik, Gin. Tapi aku hanya menganggapnya sebagai kakak kandungku," jelas Hermione sabar, tak jemu mengulang kembali alasan yang dulu diutarakan pada Charlie dan Ron. Pada dua lelaki bersaudara yang pernah berbaik hati melamarnya.
"Tapi Charlie bukan saudara kandungmu, Hermione. Kalian tak punya ikatan darah," Ginny mendelik, mata semburat cahaya emasnya tak kalah gahar dari mata bulat Crookshanks yang masih mendesis-desis di pojok kasur.
"Atau jangan-jangan itu cuma alasan klise yang dibuat-buat? Jangan-jangan kau menolak Charlie karena masih mencintai si sinting Nott? Lelaki tengik yang oh-sialnya-jauh-lebih-kaya-dan-berharta-dari-Charlie?" tuduh Ginny kejam, menarik lepas tangan yang berada dalam genggaman Hermione.
Tudingan sepihak itu sempat membuat Hermione tersentak. Untung saja kesadaran bahwa dakwaan itu berasal dari kekesalan Ginny karena gagal menyatukan Charlie dengan dirinya membuat Hermione mampu menahan niat meneriakkan penyangkalan tepat di cuping kuping sobat kentalnya.
"Aku menolak Charlie karena aku tak punya perasaan khusus padanya. Aku hanya menyayanginya sebagai saudara. Dan untuk Nott, seperti yang kubilang sebulan lalu, perasaanku padanya sudah mati!" tandas Hermione tegas, tak berkedip saat Ginny menatap lurus-lurus.
Selama beberapa saat, Ginny mempelajari kejujuran Hermione melalui sepasang jendela hati yang dinaungi dua alis cokelat tua. Selang lima menit kemudian, Ginny menurunkan pandangan. Dengan berat hati mengakui kalau Hermione memang menyatakan hal sesungguhnya. Kebenaran yang terungkap dari koridor bola mata Hermione yang tak pandai berbohong.
"Tiga kali! Ya ampun, Charlie sudah tiga kali melamarmu," desah Ginny resah, menyambar boneka kain wol buluk yang tersimpan di atas ranjang.
Memilin-milin kepangan si boneka yang sering dimainkan saat balita, Ginny merenung dalam hati. Mereka-reka mengapa dirinya sampai luput mengetahui kejadian penting yang terjadi di antara dua orang yang paling dikasihinya.
Seakan mengetahui apa yang dipikirkan Ginny, tanpa diminta Hermione menjelaskan prosesi lamaran Charlie padanya. Menurut Hermione, pinangan pertama Charlie terjadi dua tahun lalu, tak lama setelah ia menolak pernyataan cinta Ron.
Permintaan menikah kedua terjadi sepuluh bulan lalu, atau tepatnya tiga bulan sebelum rencana pernikahannya dengan Nott terkuak. Yang terakhir, Charlie meminta Hermione untuk menjadi istrinya sebulan lalu, sehari setelah perceraiannya dengan Nott disahkan Pengadilan Sihir Wizengamot dan Kementerian Sihir Inggris.
Mengakhiri penjelasan dengan hembusan napas berat, Hermione menunggu respon lanjutan dari Ginny yang masih asyik mencabuti helaian benang wol di bonekanya. Akhirnya, beberapa menit kemudian, saat boneka berkepang yang malang sudah tak berbentuk lagi, Ginny seolah terbangun dari keheningan gelap mencekam dan belenggu pikiran bawah sadar.
Melempar boneka kumal ke sembarang tempat, Ginny menyambar tangan Hermione. Menyunggingkan senyum optimis, Ginny meremas jemari Hermione sembari berbisik, "Bagaimana kalau kau pacaran dulu dengan Charlie? Supaya perasaan antar saudara itu terhapus."
Saran Ginny membuat Hermione bergerak salah tingkah. Sebenarnya, di lamaran yang ketiga, Charlie juga pernah mengajukan usul senada. Ide pacaran temporer yang langsung ditepis mentah-mentah.
Bagi Hermione, yang berkaca dari pengalaman pahit dengan Nott, cinta itu suci dan sakral. Bukan perasaan yang bisa dipaksakan atau dijadikan proyek coba-coba. Selain itu, Hermione juga tak mau memberi harapan palsu pada Charlie. Hermione tak mau menyakiti hati Charlie jika sampai habis waktu yang dijanjikan dirinya tak merasakan perasaan sayang yang sama.
Keengganan Hermione tampaknya tergambar jelas di raut wajah sebab Ginny langsung membombardir Hermione dengan seabrek-abrek argumentasi logis yang masuk di akal.
Menurut Ginny, sebagai alumni Gryffindor yang terkenal pemberani, Hermione tak layak menyerah sebelum mencoba. Ginny juga berpendapat kecemasan Hermione tak beralasan sebab sebagai seorang adik, ia mengetahui secara pasti watak Charlie yang tegar dan lapang dada. Jadi, bisa dipastikan Charlie tak akan menyimpan dendam meskipun pada akhirnya Hermione tetap tak bisa mencintainya secara utuh.
"Ayolah, Hermionee, bukalah hati dan dirimu. Nott mungkin telah mengacaukan kariermu, tapi jangan biarkan ia membelenggu hatimu," Ginny mengakhiri bujukan dengan menahan napas penuh harap.
Tercenung beberapa lama, Hermione menimbang-nimbang alasan yang dilontarkan bekas adik kelasnya. Seperti yang dikatakan Ginny, mungkin tak ada salahnya ia mencoba dan membuka hati. Melepaskan diri dari perangkap sepi yang hadir sejak Nott mengkhianatinya. Rasa hampa yang ada sejak Nott menginjak-injak cinta suci yang diberikannya.
Menatap poster usang pemain tim Quidditch wanita, Holyhead Harpies yang tergantung di dinding kamar, pikiran Hermione terus berlomba memilah-milih aneka pro dan kontra. Selama Hermione berpikir, Ginny terus menyilangkan jari untuk mengharapkan keberuntungan.
Akhirnya, setelah beberapa jenak yang terasa seperti berabad-abad, Hermione mengangguk singkat. Anggukan sepakat yang disambut Ginny dengan rengkuhan hangat.
"Horee! Trims, Hermione. Aku yakin, Charlie pasti bisa membahagiakanmu," Ginny menguarkan tawa memikat ceria penuh pesona, bersorak girang dengan nada riang membujuk yang biasa. Meresapi suara penuh syukur Ginny, Hermione tersenyum kecil dan merapatkan pelukan.
"Hermione Jean Granger yang mencintaimu sudah mati, Theodore Nott."
Ingatan tentang sumpah yang mencuat selintas kian membulatkan tekad Hermione. Bagi Hermione, cintanya pada Nott mungkin sudah mati tapi hal itu tak berarti membuat hatinya ikut-ikutan mati.
Memejamkan mata, Hermione merapalkan janji di dalam hati. Ada atau tidak ada Nott, hatinya harus tetap bersemi. Ada atau tidak ada Nott, hatinya harus selalu cerah ceria. Secerah warna biru rumpun forget-me-not, bunga musim semi kesayangannya. Warna biru bunga yang selalu dilihatnya setiap kali menatap sepasang mata milik Charlie.
Mata milik pria baik hati yang telah melamarnya berkali-kali...
Mengucek mata letih berkali-kali, Nott dengan bersusah payah menekuri bundelan perkamen dan dokumen saham. Saat mata penatnya mengabur lelah, Nott mengempaskan tubuh ke belakang, memaksakan diri untuk terpejam. Bersabar menanti panggilan kantuk yang tak juga menghampiri malam ini.
Membuang napas dalam perlahan-lahan, Nott meresapi keheningan sunyi mencekam yang menyelubungi. Seperti malam-malam sebelumnya, dini hari itu Nott Manor sesunyi kuburan. Hanya denting lemah jam meja emas dan helaan napas lirih yang mewarnai ruangan besar merangkap ruang baca pribadi dan perpustakaan itu.
Perpustakaan...
Tempat di mana Hermione biasa membaca buku sambil menemaninya yang sibuk bekerja.
Membuka mata cepat-cepat seakan disundut api transparan, Nott memandangi tepian jendela besar, lokasi favorit Hermione untuk membaca. Dulu, setiap malam Hermione rutin merebahkan diri di birai jendela yang menghadap ke taman, tekun membaca buku sambil sesekali meliriknya yang berdiam di balik meja.
Tapi sekarang, seperti sisi kiri ranjang yang sunyi, birai jendela itu juga hampa. Tak ada lagi siluet tenang Hermione yang membaca dalam diam. Tak ada lagi aura kedamaian yang selalu hadir setiap kali Hermione berada di sekitarnya.
Hermione...
Mendesis lirih, Nott mengalihkan pandangan dari birai jendela besar yang kosong melompong. Menceramahi diri sendiri karena lagi-lagi teringat akan Hermione, mata Nott yang memerah karena kurang tidur menatap nyalang ruang kerja yang terang benderang. Ruang berbau tinta dan perkamen yang selama tiga bulan terakhir ini menjadi sarang persembunyian.
Bunyi lonceng emas yang berdentang empat kali memberitahu Nott bahwa malam ini pun ia bekerja melebihi ambang batas manusia normal.
Setelah seharian lembur di kantor, mengikuti lusinan rapat penting maupun bermacam-macam negosiasi bernilai jutaan Galleon, seusai jam kantor pun Nott masih berkeliaran sampai pagi di bilik kantor. Jika jenuh bersemedi di kantor yang sepi, Nott meneruskan pertapaan di ruang kerja Nott Manor yang maha-luas.
Terkadang, jika bosan memelototi deretan angka dan grafik, Nott menyambar sapu balap dan terbang melintasi langit malam. Namun, kebiasaan itu terpaksa ditanggalkan sebab setiap kali melayang di udara, Nott selalu teringat akan Hermione. Teringat akan memori di mana Hermione mengawasi dirinya berlatih Quidditch di malam hari dari balik balkon Menara Astronomi.
Mengumpat-umpat dalam hati karena lagi-lagi tak bisa melepaskan diri dari bayangan kenangan tentang Hermione, Nott meremas segulung perkamen tak terpakai. Di saat itulah mata hijau Nott tertumbuk pada koran Daily Prophet edisi lawas yang memuat berita pengunduran diri Hermione dari Kementerian Sihir Inggris.
Menelusuri foto bergerak-gerak Hermione dengan ujung jari, benak Nott melayang ke masa di mana dirinya pertama kali membaca laporan mengagetkan tersebut.
Saat itu, bukannya diliputi kegembiraan karena berhasil mewujudkan salah satu rencana, Nott malah dicekam perasaan bersalah karena telah merusak karier gemilang Hermione. Rasa berdosa yang jelas-jelas tak sesuai dengan hasil akhir yang dicanangkan saat menyusun siasat keji bersama Malfoy dan Daphne.
Malfoy dan Daphne...
Mengingat dua teman terdekatnya itu cuma menyalakan emosi dalam sanubari Nott. Seiring berlalunya waktu, sisi iblis dan watak asli dua penyihir yang sempat dianggap sebagai karib terdekat itu mulai terlihat jelas.
Malfoy misalnya, tak sekalipun pria pirang platina itu menaruh kepedulian pada kondisi fisiknya yang semakin ringkih dari hari ke hari. Bahkan, semenjak ajakan bersenang-senang selalu ditolak, Malfoy seringkali tertangkap basah menjelek-jelekkan dirinya. Tak sekali dua kali kuping Nott memerah panas saat menangkap cemoohan menyengat yang dilayangkan Malfoy.
Sedangkan Daphne...
Yah, mau tak mau Nott harus mengakui kalau peringatan ayahnya tentang sifat materialistis Daphne ada benarnya. Jika Malfoy membalas penolakan dengan hinaan, Daphne senantiasa meminta kompensasi materi setiap kali rayuan kencan mesum ditampik. Tuntutan ganti rugi yang membuat Nott semakin yakin kalau Daphne tak akan pernah bisa menjadi istri yang sepadan untuknya.
Istri yang sepadan...
Terkekeh geli, dengan malas-malasan Nott membolak-balik koran terbitan tiga bulan lalu itu. Sampai Lord Voldemort bangkit segar bugar dari kubur pun, Nott yakin Daphne, si nyawa dalam setiap pesta tak akan bisa menjadi istri yang layak untuknya.
Oh ya, dari unsur bibit, bebet dan bobot, Daphne memang setara dengannya. Tapi dari aspek lain, Nott tak yakin Daphne bisa menyaingi kecakapan Hermione dalam urusan rumah tangga. Keahlian khas Hermione yang dulu sempat dipandang sebagai talenta biasa yang tak ada harganya.
Merenggangkan tangan yang kram, benak Nott kembali dipenuhi perbandingan antara Daphne dengan Hermione. Daphne memang luar biasa memukau dan berkilau, tapi sama sekali tak punya empati. Nott yakin, jika melihatnya jatuh kelelahan seperti ini, bangsawan cantik paling digemari dan dipuja oleh semua itu pasti melengos tak peduli atau kembali membenamkan wajah di lembaran majalah sosialita.
Beda halnya dengan Hermione. Nott yakin, tanpa diminta pun Hermione langsung menutup buku yang tengah dibaca. Tanpa banyak kata segera beranjak dan dengan lembut memijat tengkuk dan tulang pundak yang tegang.
Pergerakan dan bayangan samar di balik pintu bermotif kulit kayu memutus imajinasi Nott tentang aktivitas pijat memijat yang rutin dilakoni Hermione setiap malam. Secara refleks, seakan disetrum dengan sensasi listrik tegangan tinggi, Nott bangkit dari kursi. Menumpukan tangan di atas meja, Nott tanpa sadar menggumamkan nama yang selama tiga bulan terakhir ini membayangi.
"Hermione..."
Pendar girang yang terbit di wajah Nott meredup ketika bayangan di ambang pintu itu menampakkan sosok sesungguhnya. Tak seperti yang diharapkan Nott, bukan Hermione yang muncul melainkan ayahnya yang berdiri bersedekap.
Menutup pintu dengan satu hentakan, Mister Nott melangkah maju. Di setiap sapuan langkah tegap yang mengalir pasti, mata hijau gelap Mister Nott terus mencermati putranya yang terduduk lesu di kursi kulit lembut.
"Hermione? Kenapa kau memanggil namanya, Nak?" Mister Nott bertanya tenang meskipun penyihir setengah baya itu sudah mengetahui jawaban pasti. Jawaban yang terlihat dari gelagat dan tindak-tanduk ganjil anaknya selama tiga bulan terakhir ini.
Menelungkupkan muka di meja, Nott menggeleng lemah. Sampai tungku api neraka membeku pun Nott tak mungkin bisa mengaku pada ayahnya kalau ia merindukan berbagai aktivitas yang biasa dilakukan Hermione.
Memang, selain menemaninya bekerja dalam diam atau memijat bahu yang pegal linu, Hermione sering membawakan dirinya segelas minuman hangat atau senampan camilan. Sebelum masuk ke ruangan, Hermione biasa berdiri sejenak di dekat pintu, persis seperti yang dilakukan ayahnya barusan.
Mencermati postur kuyu anaknya, Mister Nott mengertakkan gigi dengan frustrasi. Jika menuruti ego, Mister Nott pasti sudah mengguncangkan tubuh anaknya. Mati-matian menuntut pengakuan bahwa pewaris utamanya itu merindukan sosok Hermione. Sosok seorang wanita yang sudah dibuang dan dicampakkan.
Tapi, mengingat janji pada diri sendiri untuk memberi putra idiotnya pelajaran brutal yang berharga, Mister Nott mengurungkan niat campur tangan.
Mister Nott mengakui, akan lebih baik jika putranya menyadari sendiri dosa besar yang dibuatnya. Akan lebih baik bagi anaknya untuk menyadari sendiri betapa dalam rasa kehilangan yang timbul akibat perbuatan gegabahnya.
Rasa kehilangan...
Seperti anaknya yang diam-diam kehilangan sosok Hermione, Mister Nott juga menyimpan kegundahan serupa. Semenjak mengundurkan diri dari Kementerian Sihir, Hermione memang menghilang tanpa jejak seperti ditelan bumi. Seteliti apapun mencari, Mister Nott tak bisa menemukan kabar sekecil apapun tentang bekas menantu kesayangannya.
Setelah berbulan-bulan menanti dalam kecemasan tingkat tinggi, sepucuk surat yang dibawa seekor burung hantu cokelat abu-abu tiba di Nott Manor sore tadi. Saat membaca nama pengirim, Mister Nott nyaris melompat kegirangan seperti pemain trampolin kesurupan.
Di lembar-lembar pertama yang mengisahkan tentang ekspedisi Hermione di berbagai penangkaran naga di dunia, keriangan Mister Nott masih terpelihara. Namun, kebahagiaan tersebut padam saat tiba di akhir cerita.
Di penghujung paragraf, Hermione menulis bahwa saat ini ia tengah menjalin cinta dengan anak nomor dua klan Weasley, Charles 'Charlie' Weasley. Ahli naga terkemuka yang selama dua bulan terakhir ini setia mendampingi bertualang ke penjuru dunia.
Meremas-remas ujung jubah, Mister Nott memikirkan reaksi apa yang akan diperlihatkan anaknya jika mengetahui kabar tersebut. Apakah sedih sekaligus gembira seperti dirinya, karena pada akhirnya Hermione menemukan pria yang mencintainya dengan sungguh-sungguh? Atau malah cuek tak peduli dan tetap meneruskan skenario pernikahan dengan Daphne Greengrass?
"Theo," Mister Nott berdeham, mencoba menyingkirkan rasa muak dalam nada suara. "Bagaimana kabar Daphne? Sudah lama ia tak berkunjung ke sini."
Helaan sinis yang teredam terdengar dari balik lengan Nott yang dijadikan bantalan kepala. Sebenarnya, Nott senang ayahnya sudah mengubur kapak perang dan mau berbicara dengannya. Tapi terus terang, bukan pertanyaan menyebalkan tentang Daphne yang diinginkan Nott untuk menjadi titik awal rekonsiliasi komunikasi mereka.
"Daphne baik-baik saja. Mungkin sekarang dia sedang berkeliaran di Las Vegas, Monte Carlo, Genting Highlands, Macau," Nott menghela napas kesal, menjawab kasar seraya menyebutkan nama-nama kelab malam dan pusat judi dunia yang sering didatangi calon istrinya yang tamak dan boros.
Jika tak kasihan menyaksikan siluet muram anaknya, Mister Nott mungkin sudah terbahak-bahak dan berteriak 'Ha! Apa kubilang. Daphne itu cuma jalang mata duitan yang mengincar uangmu!'
Tapi, berhubung naluri kebapakan masih berkuasa, Mister Nott hanya terbatuk-batuk kecil, membendung dorongan mengutuki kebodohan anaknya yang terjerat perangkap setan neraka seperti Daphne. Iblis wanita yang gemar memanfaatkan permainan seks kasar sebagai senjata mematikan.
"Jadi, untuk membayar hobi judi gadis murahan itu kau kerja keras sampai pagi seperti ini?" Mister Nott bertanya dingin, menyeringai tajam saat wajah marah anaknya muncul dari balik lengan yang menelungkup.
"Tidak! Aku kerja banting tulang demi meraih ambisi menjadi pemain bisnis dan penyihir muda terkaya sedunia," bantah Nott keras, menyembunyikan fakta bahwa ia terpaksa begadang bekerja karena tak bisa melupakan Hermione. Tak bisa menyingkirkan sosok penyihir menyenangkan yang pernah menikah singkat dengannya.
"Wah, jika itu tujuanmu, kau sudah berhasil, Nak," cetus Mister Nott sarkastik, mengacungkan majalah Forbes Wizards, majalah bisnis dan keuangan yang memuat daftar penyihir jutawan terkaya di dunia.
Di majalah dwi mingguan tersebut, foto hitam putih Nott terpampang besar-besaran, ditingkahi judul berita bertajuk THEODORE NOTT, MILIUNER MUDA TERKAYA ABAD MILENIUM.
Mengacak-acak rambut cokelat kehitaman, Nott menekan bibir rapat-rapat. Nott tahu ayahnya cuma ingin menyindir, cuma ingin mengorek-ngorek alasan di balik penyakit insomnia yang mendera.
Jika bukan karena ego yang setinggi Kandang Burung Hantu Hogwarts, Nott mungkin sudah menghambur ke sisi ayahnya. Bercerita panjang lebar tentang kesedihan hampa dan kerinduan mendalam pada Hermione. Berkisah tak tentu arah tentang usaha konyol untuk meraih ketenangan tidur di malam hari, berburu parfum vanila.
Ya, parfum vanila. Aroma semanis karamel yang identik dengan sosok Hermione. Wangi khas yang diyakini Nott bisa menyembuhkan gangguan tidur yang mulai tak tertahankan.
Sayangnya, meskipun jutaan merek parfum vanila sudah diborong habis-habisan, ia tetap tak bisa mengatasi insomnia sekaligus menghadirkan sosok Hermione di kamarnya.
Tampaknya, harum yang menguar dari tubuh Hermione bukan berasal dari minyak wangi melainkan dari pori-pori kulit. Keharuman alami yang tak ada tandingannya. Wangi kulit dan aroma tubuh manis istimewa yang tak bisa diganti dengan aroma imitasi.
"Kau sudah menduduki rangking pertama penyihir terkaya sedunia. Jadi, sebaiknya kau fokus pada rencana pernikahan dengan Daphne," Mister Nott kembali menyindir, mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di lembaran majalah yang dipenuhi foto hitam putih berseni.
Menggeram tak jelas, Nott bolak-balik menghitung jumlah kebun anggur dan saham ladang kurma yang tersebar di seantero dunia, berharap kalkulasi tak terhitung itu bisa memadamkan hati penat dan luapan emosi kecut yang menggelegak. Api kemarahan yang menggelora setiap kali skema pernikahan dengan Daphne Greengrass disinggung-singgung.
Di dalam hati, Nott mengakui kalau kondisi yang dialaminya sekarang terbilang janggal. Beberapa bulan lalu, Nott mungkin akan sangat antusias membahas masa depan hubungannya dengan Daphne. Namun, sekarang berbeda. Hanya perut kembung, begah dan keinginan muntah yang muncul saban kali nama Daphne menerobos kuping.
Terkadang, manusia baru menyadari kalau penyesalan itu selalu datang terlambat...
Seringkali, di sela-sela malam sunyi, Nott menyadari kalau dirinya sudah melakukan dosa teramat fatal. Kesalahan besar yang hanya bisa dilakukan pengidap IQ jongkok. Bagaimana bisa dirinya begitu buta sehingga membuang cinta tulus Hermione demi cinta oportunis Daphne Greengrass?
Bagaimana bisa ia begitu gila hingga tega mencampakkan seorang wanita yang mencintai apa adanya demi seorang gadis yang mencintai karena ada apanya? Lebih memilih seorang gadis yang mencintainya karena uangnya, karena ketenaran, karena status darah, karena ketampanan raga?
Tapi, penyesalan memang selalu datang terlambat. Walaupun berulangkali mengutuki ketololan, semua sudah terjadi. Demi harga diri dan nama baik, cepat atau lambat pernikahannya dengan Daphne tetap harus terlaksana. Meski sangat terpaksa, ia harus membayar semua karma.
Karma berupa paksaan untuk menikahi seorang penyihir yang tak lagi dicintainya...
Seiring dengan deklarasi ogah-ogahan itu, Nott mendongakkan wajah suram yang miskin harapan. Mengepalkan tangan, berusaha mendapat secercah kekuatan, Nott memandang lurus, menatap keras dan bersungguh-sungguh saat mulut menguak bicara.
"Jangan khawatir, Father. Aku akan segera menetapkan tanggal pernikahan bulan ini juga."
Kepastian yang meluncur dari bibir putranya membuat Mister Nott terperanjat. Tadinya, Mister Nott berharap kebimbangan yang tampak di wajah putranya mampu menumbuhkan sedikit akal sehat. Tapi, tampaknya, kemiringan otak anaknya yang melebihi Menara Pisa di Italia sudah tak bisa ditoleransi lagi.
"Baguslah kalau begitu," sembur Mister Nott sebal. "Kau harus cepat-cepat menikah sebelum keduluan Hermione," lanjut Mister Nott pedas, tak sengaja menyebut nama Hermione gara-gara kekesalan akut dan emosi berkecamuk yang bertumpuk-tumpuk.
"Keduluan Hermione? Apa maksudmu, Father?"
Berusaha menghindari tatapan penasaran anaknya, Mister Nott memandang berkeliling, pura-pura memfokuskan perhatian pada lukisan antik karya Picasso yang terpampang anggun di dekat rak perapian.
"Father, apa yang kau maksud dengan keduluan Hermione?" Nott bertanya ngotot. Melayangkan tatapan penuh prasangka, dengan kasar dan beringas Nott menyambar lengan ayahnya yang asyik mengulur keheningan dengan jalan mematut-matut diri di depan kanvas lukisan bergaya kubisme.
"Oh sudahlah," geram Mister Nott hilang sabar. Tadinya, Mister Nott tak mau ikut campur ataupun membuka rahasia tentang hubungan percintaan Hermione. Tapi apa daya, semua sudah terlanjur. Demi kemaslahatan semua pihak, Mister Nott memberanikan diri membuka kartu termasuk mengakhiri tekad untuk tak ikut campur.
"Maksudku, jangan sampai Hermione menikah duluan dengan Charlie Weasley, si pembiak naga sekaligus pacar barunya itu. Kalau kau sampai disalip olehnya, mau ditaruh di mana martabat dan derajat yang selalu kau elu-elukan," Mister Nott terkekeh marah, cuping hidung mancungnya bergetar hebat menahan emosi.
Jantung Nott seolah berhenti berdentum mendengar penjelasan ayahnya. Hermione akan menikah dengan Charlie Weasley? Menikah dengan salah satu anggota keluarga Weasley yang terkenal miskin dan melarat?
"Jangan bohong, Father," Nott menggeram jauh di dalam tenggorokan, paru-parunya seolah menyempit dan kekurangan oksigen, membuatnya harus bernapas pendek-pendek. Isi perutnya seakan jungkir balik saat ayahnya balas memandang tajam dengan alis terangkat, mengirimkan sinyal kejujuran melalui pandangan keras bersungguh-sungguh.
Terhuyung, Nott mencengkeram sisi meja dengan kedua tangan. Menutup mata erat-erat, Nott merasakan ayahnya bergerak cemas, menahan tubuh lunglainya dalam dekapan hangat khas orangtua.
"Aku tidak berdusta, Theo. Kalau kau tak percaya, baca saja surat ini," Mister Nott berbisik pelan, meletakkan sepucuk surat beraroma vanila ke dalam genggaman tangan anaknya.
Tanpa membuang waktu, Nott membuka surat tersebut, melahap semua isi tulisan di badan surat dalam setiap sapuan mata. Seiring dengan setiap kalimat yang ditelusuri, Nott merasa seluruh tubuhnya menggigil bermandikan lidah api kesedihan. Bilah bahu bidangnya semakin merosot saat pengakuan Hermione tentang percintaannya dengan Charlie terpapar jelas di lembaran surat berwarna kuning mostar.
"Tak ada yang bisa kita lakukan, Theo," Mister Nott bergumam penuh empati, iba luar biasa melihat keguncangan batin yang menimpa anaknya.
"Semua sudah terlambat, Nak. Hermione bukan milikmu lagi. Ia bebas memilih pasangan hidupnya," Mister Nott terus berkomentar, tak menghiraukan geraman murka yang beresonansi dari kerongkongan putranya.
"Sesuai rencana, kau harus tetap menikahi Daphne. Bukankah kau barusan berkata siap menentukan tanggal pernikahan kalian?"
Menepis tangan ayahnya, Nott bergumam seperti menggerutu. Yeah, yeah, jika ayahnya berencana menyiksa pelan-pelan, maka pria setengah tua itu boleh bertepuk tangan senang karena misinya mencapai tujuan.
Seirama dengan setiap kata yang ditorehkan ayahnya, kesedihan menggila merajai sukma Nott. Kepedihan yang semakin menusuk tatkala kebenaran kalimat ayahnya tercerna sepenuhnya.
"Hermione bukan milikmu lagi. Ia bebas memilih pasangan hidupnya."
Menyeka kasar sudut mata yang panas, Nott berjuang menata perasaan yang porak poranda. Seperti yang ditegaskan ayahnya, Hermione memang bukan miliknya lagi. Meskipun hati kecilnya menjerit protes menuntut hak eksklusif itu, hak kepemilikan absolut atas Hermione, ia tak bisa berbuat apa-apa.
Tak bisa melakukan apapun selain menyesali kebodohan. Tak bisa melakukan apapun selain menerima semua karma dan dosa.
Tak bisa melakukan apapun selain meratapi fakta kalau ia telah kehilangan Hermione untuk selama-lamanya...
"Theo tak bisa selama-lamanya terkungkung di balik meja. Kesehatannya bisa rusak total kalau ia selalu bekerja seperti robot!"
Melengkungkan bulu mata tebal dengan tongkat sihir, Daphne Greengrass tersenyum tipis, senandung senang terus terdengar dari balik rekah bibir yang semerah darah. Kegembiraan yang berbanding terbalik dengan kemarahan feminin dan rengutan masam yang tercetak di paras sempurna Astoria yang berjalan hilir-mudik penuh kecemasan.
"Jangan cerewet begitu, Tori. Theo saja tak keberatan kok memforsir diri seperti itu," Daphne akhirnya bersuara, berpuas diri memandangi bulu mata lentik yang tertata cantik. Merapikan gaun sutra lembut selutut dengan satu jentikan tongkat, Daphne menyambar sepatu berkilau bertumit tinggi yang tersampir rapi di dekat rak besi putar.
Memakai sepatu mengilap dengan cekatan, Daphne kembali berdendang riang. Acuh tak acuh mendengarkan omelan adiknya yang berkoar-koar brutal, menuntut untuk menasihati calon suaminya yang terbenam dalam tumpukan berkas kerja.
"Untuk apa aku memintanya berhenti kerja? Semakin keras Theo bekerja, posisinya di tangga juara penyihir terkaya semakin bertahan lama. Pada akhirnya, aku juga yang diuntungkan," Daphne nyerocos panjang lebar, membuat mulut bawel Astoria terbungkam sepenuhnya.
"Diuntungkan? Merlin, Daph! Kenapa hanya uang dan kemewahan mencolok yang memenuhi otakmu? Apa kau tak peduli jika Theo jatuh sakit karena terlalu lama bekerja?" Astoria bertanya tak percaya, menatap penuh gejolak saat bahu Daphne berderik tak peduli.
Sebenarnya, sejak kecil Astoria sudah tahu kalau kakak satu-satunya itu sangat fasik dan senantiasa memuja berhala bernama uang dan harta benda. Tapi, Astoria sama sekali tak mengira kalau saudari kandungnya lebih mengutamakan materi ketimbang kesehatan calon suaminya sendiri.
"Jika Theo sakit, ada Healer handal yang bisa menyembuhkan," Daphne membalas tanpa malu-malu, menggigit lidah untuk menyembunyikan perkataan 'memangnya aku peduli'. Kalimat jujur dan tepat sasaran yang jika melompat keluar pastilah membuat adik cantiknya mencak-mencak seperti ibu-ibu terlambat gajian.
Menaburkan bedak mutiara di wajah semulus porselen, Daphne memonyongkan bibir dalam-dalam. Sejujurnya, jika Astoria bukan adik kesayangannya, ia pasti tak ragu-ragu menguliti gadis bermata oval itu hidup-hidup karena berani menasihati tentang etika moral dalam hubungan sosial.
Semenjak Nott bersemedi total di ruang kerja, Astoria memang tak berhenti menggerecoki. Jika tak membujuk Daphne untuk menemani Nott bekerja (permintaan menjenuhkan yang sudah pasti ditolak mentah-mentah), Astoria pasti mendesak kakaknya untuk mengajak Nott pergi ke pesta bersama-sama (nasihat merendahkan yang ditampik ogah-ogahan mengingat tanpa kehadiran Nott, Daphne lebih bebas mengumbar hasrat duniawi)
"Asal kau tahu, aku senang Theo menduakan diriku dengan pekerjaan. Habis, dia membosankan dan tak asyik lagi diajak bercinta kasar seperti binatang. Satu-satunya yang membuatku mau hidup bersamanya cuma harta yang melegenda," Daphne melirik menyindir, mengamati bayangan kaku adiknya yang terpantul di cermin meja rias.
Saat melihat air muka Astoria, Daphne nyaris tertawa ngakak, terpingkal-pingkal kegelian sampai jungkir balik tak karuan. Bayangkan saja, wajah Astoria yang biasanya bersinar mulus kini tampak mulas, persis penyihir yang kebanyakan menelan Pastiles Pemuntah, salah satu Kudapan Kabur kreasi toko Sihir Sakti Weasley.
Jika tak memahami watak naif Astoria, Daphne pasti sudah terbungkuk-bungkuk mentertawakan kelemahan mental dan jiwa telanjang adiknya. Hati lembek, polos dan pemalu yang tak sesuai dengan sistem aji mumpung etnis darah murni.
Usai menyemprotkan minyak wangi beraroma sensual, Daphne menghiasi leher dengan kalung rubi Burma, aksesoris berbatu merah darah pemberian Nott; pria yang barusan dicapnya amat sangat membosankan. Memastikan penampilan glamornya tak bercacat cela, Daphne berlenggak-lenggok sebentar di depan cermin besar sebelum beranjak mendekati adiknya yang mendelik berang.
"Jangan melotot begitu, nanti maskara apikmu luntur. Kau tak mau wajahmu jadi seseram Gorgon bukan?" Daphne mengelus pipi halus adiknya yang menggembung karena disebut mirip Gorgon. Gorgon sendiri adalah makhluk mitologi Yunani berwujud wanita berwajah mengerikan dengan sayap dan rambut penuh ular.
"Jika aku Gorgon, maka kau itu Siren," Astoria balik menghardik, tanpa sungkan mengasosiasikan kakaknya dengan Siren, peri lautan bersuara merdu yang hobi membunuh dan memakan para pelaut dan nelayan.
Tak seperti harapan Astoria, Daphne sama sekali tak tersinggung disamakan dengan hantu air dan peri sejahat setan. Mengedip nakal, Daphne menarik tangan adiknya yang dihiasi gelang batu zamrud dan pirus. Saat wajah mereka berdekatan, Daphne bersenandung licik. Setiap hembusan napas dan desisan kejinya membuat rambut halus di tengkuk Astoria meremang.
"Ya, aku memang Siren, memikat dan membuai Theo dengan kemewahan nakal dan rayuan merdu yang cantik mematikan. Aku memang Siren, peri licik yang membujuk siapapun yang mendengarkanku untuk menuju ke karang kehancuran mereka sendiri," Daphne mengetatkan mulut, mengakhiri melodi dengan seringai kejam.
Melihat adiknya tak mampu bersuara seakan-akan tersedak bola sepak, Daphne tanpa banyak kata mengajak saudari kandungnya untuk segera pergi menghilang ke salah satu pusat judi kelas atas yang baru dibuka.
Pergi menuju tempat di mana dirinya leluasa menghambur-hamburkan uang tunangannya. Pergi ke tempat di mana ia bisa menunjukkan jati diri sebagai Siren. Pemikat keji tak berhati nurani yang terobsesi menjerumuskan para pemuja setia ke dalam kesenangan nakal mematikan...
Sorot memuja yang terpancar dari mata biru bercahaya hampir membuat Nott merapalkan tiga Kutukan Tak Termaafkan sekaligus. Hanya akal sehat dan kengerian hidup di penjara Azkaban yang membuat Nott tak jadi menembakkan Kutukan Imperius, Cruciatus dan Avada Kedavra tepat ke jantung Charlie Weasley yang berdengap bangga.
Berdiri di balik keremangan bayang-bayang, tepat di samping gentong otak tikus dan hati kodok bertanduk yang berbau anyir, Nott mengamati dengan perih interaksi hangat sejoli yang berdiri santai tak jauh di depannya.
Ya, sejoli muda berbahagia, Charlie Weasley dan Hermione Granger. Pasangan muda yang sibuk berbelanja perlengkapan bayi, tak ubahnya seperti sepasang suami-istri yang baru saja dikaruniai keturunan.
Meski sinar terik mentari akhir Agustus memantul di kaca jendela dan sedikit mengaburkan pandangan, Nott masih bisa melihat jelas kebahagiaan yang beriak di air muka Hermione. Tampaknya, percintaan membara dengan Charlie Weasley membuat Hermione melupakan semua kesedihan yang melanda.
Pupil Nott yang menyipit perih karena menahan tangis memicing segaris saat lengan kekar Charlie Weasley beristirahat di lingkar pinggang Hermione. Mengepalkan tangan kuat-kuat, hingga buku-buku jari memucat, Nott membendung hasrat mencabut tongkat sihir untuk membunuh ahli naga keparat itu dalam satu gebrakan.
Motivasi Nott untuk menghindari konfrontasi nyaris tenggelam ketika mata biru dalam Charlie menatap lurus ke arahnya. Tampaknya, pekerjaan menangani naga dengan beraneka intelegensia membuat urat waspada Charlie selalu menyala. Buktinya, sadar dirinya diamat-amati, Charlie melempar pandangan ke samping, langsung berhadapan dengan Nott yang bersandar gamang di pojok dinding toko obat dan ramuan.
Begitu mata sebiru bentangan laut miliknya terkunci dengan iris hijau muram Nott, sudut bibir Charlie naik ke atas, membentuk seulas senyuman bangga khas laki-laki. Senyum sarat meremehkan dan melecehkan yang sudah tentu membuat kemarahan Nott tumpah ruah ke titik maksimum.
Kemurkaan Nott kian tak terkira ketika Charlie dengan sengaja menyapukan bibir dengan mesra ke puncak kepala Hermione. Mengerling penuh arti, Charlie mempererat pelukan di tubuh Hermione, mengangguk seiya sekata saat Hermione menunjuk ranjang bayi yang terbuat dari rotan asli.
Cukup sudah!
Melangkahkan kaki lebar-lebar, Nott mengayunkan tubuh ke depan, berancang-ancang melabrak pemandangan memuakkan yang meremukkan hati. Belum genap enam langkah, ingatan tentang teguran ayahnya berkelebat tanpa diundang.
"Hermione bukan milikmu lagi. Bukan milikmu lagi..."
Meninju dinding batu keras terdekat hingga bolong, membuat sejumlah pengunjung toko obat melongo seperti bebek ompong, Nott menata napas yang memburu. Pro dan kontra berkeliaran di benak, membuat lipatan pikiran dan rongga batin kian bertambah kusut.
Ya, seperti yang dikatakan ayahnya, Hermione bukan miliknya lagi. Jika ia nekat mendamprat Charlie Weasley, tak ada faedah yang bisa dipetik selain rasa malu belaka. Berandalan kasar dan barbar seperti Charlie Weasley pasti memakai momen tersebut untuk mengintimidasi. Untuk mengingatkan kebodohan tak tertolongnya selama ini.
Belum lagi dengan tatapan mencemooh yang bakal dilayangkan Hermione. Nott yakin, dibanding gertak sambal Charlie, dirinya tak akan bisa menanggung rasa sakit yang ditimbulkan pandangan menghina yang keluar dari butiran mata bekas pasangan hidupnya.
Prasangka Nott bahwa Charlie Weasley bakal mendayagunakan momen langka itu terbukti ketika pria berpostur fit dan bugar itu menangkup dagu Hermione. Di bawah siulan ramai pramuniaga toko, Charlie tanpa sungkan mencium mulut Hermione dalam-dalam. Ciuman kuat, dalam dan penuh gairah besar yang dibalas Hermione dengan antusiasme serupa.
Menegang keras, Nott membuang muka dari pemandangan yang menghancurkan sukma, melesat menghilang secepat jentikan jari. Sebenarnya, akan lebih baik jika ia bisa melempar sedikit kutukan mengerikan untuk melampiaskan kekesalan. Kutukan Conjuctivitus atau Mantra Kuras Perut, misalnya.
Sayangnya, kemarahan membara seolah melumpuhkan gerak refleks Nott. Saat ini, tak ada yang paling diinginkan Nott selain enyah secepatnya dan melupakan kenyataan telak yang memukul relung batin.
Muncul di ruang kerja dengan bunyi plop lirih, Nott membanting tubuh di kursi kerja bersandaran kulit. Menutup wajah dengan tangan, Nott berjuang menghapus pemandangan yang dilihatnya semenit lalu di Diagon Alley. Ironisnya, semakin ditekan, memori pahit itu semakin tercetak jelas. Membuat urat-urat di pelipis berdenyut tak tertahankan.
Padahal, seperti yang ditekankan seminggu lalu, di pertemuan terakhir dengan ayahnya, Nott berjanji melupakan Hermione dan memfokuskan diri pada rencana pernikahan kedua dengan Daphne Greengrass. Sayangnya, seperti ditarik magnet tak kelihatan, Nott tak bisa menjauhi Hermione. Tak bisa menghimpun kekuatan untuk melupakan mantan istrinya.
Membuka laci meja kerja, Nott menarik keluar surat dari Hermione. Tujuh hari lalu, saat surat itu disodorkan ke tangannya, lembaran kertas berwarna kuning mostar itu masih pekat dengan aroma vanila karamel.
Kini, seiring dengan seringnya Nott tidur bersama surat itu, surat berharga tersebut sudah kehilangan wangi khas Hermione. Aroma menenangkan yang selama seminggu terakhir mampu membuat Nott terpejam di tengah malam.
Membuka lembaran surat dengan hati-hati, seakan-akan tengah memegang berlian kualitas tinggi, Nott membaca dengan perlahan. Meski sudah hafal isinya luar dalam, Nott masih terobsesi mencermati tulisan tangan Hermione yang rapi dan teratur.
Halo Dad. Apa kabar? Kuharap kau baik-baik saja ya, sama seperti aku di sini.
Sebelumnya, aku mau minta maaf karena tak langsung menghubungimu setelah, yah kau tahu, setelah peristiwa tak mengenakkan di Hotel The Langham. Tadinya, aku ingin langsung mengontakmu, tapi banyak sekali permasalahan yang harus kuselesaikan, termasuk pengunduran diriku dari Kementerian Sihir Inggris.
Aku tahu kau pasti bertanya-tanya mengapa aku nekat meletakkan jabatan yang sejak remaja kuidam-idamkan. Yah, sekuat apapun aku berusaha, aku tetap manusia, Dad. Terbuat dari tulang dan darah, tak kebal seperti tembok yang tahan cuaca. Bagiku, hidup tenteram tanpa hujatan jauh lebih bermakna ketimbang duduk berkuasa di kursi empuk sepanas neraka.
Oh ya, jangan khawatir, Dad. Setelah mundur dari Kementerian Sihir, aku tak langsung jadi pengacara alias pengangguran tanpa acara kok. Rencananya, aku akan berkarier di Sekolah Sihir Hogwarts.
Kebetulan Hogwarts butuh guru Transfigurasi baru setelah pengajar yang lama tak bisa kembali ke wujudnya semula (sepertinya ia memakai Mantra Perekat Permanen saat melakukan eksperimen transfigurasi spesies-silang)
Nah, untuk mengisi kekosongan waktu sebelum masuk Hogwarts, aku mengunjungi berbagai tempat penangkaran naga di dunia. Selama dua bulan terakhir ini aku sudah pergi ke Ukraina, Rumania, Polandia, Bulgaria, Siberia bahkan ke beberapa negara Asia!
Ekspedisi menarik dan penuh tantangan ini tentu tak bisa kudapatkan tanpa bantuan Charlie Weasley. Ya, Charlie yang itu, Dad. Putra kedua keluarga Weasley, pria yang wajahnya sering kau lihat di program dokumenter tentang naga dan fauna.
Berkelana bersama Charlie sangat menyenangkan, Dad. Ia sangat sabar, dewasa, matang dan tak pernah lelah menjawab semua pertanyaan beruntunku. Pengetahuan luasnya tentang naga juga sangat mengagumkan. Jika bisa diibaratkan, Charlie benar-benar pria sempurna luar dalam.
Ngomong-ngomong tentang Charlie, aku punya kabar penting, Dad. Ehm, begini (ups kok aku jadi malu-malu kucing seperti ini sih, padahal Crookshanks saja tak punya urat malu), sebenarnya aku dan Charlie pacaran. Ya, pacaran Dad, pacaran. Kami sudah berkencan kurang lebih sejak awal perjalanan kami ke penangkaran naga.
Sejauh ini, aku bahagia bersama Charlie. Apa kau tahu Dad, kalau Charlie sangat memujaku? Dia bilang dia sudah mencintaiku sejak dulu, sejak aku remaja. Yah, pantas saja kalau ia tak pernah lelah melamarku.
Tiga kali, Dad! Charlie sudah tiga kali melamarku. Bayangkan itu, hehehe...
Umm, apalagi ya yang bisa kuceritakan? Sepertinya untuk saat ini cukup itu dulu deh. Oh ya, saat ini aku ada di Wales, sedang menemani Charlie mengawinkan Naga Merah Wales dengan Naga Ekor Berduri Hungaria.
Jika tak ada aral, aku dan Charlie akan segera pulang ke Inggris (istri salah satu kolega laki-laki Charlie baru melahirkan dan kami berencana mengunjungi mereka).
Jika aku sudah tiba di Inggris, aku akan mengirim surat lagi padamu, Dad.
Salam rindu selalu dari putrimu,
Hermione Jean Granger.
Tersenyum getas, Nott meletakkan kembali surat Hermione dengan hati-hati di laci semula. Nott tahu tak seyogyanya ia menyiksa diri seperti ini. Setiap kali membaca surat Hermione, air mata kesedihannya seolah ingin tumpah.
Bagaimana ia tak gundah jika di surat itu Hermione tak sekalipun menanyakan kabarnya? Bagaimana ia tak nelangsa jika melalui surat itu ia mengetahui bahwa hati Hermione telah menjadi milik pria lain.
Pria lain yang bukan dirinya...
"Hermione Jean Granger yang mencintaimu sudah mati, Theodore Nott..."
Menggebrak meja dengan kepalan tangan, membuat setumpuk dokumen terjatuh ke lantai keramik berbalut karpet Turki empuk, Nott menggerung frustrasi.
Sekarang, setelah semua sudah terlambat, ia baru menyadari kalau sumpah yang diucapkan Hermione meracuninya perlahan-lahan. Sekarang, setelah semuanya terjadi, ia baru menyadari kalau Hermione bersungguh-sungguh saat mengumandangkan ikrar tersebut.
Ya, Hermione Jean Granger yang mencintainya sudah mati. Yang tadi dilihatnya di Diagon Alley adalah Hermione yang baru.
Hermione Jean Granger yang mencintai Charlie Weasley...
"Maaf, Mr Nott," suara takut-takut sekretaris pribadinya mengusik pikiran mumet Nott. Menengadahkan wajah, Nott menatap garang, membuat si sekretaris mendekap erat-erat bundelan berkas di dada.
"Sebentar lagi Anda harus menghadiri rapat dengan delegasi perusahaan Alrosa," sambung si sekretaris ragu-ragu, kian mengencangkan perisai kertas saat mata hijau Nott menyipit segaris.
"Batalkan saja pertemuan itu! Aku sedang tidak berselera!" Nott menghardik kasar, melambaikan sebelah tangan asal-asalan, tak menggubris pekik terkejut yang meluncur dari bibir tangan kanan kepercayaannya.
"Tapi... tapi Mr Nott. Anda tahu kalau pertemuan ini sangat penting. Bernilai miliaran Galleon," ratap si sekretaris, gemetar hebat dari kaki sampai kepala.
Sepertinya, selain pusing memikirkan berkarung-karung Galleon emas yang bakal terbuang sia-sia, pegawai seksi yang gemar mengenakan busana mini serba ketat itu pening memikirkan alasan logis yang harus dipakai untuk menjelaskan pembatalan sepihak tersebut.
Dengusan sinis Nott bergaung di ruangan, berbaur dengan bunyi getaran kaki sekretarisnya. Tentu saja Nott tahu kalau tender dan pembicaraan dengan Alrosa, perusahaan berlian terbesar di Rusia benar-benar krusial bagi perkembangan aset kerajaan bisnis.
Tapi, seperti yang dikatakan barusan, saat ini ia tak berminat membahas tetek-bengek finansial maupun investasi tambang berlian di Udachnaya, Republik Sakha, Rusia.
"Pokoknya batalkan pertemuan terkutuk itu. Segera!" Nott mengultimatum keras, mengatupkan rahang penuh tekad dan membelalakkan mata sekejam mungkin saat asisten pribadinya kembali membantah. Menumpukan tangan di meja, Nott membentak nyaring, jari telunjuknya teracung tepat ke wajah cantik si sekretaris yang memucat.
"Kau kugaji mahal untuk mematuhi perintahku! Bukannya untuk membangkang maupun mengajariku!" hardik Nott kesal, melempar segulung dokumen ke arah sekretarisnya yang mulai terisak ketakutan.
"Oh, oh, oh, tak bisa begitu, Theo."
Suara merdu mendayu-dayu yang terdengar dari balik ambang pintu membuat Nott dan sekretarisnya menoleh bersamaan. Melangkah seanggun ratu, sepatu hak tinggi Daphne Greengrass menapuk ringan di lantai keramik berkarpet. Di belakangnya, adik kandungnya, Astoria Greengrass merayap lambat-lambat, mata cokelat polos dan lembutnya terpancang pada paras Nott yang memerah marah.
Mengeluarkan tongkat sihir dari balik tas kulit buaya, Daphne mengambil dokumen yang terserak di lantai dengan sekali tebasan. Manik cokelat gemilangnya yang setajam jarum meneliti tamak lembaran-lembaran perkamen yang berisikan data super-penting.
"Ampun deh, Theo! Berkas berharga miliaran Galleon tentang surat perjanjian kontrak kilang minyak dan pembelian pabrik pesawat tempur jangan dibuang seenaknya dong!" Daphne mencerocos panjang lebar, mengangsurkan kontrak penting ke tangan sekretaris Nott yang pucat pasi.
Nott hanya membisu mendengar komentar Daphne yang jelas-jelas lebih mengkhawatirkan aset properti ketimbang suasana hati. Merosot kembali di bangku, Nott membendung hasrat melempar Daphne dari balik jendela kantor yang terletak di lantai paling atas.
"Mau apa kau ke sini, Daph? Buku cek sudah habis? Kartu debet sudah menipis? Atau brankas uang tunai sudah kosong?" Nott menggelengkan kepala dengan muak, memutar-mutar kursi kerja dengan ogah-ogahan.
Ya, benar sekali. Setiap kali Daphne berbaik hati mengunjunginya seperti ini, penyihir berambut cokelat sepinggang yang sangat fasih dalam urusan duniawi itu pastilah mengincar sesuatu. Sesuatu yang tak jauh-jauh dari benda bernama uang tentunya.
Sindiran terang-terangan itu tak menciutkan nyali Daphne. Merangkai tawa merdu yang tak sinkron dengan senyum keji yang menghantui wajah, Daphne melempar tirai rambut satin ke belakang.
Melirik sekretaris Nott yang masih tertegun bingung, tanpa berkata-kata Daphne memerintahkan penyihir wanita bertubuh sintal, bahenol dan luar biasa menggiurkan itu untuk segera menyiapkan semua keperluan rapat dengan petinggi perusahaan Alrosa.
"Tentu saja untuk semua itu, Theo. Tapi, aku juga ke sini untuk memperingatkanmu agar tak malas bekerja," Daphne mengaku tanpa menyesal, tersenyum lebar dengan santai sewaktu mata Nott yang berkilau kuat mendelik tak terima.
"Malas bekerja? Kau gila ya? Kalau malas-malasan, tentu aku tak menduduki posisi kampiun penyihir muda terkaya di dunia! Demi predikat sialan itu, aku kerja siang malam! Bahkan sampai rela meluaskan sayap bisnis ke dunia Muggle!" Nott membentak murka, menggebrak meja kerja dengan satu hentakan. Kuatnya terkaman kepalan tangan tersebut membuat botol tinta terguling, membasahi bundelan perkamen yang tersebar tak beraturan.
"Idiot! Lihat, apa yang kau perbuat! Itu dokumen kontrak luar biasa mahal dan berharga, Theo!" Daphne balas menggertak. Mendecakkan lidah tak sabar, Daphne membabatkan tongkat sihir di udara, membuat bercak tinta yang mengotori surat-surat kontrak hilang seketika dalam satu kedipan mata.
"Oh, begitu rupanya! Dari tadi yang keluar dari mulut racunmu cuma kontrak, duit, uang, uang dan uang!" Nott menggerundel, melangkah sangar dari balik meja kerja. Berdiri berhadap-hadapan dengan Daphne yang merengut, Nott menuding tulang dada Daphne yang terbungkus gaun provokatif berbelahan rendah, busana terbuka yang tak menutupi sama sekali lekuk payudara lembut yang indah menggugah.
"Sepertinya, yang lebih penting bagimu itu hartaku. Bukan diriku."
"Memangnya apalagi?" Daphne menjawab ringan, mengikik geli dan mengedipkan mata dengan perlahan saat wajah Nott bertambah pias. Memainkan jari-jari lentik di lengan jas elegan Nott, Daphne mendengkur manja seperti kucing penggoda.
"Memangnya apalagi yang menarik darimu, Theo? Selain pabrik kapal perang dan harta warisan milikmu yang tak habis dimakan tiga belas turunan?"
"Daphne!" Nott dan Astoria berteriak bersamaan. Mencekal tangan kakaknya yang dihiasi untaian gelang mutiara merah muda, Astoria menghardik lantang. Kekesalan membukit tampaknya membuat bangsawan sesantun Astoria yang biasanya tenang dan penuh ramah tamah melupakan sejenak pendidikan tata krama yang mendarah daging.
"Kalau bercanda jangan keterlaluan, Daph! Aku tahu kau mencintai Theo apa adanya," Astoria menggeram penuh peringatan, melirik sekilas tubuh tegap Nott yang mematung membeku, menegang sekeras besi tempa.
"Cinta? Oh Tuhan, kau benar-benar spesimen naif dan lugu, Tori," decak Daphne menghina, melepaskan belitan tangan adiknya yang melingkar kuat di pergelangan lengan.
"Cinta itu cuma bualan omong kosong. Cuma dongeng pengantar tidur. Cuma mainan anak-anak yang biasa ada di novel roman picisan," Daphne mencibir sensual, mengerucutkan bibir yang terpoles lipstik satin. Menatap Nott dari atas hingga bawah dengan pandangan merendahkan, Daphne kembali melantunkan ejekan.
"Aku tidak mencintaimu, Theo. Aku juga tahu kau tidak mencintaiku."
"Theo mencintaimu, Daph!" sangkal Astoria, kembali mengguncang-guncangkan bahu bebal kakaknya. Si sekretaris, yang enggan terlibat dalam pertempuran berdarah antar saudara buru-buru berlari keluar sembari menjerit panik, meneriakkan tekad untuk mengundurkan diri secara sukarela detik itu juga.
"Theo tidak mencintaiku. Iya kan, Theo?" bisik Daphne licik, merapikan dasi calon suaminya yang bergeser miring.
"Selama ini kau hanya terobsesi pada kecantikanku. Hanya terkagum-kagum pada pesona raga yang tak ada dua. Iya kan, Sayang?" Daphne mengoceh cepat, sengaja menjejalkan nada sinisme di kalimat 'Sayang' yang diucapkannya.
Seiring dengan terserapnya pengakuan spektakuler itu, organ-organ tubuh Nott berhenti berfungsi sekejap. Bukan, bukan pengakuan heboh Daphne yang membekukan serabut tubuh melainkan kesadaran bahwa ketakutan terbesarnya selama ini benar adanya.
Ia telah menghancurkan hidupnya sendiri dengan memuja wanita yang tak mencintainya apa adanya. Ia telah merusak kebahagiaannya dengan mencampakkan Hermione, demi seorang wanita pemuja berhala harta benda.
Berjuang menekan cedera melumpuhkan yang menggerogoti, Nott terombang-ambing tak berkutik saat kegelapan tak berujung menghantam seperti hempasan gelombang pasang. Hal terakhir yang didengar Nott sebelum lorong gelap menelan bulat-bulat hanyalah teriakan cemas Astoria Greengrass.
Satu-satunya teman sejak kecilnya yang benar-benar peduli padanya...
Membuka pelupuk mata dengan enggan, Nott langsung disambut lorong gelap tak bermuara. Berdiri susah payah, Nott menengok ke kiri dan ke kanan, berusaha mengenali lokasi di mana dirinya berada sekarang.
"Di mana aku sekarang?" Nott berbisik lamat-lamat, memegangi kepala yang berkunang-kunang. Menatap kegelapan pekat yang membungkus, Nott tersentak saat bunyi denting sayup-sayup menembus gendang telinga.
Didorong keinginan yang entah dari mana datangnya, Nott bergegas maju, mengikuti suara bening yang memantul-mantul. Setiap pertambahan langkah, gema yang ternyata dentang lonceng gereja kian membahana. Memaksa kaki lemahnya untuk bergerak lebih cepat, Nott akhirnya tiba di mulut lorong yang bermandikan cahaya.
Menyipitkan mata, mencoba beradaptasi dengan pendar terang yang menghantam tiba-tiba, Nott memandang ke segala arah. Meluruskan pandangan, mata hijau lelahnya terkunci pada sebuah kapel kecil yang berdiri di tengah taman bunga. Menyeret tungkai mendekat, Nott menuju kapel yang terus menguarkan gaung lonceng merdu.
Setibanya di depan kapel, langkah Nott terhenti seakan ditempeli lem perekat super berdaya lekat tinggi. Di sana, di depan undakan, sepasang pengantin tengah tertawa bahagia di antara siraman cahaya. Sang pengantin pria yang berambut semerah pijaran api membara dengan bangga menggendong mempelainya, pengantin wanita berambut cokelat bergelombang.
Saat sinar mentari yang memantul meredup sebentar, Nott bisa mengenali dengan jelas pengantin muda yang saling berpandangan hangat.
Hermione dan Charlie Weasley...
Nott menjeritkan nama Hermione, jatuh terduduk saat sepasang pengantin di depannya saling berciuman mesra. Menutup wajah yang bersimbah air mata penderitaan, Nott merasa lorong gelap kembali menyapu tubuh, memaksa jiwa dan raga untuk menyelam lebih dalam ke kegelapan.
Terbangun sesaat kemudian, Nott disambut oleh pemandangan yang tak kalah menggetarkan. Bagai menonton adegan film, Nott tak berdaya saat episode kehidupan Hermione dengan suami barunya diputar berulang-ulang.
Berdiri di balik naungan bayang-bayang, Nott menyaksikan saat Charlie memuja raga dan jiwa Hermone di malam pertama mereka. Terpaku di balik ruangan, Nott menyaksikan saat Charlie mencium lembut perut Hermione yang membuncit.
Mematung di balik kegelapan, Nott menyaksikan saat Charlie menggendong putranya yang baru lahir, bocah berambut merah dengan wajah penuh bintik. Membeku di balik keremangan, Nott menyaksikan saat Hermione berlari gembira di taman, bermain petak umpet bersama dengan sekelompok permata hatinya, lima anak berambut merah menyala yang tak henti-hentinya mengumbar gelak tawa.
Tergugu di balik kegelapan, Nott menyaksikan saat Charlie muncul di dekatnya. Melengkungkan senyum kemenangan, Charlie mendekati Hermione yang berpaling riang.
Mengecup puncak kepala Hermione dengan ciuman sarat rasa memiliki yang manis, Charlie menunjuk kegelapan tempat Nott berdiri membisu. Tepat sebelum mata cemerlang Hermione menyapa, lorong hitam kembali merongrong Nott. Melemparnya kembali ke kegelapan kelam yang membekukan tulang...
"Tulangnya bisa retak kalau Anda terus berbuat begitu, Miss Greengrass."
Teguran tajam sarat kecemasan itu membangunkan Nott dari mimpi gelap tak berujung. Membuka mata pelan-pelan, Nott meringis saat cakar runcing menyentak lengan telanjang yang terbuka.
"Ayo, Theo! Sadarlah! Buka matamu!"
Menengok ke samping, Nott mengernyit menatap dahi Daphne yang berkerut-kerut. Sinar kekhawatiran membayang jelas di sepasang mata cokelat jernih yang mengundang. Di saat Nott berpikir tunangannya mungkin benar-benar mencemaskan kesehatannya, mulut berbisa Daphne kembali melontarkan racun mematikan.
"Theo, kau sudah sadar! Syukurlah. Ayo, bangun, Theo. Masih ada waktu untuk menghadiri pertemuan darurat dengan pejabat Alrosa!"
"Miss Greengrass!" bentakan keras menggelegar yang terdengar dari arah kaki membuat Nott menutup mulut. Tadinya, Nott bersiap mengutuki Daphne dengan koleksi kata-kata kotor dan vulgar. Tapi, desakan fisik itu diurungkan sebab sudah ada sukarelawan yang bersedia menggantikan tugasnya.
"Sebaiknya Anda keluar dari sini, Miss Greengrass," suara bariton berat itu kembali terdengar, menggeram tak sabar saat lengkingan protes keluar dari bibir beracun Daphne.
"Kalau Anda terus mengganggunya, Mr Nott tak bisa cepat sembuh."
Menghentakkan sepatu Manolo Blahnik kuat-kuat ke lantai berbau desinfektan, (meski terlahir sebagai penyihir darah murni dan membenci Muggle, Daphne tak bisa lepas dari godaan memakai label favorit dan barang bermerek kreasi Muggle), Daphne melengkungkan mulut dengan kesal.
Menaikkan alis hingga nyaris menghilang ke balik rambut, wanita pemuja gaya hidup perkotaan itu berjalan pongah ke luar kamar. Sebelum membanting pintu hingga menutup, Daphne masih sempat melontarkan perkataan yang membuat luka hati Nott semakin berkeropeng.
"Baik! Baik! Aku keluar dari sini karena ingin Theo cepat pulih. Jika dia sembuh cepat, pasti dia bisa segera menangani bisnis miliaran Galleon yang terbengkalai!"
Memandangi daun pintu dengan tatapan kalah, Nott meringis kecut. Yah, sebenarnya sejak beberapa bulan lalu ia sudah menyadari kalau calon istrinya benar-benar wanita jalang materialistis.
Tapi, mendengar pengakuan langsung dari mulut tentu berbeda jika dibandingkan dengan prasangka. Tak heran jika Nott masih berdarah-darah setiap kali mengenang pengakuan mematikan dari wanita pilihannya.
"Aku tidak mencintaimu Theo. Yang menarik darimu itu cuma hartamu yang tak habis dimakan tiga belas turunan."
"Calon istri yang menyenangkan ya, Miss Greengrass itu."
Perkataan bernada melecehkan tersebut memaksa Nott membuang ingatan kelam tentang pengakuan menghebohkan Daphne. Mengawasi Healer pria yang tengah memeriksa detak nadi dengan intensif, Nott bergumam miris.
"Yah, benar-benar menyenangkan."
Penyembuh berjubah hijau limau itu hanya tersenyum paham dan mengangguk simpati. Memperkenalkan dirinya sebagai Augustus Pye, si paramedis berwajah ramah mengacungkan tongkat sihir kayu pohon agarwood, mengirimkan getar hangat Mantra Penyembuh ke sepenjuru tubuh Nott.
"Jangan bekerja terlalu keras, Mr Nott. Anda harus beristirahat dan makan nutrisi bergizi," Pye berkata sungguh-sungguh, menuangkan cairan berwarna biru kobalt ke dalam gelas ukuran besar.
"Jangan kerja terlalu tegang, Theo. Kau harus makan santapan bergizi. Lihat, aku sudah buatkan kue bolu mentega untukmu."
Ingatan tentang anjuran Hermione dan kudapan sehat yang selalu dibawakan setiap malam menghentak benak Nott. Tersenyum rapuh, Nott memejamkan mata, mencoba mengenang detail wajah khawatir Hermione dalam memori.
"Istriku juga sering bilang begitu," tanpa sadar Nott mendesah lemah. Tampaknya, kerinduan menahun akan aktivitas penuh perhatian Hermione membuat Nott terseret dalam pikiran melantur.
"Mantan istri maksudmu?" koreksi Pye datar, menyeringai hambar saat mata Nott terbuka kaget. Mengaduk-aduk gelas berisi cairan biru dengan saksama, Pye menyipitkan mata, mencermati rona malu yang merambati wajah pucat pasiennya.
"Aku kenal mantan istri Anda, Mr Nott. Kami bertemu pertama kali saat ia masih bersekolah di Hogwarts," Pye menyodorkan cawan yang mulai mendesis-desis berbuih, mata hangatnya bersinar membayangkan kenangan delapan tahun lalu di mana Hermione dan teman-temannya datang membesuk ayah Ron, Arthur Weasley yang diserang ular betina milik Lord Voldemort, Nagini.
"Dia penyihir yang cakap, berbakat dan sangat membanggakan. Sayang sekali, Anda lebih memilih anjing iblis seperti Miss Greengrass," Pye mengecam terang-terangan.
Menelan ramuan berbusa dalam tegukan besar, Nott berjuang melenyapkan gumpalan penyesalan yang mengendap di dada. Ya, tak perlu diingatkan oleh petugas sosial medis yang baru dikenalnya ini pun, Nott sudah tahu kalau ia telah melakoni kesalahan berbahaya.
Melepaskan singa penyayang seperti Hermione demi ular sawah berbisa macam Daphne Greengrass. Iblis betina liar berhati penuh eksim bernanah yang dulu dikira sebagai satu-satunya cinta sejati.
Terkadang, manusia baru menyadari kalau cinta itu bisa datang terlambat...
Rentetan kejadian tak terduga yang datang menerpa membuat Nott memahami sebongkah perasaan baru yang bercokol di bagian lipatan terdalam hati nurani.
Kecemburuan ganasnya pada Charlie Weasley, perasaan berdosa dan obsesi barunya pada Hermione serta pengakuan sejati Daphne membuat Nott sadar bahwa ia mencintai Hermione. Cinta obsesif yang ironisnya datang terlambat karena tumbuh perlahan-lahan.
"Sampai hayat masih dikandung badan, tak ada hal yang terlambat dalam hidup ini, Mr Nott."
Menepuk pundak Nott, Pye tersenyum menguatkan. Sepertinya, penyembuh suci dan tenaga medis terlatih di Rumah Sakit Saint Mungo tak hanya dibekali kemampuan pengobatan fisik. Barisan pekerja kesehatan berhati malaikat itu juga menguasai ilmu penyembuhan rohani. Terbukti dengan petuah mengena yang berangsur-angsur membangkitkan motivasi Nott yang sempat menguncup.
Selama nyawa masih di raga, tak ada kata terlambat. Ya, jika Nott tak ingin mimpi buruk menjadi kenyataan, ia harus melakukan perubahan drastis. Perubahan hidup yang membuatnya bisa meraih kebahagiaan hakiki.
Kebahagiaan sejati yang dulu pernah diabaikannya...
"Jangan mengabaikan aku, Theo!"
Menyimpan sapu balap anti bom nuklir dengan hati-hati, Nott merutuk berang. Sesuai dengan anjuran Penyembuh Augustus Pye, Nott mengurangi kesibukan yang menggila. Hari-harinya kini dihabiskan dengan lebih berwarna, seperti bermain Quidditch di padang rumput kastil. Permainan membelah udara yang sudah bertahun-tahun tak digelutinya.
"Apa maumu, Daph?" gerutu Nott sebal, menggigit dan mengunyah roti isi telur dadar dengan perlahan-lahan. Menyelonjorkan kaki panjang di balik terpal beludru, Nott menghembuskan napas senang. Beristirahat sejenak dan menghirup udara segar sehabis berolahraga memang menyenangkan. Mampu membuat ketegangan di tubuhnya berangsur-angsur mengendur.
Yah, walaupun masih ada yang tegang sampai mau meledak seperti radiator bocor, Nott membatin sinis, mengawasi Daphne yang berdiri bertolak pinggang. Getaran kemarahan akut mengalir deras dari pembuluh ningrat Daphne, menimbulkan gelombang panas yang bisa menghanguskan seisi padang rumput dalam sekejap.
Menatap payung dedaunan yang melingkar di atas kepala, Nott membatin lirih, tak sabar untuk segera menandaskan rencana akbar yang tersusun matang. Skema perubahan hidup yang sudah diatur semenjak dirinya tergolek di ranjang Rumah Sakit Saint Mungo.
Sayangnya, meskipun dirinya sudah keluar dari bilik rumah sakit sejak seminggu lalu, Nott tak bisa langsung mendapatkan semua keinginan. Selama tujuh hari terakhir ini, Daphne, salah satu pemain kunci dan pelakon utama rencana susah sekali ditemui.
Menurut pengakuan Astoria, yang berbisik takut-takut (Nott berani bertaruh Daphne pasti mengancam adik polosnya itu), Daphne tengah bersenang-senang di Saint Tropez, Prancis. Berfoya-foya sembari menghabiskan liburan musim panas di pantai langganan kaum jet set sedunia.
Terkadang, Nott berharap bisa mengeliminasi Daphne melalui kegemaran dugem yang tak kenal henti. Mungkin, jika foto-foto liar Daphne bertebaran, ia bisa meraih simpati dan tak akan mendulang caci-maki saat memutuskan pertunangan dengan salah satu sosialita dunia sihir yang paling dikagumi.
Sialnya, Daphne mungkin liar, barbar dan penuh skandal di dalam, tapi tampak bermoral di luar. Penyihir tinggi jangkung itu piawai menutupi belang dan kebusukan moral, sehingga tak ada satu pihak pun yang percaya jika Nott berkata Daphne bukanlah calon istri yang sepadan untuknya.
"Selama hayat dikandung badan, tak ada hal yang terlambat di dunia ini."
Petuah Augustus Pye serta bayangan mimpi tragis di mana Hermione hidup berbahagia bersama Charlie Weasley membuat Nott tak gentar melaksanakan rancangan skenario. Jika tak bisa menendang Daphne dengan membongkar sisi busuk tak bermoral, ia punya cara lain. Taktik yang akan disemprotkan seiring dengan kedatangan tak terduga Daphne sore ini.
"Duduk, Miss Greengrass. Nanti kau varises kalau kelamaan berdiri seperti itu."
Nott nyaris tersangkut telur dadar keemasan yang belum tuntas disantap. Berdeham serak, Nott memandikan kerongkongan yang sesak dengan segelas besar teh sirup mapel. Meletakkan poci teh sirup mapel di dekat kaki, mata Nott yang berair karena menahan tawa saling berpandangan penuh arti dengan iris hijau gelap ayahnya yang berkilap jenaka.
Sejak petaka di malam pesta ulang tahun, Mister Nott memang tak lagi beramah tamah pada Daphne. Tak ada lagi sapaan nama kecil ataupun obrolan hangat jika mereka kebetulan bertemu. Sindiran barusan saja merupakan kalimat pertama yang diucapkan ayahnya selama perang dingin berlangsung.
"Aku lebih baik berdiri, terima kasih," balas Daphne galak, melotot sangar ke arah calon ayah mertuanya. Melipat tangan dengan kesal di dada, Daphne membelalakkan mata lebar-lebar, mendengus marah seperti naga betina kelaparan yang tengah mengincar mangsa.
"Sekretaris barumu bilang kalau akhir-akhir ini kau jarang ke kantor. Kau juga membatalkan banyak janji temu penting dan kontrak investasi," Daphne mengangkat dagu dengan tenang, tak gentar menghadapi pandangan jijik yang diterima dari dua pasang mata yang membola tak percaya.
"Demi api neraka! Lagi-lagi inti pembicaraanmu cuma uang, kontrak dan investasi!" gerung Mister Nott panas, menghabiskan sepotong martabak krim kacang dalam sekali suapan.
"Habis apalagi? Hanya itu yang menarik minatku," jawab Daphne sederhana. Mengambil manisan aprikot masak dengan hembusan tongkat sihir, Daphne menggigit buah manis itu dengan gerakan mengundang.
"Masih banyak pembicaraan bermutu yang menarik," kilah Mister Nott suntuk, menyikut rusuk anaknya yang masih bersandar acuh di batang pohon besar. Saat putranya hanya mengangkat bilah bahu, Mister Nott kembali berkokok lantang.
"Ayolah, Miss Greengrass. Cari tajuk pembicaraan lain yang lebih bernas. Pakai otak bego yang cuma sebesar partikel atom itu," sindir Mister Nott sadis, bibirnya menggulung membentuk seringai mengejek saat uap kemarahan berhembus dari dua lubang hidung Daphne yang mancung dan kukuh.
"Begitukah?" timpal Daphne habis sabar, membuang cabikan aprikot jauh-jauh hingga terjatuh ke danau penuh bunga lili air dan teratai. Menautkan dua alis cokelat yang berbaris rapi, ikon fesyen rumah mode dunia itu mengirimkan senyum menantang.
"Bagaimana kalau topik tentang tanggal pernikahan kita, Theo?"
"Tak ada pernikahan, Daph," Nott akhirnya membuka mulut. Menurunkan tangan yang dijadikan sandaran kepala, Nott meluruskan pundak, memasang posisi siap tempur. Di sebelah kanan, Mister Nott terduduk waspada, memasang mata dan kedua telinga secara saksama.
"Apa maksudmu tak ada pernikahan?" Daphne melengking nyaring, getaran suara tingginya membuat dedaunan rimbun yang menaungi mereka rontok seperti terpangkas gunting raksasa.
"Maksudnya, aku dan kau tak akan pernah menikah," Nott menjawab lugas, menekankan keras-keras di kalimat 'tak akan pernah menikah'.
Desisan kaget Mister Nott dan Daphne berdengung bersamaan. Meremas pundak putranya, mata hijau Mister Nott bersorak gembira, bertolak belakang dengan kilat setara petir yang berkelebat di selaput pelangi Daphne.
"Tak bisa! Aku dan kau harus menikah! Rencana pernikahan kita sudah diketahui seisi dunia!"
"Kalau begitu, dibatalkan saja," tukas Nott enteng, seenteng saat dirinya membatalkan janji dengan petinggi Alrosa. Penundaan sepihak yang membuat pejabat perusahaan berlian terkemuka itu mencak-mencak tak terkendali.
"Mana bisa!" Daphne menjerit kencang seperti monyet ayan kejepit kerangkeng. Lagi-lagi teriakan menggelegar yang merobek angkasa itu membuat daun-daun rindang jatuh berguguran.
Menyepakkan sepatu sandal berbulu berhak tinggi kuat-kuat (Nott mendengus, yakin kalau dirinya-lah yang harus mengganti biaya reparasi jika alas kaki elit itu rusak), Daphne mengepalkan tangan ke udara, meninju sekelompok burung murai kecil yang kebetulan melintas.
"Mau ditaruh di mana mukaku? Semua bangsa darah murni di dunia sudah tahu kalau kita akan menikah!" Daphne menggerung beringas, mengingatkan Nott akan sosok sundel bolong ompong yang termuat di lembaran buku sejarah.
"Taruh saja muka sombongmu di tas belanjaan yang masih kosong," Nott mencibir sekenanya, mati-matian menahan tawa saat kemarahan luar biasa membuat wajah Daphne yang secantik bunga liar mengerut seperti gombal kusut.
"Jangan main-main, Theodore Nott!" Daphne berteriak kasar, mengeluarkan jeritan kesetanan yang paling berbahaya. Mata cokelat terangnya menari liar di dalam rongga, berpadu harmonis dengan denyut kemerahan yang merambati pelipis dan urat leher.
"Aku tidak main-main. Perkawinan kita dibatalkan!" ujar Nott tegas, menghela napas singkat saat dekutan marah Daphne menggelegar di seantero padang rumput.
"Oh, oh, oh. Tak semudah itu, Theo. Kau tidak bisa melemparku seperti mencampakkan bungkus permen yang sudah tak terpakai," Daphne tampaknya bisa memperoleh ketenangan kembali setelah membuang napas berulang-ulang. Memandangi padang rumput seindah taman firdaus dan istana besar yang bertengger elegan, seringai culas menghiasi bibir Daphne yang sewarna ceri ranum.
"Hati-hati, Theo. Sepertinya monster air jalang ini merencanakan sesuatu," Mister Nott menaruh dua telunjuk di atas kepala sampai membentuk tanduk, mengernyit bingung saat putranya mengangguk tangkas, tampak siap menghadapi manuver mematikan yang menunggu.
"Kau pikir aku akan menangis tersedu-sedu dan pasrah menerima nasibku? Ow, ow. Tidak, Sayang. Tidak!" geram Daphne sarkastik. Menyibakkan rambut kemilau indah yang tergerai megah, Daphne mengangkat wajah seangkuh mungkin. Jari telunjuknya yang dicat merah menyala teracung ke pintu kastil Nott Manor yang seindah istana surga.
"Jika kau ingin membatalkan pernikahan kita, harus ada ganti rugi! Aku minta seluruh aset, termasuk istana utama, rumah perkebunan dan semua perusahaan di dunia!" Daphne mengeluarkan jurus pamungkas. Tuntutan permintaan yang membuat Mister Nott terlonjak murka, menguarkan kemarahan yang menyembur seperti letupan lahar panas.
"Jangan seenaknya, Miss Greengrass! Apa kau tak puas menggerogoti anakku selama ini?"
"Ya, aku belum puas, Pak Tua," Daphne mendamprat kejam, menyemburkan ludah kemarahan tepat di muka Mister Nott yang mengejang berang.
"Kalau Theo tak ingin menikahiku, ia harus membayar kompensasi. Hitung-hitung uang penebus rasa malu," lanjut Daphne lancar, menatap rakus seisi padang rumput dan lanskap bukit hijau berangin yang mengelilingi.
"Cuma itu permintaanmu, Daph?" Nott bertanya pendek, bangkit berdiri dan menepuk-nepuk rumput yang menempel di celana Quidditch. Di sisi kiri, Mister Nott mengepalkan buku-buku jari, tampak berhasrat mempermak wajah loba Daphne dengan tinju tangan kosong.
"Aku minta semua aset milikmu, Theo. Semua. Dengan kata lain, kau dan ayahmu harus meninggalkan kastil ini tanpa uang sepeser pun," Daphne menyeringai serakah, menelusuri profil maskulin Nott dengan malas-malasan.
"Yah, karena aku berbaik hati, aku tidak meminta baju dan semua benda yang kau pakai saat ini," Daphne terkekeh geli, nyengir sinting membayangkan Nott dan ayahnya berjalan telanjang bulat tanpa busana seperti orang gila.
"Mana bisa begitu," Mister Nott melabrak tak mau kalah, meringis tajam saat tangan kekarnya yang hendak menampar pipi sombong Daphne digamit anaknya.
"Biarkan saja, Father. Aku rela dia memiliki semuanya."
"Tapi, kau kerja keras bertahun-tahun untuk mengumpulkan semua harta. Bukankah kau dulu bilang tak bisa hidup tanpa benda mewah berkilauan?" sambar Mister Nott tak percaya, menghentak pundak anaknya yang berdiri menjulang.
"Iya, Theo. Bukankah kau tak akan bisa bertahan hidup tanpa barang bermerek?" Daphne mengulangi dengan nada datar dan sinis, intonasi penuh cemooh tersirat jelas di setiap konsonan kalimat yang diutarakan.
"Aku tak peduli pada harta asalkan aku bisa lepas darimu, Daph," cetus Nott ligas, mengacungkan tongkat sihir ke arah Daphne yang terkesiap kaget, tersentak mundur ke belakang seakan-akan Nott telah menggamparnya habis-habisan.
"Jangan takut, Daph. Aku tak akan mengutukmu jadi kumbang pupuk. Aku hanya ingin melegalkan janji kita dengan Sumpah Tak Terlanggar," ucap Nott tenang, menyembunyikan tawa saat melihat kekagetan Daphne yang menggelikan.
"Oh," sela Daphne lega, memegang tulang dada erat-erat. Bagaimanapun juga, ketakutannya beralasan sebab saat ini Nott menatapnya dengan sorot muak, melihat seolah-olah dirinya tak ubahnya kutu busuk yang bermandikan iler Troll.
"Jadi, kau setuju menyerahkan semua aset dan harta padaku, baik di dunia Muggle maupun alam sihir?" keserakahan Daphne kembali dalam sekejap, wajah anggun dan khasnya yang secantik putri salju di negeri dongeng berbinar-binar seperti surya musim panas. Dari gelagat yang terlihat, tampak jelas kalau setan neraka celaka penggila budaya pop itu tak sabar untuk segera berguling-guling di antara koin emas Galleon yang susah payah dikumpulkan Nott.
"Ya, semuanya. Asalkan kau setuju untuk membatalkan pertunangan kita secara elegan. Satu lagi, aku tak mau ada caci-maki atau publikasi murahan yang mengiringi pembatalan ini," tekan Nott mantap, mengintimidasi Daphne dengan mata hijau gelap yang tak berkedip sedetikpun.
"Baiklah. Aku berjanji," seru Daphne tak sabar, menyorongkan tangan untuk memulai proses Sumpah Tak Terlanggar. Seiring dengan janji yang terlafadz dan terjalinnya pita sihir yang mengikat mereka, benak Nott dan Daphne dipenuhi pikiran berbeda-beda.
Jika Daphne memvisualisasikan dirinya bergelimangan harta gratisan, Nott membayangkan masa depan barunya bersama Hermione. Bersama seorang penyihir yang pernah dicampakkan dan ditinggalkannya.
Seorang penyihir yang ternyata merupakan cinta sejatinya...
"Sejatinya, semua anak tahun ketiga harus sudah menguasai proses mentransfigurasi meja menjadi kuda."
Menghela napas singkat, Neville Longbottom memutar bola mata tak percaya mendengar penjabaran tegas tersebut. Di seberang meja, Luna Lovegood duduk terbengong-bengong, asyik memikirkan cara mengolah telur salamander untuk camilan tengah malam nanti. Salamander sendiri merupakan reptil berbentuk mirip kadal yang tinggal di dalam api.
"Tapi, tak semua anak kelas tiga bisa menguasai ilmu serumit itu, Hermione," Neville menutup buku absensi murid dan meletakkan bundelan penting tersebut di dalam lemari kabinet empat laci, bergabung bersama gulungan diagram Kol Kunyah China yang menumpuk gila-gilaan.
"Kau harus ingat, Hermione. Tak semua pelajar Hogwarts sejenius dirimu," tambah Neville sabar, memindahkan selot laci kabinet sebelum mengunci isi lemari dengan Mantra Segel.
Menarik napas tak puas, Hermione menggigiti ujung pena bulu kucing belang-belang. Terkadang, keinginan mentransfer ilmu sedalam mungkin membuat Hermione lupa kalau siswa Hogwarts memiliki beraneka ragam bentuk otak. Ada yang encer, bebal, kecil seperti telur cicak atau keruh seperti kabut ruangan kelas Ramalan Profesor Sybill Trelawney.
"Kau benar, Neville. Mungkin aku harus merevisi program pengajaran," desis Hermione kalah, mencorat-coret gulungan perkamen daftar jadwal pelajaran dengan pena bulu kucing yang setengah bopeng-bopeng.
"Tenang, Hermione. Nanti kau juga terbiasa. Kau baru dua bulan mengajar di sini," urai Neville menenteramkan, mengelus-elus rambut gelombang Hermione yang diikat kusut dengan penuh kasih sayang.
"Ngomong-ngomong tentang baru mengajar, apa kau tahu guru Arithmancy yang baru tiba tadi pagi?" Madam Rolanda Hooch, wasit pertandingan Quidditch merangkap guru Pelajaran Terbang yang sedari tadi asyik menyantap kue keju mendadak buka suara. Mata kuning tajam Madam Hooch yang berkilat seperti elang menatap lurus ke arah Hermione yang masih menyalin ulang program pendidikan.
"Tidak. Kami tidak tahu siapa yang terpilih menggantikan Septima Vector," jawab Neville, mengelengkan kepala hitam yang tak lagi bulat bundar. Seiring pertumbuhan waktu, Neville Longbottom yang pelupa, gemuk dan kikuk memang tumbuh menjadi pria gagah berani yang piawai menangani seluk-beluk dunia Herbologi.
"Theodore Nott," Madam Hooch mengerutkan mulut sembari mendesis berang, membuat sisa-sisa kue kering yang belum terkunyah tersembur dan berterbangan ke kepala Luna yang masih melayang di awang-awang.
"Theodore Nott?" Neville dan Hermione berseru bersamaan. Luna yang tengah melamun pun kembali tersadar, menggoyang-goyangkan rambut pirang panjang yang dicemari serpihan kue kering Madam Hooch.
"Iya, Theodore Nott yang itu. Mantan suami bajinganmu, Hermione," geram Madam Hooch, mengertakkan gigi rapat-rapat. Semenjak tiba di Hogwarts, September lalu, Hermione memang sudah mendulang banyak empati dari bekas guru yang kini menjadi partner kerja.
Terkuaknya kenyataan bahwa Hermione cuma korban dari konspirasi keji Nott dan Daphne Greengrass membuat simpati yang diraih Hermione semakin bertambah-tambah. Tak heran jika kedatangan Nott sebagai mentor Arithmancy membuat seisi ruang guru Hogwarts geger seperti sarang lebah.
"Mau apa Nott mengajar di sini? Mau berbuat onar lebih jauh lagi?" Bathsheda Babbling, pengajar Rune Kuno mengernyitkan wajah kendur bergelambir yang dipenuhi garis kerut. Mata awas sewarna kelam malam miliknya memicing sebal, makin mengeras saat Hermione mengangkat sebelah bahu.
"Ini negara bebas, Bathsheda. Kita tak bisa melarang Nott untuk berbakti di Hogwarts. Apalagi jika ia sudah lulus uji kompetensi yang diisyaratkan Minerva," jelas Hermione ringkas, mengingatkan koleganya akan tes kemampuan super sulit yang digagas Kepala Sekolah Hogwarts, Minerva McGonagall.
"Mungkin Nott berkarier di Hogwarts karena sudah tak punya lahan nafkah lain?" suara melamun Luna membuat banyak kepala yang memadati ruang guru menengok cepat. Memutar-mutar kalung gabus botol Butterbeer, Luna kembali menguarkan nada sayup-sayup yang mendayu-dayu.
"Seperti yang kita ketahui bersama, Nott sudah kehilangan seluruh harta benda. Dia bukan raja bank dan jutawan konsultan bisnis lagi. Mungkin dia ingin memulai lagi dari nol dengan jalan buang jangkar dan mencari makan di Hogwarts," beber Luna syahdu, menerawang hampa menatap sekawanan serangga kecil bersayap renda yang berjoget jumpalitan di atas langit-langit ruangan.
Gerutuan samar mengiringi penjelasan masuk di akal itu. Seperti yang dikatakan Luna dan yang diketahui seluruh penyihir di dunia, Nott bukan lagi miliuner muda yang dihormati.
Semenjak membatalkan rencana pernikahan dengan Daphne Greengrass, Nott langsung terjun ke garis kemiskinan. Dari kasak-kusuk yang berkembang, Nott merelakan hartanya melayang agar bisa terlepas dari jerat pernikahan tak diinginkan.
Sebenarnya, saat berita tentang pembatalan pernikahan yang santer disebut-sebut bakal menjadi pernikahan termegah abad ini dimuat di banyak media internasional, Hermione tak terlalu peduli. Hermione juga acuh tak acuh saat membaca surat dari Mister Nott yang mengisahkan tentang arogansi dosa dan keserakahan teritorial Daphne dalam menyita seluruh aset putranya.
Di mata Hermione, ketidakpedulian itu bukan disebabkan oleh dendam kesumat melainkan oleh kesadaran bahwa Nott sudah bukan lagi bagian dari kisah hidupnya. Bagi Hermione, Nott cuma orang asing dalam alur hidupnya. Cuma sebintik aib di kaki langit hidup barunya yang putih bersih.
Dengan prinsip seperti itu, tak heran jika Hermione tidak terlalu memusingkan rencana Nott untuk bekerja di Hogwarts. Bagi Hermione, silahkan saja Nott berbuat sesukanya sebab pada dasarnya ia sudah tak lagi peduli pada pria yang pernah menyia-nyiakan cintanya.
Keributan yang mewarnai ruang guru teredam ketika dua sosok muncul dari balik pintu. Memakai jubah hijau zamrud yang biasa, Profesor Minerva McGonagall berdiri tegak, didampingi seorang penyihir berkostum jubah kerja sederhana. Pria yang masih tampak seperti profesional muda berkharisma meski tak lagi berkostum necis seperti sebelumnya.
Theodore Nott...
Desisan nama yang diucapkan bertalu-talu membuat Nott menahan seringai bersahabat yang sudah siap tayang di sudut bibir. Menepis tatapan permusuhan yang menyorot bertubi-tubi, Nott memandang berkeliling. Manik hijau lumut Nott tertumbuk pada satu sosok yang tengah asyik menulis di kertas albumin. Sosok penyihir berambut ikal cokelat lebat yang duduk tenang di bangku tengah ruangan.
Hermione...
Tampaknya, Nott membisikkan nama Hermione terlampau keras sebab Profesor McGonagall yang berdiri di samping kiri berdeham kencang. Maju ke ruang guru dalam langkah-langkah tegas yang khas, Profesor McGonagall tanpa berbasa-basi memperkenalkan Nott sebagai salah satu staf pengajar baru di Hogwarts.
"Mulai sekarang, Mr Nott akan mengajar Arithmancy, bidang hitung-menghitung yang aku yakin sangat dikuasainya," Profesor McGonagall melempar senyum langka pada Nott. Mata manik-manik cemerlang Profesor McGonagall yang terbalut kacamata persegi berbingkai tipis menatap ramah, membuat sejumlah guru berdecak kesal.
Setelah mengucapkan sapaan santun, Nott dipersilahkan duduk di bangku yang tersedia. Seakan dikomando oleh instruktur upacara tak kasat mata, Madam Hooch dan Neville Longbottom bertengger cepat-cepat di kursi samping kiri dan kanan Hermione. Efektif memupus keinginan Nott untuk menghenyakkan pantat seksi di sebelah mantan istrinya.
Bagi Nott, sambutan dingin yang diberikan teman sekerjanya tak ada apa-apanya dibandingkan respon beku yang diberikan Hermione. Sewaktu perkenalan tadi pun, Hermione hanya mengangkat wajah sejenak sebelum kembali bergelut dengan kesibukan semula.
Saat dering bel tanda pelajaran siang dimulai pun, Hermione bergegas keluar ruang guru tanpa sekalipun menoleh ke arahnya. Kekerasan sikap Hermione kian diperparah dengan aksi senada yang diperlihatkan kamerad terdekatnya, Luna Lovegood dan Neville Longbottom yang dengan setia mengawal Hermione di kiri dan kanan, membuat Nott tak bisa merendengi Hermione sepanjang perjalanan menuju kelas.
"Jangan cemas, Mr Nott. Cepat atau lambat Hermione pasti akan memahami kesungguhan niatmu."
Menengok ke arah si empunya suara, sudut bibir Nott membentuk senyum murung. Rupanya, kesedihan Nott karena diabaikan oleh Hermione diamat-amati oleh Profesor McGonagall. Terbukti ketika bekas Kepala Asrama Gryffindor itu berbaik hati membesarkan semangat juang bekas anak didiknya.
"Ya, Profesor-Kepala. Saya juga tak akan menyerah semudah itu," janji Nott tulus, tersenyum saat mantan guru Transfigurasi paling disegani itu mengangguk setuju.
"Baiklah kalau begitu. Nah, sebaiknya sekarang kau segera pergi mengajar. Murid-murid kelas tiga pasti sudah menantimu dari tadi," Profesor McGonagall memandang terenyuh, menepuk lengan Nott dengan keibuan.
Mengirimkan senyum hormat terakhir, Nott beringsut meninggalkan ruang guru dengan kepala tegak. Setegak tekad yang terus diulang-ulang dalam benak.
"Kau bisa berlari tapi tak bisa bersembunyi, Hermione. Apapun yang terjadi, aku pasti bisa merebut cintamu lagi. Apapun yang terjadi, kau pasti menjadi istriku lagi. Pendamping hidupku selamanya..."
Seperti yang diamanatkan, Nott tak pernah lelah mengejar Hermione. Kendatipun pengawalan pagar betis Hermione tak berkurang, ia selalu punya jurus mutakhir untuk mendekati bekas istrinya itu (terima kasih banyak untuk siasat akal bulus khas alumni Slytherin tentunya).
Seusai mengajar misalnya, Nott tak pernah bosan menunggui Hermione, yang masih bertahan lama di kelas untuk memberi bonus latihan ganda pada murid-muridnya. Mengabaikan tatapan bisu Hermione, Nott dengan jantan mengawal Hermione sepanjang perjalanan menuju ruang guru.
Saat sarapan, makan siang dan makan malam di Aula Besar pun, Nott pasti duduk di samping Hermione setelah dengan kekuatan ekstra menggilas Neville yang biasa bercokol di sisi Hermione.
Tak menghiraukan pelototan beberapa guru, Nott tanpa sungkan-sungkan memenuhi piring Hermione dengan berbagai aneka makanan kesukaan Hermione (pai sayur, sup daun selada dan salad tuna). Jenis kuliner favorit yang diingat Nott selalu disantap Hermione saat penyihir keriting bersuara manis itu masih menjadi istrinya.
Selepas makan malam, di jam-jam patroli para guru, Nott pasti punya cara untuk bisa berpatroli bersama Hermione. Mau tak mau, strategi gencar Nott tentu meruntuhkan benteng ketidakpedulian Hermione. Hermione yang selama ini tak pernah berkomentar tentang aksi-aksi Nott akhirnya meledak dan membuka sumbat mulut yang terkatup rapat.
"Tak bisakah kau membiarkanku hidup tenang, Nott?" Hermione menggeram kasar, membelalakkan mata lebar-lebar ke sekumpulan siswa kelas enam yang berkerumun di sekitar selasar. Ngeri melihat nyala api di mata Hermione, gerombolan murid kurang kerjaan tersebut lari terbirit-birit menyelamatkan diri.
Sepeninggal pelajar yang pastilah mengekori untuk mendapatkan gosip lokal bombastis (kapan lagi bisa menyaksikan adu berdarah mantan suami-istri yang perceraiannya sempat menjadi berita utama media selama berminggu-minggu?) Hermione mendesah puas.
Setidaknya, suasana koridor yang kosong akan memudahkannya jika ia kebablasan ingin menghajar Nott dengan Kutukan Kuping Kedut atau Mantra Pengubah Bentuk.
Awalnya Hermione memang tak peduli saat Nott menyodorkan sikap sok hangat di depan hidungnya. Berpatokan pada pengalaman masa lalu, Hermione meyakini kalau aksi bersahabat itu cuma bagian dari plot baru Nott untuk mempermalukan dirinya habis-habisan.
Memang sih Nott sudah berpisah untuk selamanya dari si tengik Daphne Greengrass, tapi siapa tahu? Ular memang bisa berganti kulit, tapi pada hakekatnya ya tetap ular. Reptil berlidah bercabang dua yang tak bisa dipercaya omongannya.
Namun, kegigihan daya juang Nott untuk mendekati dan berakrab-akrab ria mulai membuat Hermione terusik. Kesebalan Hermione kian menebal saat parade kasih sayang Nott mulai mendapat dukungan dari beberapa guru yang dulu sempat mengibarkan bendera perang pada mantan pemilik armada galangan kapal terkemuka itu.
Oh ya, terkadang Hermione mengutuki daya tarik tak terbatas dan kesempurnaan maskulin yang dimiliki mantan suaminya. Bayangkan saja, Madam Rolanda Hooch dan Madam Bathsheda Babbling yang semula mau muntah jika melihat muka Nott kini kasihan dan bersimpati, mendukung habis-habisan semua kiprah lelaki bersuara seksi itu.
Setiap bertemu muka, Madam Hooch dan Madam Babbling bahkan tak henti-hentinya membujuk Hermione untuk memberi kesempatan kedua pada lelaki yang pernah mengkhianatinya itu. Tak sekali dua kali mereka mendesak Hermione agar membuka pintu maaf untuk bajingan brutal yang pernah menyakiti dan mencabik-cabik hatinya.
Pria yang kini tengah menatap lekat-lekat dengan sorot memuja dan penuh damba...
Mengepit buku-buku setebal beton di dada, Hermione mengangkat hidung tinggi-tinggi. Oh ya, Nott boleh-boleh saja meluncurkan sorot jendela jiwa yang bisa membengkokkan iman insan paling alim sekalipun. Tapi, sesuai perkataan dahulu, dirinya yang mencintai Theodore Nott sudah mati. Jadi, sebaik apapun Nott berusaha, ia tetap tak tergugah dan tak akan berubah.
"Aku tak mau tahu agenda busuk apa yang tengah kau susun, Nott. Aku tak peduli secuil pun padamu!" hardik Hermione hilang sabar, gemas setengah mati melihat senyum sabar yang terulas di bibir mantan suaminya.
"Aku tak bermaksud buruk, Hermione. Aku hanya ingin menebus dosa yang pernah aku perbuat padamu," jawab Nott pelan, menekan mati-matian getar pilu yang muncul saat melihat selubung kelam yang menaungi mata cokelat Hermione. Mata yang dulu bersinar tembus pandang itu kini menggelap, menutup apapun perasaan yang tengah berkecamuk di dada pemiliknya.
"Dosa apa misalnya?" tantang Hermione, memiringkan hidung ke udara tinggi-tinggi. Mata cokelat Hermione menyipit sinis, mengirimkan berjuta-juta luka sayatan ke sukma Nott.
"Yah, aku mau minta maaf karena pernah membohongimu," gumam Nott parau, menggosok leher belakang perlahan-lahan. Maju selangkah, meringis dalam rasa perih saat Hermione mundur dua langkah, Nott terbungkam sebelum melanjutkan pengakuan dosa.
"Aku minta maaf karena pernah mengkhianatimu. Aku minta maaf karena menyakiti hatimu. Aku minta maaf karena menghancurkan kariermu," ujar Nott, mengakhiri penjelasan dengan seulas senyum permohonan.
Untuk sesaat, kesunyian melingkupi koridor yang jarang dilewati anak manusia itu. Sepasukan baju zirah yang biasanya menari rumba pun berdiri mematung. Mati-matian menahan napas menanti respon dari Hermione menyusul permintaan maaf super-langka. Permintaan maaf yang keluar dari bibir alumni Slytherin, asrama yang terkenal berharga diri tinggi dan paling alergi memohon pengampunan.
"Yang paling penting, aku minta maaf karena menyia-nyiakan cintamu," bisik Nott lirih, memandang Hermione dalam-dalam dengan manik hijau kuyu yang buram.
Permohonan minta maaf yang terdengar tulus membuat perang batin berkecamuk di tubuh Hermione. Jika mengikuti ego dan sakit hati, Hermione pasti langsung meludahi Nott, meracau berapi-api menuding Nott cuma bersilat lidah semata.
Namun, sisi moral sebagai alumni Gryffindor memekik lantang, menyuarakan bahwa Tuhan saja bisa memaafkan, apalagi manusia biasa seperti dirinya.
"Permintaan maafmu diterima, Nott," Hermione menjawab dingin, sengaja menyembunyikan kalimat lain yang muncul di dalam pikiran. Forgiven but not forgotten. Memaafkan tapi tak melupakan.
"Terima kasih, Hermione," ujar Nott sumringah, menjulurkan tangan dan bersikap seakan dirinya berniat memeluk Hermione erat-erat. Menyadari gelagat yang tak diinginkan, Hermione mundur ke belakang, memasang sikap defensif maksimum.
"Aku mungkin sudah memaafkanmu, Nott. Tapi, masa lalu tak bisa dihapus. Jadi, jangan berharap terlalu banyak," Hermione memperingatkan dengan dingin sebelum memutar tumit dengan kecepatan tinggi.
"Aku mencintaimu, Hermione."
Menengok pelan-pelan dari balik pundak, Hermione tersenyum dingin. Senyuman beku yang membuat darah Nott berhenti berdesir. Hati Nott kian tercabik-cabik saat matanya mencermati ekspresi datar Hermione. Tak ada lagi rona merah muda menggemaskan yang merayapi tulang pipi. Warna malu-malu yang di masa lalu selalu hadir setiapkali Nott menyatakan kalimat serupa.
"Aku tidak mencintaimu, Theodore Nott."
Melengos cepat, Hermione melangkah pergi meninggalkan Nott yang masih berdiri tertegun. Setiap hentakan langkah Hermione berdentum-dentum di gendang telinga. Bersaing dengan kalimat balasan yang membuat lubang berdarah di hati kian menganga.
"Aku tidak mencintaimu, Theodore Nott..."
Memutar kenop ruang kantor, Nott mengayun pintu hingga terbuka. Sebelum memasuki ruangan yang remang-remang, Nott merapalkan Mantra Homenum Revelio, jampi-jampi untuk mendeteksi keberadaan manusia di sekitarnya.
Bukan tanpa alasan jika Nott selalu mengucapkan mantra sebelum masuk ke ruang pribadinya. Nott tentu tak mau insiden penyusupan yang terjadi dua hari lalu terulang kembali. Kala itu, tiga siswi Slytherin tahun ketujuh menyelundup masuk ke ruang kantor merangkap kediamannya itu.
Untung saja Nott terkenal gesit berkelit sehingga bisa lolos dari perangkap murid kegatelan. Tiga remaja perempuan tak tahu malu yang langsung didetensi dengan sanksi menyikat gigi sekawanan Centaur pemarah di pedalaman Hutan Terlarang.
Puas melihat tak ada tanda-tanda kehadiran makhluk hidup selain dirinya, Nott masuk ke ruangan. Menutup pintu dan menguncinya dengan Mantra Penyegel, Nott menyalakan lampu dan api perapian dengan lambaian tongkat sihir.
Meletakkan buku-buku Arithmancy dan lembaran perkamen PR para siswa di meja mika putih, Nott melempar jubah ke sembarang arah. Menerawang hampa memandangi nyala api yang berkobar-kobar, Nott membuka sebagian kancing kemeja katun. Menghempaskan diri di ranjang dan berguling menelentang, Nott berbaring setengah telanjang. Mata hijaunya yang menyala suram menatap langit-langit cekung yang bersih dari debu.
"Aku tidak mencintaimu, Theodore Nott."
Ingatan tentang perkataan Hermione membuat kepala Nott berdenyut mengerikan. Semestinya, ia sudah terbiasa dengan perlakuan dingin itu mengingat besarnya dosa yang diperbuat.
Tapi, entah mengapa, pengakuan Hermione serta kenyataan bahwa mantan istrinya tengah berkencan dengan pria lain terus meneror Nott. Membuat sisi dominan maskulin dalam diri meraung tak mau kalah.
Tak mau kalah...
Ya, mana mau Nott mengaku kalah seperti anjing kurapan yang menekuk ekor? Bukankah demi misi meraih cinta Hermione ia rela melepaskan semua harta benda? Membuang aset berharga triliunan Galleon yang selama ini dibangga-banggakan?
Bukankah demi tujuan mendapatkan kembali hati Hermione, ia rela mengubah gaya hidup? Dari yang selalu mentereng dan bermerek menjadi serba sederhana dan kekurangan?
Sebelum bekerja di Hogwarts saja, Nott sudah bersabar tinggal di flat kumuh di Diagon Alley. Menetap di kamar sempit yang layak disebut sebagai tempat pembuangan sampah sementara.
Mengingat flat pengap yang disewa dengan susah payah, ingatan Nott terbang ke sosok ayahnya. Tadinya, Nott mengira ayahnya yang terbiasa hidup mewah akan sulit menerima perubahan.
Tak dinyana, ayahnya, si mantan pejabat Pelahap Maut yang terkenal dan terbiasa hidup enak seumur hidup (kecuali saat meringkuk di terali Azkaban tentunya) dengan berbesar hati menerima suratan nasib.
Tak pernah sekalipun ayahnya mengeluhkan kondisi mereka yang miskin semiskinnya. Tak pernah sekalipun ayahnya menyalahkan dirinya yang nekat menuruti permintaan Daphne yang tak tahu diuntung itu. Ayahnya bahkan mendukung total niatnya untuk mengejar Hermione sampai ke Hogwarts.
Hogwarts...
Begitu mengetahui Hermione berbakti di kompleks sekolah Hogwarts, Nott tanpa kenal lelah mencari informasi yang bisa memungkinkannya berkarier di bekas sekolahnya. Setiap hari Nott mengambil koran bekas dari tong sampah, berharap bisa menemukan lowongan di kastil penuh menara itu.
Bahkan, saking inginnya hidup bersama Hermione, ia rela jika dirinya harus kerja serabutan di Hogwarts, menggosok tentakel berlendir cumi-cumi raksasa penghuni Danau Hitam misalnya.
Untungnya, sebelum Nott memasrahkan diri bertugas mengampelas sungut cumi-cumi raksasa, kabar baik datang menghampiri. Seolah digariskan oleh takdir, Profesor Septima Vector, guru Arithmancy Hogwarts mengirimkan surat burung hantu padanya.
Di surat itu, penyihir berkharisma yang keranjingan memberikan segudang esai dan tugas tambahan bertanya apakah Nott bersedia menggantikan posisinya sebagai pengajar Arithmancy di Hogwarts.
Tak ayal, permintaan penuh berkah itu nyaris membuat Nott bermandikan air mata bahagia. Rupanya, Profesor Vector mengetahui nasib Nott dan memutuskan memberi peluang kepada salah satu murid kesayangannya.
Begitulah, bermodal bantuan Profesor Vector, Nott berpeluang ikut tes kualifikasi yang diwajibkan bagi setiap calon pengajar. Di ujian sulit itu, Nott kembali bertemu muka dengan bekas Kepala Asrama Hermione, Profesor Minerva McGonagall yang kini menduduki kursi Kepala Sekolah Hogwarts.
Seperti yang diingat Nott semasa remaja, Profesor McGonagall tetaplah seorang penyihir disiplin yang sangat peduli pada anak asramanya. Berkotek-kotek seperti induk ayam yang gelisah, Profesor McGonagall berkokok ribut menginterogasi alasan Nott mengajar di Hogwarts.
Saat Nott mengaku bahwa dirinya ke Hogwarts untuk mengejar dan membahagiakan Hermione (Nott bahkan rela pikirannya dibaca oleh Profesor McGonagall), kekerasan hati mantan guru Transfigurasi itu pecah. Seperti Profesor Vector yang pensiun dini, penyihir tua dengan mata manik-manik cemerlang itu pun menyokong tekadnya untuk meraih kembali cinta Hermione.
Selain terketuk oleh niat tulus murni, Nott yakin Profesor McGonagall bersedia membekingi karena tersentuh dengan pengorbanan kerasnya dalam membebaskan empat peri rumah yang semula mengabdi di Nott Manor.
Memang, sesuai dengan janji, Nott merelakan Daphne menguasai seluruh infrastruktur dan harta pribadinya, termasuk empat peri rumah yang bercokol di Nott Manor. Meski demikian, Nott tak berpangku tangan melihat kebrutalan cara Daphne dalam memperlakukan peri-peri rumah tak berdosa.
Bermodalkan sapu balap bertahtakan opal dan permata (untung saja Daphne tak latah menyita sapu terbang mahal yang dilengkapi kompas sapu dan alarm anti maling), Nott membebaskan empat peri rumah malang tersebut. Awalnya, Daphne tak mau melepaskan budak belian miliknya. Namun, bujukan Astoria mampu melumpuhkan kebejatan tekad Daphne.
Astoria...
Menatap langit-langit batu yang redup, Nott mengilaskan senyum sumir. Terkadang, ia suka heran sendiri dengan sikap Astoria yang berbanding terbalik dengan kakaknya. Tak seperti penyihir berdarah murni lain, Astoria tergolong langka. Tak hanya cantik fisik, gadis penyuka pergaulan modis itu juga berhati elok dan gemar menolong.
Memejamkan mata, Nott mereka ulang kembali proses pembebasan peri rumah yang berlangsung di taman belakang Nott Manor. Puri megah seindah kastil surgawi yang kini berganti nama menjadi Hall of Daphne.
"Membebaskan empat peri rumah? Ow! Harganya tentu tak murah, Theo Sayang."
Nott mencebik sebal mendengar tanggapan sok manja itu. Melipat kaki dengan gaya nakal, Daphne dengan angkuh memilin rambut cokelat panjang yang terjurai mengilat. Mata tajamnya berpendar remeh saat mencermati tubuh Nott yang terbungkus jubah bekas bertambal sulam.
"Sebut saja harganya, Daph! Aku punya uang lebih dari cukup," balas Theo habis sabar, melempar berkantung-kantung Galleon hasil penjualan seragam Quidditch dan sapu balap superior ke pangkuan Daphne yang duduk dalam posisi menantang.
"Yah, ini masih kurang, Theo," Daphne berbohong dengan senyum manis terbaik, jemari tamak miliknya yang terbungkus sarung tangan panjang dengan cermat menghitung gundukan Galleon mengilap yang bercokol di pangkuan. Di samping Nott, mata kanak-kanak Astoria yang bercahaya melotot murka, tampak kecewa menyaksikan keserakahan saudari kandungnya.
"Kalau begitu, tambah ini," Nott menggeram rendah di tenggorokan, menghempaskan tiga bundelan Galleon ke tangan Daphne yang masih sibuk menghitung.
Merengut menggoda, mata cokelat krim Daphne menyipit rakus. Nott tahu kalau uang yang diberikannya lebih dari cukup, tapi Daphne pasti sengaja berbelit-belit hanya untuk membuatnya sembelit.
"Lepaskan empat peri rumah itu, Daph! Theo sudah membayar lebih," teriakan Astoria mengagetkan Daphne dan Nott. Melotot tak terima, Daphne buru-buru meraup dan memasukkan bergunuk-gunuk koin emas ke kantung gaun.
"Jangan ikut campur, Tori!"
Bentakan Daphne rupanya dianggap angin lalu oleh Astoria. Maju dalam langkah cepat, Astoria duduk bersimpuh di kaki Daphne, tanpa sungkan meminta belas kasih saudara sedarahnya.
"Ayolah, Daph. Kau juga tak butuh empat peri rumah itu, kan? Kau sudah punya banyak peri rumah dari Mother," Astoria membujuk sepersuasif mungkin, mengerjap-ngerjapkan mata cokelat bening dengan gerakan kekanak-kanakan.
Menggerutu tak jelas, Daphne akhirnya mengalah. Menahan senyuman, Nott melihat Daphne dengan malas-malasan berteriak menuntut empat peri rumahnya untuk segera muncul di hadapannya.
Ya, meskipun curang dan korup, Daphne terkenal sangat menyayangi adiknya. Tak heran jika penyihir secantik dewi bulan itu tak bisa berkutik saat adik tercintanya berlutut sambil memohon-mohon.
"Tuh, ambil saja gembel itu!" hardik Daphne, tanpa belas kasih menendang empat peri rumah perempuan berkostum rombeng. Manik cokelat gemintangnya menyipit ganas saat Nott membungkuk dan mengangkat empat peri rumah yang merayap terseok-seok.
"Perhatian sekali kau pada makhluk jelek itu! Ketularan kampanye S.P.E.W rupanya?" cemooh Daphne tajam, dengan penuh penghinaan menyebutkan nama program perlindungan peri rumah yang dipelopori Hermione.
Melempar senyum lebar, Nott mengangguk singkat. Untuk mendapatkan kembali simpati dan hati Hermione, ia memang rela melakukan apapun. Termasuk membebaskan peri rumah dari perbudakan, kegiatan kemanusiaan yang tanpa henti dilakukan Hermione sejak bertahun-tahun silam.
"Mau kau apakan peri buangan itu?" Daphne memandang congkak dari bawah kelopak mata. Sudut bibirnya berkedut keji saat bertatapan dengan empat pasang mata bulat peri yang berair dan bergelambir.
"Aku akan membawa mereka ke Hogwarts. Di sana mereka bisa bekerja di Dapur Hogwarts," jawab Theo lugas, menunduk dan meminta keempat peri rumahnya untuk ber-Disapparate ke flat sumpek miliknya di Diagon Alley.
Seirama dengan bunyi plop yang menandakan kepergian para peri rumah, tawa mengejek Daphne mengalun riang di halaman sejuk berangin. Menumpukan kedua tangan di pinggul, lady darah biru berhati segelap malam itu kembali berceloteh remeh.
"Hogwarts? Ya Tuhan, jadi desas-desus yang kudengar kalau kau akan bekerja di Hogwarts bulan ini benar adanya?" Daphne mendengus dengan tidak anggun, sinar mencela bersinar-sinar menyala di pupil coklat pasir yang berpijar menghina.
"Tampaknya kau benar-benar mencintai si Granger ya? Sampai-sampai nekat mengejar jalang busuk itu ke pelosok Skotlandia sana."
Menyunggingkan seringai hangat, Nott membalas cibiran Daphne dengan mengungkapkan isi hati terdalam selama ini.
"Ya, aku sangat mencintai Hermione lebih dari hidupku sendiri."
Lagi-lagi kekeh memuakkan Daphne mengalir panjang, membuat Nott ingin menumpahkan semua isi lambung. Untung saja tadi ia sarapan sederhana ala kadarnya sehingga tak rugi maksimal jika muntah habis-habisan di depan sepatu stiletto seksi dua belas senti yang dikenakan Daphne.
"Cinta? Puihh," Daphne mendengus seperti kuda gila. Melambaikan jari seakan mengusir debu transparan, Daphne mencondongkan tubuh ke depan, menggumamkan kata-kata pedas sarat penghinaan.
"Cinta itu cuma omong kosong, Theo. Cuma dongeng pengantar tidur," Daphne memiringkan dagu dengan arogan, menyeringai sinis saat kilat membangkang tampil di empat manik mata yang melotot tersinggung.
"Cinta itu nyata, Daph," Astoria mendengking penuh harga diri, tampak sebal karena pemujaan blak-blakan dan hasrat mencintai sampai akhir waktu yang disimpan khusus untuk calon suaminya, Draco Malfoy dicap sebagai bualan kosong semata.
"Betul, Daph. Kau juga akan melakukan apapun jika mencintai seseorang," ujar Theo, mengangguk kompak ke arah Astoria yang tersenyum menguatkan.
"Aku lebih mencintai diri sendiri. Dan uang tentunya. Aku tak pernah merasa perlu mencintai orang lain," Daphne meletakkan pandangan sengit, dengan genit mendudukkan kembali bokong padat dan bulat di bantalan kursi taman.
"Never say never, Daph. Jangan pernah bilang tak pernah," pungkas Nott lugas, membalikkan punggung dan bergegas menjauhi Daphne yang masih mendelikkan mata lebar-lebar.
Jangan pernah mengatakan tak pernah...
Nott tersenyum samar mengingat penegasan yang ditekankan pada Daphne. Penegasan yang bercampur dengan sepotong perkataan terakhir Hermione yang berkelebat di bilik otak.
"Aku tidak mencintaimu, Theodore Nott..."
"Jangan pernah mengatakan tidak mencintaiku, Hermione. Akan kubuat kau mencintaiku lagi, apapun yang terjadi," gumam Nott pada dirinya sendiri.
Menepuk-nepuk dan memadatkan bantal kapuk sampai empuk, Nott mendesah, membayangkan sosok Hermione berbaring di sampingnya. Satu-satunya yang diingat Nott sebelum kantuk menghajar adalah pikiran dan imajinasi yang berkejaran. Saling berlarian menyusun satu strategi rapi.
Strategi untuk mendapatkan Hermione sekaligus mengusir Charlie Weasley.
Mengusir pria yang menjadi mimpi terburuknya selama ini...
BERSAMBUNG
