Disclaimer: Harry Potter milik J.K. Rowling.
Pairing: Hermione Granger & Theodore Nott.
Rating: T
"Berani taruhan, dia pasti ke sini untuk merobek hati Profesor Granger sekali lagi."
"Kayaknya Profesor Nott tidak sekejam itu deh…"
"Astaga, demi tompel totol-totol di pantat tepos Merlin! Lihat dong artikel Witch Weekly ini! Nah, setelah menghancurleburkan hati Daphne Greengrass, tiba-tiba dia minggat ke sini. Aku yakin pasti dia datang untuk mengulangi aksi bejat lagi."
"Tapi…"
"Mr McKinnon! Miss Bagshot!"
Berdiri menjulang di depan dua remaja tanggung yang geragapan ketakutan, Theodore Nott menarik napas dalam-dalam. Mata hijau gelapnya bergulir bergantian memandangi wajah pias dua siswa tahun kelima yang tertangkap basah bergunjing ria di tengah pelajaran.
Ruang kelas Arithmancy yang sehari-hari selalu lengang kini semakin hening mencekam. Beberapa kepala menunduk dalam-dalam, berdebar-debar menanti amukan brutal yang mungkin terjadi.
Sisanya, memberanikan diri memanjangkan leher dan menengok ragu-ragu ke belakang. Mengintip kutukan apa yang bakal dijatuhkan pada dua pelajar yang nekat mengumbar kejelekan sang guru tepat di jam pelajaran yang digawanginya.
"Potong masing-masing sepuluh angka dari Ravenclaw dan Hufflepuff karena bergosip tak jelas di kelas," Nott membuyarkan kesunyian setelah terdiam beberapa jenak. Mengangkat sebelah tangan untuk menangkal protes yang meruyak dari siswa pria berambut perunggu yang mencebik menantang, Nott kembali melanjutkan berondongan ultimatum.
"Jangan lupa detensi tambahan. Esai sebanyak lima puluh perkamen tentang grafik dan statistik bilangan. Dikumpulkan besok sebelum makan siang," Nott mengakhiri instruksi dengan wajah tanpa ekspresi. Paras datarnya tak berubah meskipun McKinnon, si kepala abu-abu Ravenclaw yang sedari tadi mendelik berang mengeluarkan bantahan keras.
"Tapi, Sir! Lima puluh perkamen dalam semalam?"
"Ya, Mr McKinnon. Lima puluh dan akan kutambah jadi seratus jika kau tak menjaga lidahmu," ancam Nott tegas, tersenyum hambar saat rengutan di jidat murid pemuda berpostur pendek bulat itu kian bertambah dalam.
Di kursi kiri, siswi Hufflepuff berpipi merah yang dipanggil Nott sebagai Miss Bagshot merunduk takut-takut. Jemari kecilnya menarik-narik lengan jubah McKinnon, memperingatkan teman sebangkunya untuk menahan mulut besar yang somplak.
Puas melihat kedua murid badungnya terdiam mengerti, Nott membalikkan punggung setelah sebelumnya menyita majalah Witch Weekly yang dibawa McKinnon. Meskipun kuping Nott menangkap jelas desisan mencemooh yang meluap dari bibir anak gemuk cemberut itu, ia tetap tak terpancing.
Sepanjang sisa pelajaran pun, Nott tetap bersikap netral, tampak tak terpengaruh dengan bisikan pelan yang menguar setiap kali dirinya melangkah melewati barisan murid laki-laki. Desas-desus konyol yang berkutat seputar kabar tak bermutu bekas tunangannya, Daphne Greengrass yang dimuat besar-besaran di majalah mingguan, Witch Weekly.
Duduk di balik meja guru, Nott menatap sampul depan majalah khusus wanita itu. Foto hitam putih Daphne yang mengedip nakal sembari melemparkan ciuman jarak jauh bergerak-gerak sensual. Di atas gambar menyebalkan itu, huruf-huruf tegak lurus berpendar menyilaukan, membuat Nott harus mengerjap-ngerjapkan mata seperti orang kelilipan.
"Derita cinta Daphne Greengrass. Si wanita penuh tragedi yang kesepian," Nott bergumam muak, membaca judul berita utama majalah bertiras terbesar se-Inggris. Lembar demi lembar memoar berikutnya juga tak kalah menjijikkan. Mayoritas halaman diisi dengan kisah nestapa Daphne yang mengaku terpuruk semenjak gagal menikah dengan Theodore Nott.
Miss Daphne Greengrass yang cantik dan malang tampak tak kuasa menahan kepiluan saat bercerita tentang rencana pernikahan yang batal terlaksana. Selama berbincang dengan koresponden khusus kami, Rita Skeeter, Miss Greengrass berulangkali menumpahkan air mata, terlihat merana memikirkan bekas calon suaminya yang kini raib entah ke mana.
"Kau tahu, Rita," Miss Greengrass menyeka sudut mata yang basah dengan saputangan sutra. "Aku benar-benar merasa kehilangan Theo. Dia adalah satu-satunya jangkar bagiku," bisiknya lirih.
"Astaga, kebohongan publik apa lagi ini?" geram Nott gusar, memelototi foto Daphne yang bersimbah air mata buaya.
"Jangkar dalam hidupnya? Raib entah ke mana? Haloo, dia kan tahu aku ada di Hogwarts!" Nott mengutuk kesal, membanting majalah sampai berdebum menutup. Suara gabrukan kencangnya membuat sejumlah siswi menengadahkan wajah, sebelum tertunduk kembali saat Nott mendelikkan mata lebar-lebar.
Didorong rasa penasaran, Nott mengambil kembali majalah beroplah tebal itu. Setelah menahan mual membaca deretan paragraf overdosis yang mengisahkan tentang penderitaan palsu Daphne, untungnya Daphne tak mendiskreditkan dirinya (efek dari perjanjian Sumpah Tak Terlanggar tentunya), Nott akhirnya sampai ke penghujung berita yang ajaibnya membongkar skandal mantan calon istrinya.
Apakah kepedihan membabi-buta karena kehilangan jangkar kehidupan membuat Miss Greengrass yang berakhlak tanpa cela jadi kebablasan? Apakah hati yang robek berdarah-darah membuat si ningrat terhormat ini melupakan prinsip moralitas yang rutin digembar-gemborkan?
Belum lama ini, fotografer Daily Prophet, Bozo, yang kebetulan merupakan rekan baik Rita Skeeter, berhasil memotret aktivitas tersembunyi selebritas dadakan kita. Dalam foto yang dijepret diam-diam, terlihat jelas kalau Miss Greengrass sedang duduk intim di pangkuan Mr Rousseau, raja bisnis dan jutawan tua Prancis yang baru-baru ini menikahi si blasteran cantik Tiongkok-Italia, Signora kita tercinta, Lady Zabini.
Saat foto kontroversialnya dikonfirmasi, Miss Greengrass tampak sedikit terkejut. Menyusut lendir hidung untuk terakhir kali, Miss Greengrass menutup sesi obrolan dengan sepotong kalimat pamungkas.
"Saya dan Mr Rousseau hanya teman baik. Tidak lebih."
Well, jika mencermati foto-foto yang kami muat di halaman berikutnya (kurang lebih ada dua puluh foto), hubungan antara Miss Greengrass dengan Mr Rousseau tentu jauh dari sekadar kata 'baik'. Keduanya tampak liar layaknya sejoli dimabuk birahi.
Sayangnya, sampai berita ini diturunkan, kami belum memperoleh konfirmasi dari Lady Zabini. Menurut putra tunggalnya, Blaise Zabini (pemilik biro pengacara ternama di seluruh dunia), ibunda terkasihnya tengah disibukkan dengan sejumlah agenda penting.
Apakah agenda penting itu termasuk menghajar si suami baru yang ketahuan memangku dan menciumi wanita lain sehari setelah mereka pulang dari acara bulan madu di Santorini, Yunani? Yah, kita lihat saja nanti.
Nott hampir mati tertawa usai membaca berita maupun mencermati foto-foto tak senonoh tersebut. Tak seperti karya jurnalistik lain yang miring dan tak berimbang, kali ini Rita Skeeter cukup berbobot dan tak sungkan menayangkan sisi mesum Daphne Greengrass. Meski bisa jadi Rita Skeeter berani mewartakan kejujuran dan mencantumkan skandal tersebut demi mendongkrak angka penjualan Witch Weekly.
Sampai bel tanda pelajaran berakhir berdentang pun, seringai puas belum susut dari ujung bibir Nott. Akhirnya, sedikit demi sedikit publik dunia sihir bisa mengetahui wujud asli dari sosialita sok moralis, Daphne Greengrass.
Tertangkap basah bermesraan dengan suami orang!
Meski artikel tersebut sedikit menghentak, jika ditelaah dengan jujur, Nott seharusnya tak heran lagi menerima kabar tersebut. Seingatnya, Daphne pernah menduakan cintanya semasa remaja. Perselingkuhan yang ironisnya dilakoni Daphne bersama salah satu teman sekamar Nott di Slytherin, Blaise Zabini.
Membereskan isi koper kerja, Nott mengingat kembali insiden heboh yang terjadi di tahun keenam mereka. Meski kepergok berduaan tanpa busana di ruang kelas kosong, Daphne berkilah bahwa dirinya hanyalah korban rayuan ramuan Zabini.
Menurut pengakuan Daphne, yang terisak-isak sesenggukan, Zabini telah menjadikannya kelinci percobaan Ramuan Gairah. Nott yang saat itu masih buta, percaya sepenuhnya pada bualan pacarnya. Usai berduel mati-matian (yang berakhir dengan kemenangan telaknya), Nott mengibarkan deklarasi perang pada Zabini. Perang dingin yang sialnya masih berlangsung sampai detik ini.
"Err, Sir..."
Suara kecil bernada dimantap-mantapkan mengusik pikiran Nott tentang kisah masa lalu. Mendongak, Nott menatap murid Ravenclaw yang tadi ketahuan bergunjing melecehkan. Meski lutut saling beradu dan kaki bengkaknya sedikit gemetar, bahu McKinnon terpasang tegak, mengisyaratkan kebulatan tekad untuk memenangkan pertempuran.
"Ya, ada apa Mr McKinnon? Mau menambah detensi?" tanya Nott jenaka, tak kuasa menahan geli saat mata ungu bulat pelajar tahun kelima itu hampir melompat keluar dari rongga.
"Tidak, Sir," akhirnya McKinnon berkata setelah menelan ludah dengan susah payah. "Saya hanya ingin meminta kembali majalah saya, Sir," tukasnya pelan, mengerling sejenak ke sekumpulan siswa Ravenclaw yang berbaik hati menunggu di ambang pintu kelas Arithmancy.
"Oh, majalah kacangan ini," tunjuk Nott, mengangkat majalah wanita tersebut tinggi-tinggi. Melengkungkan alis tebal yang tertata, Nott kembali berkomentar sarkastik. Celoteh lancang yang lahir gara-gara pelototan kurang ajar yang terus diumbar.
"Ini majalah khusus wanita, Mr McKinnon. Aku tak menyangka kau menyukai hal-hal feminin seperti itu," sindir Nott tajam, menyipit mencermati rona merah yang perlahan-lahan menghiasi pipi gembul muridnya.
"Err, itu bukan punya saya, Sir. Itu punya Bagshot," kelit McKinnon cepat, buru-buru menunjuk siswi Hufflepuff yang tadi diajaknya bergosip. Tak menghiraukan cicit panik dan muka bundar licin Bagshot yang memerah tak karuan, McKinnon kembali menatap Nott. Kali ini dengan sorot memohon.
"Bolehkah, Sir? Majalah itu," pemuda lima belas tahun itu bertanya lambat-lambat, menunjuk gambar sampul Daphne yang mengedip-ngedip genit.
"Oh, boleh. Boleh," jawab Nott asal, menyerahkan majalah bersampul wajah memualkan itu ke tangan gempal McKinnon. Meski senang membaca fakta tentang borok Daphne, Nott enggan menyimpan majalah picisan itu. Tadinya, Nott berencana membuang majalah bermasalah itu di kamar mandi. Siapa tahu ada yang sudi memakai kover majalah sebagai pengganti tisu toilet.
Setelah mendapatkan kembali benda incaran yang diinginkan, McKinnon langsung mendekap erat-erat, seakan-akan takut majalah itu meloncat terbang dari pelukan. Di saat Nott mengira urusan sudah selesai, remaja berkulit pucat kemerahan itu mendadak bergumam memperingatkan.
"Sir, harap Anda tahu kalau saya tak akan tinggal diam jika Anda berniat buruk pada Profesor Granger," McKinnon kembali melirik sekumpulan anak laki-laki bersyal biru bergaris-garis sebelum melanjutkan intimidasi. "Teman-teman saya juga berpikir begitu," tambahnya sok yakin.
Tertegun kagum melihat keberanian anak didiknya, Nott tanpa sadar melengkungkan senyum tipis. Seiris senyum yang tampaknya dianggap McKinnon sebagai seringai keji sebab pemuda berpipi tembam itu kembali berkotek mengancam.
"Para guru yang lain juga tak akan berpangku tangan, Sir."
"Ya, ya, ya. Aku tahu, Mr McKinnon," potong Nott hilang sabar. Memasukkan pena bulu bekas dan botol tinta ke dalam koper kulit kusam, Nott kembali mengunci pandangan dengan McKinnon. Adu pelototan yang membuat murid berjubah lebar itu bergoyang salah tingkah.
"Aku tak pernah berniat jahat pada Hermione, Mr McKinnon. Sebaliknya, aku mencintainya dan ingin menikahinya."
Manik violet McKinnon yang bundar semakin membulat mendengar pengakuan tersebut. Setelah membuka dan menutup mulut tanpa suara, tampak kesulitan mencari kalimat balasan, remaja tanggung bertubuh luar biasa sehat itu akhirnya merunduk kalah dan berbalik meninggalkan Nott tanpa berkata-kata.
Menghembuskan napas letih, Nott mengawasi McKinnon yang langsung dikerubungi dan diseret menjauh oleh anggota geng-nya. Tampaknya, seperti barisan anak laki-laki tahun terakhir yang selama beberapa hari ini memusuhi terang-terangan, McKinnon juga menyimpan perasaan serupa pada Hermione.
Memendam rasa suka khas remaja pada guru Transfigurasi yang galak namun menggemaskan...
Beranjak meninggalkan ruang kelas, Nott menutup pintu dan menyegel ruangan kelas dengan Mantra Pengunci. Sepanjang perjalanan menuju ruang guru, pikiran Nott dipenuhi tentang aksi permusuhan yang diluncurkan sejumlah murid pria.
Sejak dirinya mendarat di Hogwarts sebulan lalu, Nott memang sudah merasakan atmosfer kebencian. Setiap kali mengajar anak-anak tahun keenam dan ketujuh misalnya, ia seringkali digempur bisikan pedas maupun dihadang tantangan terselubung.
Namun, seperti pepatah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, Nott tak pernah memedulikan semua gertak sambal ingusan. Pepesan kosong remaja kecil yang tak tahu spesies mematikan macam apa yang tengah berhadapan dengan mereka.
"Ingin menghalangiku untuk mendapatkan Hermione? Hah, kecepatan dua ribu tahun tahu," dengus Nott suntuk, tak menggubris sapaan kemayu sejumlah siswi Slytherin tahun keenam yang berpapasan di koridor.
Ya, jika beberapa pelajar laki-laki memusuhi, mayoritas murid perempuan Hogwarts justru mengelu-elukannya. Kendati dirinya bukan lagi penyihir berduit, ia rupanya tak kehilangan peminat.
Daya tarik alami, kepribadian mapan sekaligus kematangan pikiran membuat siswi beraneka tingkatan dari berbagai asrama kepincut habis-habisan. Terbukti dengan banyaknya surat cinta yang mampir ke ruang guru maupun kantor pribadinya. Lembaran surat berbau parfum menyengat yang selalu dipakai sebagai bahan bakar untuk menyalakan perapian kamar.
Kadang-kadang, kegilaan fanatik pelajar perempuan Hogwarts sering membuat Nott pusing tujuh keliling. Insiden sepekan lalu, contohnya. Kala itu, dua siswi kembar yang duduk di tahun ketujuh tanpa malu-malu menyambanginya di ruang guru. Membujuknya untuk melupakan Hermione dan berpaling ke mereka, ke dua siswi bersaudara yang siap berbagi secara sukarela.
Berdiri di depan balkon, Nott mengawasi permukaan Danau Hitam yang berpijar muram. Menikmati hembusan angin beku bulan November, Nott mengenang kembali momen rayuan gombal yang terjadi di ruang guru seusai jam pelajaran siang.
Tengah hari itu, seperti biasa Nott kembali ke ruang guru seusai mengajar Arithmancy. Saat duduk di bantalan bangku kayu, bersisian dengan kursi Hermione yang tengah membaca jurnal Transfiguration Today (ia bisa mendapatkan bangku di samping Hermione berkat bantuan Madam Rolanda Hooch yang entah kenapa jadi baik sekali padanya), Nott baru sadar kalau sedari tadi langkahnya dikuntit dua siswi kembar Slytherin yang terkenal cantik dan seksi.
Maju ke depan Nott dalam satu langkah panjang, dua murid kembar identik itu tanpa malu-malu menundukkan wajah dan berbisik pelan, persis seperti informan yang tengah membicarakan data super-rahasia.
"Kami jauh lebih baik dari Profesor Granger, Sir," si kakak berkata tegas, mengerjap-ngerjapkan bulu mata panjang yang melebihi kelentikan bulu mata boneka India.
"Iya Sir," si adik mengangguk bersemangat, melirik sekilas ke arah Hermione yang asyik memelototi laporan terbaru dari jurnal khusus Transfigurasi.
"Profesor Granger saat ini sedang berpacaran dengan pawang naga, Sir. Lebih baik Anda bersama kami yang masih jomblo," tambah si adik, menggoyang-goyangkan rambut ikal emas bergelombang dengan seduktif.
Tadinya, Nott tak tertarik meladeni permainan sinting murid-murid puber tersebut, penyihir di bawah umur dan belum berkualifikasi yang bisa-bisanya bergenit-genit ria menggoda pria dewasa yang lebih tua.
Namun, ucapan menohok si adik kembar tentang hubungan Hermione dengan Charlie Weasley mau tak mau membuat Nott tersengat. Mengepalkan tinju di dalam saku jubah, menahan api cemburu yang muncul setiap kali nama Charlie disebut-sebut, Nott memerintahkan dua jalang Slytherin itu untuk hengkang secepat kilat.
"Silahkan pergi," Nott membuka pintu ruang guru lebar-lebar dengan sabetan tongkat sihir.
"Atau kudetensi dengan sanksi menyikat cakar Mantikora. Kebetulan Profesor Lovegood baru saja menangkap Mantikora dewasa," semprot Nott, mengedikkan bahu ke arah Luna Lovegood yang tengah menghabiskan sebungkus kue kubis. Mantikora sendiri merupakan makhluk mitologi Persia berwujud singa berkepala pria yang hobi menelan manusia dengan sekali cabikan.
"Kalian mau membantuku? Aku senang sekali. Mungkin saja Mantikora itu suka daging mentah kembar siam," Luna melompat dari kursi, memandang dengan intensitas jelas dari balik mata ungu keperakan yang berbinar-binar gembira.
Seperti dugaan Nott, dua siswi kurang kerjaan itu buru-buru menyebar menyingkir secepat kilat, seperti dihisap mesin penyedot debu raksasa. Mengalihkan perhatian dari Luna yang terbengong-bengong kehilangan, Nott menatap Hermione yang terduduk tenang.
Sialnya, seperti hari-hari sebelumnya, Hermione sama sekali tak peduli padanya. Tak sekalipun Hermione mengangkat muka atau mengeluarkan dengusan menghina. Respon kecil yang setidaknya mengingatkan Nott kalau mantan istrinya masih menyadari keberadaannya.
Merapikan anak rambut yang berkibar diterpa angin musim gugur, Nott menarik napas dalam-dalam, membuang gumpalan kesedihan yang mengganjal di benak. Memusatkan pandangan pada riak gelombang air Danau Hitam yang mulai tersaput es, Nott merenungkan kembali respon dingin yang diberikan Hermione.
Tidak seperti harapan, Hermione tak pernah sekalipun luruh pada kasih sayang murni yang diumbar tanpa henti. Tidak seperti pola cetak biru strategi, tak sedetikpun Hermione mau membuka hati maupun berdiskusi setiap kali ia mengajak berbicara empat mata.
Memang, jika ada kesempatan, ia tak pernah jenuh mengajak Hermione bercengkrama. Sayangnya, seperti mata cokelat Hermione yang selalu menggelap tak tertembus setiap kali menatapnya, Hermione juga enggan diajak bertukar pikiran.
Satu-satunya yang didapat jika mengajak Hermione berbicara cuma kalimat 'he-eh' atau 'ho-oh'. Tak seperti di masa lalu, di mana Hermione bisa berdialog panjang kali lebar dengan dirinya.
Terkadang manusia baru menyadari kalau setiap perbuatan pasti dapat balasan...
Memang, ada aksi pasti ada reaksi. Tak ada asap jika tak ada api. Siapa yang menabur angin pasti akan menuai badai...
Jika tak berpedoman pada pepatah lawas tersebut, Nott mungkin sudah tersuruk saat Hermione menepis mentah-mentah semua perlakuan penuh kasihnya. Untungnya, kesadaran kalau setiap perbuatan pasti mendapat balasan membuat Nott tak menyerah kalah.
Nott sadar kalau masa-masa penuh dosa yang pernah diperbuatnya-lah yang membuat Hermione mengambil jarak. Ia juga memahami kalau tindakan masa bodoh Hermione merupakan balasan dari kejahatan terkutuk di masa lalu. Balasan setimpal yang rela ditanggung asalkan bisa memperoleh kembali cinta dan kepercayaan Hermione.
Keikhlasan mutlak itu sedikit banyak mengangkat beban pikiran yang menumpuk. Merapikan jubah bekas pakai yang masih menyisakan bercak wenter, Nott melanjutkan kembali perjalanan menuju ruang guru. Tempat di mana ia berharap bisa menjalankan misi mulia yang menjadi bahan bakar hidupnya.
Merebut Hermione dari tangan Charlie Weasley...
Meregangkan tangan di atas kepala, Hermione menguap kecil, mencoba melawan rasa kantuk yang mendera. Melirik arloji di tangan kiri, Hermione merutuk dalam hati, menyesali keputusan sembrono melalap habis semua tabloid dan majalah gosip yang memuat informasi seru tentang Daphne Greengrass. Wanita penggoda kejam dan tak bermoral yang belakangan ini mulai menghiasi halaman utama gosip dunia sihir.
Awalnya, saat berdiam di bagian belakang perpustakaan, seperti yang biasa dilakukan usai makan malam di Aula Besar, Hermione berniat membaca semua buku yang baru tiba di perpustakaan Hogwarts. Sayangnya, niat itu tertunda setelah seekor burung hantu hitam keperakan datang membawa paket majalah dan surat dari Ginny.
Menyandarkan punggung penat ke belakang sandaran kursi, Hermione membaca kembali surat terbaru dari Ginny yang seminggu lalu hijrah ke Toulouse, mengikuti jejak suaminya, Auror multi-talenta, Harry Potter.
Di kota barat daya Prancis itu, Harry ditugaskan menyelidiki dan menangkap penyihir hitam yang mengaku-aku sebagai reinkarnasi Angele de la Barthe. Angele de la Barthe sendiri merupakan penyihir yang dikubur hidup-hidup di abad ketiga belas karena dituduh berhubungan seksual dengan iblis dan melahirkan monster pemakan bayi.
Selain berkisah tentang proses adaptasi Ginny sebagai istri Auror terkemuka, surat berbau wangi bunga wisteria itu juga mencantumkan data termutakhir tentang Daphne Greengrass. Berita bombastis yang dilengkapi dengan tumpukan majalah dan tabloid sihir milik Ginny.
Meletakkan kembali surat Ginny di tempat semula, Hermione mengarahkan mata ke bundelan majalah yang mayoritas dihiasi gambar sampul serupa; foto besar Daphne Greengrass yang tersenyum seronok.
Dari sekian banyak majalah beraneka bahasa, yang paling menyita perhatian Hermione adalah majalah Witch Weekly yang bercerita tentang kematian suami ketiga Madam Zabini, hartawan renta Mr Rousseau.
"Melodrama di Pemakaman Père Lachaise," Hermione berbisik lamat-lamat, mencermati judul berita yang ditingkahi sejumlah foto hitam putih bergerak-gerak. Foto yang menjelaskan secara tuntas drama ala telenovela yang terjadi di lokasi pemakaman terbesar di Prancis.
Baru sebulan menikah, Lady Zabini harus kembali menjanda untuk ketiga kalinya. Suami yang baru dinikahinya, konglomerat Prancis, Mr Rousseau, wafat karena sakit keras yang tak diketahui penyebabnya.
Kematian mendadak Mr Rousseau tentu sangat mengagetkan mengingat beberapa hari lalu pengusaha manufaktur itu tertangkap basah bercengkrama super-intim dengan finalis Miss Teen Witches, Daphne Greengrass, gadis muda belia yang lebih layak menjadi cucunya.
Tapi, bukan kehebohan foto-foto mesra mereka yang merajai dunia gosip Prancis saat ini, melainkan insiden yang terjadi di prosesi pengebumian Mr Rousseau, kemarin lusa.
Kontributor khusus kami, Rita Skeeter yang rela terbang jauh-jauh dari Inggris ke Prancis memberikan bocoran eksklusif bahwa hampir terjadi baku hantam mengerikan saat peti jenazah Mr Rousseau dimasukkan ke liang lahat.
"Benar-benar sangat memalukan, Rita," seorang penyihir wanita berambut panjang keperakan yang menolak namanya dicantumkan berbisik di kuping koresponden khusus kami.
"Sewaktu peti belum tuntas mendarat di tanah, Lady Zabini melolong marah ketika melihat Daphne berada di antara kerumunan pelayat."
Seperti si Madam berambut pirang platina, kontributor kami dan fotografer setianya, Bozo, juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri insiden caci-maki itu. Tepat di hadapan ratusan tamu terhormat, termasuk pendeta terkemuka, Lady Zabini menjerit-jerit. Meneriakkan kata-kata yang sepatutnya tak kami muat di sini tapi tetap harus kami cantumkan demi kepuasan pembaca.
Ya, kata-kata seperti "Pergi pelacur murahan! Tak ada sekeping Knut-pun untukmu di sini!"
Miss Greengrass sendiri tak bergeming menghadapi kemarahan Lady Zabini yang meluap-luap. Mengelap mata yang berair dengan anggun, Miss Greengrass bersikeras berdiam di pemakaman meskipun Lady Zabini meraung-raung tepat di lubang telinganya.
Untungnya, bujukan keras pendeta yang tak bisa lagi menolerir keributan mampu membuat Miss Greengrass merevisi kembali keputusan sepihaknya.
Mengingat kondisi psikis Lady Zabini yang tak memungkinkan untuk diwawancarai terkait pekikan sensasional yang menghebohkan, kami memutuskan mengkonfirmasi insiden tersebut pada Miss Greengrass. Untungnya, meski banjir air mata, Miss Greengrass masih mau mengadakan jumpa pers dan menyatakan bahwa ia tak mengerti mengapa Lady Zabini begitu murka padanya.
"Aku tak tahu kenapa ia sangat membenciku, Rita. Padahal, aku ke sini cuma untuk mengecek apakah Mr Rousseau mencantumkan namaku sebagai salah satu ahli warisnya. Wajar dong kalau aku berharap Mr Rousseau memberikan seluruh warisan miliknya mengingat aku merupakan salah satu teman baiknya selama ini," Miss Greengrass berbisik lirih sembari mengusap-usap air mata yang membanjir.
Blaise Zabini sendiri yang kami temui di tempat terpisah menolak membicarakan polemik tersebut. Menutup pintu mobil Bugatti Veyron dengan angkuh, pengacara kondang berdarah Italia itu meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun.
Well, mungkin satu-satunya fakta yang bisa kami petik darinya adalah kenyataan bahwa putra tunggal Lady Zabini itu tak lagi menyukai cara berpergian tradisional dengan bubuk Floo atau ber-sapu terbang ria semenjak membeli salah satu mobil balap termahal di dunia.
Mendengus pendek, Hermione menyingkirkan majalah yang sarat isu kontroversial tersebut. Majalah ecek-ecek bikinan taipan media Tobias Misslethorpe yang membuatnya lupa waktu dan batal menyelesaikan misi membaca tuntas semua buku teranyar milik perpustakaan.
Menggosok-gosok mata yang sedikit mengantuk, Hermione mendesah pelan, menikmati keheningan suasana dan bau khas buku yang menenangkan. Malam itu, tak ada satu murid pun berseliweran di antara rak-rak tinggi, hal yang wajar mengingat jam tutup perpustakaan sudah lewat empat jam lalu. Hanya staf pengajar seperti dirinyalah yang memiliki hak preogratif untuk bergentayangan di perpustakaan sampai subuh dini hari.
Setelah matanya dirasa bisa diajak berkompromi, Hermione kembali meneruskan aktivitas membaca. Sama sekali tak menyadari kalau setiap gerakannya dipantau saksama oleh sepasang mata hijau gelap yang berdiri di balik naungan bayang-bayang...
Memperbaiki posisi kaki agar tidak kram, Nott menambah dosis Mantra Penolak Hama dengan sabetan tongkat sihir. Malam ini, entah kenapa nyamuk-nyamuk Hogwarts tampil lebih ganas dari hari biasa, tanpa henti menggigit-gigit seru sembari berdengung-dengung menyebalkan.
Meski sudah bertumpu di dekat rak besar setinggi atap selama beberapa jam, Nott tak berkeluh kesah sedikit pun. Bagi Nott, bisa berada di satu ruangan bersama Hermione sudah merupakan berkah tersendiri. Apalagi kalau bisa menyaksikan pergantian ekspresi Hermione maupun menghirup aroma vanila karamel yang menggiurkan.
Nott tersenyum senang saat hembusan angin yang masuk melalui pintu perpustakaan membawa bau tubuh Hermione yang familier. Wangi manis menghipnotis yang setidaknya membuat penyakit susah tidur menghilang tanpa bekas.
Kesembuhan permanen itu secara tak langsung membebaskan Nott dari dilema meminum Ramuan Kedamaian, cairan penenang yang bisa berdampak negatif jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Eliksir penyembuh yang di masa lalu terkadang terpaksa ditenggak jika sekujur tubuh terasa lunglai luar biasa.
Jika mengingat penyakit susah tidur, mau tak mau memori Nott bertualang ke masa remaja di Hogwarts. Masa di mana ia selalu terbang melayang di udara setiap malam. Era di mana ia sering merasa risih setiap kali memergoki Hermione mengintip aktivitas terbang malam dari atas Menara Astronomi.
Kini, dengan perspektif baru mengenai Hermione, Nott jadi menyadari bahwa bekas istrinya itu mengamatinya bukan karena kurang kerjaan tapi karena mengkhawatirkan gangguan susah tidur yang menghantui sedari masa kanak-kanak.
Bunyi bersin Hermione menghempaskan Nott dari bilur penyesalan karena terlambat memahami arti di balik perhatian samar tersebut. Menengok sigap, Nott menatap cemas Hermione yang tengah menggosok-gosok cuping hidung yang memerah.
Rupanya, kesibukan membaca membuat Hermione alpa menaburkan Mantra Penghangat untuk meredam angin dingin bulan November yang menggigit tulang.
"Hermione, kau tak apa-apa?" Nott bertanya resah, melangkah cepat-cepat menghampiri Hermione yang terbelalak keheranan. Membuka jubah abu-abu luntur, Nott menyampirkan kain tebal itu di tubuh Hermione. Berharap bisa memberi sedikit kehangatan sekaligus meredam gigil kecil yang mulai muncul.
"Sedang apa kau di sini? Memata-mataiku ya?" Hermione bertanya kasar, mencoba bangkit dari kursi, hanya untuk terduduk kembali saat rasa lemas menghantam tungkai kaki. Melihat hal itu, Nott tanpa berpikir panjang mengangkat Hermione, berancang-ancang membawa wanita yang paling dicintainya ke Ruang Kesehatan di sayap kastil.
Tak mempedulikan protes keras Hermione, Nott menggendong Hermione dalam pelukan. Menutup dan menyegel pintu perpustakaan, prosedur yang harus dilakukan guru terakhir yang meninggalkan ruangan itu, Nott beranjak pergi. Acuh tak acuh menghadapi pemberontakan Hermione yang semakin membabi-buta.
"Turunkan aku, Nott! Kau tak berhak melakukan ini!" Hermione memekik lantang, memukuli dada Nott dengan tinju kosong. Kemarahan Hermione semakin menjadi-jadi saat mantan suaminya menyeringai tipis seraya berkomentar ringan.
"Tentu saja aku berhak, Sayang. Ngomong-ngomong, kenapa kau berhenti memijat dadaku?" celetuk Nott jahil, menunjuk kepalan tangan Hermione yang terhenti di udara.
Menggeram sebal, Hermione membuang muka, berusaha menjauh dari harum tubuh Nott yang memesona. Sepertinya, meski tak lagi memakai parfum beraroma mahal dan mewah, badan Nott tetap sejuk menyegarkan dan mampu melelehkan akal sehat manusia paling saleh sekalipun.
Mengencangkan dekapan, Nott terus berkelebat menuju Ruang Kesehatan. Di sepanjang koridor, lukisan hidup saling berbisik-bisik, beramai-ramai menyebarkan gosip ke tetangga kiri-kanan mereka.
Lukisan tersebut baru berhenti bergunjing setelah Hermione mengayunkan tongkat sihir. Mengelem rapat mulut usil para lukisan dengan lakban super yang dimunculkan dari udara kosong.
Menyeringai geli melihat respon kalap mantan istrinya yang memang terkenal sebagai wanita bertemperamen mudah terbakar, Nott mengusap-usap rambut gelombang Hermione yang menyundul dagu. Mengecup pucuk kepala Hermione dalam-dalam, acuh tak acuh saat bersin bercampur dengusan suntuk menembus kuping, Nott membisikkan kalimat menenteramkan.
"Tenang, Sayang. Ini pasti cuma pilek biasa. Kau pasti segera sembuh," gumam Nott berulang-ulang, terus mengelus ikal lebat Hermione yang seharum vanila. Walaupun Hermione membisu seribu bahasa, kecuali beberapa bersin panjang yang melenting berulang-ulang, Nott tetap membisikkan janji manis dan aneka kalimat menghibur.
Akhirnya, setelah melewati banyak koridor berkelok-kelok dan tangga putar sempit (termasuk undakan dengan anak tangga tipuan dan bermacam-macam pintu jebakan), Nott dan Hermione sampai di depan Ruang Kesehatan. Menendang pintu hingga terbuka, mengingat tangan kuatnya merengkuh erat Hermione, Nott masuk ke dalam bangsal berdinding putih bersih tersebut.
Menghampiri matron Ruang Kesehatan, Madam Poppy Pomfrey yang memegangi puncak dada, kentara betul tampak jantungan mendengar pintu digebrak, Nott meminta penyihir keriput itu untuk segera mengambil tindakan medis yang diperlukan.
"Sepertinya Hermione kedinginan dan kena flu, Poppy. Tolong periksa dia," perintah Nott, membaringkan Hermione dengan hati-hati di salah satu ranjang kosong.
Tersenyum riang mendengar nada memerintah khas suami khawatir, Madam Pomfrey mengayunkan tongkat sihir penyembuh ke seluruh tubuh Hermione. Memeriksa denyut nadi, tekanan darah dan kinerja jantung melalui getaran tongkat kayu poplar.
Setelah mendapatkan hasil rekam medis via tongkat sihir, tanpa membuang waktu Madam Pomfrey meracik ramuan obat yang diperlukan. Selama Madam Pomfrey menggerus daun herbal dan rempah-rempah pedas, Nott setia mengelus-elus dahi Hermione yang mulai dibanjiri keringat.
Menyingkirkan anak rambut yang menggantung dengan belaian lembut, Nott mengawasi Hermione dengan tatapan penuh damba. Sorot memuja yang tak menyurut meskipun Hermione melengos dan membuang muka.
"Teruslah berlari dan mengelak, Hermione. Tapi, pada akhirnya kita akan bersatu lagi," bisik Nott halus, memainkan jari di sela-sela ikal cokelat Hermione.
"Astaga, kau itu keras kepala sekali sih, Theodore Nott!" Hermione mengedip marah, memalingkan muka dan memelototi Nott yang tersenyum akrab. Membuka mata selebar mungkin, Hermione mendenguskan hidung. Hidung kecil dan manis yang sejak beberapa bulan lalu menghantui alam pikiran Nott.
"Kubilang aku tak mencintaimu. Ngerti nggak sih?"
"Saat ini, Hermione. Tapi, tidak di masa depan," jawab Nott pendek, tak gentar menerima pelototan tajam Hermione maupun kutukan tertahan yang mengiringi.
"Ya Tuhankuu! Apa lagi yang harus kuperbuat untuk melumerkan otak udang yang penuh kotoran itu," Hermione mengerutkan dahi tak sabar, mencoba menepis tangan Nott yang menjelajahi tulang pipi. Usaha yang sia-sia belaka sebab meski diusir berulang-ulang, jemari Nott seolah menemukan celah untuk menyusup ke lekuk wajah.
"Kau hanya perlu menerimaku, Hermione. Biarkan dan izinkan aku mencintaimu," gumam Nott penuh harap, mencium pelipis dan tulang alis Hermione, menghangatkan wajah dingin Hermione dengan sapuan napas harum yang menyejukkan.
"Ups, ya ampun. Maaf kalau mengganggu. Tapi, ramuan sudah siap," kekeh Madam Pomfrey, memasang tampang pura-pura terkejut. Mendudukkan pinggul gemuk di samping ranjang, penyihir bermata cokelat keunguan itu meminta Hermione untuk segera mereguk cairan berbuih berwarna biru elektrik.
Setelah menandaskan ramuan merica bercampur mentol dalam sekejap, mata Hermione mulai mengerjap-ngerjap. Sepertinya, selain melegakan tenggorokan, ditandai dengan kepulan asap yang keluar dari lubang hidung dan telinga, cairan panas itu juga mengandung sedikit obat tidur.
"Sebaiknya kau beristirahat, Hermione," saran Madam Pomfrey keibuan, mengatur selimut katun putih agar menutup sempurna. Mengerling sejenak ke arah Nott yang masih memakukan pandangan ke wajah lelah Hermione, Madam Pomfrey kembali berceloteh.
"Kau juga harus kembali ke kediamanmu untuk beristirahat, Theodore," ujar Madam Pomfrey bijak, mengerutkan kening saat Nott menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Tidak, Poppy. Aku ingin menjaga dan menunggui Hermione," pinta Nott, menatap penyihir kisut yang mulai menampakkan ekspresi merengut dengan pandangan memelas.
Disorot dengan tatapan memohon seperti itu membuat Madam Pomfrey serba salah. Sebenarnya, setiap pasien yang menginap di Ruang Kesehatan tak boleh ditemani sampai pagi. Tapi, kegelisahan akut yang tergambar di wajah Nott mau tak mau membuat Madam Pomfrey meninjau kembali aturan main yang dibuatnya.
"Baiklah, Theodore. Untuk kali ini saja kau boleh menemani Hermione," desah Madam Pomfrey kalah, mengangkat sebelah bahu dengan halus. Membalas senyuman terima kasih Nott dengan anggukan singkat, tabib ajaib berhati besar itu meninggalkan bilik Hermione dan kembali ke ruangannya sendiri yang terletak di belakang Ruang Kesehatan.
Sepeninggal Madam Pomfrey, Nott mengambil bangku bulat yang tersimpan di pojok bangsal. Duduk tenang di kursi bermotif kulit zebra, Nott mengambil tangan Hermione dan menggenggamnya erat-erat. Mata hijau gelapnya dengan rakus menelusuri detail wajah Hermione yang tertidur pulas.
"Aku mencintaimu, Hermione. Sangat mencintaimu."
Tak ada balasan dari Hermione selain dengkuran keras yang keluar dari balik bibir mungilnya. Tersenyum lebar, mengenang kembali gaya tidur Hermione yang lasak dan blingsatan, Nott menundukkan wajah, menciumi setiap senti kulit wajah Hermione dengan pemujaan tanpa henti.
"Aku benar-benar menyayangimu dan rela melakukan apapun untukmu. Kumohon, Hermione, izinkan aku untuk terus berada di sisimu," bisik Nott pelan, mengusap-usapkan hidung mancungnya di pipi hangat Hermione.
Helaan napas Hermione yang terlepas dari mulut lembut yang setengah mengatup mengguncang naluri lelaki Nott. Mengambil risiko terkena hantaman Kutukan Avada Kedavra jika ketahuan, Nott mencium bibir Hermione dengan penuh kelembutan. Menyalurkan perasaan terdalam melalui sebongkah perbuatan romantis tersebut.
Melepaskan Hermione yang mulai bernapas cepat dan pendek-pendek (bukti kalau ciuman lembut, mesra dan emosional itu memengaruhi mimpi), Nott mengusap jari manis Hermione yang kosong melompong.
Merogoh kantong celana, Nott mengeluarkan cincin pusaka keluarga yang bersinar ditimpa kandelar lilin ruangan. Untung saja sejak bercerai dengan Hermione, Nott langsung mengambil kembali cincin keramat dari tangan Daphne dengan alasan cincin itu baru bisa diberikan jika Daphne resmi menjadi istrinya.
Mencermati kilau gemerlap yang menari-nari di permukaan cincin berukiran rumit, kilap geli memercik di manik mata Nott. Ingatannya melambung ke hari di mana Daphne menguras tuntas seluruh harta benda miliknya, termasuk kastil Nott Manor yang selama berabad-abad menjadi tempat berteduh klan Nott yang terhormat.
Sewaktu Nott dan ayahnya hendak terbang menghilang, Daphne tiba-tiba muncul dari balik ambang pintu. Mencekal lengan atas Nott dengan kekuatan setara satu peleton tentara bertombak, Daphne menggerung-gerung mempertanyakan keberadaan cincin warisan keluarga Nott yang tak ada di dalam brankas besi.
Menahan dengus tawa melihat ekspresi kalut Daphne, Nott mengambil cincin berdesain klasik yang selalu disimpan ke manapun ia melangkah.
Menyeringai penuh kemenangan, Nott menggoyang-goyangkan cincin berat bersegel di depan mata tamak Daphne sembari berkata bahwa Daphne tak berhak atas cincin itu sebab seperti perkataannya di padang rumput, semua yang dipakai dan ada di tubuh Nott saat itu merupakan satu-satunya benda yang tak akan diminta Daphne.
Meninggalkan Daphne yang berteriak-teriak sejadi-jadinya, menjerit menyeramkan dengan suara yang bisa menghancurkan satu kompleks perumahan, Nott dan ayahnya ber-Disapparate ke berbagai tempat. Berusaha mencari lokasi berdiam sementara sampai mereka bisa menentukan langkah selanjutnya.
Sayangnya, asa Nott bahwa mereka bisa segera memperoleh bantuan tak terlaksana. Selama sehari semalam, Nott dan ayahnya terlunta-lunta di jalanan setelah semua keluarga darah murni menolak kehadiran mereka. Termasuk keluarga Malfoy yang selama ini mencap diri mereka sebagai sekutu terdekat.
Tak ingin ayahnya yang sudah tua tidur menggelandang di emperan jalan, Nott memutuskan menjual sapu balap dan jubah Quidditch di toko barang bekas di Diagon Alley. Berkat hasil penjualan barang kesayangannya itulah Nott bisa menyewa sebuah kamar sempit di Leaky Cauldron.
Igauan tak jelas Hermione membuat Nott tersentak. Menjulurkan tangan, Nott mengelus lekuk bibir Hermione yang setengah terbuka, meresapi desahan napas hangat Hermione di pori-pori jemari. Selama jarinya mengembara di belahan bibir Hermione, mata Nott dengan hangat mengamati gerakan napas Hermione yang naik turun secara teratur.
"Mimpi indah, Hermione. Mimpikan kebahagiaaan kita berdua," Nott berbisik takzim, mencium kening Hermione untuk terakhir kali.
Merundukkan tubuh, Nott membenamkan wajah di samping leher Hermione. Kurang dari lima detik, aroma Hermione membius kesadaran, mengirimnya langsung ke alam mimpi indah yang terasa nyata...
Mengerjapkan mata, mencoba kembali ke alam nyata, Hermione menguap lebar-lebar. Tepat di saat mulut yang menganga belum mengatup, mata Hermione terpancang pada sosok tegap yang duduk tertidur di samping kanan.
Menekap mulut untuk membendung kesiap kaget, Hermione menggeser sedikit tubuhnya, berhati-hati untuk tak membangunkan Nott yang masih terlelap. Seleret sinar matahari menembus jendela bilik, membuat rambut cokelat kehitaman Nott bermandikan cahaya. Kemilau terang yang memancing hasrat Hermione untuk melarikan jemari di mahkota kepala yang memukau.
Mendengus jengkel karena sempat terbuai dengan pesona alami bekas suaminya, Hermione memejamkan mata erat-erat. Terus membisikkan kalimat bahwa meskipun kilau rambut dan wangi tubuh Nott sangat menggiurkan, ia tak akan terjeblos lagi ke dalam perangkap godaan yang sama.
Konsentrasi Hermione untuk bertapa terhalang ketika bulu halus di tengkuknya meremang. Membuka mata perlahan-lahan, Hermione langsung berhadapan dengan sorot panas dan intens yang terpancar dari biji mata hijau Nott. Rupanya, sewaktu ia menenangkan diri, Nott terbangun dan langsung menatap dengan hasrat liar di mata.
"Selamat pagi, Sayang," gumam Nott, menahan kuap kecil dengan punggung tangan. Merenggangkan tubuh seperti kucing, Nott berdiri santai, terus mengumbar senyum lebar meskipun rengutan dongkol Hermione kian kentara.
"Sedang apa kau di sini?" Hermione kembali mengulang pertanyaan yang diajukannya semalam di perpustakaan. Meski tanpa bertanya pun ia sudah tahu jawabannya. Sudah tahu kalau sejak tadi malam Nott dengan setia menunggui.
"Menemanimu tidur tentunya," jawab Nott mantap, mengangguk cerah seperti anak kecil ketiban satu peti kemas bonbon. Tak mengacuhkan pelototan Hermione, Nott bersenandung pelan, membuka gorden jendela bermotif tusuk silang dengan jentikan tongkat sihir.
Menahan dengus mencela, Hermione menyingkap selimut, bersiap-siap kembali ke kantor pribadinya di lantai pertama. Belum sempat kaki telanjang tak beralas kaki menyentuh ubin batu, Hermione terperanjat ketika Nott menghambur maju dan membopong dalam satu sapuan, menggendong tubuhnya semudah memanggul cucian.
"Apa-apaan ini, Nott! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" bentak Hermione beringas, meringis malu saat wajah Madam Pomfrey mendadak nongol dari balik selubung tirai putih abu-abu.
"Wah, kalau sudah bisa mengeluarkan suara menggelegar seperti itu, tandanya kau sudah mulai sembuh dari flu," gurau Madam Pomfrey, menahan kikikan dengan buku jari yang bebas botol ramuan.
"Benar sekali, Poppy. Dengan auman sekeras itu, penyakit kelas kakap manapun pasti kabur ketakutan," Nott balas membanyol. Merapatkan pelukan, Nott mencium sekilas kepala Hermione sebelum kembali berkomentar.
"Karena dia sudah sembuh, aku akan membawa Hermione ke kediamannya di lantai satu," jelas Nott, mengencangkan belitan tangan saat perlawanan Hermione mulai mengganas.
Tersenyum setuju, Madam Pomfrey menyisipkan beberapa serbuk ramuan yang harus diminum tiga kali sehari. Mengulas seringai simpatik di wajah tua keibuan, penyihir berkulit putih pucat itu mengantar sejoli muda tersebut ke pintu keluar.
"Kuminta hari ini kau tidur seharian, Hermione. Manfaatkan hari Minggu ini untuk memulihkan kesehatanmu," bujuk Madam Pomfrey tegas, tak menghiraukan Hermione yang mencibir merajuk di dalam pelukan posesif Nott.
Membalas senyum cerah Madam Pomfrey dengan seringai jantan, Nott beranjak meninggalkan Ruang Kesehatan. Berhubung hari masih pagi, tidak ada gangguan berarti di sepanjang perjalanan menuju kantor sekaligus kediaman pribadi Hermione.
Setelah melintasi beberapa tangga, termasuk selasar besar di mana satpam sekolah Argus Filch sedang berkutat melepaskan lakban sihir yang menutup mulut para lukisan hidup, Nott akhirnya tiba di depan kantor Hermione.
Menurunkan Hermione yang membisu sepanjang perjalanan, Nott memberanikan diri membingkai rahang mantan teman hidupnya dengan dua telapak tangan kokoh. Selama beberapa menit, Nott tak melakukan hal apapun selain menatap Hermione dengan sorot posesif maskulin.
Hermione yang ditatap tanpa berkedip tentu merasa jengah. Berdeham serak, Hermione menunduk dan mengambil tongkat sihir yang tersimpan di saku jubah merah muda salem.
"Terima kasih telah mengantarku," ujar Hermione berbasa-basi, membuka Mantra Segel kantor dengan lambaian tongkat sihir kayu anggur. Belum sempat mengentak pintu hingga terbuka, Hermione terperangah saat Nott mengaitkan tangan ke lengannya.
"Apa maumu, Nott? Cepat lepaskan aku!" Hermione membelalak gusar, tak habis akal mengapa Nott begitu ulet dan gigih mengejarnya. Persis seperti Crookshanks menguber-uber si tikus botak Scabbers.
"Bolehkah aku merawatmu, Hermione? Aku ingin memastikan kau minum obat sesuai dosis dan waktunya," tanya Nott penuh kasih. Mata hijau gelapnya menyorotkan permohonan mendalam, bercampur dengan penyesalan dan kerinduan masa silam.
Untuk sedetik, Hermione sedikit terpengaruh dengan sinar sedih yang merajai manik hijau Nott. Binar buram yang diingat Hermione pernah terpancar dari mata Nott semasa remaja. Kilap lara yang dulu sangat ingin dihapus dari rongga mata Nott untuk selama-lamanya.
"Aku bersumpah untuk menghancurkan hatimu dan kariermu. Hatimu, dengan berpura-pura mencintaimu!"
Berpura-pura mencintaimu...
Ingatan tentang pengakuan mengerikan itu menerbangkan akal sehat Hermione. Menggerutu dalam hati karena hampir saja terseret rasa iba tak pada tempatnya, Hermione mengibaskan tangan, menolak mentah-mentah keinginan Nott untuk merawat dan mengayomi dirinya.
"Aku tak butuh bantuanmu. Lebih baik kau pergi ke kantormu di lantai tujuh sana," usir Hermione, melepaskan diri dengan susah payah dari cengkeraman tangan mantan suaminya.
Penolakan sengit Hermione membuat wajah Nott memucat seperti lilin. Kegetiran Nott kian bertambah-tambah saat Hermione menatap dengan sorot tak peduli. Memandang dingin dengan sepasang mata cokelat gelap tak tertembus. Mata yang sepenuhnya menyembunyikan diri dari rengkuhan kasihnya.
Semua perbuatan pasti ada balasan...
Ya, hanya pemahaman itulah yang membuat Nott mampu mengembalikan kepercayaan diri yang sedikit tergerus. Saat ini, Hermione mungkin belum memercayainya tapi ia bersumpah akan melakoni segala cara untuk membalikkan keadaan tak menguntungkan tersebut.
"Kalau begitu, selamat tidur, Hermione. Jangan lupa meminum obatmu," Nott berkata sambil menepuk hidung Hermione yang mendengus-dengus. Melempar senyum maklum, Nott membalikkan punggung, beranjak menuju kantor pribadinya di lantai tujuh dengan langkah terarah.
Setelah bahu bidang Nott menghilang di atas tangga, Hermione menghela napas berat. Sebenarnya, bukan sifat aslinya untuk menangkis uluran tangan orang lain, tapi perasaan sakit hati dan luka terbuka menganga di dalam sukma masih belum sembuh seutuhnya. Terkadang, memori pahit tentang kebrengsekan Nott membuatnya terbelah dalam dilema antara harus bersikap peduli atau sebaliknya.
Memutar pintu, Hermione beringsut masuk, langsung disambut oleh meongan keras Crookshanks yang melompat senang. Di saat tangan Hermione menangkap kucing gemuk itulah, ia menyadari kalau jubah abu-abu usang Nott masih terhampar di tubuhnya. Jubah kuno, tebal dan berat yang setiap serat-serat lapuk usangnya menguarkan aroma tubuh Nott yang memesona.
Mencengkeram mantel erat-erat, Hermione merasakan sudut-sudut matanya memanas saat ingatan tentang kenikmatan pernikahan dan kehidupan rumah tangga bersama Nott melintas di benak. Menahan tangis, Hermione bersandar di daun pintu, tak menggubris dengkuran heran Crookshanks yang bergulung rapat di pelukan.
Meletakkan Crookshanks di lantai, Hermione berhati-hati melepas jubah Nott yang membungkus tubuh. Mendekatkan jubah tua ke lubang hidung, Hermione terisak tanpa suara. Menggumamkan nama kecil Nott di setiap sedu sedan kering yang memilukan...
Tawa kering sejumlah siswi yang tengah bersiap-siap makan pagi di Aula Besar membuat Nott mempercepat langkah kaki. Di saat hati sedang kisruh seperti ini, Nott tak mau bersirobok pandang dengan gerombolan pelajar perempuan keganjenan maupun hantu degil dekil, Peeves yang setiap pagi hobi mengerjai murid-murid yang berbaris menuju Aula Besar.
Setibanya dengan selamat di ambang pintu kantor yang dipenuhi kardus besar berisi surat cinta dan cokelat aneka rasa, Nott melakukan protokoler pengamanan yang biasa, menggumamkan Mantra Penyensor Penyelinap untuk mengantisipasi tamu tak terduga. Memanggul kotak kulit bermuatan sesak dengan bantuan tongkat sihir, Nott mendorong pintu kamar hingga terbuka.
Usai melempar bungkusan surat cinta ke perapian yang berkobar-kobar, Nott meletakkan gundukan kotak cokelat di atas meja panjang, bersisian dengan gelas tempat pensil yang terisi penuh. Nantinya, tumpukan cokelat yang ditengarai berisi Ramuan Cinta Amortentia ilegal itu bakal dikirimkan Nott ke peri rumah yang bekerja di Dapur Hogwarts.
Membuka seluruh kancing kemeja, Nott duduk nyaman di sofa kecil sembari menghirup segelas mead panas buatan pemilik bar The Three Broomstick, Madam Rosmerta. Meskipun minuman aroma ek fermentasi madu dan anggur itu tak selezat cognac mahal yang biasa ditenggak, Nott tak banyak mengeluh.
Sejak menyadari arti penting Hermione bagi dirinya, Nott tak lagi mendewakan materi. Buktinya, ia rela mendonorkan seluruh harta miliknya ke Daphne Greengrass demi melepaskan diri dari cakar iblis betina keji itu sekaligus memuluskan ambisi mendapatkan kembali cinta Hermione.
Bagi Nott, hidup bersimbah uang tapi kesepian bukanlah prioritas utama. Saat ini, yang paling membahagiakan adalah bersatu lagi dengan Hermione. Hidup bahagia dan sempurna meski tak lagi bergelimangan harta benda.
Keasyikan Nott merenungkan formula kebahagiaan dan rangkaian cita-cita sederhana terusik dengan bunyi patukan kencang di daun jendela. Menengok ke belakang, Nott melihat seekor burung hantu besar keemasan bertengger di birai jendela bersekat kotak-kotak. Menatap dengan mata bulat kuning cemerlang, burung hantu cantik yang dikenali Nott sebagai burung hantu milik Astoria Greengrass mengatupkan paruh dengan anggun.
Bangkit menuju jendela, Nott mempersilahkan burung hantu betina itu untuk segera masuk. Mengepakkan sayap dengan congkak, anggota ordo Strigiformes berbulu emas itu hinggap di bahu Nott, menyodorkan kaki kiri yang diganduli segulung perkamen.
Mengelus kepala hewan simbol kebijaksanaan itu dengan penuh sayang, Nott melepaskan gulungan perkamen yang tersegel sempurna. Meski pesan sudah tersampaikan, predator alam bermata bulat besar itu masih bertengger di pundak Nott. Tampaknya ia diminta untuk tetap tinggal sampai Nott menuliskan surat jawaban.
Penasaran dengan isi surat yang dikirimkan Astoria, Nott membuka lembaran gulungan perkamen. Wangi khas Astoria yang lembut seperti gula-gula langsung tercium saat Nott membuka carikan pertama yang berisikan permohonan bertemu di rumah minum Madam Puddifoot's, Hogsmeade, akhir bulan ini.
Walau permintaan itu terasa sedikit janggal, Nott tetap menulis persetujuan untuk berjumpa di salah satu tempat nongkrong favorit Astoria. Selain bisa bertemu teman sepermainannya, Nott juga berniat memakai jadwal kunjungan rutin ke desa sihir Hogsmeade guna membeli kado Natal untuk Hermione dan ayahnya.
Menggulung perkamen balasan, Nott mengikatkan lintingan surat ke kaki si burung hantu yang menatap cermat dari atas ke bawah dengan pandangan mencemooh. Sepertinya, meski si empunya tak peduli soal harta, burung hantunya malah menaruh atensi tinggi pada penampilan duniawi. Terbukti ketika mata dengan semburat cahaya kuning emas si burung hantu menyipit tak suka saat melihat tambalan di bagian bawah celana panjang Nott.
Melempar kembali si burung hantu lewat jendela, Nott menikmati hembusan angin kencang bulan November. Mengawasi si burung hantu yang menghilang di balik gumpalan awan pucat kelabu, pikiran Nott melayang ke rencana yang bakal dijalani di Hogsmeade nanti.
Membelikan hadiah pertama kali untuk Hermione. Sesuatu hal yang tak pernah dilakukannya selama ini...
Selama ini, Nott memang selalu menghindari berkunjung ke Madam Puddifoot's. Yah, kealergian yang bisa dimengerti mengingat sejak awal didirikan sampai sekarang, kedai minum berserambi itu identik dengan benda-benda penuh rimpel dan renda merah muda yang menggelikan.
Tapi, berhubung tempat feminin ini merupakan lokasi di mana dirinya bisa berbicara empat mata dengan Astoria, mau tak mau Nott menekan rasa mulas yang mulai menggelinjang di dalam perut.
Membuka pintu Madam Puddifoot's yang dicat merah muda menyala, Nott mengedarkan mata, mencermati meja-meja yang diisi pasangan muda-mudi dimabuk gairah. Saat netra mata tertuju ke utara, Nott melihat Astoria melambaikan tangan dari meja oval di sudut ruangan.
Melangkah menuju meja di mana Astoria duduk menunggu dengan setumpuk tas dan kardus belanjaan (di mana-mana angota klan Greengrass memang terkenal gila belanja di butik-butik ritel terkemuka), Nott dengan teliti memandangi keseluruhan penampilan teman sejak kecilnya.
Sejak terakhir kali mereka bertemu, tak banyak perubahan mencolok terjadi di diri Astoria. Penyihir yang sudah dianggap Nott sebagai adik perempuannya itu tetap bergaya seanggun ratu. Rambut cokelat panjang Astoria yang halus tersisir rapi, kian dipercantik dengan bando perak bertahtakan permata berkilauan.
Tak seperti kakaknya yang gemar mengenakan pakaian serba ketat dan senantiasa mengumbar aurat, Astoria setia mengadopsi gaya busana bangsawan Inggris di Abad Pertengahan. Gaun pagi berpinggang tinggi yang terbuat dari satin lembut melayang anggun, semakin gemerlapan saat dipadukan dengan riasan natural yang terpoles di wajah aristokrat yang terpahat tanpa cacat.
Dengan penampilan tak bercela, tak heran jika Astoria menjadi calon menantu kesayangan Narcissa Malfoy. Seperti Astoria, ibu Draco Malfoy itu juga terobsesi pada dandanan ningrat yang berkelas. Terkadang, Nott suka berpikir kalau Astoria rela mengubah diri menjadi replika dan versi kedua Narcissa demi melancarkan mimpi menikahi si pewaris tunggal keluarga Malfoy.
"Apa kabar, Tori?" sapa Nott, mencium kedua pipi Astoria dengan lembut. Mendudukkan pinggul di kursi yang disesaki bantal harum penuh renda, Nott mengernyitkan kening memandangi daftar menu yang disediakan pemilik Madam Puddifoot's.
"Pesan saja sesukamu, Theo. Aku yang traktir," ucap Astoria polos tanpa berbelit-belit, keliru menafsirkan kerutan jidat Nott sebagai gelagat kebingungan memikirkan biaya makanan.
"Terima kasih, Tori. Tapi tak perlu sampai segitunya," balas Nott tersinggung. Meski kekurangan uang, ia masih punya harga diri. Sampai mati pun ia tak akan membiarkan seorang perempuan membiayai semua keperluan hidupnya.
Astoria yang menyadari nada sinis di kalimat Nott menutup mulut erat-erat. Meremas-remas tangan dengan gelisah, Astoria terdiam rikuh saat teman terbaiknya itu memesan teh mawar dan kue sus kacang.
"Nah, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Nott, menghirup seteguk teh mawar merah. Teh yang membuatnya hampir pingsan di tempat gara-gara rasa abnormal yang super-manis.
Mengelap bibir dengan serbet penuh rimpel (serbet yang kali ini membuat hidungnya gatal-gatal), Nott mengalihkan sasaran ke loyang sus kacang. Untung kali ini kue bulat itu sedikit gurih dan renyah, mampu melunturkan efek manis overdosis teh mawar pekat.
"Aku akan menikah dengan Draco, akhir Desember nanti," Astoria mengerang bahagia, menyambar tangan Nott dan meremasnya erat-erat. Menggenggam jemari Nott, Astoria kembali berceloteh dengan keriangan yang kentara.
"Akhirnya aku bisa menjadi Madam Malfoy, Theo. Akhirnya aku bisa mendapatkan keinginan terbesarku," Astoria mengangkat dagu malu-malu, mengerjapkan mata cokelat bening yang ditumpuki air mata bahagia.
Terpana di tempat, Nott membuka mulut tanpa suara. Dulu, sebelum hati dan dirinya berubah, Nott pasti senang Astoria menikah dengan pangeran hidung belang sekaliber Malfoy. Namun, sekarang berbeda. Sebagai seorang teman dekat sekaligus kakak, Nott tak suka Astoria berdampingan dengan bajingan cabul macam Malfoy.
Nott tahu, Astoria terlalu polos, naif dan lurus hati untuk mengetahui sosok busuk calon suaminya. Selama ini, Astoria yang gampang percaya terlalu dibutakan oleh cinta sehingga tak bisa membuka mata kalau tunangan sejak kecilnya itu tak mencintai dan sering mengkhianatinya.
Ya, mengkhianatinya...
Nott mendesis mengingat rentetan perselingkuhan menjijikkan yang dilakukan Malfoy di belakang punggung calon istrinya. Tak terhitung berapa kali Nott memergoki Malfoy berhubungan intim dengan wanita lain yang ditemui di berbagai pesta.
Nott bahkan pernah menangkap basah Malfoy bercinta gila-gilaan dengan asisten pribadi Astoria. Tepat di ranjang Astoria yang di saat kejadian jahanam berlangsung sedang berendam di kamar mandinya!
Perselingkuhan tanpa pandang bulu yang pasti bakal terus dilakukan Malfoy meskipun sudah mengikat janji setia sehidup semati dengan Astoria. Dengan seorang gadis naif pilihan orangtuanya...
Tapi, jika Nott membongkar kedok dan skandal seks Malfoy, akankah Astoria mau mendengarkan dengan cermat? Mau memercayai, tersadar dan berpaling muka?
Bah, Nott sendiri tak yakin Astoria bakal mengerti. Nott berani bertaruh kalau penyihir yang tengah menangis haru itu bakal menepis mentah-mentah tudingan perselingkuhan tersebut.
"Memangnya Malfoy mencintaimu, Tori?" Nott akhirnya melepas gembok corong suara, tak tahan lagi menyaksikan roman senang Astoria yang berlebihan. Sesungguhnya, Nott tak ingin menodai kegembiraan sobat kentalnya. Tapi, Nott juga tak bisa berdiam diri melihat Astoria merangkak menuju jurang kehancurannya sendiri.
"Draco mencintaiku! Aku yakin itu," angguk Astoria bersemangat, melumat habis kue busa dalam satu gigitan. Tampaknya, nada sangsi dalam pertanyaan Nott membuat Astoria yang biasanya berpenampilan sopan dan penuh pembawaan diri kehilangan kesantunan dalam sekejap.
"Tapi walau kalian sudah resmi bertunangan, Malfoy sering berhubungan badan dengan perempuan lain. Bukan tak mungkin aktivitas maksiat itu tetap dilanjutkan meski kalian sudah menikah nanti," Nott mengangkat alis tak percaya, terus mengunci tatapan kendati Astoria mulai terisak satu dua kali.
"Draco pasti berubah. Dia pasti setia padaku jika kami sudah menjadi suami-istri," Astoria menambahkan dengan lemah, mengusap-usap ujung mata dengan sehelai saputangan berbordir lambang keluarga Greengrass.
Desahan keras mengiringi hentakan punggung Nott ke sandaran kursi. Menepakkan tangan ke jidat, Nott berjuang meredam dorongan menunjuk otak pandir Astoria dengan acungan jari tengah.
"Dia tak akan pernah berubah, Tori. Perbuatan bejat sudah menjadi urat nadi kehidupan pria-pria di klan Malfoy!" Nott mengerang dalam dan kasar, mengabaikan puluhan kepala pengunjung yang mulai menoleh ingin tahu.
"Draco pasti berubah, Theo. Kau saja berubah," balas Astoria ngotot, menatap lemah dengan mata karamel yang berkaca-kaca. Melihat Nott terperanjat, Astoria kembali melanjutkan kalimat pembelaan.
"Dulu kau juga mata keranjang seperti Draco. Kau sering tidur dengan Daphne, bercinta menggebu-gebu dan penuh gairah nafsu sewaktu kau masih menikah dengan Granger," kecam Astoria, tak mengindahkan desisan Nott yang meminta untuk tak mengungkit-ungkit hal nista tersebut.
"Tapi, lihatlah kau sekarang. Kau berubah sepenuhnya," tegas Astoria yakin, merentangkan kedua tangan dengan penuh kemenangan.
"Astaga, Tori. Suka-suka kamu deh," gerutu Nott kalah, menghenyakkan diri semakin dalam di bangku penuh bantal berenda. Cemberut berat, mata hijau gelap Nott mengawasi Astoria yang tersenyum berpuas diri, menghirup-hirup teh rasa permen dengan elegan.
Jika tak memperhitungkan kondisi tempat minum teh yang padat pengunjung, Nott mungkin dengan senang hati mengguncang-guncang bahu ramping Astoria sampai sahabat perempuan yang paling dikasihinya itu tersadar dari kabut busuk kegilaan. Tapi, kerlingan ingin tahu dari puluhan pengunjung memaksa Nott mengurungkan niat mulia yang tertanam dalam-dalam di benak.
Selain itu, Nott juga tak mau diingatkan kembali akan pengkhianatannya terhadap Hermione. Pengkhianatan zalim yang membuatnya harus kehilangan cinta tulus Hermione.
"Terus, kamu sengaja mengundangku ke tempat minum kecentilan ini," Nott melambaikan sebelah tangan, menyapu dekorasi Madam Puddifoot's yang membuat mata sakit, "cuma untuk menggembar-gemborkan keantikan sikap Malfoy yang bisa berubah seperti bunglon?" tukas Nott sarkastik, melipat kedua tangan dengan gerakan mencemooh.
"Tidak, bukan hanya untuk itu saja," kata Astoria ringan, mencomot kembali satu kue busa yang masih tersisa. Menggigit pelan, Astoria kembali mengutarakan misi yang membuatnya terbang jauh-jauh dari London ke Hogsmeade di tengah cuaca ekstrem seperti sekarang.
"Aku ingin kau datang di pesta pernikahanku nanti, Theo," bujuk Astoria harap-harap cemas. Melihat wajah Nott berubah sekeras patung granit, Astoria buru-buru melanjutkan iming-iming.
"Aku tahu kau tak ingin bertemu Daphne. Tapi, aku mohon Theo, hari bahagiaku tak akan sempurna tanpa kehadiranmu," bisik Astoria pelan, mengusap-usap tangan Nott dengan gerakan kekanak-kanakan.
Menumpukan pandangan ke tarian jari Astoria di telapak tangannya, Nott tak kuasa menahan senyuman. Ingatan Nott terlempar ke masa kecil mereka, momen di mana Astoria sering mengusap-usap tangannya seperti anak kucing manja. Aktivitas merajuk yang selalu dilakukan Astoria untuk meluluhkan ketegasan hatinya.
Sejak pertama kali mereka bertemu, saat diperkenalkan di pesta malam dana keluarga Malfoy, Nott memang sudah berkeinginan melindungi Astoria seperti adik kandungnya sendiri. Adik perempuan yang tak pernah dimilikinya mengingat ibundanya meninggal dunia saat mengandung anak kedua.
Sedari awal perkenalan pun, Nott sudah melihat perbedaan bak bumi dan langit antara Astoria dengan kakaknya, Daphne. Tak seperti Daphne yang egois dan tahu apa yang diinginkannya, Astoria rapuh seperti boneka kaca. Terkadang watak cengengnya memancing keusilan teman-teman sebayanya, termasuk Draco Malfoy yang sering menjadikan Astoria sasaran kejahilan.
"Aku tidak takut pada Daphne, Tori," ungkap Nott apa adanya. Memang benar, Nott tak gentar bertemu muka dengan Daphne Greengrass. Yang menjadi ganjalan bagi Nott hanyalah keengganannya untuk merestui pernikahan Astoria dengan Malfoy. Perkawinan yang diyakini Nott cuma menggiring teman baiknya itu ke gerbang kehancuran.
"Lagipula, besar kemungkinan Daphne tak menghadiri pestamu," sindir Nott ketus, meraup sekeping sus goreng dan langsung mengunyah bulat-bulat dalam sekejap.
"Aku berani bertaruh Daphne lebih memilih meringkuk di atas meja judi atau di pelukan miliarder jompo yang ditemuinya di sana," beber Nott sinis, merujuk pada rentetan skandal seks Daphne yang mulai terendus media.
Memang, sejak hubungan terlarang Daphne dengan mendiang suami ketiga Lady Zabini, Mr Rousseau terkuak, citra Daphne sebagai gadis baik-baik mulai coreng-moreng. Walau Daphne sudah menggelar konferensi pers untuk mensterilkan masalah, massa sudah terlanjur mencapnya bersalah. Imej Daphne yang muram semakin kelam saat sejumlah foto mesra tak senonoh dengan beberapa pria tua berduit terungkap ke permukaan.
"Daphne pasti datang, Theo. Dia sudah setuju untuk menjadi pengiring pengantin," sangkal Astoria lemah, tanpa sadar menyendokkan segentong gula batu ke dalam teh permen yang sudah luar biasa manis.
Menyeruput teh permen manis, Astoria mencoba meredam keresahan yang menggelinding di dada. Sebagai seorang adik, Astoria tahu hubungan gelap Daphne dengan sejumlah suami orang cuma segelintir dosa mengerikan yang dilakukan kakak kandungnya. Banyak sekali dosa nafsu dan skandal seks memalukan yang disembunyikan Daphne dari pantauan masyarakat termasuk orangtua mereka yang menjunjung tinggi adat istiadat.
Namun, sebagai seorang gadis yang sejak kecil hidup di bawah ketiak sang kakak, Astoria tak bisa berbuat banyak. Lagipula, semua wejangan yang diberikan seringkali dilemparkan kembali ke mukanya. Membuat Astoria semakin enggan mencampuri urusan keduniaan saudari kandung satu-satunya itu.
"Kalau kau tak cemas bertemu Daphne, ayo datang dong Theo. Kumohon, kumohon, kumohon," rajuk Astoria, mengubur kenangan afair terlarang kakaknya ke ceruk terdalam. Di saat Nott tak bergeming, Astoria melancarkan kuda-kuda andalan, menatap Nott dengan mata cokelat bulat yang bersinar kekanak-kanakan.
"Kau juga bisa mengajak Granger kalau mau," Astoria menawarkan tanpa tedeng aling-aling, berharap usulan itu bisa menyusutkan keraguan Nott. Sayangnya, tak seperti prediksi, Nott langsung meradang mendengar gagasan masuk di akal tersebut.
"Apa kau gila, Tori? Mengajak Hermione ke pesta kaum barbar seperti itu?" hardik Nott kesal, menggerutu saat Astoria mengernyit tak suka karena resepsi pernikahannya disamakan dengan perayaan makhluk tak bermoral.
"Aku tak akan membiarkan Hermione jadi target permusuhan gerombolan tamu agung jalang yang kau undang. Keparat tak berharga yang merasa paling berkuasa di dunia hanya karena kebetulan berdarah murni," tuding Nott panas, tak berbelas ampun meskipun Astoria kian menciut dan tenggelam di balik sandaran jok empuk.
"Selain itu, Hermione juga tak mau kuajak. Ia pasti menghabiskan liburan Natal di The Burrow," geram Nott, menyelipkan nada menghina saat menyebut tempat tinggal bobrok milik klan rambut merah Weasley.
"Oh, itu berarti Granger masih berkencan dengan Charlie Weasley?" Astoria bertanya lugu, tak sadar kalau dirinya sudah menginjak tombol pemicu bom aktif. Terbukti sedetik setelah pertanyaan sableng tersebut meluncur, Nott langsung bangkit seakan-akan pantatnya ditusuk ratusan duri landak.
"Jangan berani-berani menyebut nama bajingan sialan itu di depanku, Tori!" bentak Nott, melempar sepuluh koin perak Sickle dan empat Knut perunggu untuk membayar biaya kue dan teh yang disantap Astoria dan dirinya. Menumpukan tangan di atas meja oval berbordir buket bunga petunia, Nott berkata dengan kemarahan terpendam.
"Aku akan datang ke pesta pernikahanmu, Tori. Kirim saja kartu undangannya," tegas Nott, berbalik pergi dalam langkah-langkah panjang, meninggalkan Astoria yang masih sibuk menebak-nebak apa pemicu kedongkolan Nott barusan.
Menjauhi toko Madam Puddifoot's dengan kram otak akut, Nott berjalan seperti orang kesetanan, mengelilingi jalan dingin Hogsmeade dengan kecepatan membutakan. Tak menjawab sapaan sok kenal sok akrab dari sejumlah siswi Hogwarts yang berpapasan di simpang jalan, Nott menelisik kembali kemarahan yang menggerogoti pikiran.
Sejujurnya, Nott tak mau meninggalkan Astoria dalam kondisi salah kaprah. Tapi, ucapan menusuk Astoria tentang hubungan percintaan antara Hermione dan Charlie Weasley membuat emosi Nott meledak seperti rudal balistik bocor.
Gara-gara komentar Astoria itulah Nott jadi membayangkan yang tidak-tidak. Misalnya, bagaimana jika saat menginap di The Burrow, Hermione menikah diam-diam dengan Charlie? Atau bagaimana jika sewaktu bermalam di kandang babi beratap jerami itu, Hermione tidur satu ranjang, berdekapan penuh keintiman bersama pendekar naga-nya itu?
Tidur satu ranjang...
Imajinasi tentang Hermione yang bermesraan bersama Charlie di kasur sempit membuat hati Nott sakit. Kendati Nott tahu hubungan seksual di luar pernikahan lumrah dilakoni banyak penyihir, ia tetap tak bisa terima jika Hermione membagi tubuhnya untuk laki-laki lain.
Berhenti melangkah di tengah cabang jalan, membuat sejumlah pejalan kaki menggeram karena laju mereka terhalang, Nott memegangi tulang dada yang berdenyut nyeri. Matanya mengatup rapat saat khayalan tentang percintaan panas Hermione dengan Charlie merebak di pembuluh otak.
Rasa sakit yang ditimbulkan fantasi itu jauh lebih menggigit ketimbang kekecewaan yang dirasakan saat melihat Daphne berpelukan tanpa busana bersama Blaise Zabini semasa di Hogwarts dulu.
Kecemburuan yang menghanguskan dada saat ini bahkan jauh lebih berbahaya daripada perasaan yang muncul saat dirinya mengetahui Daphne diam-diam mengencani laki-laki lain sewaktu mereka kuliah dulu.
Menengadahkan wajah, merasakan aliran angin dingin musim gugur yang bercampur serpihan tipis salju, Nott mencoba menjernihkan pikiran. Mendiagnosis ulang pro dan kontra yang saling berkejaran di alam memori.
Sebenarnya, jika mengekori ego Slytherin, Nott pasti sudah menghilang ke Ukraina dan menghajar Charlie dengan sepaket Kutukan Avada Kedavra. Sejujurnya, jika mengikuti hasrat kelaki-lakian, ia pasti sudah merantai dan mengikat Hermione bersamanya dalam keabadian.
Sayangnya, Nott tahu kalau cinta tak bisa dipaksakan. Meski kedengaran egois, Nott menginginkan Hermione kembali mencintainya dengan tulus seperti dulu. Bukan cinta karena kasihan atau keterpaksaan.
Lamunan Nott tentang keinginan menggapai kemurnian cinta Hermione terpotong saat suara yang tiap lekuknya sudah ia hafal mengalun ke dalam kuping.
Memalingkan wajah ke samping kanan, Nott melihat Hermione dan dua teman karibnya, Neville Longbottom dan Luna Lovegood berdiri di depan konter toko jubah pesta Gladrags Wizardwear. Dari kejauhan terlihat jelas kalau tiga awak Laskar Dumbledore itu sedang mengagumi sepotong gaun pesta yang terpajang di displai utama.
Maju berhati-hati tanpa bersuara, Nott mendekati tiga sekawan yang saling berpijak berdekatan. Saat jarak mereka cuma terpisah beberapa langkah, Nott bisa mendengar suara lembut Luna yang mendesak Hermione untuk membeli busana mewah seharga puluhan juta Galleon.
"Beli saja, Hermione. Aku yakin gaun cantik itu cocok di tubuhmu."
Tak sadar dirinya diamat-amati, Hermione menggelengkan kepala kuat-kuat. Manik sejuknya masih terarah ke gaun mewah berbahan sifon. Busana elegan warna koral yang bisa dipakai untuk berbagai kesempatan; acara minum teh sore maupun pesta dansa malam hari.
"Tak bisa, Luna. Harganya terlalu tinggi. Setara dengan gaji merangkap tunjangan setahun di Hogwarts," bisik Hermione sendu.
"Minta saja pada orangtuamu, Hermione," usul Neville bijak, memandangi wajah Hermione yang kusut masai. "Hitung-hitung sebagai hadiah Natal dari mereka," angguk Neville, mengajak Hermione untuk masuk ke dalam toko yang dipadati jubah pesta berkualitas nomor satu.
"Itu namanya pemborosan, Neville," Hermione tersentak kecil, menggamit tangan Neville yang sudah bercokol di kenop pintu toko. "Lagipula, aku juga tak terlalu membutuhkan jubah pesta glamor seperti itu," lanjut Hermione tegas, menyeret kedua sobat akrabnya untuk segera menjauh dari pakaian berbandrol fantastis.
Sepeninggal Hermione yang menghilang masuk ke toko alat-alat sihir Dervish and Banges, Nott berdiri membeku di depan kaca displai toko Gladrags Wizardwear. Mata hijau pekat Nott menerobos hampa, mengamati lekuk gaun mempesona tersebut. Pakaian berharga selangit yang harus ditebus dengan setahun penuh bekerja di Hogwarts tanpa digaji.
Mengepalkan tinju, Nott melampiaskan kekesalan dengan menumbuk tembok kosong. Bernapas putus dan pendek-pendek, Nott menyesali kegagalan membahagiakan Hermione. Kegagalan membelikan Hermione pakaian idaman yang diimpikan.
Melempar pandang getir, Nott mencermati kembali gaun indah tersebut. Seandainya dompetnya tak setipis ini, ia tentu bisa membeli baju itu dan memberinya sebagai kado Natal. Sayangnya, tak ada uang lebih di sakunya saat ini, selain uang yang sudah ditabung untuk keperluan kado Natal Hermione dan ayahnya.
Menumpukan kaki di belakang tembok yang retak-retak, Nott menatap jalanan bising di sekitarnya. Gelak tawa murid-murid Hogwarts yang tengah berbelanja aneka permen maupun perlengkapan Natal berdengung-dengung di indra pendengaran. Bersatu padu dengan kepahitan setara empedu yang mengganjal di tenggorokan.
Mendongakkan muka ke atas, menatap awan kelabu suram yang berarak seirama, Nott menyesali keironisan jalur hidupnya saat ini. Dulu, sewaktu ia masih kaya-raya dan tak kekurangan harta, tak pernah sekalipun ia membelikan hadiah untuk Hermione.
Dulu, sewaktu uang bisa dipetik dengan mudah, tak sekalipun ia mewujudkan keinginan terpendam Hermione. Ia bahkan tega membelikan wanita piaraan dan kekasih gelapnya, Daphne, busana yang sangat diangan-angankan Hermione. Gaun berwarna hijau perak Slytherin yang sengaja dikenakan Daphne saat meremukkan kepingan hati Hermione.
Kini, di saat finansial serba mepet dan pas-pasan, Nott malah ingin menghujani Hermione dengan benda-benda berkilauan. Seperti membelikan jubah pesta warna koral tersebut. Gaun edisi terbatas yang saat ini tengah diamat-amati dengan penuh minat oleh seorang penyihir pendek gemuk.
Memasung perih, Nott melihat tak berdaya saat wanita paruh baya itu dengan mudahnya mengeluarkan berkantung-kantung Galleon emas untuk membeli gaun tersebut. Jubah pesta yang sudah pasti robek kiri-kanan jika dipakai oleh penyihir tak tahu ukuran badan itu.
Si penjaga toko sendiri tampak ngeri melepas barang dagangan berharga pada pembeli bertubuh penuh lemak bergelambir itu. Tapi, berhubung siapa yang punya uang berarti punya kuasa, si pramuniaga terpaksa merelakan gaun berpotongan mungil tersebut berpindah tangan ke ibu-ibu obesitas.
Sadar dirinya tak bisa berbuat apa-apa, Nott memalingkan wajah dan meninggalkan toko Gladrags Wizardwear. Mungkin ia tak bisa membelikan Hermione gaun pesta idamannya. Tapi setidaknya, dengan uang jerih payahnya, ia mampu memberikan Hermione kado Natal istimewa.
Kado yang diharapkan bisa menyentuh dan menggugah sanubari Hermione...
Sepanjang perjalanan menuju Kandang Burung Hantu di Menara Barat, sanubari Hermione dicekoki keresahan tentang arah masa depan hubungannya dengan Charlie. Di awal-awal pacaran, Hermione memang sedikit terbuai dengan kehangatan kasih sayang putra kedua keluarga Weasley itu.
Tadinya, Hermione mengira ia sudah mulai menyayangi Charlie bukan dalam kapasitas seorang saudara. Tapi, kehadiran Nott, termasuk insiden di mana mantan suaminya menungguinya di Ruang Kesehatan memutarbalikkan semua perkiraan tersebut.
Sesampainya di Kandang Burung Hantu, Hermione mengarahkan pandangan ke kasau, mencari-cari burung hantu tegap yang bisa diandalkan untuk terbang jauh ke Ukraina. Betul sekali, Ukraina, tempat di mana surat yang sedang dipegang erat-erat ini harus ditujukan.
Memanggil seekor burung hantu besar yang bertengger di bubungan paling atas, Hermione melirik gugup gulungan perkamen yang tersimpan di kepalan tangan. Sebenarnya, tak ada hal spesial di surat kali ini, sama seperti surat-surat sebelumnya. Tapi, entah mengapa, pemahaman tentang perasaan sejatinya pada Charlie membuat kekalutan Hermione semakin menjadi-jadi.
"Ya Tuhan, Charlie. Maafkan aku karena tak bisa mencintaimu lebih dari ini," bisik Hermione rendah, mengikatkan perkamen di kaki si burung hantu yang mendongak patuh. Setelah gulungan perkamen terpasang kuat, si burung hantu beruhu sok penting sebelum merentangkan sayap lebar-lebar dan keluar melalui daun jendela yang terbuka.
"Hermione?"
Panggilan tersebut membuat Hermione terlonjak kaget, nyaris menginjak gundukan tahi burung hantu yang bertebaran. Tampaknya, lamunan tentang Charlie membuat Hermione tak menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya.
Melirik ke samping, Hermione menahan napas saat bertatapan dengan iris hijau gelap Nott. Pagi itu, Nott tampil sederhana seperti biasanya. Pakaian informal dan jubah hitam yang lusuh berkibar-kibar ditiup hembusan angin awal Desember. Namun, di balik penampilan standar, aura dominan Nott masih bertakhta, membuat jantung Hermione berdentang-dentang tak karuan.
"Halo, Nott," sapa Hermione kikuk, mengutuki diri sendiri karena suaranya terdengar lemah. Begitulah, semenjak mendengar pengakuan cinta Nott di Ruang Kesehatan, Hermione jadi serba salah menghadapi bekas suaminya tersebut.
Dari nada suara (waktu itu Hermione belum tidur dan pura-pura mendengkur keras untuk menutupi rasa malu), sepertinya Nott benar-benar tulus saat menyampaikan ungkapan cinta. Ketulusan yang lagi-lagi membuat hati Hermione terbelah dalam kegelisahan.
"Halo juga, Hermione," timpal Nott riang, memanggil seekor burung hantu burik berbintik-bintik yang menghuni kasau tengah. Tak menghiraukan sepasang kaki kodok yang mencuat keluar dari paruh si burung, Nott dengan santai mengikatkan segulung perkamen dan menggebah burung hantu pos bertompel tersebut dengan satu jentikan sayang.
"Surat untuk ayahku," Nott menjelaskan tanpa diminta, menepuk-nepuk lipatan jubah hitam yang ditempeli serpihan kaki kodok.
"Aku bilang padanya kalau aku akan pulang ke Knockturn Alley, liburan Natal nanti," pungkas Nott, tangannya tanpa malu-malu menyelinap ke lingkar pinggang Hermione. Pelan tapi pasti membimbing bekas istrinya untuk segera kembali ke Aula Besar.
"Knockturn Alley? Bukankah ayahmu tinggal di flat Leaky Cauldron?" kekagetan membuat Hermione tak melepaskan pegangan tangan Nott di pinggangnya.
Meskipun Hermione tahu kalau Mister Nott merupakan bekas perwira Pelahap Maut sehingga tak asing lagi dengan zona sarat penyihir hitam itu, Hermione tetap tak sanggup membayangkan bekas ayah mertuanya menetap di kompleks terkumuh se-Inggris Raya.
"Tadinya sih memang di sana," jawab Nott ramah, menyelipkan sehelai ikal cokelat Hermione yang terlepas dari gulungan. Meremas jemari Hermione yang dingin akibat terkaman cuaca, Nott kembali berkisah.
"Tapi, semenjak istri Neville, si Hannah Abbot Longbottom mengambil-alih Leaky Cauldron, kami tak bisa menyewa lagi di sana. Harga kamarnya terlalu tinggi. Kau tahu bukan kalau gaji guru Hogwarts tak terlalu besar," ujar Nott, menahan kegetiran di intonasi suara.
Tersenyum masygul, Hermione membenarkan pendapat tersebut. Jika dibandingkan dengan penghasilan Nott sebagai pemilik ratusan perusahaan kelas dunia, bayaran mengajar di Hogwarts terbilang kelas teri. Mendiang guru Ramuan, Profesor Severus Snape yang puluhan tahun mengabdi di Hogwarts saja cuma punya satu rumah hampir roboh di distrik kumuh, Spinner's End.
"Kau bisa meminta bantuan Neville. Dia dan Hannah pasti mau menampungmu," sela Hermione, mengernyit heran saat rahang jantan dan maskulin Nott berkedut tak suka.
"Aku tak sudi hidup dari belas kasihan orang lain, Hermione," Nott mendengus penuh harga diri, matanya menerawang memandangi beberapa burung hantu cokelat kemerahan yang melayang di dekat belahan bukit berangin.
"Ayahku juga berpendapat sama. Ia lebih suka tinggal di gubuk reyot yang dibeli dari keringat sendiri ketimbang mengemis-ngemis di kaki orang lain," Nott memandang dengan sorot mata keras kepala. Iris hijaunya menggelap ketika mengingat saat-saat di mana teman-teman darah murninya menolak membantu sewaktu ia tersingkir dari Nott Manor.
Penegasan sikap Nott membuat Hermione terperangah. Berhenti di undakan terbawah tangga Kandang Burung Hantu, Hermione mencermati Nott dari ujung kaki hingga puncak rambut dengan pandangan mengapresiasi.
"Kau benar-benar berubah total, Nott. Aku salut padamu," tukas Hermione serius, sedikit tersekat saat mata Nott bersinar gembira mendengar sanjungan tersebut.
"Ini semua berkat dirimu, Hermione. Sejak kehilanganmu aku baru sadar kalau harta tak bisa membeli segalanya," Nott menatap lembut dan dalam, memegang dagu Hermione di antara ibu jari dan telunjuk. Tak puas dengan jarak di antara mereka, Nott merapatkan tubuh dan memeluk Hermione lekat-lekat, seakan-akan tak mau melepaskan untuk selamanya.
"Oh, baguslah kalau begitu," potong Hermione, berupaya membebaskan diri dari rengkuhan intim bekas pendamping hidupnya itu.
Namun, seperti penyihir ras murni yang dibesarkan dengan prinsip Slytherin, Nott tak kenal ampun. Jarinya terus menjajah lekuk wajah dan punggung Hermione, membelai dan mengusap dengan kelembutan nyata.
Sentuhan erotis jari Nott membuat Hermione bergoyang rikuh di kedua tungkai. Di setiap belaian, Hermione merasa kesejukan tak terkatakan perlahan menyirami hati yang kerontang. Di setiap usapan, Hermione mulai menyadari kalau perasaan cinta yang sudah mati mulai menggeliat kembali.
"Apa Charlie Weasley tidur bersamamu di The Burrow, Hermione?"
Pertanyaan tak terduga itu memantik emosi Hermione. Mengusir perasaan nyaman yang ditimbulkan usapan hangat Nott, Hermione mendelik berang, memandangi wajah cemas bekas suaminya dengan kekesalan yang tak ditutup-tutupi.
"Tidur bersama atau tidak, itu bukan urusanmu. Memangnya siapa kau berani mencampuri privasiku?" Hermione membalas tajam, menarik diri dan menempatkan kedua tangan di lekuk pinggul.
Tanggapan judes Hermione sempat membuat Nott kehilangan kesabaran. Untungnya, Nott buru-buru tersadar kalau kecemburuan gawat darurat-lah yang membuat akal sehat yang biasanya tenang dan begitu penuh perhitungan keseleo seperti ini.
Berdeham memulihkan diri, Nott menghalau hasrat memasung Hermione ke tembok, menciumi sambil berteriak keras-keras, menyatakan sepenuhnya kalau dirinya berhak untuk mengurusi kehidupan asmara wanita pujaannya.
"Saat ini aku memang bukan siapa-siapamu, Hermione," bisik Nott parau, mengunci pandangan dengan iris Hermione yang berpijar menantang.
"Tapi, tolong jawab aku. Apa kau sering tidur bersama si Weasley itu?" Nott bertanya lagi, mencurahkan ombak kesedihan dan gelombang kecemburuan dalam badai pertanyaan yang diajukan.
Tadinya, Hermione berencana mencerca Nott karena tega-teganya berpikiran buruk seperti itu. Namun, kemasygulan yang membungkus indra penglihatan Nott membuat hati Hermione mencair. Biar begini-begini juga, Hermione bukanlah penyihir sadis yang tega berjingkrak-jingkrak di atas penderitaan orang lain.
"Aku dan Charlie tak pernah tidur bersama," jawab Hermione jujur. Melihat sinar harapan mulai berpendar di sepasang telaga hijau gelap Nott, Hermione tersenyum kecil dan melanjutkan keterangan.
"Aku pantang kumpul kebo atau berhubungan seksual dengan siapapun di luar ikatan pernikahan. Terserah jika kau mencap pandanganku kampungan, udik, ortodoks, kolot atau ketinggalan zaman," jawab Hermione lugas, terengah kencang saat Nott tiba-tiba memeluk erat-erat.
"Aku tak pernah menganggapmu terbelakang, Hermione," bisik Nott sungguh-sungguh, menciumi pipi Hermione dengan bertubi-tubi. Di setiap kecupan manis, Nott tak henti-hentinya mensyukuri prinsip hidup yang dipegang teguh Hermione selama ini.
Menangkup wajah Hermione yang terheran-heran, Nott menyunggingkan senyum posesif. Seringai serigala yang muncul saat dirinya mengetahui kalau Hermione tak pernah memberikan tubuh pada laki-laki lain.
"Aku senang sekali, Hermione. Ini artinya kau akan tetap menjadi milikku selamanya," gumam Nott yakin, membelai-belai bibir Hermione dengan ibu jari.
"Tapi, aku-" Hermione terdiam saat Nott meletakkan telunjuk di mulutnya, memintanya untuk menghentikan segala bantahan dan sanggahan.
"Aku tahu kau belum bisa percaya padaku. Tapi, aku bersungguh-sungguh, Hermione. Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu," tekan Nott, mengusap-usap bibir bawah Hermione dengan jemari.
Tatapan pekat emosi dan senyum percaya diri yang tercetak di bibir puitis Nott membuat ludah Hermione tersangkut di kerongkongan. Untuk beberapa jenak, Hermione mematung dalam diam. Tak tahu harus bersikap atau berkata apa menanggapi pernyataan cinta yang diiringi kelembutan dan kemurnian itu.
Kelembutan dan kemurnian yang terlihat jelas dari sepasang mata hijau gelap yang tengah menatap dalam-dalam tanpa berkedip. Dua hal penting yang baru Hermione sadari tak pernah dipancarkan Nott sewaktu mengungkapkan kalimat serupa di masa-masa pernikahan mereka dulu.
"Aku bersumpah untuk menghancurkan hatimu dan kariermu. Hatimu, dengan berpura-pura mencintaimu!"
Berpura-pura mencintaimu...
Kenangan pahit itu menyentak emosi Hermione. Mungkinkah seperti sebelumnya, pengakuan cinta Nott cuma sekadar plot dan lelucon pahit tak bermutu? Mungkinkah seperti sebelumnya, Nott cuma ingin bermain-main dan mentertawakan kebodohan polosnya?
Di tengah kebimbangan, hati kecil Hermione berteriak nyaring. Menjeritkan semua pengorbanan tanpa batas yang dilakukan Nott. Mulai dari pelepasan harta demi terbebas dari Daphne Greengrass hingga keridhaan Nott dalam menghadapi semua perlakuan kasar tak beralasan.
Nott sendiri memandang diamnya Hermione sebagai sebuah kemajuan besar. Dibanding penolakan yang diterimanya dulu, sikap tutup mulut Hermione kali ini jauh lebih baik. Setidaknya kebungkaman ini menandakan kalau hati Hermione mulai terketuk dengan pernyataan cinta barusan.
Selaras dengan pemahaman itu, ujung bibir Nott melesat ke atas, membentuk sebaris senyuman optimis. Menggandeng lengan Hermione dengan protektif, Nott bersiul pelan dari balik gigi, menyalurkan kegembiraan dan rasa bahagia yang membuncah dengan bersenandung riang tanpa nada...
Nada-nada lagu Natal dan melodi perkusi yang mengalun riang gembira tak mampu membuyarkan carut-marut di benak Hermione. Semenjak peristiwa di Kandang Burung Hantu, pikiran Hermione seolah terbagi-bagi, membuatnya tak bisa menikmati kesemarakan perayaan Natal yang menjadi tradisi tahunan The Burrow.
Menghembuskan napas samar, Hermione merapikan bolero biru pastel berbordir tebal, hadiah Natal dari kekasihnya, Charlie Weasley. Melirik ke samping, Hermione melihat Charlie sedang duduk bersila di dekat perapian, memangku keponakan perempuannya, Dominique Weasley yang sibuk mengoceh dalam bahasa planet.
Walau sekelilingnya dipenuhi orang, Hermione merasa sangat terasing dan kesepian. Terkadang, di saat wajahnya sudah lelah memasang topeng bahagia, Hermione ingin menjerit sekuat-kuatnya. Meluapkan semua kegundahan yang menguasai jiwa dan raga.
"Kenapa, Hermione? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Ginny tiba-tiba, mendudukkan pantat di kursi beledu bersandaran lurus, tepat di dekat sofa yang ditunggangi Hermione. Pupil cokelat kekuningan Ginny menyipit, menatap Hermione dengan pandangan menyelidik.
"Tidak, Gin. Tidak ada apa-apa," jawab Hermione pelan, meringis saat hidung Ginny mendengus, mengeluarkan ekspresi tak percaya. Dari ekor mata, Hermione melihat Charlie menengok ingin tahu, menatap lekat-lekat dengan manik biru bunga forget-me-not yang sarat emosi tak terbaca.
Seperti Ginny yang bernaluri tajam, Charlie juga sudah menyadari keresahan Hermione. Sejak kedatangan Hermione di The Burrow kemarin pagi, Charlie melihat kalau pacarnya itu tengah bergumul dalam keragu-raguan.
Terkadang Charlie memergoki Hermione memandangi beranda dengan pandangan hampa, seakan-akan tengah mengharapkan kehadiran seseorang yang sangat didambakan.
Mengelus rambut putih keperakan Dominique, Charlie menekan syak wasangka yang melanda. Dilihat dari gerak-gerik Hermione, Charlie tahu kalau wanita tercintanya tengah memikirkan bekas suaminya, si begundal bangsat Theodore Nott.
Pria yang menjadi duri dalam dagingnya...
Penghancur ketenangan hati dan cintanya...
Sewaktu membaca surat Hermione yang menginformasikan tentang kehadiran Nott di Hogwarts, Charlie sempat kehilangan logika. Bara kecemburuan yang menggelegak di hati saat itu bahkan lebih panas membara dari napas api yang disemburkan naga raksasa yang tengah dikaji dengan teliti.
Jika tak mengingat kontrak kerja, Charlie mungkin sudah menunggangi selusin naga berkepala tiga dan melabrak Nott di Hogwarts. Menuntut pria bajingan itu untuk pergi menjauh dari kekasihnya.
Meski agak memalukan, Charlie harus mengakui kalau ia cemas keberadaan Nott akan melunturkan cinta Hermione padanya. Hermione memang bersikeras mengatakan perasaan sayangnya pada Nott sudah mati. Tapi, pada dasarnya benih cinta itu pernah tumbuh dan masih berpeluang bersemi kembali.
Belum lagi dengan surat terbaru dari Hermione yang datang pekan lalu. Di surat tersebut, Hermione mengatakan akan memberi keputusan akhir tentang masa depan hubungan mereka.
Keputusan akhir tentang masa depan mereka...
Ya, hal itulah yang menjadi sumber utama ketakutan Charlie. Memang, sewaktu mengajak Hermione berpacaran temporer, Charlie mengumumkan kerelaan dan kesediaan untuk menerima apapun keputusan Hermione. Dengan kata lain, Charlie tak akan menentang jika Hermione memilih putus dan tak jadi berdampingan seumur hidup dengannya.
Sesungguhnya, jika menelusuri perjalanan kasih mereka selama ini, Charlie sempat merasakan seserpih harapan. Selama berkencan, Hermione selalu menunjukkan gelagat kekasih yang berbahagia.
Hermione juga menyambut semua bentuk perlakuan cinta kasih dengan semangat menggebu-gebu. Setiap kali Charlie memeluk atau mencium, Hermione membalas dengan antusiasme senada. Tindakan yang membuat Charlie berbunga-bunga dan berharap mimpi indahnya bakal menjadi nyata.
Sayangnya, seirama dengan kehadiran kembali Nott di hidup Hermione, gita cinta Charlie seolah terhenti di tengah nada. Menilik sikap Hermione selama bermalam di The Burrow, insting Charlie mengatakan bahwa kisah kasihnya bersama Hermione tengah menuju melodi penghabisan.
Rajukan cadel Dominique yang memintanya untuk bernyanyi sambil bermain boneka membuat Charlie terlempar dari lamunan. Tersenyum penuh kasih, Charlie mencium puncak kepala Dominique dan beranjak menuju rak batu di tengah ruangan, tempat di mana boneka beruang bertebaran.
Melirik Hermione untuk terakhir kali, Charlie menghembuskan napas berat. Walau otak dan akal sehat menuntut hal sebaliknya, Charlie tetap memilih mematuhi janji hati. Ia akan menerima dan mematuhi semua keputusan Hermione sebab di lubuk hati terdalam Charlie tahu kalau Hermione bahagia, ia juga pasti bahagia...
"Seharian ini kulihat kau kurang bahagia, Hermione. Apa yang kau sembunyikan dariku?"
Pertanyaan galak itu membuat Hermione kelabakan. Mengalihkan pandang dari Charlie yang tengah memainkan boneka beruang Dominique, Hermione memelintir jari di pangkuan, buru-buru mencari alibi logis untuk menanggapi pertanyaan Ginny.
Belum sempat Hermione membuka mulut, Ginny kembali berkicau. Mata cokelat emasnya menatap lurus, tak memberi kesempatan bagi Hermione untuk berkedip maupun menurunkan muka.
"Jangan beri aku alasan dibuat-buat seperti, oh tidak ada apa-apa, Gin. Ini cuma sindrom konyol sebelum menstruasi," Ginny berkomentar tajam, membuyarkan alasan yang sudah disiapkan Hermione sebelumnya.
"Jangan coba-coba membohongiku, Hermione. Aku tahu kau punya masalah yang membelitmu," Ginny mendadak merendahkan suara sambil mengerling sekilas ke arah Charlie yang tengah tertawa gembira bersama Dominique.
"Apa ini berkaitan dengan Charlie? Kulihat interaksi kalian aneh sekali hari ini."
Tebakan Ginny yang tepat sasaran membuat Hermione harus meruntuhkan benteng pertahanan diri. Percuma saja rasanya menutup-nutupi sesuatu dari Ginny. Lagipula, cepat atau lambat Ginny akan mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya mengingat Hermione berencana menjernihkan semua problema malam ini juga.
Tanpa suara, Hermione mengangguk-angguk pelan mengiyakan, membenarkan prediksi Ginny tentang akar permasalahan yang mendera. Begitu melihat gerakan kepala Hermione, Ginny buru-buru membawa teman baiknya ke kamar lama di lantai tiga The Burrow.
"Ayo ke kamarku. Biar pembicaraan kita lebih tenang dan terjamin," Ginny melepas napas dalam desisan rendah, mengedikkan bahu ke pemandangan bising yang mengudara di ruang keluarga. Selain diisi Charlie yang tengah bernyanyi keras-keras bersama Dominique, ruangan bulat itu juga dipenuhi tamu dan anggota keluarga Weasley lain, termasuk kedua orangtua Hermione yang jauh-jauh datang dari London.
Menyeret Hermione dengan tergesa-gesa, dalam waktu singkat Ginny sudah sampai di kamar lawas yang masih apik terawat. Membuka dan mengunci pintu dengan Mantra Segel, Ginny tanpa aba-aba langsung memberondong Hermione dengan praduga lain.
"Kau ingin putus dari Charlie ya, Hermione?"
Tersenyum lemah, Hermione kembali mengiyakan terkaan tersebut. Perasaan bersalah di sanubari Hermione semakin memuncak saat Ginny menghempaskan tubuh di ranjang. Raut kekecewaan yang tercetak jelas di wajah Ginny tak ubahnya tikaman belati yang mengiris-iris hati.
Hermione paham selama ini Ginny berharap banyak padanya. Sejak berteman akrab di Hogwarts, Ginny memang menginginkan Hermione menjadi kakak iparnya. Hermione tahu, impian Ginny untuk menjadikannya kakak ipar yang sempat meranggas kala dirinya menolak Ron kembali berkembang saat perasaan sejati Charlie terdeteksi.
"Maaf jika aku mengecewakanmu, Gin," Hermione meminta maaf dengan sangat, menggenggam tangan Ginny dengan penuh kasih. Menumpukan tatapan ke manik cokelat brendi Ginny yang berkilat sendu, Hermione memberanikan diri mencurahkan unek-unek.
"Meski berulangkali mencoba, aku tak bisa mencintai Charlie lebih dari seorang saudara. Aku menyayangi Charlie. Benar-benar menyayanginya. Jadi, aku tak sampai hati terus mengkhianati dengan berpura-pura mencintai."
Ginny terpekur membisu mendengarkan argumentasi Hermione. Seperti yang dikatakan Hermione, ia memang sangat kecewa karena tak bisa menyatukan saudara kandungnya dengan sobat perempuan terbaiknya.
Tapi, Ginny mengerti kalau ketetapan final memang ada di tangan Hermione dan sebagai teman terdekat, ia harus menghormatinya.
Selain itu, yang paling terpenting, Ginny tahu kalau cinta adalah karunia Tuhan yang tak bisa dipaksakan. Jika Hermione tak menyimpan perasaan suci itu pada Charlie, ia tak punya hak untuk memaksakan kehendak.
Selepas mengakhiri penjelasan, Hermione tercenung getir, menatap menyesal wajah Ginny yang tertunduk murung. Saat Ginny mengangkat muka dan menyelipkan senyum kecil, kelegaan tak terhingga seolah menerjang Hermione.
"Aku mengerti, Hermione. Ini hidupmu dan hanya kau yang bisa menentukan ke mana kakimu melangkah," bisik Ginny, meremas tangan Hermione yang menangkup jemari. Bergeser sedikit, Ginny memangkas jarak antara dirinya dengan Hermione. Senyum pengertian terus terukir di bibir, berpadu dengan sinar pemahaman di mata cokelat kuning yang menyala bersahabat.
"Aku yakin Charlie tak akan marah mendengar keputusan akhirmu ini. Asal kau tahu, Charlie itu penggemar sejati Mahatma Gandhi," ujar Ginny penuh percaya diri, menyebut nama mendiang pemimpin spiritual sekaligus politikus kharismatik asal India. Seorang Muggle aktivis kemerdekaan yang buah pikiran dan ajaran hidupnya banyak diadopsi penyihir cinta damai di seluruh dunia.
"Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi. Cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam. Tak pernah membalas dendam," Hermione dan Ginny secara bersamaan mengucapkan kalimat tentang makna cinta yang diutarakan si Bapak Bangsa India.
Cinta tak pernah berdendam. Tak pernah membalas dendam...
Memandang punggung Ginny yang menghilang di balik ambang pintu, Hermione merebahkan tubuh di ranjang berseprai katun warna monokrom. Tadi, usai pengertian terjalin di antara mereka, Ginny mempersilahkan Hermione untuk beristirahat di kamar.
Mencermati sekeliling kamar, termasuk langit-langit triplek yang dipenuhi sarang tawon, Hermione tersenyum tipis. Sejak remaja, sejak pertama kali mengenal Ginny, ruangan berukuran sedang ini telah menjadi salah satu lokasi kesayangan.
Setiap kali bertamu ke The Burrow di liburan musim panas, Hermione pasti sekamar dengan Ginny. Setiap malam, mereka pasti mengobrol sampai dini hari. Hanya berhenti jika ibu Ginny, Molly Weasley datang mencak-mencak sambil membawa segulung selotip sihir untuk mengelem rapat mulut mereka.
Meregangkan otot, Hermione memejamkan mata, meresapi keharuman bunga yang selalu menyelubungi kamar masa remaja Ginny. Wangi bunga khas Ginny. Aroma memikat yang pastilah berasal dari petak bunga yang terletak di halaman belakang.
Bangkit dari tidur, Hermione berjalan menuju jendela, berniat melihat panorama salju yang menyelimuti kebun belakang The Burrow. Membuka jendela, Hermione langsung disambut selimut es tebal yang menutupi pekarangan.
Di saat mata asyik berkeliling menikmati timbunan salju itulah Hermione melihat pemandangan yang menggetarkan nurani. Di sana, di dekat tembok polos dan pagar tanaman bitterroot yang membeku tersaput es, dua sosok pria yang amat dikenal berdiri mematung.
Theodore Nott dan ayahnya...
Menatap penuh harap, tanpa berkedip dua pria berbeda generasi itu terus memandangi pintu The Burrow yang tertutup rapat. Dilihat dari salju tebal yang membungkus sampai ke betis, sepertinya mereka telah berdiri diam selama berjam-jam.
Melesat turun secepat mungkin, tak mengindahkan tatapan heran Ron yang tengah menggasak sekaleng biskuit Kadal Air Jahe, Hermione membuka pintu dapur, pintu tercepat menuju kebun belakang. Menapak tergesa-gesa, Hermione menahan air mata saat kedua pria masa lalunya menengok ke arahnya.
"Hermione!"
Merangsek maju, Nott menutup jarak di antara mereka dalam empat langkah panjang. Memeluk Hermione lekat-lekat, jemari Nott yang bergetar mengusap-usap punggung Hermione. Hidung mancungnya yang terbenam di helaian rambut lebat Hermione mengendus rakus, menghirup dalam-dalam harum manis tubuh Hermione yang menenteramkan.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Hermione akhirnya bertanya setelah Nott melepaskan dekapan. Mata cokelat Hermione yang berair semakin membanjir saat Mister Nott menggantikan posisi anaknya, merengkuh dan menyirami tubuh Hermione dengan tepukan sarat kasih sayang.
"Kami ingin memberikan kado Natal untukmu, Hermione," jawab Nott, mengusap-usap pipi Hermione dengan punggung tangan. Di sisinya, Mister Nott mengangguk takzim, tampak senang bisa berjumpa kembali dengan mantan menantu kesayangannya.
"Kenapa tidak dikirim lewat pos burung hantu saja?" bisik Hermione, terenyuh melihat sepatu bot Mister Nott yang terbenam salju. Meski sudah memakai Mantra Pemanas, Hermione yakin, dinginnya salju masih dirasakan oleh kedua pria yang tengah menatap lekat-lekat dengan penuh kehangatan.
"Father ingin bertemu denganmu, Hermione," aku Nott, mengerling sejenak ke ayahnya yang menyeringai lebar memamerkan barisan gigi putih. "Dia sangat kangen dan tak sabar untuk melihat wajahmu lagi."
"Oh Dad. Aku juga rindu padamu," bisik Hermione haru, mengusap mata yang sembap dengan jari telunjuk. Memegang tangan Mister Nott yang tak kalah dingin membeku dari jemari putranya, Hermione menyunggingkan senyum iba.
"Meski begitu, bukan berarti kalian harus berdiri di bawah hujan salju," engah Hermione, teringat akan badai salju yang sempat mengguncang The Burrow dua jam lalu. Topan hebat yang membuat aktivitas bermain lemparan bola salju di halaman The Burrow terhenti.
"Asalkan bisa bertemu denganmu, kami rela jadi patung manusia salju," balas Nott serius, menelusuri wajah Hermione dengan jemari. Setiap sentuhan tangannya mengguratkan aura posesif dan kepemilikan absolut.
"Ya ampun. Tindakan kalian ini mengingatkanku akan Hachiko," seru Hermione tak percaya, mengenang anjing jantan asal Jepang yang melegenda karena kesetiaannya dalam menanti tuannya.
"Siapa Hachiko?" tanya Nott dan ayahnya penasaran. Dua pria berbeda usia itu semakin menggebu-gebu ingin tahu saat melihat dua kaki Hermione bergoyang gelisah.
"Ah, bukan apa-apa. Hanya cerita Muggle," kelit Hermione tangkas, tak mau mengambil risiko menceritakan hal yang sebenarnya.
Ya, Nott mungkin tak akan tersinggung jika disamakan dengan anjing. Tapi, bagaimana dengan Mister Nott? Belum tentu bekas pendukung utama Pemerintahan-Sihir-Hitam itu sudi disebut-sebut mirip dengan anjing.
Meski keingintahuan belum tertuntaskan, Nott tak memaksa lebih lanjut. Bagaimanapun juga, ia datang ke The Burrow untuk melepas rindu, bukannya berdebat kusir tentang siapa, apa dan bagaimana Hachiko itu.
"Oke, kita singkirkan saja masalah Hachiko," kata Nott, mencatat dalam pikiran untuk mencari tahu detail sekecil apapun tentang tokoh Muggle tersebut. Merogoh kantong mantel, Nott mengeluarkan dua kardus yang dibungkus kertas kado bergambar kucing jingga.
"Ini kado Natal dari kami untukmu, Hermione. Selamat Natal," Nott menyodorkan kado ke tangan Hermione seraya mencium lembut kedua pipi Hermione. Di samping Nott, Mister Nott menggosok hidung dengan saputangan besar bermotif bintik, tampak terharu luar biasa melihat parade kasih sayang yang terhampar.
"Oh, terima kasih, Nott," ungkap Hermione, sedikit salah tingkah karena ia tak menyiapkan hadiah Natal untuk bekas suaminya. Kado untuk Mister Nott sendiri sudah dikirimkan Hermione via pos burung hantu tadi pagi. Bingkisan sepasang sarung tangan warna kesumba yang saat ini sedang dikenakan mantan bapak mertuanya.
"Boleh aku buka sekarang?" tanya Hermione, mata gemilangnya meneliti gambar kucing jingga yang melenggak-lenggok kenes di atas kertas kado. Kucing gemuk yang mengingatkan Hermione akan kucing jantan berkaki bengkok, Crookshanks.
"Silahkan. Itu milikmu," balas Nott, terus mengumbar senyum sehangat mentari. Seringai senang Nott semakin mengembang saat Hermione melonjak girang melihat kado Natal dari ayahnya. Jepit perak yang langsung dipakai dan disematkan di rambut saat itu juga.
"Terima kasih, Dad. Kadonya bagus sekali," Hermione bergumam penuh perasaan, memeluk Mister Nott yang membusungkan dada dalam kebanggaan. Hermione tahu kalau harga aksesoris rambut itu tak seberapa. Tapi, pengorbanan Mister Nott untuk menyisihkan dana yang sangat terbatas guna membeli cendera mata itulah yang membuat hati Hermione bersuka ria.
Terus mengukir senyum, Hermione melanjutkan kembali membuka bingkisan dari Nott. Selama Hermione menyobek kertas kado dengan hati-hati, Nott berdoa semoga Hermione tersentuh dengan bingkisan Natal pilihannya.
Ketika kotak kardus terbuka, mata Hermione terbelalak terpesona. Likuid bening yang mengering kembali berdenting saat netra matanya tertumbuk pada kado yang diberikan Nott.
"Ya Tuhan, Nott. Ini indah sekali," bisik Hermione lamat-lamat, memandangi bola kaca mungil di tangannya. Di dalam bola kaca, ratusan bintang jatuh saling berkejaran. Cahaya kelap-kelip dan gemerlap warna cantik yang tersaji menyinari sepasang muda-mudi yang berdansa di padang rumput penuh bunga.
Air mata Hermione semakin meleleh saat tangannya menggoyangkan bola kaca mungil itu. Di setiap goyangan, bintang jatuh semakin banyak bermunculan. Menyirami sejoli di bawahnya dalam naungan spektrum sinar warna-warni.
Nott tak bisa menahan desahan lega sewaktu melihat Hermione sangat mengagumi hadiah Natal pemberiannya. Sepanjang awal bulan Desember ini, Nott memang memeras otak memikirkan kado Natal terindah untuk Hermione. Hadiah unik yang sudah tentu harus disesuaikan dengan anggaran belanja yang benar-benar terbatas.
Setelah berhari-hari diterkam kebingungan, titik terang akhirnya menghampiri Nott saat kenangan tentang pengakuan Hermione yang diutarakan di malam pengantin mereka menyeruak ke permukaan.
"Aku sangat menyukai hujan bintang jatuh. Bintang jatuh yang membantuku meraih mimpiku."
Kala itu, Nott tak membahas lebih dalam kalimat ganjil tersebut. Nott lebih memfokuskan diri menuntaskan tugas seorang suami di malam pengantin tersebut. Malam pertama di mana dirinya harus berbesar hati menyentuh dan menggauli makhluk hina di bawah derajatnya.
Membanting jauh-jauh kenangan tentang malam pertama yang tak dipenuhi rasa cinta, Nott memandangi wajah Hermione yang berseri-seri. Kegembiraan yang terpancar dari wajah dan mata yang melebar ceria membuat hati Nott terasa hangat seperti diselubungi syal kualitas terbaik.
"Kau suka hadiah itu, Hermione?" Nott tetap bertanya meskipun ia sudah mengetahui jawaban pastinya. Jawaban yang ditunjukkan Hermione dengan tindakan mendekap erat-erat bola kaca di rongga dada. Bola kaca mungil yang khusus dibuat Nott dengan bantuan pemilik toko mainan dan alat-alat sihir, Dervish and Banges.
Selain dipercantik hujan bintang jatuh yang berbeda dari hujan salju di bola kaca sejenis, Nott melengkapi keistimewaan hadiah dengan fitur sepasang muda-mudi yang tengah berdansa di bawah bayangan cahaya. Sejoli berbahagia yang raut muka dan perawakan tubuhnya digambarkan semirip mungkin dengan dirinya dan Hermione.
"Ya, aku sangat menyukainya," bisik Hermione tersentuh, kian merapatkan bola kaca berharga di antara belahan dada. Tak seperti bola kaca berisi hujan salju yang dingin jika diusap, hadiahnya kali ini terasa hangat. Sehangat tatapan memuja yang datang dari sepasang netra hijau gelap di depannya.
Rintik hujan salju yang menimpa kepala membuat Hermione tersentak. Bolak-balik memandang langit bersalju dan pintu dapur, Hermione tercacah dalam dilema. Dengan kondisi gerimis salju seperti sekarang ini, sudah sepantasnya ia mengundang Nott dan ayahnya menghangatkan diri di rumah keluarga Weasley yang nyaman.
Tapi, bagaimana jika penghuni The Burrow tak menyukai kehadiran Nott dan ayahnya? Bagaimana jika Ron dan saudara-saudaranya mengusir dan memperlakukan mereka dengan sangat buruk?
Jika ia mempersilahkan Nott dan ayahnya berkunjung ke dalam, bagaimana jika mereka menjadi korban produk percobaan George yang belum lulus uji standar mutu? Dan yang paling penting, bagaimana jika ayah dan ibunya ikut-ikutan mendamprat Nott mengingat orangtuanya belum memaafkan dosa-dosa besar Nott di masa lalu?
"Boleh kami masuk ke dalam, Hermione? Kami ingin mengucapkan selamat Natal pada keluarga Weasley," Nott memecahkan dilema Hermione dengan meminta izin bertamu.
Sebenarnya, dengan melihat ekspresi kalang kabut Hermione, Nott tahu kalau mantan istrinya itu tak begitu suka dirinya bertandang ke kediaman Weasley. Tapi demi menjernihkan masalah dan mendapatkan kata maaf, Nott harus bertemu muka dengan seluruh personel lingkaran dalam Hermione yang saat ini tengah mengintip gusar dari balik jendela dapur.
"Uh, oh..." gagap Hermione, mengerling wajah-wajah yang menempel lekat di kaca jendela berembun. Walau terhalang salju, sorot benci dan tak suka yang meluap dari kepala-kepala di balik jendela tampak kentara, membuat kepanikan luar biasa membungkus Hermione seperti bisa ular yang meresap cepat.
"Jangan takut, Hermione. Aku siap menghadapi semua risiko dan konsekuensi," janji Nott menenteramkan, menggenggam dan mengusap lembut tangan Hermione.
Di samping Nott, Mister Nott mengangguk mantap, menyiratkan semangat bulat untuk menantang bahaya yang mungkin menimpa jika mereka menginjakkan kaki di keset rumah miring keluarga Weasley.
Di saat Hermione sibuk menakar pro dan kontra, ibu Ron, Molly Weasley datang menyelamatkan situasi. Penyihir berwajah bulat ramah itu mendatangi Hermione dan dua tamunya. Mengilaskan senyum pemakluman, Molly Weasley meminta Nott dan ayahnya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Undangan langsung dari si nyonya rumah tentu tak disia-siakan oleh Nott. Tak menggubris pandangan jijik dan benci yang menusuk, Nott menggandeng tangan Hermione, mengikuti ayahnya dan ibu Ron yang lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Setibanya di ruang keluarga yang berantakan, mata Hermione beradu pandang dengan manik biru forget-me-not Charlie, yang berdiri kaku di dekat rak perapian yang berderak berkobar-kobar. Perasaan bersalah menyerang Hermione saat mata biru Charlie menyusuri jarinya yang ada dalam genggaman posesif Nott.
Melepaskan tangan dengan susah-payah, Hermione memakukan pandangan ke samudra biru Charlie. Mengirimkan pesan tanpa suara bahwa dirinya meminta waktu untuk berbicara empat mata seusai kunjungan Nott dan ayahnya.
Mengangguk singkat tanpa tersenyum, Charlie mengutarakan persetujuan. Meletakkan Dominique yang sibuk mengoceh tanpa hasil sembari menarik-narik ujung rambut, Charlie melangkah menuju Nott dan ayahnya yang duduk di kursi-kursi berbantalan duduk. Mengatupkan rahang penuh tekad, Charlie bersiap-siap bergabung bersama sekompi saudaranya yang tengah sibuk menginterogasi pria yang pernah memporak-porandakan hidup kekasihnya.
Cinta tak pernah berdendam. Tak pernah membalas dendam...
Melihat Charlie dan Nott saling melempar pandangan berapi-api, Hermione berulang-ulang merapalkan kalimat bijak itu di dalam dada.
Sebenci apapun Charlie pada Nott, Hermione yakin pria yang lebih tua tujuh tahun darinya itu tak akan berbuat di luar batas. Sesakit apapun Charlie saat menerima keputusan penghabisan, Hermione yakin pria berpostur tegap itu tak akan kecewa dan mendendam.
Ya, seperti kata-kata bijak Mahatma Gandhi yang terus terngiang-ngiang di relung benak.
Cinta mungkin membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam. Tak pernah membalas dendam...
"Balas dendam sedang jadi tren saat ini. Daddy saja banyak mendapat pesanan membuat boneka voodoo berwajah Daphne Greengrass."
Mengalihkan tatapan dari langit keruh bernapaskan hujan yang menguarkan udara basah beraroma manis, Hermione mengawasi Luna yang berbincang seru dengan Neville. Tadi, sebelum suara sayup-sayup Luna mengoyak lamunan, Hermione tengah mengingat kenangan kunjungan Nott dan ayahnya di The Burrow, dua puluh lima Desember silam.
Untungnya, tak seperti ketakutan berlebihan Hermione, tidak ada kejadian mematikan yang menimpa Nott dan ayahnya. Satu-satunya kegemparan hanyalah momen di mana Mister Nott berubah menjadi unggas besar penuh bisul seusai makan kue hati angsa.
Untung saja Mister Nott bisa kembali ke ukuran badan normal yang sehat dan fit (tanpa bulu kusut dan paruh bengkok) setelah ibu Ron, Molly Weasley mengamuk dan menghajar George untuk segera memberi obat penangkal bagi tamu malangnya itu.
Usai kejadian bebek bisulan salah sasaran, George setidaknya kapok dan tak mengulangi keisengan mehahun yang mendarah daging. Apalagi setelah Nott dengan jantan dan ksatria meminta maaf atas perbuatan lalim di masa lalu. Permohonan minta ampun yang setidaknya membuat api kebencian dan permusuhan sedikit mencair.
"Kata Hannah, Daphne Greengrass memang kebangetan. Jadi, wajar saja kalau ia menjadi musuh masyarakat nomor satu saat ini," Neville menyelonjorkan kaki lurus-lurus, dengan baik hati menjelaskan kembali gosip teraktual yang dicukil dari istrinya, Hannah Abbot, si pemilik baru bar Leaky Cauldron.
Menggaruk-garuk kuping Crookshanks yang mendengkur di pangkuan, mata pintar Hermione menatap lembar berita Daily Prophet yang tengah dibaca Neville. Di koran yang memuat peristiwa penting di dunia sihir, foto besar Daphne Greengrass terpajang congkak di halaman depan. Bersaing dengan potret sejumlah nenek-nenek beruban yang berteriak-teriak sambil menjulurkan tangan, mencoba mencakar wajah tengil Daphne yang tersenyum arogan.
Di atas deretan foto hitam putih, tulisan provokatif bergerak-gerak dan bergonta-ganti setiap satu menit sekali. Mayoritas di antaranya mengisahkan tentang kebejatan moral Daphne Greengrass yang tertangkap basah meniduri suami para penyihir wanita yang berciap-ciap ribut di sampul depan.
Menghela napas muram, mata bulat lebar Hermione kembali melempar pandang ke arah kaca jendela Hogwarts Express yang dingin berembun. Kedua kupingnya mendengar tanpa minat percakapan tanpa henti Neville dan Luna yang berpusat tentang perbuatan asusila Daphne Greengrass.
Sebenarnya, Hermione sudah bosan melalap publikasi murahan seperti itu. Tapi apa daya, saat ini semua media di jagat sihir sedang dikuasai berita cabul tersebut.
Bahkan, pesta pernikahan adik Daphne, Astoria Greengrass dengan juragan kaya-raya Draco Malfoy saja kalah saing. Padahal, acara yang dihelat di Pulau Laucala, Republik Kepulauan Fiji akhir Desember kemarin menelan dana miliaran Galleon sehingga layak dicap sebagai pernikahan termegah abad ini.
Menyangga kepala dengan kedua tangan, Hermione menatap pantulan wajah di kaca kereta. Seirama dengan bunyi derak roda besi Hogwarts Express, bayangan mukanya seolah terdistorsi. Membentuk kejadian yang terjadi seusai kunjungan Nott dan ayahnya.
Waktu itu, sesuai perjanjian tanpa kata mereka, Charlie datang menemui Hermione seusai makan malam. Duduk berdampingan di teras depan, menyeruput secangkir kopi moka dengan tenang, Charlie berlapang dada menerima keputusan Hermione untuk mengakhiri hubungan mereka.
Oh ya, kesedihan memang merebak dari pori-pori Charlie. Tapi seperti prediksi Ginny, Charlie pantang memaksakan kehendak. Prinsip bahwa cinta tak harus memiliki rupanya benar-benar tertanam di pembuluh darah. Terbukti ketika Charlie tak banyak mendesak di saat Hermione tidak bisa memberikan jawaban pasti tentang perasaan terbarunya pada Nott.
Satu-satunya kalimat yang diucapkan Charlie sesudah mencium lembut pipi dan pelipis Hermione untuk terakhir kali adalah, "Ketika kau mencintainya dan kau hanya mendapat hujan, cintailah aku sebagai pelangimu."
Menutup kelopak mata, Hermione membendung butiran bening yang mendesak keluar. Kadang-kadang Hermione merasa dirinya tak tahu diuntung karena tak bisa mencintai lelaki sebaik Charlie. Tapi, cinta memang anugerah dari Tuhan yang tak bisa dipaksakan sekuat apapun manusia itu berjuang.
Laju kereta yang melambat mengembalikan kesadaran Hermione. Menyeka ujung mata dengan lengan mantel, Hermione menurunkan Crookshanks ke kursi sebelah sebelum mengangkat tas dan koper kayu yang diletakkan di rak bagasi atas.
"Sepertinya cuma kita yang datang di hari terakhir sebelum semester baru dimulai," bisik Neville, mengamat-amati kompartemen kosong yang dilewatinya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, semester baru memang dimulai pasca jeda liburan tiga minggu. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, para guru diberi kebebasan menentukan waktu kedatangan mereka di Hogwarts. Apakah tiba di pertengahan liburan atau di batas waktu terakhir seperti Hermione dan kedua temannya.
"Mungkin guru-guru yang lain sudah tiba kemarin," Luna menguap malas, membetulkan letak kacamata burung hantu dan langsung memelototi tempurung kepala Neville dengan penuh minat. Neville yang paham kebiasaan nyentrik Luna hanya mengangkat bahu yang ditempeli kodok betung tua, Trevor.
Saat kaki Hermione menginjak peron Hogsmeade, butiran salju turun menyambut dari atas langit. Menepis gumpalan salju yang menghiasi topi bulu, Hermione mengedarkan pandangan ke Stasiun Hogsmeade yang lengang. Tepat seperti kata Neville, tak ada guru Hogwarts lain yang turun dari Hogwarts Express selain mereka bertiga.
Pandangan Hermione yang tak terfokus akibat gerimis salju jatuh ke sosok yang menjulang beberapa meter di hadapannya. Di sana, di dekat bukit pepohonan pinus yang membeku, Theodore Nott berdiri tersenyum. Melambaikan sebelah tangan, Nott menyongsong Hermione dalam beberapa sapuan langkah panjang.
"Halo, Hermione. Akhirnya kau pulang juga ke Hogwarts," sapa Nott senang, menyapu remah salju yang menempel di mantel biru merak Hermione. Seolah tak melihat rahang Neville yang berkedut atau pelototan mata bulat Luna yang diperbesar kacamata burung hantu, Nott berlama-lama mencium pipi Hermione, melampiaskan rasa rindu melalui gerakan mesra tersebut.
Sejak terakhir kali bertemu Hermione di rumah keluarga Weasley, hari Natal lalu, Nott sudah diserang kerinduan mendarah-daging. Saat menghadiri pesta pernikahan Astoria dengan Draco Malfoy pun, ia tak bisa berlama-lama karena diserang keinginan pulang secepat mungkin ke Inggris. Memangkas waktu liburan, Nott mudik ke Hogwarts sebelum waktunya, berharap bisa bertemu Hermione di sekolah berasrama itu.
Sayangnya, tak seperti harapan, Hermione belum pulang dari liburan Natal. Tak mau ketinggalan momen menatap kembali wajah Hermione, setiap hari semenjak kedatangannya, Nott rutin mengunjungi Stasiun Hogsmeade.
Saban kali kereta merah terang Hogwarts Express mendekat, hati Nott membuncah dalam pengharapan. Asa yang menguncup kembali kala wajah Hermione tak terlihat dalam kerumunan para pengajar yang turun dari kereta.
"Akhirnya? Jangan-jangan selama ini kau menungguku?" Hermione bertanya ragu-ragu, menatap mata hijau Nott yang tampak hidup di balik bulu mata tebal berkilau.
"Yep, aku setia menanti kedatanganmu. Seperti Hachiko," jawab Nott, menyebut nama anjing Jepang yang mati demi menanti tuannya. Melihat mata Hermione mengerjap sedih, Nott buru-buru menambahkan keterangan.
"Tapi, tak seperti Hachiko yang mati menanti, aku akan terus hidup untukmu, Hermione."
Mata Hermione yang terasa pedas karena tertimpa angin dingin semakin memanas mendengar pengakuan tersebut. Berkelap-kelip menahan tangis, Hermione menundukkan wajah serendah mungkin, berharap Nott tak mendengar isak haru yang tertahan di ujung bibir.
"Sayang, ada apa?" gumam Nott bingung, mengangkat dagu Hermione dengan jempol dan telunjuk. Menghapus setitik air mata Hermione yang menggenang, Nott memandangi wajah pucat Hermione dengan pandangan khawatir.
"Mungkin dia kedinginan," Luna yang sejak awal kedatangan Nott cuma mengawasi diam-diam dari balik kacamata burung hantu akhirnya berbicara. Merapikan rompi neon cerah berlapis rumbai-rumbai, Luna menelengkan kepala, menatap Nott dari atas hingga bawah. Anting-anting lobak emas yang berbaris di telinga kanan dan kiri bergoyang-goyang saat mulutnya kembali terbuka.
"Sebaiknya kau bawa Hermione kembali ke kastil, Theodore Nott. Kebetulan aku dan Neville ada urusan sebentar di Hogsmeade," sahut Luna kalem, menyodok rusuk Neville yang berdiri bergeming.
Gelagapan heran, Neville memutuskan tak membantah perkataan janggal Luna. Melempar pandang cemas sekali lagi ke arah Hermione, Neville bergegas menyusul Luna yang sudah melenggang meniti jalan becek, bergenang dan bergelombang menuju kawasan kios waralaba dan toko kelontong Hogsmeade.
Sepeninggal Luna dan Neville, Nott menepukkan kedua tangan, mengagetkan Hermione yang masih tercenung bingung melihat perubahan sikap sobat pirangnya itu. Biasanya, seperti Neville yang terlalu protektif, Luna tak pernah membiarkan Nott berdekatan satu sentipun dengan dirinya.
Namun, entah kenapa hari ini berbeda. Tak hanya mengizinkan Nott berdekatan, Luna bahkan meninggalkan dirinya berduaan saja dengan bekas suaminya.
"Kalau begitu, kita segera balik ke Hogwarts," ajak Nott cepat, mengangkat koper kayu besar dan tas berpergian Hermione dengan sabetan tongkat sihir.
Merangkulkan lengan ke pundak Hermione, seolah-olah punya hak untuk bersikap begitu, Nott membimbing Hermione ke kereta Thestral. Menuju kereta kuda bersayap yang akan membawa mereka pulang ke kastil Hogwarts...
Membuka-buka lembaran buku Sejarah Hogwarts, mencari-cari bab yang bisa menarik perhatian, Nott menguap kecil. Malam ini, tak seperti biasanya, ruang guru tampak sepi. Hanya ada dirinya dan si kecil Profesor Filius Flitwick, guru Mantra yang tengah sibuk memoles bersih gagang tongkat sihir.
Mata Nott yang mencari-cari terpaku pada meja Hermione yang rapi. Sudut bibirnya membentuk senyum simpul memikirkan Hermione yang tengah berpatroli bersama tiga teman sejawatnya, Luna Lovegood, Neville Longbottom dan si ahli nujum jadi-jadian, Sybill Trelawney.
Sebenarnya sih, bisa saja Nott membuntuti Hermione saat patroli, seperti yang biasa dilakoninya di hari-hari lain. Tapi, mengingat ada dua wanita kurang waras di tim patroli, Nott mengurungkan niatnya.
Nott tentu tak mau sepanjang malam ditatap dramatis oleh sepasang mata bulat menonjol Luna maupun mata capung besar milik Profesor Trelawney. Jadi, dengan berat hati, Nott terpaksa menghabiskan waktu di ruang guru. Berharap bisa bertemu Hermione sepulang acara patroli malam.
Nott buru-buru menengok saat mendengar pintu ruang guru dibuka. Sayangnya, bukan Hermione yang datang melainkan penjaga sekolah, Argus Filch. Ditemani kucing galak, Mrs Norris yang mengendus-endus garang, satpam Squib itu berjalan terseok-seok menuju meja kerja Nott.
"Maaf, Profesor Nott. Ada pesan dari Charlie Weasley," ujar Filch penuh minat, menyerahkan secarik perkamen kusut ke tangan Nott. Sama seperti Filch dan si kucing yang mengeong penasaran, Profesor Flitwick juga menoleh ingin tahu, tongkat sihir yang tengah digosok kencang terhenti di udara.
"Trims, Filch," ujar Nott pendek, membuka perkamen tersebut. Di bawah tatapan tajam Filch dan Profesor Flitwick, Nott membaca surat yang berisikan permintaan bertemu di dekat pondok bekas milik Hagrid di tepi Hutan Terlarang.
Di surat berbau rempah-rempah itu, Charlie juga menulis kalau ia sudah mendapat izin dari Kepala Sekolah, Profesor Minerva McGonagall untuk berbicara empat mata. Restu yang amat sangat diperlukan sebab sesuai peraturan, orang luar tak boleh masuk sembarangan ke Hogwarts.
Membakar perkamen dengan sentuhan tongkat sihir, Nott melangkah keluar ruang guru, diikuti oleh Filch dan Mrs Norris yang membuntuti dalam diam. Sayangnya, keinginan Filch menguping terganjal setelah bunyi kelontangan yang diikuti jeritan kesetanan Peeves terdengar dari balik koridor. Meninggalkan Nott yang menuruni tangga menuju Aula Depan, Filch tertatih-tatih mengejar Peeves yang melayang telentang sambil menjulurkan lidah.
Membuka dan menutup pintu Aula Depan dengan kibasan tongkat, Nott bergegas menuju rumah papan milik Hagrid yang hampir ambruk. Sepeninggal Hagrid, pondok kusam itu makin tak terurus sebab penerusnya, Luna Lovegood menolak tinggal di rumah berdinding kayu itu.
"Lumos."
Nott menyalakan sinar untuk mengantisipasi kegelapan malam yang mengepung. Dibimbing cahaya kecil dari ujung tongkat sihir, Nott mendekati pondok Hagrid. Menuju ke sosok tegap yang berdiri di dekat gentong pecah berisi mata belut busuk dan tahi tikus kering.
Saat mata hijau kelam miliknya bersirobok pandang dengan manik biru bunga Charlie, Nott melempar senyum samar. Meski penerangan sangat minim, hanya berasal dari dua cahaya kecil dari ujung tongkat masing-masing, Nott bisa melihat kelesuan mendalam di wajah Charlie. Garis-garis kepedihan dan raut murung yang bertolak belakang dengan ekspresi berpuas diri yang disaksikan Nott di pusat belanja Diagon Alley, beberapa bulan lalu.
"Halo, Nott," sapa Charlie begitu jarak antara dirinya dengan Nott cuma tersisa setengah meter. "Aku senang kau datang," Charlie mengangguk, memandangi Nott secara keseluruhan dari balik hidung mancung yang sedikit bengkok.
"Ya, kupikir tak ada salahnya aku kemari. Bukankah di suratmu kau bilang ingin berbicara denganku?" Nott mengulang permintaan yang diajukan Charlie di dalam surat. Merapatkan mantel wol untuk meredam angin dingin, Nott tak bergeming meskipun tatapan Charlie tak berpindah dari wajahnya.
"Malam ini aku akan pergi ke Bhutan," ujar Charlie tiba-tiba, menyebut nama negara monarki di Asia Selatan. Negara kecil yang terkenal dengan julukan Negara Naga atau Negeri Naga Guntur.
"Oh," jawab Nott serba salah, bingung harus bersikap apa merespon pengumuman eksodus itu. Menatap gerumbul pohon Hutan Terlarang yang tersaput es, Nott terus berdiam diri, menunggu Charlie menyelesaikan intisari pembicaraannya.
"Aku sudah melamarnya berkali-kali, kau tahu," Charlie berbisik diam-diam, menahan getaran kekecewaan dalam suara. Ikut memandang dahan-dahan pohon yang membeku, Charlie bergumam kembali.
"Tapi, dia tetap menolakku. Katanya, ia tak mencintaiku seperti seorang perempuan mencintai lelaki."
Kali ini, Nott tahu bentuk reaksi apa yang ingin diperlihatkan dalam menanggapi pengakuan tersebut. Ya, detik ini juga Nott ingin berdansa salsa, sambil telanjang kalau perlu, untuk merayakan kemenangan sekaligus mensyukuri kekalahan Charlie. Namun, sebelum ia sempat mengambil ancang-ancang, Charlie merenggut bahunya, memaksanya untuk berhadap-hadapan dalam jarak dekat.
"Jika kau menyakitinya lagi, aku tak akan mengampunimu, Theodore Nott," ancam Charlie, uap kemarahan menguar keluar dari mulut.
"Kalau kau membuat Hermione menangis, aku akan datang menunggangi naga berkaki seribu dan menelanmu bulat-bulat," gertak Charlie, memasung Nott dengan tatapan mematikan.
Membalas sorot membunuh Charlie, Nott menyunggingkan senyum menantang. Silahkan saja Charlie mengendarai naga jenis apapun yang bisa didapatnya. Toh pada akhirnya hewan karnivora itu harus rela makan rumput kering mengingat ia tak akan pernah membuat Hermione menangis lagi. Kecuali menangis puas seusai bercinta tentunya.
"Tenang saja, Weasley. Aku berjanji akan mencintai dan membahagiakan Hermione untuk selamanya," tandas Nott tegas, mendongakkan dagu aristokrat tinggi-tinggi.
Terdiam sejenak, Charlie akhirnya melepas terkaman kasar di bahu Nott. Sepertinya, kesungguhan niat Nott yang terlihat jelas dari wajah dan mata membuat Charlie mengalah. Terbukti ketika pemegang medali juara pertama kontes Rodeo Naga Se-Eropa itu mendesahkan napas pengertian.
"Baiklah. Cuma itu yang ingin aku tanamkan dalam otakmu," tukas Charlie sengit, merapikan rambut merah yang awut-awutan diterpa angin bulan Januari. Membalikkan tubuh, Charlie bersiap meninggalkan Nott setelah tak ada lagi hal yang ingin dibahas lebih lanjut. Selain itu, batas waktu yang diberikan Profesor McGonagall untuk berkunjung dan berbincang-bincang sudah hampir habis.
"Kenapa kau menyerah semudah ini, Weasley?"
Pertanyaan menyengat itu menghentikan langkah Charlie. Menengok dari balik punggung, Charlie mengulaskan senyum suram. Mata biru alaminya tampak meredup dalam kemurungan mendalam.
"Bagiku, cinta tak harus memiliki. Jika Hermione berbahagia dengan pria pilihannya, aku pasti juga bahagia."
Menatap sinis fitur Charlie yang bergerak menjauh, Nott menyeringai lebar. Ditingkahi cahaya tongkat sihir, manik hijau Nott memicing puas, berbaur dengan seringai ala serigala.
"Yah, prinsip baheula ala Gryffindor-mu itulah yang menguntungkanku, Weasley. Bagi Slytherin sepertiku, cinta butuh perjuangan," Nott berbisik pasti, mengawasi sampai siluet Charlie menghilang ditelan kegelapan malam.
Berbalik arah menuju kastil Hogwarts yang terlihat benderang dari kejauhan, Nott berdendang riang. Seperti yang dikatakannya barusan, cinta butuh perjuangan.
Dan ia akan memulai perjuangan malam ini juga...
Tak salah kiranya jika Nott mencantumkan cinta sebagai sebuah perjuangan. Lihat saja, meski Charlie sudah lenyap, Hermione tak sekonyong-konyong lengket dengannya.
Semua serangan penuh tekad dan tindakan mesranya masih saja membentur tembok transparan yang dibangun Hermione sebagai penghalang. Semua perlakuan kasih sayangnya masih saja tersungkur dalam jerat gelagat jinak-jinak merpati yang dicanangkan bekas istrinya itu.
Syukurlah, sebagai pesohor Slytherin, Nott tak patah arang menghadapi aral berat seperti itu. Berbeda dengan punggawa Gryffindor macam Charlie yang melarikan diri dengan membawa kedok embel-embel kebahagiaan semu, Nott bertekad mencapai mimpi dengan berbagai cara yang bisa dipikirkan.
"Ya, seperti kata pepatah, ada banyak jalan menuju Roma."
Menghentikan pergerakan pena bulu ayam pegar yang sudah bocel-bocel, Nott mendongak, menatap langsung mata bulat Luna yang bersinar-sinar diterpa api obor.
Tidak sadar atau tak mempedulikan tatapan heran Nott, Luna tanpa permisi duduk di pinggiran meja. Terus memandang tanpa berkedip melalui sepasang pupil ungu keperakan yang menonjol.
Menggelengkan kepala, Nott kembali membaca tumpukan perkamen PR Arithmancy murid Ravenclaw tahun keempat yang harus dikoreksi dengan teliti. Jika terus memperhatikan Luna-si-Tukang-Khayal yang sering berbicara melantur, ia mungkin tak akan bisa menyelesaikan semua tugas. Saat ini saja selain esai kelas empat Ravenclaw, ia sudah ditunggu gundukan perkamen pelajar Gryffindor tahun keenam.
"Ada banyak cara untuk mencapai tujuan," Luna tersenyum penuh khayalan, memecah keheningan ruang kelas Arithmancy dengan suara mistis yang berhembus dramatis. Mengeluh dalam hati, Nott menyesali keputusan menilai esai murid-murid di ruang kelas. Mungkin kalau tadi ia buru-buru membereskan urusan di ruang guru, ia akan terbebas dari situasi pelik semacam ini.
Oke, Nott memang tahu kalau Luna merupakan salah satu teman akrab Hermione. Tapi, tak seperti Neville Longbottom maupun Hermione yang kebal dengan ucapan ngawur Luna, Nott belum bisa menerima semua itu.
Belum lagi dengan hari-hari jahat dan interaksi masa lalunya dengan Luna yang terbilang cacat, brutal dan tak menyenangkan. Selama bersekolah di Hogwarts, ia dan anak-anak Slytherin sering menjadikan Luna sasaran olok-olok kekanak-kanakan mereka. Tak terhitung berapa kali ia meledek, mencuri dan menggantung aneka barang milik Luna di atas pilar besar kastil.
"Ya, memang ada banyak teknik mencapai tujuan, Luna," desis Nott, menekankan kata 'Luna' dengan ketidaksenangan nyata. Menumpukan tangan di dagu, menelan helaan napas kesal yang membayang, Nott kembali mencorat-coretkan ujung pena bulu. Dengan tekun meneliti esai daftar numerologi sepanjang satu setengah meter yang dibuat salah satu siswa Ravenclaw.
"Betul sekali," Luna mengangguk senang, tak sadar dengan ekspresi sebal yang terlihat dari wajah maupun intonasi suara lawan bicaranya. Membetulkan letak tongkat sihir yang tergantung di kuping kiri, Luna kembali berceloteh sayup-sayup, berbicara perlahan dengan suara gaib yang amat merdu.
"Salah satunya dengan meminta di bawah hujan bintang jatuh."
Kali ini, komentar Luna sukses membetot perhatian Nott. Meletakkan pena bulu bekas dengan hati-hati, Nott mengangkat alis, bertanya-tanya apa maksud perkataan yang didengarnya tadi.
"Kau tahu tentang legenda bintang jatuh di Hogwarts bukan?" tanya Luna, menautkan dua alis pucat yang menaungi sepasang mata bulat sempurna. Melihat Nott mengangguk sekali, Luna menangkupkan tangan di dadanya yang terbungkus jubah lebar dan besar bermotif tribal.
"Nah, memohonlah di bawah bintang jatuh Hogwarts. Siapa tahu kau bisa mendapatkan perhatian Hermione," Luna mengakhiri penjelasan, tersenyum ceria menatap wajah Nott yang tersentak.
"Aku sangat menyukai hujan bintang jatuh. Bintang jatuh yang membantuku meraih mimpiku."
Memori tentang perkataan Hermione itu merasuki seluruh indra dan partikel terkecil di tubuh Nott. Sel-sel otaknya mulai bekerja, menyelaraskan kepingan dan potongan teka-teki yang berserakan di sekitarnya.
Meraih mimpi. Mungkinkah mimpi yang dimaksud Hermione itu adalah impian untuk menikahinya? Obsesi yang tercapai berkat memohon di bawah hujan bintang jatuh?
Tak menunggu Nott memberi tanggapan positif atas informasinya, Luna bangkit dari pinggiran meja. Menepuk hangat pundak Nott, Luna meninggalkan kelas Arithmancy dengan langkah-langkah ringan. Seringan hatinya yang senang luar biasa karena sudah memberikan bantuan untuk melancarkan hubungan percintaan antara Nott dengan Hermione.
Sejak kedatangan Nott di Hogwarts, Luna melihat kalau penyihir berambut cokelat kehitaman itu benar-benar serius dan tulus mencintai Hermione. Kemurnian perasaan yang pada akhirnya membuat alumnus Ravenclaw itu tergerak untuk memberikan bantuan.
Jika Luna berbangga hati karena bisa mengulurkan tangan, Nott bersuka cita karena mendapat pencerahan terkait perjuangan tanpa hentinya. Melalui lembaran buku Sejarah Hogwarts yang dibacanya, Nott memang tahu tentang mitos hujan bintang jatuh di Hogwarts. Kini, dengan suntikan semangat dari Luna, Nott semakin terdorong untuk mencoba ritual tersebut.
Ritual yang pasti sangat sulit dilakukan mengingat bulan-bulan ini awan Hogwarts masih terselubung kabut musim dingin. Situasi yang bisa dibilang mustahil untuk memimpikan terjadinya hujan bintang jatuh.
"Cinta itu perjuangan, maka janganlah menyerah," teriak Nott menyemangati diri sendiri, meninju udara dengan kepalan tangan kosong. Menelusuri kembali perkamen PR Arithmancy, Nott menancapkan niat untuk memulai ritual permohonan malam ini juga...
Malam itu dan malam-malam berikutnya, Nott tak kenal lelah menyambangi puncak bukit di dekat pondok Hagrid. Berbekal termos kopi panas untuk menghalau kantuk, mantel tebal lusuh dan jampi-jampi penghangat, Nott setia bersemedi di atas bukit. Mendongak penuh penantian ke arah langit yang berwarna abu-abu suram.
Walaupun hal yang dinanti tak kunjung datang, Nott tak pernah melewatkan semalam pun tanpa berdiam di atas puncak bukit. Meski tubuhnya mulai melemah karena kelamaan begadang di udara yang membekukan tulang, ia tetap pantang menyerah.
Aktivitas sinting itu tentu menimbulkan keprihatinan di kalangan rekan sejawatnya. Sejumlah guru, termasuk pengajar Astronomi, Profesor Aurora Sinistra mati-matian membujuk Nott untuk menghentikan aksi mubazir yang kelewatan. Wejangan yang sampai hari ke-delapan belas cuma ditanggapi dengan senyuman bersemangat.
"Hentikan kegilaan ini, Theodore," untuk kedelapan belas kali bulan itu, Profesor Sinistra menghadang langkah Nott di undakan Aula Depan. Menatap Nott dengan sorot pilu, wanita berkulit cokelat gelap itu meneruskan ratapan permohonan.
"Hujan bintang jatuh di Hogwarts mustahil terjadi di bulan-bulan seperti ini. Apapun tujuanmu, sebaiknya kau tunggu sampai musim semi atau musim panas nanti," bujuk Profesor Sinistra, meringis getir dan prihatin saat bekas muridnya menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Maaf, Aurora. Kalau aku menunggu selama itu, semua mungkin sudah terlambat," ujar Nott mantap, mengangguk hormat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit.
Di balik pilar beralur dan berukir, berdiri mematung di belakang punggung Profesor Sinistra yang mendengus risau, Hermone menggigiti bibir bawah. Sama seperti Profesor Sinistra yang mencemaskan kondisi kesehatan Nott, Hermione juga mengidap ketakutan serupa. Kekhawatiran luar biasa yang semakin memperjelas perasaannya saat ini.
"Hermione Jean Granger yang mencintaimu sudah mati, Theodore Nott."
"Tidak, tidak," Hermione bergumam parau, menggoyangkan kepala sekencang mungkin. Aku tak mungkin mencintai Nott. Diriku yang mencintai Nott sudah lama mati," Hermione berbisik serak, mencoba menghalau kesedihan dan kepedihan menggelisahkan yang meracuni benak.
"Cinta mungkin membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam. Tak pernah membalas dendam."
Ya, Hermione, hati kecilnya berbisik memperingatkan. Cinta sejati itu tak pernah membalas dendam. Nott mungkin sudah membuatmu menderita dan menghanguskan bunga cinta, tapi kau tak bisa menyangkal kalau benih cinta masih berakar dan mulai bertunas di ladang sukma.
Mulai bertunas lagi di ladang sukma...
Selaras dengan pemahaman itu, Hermione melesat secepat mungkin menuju puncak bukit. Langkah kencangnya tetap tak tergoyahkan meskipun kupingnya menangkap pekikan kalut Profesor Sinistra yang menuntutnya untuk segera kembali ke dalam kastil.
"Hermione! Kembali! Menurut ramalan cuaca, hujan salju malam ini akan lebih ganas dari sebelumnya!"
Terus menjauh dari teriakan peringatan rekan kerjanya, Hermione melipatgandakan kekuatan kaki. Tak makan waktu lama, Hermione sudah bisa menyusul Nott yang duduk tenang di atas bukit. Memandangi hamparan kaki langit dengan pandangan penuh harap dan damba.
Pemandangan tersebut mengoyak-oyak sanubari dan memori Hermione. Mau tak mau Hermione terlempar ke masa lalu. Masa di mana dirinya melakukan hal serupa. Bersabar mendekam di kegelapan malam hanya untuk melihat hujan ekor cahaya yang menari-nari di horizon.
"Theo," tanpa sadar Hermione bergerak mendekat secara naluriah dan memanggil nama kecil mantan suaminya. Menengok dari balik bahu, mata sayu Nott melebar bahagia saat melihat sosok yang datang menghampiri.
"Hermione. Kenapa kau di sini?" Nott bertanya resah, menyabetkan tongkat sihir ke sekujur tubuh Hermione yang menggigil tersiram angin malam. Seiring setiap rapalan Mantra Penghangat yang diucapkan Nott, panas menenteramkan perlahan-lahan membungkus tubuh Hermione.
"Kau juga kenapa di sini?" Hermione balik bertanya, menatap Nott dengan sepasang mata cokelat indah memesona yang tak lagi menggelap. Semenjak menyadari perasaan sejatinya pada Nott, tabir yang menutupi mata Hermione seolah menguap. Membuat sepasang koridor hati dan jendela jiwa miliknya kembali memancarkan semua isi hati terdalam.
Perubahan di sorot mata itu tampaknya disadari juga oleh Nott. Menangkup wajah Hermione dengan tangan, Nott mencium tulang alis dan kelopak mata Hermione. Mengirimkan perasaan rindu yang familier melalui hembusan uap napas hangat.
"Aku menanti hujan bintang jatuh Hogwarts," jawab Nott, tak melepaskan tangan dari wajah Hermione. Mendekatkan muka, Nott mengecup lapar pelipis dan puncak hidung Hermione, sebelum mendarat sekilas di bibir Hermione yang setengah membuka.
"Aku ingin memohon di bawah hujan bintang jatuh Hogwarts," bisik Nott, menyapukan bibir di bibir atas Hermione dengan kelembutan seorang kekasih. Selama bibir panasnya berkelana, ibu jari Nott mengelus lembut tulang pipi Hermione, menyalurkan gelora cinta kasih secara bertubi-tubi.
"Tapi, di cuaca seperti ini, bintang jatuh tak mungkin muncul," sergah Hermione, merapatkan tubuh kecilnya ke dada pualam dan tubuh kekar Nott. Berharap bisa berdiri sedekat mungkin dan berbagi detak jantung dengan bekas pendamping hidupnya.
"Kalau begitu, aku akan terus berkelahi dengan waktu dan menunggu sampai kapanpun. Aku bersedia menghabiskan hidupku demi menyaksikan hujan bintang jatuh Hogwarts," balas Nott lugas, terus menciumi sudut bibir Hermione dengan rakus.
"Ya Tuhan, Theo. Untuk apa kau lakukan itu?" gumam Hermione putus asa di sela-sela ciuman kecil Nott yang memabukkan.
Meski inti saraf indra penciuman terhanyut keharuman aroma tubuh Nott yang membius, pikiran Hermione masih berputar prima. Di otaknya, Hermione ngeri memikirkan apa yang terjadi jika Nott tak juga berhenti bersemedi.
Jika Nott tetap ngotot mendiami puncak bukit di musim dingin seperti ini, pria yang tengah mendekapnya erat-erat ini bisa terkena hipotermia. Meskipun Nott penyihir, dia tetaplah manusia yang tak kebal serangan penyakit yang mampu memutus aliran darah tersebut.
Seolah berniat meredam kekalutan Hermione, Nott memperdalam ciuman. Menangkup pinggul Hermione dengan posesif, Nott merapatkan tubuh Hermione ke dalam pelukan. Lidah dan bibirnya dengan liar menyelusup masuk, menghunjam dan mengunci Hermione dalam gairah yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Apapun akan kulakukan agar aku bisa menikahimu lagi, Hermione," Nott berbisik parau di sela-sela pagutan rakus yang hangat, panjang dan menggairahkan. Menyelusupkan jari di rambut Hermione, membuka sanggul kecil yang tertata rapi dengan sekali hentakan, Nott kembali melumat bibir Hermione dalam ciuman lapar dan bergairah.
Setelah beberapa ciuman erotis yang melelehkan akal sehat, pada akhirnya, hanya kebutuhan bernapas-lah yang memaksa Nott menghentikan pagutan bertubi-tubi. Menelusuri tulang pipi Hermione yang merona, Nott bergumam parau. Kedua bola matanya menyiratkan tekad yang tak bisa diganggu gugat.
"Demi dirimu, aku rela menunggu sampai kapanpun. Aku bersedia menanti selama seribu tahun agar bisa berdoa di bawah cahaya bintang jatuh Hogwarts."
Untungnya, Tuhan masih berbaik hati dan tak membiarkan Nott karatan menunggu sampai seribu tahun. Kurang dari semenit setelah ikrar itu terlafadz, seekor bintang jatuh berkelebat di atas awan. Membiaskan cahaya cemerlang yang membuat kepala Nott dan Hermione terlonjak.
"Pantat Kucing! Ini benar-benar keajaiban alam," Profesor Sinistra bergumam setengah terengah-engah di belakang pundak Nott dan Hermione. Rupanya, wanita lanjut usia itu nekat mendaki bukit untuk menyusul dua bekas anak didik favoritnya.
Seperti kata Profesor Sinistra, keajaiban alam dan campur tangan Tuhan memang hadir di puncak bukit. Kurang dari lima detik setelah kedatangan bintang jatuh pertama, bintang jatuh lainnya muncul susul-menyusul. Berganti-gantian menari di langit. Tak berhenti menaburi angkasa dengan pijaran ekor cahaya mereka.
Tanpa membuang waktu, Nott mementangkan tangan lebar-lebar. Menatap kilau bintang jatuh yang melimpah ruah, Nott berteriak sekeras mungkin tanpa bantuan Mantra Sonorus.
"Aku ingin menikah dengan Hermione Jean Granger!"
Hermione tak kuasa menahan tangis saat permintaan Nott terucapkan. Tangis dan sedu sedan menggelegak semakin meledak ketika Nott berlutut di kakinya. Menatap memuja dengan mata hijau bercahaya yang memantulkan ratusan sinar cahaya surga.
Merogoh saku kemeja, Nott mengambil cincin pusaka keluarga. Memegang tangan kiri Hermione, Nott menengadahkan wajah sembari memohon penuh harap.
"Kumohon, Hermione. Maukah kau memberiku kehormatan untuk menjadi suamimu lagi?"
Menatap langit bulan Januari yang kini bermandikan cahaya, Hermione membersit hidung keras-keras, bersaing dengan bunyi sedotan hidung Profesor Sinistra yang sekencang terompet. Merundukkan wajah, menatap dalam-dalam ke kolam hijau Nott yang berpijar, Hermione menggumamkan persetujuan.
"Ya, Theo. Aku bersedia menjadi istrimu lagi."
Menyunggingkan senyum puas, Nott memasangkan cincin pusaka keluarga di jari manis Hermione. Setelah cincin tersebut terpasang sempurna, Nott berlama-lama mencium jari manis calon istrinya.
"Aku mencintaimu, Hermione. Selalu dan untuk selamanya," Nott berdiri, berbisik pasti di lubang kuping Hermione. Ucapan janji setia yang dibalas Hermione dengan rangkaian kalimat serupa.
"Aku juga mencintaimu, Theo. Selalu dan untuk selamanya."
Akhirnya, malam itu, disaksikan ratusan bintang jatuh dan Profesor Sinistra yang terisak bahagia, Nott mencium calon istrinya dengan penuh cinta.
Cinta yang akhirnya bersatu kembali setelah melewati banyak derita...
"Aku heran mengapa Tori masih mau hidup menderita seperti ini."
Tersenyum maklum melihat rengutan di bibir suaminya, Hermione menyandarkan kepala di bahu kekar Nott. Sedetik setelah rambut terburai menyenggol dagu Nott, Hermione memekik ketika suaminya memeluk rapat-rapat sembari menyerang puncak kepalanya dengan ciuman-ciuman menggigit.
"Ya Tuhan,aku sangat mencintaimu, Hermione," bisik Nott mesra, mengusap-usap rambut megar Hermione yang seharum vanila karamel dengan belaian bibir. Meskipun Hermione terkikik sampai hampir kehabisan napas, Nott terus melanjutkan lumatan ciuman bernafsu.
"Aku bersumpah tak akan membuatmu menderita, Hermione. Aku bukan lagi babon bloon macam Malfoy," Nott memuja dalam setiap kata, menatap wajah Hermione yang semerah batu rubi dengan bersungguh-sungguh.
"Aku tahu, Theo," ujar Hermione lembut, mengelus-elus sudut bibir rupawan Nott dengan kelima jemari. Ya, tanpa perlu dikumandangkan berulang-ulang pun, Hermione sudah tahu kalau suaminya benar-benar mencintainya luar dalam.
Lihat saja semua pengorbanan Nott untuk meraih kembali cinta dan kepercayaannya. Cinta yang akhirnya dipersatukan kembali dalam sebuah upacara pernikahan sederhana yang berlangsung di kapel kecil desa Hogsmeade, lima bulan lalu.
Hermione tersenyum senang mengenang kembali pesta pernikahan yang digelar seminggu setelah lamaran di bawah hujan bintang jatuh. Meski tak menghabiskan banyak dana, resepsi berlangsung meriah dan dihadiri banyak kalangan, termasuk mantan kekasihnya, Charlie Weasley.
Charlie...
Sewaktu melihat Charlie duduk di bangku undangan, Hermione hampir menumpahkan air mata haru. Untuk kedua kalinya, Charlie berbesar hati menghadiri pernikahannya. Dan untuk kedua kalinya, Charlie dengan tulus mendoakan kebahagiaan Hermione dan suaminya.
Kebahagiaan...
Hermione tersenyum mengingat doa yang dipanjatkan Charlie. Sejauh ini, permintaan Charlie terkabul sebab semenjak menikah, keberuntungan seolah tak lepas menyelimuti kehidupannya.
Lihat saja berkah rumah yang mereka terima. Sesuai peraturan, pasangan suami-istri sebaiknya tak bekerja bersama-sama di Hogwarts demi alasan profesionalitas kerja.
Namun, Profesor McGonagall yang melihat Hermione dan Nott bisa bertanggung jawab mengubah peraturan tersebut. Salah satu Kepala Sekolah Hogwarts yang paling disegani itu juga mengizinkan Nott dan Hermione mendiami pondok papan yang dulu dihuni Hagrid.
Pemberian izin tinggal di rumah bekas Hagrid tentu disambut meriah oleh Hermione. Sejak masa bersekolahnya di Hogwarts, gubuk Hagrid menyimpan banyak kenangan manis baginya. Belum lagi dengan lokasi pondok berburu tersebut, yang dekat dengan puncak bukit tempat mereka mengucapkan keinginan untuk kembali bersatu.
Begitulah, selepas acara pernikahan, Hermione dan Nott langsung pindah ke rumah baru mereka. Dengan sedikit restorasi dan sejumput Mantra Rumah Tangga, Nott mengubah gubuk ambruk itu menjadi sarang hangat penuh cinta.
Hermione tersenyum memikirkan hari-hari yang dihabiskannya bersama Nott di pondok mungil mereka. Setiap kali libur mengajar, Hermione tak pernah makan di Aula Besar sebab Nott sudah membuatkan semua makanan kesukaannya. Kemampuan memasak yang dipelajari melalui bantuan peri rumah yang bekerja di Dapur Hogwarts.
Di siang hari, gubuk itu memang sepi karena ditinggal kerja penghuninya. Namun, di malam hari, pondok papan luas itu berubah panas bergelora. Penuh dengan rayuan manis menghangatkan hati dan ajang percintaan membara yang menggetarkan jiwa. Percintaan mesra yang memaksa Nott memasang Mantra Peredam Suara Permanen di rumahnya.
Pipi Hermione memerah memikirkan percintaan yang dilakukan tanpa kenal waktu itu. Dulu, keahlian seksual Nott memang bisa membuat Hermione terbang ke awan, tapi sekarang jauh lebih fantastis. Perasaan saling memiliki dan mencintai membuat kegiatan intim itu tak sekadar kewajiban suami-istri semata, melainkan penyatuan jiwa dan raga secara sempurna.
"Apa yang kau pikirkan, Hermione?"
Menengadah, Hermione tersenyum mencermati kerut heran di dahi suaminya. Tak mau membuat suaminya salah paham dengan keheningan sesaat yang diciptakannya, Hermione melingkarkan tangan di pinggang Nott. Menyandarkan wajah di dada Nott, Hermione mendengarkan suara jantung suaminya yang berdetak stabil.
"Aku memikirkan tentang kebahagiaan kita. Seandainya Astoria juga bisa berbahagia bersama Malfoy," ungkap Hermione, menyeringai tipis saat Nott memasang tampang jijik begitu nama bekas teman bermain Quidditch-nya disebut-sebut.
"Malfoy! Heh, entah apa yang dilihat Tori dari dirinya," geram Nott sewot, menatap majalah Witch Weekly dan koran Daily Gossip yang terserak di meja kayu. Di dua media cetak sensasional itu, foto personel keluarga Malfoy bergerak-gerak gelisah, menatap resah ke arah tulisan besar yang bercokol di atas kepala.
Tulisan berhuruf kapital yang pada intinya menceritakan tentang terbongkarnya skandal seks kotor yang dilakukan Draco Malfoy dengan sejumlah wanita pelacur kelas atas. Hubungan terlarang yang ironisnya terkuak di saat kehamilan perdana Astoria diketahui publik.
"Mungkin Astoria punya pertimbangan sendiri. Mungkin ia memaafkan Malfoy demi jabang bayi yang dikandungnya," Hermione meringis miris dan perih, dengan pahit memikirkan penderitaan tak tergalang yang diidap Astoria.
Sebagai wanita yang pernah mengecap pahit getir pengkhianatan, Hermione tahu pasti neraka macam apa yang berkecamuk di dada Astoria saat ini. Sebagai seorang wanita yang pernah diselingkuhi, Hermione tahu pasti betapa nelangsanya Astoria karena harus mengetahui afair menjijikkan suaminya dengan sejumlah wanita pramuria.
"Padahal aku sudah bilang pada Tori kalau ia tak akan bahagia bersama Malfoy," desis Nott bengis, memandang benci foto Draco Malfoy yang sibuk mengepas dan merapikan ikatan dasi hitam. Melambaikan tongkat sihir dengan muak, Nott membakar foto Malfoy, menimbulkan jerit panik yang muncrat dari foto warna sepia yang bergerak-gerak.
"Lihat saja sekarang. Astoria tak ubahnya istri pajangan yang cuma bertugas sebagai pabrik pembuat anak. Setelah memastikan memiliki keturunan, Malfoy tanpa malu-malu merangsang gairah dengan berburu wanita baru," geram Nott panas. Mata hijau daun Nott menyipit benci memandangi serpihan abu yang timbul dari bekas foto yang hangus terbakar.
Menggigit lembut bahu Nott, Hermione membenarkan dalam hati keluh kesah suaminya. Meskipun dirinya tak terlahir dari etnis darah murni, Hermione sudah paham luar dalam tradisi barbar yang lazim dilakukan kaum bangsawan yang menganggap dirinya terhormat itu. Menganggap istri sebagai trofi cantik yang hanya berguna untuk dipamerkan di depan publik.
Lihat saja kultur yang berkembang di bangsa darah murni selama berabad-abad. Setelah si istri berhasil melahirkan penerus pohon keluarga, pria darah murni diberi kebebasan untuk mencari kesenangan di luar rumah. Tentu saja dengan pakem tertentu seperti asas kerahasiaan yang mutlak dituruti demi menjaga nama baik keluarga.
Asas penting yang sudah pasti tak diikuti oleh Draco Malfoy. Bajingan dingin yang sampai hati memamerkan koleksi wanita bayaran dan deretan kekasih gelap di depan hidung istri sahnya.
"Narcissa Malfoy juga sama saja. Bukannya membela sang menantu perempuan, ia malah meminta Tori untuk introspeksi dan memperbaiki diri. Ampun deh, ngaca dulu, Madam!" decak Nott brutal, mengarahkan tongkat sihir ke potret pucat Narcissa Malfoy yang berkipas-kipas santai di samping foto suaminya, Lucius Malfoy.
Di bawah foto pasangan suami-istri itu memang termuat artikel yang berisi intimidasi keji Narcissa pada Astoria. Alih-alih memberikan dukungan pada menantu yang berduka, Narcissa malah menyalahkan Astoria karena gagal menarik perhatian putranya.
Ironisnya lagi, tak sekadar menghakimi, Narcissa juga menasihati Astoria untuk belajar taktik menggaet perhatian suami dari dirinya. Siasat yang ditertawakan diam-diam oleh komunitas ras murni mengingat tanpa sepengetahuan Narcissa yang picik dan berpikiran sempit, Lucius Malfoy juga sering bercinta berani, liar dan kasar bukan main dengan sejumlah istri simpanan dan wanita penghibur murahan.
"Tenang, Theo. Daripada mengomel panjang lebar seperti ini, bagaimana kalau kita perjelas semuanya saat kita bertemu Astoria siang nanti," ungkap Hermione sabar, mengelus-elus pundak suaminya yang kaku karena kebanyakan marah-marah.
Merengkuh balik Hermione dengan menggebu-gebu, Nott menciumi pelipis istrinya. Menyapukan bibir dengan mesra dan penuh kelembutan, Nott bersyukur memiliki seseorang seperti Hermione. Seorang pendamping yang bisa berpikir dingin di saat kemarahan melanda jiwa.
Memang, gara-gara ledakan emosi jiwa itulah Nott jadi lupa kalau ia dan Hermione memiliki janji bertemu dengan Astoria di rumah minum Madam Puddifoot's.
Kemarin, sewaktu burung hantu keemasan Astoria mengantarkan pesan untuk bertemu, Nott sempat tak menyetujui keinginan teman sejak kecilnya. Bagaimanapun juga, ibu hamil seperti Astoria riskan untuk berpergian jauh. Namun, setelah Astoria berjanji akan mengendarai mobil terbang dengan hati-hati, Nott mau tak mau mengabulkan keinginan sahabat baiknya itu.
"Saat bertemu Astoria, selain bertanya tentang Malfoy, kita juga bisa mengklarifikasi rumor tentang Daphne," ucap Hermione, menjerit kecil saat Nott mendudukkannya di atas pangkuan.
"Bertanya tentang Daphne? Untuk apa? Biarkan saja nenek sihir itu musnah tanpa jejak. Dunia jauh lebih baik tanpa kehadirannya," Nott merenggangkan rahang sebal sembari memperbaiki letak duduk Hermione di antara kedua paha kekarnya.
Tersenyum sabar, Hermione mengecup sudut bibir Nott yang membentuk cibiran sinis. Seperti yang dikatakan Nott, lenyapnya Daphne dari peradaban memang disyukuri banyak pihak. Seteru nomor satu Daphne, si seksi Lady Zabini saja sampai menggelar selamatan tujuh hari tujuh malam untuk merayakan hilangnya Daphne dari komunitas mereka.
Sejauh ini, tak ada berita informatif tentang raibnya putri sulung keluarga Greengrass itu. Semenjak berlibur di Selandia Baru empat bulan lalu, Daphne seolah lenyap ditelan bumi.
Tak pelak absennya Daphne menumbuhkan berbagai spekulasi. Beberapa media bahkan menulis isu heboh yang menyatakan kalau Daphne sekarat karena penyakit kelamin yang diidapnya. Sebuah koran kuning berotak miring bahkan mencantumkan kabar gila-gilaan kalau Daphne sudah direbus hidup-hidup oleh para wanita yang suaminya pernah digodanya.
Dari sekian banyak desas-desus ngaco, yang paling top dan masuk di akal adalah kabar angin yang menyebutkan kalau Daphne kabur selamanya dari dunia sihir demi menikahi seorang pria Muggle asal Selandia Baru. Konon, demi pekerja kasar yang melarat itu, Daphne rela mematahkan tongkat sihir plus mencabut kekuatan magis yang dimiliki.
Sewaktu kabar burung tersebut berhembus, Hermione sempat merasa sangsi mengingat jalang mata duitan sekelas Daphne tak mungkin rela melepaskan semua aset dan bakat supranatural yang dimiliki demi mengejar cinta seorang pria jelata. Apalagi selama ini Daphne bersedia melakukan apapun termasuk menjual jiwa dan raga demi meraih keuntungan materi.
Namun, ketidakpercayaan itu sedikit tergerus saat kakak Ron nomor tiga, Percy Weasley keceplosan membicarakan nasib Daphne. Percy yang menjabat sebagai Asisten Menteri Sihir menyatakan kalau empat bulan lalu, Daphne diam-diam menemui Menteri Sihir Kingsley Shacklebolt untuk mencabut kemampuan sihir yang mengalir di pembuluh tubuh.
"Jika omongan Percy benar, aku sama sekali tak menyangka. Kupikir Daphne tak akan pernah bisa mencintai seseorang dengan begitu mendalam," ujar Hermione, memainkan jemari di dada mulus suaminya yang tak terbalut kemeja.
"Never say never. Jangan pernah bilang tak pernah," tukas Nott geli, mengingat kalimat bijak yang pernah diucapkan pada bekas kekasih remajanya itu.
Memang, sama seperti Hermione, awalnya Nott juga terkaget-kaget mengetahui Daphne bersedia mencampakkan segalanya hanya untuk menikahi seorang lelaki Muggle. Manusia biasa berkasta rendah yang selama ini dipandang sebagai limbah beracun yang wajib dibumi hanguskan.
Namun, tak ada yang tak mungkin di dunia. Selain itu, seperti yang dipahami Nott, cinta butuh perjuangan dan pengorbanan. Dan Nott yakin, itulah bentuk perjuangan serta pengorbanan ala Daphne. Membuang talenta dan harta benda demi mendapatkan cinta seorang pria biasa.
"Simpan saja dulu semua praduga tentang nasib Daphne. Kita perjelas saja nanti saat bertemu Tori," Nott bergumam halus di pelipis istrinya. Menyurukkan kepala di ceruk leher Hermione, Nott mencumbu dalam-dalam, memainkan lidah dan bibir dengan keahlian tak tertandingi.
"Sekarang, bagaimana kalau kita mengisi waktu senggang sebelum pergi ke Madam Puddifoot's? Melebur dan menyatu dalam pelukan gairah eksplosif sampai kita berdua terkulai lelah dan puas?" Nott melengkungkan sebaris senyum mesum yang dipenuhi janji-janji kenikmatan liar.
Membaringkan Hermione di atas sofa panjang yang dipenuhi bantal duduk beraneka ukuran (tak mempedulikan protes pura-pura Hermione), tangan Nott dengan mahir menyelusup ke kaus dalam istrinya, mengelus mulus dengan gerakan menggoda.
"Tapi, waktunya kan mepet, Theo. Bagaimana kalau kita terlambat?" Hermione terengah memburu, melenguh pelan saat jemari Nott yang tak sabaran merobek kaus berenda yang menutupi tubuh bagian atas.
"Kalau begitu, kita bermain cepat saja, Sayang," bisik Nott serak, menutup protes Hermione dengan ciuman ganas yang merontokkan urat saraf. Lumatan panas menggoda dan lembut merayu yang membuat tubuh mereka bersatu dengan begitu intim dalam reaksi nikmat ritual cinta...
Sayangnya, tak ada yang namanya bermain cepat jika mereka sudah bercinta. Dua jam kemudian, pasangan pengantin baru itu berlari tergopoh-gopoh menuju rumah minum Madam Puddifoot's.
Setibanya di kedai minum yang terletak di tengah-tengah desa, mata Hermione mengitari sekeliling ruangan. Berdoa di dalam hati, Hermione berharap Astoria tak terlalu lama menunggu mereka.
Jika dilihat dari jarak tempuh dan waktu perjalanan, Astoria kemungkinan sudah tiba sejak satu setengah jam lalu. Tapi, bisa jadi kedatangannya lebih lambat mengingat Astoria mengendarai mobil terbang. Sistem transportasi anyar yang baru disahkan Kementerian Sihir Inggris, beberapa bulan lalu.
Memang, seiring perkembangan zaman, penyihir tak bisa lagi mengandalkan sapu dan karpet terbang yang berisiko disambar petir jika turun hujan.
Bubuk Floo juga sudah tak populer karena meninggalkan bekas hangus yang susah hilang. Portkey? Sudah tak zaman lagi sebab sering membuat orang terguling nyungsep dan muntah-muntah saat mendarat.
Begitu juga halnya dengan Mantra Apparition yang baru bisa dipakai jika seseorang sudah cukup umur dan lulus ujian. Belum lagi dengan efek Splinching alias terpisahnya organ tubuh jika tak berkonsentrasi. Dampak negatif yang membuat metode ruwet ini tak lagi diminati.
Nah, untuk mengisi kekosongan teknik berpergian, sistem mobil terbang yang terinspirasi dari mobil Ford Anglia milik ayah Ron, Arthur Weasley dikembangkan. Tinggal membeli mobil Muggle sesuai anggaran dan memodifikasinya dengan Mantra Terbang dan Tombol Anti Nampak, seorang penyihir bisa melintasi berbagai negara tanpa takut kehujanan atau kepanasan.
Kepanikan Hermione mulai berkurang saat matanya melihat pergerakan samar di angkasa. Dari balik gumpalan awan berarak, sebuah mobil meluncur turun dan mendarat mulus di area parkir Madam Puddifoot's yang senyap.
Membuka pintu Rolls-Royce Phantom Drophead Coupe warna biru metalik dengan anggun, Astoria menapakkan kaki jenjang yang terbungkus sepatu balet datar bermotif sulur-sulur berbunga ranunculus.
Begitu melihat Hermione dan Nott menatap penuh perhatian dari balik jendela, Astoria melambaikan tangan dengan keanggunan tanpa noda. Berjalan pelan seraya mengusap-usap perut yang membuncit, wanita rupawan berhati menawan itu mendekati Hermione dan Nott yang langsung bangkit dengan senyum menyambut.
"Apa kabar, Tori?" ucap Nott hangat, memeluk dan mencium kedua pipi teman sejak kecilnya itu. Usai membalas sapaan Nott, Astoria mengalihkan perhatian ke Hermione. Setelah terdiam dan tersenyum kikuk beberapa saat, Astoria akhirnya memberanikan diri merangkul dan mencium pipi wanita yang pernah dilabraknya di depan umum.
Melihat ekspresi grogi Astoria, Hermione tahu kalau salah satu bangsawan terpenting di kalangan atas itu terkenang kembali insiden salah paham yang berlangsung di kantor Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Kejadian memalukan yang ironisnya berasal dari pemberitaan rekayasa yang diatur Draco Malfoy dan Daphne Greengrass, dua manusia tak berjiwa yang paling disayangi Astoria.
Setelah berbasa-basi sebentar dan memesan makanan yang diinginkan (untung saja perkembangan bisnis membuat daftar menu Madam Puddifoot's kian bervariasi) ketiga penyihir tersebut terlibat pembicaraan menyenangkan.
Sesekali, di tengah-tengah obrolan, Astoria memperhatikan sikap posesif primitif dan interaksi memuja yang terlihat dari pasangan di depannya. Adegan saling menyuapi, mencium dan memeluk yang seumur-umur tak pernah dirasakannya selama berumah tangga.
"Kalian mesra sekali ya," Astoria akhirnya tak bisa menahan diri melihat keintiman pasangan di depannya. Nott yang tengah menyuapi Hermione menghentikan sejenak aktivitasnya sebelum memandang wajah pucat teman sejak kecilnya.
"Pasangan yang saling mencintai memang begini, Tori," jawab Nott, menyendokkan kembali sesuap sup krim asparagus ke mulut Hermione. Melihat manik cokelat Astoria sedikit berair, Hermione mendelik, meminta Nott untuk berhenti memamerkan kemesraan mereka di depan wanita hamil yang sedang berduka itu.
"Kau itu istriku, Sayang. Wajar dong kalau aku memujamu di depan umum," tekan Nott, menolak mentah-mentah instruksi yang dilayangkan melalui pelototan mata. Mengeluh kalah, Hermione akhirnya membiarkan Nott menyuapi kaldu kental perlahan-lahan. Sadar betul kalau kegiatan mesra mereka diperhatikan beberapa pengunjung yang duduk di bangku seberang.
Tersenyum pedih, Astoria menikmati seteguk penuh teh putih hangat suam-suam kuku. Mengusap perut bulat yang membusung, Astoria mendesah sengsara sambil menatap hampa, "Draco tak pernah memperlakukanku sebaik itu. Draco selalu bilang aku ini seperti sapi tua. Tak menggairahkan dan membosankan."
Hermione hampir memuntahkan sup krim asparagus mendengar pengakuan tersebut. Sapi tua yang membosankan dan tak menggairahkan? Astaga, selain tak berotak, Malfoy rupanya juga rabun senja. Bagaimana mungkin ia mengatakan wanita sesempurna Astoria sebagai sapi tua yang membosankan?
"Malfoy memang buta, Tori. Sebaiknya kau pisah saja dengannya," sergah Nott naik darah, mengertakkan gigi dengan marah saat Astoria malah menangis tanpa suara menanggapi usulan yang jelas-jelas masuk di akal.
"Tak bisa, Theo. Kau tahu perceraian merupakan aib besar dan sangat terlarang bagi kaum kita," Astoria menggelengkan kepala kuat-kuat, manik cokelatnya memucat dipenuhi titik air mata. Menyedot hidung dengan anggun, Astoria kembali bergumam lirih. Setiap suara serak dan lemahnya dipenuhi penderitaan mendalam tak terlukiskan.
"Selain itu, aku mencintai Draco. Sangat mencintainya," bisik Astoria sendu, tak menghiraukan suara orang muntah yang disemburkan Nott. Merunduk menatap jari manis, jari yang dihiasi cincin batu kristal, cincin keramat milik keluarga Malfoy, Astoria menahan isak tangis teredam yang menggumpal di tenggorokan.
Sejak kecil ia sangat mencintai Draco Malfoy. Sejak pertama kali bertemu, ia selalu bermimpi menjadi istri pria bermata kelabu perak itu. Jadi, di saat obsesi utama terkabul, ia akan berusaha sekuat mungkin mempertahankan, meskipun hatinya harus terluka berdarah-darah karenanya.
"Malfoy tak akan pernah mencintaimu, Tori. Dia itu anak setan dan binatang berdarah dingin yang terlalu mencintai diri sendiri. Laki-laki otak mesum, jahat dan bejat yang hanya mengutamakan kesenangan daerah genital," Nott mengerang tak sabar, menjotos udara dengan terkaman tinju kosong. Di pangkuan Nott, Hermione mengangguk setuju. Meminta dengan bahasa tubuh agar Astoria berpikir sehat dan mengakhiri cinta bertepuk sebelah tangannya.
"Aku selalu berharap dan berdoa semoga Draco bisa mencintaiku," Astoria bergumam tabah, mengusap-usap perut dengan gerakan keibuan.
Jauh di dasar hati, Astoria tahu kalau perkataan Nott mendekati kenyataan. Sejak awal, pria pilihannya itu tak pernah mencintainya. Tak pernah menghargai dan menghormati kasih sayang tulusnya.
Fakta pahit yang makin disadari Astoria di malam pertama pernikahan. Malam pengantin yang seharusnya berujung bahagia berakhir menjadi malapetaka saat suaminya menghina pelayanan seksual yang menyedihkan, tanpa belas kasih menyebut dirinya sebagai teman tidur pasif yang menjijikkan.
Bagaimana mungkin suaminya mengharapkan hal lebih darinya? Ia masih perawan, demi Tuhan. Selama ini ia mati-matian menjaga kesucian hanya untuk dipersembahkan pada suaminya seorang. Kenaifan perawan lemah yang ironisnya tak dihargai dan dipedulikan sama sekali.
Oh ya, Astoria masih terkenang jelas hinaan keji yang dilontarkan suaminya. Rupanya, bagi suaminya, servis hebat, kotor dan gila-gilaan dari pasukan pelacur terlatih jauh lebih memuaskan ketimbang perilaku lugu dan polos. Aksi naif seorang gadis suci yang sama sekali tak paham tentang seluk-beluk hubungan badaniah.
Gerakan kecil di dalam perut menghempaskan kesedihan Astoria. Merunduk memandang perut yang berisi janin terkasih, Astoria berdendang pelan. Jemari tangan putih pucatnya yang rutin dimanikur menggosok lembut, menenangkan sang calon putra yang menendang-nendang antusias di dalam rahim.
"Aku tak mungkin berpisah dengan Draco. Aku tak mau putraku tumbuh tanpa ayah," Astoria mengeringkan air mata dengan punggung tangan, menahan pedih mengingat perilaku kotor suaminya. Perselingkuhan terang-terangan yang dilakukan di atas ranjang pernikahan. Ranjang besar yang seharusnya hanya diisi oleh mereka berdua.
"Aku terus berdoa Draco akan membalas cintaku. Kalaupun pada akhirnya ia tidak bisa mencintaiku, aku tak akan bersedih," Astoria terisak-isak dalam suara sarat air mata, mata cokelat beningnya yang indah memesona mengembang dalam kepedihan dan kesedihan menggelisahkan.
"Aku punya anak ini. Aku mencintainya melebihi diriku sendiri."
Nott dan Hermione hanya terdiam dan saling melempar pandang. Penderitaan Astoria yang terpotret jelas di garis-garis muram yang terbentuk di ekspresi wajah dan suara sungguh menyayat hati. Namun, tak ada yang bisa mereka lakukan sebab Astoria bersikeras bertahan dan berkorban demi nama baik sang calon putra.
"Aku yakin kau akan menjadi ibu yang baik, Astoria," Hermione berkata hati-hati, mengangguk menyemangati saat mata coklat karamel Astoria yang buram terkunci dengannya.
"Ya, itu juga yang dikatakan oleh Daphne," kata Astoria berkaca-kaca, tak sadar saat pasangan di depannya saling melirik penasaran.
"Aku bersumpah akan mendidik putraku sebaik mungkin. Akan kutanamkan ajaran cinta kasih dan prinsip untuk menghargai serta menghormati wanita," timpal Astoria berbesar hati, dengan lugas menyeruput kembali teh putih yang masih berkepul hangat.
"Ngomong-ngomong tentang Daphne, bagaimana dia?" tanya Nott sambil lalu, mencomot seiris puding jagung yang bertumpuk menggunung. Mematahkan jadi dua bagian, Nott memakan sebelah sebelum menyuapi Hermione dengan puding sisanya.
Meletakkan cangkir teh di tatakan, Astoria menarik napas feminin. Berdeham bingung, mata cokelat halus Astoria yang lebar dan bulat bolak-balik menatap Nott dan keadaan di sekelilingnya. Untung saja, saat itu Madam Puddifoot's tak terlalu ramai mengingat di bulan Juni ini siswa Hogwarts sedang disibukkan dengan kegiatan ujian.
Dengan ketidakhadiran pelajar Hogwarts yang notabene merupakan pelanggan utama, tempat minum penuh lambaian renda-renda itu terbilang lengang. Hal itu pulalah yang membuat Astoria luput dari pengamatan para siswa yang terkenal hobi bergunjing dan membicarakan aib orang lain.
Melihat situasi memungkinkan untuk membuka rahasia, Astoria melepaskan ketegangan di rahang dengan terbatuk-batuk kecil. Sesungguhnya, memang demi kakak kandungnya-lah ia memutuskan datang ke Hogsmeade.
Jika bukan karena permintaan saudara satu-satunya itu, Astoria lebih memilih bermuram durja di Greengrass Palace, menangis keras-keras sampai wajah berubah membiru di kediaman resmi orangtuanya. Istana keluarga Greengrass yang jadi benteng perlindungan semenjak suaminya tega mengungkapkan hubungan jangka panjang dengan sejumlah pekerja seks komersial.
"Daphne sekarang tinggal di Selandia Baru," jelas Astoria, dengan perlahan dan anggun membuka ritsleting tas Hermes-Birkin. Seperti penyihir konglomerat lain, Astoria juga keranjingan menenteng tas bermerek buatan desainer Muggle itu. Merogoh sebentar, Astoria kemudian menyodorkan dua lembar foto berwarna ke tangan kanan Nott.
Melingkarkan tangan kiri di pinggang Hermione, mulut Nott menganga saat mencermati foto berwarna yang tak bergerak-gerak itu. Di foto tersebut, foto yang jelas-jelas dibuat dengan kamera digital Muggle, Daphne dan seorang pria kulit hitam berotot berpelukan mesra di undakan gereja tua.
Dari gaun sewarna gading dan rangkaian bunga sweet william putih yang digenggam kencang, terlihat jelas kalau Daphne dan pekerja lepas berdagu mencuat di sampingnya baru saja selesai mengucapkan janji pernikahan.
Menatap foto kedua, mulut Nott dan Hermione kian terpentang lebar. Dalam potret yang dilatarbelakangi pemandangan indah khas Selandia Baru, Daphne berpose dengan perut yang sedikit membuncit.
Di samping Daphne yang merona bahagia, suami tercintanya, si pria berkulit sehitam malam dengan kepala botak berkilat merangkul pundaknya erat-erat. Menelusuri ke bawah, Nott melihat di bawah kaki Daphne yang terbalut sandal jepit, sekawanan domba dan biri-biri asyik merumput. Tampak tak terusik dengan kemesraan yang dipertontonkan pemilik mereka.
"Astaga, Daph," bisik Nott takjub, mencermati perubahan aura bekas kekasih remajanya. Hilang sudah Daphne Greengrass yang glamor dan selalu berpakaian mahal. Hilang sudah Daphne Greengrass si ratu pesta dan primadona acara yang sombong dan arogan. Daphne yang dilihat Nott sekarang adalah seorang wanita dewasa yang bahagia meski tak lagi berharta. Tampak hidup dan berkilau di balik baju kusam, lusuh dan bertambal.
"Dia berubah bukan?" ujar Astoria bangga, mengawasi perubahan air muka sejoli di depannya. Sama seperti Nott dan Hermione, Astoria juga terkejut bukan main ketika mengetahui saudara sedarahnya jatuh cinta setengah mati pada pria miskin yang dikenalnya sewaktu berwisata di Selandia Baru.
Kekagetan Astoria dan keluarganya semakin menjadi-jadi ketika Daphne yang mabuk kepayang memutuskan menghancurkan tongkat sihir di Kementerian Sihir. Tak hanya mematahkan tongkat, Daphne juga meminta Menteri Sihir Kingsley Shacklebolt mencabut semua talenta magis yang mengalir di urat nadi.
Sewaktu Daphne membawa kabar ia akan menikahi seorang lelaki Muggle, anak dusun yang tak berkasta apalagi berharta, orangtua mereka nyaris mati jantungan. Sebagai salah satu dinasti darah murni tertua, klan Greengrass tentu bakal kehilangan muka jika putri pertama mereka berhasil merealisasikan rencana.
Meski dihadang kiri kanan, kekeraskepalaan Daphne tetap tak mengendur. Ancaman pencabutan hak waris yang semula dianggap bisa melunturkan tekad Daphne ternyata tak berhasil. Daphne yang tergila-gila dengan sukarela melepas semua harta yang dimilikinya. Daphne yang dimabuk cinta juga tak menangis dalam duka saat orangtuanya membakar wajahnya di permadani pohon keluarga.
Bertolak belakang dengan orangtuanya, Astoria mendukung penuh kiprah kakak satu-satunya itu. Astoria yakin, saudari kandungnya akan bahagia dengan pria pilihannya. Sebab, tak seperti Draco Malfoy, suami Daphne sangat memuja dan mencintai istrinya dengan penuh kebanggaan. Cinta yang bisa dirasakan melalui perbuatan, tutur kata dan pandangan mata.
Satu-satunya kelemahan suami Daphne adalah ketidakpercayaannya pada dunia paranormal. Daphne yang tak mau suaminya lari terbirit-birit begitu mengetahui dirinya memiliki kemampuan magis memilih melepaskan bakat dan talenta alami sebagai penyihir berdarah murni.
"Ya Tuhan, dia hamil. Daphne si pembenci anak-anak hamil," tutur Nott kagum, mata hijau syhadu miliknya terpancang pada lingkar perut Daphne yang agak membuncit. Bagi Nott, melihat Daphne berdandan seperti petani miskin dan menikahi mantan pembersih selokan saja sudah mengejutkan. Apalagi melihat pelacur dengan moral sebejat Troll macam Daphne rela mengubah bentuk tubuh seksinya demi mengandung anak manusia.
"Iya, usia kehamilannya baru empat bulan. Lebih muda dua bulan dariku," jelas Astoria, menggerigiti pinggiran bolu pandan hijau kekuningan.
"Sepertinya Daphne sudah tak sabar menanti kelahiran anak pertamanya. Di suratnya yang terakhir, ia bilang ingin punya banyak anak," tambah Astoria antusias, mengusap-usap perut dengan penuh kasih sayang.
Melihat Astoria menatap lembut perutnya, rasa iri mengimpit hati Hermione. Menatap wajah cerah Daphne yang berseri-seri memamerkan perut hamil yang membusung, kecemburuan tak berujung menikam jantung Hermione.
Seperti perempuan lain, Hermione juga menginginkan kehadiran seorang anak di dalam keluarga kecilnya. Namun, sampai sekarang pun belum ada tanda-tanda janin tumbuh di rahimnya. Padahal, setiap saat, usaha memproduksi keturunan selalu dilakukannya.
Kecemasan berlebihan Hermione sepertinya dirasakan oleh Nott sebab penyihir berkasta tinggi itu kian mengencangkan pelukan. Membenamkan wajah di atas kepala Hermione yang seharum padang bunga bermekaran, Nott berbisik menenteramkan.
"Tenang, Sayang. Kesabaran pasti berbuah manis. Yang penting kita harus terus berusaha," tegas Nott optimis, sengaja menyisipkan nada menggoda di kalimat 'terus berusaha'.
Memperhatikan jari Nott yang memeluk erat perutnya, Hermione tersenyum mengiyakan. Seperti cinta yang merupakan anugerah Tuhan, seorang anak juga karunia tertinggi dari sang Pencipta. Satu-satunya yang bisa dilakukan manusia hanyalah berdoa dan berusaha.
"Mulai hari ini, kita akan memperbanyak dosis usaha. Aku sudah punya rencana hebat malam ini," bisik Nott, melempar senyum erotis yang menjanjikan kenikmatan maksimum. Tak mempedulikan pandangan jengah Astoria, Nott berbisik mesra di kuping Hermione, berulang-ulang memberikan garansi dan janji-janji kenikmatan erotis yang akan dilakukan mereka malam nanti.
Malam yang diharapkan bisa membawa perubahan indah dalam rumah tangga mereka...
"Belum ada perubahan indah yang terjadi, Dad."
Nott menyeringai kecil mendengar keluhan putra sulungnya. Membenahi posisi duduk di atas tikar anyaman bambu, Nott meningkatkan takaran Mantra Penghangat dengan lambaian tongkat sihir. Mata hijau gelapnya bersinar geli sewaktu anaknya menjulurkan kepala ke arah langit.
"Kau harus sabar, Nak. Tabahkan hatimu jika ingin mendapatkan keinginanmu," ucap Nott arif, mengacak-acak rambut cokelat kehitaman putranya dengan penuh sayang. Seringai di bibir Nott semakin memanjang saat bocah enam tahun itu mendengus panjang.
"Tumben kau ingin melihat hujan bintang jatuh, Sayang" Hermione yang tadi berdiri sambil tersenyum-senyum mengambil posisi di samping kanan putranya. Merapikan anak rambut yang tadi diacak-acak suaminya, Hermione kembali bertanya.
"Memangnya ada keinginan yang ingin kau teriakkan?"
Tersenyum lebar, memamerkan gigi putih maksimal yang terawat optimal (yah, begitulah jika punya kakek-nenek dokter gigi yang terampil dan disiplin), si bocah menjawab singkat sebelum menatap langit gelap yang dipenuhi bintang-bintang.
"Ada dong, Mum. Tapi, tak akan kubilang sekarang."
Nott tertawa panjang mendengar nada sok gaya anaknya. Tampaknya, selain mewarisi kemiripan fisik, putranya itu juga memiliki sikap dan perilaku yang identik dengan dirinya. Termasuk gaya tukang pamer sok berkelas yang barusan diperlihatkan.
Hermione sendiri cuma berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sama seperti Nott yang pantang menyerah, putranya juga sangat ngotot kalau menginginkan sesuatu. Lihat saja, sudah dua hari ini buah hatinya berdiam diri di atas bukit. Menunggu badai bintang jatuh Hogwarts yang fenomenal dan jarang terjadi.
Mengalihkan pandang dari putranya, Hermione beringsut ke sisi suaminya. Menempelkan tubuh, Hermione nyengir malu-malu saat Nott berbisik di kupingnya. Mengingatkan dirinya tentang momen di bawah hujan bintang jatuh, enam tahun lalu.
Momen menggairahkan yang membuahkan hasil manis. Miniatur kecil Nott yang saat ini tengah berkonsentrasi mengebor langit dengan wajah penuh senyum dan mata hijau pekat yang berkilau penuh harap.
Memang, selepas pertemuan dengan Astoria, Nott mengajak Hermione naik ke puncak bukit untuk menanti datangnya bintang jatuh. Meski Hermione mengatakan malam itu bukan musim tepat menunggu bintang jatuh, insting Nott berkata sebaliknya. Bersikeras intuisinya tak pernah keliru, Nott menggaransi kalau hujan bintang jatuh Hogwarts yang langka dan mengagumkan akan terjadi malam itu juga.
Tepat di tengah malam, naluri Nott terbukti benar. Setelah menunggu satu jam, panah api yang berasal dari meteor yang bergesekan dengan atmosfer bumi muncul tanpa henti. Membasahi angkasa dengan kibasan cahaya putih keperakan.
Setelah meneriakkan permohonan untuk mendapatkan keturunan, Nott mengajak Hermione bercinta di bawah siraman cahaya bintang jatuh. Awalnya, ajakan itu sulit diterima Hermione yang takut aktivitasnya diintip penghuni Hutan Terlarang, atau yang paling parah ketahuan Profesor McGonagall.
Akhirnya, setelah Nott menghujani area sekitar mereka dengan Mantra Pelindung, plus Mantra Anti Ngintip ciptaannya, Hermione mau diajak memadu kasih di bawah langit penuh cahaya.
Dan sekarang, tengok saja hasil percintaan spektakuler itu. Replika mungil Nott yang saat ini tengah menyipitkan mata, bolak-balik menatap cakrawala dengan kesabaran luar biasa.
Nott sendiri tak tahu persis apa yang diinginkan anaknya sehingga bersedia begadang sampai pagi. Sejak mendengar dongeng tentang keampuhan hujan bintang jatuh Hogwarts dari ibu baptisnya, Luna Lovegood Scamander, putranya langsung menjadi penunggu setia puncak bukit.
Mendesah panjang, Nott melirik istrinya yang menguap kecil menahan kantuk. Jika berbicara tentang keinginan, ia juga punya mimpi besar lainnya. Memiliki seorang anak perempuan yang sama persis seperti ibunya. Mulai dari rambut megar semak, mata dengan sinar kemilauan hingga sikap sok ngebos yang menggemaskan.
Sayangnya, Nott tak yakin ambisi pribadinya memiliki anak kedua sejalan dengan Hermione. Hermione memang tak pernah mengatakan ia tak ingin hamil lagi. Namun semenjak kelahiran putra pertama mereka, Hermione langsung ikut program Keluarga Berencana ala penyihir. Merapalkan Mantra Kontrasepsi setiap kali mereka hendak bercinta.
"Apa yang kau pikirkan, Theo?" Hermione bertanya, mata bulatnya melebar heran melihat suaminya berdiam diri. Biasanya, jika berangkulan seperti ini, suaminya itu tak pernah diam. Ada saja yang dilakukannya, mulai dari menciumi atau menggelitikinya sampai ia kehabisan suara.
"Aku hanya memikirkan tentang kehidupan bahagia kita, Sayang," jawab Nott penuh kasih, mengelus-elus leher Hermione dengan kelima jari. Membuang khayalan tentang memiliki anak kedua yang mirip Hermione, Nott memfokuskan diri memikirkan jaring kehidupan yang bertambah baik dari waktu ke waktu. Perbaikan hidup yang dimulai dengan informasi gembira yang dibawa Astoria sewaktu berjumpa di Madam Puddifoot's, tujuh tahun lalu.
Di sana, selain menjelaskan asal muasal kepergian kakaknya, Astoria juga menyebutkan kalau tujuan pertemuan itu adalah untuk mengembalikan hak kepemilikan atas Nott Manor yang dulu dirampas Daphne.
Meski seluruh properti perniagaan, pegunungan emas penuh kekayaan tambang dan aset perusahaan lain, termasuk saham blue chip sudah keburu dihabiskan Daphne, Nott tetap bersyukur. Setidaknya, selamatnya Nott Manor membuat ayahnya bisa pindah dari flat bau tengik di Knockturn Alley.
Terkadang, di masa liburan musim panas, saat di mana Hogwarts harus steril dari murid dan pengajar, Nott mengajak anak dan istrinya menginap beberapa hari di estat masa kecilnya itu. Sisa liburan musim panas lainnya dihabiskan Nott di rumah kecil berhalaman luas yang susah-payah dicicil. Pondok penuh bunga di pinggiran kota yang nanti akan ditempati jika keluarganya sudah beranak-pinak.
Ingatan tentang beranak pinak menerbangkan Nott ke sosok bekas kekasih remajanya, Daphne. Komunikasi Nott dengan Daphne memang terputus semenjak pembatalan rencana pernikahan mereka, tapi Nott tetap mengetahui kabar Daphne dari surat-surat yang dikirimkan Astoria. Selain mengkopi surat Daphne, Astoria juga mengirim foto-foto yang mengisahkan tentang perjalanan hidup kakak kandungnya.
Seperti foto terakhir yang diterima Nott, pekan lalu misalnya. Di foto yang tak bergerak itu, Daphne bercengkrama di ladang gandum bersama kelima anaknya.
Benar sekali saudara-saudara. Lima! Lima anak yang memiliki warna kulit berbeda-beda, sesuai dengan perpaduan warna kulit orangtuanya.
Sewaktu mengamati foto terbaru Daphne, Nott hampir mati tertawa jika tak disadarkan Hermione. Daphne yang di foto itu memang bukan Daphne yang dulu dikenalnya. Kehamilan lima kali berturut-turut membuat bentuk fisik cantiknya berubah.
Daphne yang dulu seseksi peragawati kini segendut ibu Ron, Molly Weasley. Wajah pualam sempurna yang halus memukau juga berubah menjadi muka bulat dan empuk klan Weasley yang dipenuhi bintik dan bercak, efek dari bekerja di ladang tengah hari bolong yang dijalani setiap hari. Untuk tempat tinggal, gubuk beratap seng milik Daphne juga menyaingi rumah bedeng keluarga Weasley. Penuh kandang babi dan ternak biri-biri yang berkeliaran ke sana ke mari.
Meski terbilang melarat, Daphne terlihat bahagia. Di surat yang dilampirkan Astoria, Daphne menjelaskan kalau ia sangat menikmati kehidupan di Selandia Baru. Daphne juga menggembar-gemborkan pengalaman berkesan dalam membesarkan lima anak sambil membantu suaminya mengelola ladang gandum dan peternakan kecil mereka.
Untungnya, Tuhan Maha Adil sebab bukan hanya Daphne seorang yang berbahagia. Astoria yang bertahun-tahun bersabar menerima perselingkuhan suaminya kini menuai hasilnya. Draco Malfoy, suami pujaan yang sejak kelahiran putranya hengkang dari rumah telah pulang kembali ke pangkuannya.
Nott sendiri tak mengetahui alasan pasti di balik tobatnya Malfoy. Sejumlah analisis memprediksi Malfoy sudah bosan bertualang memuaskan hasrat biologisnya. Ada juga pihak yang menduga Malfoy kembali karena merindukan anak semata wayangnya yang sudah diabaikannya selama tujuh tahun terakhir ini.
Satu yang pasti, insafnya Malfoy membuat Astoria bisa tersenyum ceria. Dari pemberitaan yang diintip Nott, Malfoy memang berangsur-angsur berubah. Beberapa kali foto interaksi hangat Malfoy dengan putranya tertangkap kamera Daily Prophet. Di dalam suratnya, Astoria juga bercerita kalau Malfoy mulai menghargainya. Sedikit demi sedikit mau menerima cinta kasih sepanjang masa yang tak lekang dimakan waktu.
Jika berbicara tentang cinta laten yang paten, Nott pasti langsung teringat Charlie Weasley. Sama seperti Astoria yang tak berhenti mencintai satu lelaki, Charlie juga serupa. Cinta tak berbalasnya pada Hermione tetap tak berbatas. Cinta sampai mati yang dibuktikan Charlie dengan komitmen untuk terus hidup membujang.
Walau tak menikah, Charlie tidak kesepian sebab penyihir bermata biru bercahaya itu memiliki banyak kerabat dan saudara yang mencintainya. Sikap kebapakan Charlie membuat perjaka tua itu akrab dengan semua keponakannya. Putra tunggal Nott saja mengidolakan Charlie dan selalu berharap bisa bertemu paman kesayangannya setiap kali bertandang ke The Burrow.
Keasyikan Nott menekuri perjalanan roda hidup terusik ketika Hermione kembali mempertanyakan motivasi anaknya. Mengawasi anaknya yang bersimpuh di atas terpal, Hermione bergumam penuh ingin tahu.
"Apa sih yang diimpikan jagoan kecil kita? Mobil berbentuk naga bersayap dengan knalpot api? Sapu terbang baru punya Harry? Atau ciuman pertama dari Lily Luna?" Hermione menyatukan kedua alis dengan khawatir, bertanya bingung sembari menyebut nama putri bungsu Ginny dan Harry yang selama ini sering dibicarakan putranya.
Belum sempat Nott membuka mulut untuk menjawab, sepercik bintang jatuh berkelebat di atas mereka. Berdiri bersamaan dengan sang anak yang melonjak-lonjak kegirangan, Nott dan Hermione memandangi taburan panah api bercahaya yang berkibaran di sekitar mereka.
Dari detik ke detik, ratusan bintang jatuh berpendar-pendar di udara. Seiring dengan setiap percikan cahaya, aroma hangat dan mistis menyelubungi bukit tempat mereka berdiri.
Di saat Nott dan Hermione berdiri terpana, tak menyangka bisa melihat bintang jatuh setelah enam tahun berlalu, putra mereka terus melompat-lompat girang di atas dua tungkai kecil yang terbalut sepatu bot setinggi betis. Menangkupkan tangan seperti berdoa, bocah cerdas berambut cokelat kehitaman yang selalu ceria dan bahagia itu berteriak sekuat mungkin.
"Aku ingin punya adik perempuan! Aku ingin punya adik perempuaaannn!"
Jika Hermione merona dan terperangah, Nott tertawa setuju mendengar permintaan tak terduga itu. Menundukkan wajah, Nott memagut bibir Hermione sebelum menggeram penuh nafsu.
"Bagaimana kalau kita kabulkan doanya? Waktu sama, tempat sama, besok malam?" Nott tertawa lembut, menyelusuri daun telinga Hermione dengan jentikan lidah yang menggoda. Di saat Hermione cuma tersenyum-senyum malu, Nott kembali melanjutkan serangan memabukkan.
"Kalau kau tak mau menunggu sampai besok malam, bagaimana jika kita langsung bertindak malam ini juga?" Nott mendesak memaksa, menyeringai nakal saat Hermione membelalakkan mata sayu sewarna madu lebar-lebar.
"Di rumah saja, Theo. Tidak ada gangguan atau saksi mata," Hermione tersenyum setengah tersipu, mengerling putra tunggalnya yang tengah berjoget Gangnam Style, menirukan gerak tari ala kuda lumping yang diajarkan anak pertama Harry dan Ginny, James Sirius Potter.
"Tidak mau. Tiap malam di rumah kan bosan," tolak Nott, mata hijau penuh nafsu-nya tertawa saat bibir Hermione mengerucut sebal. Nott tahu istrinya tergoda dengan ajakan bercinta di bawah pancuran bintang jatuh. Percintaan romantis di luar ruangan yang sudah lama sekali tak dilakukan mereka berdua.
"Ayo Hermione, sekarang saja. Kita tinggal pakai Mantra Peredam Suara dan Mantra Anti Ngintip untuk menghalau pengganggu," bujuk Nott pura-pura memelas, terus memandangi istri manisnya dengan hasrat yang membuat napas sesak. Melihat Hermione menatap polos putra mereka yang kini sedang bergoyang Harlem Shake, Nott menyeringai nakal.
"Jangan khawatirkan dia, Hermione. Kita tinggal pingsankan dia dengan Mantra Stupefy."
Terbahak geli, Hermione menggelengkan kepala kuat-kuat. Tak mempedulikan cibiran palsu Nott, Hermione tersenyum penuh cinta seraya menepuk pelan dada suaminya yang terbungkus kemeja katun melar.
"Besok malam saja, Theo," kata Hermione, menatap wajah suaminya yang membara terbakar gelora hasrat yang segar membakar.
"Besok malam saja. Jangan sekarang," Hermione berbicara sambil terkikik-kikik, terhibur luar biasa melihat muka suaminya yang cemberut berat hingga mirip baju kusut tak disetrika.
"Oke, baiklah. Besok malam," geram Nott pura-pura kalah. Di saat Hermione mengira keadaan sudah terkendali, Nott tiba-tiba menghempaskan tubuhnya ke pohon. Menahan tangan Hermione di atas kepala, Nott menciumi wajah istrinya sembari mendesah penuh gairah.
"Besok malam. Nonstop. Sampai pagi. Sampai semua guru dan hantu bangun. Sampai murid kelas Herbologi datang ke petak jamur bertanduk di bawah bukit," Nott mengangguk-anggukkan kepala dengan berapi-api, menyeringai tanpa malu saat Hermione tersedak tawanya sendiri.
"Apapun permintaanmu, Suamiku," Hermione berjinjit, mencium bibir belahan jiwanya dengan semua rasa cinta kasih yang mengalir di dalam hati.
Mengakhiri ciuman mesra yang panjang dan dalam, Nott menuntun Hermione menghampiri putra mereka yang tergolek kelelahan gara-gara kebanyakan menari. Mengangkat putranya ke pangkuan, Nott dan Hermione duduk bersisian, menatap hamparan langit malam yang dipenuhi panah api bercahaya.
Panah api bercahaya yang menjadi warna utama dalam perjalanan cinta mereka...
TAMAT
