Another World
Summary
Kazuto merupakan anak SMA biasa, tidak suka bermain game, dan tak punya kelebihan apapun. Namun temannya Ryoutarou mengajaknya bermain sebuah game yang benar-benar mengubah takdirnya
DISCLAIMER :
Reki Kawahara
WARNING :
Newbie Kirito, AU, Not SAO game
Cerita sebelumnya :
"Hei, Klein" ucapku pelan
"Apa?"
"Cara memakai skill bagaimana?" Tanyaku polos
"Eh?" Klein bingung
Lima,
Empat,
Tiga,
Dua,
Satu,
DUEL START!
CHAPTER 2 :
No Ways Back, I'm Stuck Here
"RUAAHHH!" segera aku mendengar suara teriakan kemarahan dari arah depan, aku yakin itu dari lawan raksasa di depanku. Aku menoleh, sekali lagi aku seperti bisa membaca gerakan si otak otot ini. Aku memasang kuda-kuda, bersiap menerima serangan. Mataku langsung terfokus ke daerah bahunya, pusat sendi utama pada alat gerak atas manusia. Terlihat saat dia berlari menerjangku, bahunya bergerak kearah samping, membertitahuku bahwa dia akan menyerang secara horizontal.
"Mati Kau!" umpatnya sambil mengayunkan pedang besarnya secara horizontal tepat seperti perkiraanku.
Berhasil membaca serangannya terlebih dahulu, aku mengambil langkah mundur, Back step, Menghindari serangannya. Dia mulai kehilangan keseimbangan akibat tertarik oleh momentum pedangnya sendiri karena serangannya gagal mengenaiku dan hanya menebas angin kosong.
'. . .pelajaran pertama, Intiating, adalah gerakan pertama, atau serangan pertama, Ini adalah basic terpenting dari setiap pertempuran, bila intiatingmu berhasil, maka kemungkinan besar kau akan menang' Kembali nasihat Klein terngiang di telingaku.
Tepat saat dia kehilangan keseimbangan, aku langsung memasang kuda-kuda menyerang, tiba-tiba pedangku menyala berwarna kebiruan, aku berhenti sejenak bingung dengan apa yang terjadi.
"Teruskan! Biarkan energinya mengalir ke seluruh tubuhmu lalu lepaskan, Itu Skill!" teriak Klein yang melihatku kebingungan
Paham dengan apa yang terjadi, kubiarkan cahaya itu mengalirkan kekuatan ke seluruh tubuhku. Kulihat lawanku mulai bangkit dari ketidakseimbangannya, dan tepat saat dia hampir mendapatkan keseimbangannnya kembali, aku melepaskan momentumku untuk menyerang, muncul jendela kecil di hadapanku bertuliskan 'Charge Breaker Activated'
Tulisan itu langsung menghilang, lalu aku merasa tubuhku seperti ditarik oleh pedangku, menerjang buas ke arah lawan yang baru sadar akan terkena serangan. Kubiarkan tangan kananku mengikuti aliran pedang yang ada di depanku, membiarkannya menguasai tubuhku. Aku dapat melihat mata lawanku yang terbelalak kaget melihat serangan tiba-tibaku itu. Aku terus menerjang, dan tepat saat akan menabrak lawanku, gerakan pedang berubah menjadi menebas secara diagonal di dada lawan. Lawanku berteriak saat tubuhnya terdorong mundur, sepertinya dia dalam keadaan Stagger.
"Kirito, lanjutkan dengan skill 'Rising Edge', turunkan kuda-kudamu dan lepaskan serangan dari bawah keatas!" teriak Klein melihat aku berhasil melakukan Intiating, serangan pertama pada lawan.
Kuikuti saran Klein, tepat dihadapan lawanku yang masih tak berkutik akibat Stagger, kuturunkan kuda-kudaku sambil menggenggam erat pedang pendekku dengan kedua tangan. Saat itu, kembali cahaya biru menyelimuti pedang, menandakan Skill akan diaktifkan. Tanpa menunggu lama, langsung kulepaskan seranganku, kembali muncul jendela bertuliskan 'Rising Edge Activated' Muncul dan langsung menghilang saat tanganku bergerak menebas keatas.
"HEAAHHH!" teriakku sekeras-kerasnya, menebas keatas mengikuti sistem.
Tebasanku bergerak mengenai bagian perut dan terus ke arah dada, mementalkan lawanku ke angkasa. Namun sepertinya itu belum selesai, karena sistem membuat pedangku seperti menarikku keatas juga. Kali ini kulihat lawanku tak berdaya diudara.
"Habisi dia Kirito!"
Kuangkat pedangku tinggi-tinggi, bersiap melepaskan momentumku bersama dengan tarikan grafitasi kebawah, mengarah ke arah bahu besar si Otot Besi.
"Hiaaaa!" dengan satu teriakan keras, kulepaskan seluruh momentum dari seluruh tubuhku kebawah, memusatkan serangan pada ujung pedang dan menghantam bahu otot besi hingga menjatuhkannya ke tanah sekeras-kerasnya. Tubuhku pun ikut tertarik kebawah, mengikuti aliran seranganku. Aku melihat ke depan, sepertinya akibat serangan kerasku tadi, tubuhnya terpantul dari tanah kembali ke udara.
"Dia terpantul!Lanjutkan Kirito, satu serangan lagi" teriak Klein.
Namun terlambat, tubuhnya sudah terjatuh kembali ketanah, Combo-ku berakhir hanya sampai disini. Aku mendekatinya, mengarahkan pedang ke lehernya.
"Menyerah?" tanyaku sambil menatap tajam ke arahnya.
Dia tersenyum sinis menatap dengan penuh kemenangan.
"Kau terlalu meremehkanku, Nak!"
Aku merasakan sesuatu yang besar dan berat menghantam kakiku, Sial! Kakinya! Badanku oleng kehilangan keseimbangan karena kakiku terjegal dengan tendangan tiba-tibanya itu. Dan saat aku masih dalam keadaan Stagger, Dia langsung bangkit dengan cepat lalu berkata penuh kemenangan.
"Saatnya serangan balasan!" teriaknya penuh kemenangan.
Pedangnya menyala kebiruan, sama sepertiku, sepertinya dia akan mengaktifkan Rising Edge. Apa yang harus kulakukan sekarang?
"Kau bisa menghentikan Combo-nya Kirito! Cukup hantam pedangnya dengan pedangmu saat tepat akan terkena serangan!" teriak Klein yang melihatku dalam masalah.
Pedang itu bergerak luar biasa cepat, menebas dan menerbangkanku. Di game ini sepertinya memang tak ada stimulasi rasa sakit, jadi tak masalah, namun di terbangkan dengan ketinggian beberapa meter tetap saja membuatku takut. Tubuh besar si Otot Besi mengikuti terbang ke angkasa, berusaha melanjutkan Combo-nya
"-Tepat saat akan terkena serangan" kataku mengulang kata-kata Klein.
"Mati Kau!" teriak Otot Besi sambil mengayunkan pedangnya vertikal ke arah kepalaku.
Melihat sebuah pedang besar mengarah untuk membelah kepalamu bukanlah pemandangan yang indah dinikmati, aku berusaha menggerakkan tanganku, mencoba mengikuti saran Klein untuk menghantam pedangnya, namun mungkin karena aku masih dalam keadaan stagger, tubuhku sangat sulit untuk digerakkan. Pedang Lawanku semakin dekat, menurutku bila aku terkena serangan ini cukup untuk membunuhku dan memberikan shock berat karena merasakan tubuh terbelah dua. Kupaksa tanganku, dan aku berhasil menggerakkannya sedikit. Pedang ada di depan mataku, SEKARANG!
KLANG!
Suara keras benturan besi terdengar, aku berhasil menepis serangannya. Hanya saja, sepertinya akibat perbedaan tipe senjata, tubuhku terpental jauh terkena gaya hantam pedang besar lawanku yang sama sekali tak dapat ditahan pedang mungilku ini. Aku terjatuh ke tanah beberapa meter di depan lawanku, meninggalkan bunyi benturan yang sangat keras. Aku bisa merasakan tubuhku sedikit terpelanting, berguling-guling di udara, hingga akhirnya mendarat kasar di tanah. Kurasa game ini memiliki tekstur tanah yang agak elastis, karena seringnya terjadi pemantulan di tanah dalam game ini. Si Otot Besi mengumpat kecil karena gagal melakukan Combo padaku, sementara aku mulai berusaha berdiri.
"Tidak terlalu sukses, Hah?" Ucapku dengan nada tinggi
Si Otot Besi hanya dapat menggeram marah mendengar hinaanku tadi, entah kenapa aku menjadi pandai dalam menghina orang seperti ini, setahuku korban hinaan atau lebih tepatnya Ledekan hanya si Klein atau Ryoutarou. Aku tidak pernah menghina orang lain selain dia, namun entah mengapa saat di dalam game ini, ada sedikit rasa menantang yang membuatku menjadi lebih Agresif. Aku bisa melihat bar di pojok kanan atasku berkedip-kedip merah, mungkin menandakan bahwa aku sudah hampir mati.
"Kali ini, Aku tak akan main-main lagi" Ucapku Dengan nada mengancam
"Aku juga akan menghabisimu kali ini!" ancam balik si Otot Besi kepadaku
Kami berdua memasang kuda-kuda, aku kembali memasang kuda-kuda saat aku mengeluarkan skill Charge Breaker tadi, karena hanya itulah satu-satunya skill yang kubisa, sementara itu si Otot Besi memasang kuda-kuda yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kami bersiap untuk beradu, siapa yang terkena skill pertama kali akan menentukan pemenang dari Duel yang benar-benar pada klimaks-nya ini.
"Hei Kirito, Kau tak akan menang! Senjatamu tak akan bisa beradu dengan Senjatanya!" teriak Klein
Si Otot Besi tersenyum penuh kemenangan. Aku hanya menatapnya dengan waspada.
"INI AKHIRMU NAK!" teriaknya sembari berlari menerjang kearahku
Pedang si Otot Besi mengeluarkan cahaya kuning cemerlang, sementara dia terus berlari ke arahku. Sial apa yang harus kulakukan?
'. . .Senjatamu tak akan bisa beradu dengan Senjatanya!' kembali teringat kata-kata Klein
Benar juga! Itu caranya!
Si Otot Besi dengan kecepatan luar biasa sudah berada tepat di depanku, aku menatap tajam pada pedang besarnya, kali ini hanya ada satu kesempatan.
"MATIII!" Teriak Otot Besi kasar sambil mengayunkan pedangnya.
Dapat!
Aku dapat melihatnya, jalur skill-nya dari pergerakan sendi tangannya. Secepat apapun suatu serangan, bila kau bisa membacanya maka serangan itu akan menjadi percuma. Aku tahu kali ini dia akan menyerang secara vertikal dari atas kebawah, mungkin dia mengira aku akan mengadu skill-ku dengan skill hentakan gilanya itu. Kugeser tubuh sedikit ke kanan, menghindari cahaya kuning yang bisa menebasku menjadi dua bagian sama rata bila terkena. Lalu di tengah kebingungan si Otot Besi, Aku langsung memasang kuda-kuda skill.
"CHARGE BREAKER!" teriakku keras membaca tulisan yang muncul dihadapanku saat aktivasi skill.
Tubuhku melesat bak peluru, menerjang buas ke arah Otot Besi. Tak dapat dielakkan lagi, kubuat sebuah tebasan diagonal dari pinggang kiri yang kutarik hingga membelah kebahu kanannya, tubuhku kemudian bergerak dengan cepat menerobos tubuhnya yang sudah kutebas. Klein terdiam melihat apa yang terjadi, Si Otot Besi terdiam, dan aku tersungkur di tanah akibat kuatnya serangan terakhir yang kulakukan tadi, semuanya hening.
"Tidak Mungkin . . ." sebuah suara memecah keheningan.
Aku berbalik dan melihat tubuh Otot Besi mulai melebur menjadi butiran-butiran pasir berwarna warni, benar-benar cara yang indah untuk mati walaupun tidak cocok dengan makhluk yang mengalaminya.
"TIDAK MUNGKIN!" Teriaknya frustasi
Tubuhnya pun menghilang menjadi serpihan debu pelangi, berterbangan di angkasa, hanya menyisakan tumpukan armor dan senjatanya. Aku tak dapat berkata apa-apa lagi, tubuhku tiba-tiba seperti mati rasa, tak bisa digerakkan sama sekali, namun sepertinya aku menang. Aku mendengar langkah kaki mendekatiku.
"Yup, Kerja bagus! Kau benar-benar hebat dalam PvP pertamamu" ucap Klein, sang pemilik suara langkah kaki sambil mengulurkan tangannya padaku.
"Hahahaha, hanya saja sekarang tubuhku tak bisa bergerak sama sekali, bisa bantu duduk?" ucapku dengan tertawa lemah.
"Sepertinya kau terkena status fatigue" ucap Klein sambil mendudukkanku
Aku mulai bisa merasakan tubuhku kembali, kutanyakan kembali apa yang dimaksud Klein tadi
"Fatigue?" tanyaku bingung
"Yup, fatigue, dalam game ini kau bisa mendapat berbagai macam status negatif bila kau melakukan hal-hal tertentu, mulai dari keracunan, demam, Lumpuh, atau kelalahan yang nama lainnya fatigue, ini biasanya akibat kau menghabiskan Spirit point-mu"
"Spirit Point?" tanyaku tambah bingung
"ya, Spirit Point, kau bisa melihatnya di pojok kiri atas, yang warna biru, bila itu habis kau akan benar-benar dalam masalah"
Aku melihat ke arah pojok kiri atas, memang, hanya terlihat bar kosong. Mataku terfokus kepada bar merah yang berkedip-kedip di pojok kanan atas
"Kalau yang di pojok kanan atas ini apa?" tanyaku pada Klein
"Oooh itu Health Point, alias batas kehidupanmu, bila itu habis kau akan mati, warnanya akan berubah semakin memerah saat tersisa sedikit"
"bagaimana caraku menambahnya, Spirit dan Health Point-ini?" tanyaku dengan agak gugup
"Health Point bisa ditambah menggunakan obat, hanya saja obat mengisi Health Point-mu atau kusingkat HP saja, sedikit demi sedikit. Jadi pakailah saat musuh sudah tidak ada"
"Ok aku mengerti, bagaimana dengan SP?" kataku mencoba menyingkat Spirit Point menjadi SP
"hahaha, sepertinya kau mulai bisa menyingkat sesuatu juga, SP akan bertambah ketika kau beristirahat, entah berbaring atau duduk, kau bisa melihat SP mu mulai terisi kan?" tanyanya
Kuperhatikan bar SP-ku, memang aku bisa melihat bar Biru sedikit demi sedikit mengisi tempat kosong di bar itu
"kau juga bisa memakai Obat khusus untuk menambahnya, oh ya, disini obat dinamakan potion atau disingkat Pot jadi bila ada temanmu berteriak atau berkata Pot, berarti dia membutuhkan obat, sampai sini paham?"
"Baiklah aku paham, lalu PvP itu apa? Aku mendengarmu tadi mengatakan itu" tanyaku lagi
"PvP atau Player Versus Player adalah keadaan saat dua player atau lebih bertarung. Kebalikannya PvE atau Player Versus Enemies adalah keadaan saat satu atau lebih player melawan monster"
Aku mengangguk-angguk paham, ternyata game online itu tidak sekanak-kanakan yang kukira, pantas saja adik sepupuku kadang-kadang marah saat kuledek anak kecil ketika dia bermain game ini.
"Ngomong-ngomong gadis yang tadi mana?" kata Klein tiba-tiba mengalihkan pembicaraan
Aku melihat sekitar dan mendapati gadis tersebut sedang dikepung dua orang, tapi sepertinya dua orang itu berbeda dari sebelumnya.
"Aku akan mendatanginya sebentar" kataku saat melihat kejadian tadi
Aku mendekati gadis itu, pedangku terhunus, bersiap-siap dengan keadaan terburuk. Setahuku HP dan SP-ku benar-benar akan habis. Saat aku sudah agak dekat, tiba-tiba gadis itu menoleh kearahku dan menyapaku.
"Ah itu dia!" teriaknya
Dua orang player lain yang ada di depannya juga ikut menoleh, sepertinya ini bukan dalam keadaan bahaya. Kusarungkan kembali pedangku ke punggung, berjalan sambil mengangkat tangan untuk menyapa. Dua orang disekitar gadis itu lalu mendekatiku
"Kau yang menyelamatkan Sachi?" tanya salah satu dari mereka.
"Eh, i-iya" jawabku agak gugup
"Benar-benar terima kasih! Aku tak tahu harus bilang apa! Hampir saja seluruh hasil Hunt kami dirampas orang itu"
"Hunt?" tanyaku bingung
"Eh" laki-laki itu ikut bingung
"Dia memang masih SANGAT pemula dalam hal bermain game, yah walaupun anehnya dia jago sih" kata Klein tiba-tiba muncul dibelakangku
Dua orang laki-laki itu agak terkejut melihat Klein, yah maklum sih, walau dia operasi plastik beberapa kali pun aura horornya masih ada.
"Aku Klein, teman dari si bodoh ini, perkenalkan" kata Klein mengulurkan tangan.
Dua orang tadi menyalami Klein. Aku juga baru teringat belum memperkenalkan diri.
"Oh iya maaf, namaku Kirito, Kiriga-" baru akan mengatakan nama asliku, Klein memukul punukku sampai rasanya aku tersedak.
"Sudah dibilang jangan pakai nama Asli, Ki-Ri-To!" teriaknya marah
Dua orang laki-laki dan gadis yang bernama Sachi itu pun tertawa melihat adegan melawak kami, sejak kapan aku jadi pelawak ya?
"Namaku Keita, disampingku ini Tetsuo, dan gadis ini Sachi, terima kasih sekali lagi telah menolong kami" kata mereka sambil menunduk.
Aku gugup, seumur hidup aku belum pernah menerima ucapan terima kasih dari orang lain, mungkin karena hidup selalu menyendiri. Saat pertama kali seperti ini benar-benar membuatku gugup.
"Ah-eh yaa bukan masalah, senang bisa membantu orang lain. Ngomong-ngomong mana dua orang lain yang mengejarmu tadi?" tanyaku pada Sachi
"Mereka sudah kami habisi, paling sekarang mereka sedang menangis-nangis di kota karena kehilangan barang-barang mereka" ucap Tetsuo dengan nada bangga
"Memang kalau mati kau bisa mengambil barang orang lain?" tanyaku
"Iya, kau bisa, hanya saja tidak semua barang, hanya barang yang ada di slot Inventory bebas saja yang bisa diambil" kali ini Keita yang menjelaskan
"Slot bebas?"
"Ya Slot bebas, kau bisa melihatnya di inventory-mu sebagai slot yang berwarna hitam, ada juga slot aman, slot ini adalah kotak berwarna abu-abu"
Kubuka Inventoryku, memang ada slot berwarna hitam dan ada yang abu-abu, yang abu-abu jumlahnya lebih banyak.
"Tadi kami sedang ingin berburu monster, karena inventory kami penuh, kami titipkan pada Sachi, karena itulah beberapa barang penting kami terpaksa masuk slot hitam Sachi, mungkin memang sudah dari tadi ada beberapa pemain yang mengincarnya"
"Oh ya, kau bahkan bisa mendapatkan Equip atau perlengkapan yang sedang dipakai lawanmu bila berhasil membunuh mereka, kau tadi melihat ada sisa armornya kan? Dan bila kau bermain Deathmatch, seluruh kepemilikan yang kalah akan menjadi milik pemenang" kata Klein menambahi
Kulihat ke arah bekas armor tadi, hilang. Sepertinya pemain lain sudah mengambilnya
"yang mungkin bukan rezekimu Kirito" kata Klein memahami arti tatapan suramku.
"Oh ya, dan bila kau mati . . ." Keita akan mengucapkan sesuatu.
Teng! Teng!
Suara bel besar memotong kata-kata Keita, seluruh orang disekitarku menoleh ke arah sumber suara.
"Ada apa?" tanyaku bingung
"Bel menandakan ada sesuatu yang sangat penting, pertama kali berbunyi saat hari pertama game ini diluncurkan" Tetsuo menjawab dengan nada serius
"mungkin masalah Bug yang kita alami, kita dari tadi tidak bisa Log Out kan?" kata Sachi
"Bug, Log Out?" aku makin bingung dengan istilah-istilah baru ini.
"Bug artinya error pada game, hei Sachi apa kita benar-benar tidak bisa Log Out?" tanya Klein dengan nada agak panik.
"Iya, semenjak update Patch 6.66 tadi pagi, aku tidak bisa Log Out" kata Sachi
Klein membuat garis vertikal di udara, mengeluarkan sebuah jendela tempat aku biasa membuka Inventory. Aku bisa melihat ekspresinya yang terlihat sangat panik. Keita dan Tetsuo juga terlihat panik ketika melihat jendela mereka.
"Kau benar, tombol Log Out nya hilang!" teriak Klein panik
Aku masih belum bisa memahami situasi yang ada, Log Out itu apa?
"Umm maaf mengganggu kepanikan kalian semua, ada yang mau menjelaskan Log Out itu apa?" kataku dengan nada bingung.
Semua player yang ada di sekitarku menoleh dan menatapku dengan tatapan tidak percaya, seakan-akan ingin mengucapkan "Sumpah! Nggak gaul banget!" Tiba-tiba Sachi berbicara
"Log Out itu artinya keluar dari game" katanya singkat.
Aku terdiam, silogisme Logika mulai bermain di kepalaku. Tombol Log Out hilang, kita semua tidak bisa Log Out, Dan Log Out artinya keluar dari game, berarti . . .
"AAHHH BERARTI KITA TIDAK BISA KELUAR GAME DAN KEKURUNG DISINI!" teriakku sepanik-paniknya, kehilangan image pendiamku
"Haaahh, baru nyadar dia" ucap semua orang di sekitarku bersamaan, sinkronisasi sempurna.
Tiba-tiba muncul cahaya kebiruan menyelimuti tubuhku, mirip saat aku dipindah ke kota dari tempat Tutorial pertama kali bermain. Cahaya itu lalu membuat segalanya putih dan saat kilau cahaya itu mulai menghilng, aku mendapati diriku kembali berada di dalam kota awal. Kulihat di sekitarku, beberapa pemain juga mulai muncul. Tempat di tengah kota ini mungkin juga bisa disebut alun-alun memiliki luas yang cukup besar, mungkin ribuan orang muat didalamnya. Alun-alun kota mulai sesak dengan pemain yang terus bermunculan dimana-mana, aku terkadang-kadang harus bergerak menghindari cahaya-cahaya biru lain yang terus disana-sini. Ini sebenarnya ada apa?
Teng, Teng, Teng
Bel besar kembali berbunyi, aku kali ini bisa melihatnya, karena bel tersebut tepat berada pada puncak menara ditangah-tengah alun-alun raksasa ini. Beberapa pemain juga kulihat menatap menara dengan seksama, menoleh ke arah sumber suara yang terus mengayun-ayun mengeluarkan bunyi bel yang khas. Melihat ekspresi mereka yang terlihat sangat serius itu benar-benar membuatku ingin tertawa, kok rasanya suasananya jadi tegang begini ya?
Cahaya biru mulai berhenti bermunculan, mungkin atau sepertinya seluruh pemain yang sedang bermain hari ini dikumpulkan seluruhnya di alun-alun raksasa ini. Aku berusaha mencari Klein dan yang lainnya namun tidak bisa karena penuhnya aula ini. Untung di game ini kau tidak bisa merasakan gerah dan sesak, bila ini di dunia nyata mungkin aku sudah membawa tabung oksigen untuk bernapas karena sesaknya alun-alun ini. Aku mencoba bergerak ke sisi terluar alun-alun untuk mencari tempat yang lebih bebas, lagian aku juga dekat dengan pinggiran alun-alun. Namun saat akan menuju gang ke arah kota, aku menabrak dinding tak terlihat. Sepertinya seseorang ingin kita dikumpulkan seperti ini.
DOONG!
Muncul suara bel yang sangat keras, aku terperanjat kaget. Beberapa pemain terlihat latah sangking kagetnya, ada yang bahkan sampai terjatuh, menabarak pemain lain sampai membentuk efek domino. Dalam kepanikan itu tiba-tiba langit mulai berubah hitam, angin kencang mulai bertiup, seakan-akan game ini akan kiamat. Kulihat awan-awan hitam dilangit mulai membentuk spiral, dengan cahaya terang ditengahnya. Awan-awan itu terus berputar perlahan mengelilingi cahaya putih ditengahnya, ini benar-benar mirip efek di film-film Hollywood. Aku kembali melihat sekitar dan mendapati seluruh mata pemain terpusat pada cahaya terang ditengah spiral itu. Kuiikuti pemain lain dan akhirnya aku mengerti apa yang sedang mereka lihat. Ditengah-tengah cahaya putih itu terlihat sosok berjubah putih, melayang bebas tanpa sayap di udara, ukurannya sangat besar sehingga bayangannya cukup untuk menutup kami semua yang ada di alun-alun.
"Selamat Datang para Pemain . . . ini Game Master" ucap sang sosok misterius
Suara itu cukup keras sehingga dapat terdengar di seluruh alun-alun ini. Aku terus menatap sosok berjubah putih diatasku ini dengan tatapan tajam. Berusaha memperhatikan kata-katanya. Game Master? Apaan tuh?
"Mungkin beberapa dari kalian sudah menyadari bahwa tombol untuk keluar dari game telah tiada . . ." kembali kata-katanya terjeda, memberikan efek dramatis yang agak membuatku kesal.
Kulihat sekitarku dan mendapati pemain lain membuka jendela virtual mereka, mengecek kebenaran dari kata-kata sang sosok putih.
"Namun, itu bukanlah Bug dari game, itu adalah fitur khusus yang didapatkan dari patch baru 6.66 . . ." kembali di jeda, untuk kesan dramatis
"Fitur khusus dari game Another World yang membuat seluruh pemainnya tak bisa keluar dari game ini, tidak dari Dunia Ini sebelum bisa menyelesaikan seluruh skenario yang ada dalam dunia ini . . ." lanjut sang Game Master tadi melanjutkan kata-katanya
'Tak bisa keluar dari game ini' katanya? Tunggu pasti ada yang salah, bagaimana aku bisa sekolah besok, bagaimana makan, bagaimana tidur, bagaimana buang hajat, Aaahhh kau pasti bercanda!
"Seperti yang tertera dalam patch 6.66, Dunia Another World akan diperluas. Benua yang saat ini kalian tinggali hanyalah seperlima dari seluruh dunia yang ada, bila kalian ingin menyelesaikannya, kalian harus menemukan sebuah gerbang yang kuletakkan di benua terakhir . . ."
"Benua terakhir . . ." gumamku
"Namun, ada beberapa fitur dari game yang juga berubah tapi tidak tertera di dalam patch 6.66, yaitu . . ." kembali dijeda dan kali ini benar-benar membuatku kesal
"Adalah . . ." sang sosok kembali menjeda kata-katanya, cukup brengsek! Katakan saja
"Keadaan saat kalian mati" lanjut sang sosok
Aku melihat ke sekitar, beberapa pemain menoleh kanan kiri kebingungan dengan apa yang baru saja dikatakan sosok tidak jelas yang sedang melayang bebas di angkasa ini.
"Seperti yang kalian tahu, saat kalian mati, level dan beberapa barang kalian akan terjatuh, namun sekarang itu tidak berlaku lagi karena . . ." Kembali di jeda dan kali ini aku benar-benar ingin melempar pedangku ke arah sosok mengesalkan ini.
" . . .Bila kalian mati disini maka kalian juga akan mati di dunia nyata" lanjut sang sosok tanpa rasa bersalah
Hening, suasana di alun-alun menjadi hening senyap, hanya suara angin berdesir yang terdengar. Aku sendiri hanya hening kebingungan, benar-benar mati secara nyata? Aku pasti hanya salah dengar, atau mungkin dia hanya bercanda.
"Bila kalian memang tidak percaya, akan kutunjukkan buktinya . . ." lanjut sang sosok
Dia mengangkat tangannya, tiba-tiba seluruh jendela kami terbuka otomatis dan aku dapat melihat dari sana beberapa berita. Saat kufokuskan, berita tersebut bertuliskan "Meninggal akibat bermain Another World" . Bukan hanya satu berita, namun muncul banyak jendela lain yang memberikan berita dengan topik sama. Dari beberapa berita, aku dapat juga melihat berita "Para Pemain yang sedang bermain kini sedang di evakuasi ke rumah sakit terdekat".
"Sekarang terserah kalian, percaya atau tidak, temukan misteri dibalik lima benua ini, dan kalian akan menemukan kebenaran yang sangat menyakitkan. Sekarang kalian akan dikembalikan ke tempat asal kalian sebelum ke alun-alun jadi . . . Bertahan Hiduplah" ucap sosok itu dengan nada pelan.
Sosok putih itu lalu kembali naik keatas, masuk kedalam pusaran awan hitam dan menghilang, sementara awan-awan mulai berputar dengan arah terbalik dari sebelumnya, berusaha menjadi normal kembali. Setelah beberapa saat, semuanya kembali seperti semula, lalu cahaya biru membungkusku, memindahkanku kembali ke tempat semula.
Cahaya biru menghilang, mataku dapat kembali melihat dengan jelas, terlihat di depanku Klein, Tetsuo dan Keita. Disampingku terlihat Sachi yang jongkok terduduk, wajahnya memperlihatkan ekspresi ketakutan.
"Kita semua akan mati . . ."ucapnya pelan.
Aku sendiri sebenarnya masih terlalu bingung untuk kaget, semuanya terjadi begitu cepat, satu-satunya hal dipikiranku hanyalah sosok pemain bertubuh besar yang telah kukalahkan, tidak! Dia tidak kukalahkan tapi . . .
"Kita telah membunuh seseorang . . ." ucap Keita, seolah dia berpikiran sama.
Angin berembus, menggoyangkan rumput-rumput di sekitarku hingga bersuara bergeremisik, seolah mengejekku, seorang pembunuh . . .
TO BE CONTINUED
Author Note :
Yaa chapter 2 selesaaiiiii, mungkin banyak yang mengira bahwa author tidak akan melanjutkan fanfic ini (hahahaha), yah tentu saja author akan melanjutkannya(walaupun dengan sedikit keterlambatan yang tidak masuk akal), minggu depan akan dijelaskan lebih detail mengenai game Another World, Mulai dari Class dan lain-lain, jadi Jangan lupa tetap Subscribe, Comment dan Like-nya yaa (EMANG INI YouTube!)
I
I
I
V
(Semuanya tak berarti tanpa review anda)
