Orang Baru
Aku sedang di rumah sakit menemani Jung Yong Hwa melepas perbannya dan saat ini kami sedang makan di kantin rumah sakit. Aku memeperhatikan tangannya yang sepertinya sudah sembuh, tapi aku masih penasaran dengan penyebab tangannya patah. Dengan hati-hati aku bertanya.
"Jung Yong Hwa ssi, boleh aku bertanya sesuatu?" Jung Yong Hwa mengangkat kepalanya.
"Kau bisa memanggilku Yong Hwa." Sama sekali bukan jawaban atas pertanyaanku.
"Yong Hwa ssi, boleh aku bertanya sesuatu?" aku mengulang pertanyaanku.
"Tidak perlu pakai honorific dibelakangnya. Dan aku mendengar pertanyaanmu jadi kau tak perlu mengulangnya lagi. Kau mau tanya apa?" Jung Yong Hwa menjawab dengan cuek.
"Mm, mengapa tanganmu bisa patah?" Jung Yong Hwa menatapku sebentar.
"Aku…berkelahi." Aku berhenti bertanya karena sepertinya dia menolak menjelaskan lebih lanjut. Tiba-tiba ponsel Jung Yong Hwa bordering, dia menatap layar ponselnya dan menghembuskan nafas panjang.
"Yeoboseyo, Tae Min-ah, ada apa?... aku sedang makan… pemotretan? Hari ini? tidak-tidak aku baru saja sembuh dan aku ingin istirahat penuh hari ini!" klik. Jung Yong Hwa menutup teleponnya, dengan cepat aku menghabiskan makananku.
"Sebentar lagi natal, kau ada rencana apa?" kataku memecah keheningan.
"Hey, natal masih lama jadi untuk apa kita membuat rencana." Aku tak mengerti, dia meggunakan kata 'kita' dan bukan 'aku' padahal aku bertanya tentang kegiatannya sendiri.
"Bukan itu maksudku. Kalau kau berbelanja tepat dihari natal, kau tidak akan menemukan barang yang kau cari karena pasti semua barangnya sudah terjual." Aku menjelaskan dengan sabar.
"Aku tidak ingin apa pun, karena hal yang kuinginkan sudah ada tepat didepan mataku." Aku tak mengerti apa maksudnya jadi aku mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, kau akan melakukan pesta saat natal nanti?" Jung Yong Hwa menatapku sekilas.
"Sepertinya tidak. Aku tidak pernah mengadakan pesta natal, membeli pohon natal saja pun tidak." Aku menatapnya dengan tidak percaya. "Oh, jangan menatapku seperti itu. Bukankah itu hal yang wajar? Menurutku itu biasa saja." Dia mengangkat bahunya tanda tidak peduli.
"Tidak. Itu tidak wajar. Jadi selama ini kau tidak pernah menghias pohon natal?" Jung Yong Hwa menggeleng. "Ya ampun. Itu bencana namanya."
"Baik-baik, ayo kita beli pohon natal kita sekarang!" Jung Yong Hwa bangkit dari duduknya dan sekali lagi dia menggunakan kata 'kita'.
"Ta… tapi kau bilang kau akan istirahat hari ini." aku berjalan mengikutinya.
"Ini karena kau, mengerti?" aku? Kataku tanpa suara sambil menunjuk diriku sendiri.
Kami sampai disebuah mall yang ramai di Seoul. Jung Yong Hwa memakai kacamata hitamnya dan menarikku lebih dekat dengannya. "Jangan berjalan terlalu jauh. Kalau kau hilang aku akan repot mencarimu." Aku menjulurkan lidahku sebagai balasannya. Aku merasa belakangan ini sikap Jung Yong Hwa terhadapku berubah. Dulu sepertinya dia sangat murung, sombong, dan kasar, sekarang dia lebih ramah juga banyak tersenyum padaku.
Kami memilih pohon natal yang dijual disebuah toko. Jung Yong Hwa memilih pohonnya dan aku memilih hiasannya. Aku melihat sebuah hiasan pohon natal berbentuk sapi yang lucu, aku memanggil Jung Yong Hwa.
"Yong Hwa! Kita beli ini ya!" aku menunjukkan gantungan sapi itu.
"Hey, aku laki-laki. Aku tidak ingin sesuatu yang terlalu perempuan." Tak mau kalah, aku terus mendesaknya.
"Tapi aku menyukainya. Ini sangat lucu." Jung Yong Hwa menatapku dari balik kacamata hitamnya. Dia menghembuskan nafas panjang lalu mengangguk pasrah. Jung Yong Hwa membeli sebuah kue ukuran sedang, setelah itu kami pulang.
Diperjalanan kami hanya berdiam diri, tak lama kemudian Jung Yong Hwa memecah keheningan.
"Kau sudah lihat berita itu?" oh, crap! Itu topik pembicaraan yang sejak tadi kuhindari.
"Berita apa?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Aku sedang dekat dengan seorang gadis." Jawabnya tak sabar, aku hanya mengangguk dan ber'oh' pelan.
"Aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu dan aku tidak akan membeberkan masalah ini ke media." Jung Yong Hwa melihatku sekilas, "Kau tak perlu tegang begitu, kalu terjadi sesuatu padamu, aku yang akan bertanggung jawab." Katanya sambil mengusap kepalaku.
Sesampainya di rumah Jung Yong Hwa, kulihat Lu Han sudah berdiri didepan gerbang menunggu kami. Jung Yong Hwa menurunkan kaca mobilnya. "Ada apa kesini? Mencariku?"
"Tidak. Kau jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin melihat nunna." Lu Han melambai padaku, "Tae Min hyeong bilang kau sedang istirahat dirumah, tapi mengapa kau bawa barang belanjaan?"
Jung Yong Hwa duduk di sofa setelah memarkir mobilnya, aku dan Lu Han mengikutinya dari belakang.
"Kau akan membuat pesta?" Jung Yong Hwa hanya menatap Lu Han datar.
"Bukan aku yang merencanakannya tapi Soo Young." Dia menjawab sambil tersenyum padaku.
"Oh, come on. Kita semua akan menikmatinya." Tepat saat itu bel pintu berbunyi, dengan cepat aku melihat siapa yang datang.
"Tae Min oppa! Ada apa kau datang kemari?" aku terkejut melihat Tae Min, manajer Jung Yong Hwa datang tiba-tiba.
"Well, aku hanya memastikan temanku yang BERKATA kalau dia butuh istirahat dan bukan sedang berkencan." Tae Min mengedipkan matanya padaku.
"Hey hyeong, jangan coba-coba mendekati nunna!" Lu Han menarikku dari hadapan Tae Min.
"Kau mau kubuatkan sesuatu, oppa?" aku berjalan ke dapur.
"Teh saja cukup." Tae Min tersenyum padaku, lalu tatapannya beralih pada Jung Yong Hwa. "Kau harus mengadakan jumpa fans besok, apa kau lupa?" sekarang nadanya lebih tegas.
"Aku ingat. Tenang saja bisa kan?" Jung Yong Hwa mendesah keras.
"Bukan itu masalahnya Yong Hwa! Aku menghawatirkanmu tapi kau malah bertindak seolah-olah tak ada yang terjadi. Bagaimana aku bisa tenang?" sekarang Tae Min yang mendesah.
"Baiklah, besok aku akan datang ke jumpa fans. Oh ya, pendatang baru itu, siapa namanya?" Jung Yong Hwa teringat sesuatu. "Kim Myung Soo. Dan dia akan berduet denganmu besok." Kata Tae Min dengan cepat.
"Kau sudah dapat tiket jumpa fans kami nunna?" tiba-tiba Lu Han bertanya padaku.
"Ah… mm, belum. Lagi pula aku kurang suka berada ditempat seramai itu." Aku menolaknya dengan halus.
"Kau bisa mengajak Hyo Sung nunna! Kudengar dia salah satu fans hyeong tapi sepertinya sekarang dia sedang menyukai Myung Soo." Lu Han tersenyum jail padaku.
"Oke, oke baiklah, akan kuusahakan. Besok aku akan datang, aku juga penasaran bagaimana suara Jung Yong Hwa yang bisa membuat semua wanita terpesona!" aku mengambil tiket itu dari tangan Lu Han.
Aku dan Hyo Sung datang ke acara jumpa fans Jung Yong Hwa. Kami sampai lebih awal dari karena Hyo Sung merengek sejak pagi tadi, walaupun aku merasa tidak enak badan hari ini tapi aku tetap menemaninya. Saat kami sampai ternyata tempatnya sudah penuh. Keramaian ini membuatku haus, aku melihat sebuah mesin minuman. Aku berusaha menembus semua kerumunan itu sambil mencoba menelepon Hyo Sung. Seorang pria menyenggol bahuku dan membuat ponselku terjatuh.
"Oh, crap!" desahku kesal. Beberapa orang mulai mendorongku, tiba-tiba seseorang menarikku berdiri.
"Kau tak apa-apa?" aku mengangkat kepalaku dan melihat seorang pemuda membantuku. Umurnya paling tidak sedikit lebih tua dari Lu Han. Aku mengangguk sopan. "Ini ponselmu. Kau yakin bisa berdiri?" tanya pemuda itu dan lagi-lagi aku hanya mengangguk. Setelah yakin aku dapat berdiri sendiri pemuda itu pun pamit dan meninggalkanku. Dengan cepat aku menelepon Hyo Sung.
"Hyo Sung, dimana kau sekarang?... aku ada didekat mesin minuman… apa? Aku tak dapat mendengarmu! Disana berisik sekali… oh acaranya sudah mulai? Baiklah aku kesana, tunggu aku didekat pintu masuk." Aku menutup ponselku dengan sekali hentakan dan berjalan cepat ke pintu masuk aula.
Aku melihat Hyo Sung didepan pintu masuk dan dia sedang melambai kearahku. Kami segera masuk aula yang ternyata cukup penuh, ditambah dengan teriakan riuh para fans. Sepertinya giliran Jung Yong Hwa bernyanyi karena dia naik ke panggung, tapi kali ini dia tidak berduet dengan Lu Han melainkan dengan pria yan tadi menolongku saat ponselku jatuh tadi.
"Siapa pria itu?" dengan cepat aku memutar kepalaku sambil meneriakkan kalimat yang baru kuucapkan.
"Namanya Kim Myung Soo. Dia artis pendatang baru tapi sudah terkenal sejak lagu pertamanya. Dia akan berduet dengan Jung Yong Hwa dalam beberapa lagunya,dan kurasa aku telah menjadi fansnya." Balasnya tak kalah keras.
"Maksudmu? Aku tidak melihat keistimewaan pada pria itu." Aku menatap heran pada Kim Myung Soo yang saat itu sedang bernyanyi.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi belakangan ini aku sering pergi ke konsernya, lebih sering daripada saat aku menjadi fans Yong Hwa oppa! Aku rasa aku jatuh cinta padanya!" Hyo Sung berteriak sambil tersipu malu.
"Lalu bagaimana responnya?" aku jadi penasaran.
"Yah, bisa dibilang dia baik padaku. Kurasa dia mulai menyukaiku. Kau tahu, mencintai seseorang itu semudah kau bernafas." Hyo Sung menyeringai jail padaku.
"Aku tak mengerti maksudmu." Aku berteriak makin keras karena teriakan penonton tak terkendali, tapi Hyo Sung hanya menatapku dengan pandangan 'kau akan mengerti saat kau mengalaminya, kid'. Aku menyerah untuk bertanya lebih lanjut maka aku mengalihkan pandanganku ke panggung, tepat saat itu Jung Yong Hwa bernyanyi. Sekarang aku mengerti mengapa banyak wanita menyukainya. Suara Jung Yong Hwa mengalun lembut dan entah mengapa sangat cocok dengan liriknya, rasanya seperti kau adalah tokoh dalam lagu itu, begitu nyata sampai kau merasa bagaikan tersihir dan masuk dunia baru, kemudian lagu itu berhenti. Lampu menyorot kearah panggung dan kulihat Lu Han dan Myung Soo juga ada disana, Jung Yong Hwa mulai berbicara.
"Tepat hari ini, aku akan merubah pasangan duetku untuk sementara!" kudengar penonton mulai berbisik penasaran.
"Sebenarnya tak ada masalah apapun. Hanya saja, kalian tahu Lu Han masih muda maka dia memutuskan untuk cuti dari menyanyi dan melanjutkan kuliahnya." Kulihat Lu Han tersenyum dan melambaikan tangan pada penonton kemudian acara dilanjutkan dengan pembagian hadiah untuk penonton.
Jung Yong Hwa membagi hadiah dengan cara yang unik. Dia menyuruh dua belas orang naik ke panggung dan dijadikan emapt kelompok. Kelompok pertama adalah orang yang memakai baju debgan dua corak warna, kelompok kedua yaitu orang yang datang dari jauh, ketiga yaitu orang yang memakai topi, dan yang keempat orang yang memiliki kacamata unik. Dengan cepat mereka naik ke panggung, Jung Yong Hwa memberikan hadiah sambil tersenyum hangat pada mereka. Kelihatannya mereka senang sekali, kataku dalam hati. Aku kembali melihat Jung Yong Hwa dan pandangan kami bertemu. Jung Yong Hwa mengedipkan sebelah matanya lalu berjalan kearahku. Langkahnya semakin dekat dan tanpa sadar aku menahan nafas. Jung Yong Hwa melepas syal yang dikenakannya dan melilitkannya dileherku. "Untukmu. You look lovely."
"Jung Yong Hwa! Apa maksudmu berkata seperti itu tadi?" acara sudah selesai dan kami sedang beristirahat disebuah café.
"Hanya bercanda! Lagipula kau memang terlihat lucu tadi." Ucapnya tanpa rasa bersalah, aku hanya memandang kesal dirinya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Kulihat Myung Soo sedang tersenyum lebar padaku, aku membalas senyumannya.
"Boleh ikut bergabung?" tanya Myung Soo ceria, aku mengangguk.
"Jadi siapa gadis beruntung yang mendapat syal Jung Yong Hwa ini?" Jung Yong Hwa sepertinya tak tertarik.
"Aku Choi Soo Young." Jawabku singkat.
"Nama yang bagus, bunga yang mewah?" aku terkejut saat dia menyebutkan arti namaku.
"Hampir benar." Aku tersenyum sopan.
Pada akhirnya aku pulang bersama dengan Myung Soo karena Jung Yong Hwa ada pekerjaan lain. Menurutku Myung Soo orang yang baik dan humoris. Sebenarnya aku tidak pandai bicara dengan orang yang baru kukenal tapi Myung Soo membuatku merasa seperti sudah lama mengenalnya.
"Kau mirip dengan seseorang yang kukenal." Myung Soo mengalihkan pandangannya dari jalanan padaku.
"Maksudmu ada orang yang wajahnya mirip denganku?" tanyanya polos.
"Bukan, maksudku sifatmu mirip seseorang yang kukenal." Dia menatapku heran.
"Benarkah? Siapa dia?"
"Yoo Seung Ho." Tidak. Nama itu tak boleh kuingat lagi. Aku harus melepaskannya, tapi mengapa disaat seperti ini nama itu kembali muncul? Oh crap! Aku salah bicara.
"Siapa itu Yoo Seung Ho?" Myung Soo terlihat penasaran.
"Mm? tidak, bukan siapa-siapa." Aku menunduk, kelihatannya Myung Soo mengerti sikapku dan tidak bertanya lagi. Keheningan terjadi diantara kami sampai Myung Soo mencairkannya dengan sebuah lelucon. Aku hanya tersenyum dan tanpa sadar kami sudah sampai di apartemenku. Aku melangkah dengan perlahan hingga sampai ke kamarku, aku membuka jendela agar udara sore masuk.
Sayup-sayup aku mendengar seseorang bernyanyi, aku berjalan cepat ke beranda dan menoleh ke kamar Lu Han.
"Lu Han? Apa itu kau?" aku memiringkan kepalaku.
"Ada apa, nunna?" dia tersenyum padaku.
"Kau akan berangkat sekarang?"
"Tidak. Nunna tenang saja, kalau aku pergi nunna pasti tahu." Aku tersenyum tipis.
"Ano ne, boku wa onee-chan ga daisuki!" kata Lu Han lalu kembali ke kamarnya. Aku tidak terlalu bisa bahasa jepang, tapi sepertinya aku paham arti ucapannya. Kau tahu, aku mencintai kakak! Aku menatap kamar Lu Han, sepertinya bukan hal yang berat untuknya berkata seperti itu tadi.
Aku keluar kamar dan berpapasan dengan Hyo Sung, dia menatapku sebentar dan menarikku ke kamarnya. Aku cukup sering masuk ke kamar Hyo Sung, hanya saja sepertinya ada beberapa barang yang dipindahkan. Hyo Sung segera menuju dapur dan kembali dengan membawa teh dan beberapa biscuit, sepertinya Hyo Sung mulai tahu kesukaanku pada teh. Aku meminumnya sedikit. Hyo Sung menatapku dengan tajam.
"Aku tahu kau meneyembunyikan sesuatu dariku." Hyo Sung masih menatapku.
"Maksudmu apa? Aku sedang tidak punya rahasia saat ini." aku menatapnya heran.
"Kau dari mana sore ini?" kali ini dia menatapku sambil menyipitkan matanya.
"Aku ke konser denganmu yang pada akhirnya kau meninggalkanku sendirian." Aku menjawab malas.
"Hehehe, sorry. Aku ada urusan mendadak tadi. Jadi kau pulang dengan Yong Hwa oppa?" aku terdiam sebentar dan menghela nafas.
"Sebenarnya itu rencana awalnya, tapi Jung Yong Hwa ada pekerjaan lain sehingga aku pulang dengan Myung Soo."
"Oh tidak, jangan katakan Myung Soo adalah Kim Myung Soo yang berduet dengan Yong Hwa oppa tadi." Aku hanya mengangguk pelan.
"Oh demi Tuhan, Choi Soo Young! Mengapa kau tidak meminta tanda tangannya? Atau sesuatu dari hiasan mobilnya? Kau tahu kan aku mengidolakannya saat ini?" kata Hyo Sung berapi-api.
"Aku tahu. Aku hanya lupa tadi, maafkan aku. Kalau aku bertemu dengannya lagi aku akan minta tanda tangannya atau sesuatu dari mobilnya, oke?" Hyo Sung mengangguk puas. "Jadi kau mengidolakannya hingga sampai datang ke konsernya setiap saat?"
"Ya begitulah… akhir-akhir ini aku sering ikut menonton konser Myung Soo. Aku juga sering membawakannya camilan untuk dia makan selama istirahat." Aku hanya berdecak kagum atas usahanya.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" Hyo Sung menatapku sebentar.
"Aku masih dapat mengaturnya dengan baik. Well, kadang sedikit berantakan, tapi aku masih bisa mengatasinya. Lagi pula kalau aku tidak melihatnya secara langsung aku rasa ada sesuatu yang kurang."
"Kau kan bisa melihatnya di televisi. Mengapa kau harus bersusah payah sampai datang ke konsernya?" aku mendelik melihatnya.
"Kau tidak akan mengerti Soo Young. Kalau kau mengalaminya sendiri kau mungkin akan sama sepertiku. Berlari-lari seperti orang gila saat dia datang, atau kau akan tersenyum sendiri dan saat kau sadar kau sedang memikirnya, atau saat kau sedang melakukan sesuatu kau pasti akan memikirkannya." Kata Hyo Sung panjang lebar.
"Separah itukah kau sekarang?" aku menatapnya tidak percaya.
"Huhhh, sudah kubilang kau tidak akan mengerti kalau kau tak mengalaminya. Kau tahu mencintai seseorang itu…"
"Semudah kau bernafas. Aku tahu itu, kau pernah mengatakannya."
To Be Continued
