Dua Orang
Siang ini aku, Jung Yong Hwa, serta beberapa teman dari apartemen dan agensi mengantar Lu Han ke bandara. Aku sedang membeli minuman bersama Myung Soo saat kulihat tatapan penasaran Hyo Sung padaku. Myung Soo sepertinya tidak melihatnya karena dia masih terus bercerita padaku.
"Jadi kau mau ikut menonton kembang api bersamaku sebelum natal?" tanyanya antusias.
"Memangnya kau tidak punya pekerjaan saat itu? Bukankah kalian para artis akan sibuk menjelang natal?" aku menyesap teh kalengku perlahan.
"Sebenarnya ada beberapa. Mungkin bisa dikatakan banyak. Tapi aku memutuskan cuti hari itu, ngomong-ngomong kau suka teh ya? Aku sering melihatmu meminumnya." Aku hanya mengangguk pelan. Lu Han akan berangkat beberapa menit lagi, dengan cepat aku berjalan ke ketempat mereka menunggu.
"Nunna, aku pasti akan merindukanmu selama di Amsterdam." Lu han memelukku saat aku hampir tiba. "Oh hyeong, eh tidak tidak. Semuanya tolong jaga nunna, kalian tahu, dia sering sekali kehilangan barang-barang karena kecerobohannya. Dan hyeong, tolong jaga motorku sampai aku kembali." Aku merasa seperti anak kecil sekarang.
"Hey, sebenarnya kakakmu itu aku atau dia?" Jung Yong Hwa menunjukku dengan jengkel. "lagi pula mengapa aku harus menjaga motormu? Memang aku pindah profesi menjadi babysitter?"
"Tak apa hyeong, Lunna tidak akan berbuat macam-macam padamu. Dia motor yang baik." Lu Han menepuk bahu kakaknya. "Dan satu lagi sebelum aku pergi aku akan mengatakan ini pada nunna dengan benar. Soo Yong nunna, nan neul saranghae." Ucap Lu Han lalu mencium pipiku,rasanya pipiku berubah merah saat itu juga.
"Hey, apa-apan kau ini mencium gadisku seenaknya?" Myung Soo menjauhkanku dari Lu Han.
"Apa maksudmu dia gadismu? Apa kau mengatakan padanya kau mencintainya?" Myung Soo terlihat bingung.
"Belum, dan aku akan mengatakannya sekarang. Choi Soo Young, aku menyukaimu. Maukah kau jadi pacarku?" rasanya aku ingin pingsan saat itu juga, dua pemuda confess they love to me. Oh crap. Tiba-tiba Jung Yong Hwa menarik tanganku menjauhi mereka.
"Kalian ini sedang apa, seperti anak kecil saja kelakuannya! Dan kau juga, jangan membuat kami malu disini." Jung Yong Hwa menatapku jengkel.
"Oh wait a sec. Jung Yong Hwa, mengapa kau menyalahkanku? Aku bahkan tidak tahu kalau mereka akan menyukaiku. Jadi aku tidak bersalah disini!" aku balas menatapnya, sepertinya Jung Yong Hwa tidak dapat berkata apa pun.
"Dan Yong Hwa, sebaiknya kau melepaskanku sekarang juga. Rasanya tanganku ingin putus." Jung Yong Hwa melepaskan tanganku dengan sikap tak acuh. Aku mengusap tanganku dengan sebal. "Kau tidak perlu sekasar itu tau!" Jung Yong Hwa mengabaikanku.
Tak sengaja aku melihat kearah Hyo Sung, sepertinya dia memandangku dengan tatapan aneh. Mungkin hanya perasaanku saja, pikirku. Jung Yong Hwa menarik tanganku dengan kasar. Aku mengernyit kesakitan, tapi Myung Soo meraih tanganku.
"Aku yang akan mengantarnya. Kau tidak perlu repot-repot." Myung Soo menyentakkan tangan Jung Yong Hwa dari tanganku dan membawaku ke parkiran. "Kau mau kemana hari ini?" tanyanya setelah kami memasuki mobilnya.
"Entahlah, aku belum tahu. Rencananya hari ini aku ingin ke toko buku, aku ingin membeli novel serta beberapa majalah mode." Ujarku santai.
"Majalah mode? Kau suka fashion? Atau kau pembuatnya?" Myung Soo menatapku penasaran.
"Bisa dibilang aku pembuatnya." Mata Myung Soo terbelalak karena kagum.
"Hebat sekali. Jadi kau bekerja dimana?" aku menyebutkan nama perusahaan tempatku bekrja dengan cepat dan Myung Soo mengangguk. "Baiklah, sekarang kau membuatku penasaran. Ceritakan sedikit tentang dirimu!"
"Hey, kau mau mengintrogasiku atau apa?" Myung Soo menatapku dengan pandangan memohon. "Baiklah akan kuceritakan, dan hentikan tatapanmu itu. Aku baru pindah kesini beberapa minggu yang lalu, sebelumnya aku tinggal di New York, aku mengambil sekolah mode di Instituto Europe di Design yang ada di Milan, sudah puas?" Myung So pura-pura berpikir lalu mengangguk puas.
Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah toko buku yang cukup besar di Seoul. Aku segera masuk dan mencari buku yang kumaksud, beberapa buku klasik menarik perhatianku. Aku membolak-balik halamannya sambil menunggu Myung Soo yang menghilang entah kemana.
"Buku klasik. Bagus juga seleramu!" aku melompat terkejut karena Myung Soo berada persis dibelakangku.
"Kim Myung Soo! Jangan pernah lakukan itu lagi. Dari mana saja kau, kukira kau meninggalkanku?" Myung Soo menunjukkan buku novel yang dipegangnya. Aku hanya berkata 'oh' tanpa suara.
Setelah puas berkeliling mencari buku, kami membayar buku kami masing-masing. Sesampainya dimobil Myung Soo menyerahkan sebuah buku padaku, buku klasik yang tadi sempat kubaca.
"Untukmu. Aku tahu kau menyukainya." Aku hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Tanpa sadar kami sampai di apartemenku, dengan cepat aku membuka pintu danturun dari mobil. Myung Soo menurunkan kaca mobilnya. "Jadi, kau akan menemaniku tanggal dua puluh empat nanti?"
"Hehh, baiklah. Akan kuusahan supaya aku tidak terlalu sibuk." Myung Soo mengangguk dan melajukan mobilnya.
"Soo Young, aku tidak tahu kau sedekat itu dengan Myung Soo oppa." Kata Hyo Sung ketika aku berpapasan dengannya saat pulang dari rumah Jung Yong Hwa suatu hari.
"Tidak, kami tidak sedekat yang kau kira. Myung Soo hanya temanku, itu saja." Aku menjawabnya sambil mengangkat bahu.
"Entahlah, tapi dia menyatakan cintanya padamu saat kita mengantar Lu Han ke bandara waktu itu." Hyo Sung bersikeras.
"Jadi kau cemburu padaku?" kulihat wajah Hyo Sung memerah. "Sudah kuduga. Kalau kau menyukainya mengapa tidak kau dekati saja dia?"
"Tapi dia menyukaimu." Hyo Sung mulai keras kepala.
"Kan sudah kubilang, aku hanya menganggapnya sebagai temanku, jadi?" aku menatapnya jahil.
"Aku sudah mencobanya. Tapi Myung Soo hanya memperlakukanku sebatas fans biasa." Hyo Sung menghembuskan nafas dengan keras.
"Kau hanya perlu berusaha lebih keras. Kalau kau sudah siap untuk mengatakannya beri tahu aku,oke?" Hyo Sung mengangguk lalu memelukku.
Aku masuk ke kamar dengan lemas. Badanku sangat lelah setelah memebereskan kekacauan yang dibuat oleh Jung Yong Hwa dirumahnya. Aku berjalan kedapur dan menyeduh teh untukku sendiri. Aku jadi teringat pada Lu Han, dia orang pertama yang kutemui di apartemen ini dan sekarang dia sudah pergi, rasanya jadi sedikit sepi. Sambil menunggu airnya matang aku bersenandung pelan.
The day we met,
Frozen I held my breath
Right from the start
I knew that I'd found a home for my heart...
... beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow…
Deringan ponsel mengejutkanku dan menghentikan senandungku. Dilayar tertera nama Jung Yong Hwa, dengan sebal aku mengangkatnya. "Ada apa meneleponku?"
"Kau di apartemenmu? Kau sedang apa?"
"Ya,aku sedang minum teh ada apa? Apa yang terjadi dengan suaramu?"
"Tidak apa-apa, hanya demam sedikit besok juga sembuh. Aku hanya menelepon untuk memastikan kau pulang dengan aman."
"Astaga Yong Hwa, kalau kau hanya demam sedikit suaramu tidak akan seperti itu. Kau sudah makan belum? Oke, tunggu disitu aku akan kesana." Aku menutup teleponnya, rasa jengkelku tadi telah berganti menjadi rasa cemas. Dengan cepat aku menyambar tas dan jaketku dan berlari menuju halte bus.
Aku menerobos masuk rumah Jung Yong Hwa begitu sampai disana. Kulihat Jung Yong Hwa tergeletak lemas di sofanya, dia melihatku lalu tersenyum sinis. Aku menghampirinya dan menyentuh keningnya. Astaga! Panas sekali, kataku dalam hati.
"Dasar kau ini, senang sekali menerobos rumah orang tanpa izin." Aku hanya menatapnya jengkel.
"Hey, aku sudah jauh-jauh datang kesini dan seperti itu tanggapanmu? Lebih baik aku pulang saja." Kataku sambil kembali menyambar tas dan jaketku, tapi Jung Yong Hwa menahan tanganku.
"Mianhae, aku tidak bermaksud mengusirmu, hanya saja…" Jung Yong Hwa berusaha untuk duduk.
"Baiklah aku tidak akan pergi. Sekarang kau harus berbaring." Aku memaksa Jung Yong Hwa untuk kembali berbaring. "Sebenarnya apa yang membuatmu sakit seperti ini? sepertinya tadi kau baik-baik saja. Sudah makan?" kataku sambil berjalan ke dapur.
"Mungkin karena aku harus basah-basahan saat syuting video clip kemarin. Aku terlalu sibuk jadi tidak sempat makan." Aku hanya menggelengkan kepala.
"Ini bubur untukmu, aku yakin perutmu belum cukup kuat untuk makanan berat. Memang tidak ada yang memperhatikan kondisimu? Apa pacarmu tidak memperhatikanmu?" aku mengambilkan handuk dingin untuknya.
"Aku tidak punya pacar kau tahu?" katanya sambil menatapku jengkel dan mencoba makan. Aku melihatnya dengan tidak sabar dan merebut bubur dari tangannya.
"Kau makan lama sekali! Buka mulutmu!" Jung Yong Hwa hanya menurutiku dan aku menyuapkan bubur untuknya sampai habis. "Istirahatlah, aku akan menelepon Tae Min oppa kalau kau sakit."
Aku menghubungi Tae Min dan memberitahu keadaan Jung Yong Hwa. Setelah itu aku ke dapur untuk mencuci piring, kulihat Jung Yong Hwa sudah pindah ke kamarnya. Aku duduk di sofa dengan lemas, terlalu lelah untuk bergerak lagi. Lama kelamaan kesadaranku menghilang dan aku tertidur pulas. Hal yang kutahu saat aku membuka mata adalah hari sudah terang. Sepertinya aku sudah bermalam dirumah ini dan Jung Yong Hwa memberikan selimut padaku. Aku bangun untuk mengecek keadaan Jung Yong Hwa tapi sepertinya dia sudah bangun lebih dulu dan sedang membuat sesuatu didapur. Aku pun menghampirinya.
"Sedang membuat apa?" Jung Yong Hwa menunjuk roti yang sedang dibakarnya. "Aku baru tahu kau bisa masak. Aku jadi penasaran dengan rasanya." Aku tersenyum jahil. Jung Yong Hwa melihatku kesal lalu mengambil roti bakar yang sudah dibakarnya sejak tadi dan memasukkannya ke mulutku. "Heff, muhut fu fidak fufat hahu!" kataku dengan mulut yang penuh.
"Biar kuterjemahkan, kau bilang mulutmu tidak muat?" aku hanya mengangguk sebal sambil mengunyah. Jung Yong Hwa tertawa sambil mengacak-acak rambutku.
Hari yang sibuk untukku dikantor. Biasanya tidak begini hanya saja beberapa hari yang lalu aku dapat kenaikan pangkat, bosku dari New York datang beberapa hari yang lalu dan dia melihatku. Pada akhirnya dia tidak setuju dengan posisi jabatanku sekarang maka dia menaikan jabatanku ke divisi yang sama saat aku di New York, padahal aku sudah cukup senang dengan jabatan awalku disini, alasannya adalah karena aku tidak perlu repot-repot mengurusi semua sketsa pakaian yang baru dibuat.
Beberapa hari lagi perusahaan kami akan mengadakan peragaan busana dan berkat jabatan baruku, sekarang aku harus membuat model, mengawasi pembuatan pakaian, dan mengurus sketsa dari bawahanku. Tema kali ini adalah 'sparkle winter' jadi kami harus bekerja ekstra untuk membuat bahan yang ringan tapi juga hangat dan indah. Saat sedang mengecek laporan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku hanya tersenyum saat melihat siapa yang menelepon.
"Myung Soo-ah, ada apa?"
"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang, kebetulan aku lewat depan kantormu. Kau sudah makan?"
"Belum, aku sibuk sekali sekarang. Maukah kau menungguku? Mungkin kami akan selesai lima belas menit lagi."
"Baiklah, aku akan menunggu di taman dekat sana." Aku menutup teleponnya dan menghembuskan nafas keras. Sesuai janji aku keluar lima belas menit kemudian. Aku berjalan ke taman dan melihat mobil Ford Ranger hitam milik Myung Soo. Dia melihatku dan menyuruhku segera naik.
"Jadi kita akan kemana sekarang?" tanya Myung Soo sambil menyetir.
"Terserah kau saja yang penting cepat. I'm starving to death!"
"Oke, kalau begitu kita ke restaurant kesukaanku."
Myung Soo memarkir mobilnya disebuah rumah makan kecil dipinggiran Seoul. Rumah makan ini menyediakan masakan jepang dan sepertinya cukup ramai. Setelah mendapat tempat duduk aku segra memesan tempura, sashimi, dan takoyaki. Sepertinya Myung Soo heran melihat pola makanku yang besar.
"Wah, aku kenyang sekali." Myung Soo tersenyum senang setelah kami selesai makan. "Jadi setelah ini kau harus ke kantor lagi?"
"Ya, begitulah. Pekerjaanku masih menumpuk, lagi pula aku harus mempersiapkan barang untuk peragaan busana minggu ini." kataku sambil meminum lemon tea milikku yang sisa setengah.
"Oke aku akan mengantarmu sampai kantor, perlu kujemput nanti?" kata Myung Soo menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku tahu kau pasti sibuk setelah ini. Aku bisa pulang sendiri." Jawabku sambil tersenyum.
"Terserah kau saja. Oh ya, kau mau menonton konserku selasa depan?" aku menatapnya heran.
"Apa kau sedang mengajakku kencan?" tanyaku sambil bergurau.
"Sebenarnya iya, tapi ini bukan kencan karena akan lebih dari dua orang yang hadir. Mungkin kau ingin mengajak temanmu?" Myung Soo mengacungkan dua lembar tiket padaku.
"Akan kutanyakan padanya." Aku menyambar tiket itu.
"Jeon-Hyo-Sung!"
"Astaga Soo Young, jangan muncul dengan tiba-tiba seperti itu." Sepertinya aku berhasil mengejutkannya.
"Well, aku hanya penasaran apa kau akan ikut bersamaku menonton konser Myung Soo selasa depan."
"Kau bercanda, kau tidak akan mungkin mau menonton konser." Aku menunjukkan tiket yang diberikan Myung Soo. "Choi Soo Young, kalau gurauanmu tidak lucu akan kugiling kau."
"Apa itu artinya 'iya'?" aku memancingnya.
"Tentu saja ya. AHHHH! Aku senang sekali, terima kasih Soo Young. Kau temanku yang terbaik."
"Cukup, aku sudah kenyang mendengar pujianmu kemarin jadi jangan diteruskan lagi."
Seminggu berlalu, itu artinya aku hanya perlu seminggu lagi untuk lepas dari kegiatan 'budak' untuk Jung Yong Hwa. Hari ini kantorku semakin sibuk. Alasannya karena malam ini kami akan mengadakan peragaan busana. Aku sudah menyebar tiket dan mengundang orang-orang terdekatku. Ini merupakan suatu kebanggaan karena pakaian yang kudesain sendiri akhirnya dipamerkan. Kulihat hari mulai gelap dan beberapa orang makin sibuk berlalu lalang didepan panggung. Tiba-tiba seseorang menutup mataku.
"Tebak siapa aku?" suara laki-laki yang kukenal.
"Kim Myung Soo?" orang itu membuka mataku.
"Kau benar! Hey, jangan gugup begitu. Kau melakukannya dengan baik."
"Aku tahu, hanya saja aku tidak bisa tenang. Bagaimana kalau acaranya gagal? Bagaimana kalau penontonnya tidak suka? Bagaimana kalau sedikit yang melihatnya? Bagaimana…" aku tidak dapat menyelesaikan kalimatku karena Myung Soo tiba-tiba mencium keningku.
"Itu jimat keberuntunganmu dariku. Kau akan baik-baik saja, aku tahu itu. Tenanglah sedikit!" Aku terkejut beberapa saat sampai akhirnya aku menemukan suaraku lagi.
"Tapi bagai…" Myung Soo menempelkan telunjuknya dibibirku.
"You will be alright. Atau kau mau kuberi good luck charm ditempat lain?" aku menggeleng dengan keras. "Kalau begitu kau harus tenang dan berpikir kalau ini akan berjalan dengan lancar."
Acaranya dimulai beberapa menit lagi dan aku tidak henti-hentinya menoleh ke penonton. Myung Soo dengan setia menemaniku sambil memegang tanganku, berharap aku jadi lebih tenang walaupun dia tahu itu hanya membantu sedikit. Lampu mulai dimatikan, pembawa acaranya mengumumkan beberapa hal yang tidak kudengar sama sekali karena terlalu gugup. Kemudian satu persatu model keluar sambil meperlihatkan busana mereka. Kini tiba saatnya pakaianku diperlihatkan, aku menoleh tapi Myung Soo sudah tidak ada disampingku. Riuh penonton membuatku tidak mendengar apa yang dibicarakan sang pembawa acara, tapi kemudian lampu menyorot ke tengah panggung dan kulihat Myung Soo berjalan mengenakan pakaian rancanganku. Dia melihat ke arahku dan mengedipkan matanya. Oh crap! Aku tidak bisa berkata apapun…
"Mengapa kau tidak bilang kalau kau yang akan memakai rancanganku?"
"Entahlah, mungkin aku hanya ingin mengejutkanmu. Lagipula kau terlihat tegang sekali tadi." Myung Soo mengedipkan matanya padaku.
"Tapi… tapi harusnya kau bilang sejak awal jadi aku tidak perlu khawatir seperti tadi!" Myung Soo hanya mengangkat bahunya.
"Sooo Younggggg!" jeritan perempuan yang sangat kukenal membuatku menoleh.
"Hyo Sung, kau tidak perlu menjerit. Aku masih bisa mendengarmu." Aku memelototinya kesal.
"Tak apa. Tapi tadi acaranya keren sekali. Bajumu juga bagus, aku yakin kalau bukan Myung Soo oppa…" Hyo Sung berhenti sejenak setelah sadar Myung Soo ada didekatnya dan bersiap menjerit lagi.
"Hentikan! Aku tidak ingin kau buat kericuhan disini dengan suaramu itu." Aku membekap mulut Hyo Sung.
"Oppa, mengapa oppa tidak bilang kalau oppa datang kesini?" aku melihat mereka berdua heran.
"Well, kau tahu fans yang sering kubicarakan denganmu kan Soo Young? Nah Hyo Sung inilah orangnya." Myung Soo menatapku kikuk.
"Myung Soo, aku akan mengajak Hyo Sung ke konsermu hari selasa nanti. Kau keberatan?" aku menatapnya balik.
"Uh… ah tidak apa-apa. Kau boleh mengajak siapapun yang kau suka. Baiklah, aku masih ada pekerjaan setelah ini, aku pergi dulu ya!" Myung Soo melambaikan tangannya dan berlalu.
"Hey Soo Young, memang oppa cerita apa saja tentangku? Kelihatannya kalian lebih dekat dari yang kukira." Hyo Sung menatapku curiga.
"Aish, kau ini. Tak ada apapun diantara kami, Myung Soo hanya bilang padaku kalau ada seseorang yang selalu datang disetiap konsernya. Dia bilang kalau fansnya itu baik padanya dan sering perhatian padanya. Itu saja!"
"Begitukah? Menurutmu apa aku bisa menyatakan cintaku padanya saat konser nanti?" Hyo Sung terlihat ragu.
"Menurutku kau bisa. Ayolah, jangan patah semangat! Aku akan mendukungmu." Kataku sambil tersenyum lebar.
To Be Continued
