Dia datang
Seperti biasa, konser adalah salah satu dari sekian acara yang selalu kuhindari. Alasannya, karena tempatnya sesak dan penuh dengan kerumunan orang, membuatku sulit bernafas. Dan ini adalah kedua kalinya aku mengikuti konser. Aku dan Hyo Sung akan menonton konser Myung Soo siang ini, dan sepertinya acara ini akan berlangsung sangat meriah, aku menarik nafas panjang. Lampu mulai dimatikan tanda konser akan dimulai. Kudengar penonton berteriak kea rah panggung, aku menoleh dan melihat Myung Soo sedang melambai pada mereka. Aku melihat Hyo Sung, ternyata dia juga ikut berteriak semangat. Musik mulai dimainkan, lagu pembukanya adalah Part Of Me-nya Katty Peri. Penonton terlihat mulai bersemangat begitu pula Myung Soo. Akhirnya lagu Katty Peri selesai dinyanyikan dan beralih ke lagu duet Myung Soo dengan Jung Yong Hwa. Ada rasa yang berbeda ketika aku mendengar Myung Soo menyanyikan lagunya sendiri dengan Jung Yong Hwa yang menyanyikannya, entah apa itu aku tidak tahu. Tanpa kusadari lagu yang berbeda selesai dinyanyikan dan penonton mulai berteriak lagi.
"ENCORE! ENCORE! ENCORE!"
"Do you want encore?" teriak Myung Soo dari panggung.
"YESSS!" penonton mulai menggila.
"I CAN'T HEAR YOU. ONCE AGAIN!" Myung Soo berteriak lagi yang dijawab penonton dengan 'yes' yang lebih keras.
Aku berteriak pada Hyo Sung, "Sepertinya aku akan menunggu di backstage!"
"Kenapa?" Hyo Sung berteriak tak kalah keras.
"Disini sesak sekali, aku tidak tahan. Lagu pula sebentar lagi mereka istirahat. Bye!" aku mulai berjalan ke backstage sambil mencoba melewati penonton yang menghalangi jalannya dan hasilnya nihil. Aku malah terdorong kebelakang menjauhi pintu keluar. Seseorang memegang tanganku dan mencoba menarikku keluar dari kerumunan itu. Sadar orang asing telah menarik tanganku aku pun mencoba mengambilnya kembali, tapi orang itu mencengkram tanganku dengan kuat sampai kami berhasil melewati para penonton. Kulihat orang asing itu, dia memakai syal sampai menutupi hidungnya dan kacamata hitam.
"Apa kau gila?" terdengar suara yang kukenal, aku menoleh ke kanan dan kiri. "Hey, aku bicara denganmu!" kata orang itu kesal. Aku menunjuk diriku kaget, lalu orang itu melepas kacamatanya.
"Jung Yong Hwa? Sedang apa kau disini?" aku memandangnya terkejut.
"Well, aku hanya… ah sudahlah, mengapa kau tidak menjawab teleponku?" Jung Yong Hwa memarahiku sambil memasang kacamatanya kembali.
"Kau menelepon? Maaf aku tidak tahu, didalam berisik sekali. Dan sesak, aku tidak suka itu." Aku mengucapkan kalimat terakhir lebih kepada diriku tapi kurasa Jung Yong Hwa juga mendengarnya, oh crap! Kudengar Jung Yong Hwa berkomat-kamit tidak jelas lalu tersenyum.
"Apa? Mengapa kau tersenyum?" tanyaku menantangnya.
"Aku tidak tersenyum." Sangkalnya, tapi matanya berkata lain. Hari ini memang aku sudah tidak menjadi budaknya lagi, tapi entah mengapa aku jadi sering bertemu dengannya.
"Dan kau? Sedang apa disini?" Jung Yong Hwa menunjukkan kartu passnya, sepertinya dia ikut tampil bersama Myung Soo nanti. "Lalu mengapa kau dapat menemukanku?"
"Myung Soo meneleponku untuk menjemputmu. Katanya kau tidak terlalu suka keramaian dan menyuruhku membawamu ke backstage, dia bahkan memberitahu dimana tempatmu. Oh baiknya dia!" Jung Yong Hwa mulai meledekku.
"Oh crap, stop it! Mengapa aku harus bertemu denganmu lagi? Aku sudah lelah dengan kelakuanmu, kau tahu?" Jung Yong Hwa hanya mengangkat bahu dengan tatapan mengejek.
Kami berjalan ke backstage dalam diam. Saat kami sampai hanya beberapa orang yang ada disana, Jung Yong Hwa menyuruhku duduk disebelahnya atau memaksa. Seperti biasa. Aku duduk dengan enggan sambil menunggu Myung Soo kembali.
"Apa yang kau suka darinya?" tanya Jung Yong Hwa tiba-tiba.
"Who?" tanyaku linglung.
"Kim Myung Soo tentu saja, babo ya!" Jung Yong Hwa mengumpat kesal.
"Well, dia baik padaku tidak seperti seseorang yang kukenal. Dia juga perhatian, dia menyenangkan. Jauh berbeda dengan seseorang." Kataku tanpa melihatnya.
"Apa maksudmu? Jadi menurutmu aku kurang baik?" aku mengabaikannya. "Hey, look at me when I was talking to you!" Jung Yong Hwa memaksaku menoleh padanya.
"Aww, sakit! Kau pikir saja sendiri jawabannya!" kataku dengan marah.
"Jung Yong Hwa, lepaskan dia! Kuminta kau untuk menjemputnya saja, bukan untuk menyakitinya!" tiba-tiba Myung Soo datang dan melepaskan cengkraman Jung Yong Hwa dari pipiku. "Kau tidak apa-apa?" Myung Soo menatapku khawatir, aku mengangguk pelan.
"Hey, kalian semua sudah disini? Hai Soo Young, aku bertemu Hyo Sung saat hendak kesini." Kulihat Tae Min berjalan masuk bersama Hyo Sung.
"Terima kasih, oppa." Aku mengangguk pelan. "Um, aku ke toilet dulu." Kataku sambil meninggalkan mereka. Selesai mencuci muka ditoilet, aku melewati lorong tempatku datang tadi. Kudengar seseorang sedang berbicara, lalu terdengar suara lain. Dua orang rupanya.
"Oppa, aku menyukaimu." Entah mengapa aku jadi bersembunyi dibalik tembok dan mendengarkan mereka.
"Maaf, kau tahu aku menyukai orang lain." Sepertinya aku mengenal suara mereka.
"Tapi dia tidak menyukaimu, dia hanya menganggapmu sebagai teman saja."
"Aku tidak peduli." Kali ini mulai jelas kalau itu suara pemuda.
"Jadi kau masih akan mengejarnya?"
"Itu bukan urusanmu."
"Itu jelas urusanku. Aku selalu datang ke konsermu, aku perhatian padamu. Lebih dari semua fansmu!"
"Kalau begitu, kau tidak perlu datang ke konserku lagi. Membuatku muak saja!"
"Oppa?"
"Kau tahu? Semua kebaikan yang kau berikan padaku, aku hanya menganggapnya sebagai gangguan. Jadi kalau kau sudah sadar, berhentilah dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Aku sudah benci padamu." Itu kalimat yang keras, terlalu keras malah.
"Aku tidak akan menyerah. Aku menyukai oppa! Walaupun oppa menolakku… aku…aku…" terdengar seseorang berlari dari lorong itu, sepertinya sambil menangis.
"Aku yang akan mengantarnya pulang." Jung Yong Hwa memegang tanganku tapi Myung Soo menarikku kembali.
"Tidak. Dia akan pulang bersamaku!" oh, aku mulai kesal dengan situasi ini.
"You two, stop it! Yong Hwa, aku akan pulang denganmu. Dan Myung Soo, terima kasih sudah ingin mengantarku tapi kau pasti lelah. Lebih baik kau istirahat saja." Aku meninggalkan mereka sambil tersenyum tipis.
Aku melihat Jung Yong Hwa memasuki mobil Cadillac XLR putih. Yang kutahu mobil lamanya bukan yang ini. Jung Yong Hwa menyuruhku masuk tanpa suara. Dengan enggan aku menurutinya.
"Kau mengganti mobilmu?" Jung Yong Hwa menatapku sesaat.
"Memangnya kenapa? Aku punya hak atas barang pribadiku. Ada masalah dengan itu?" jawabnya dengan nada mengejek.
"Hey, aku hanya bertanya!"
"Kita makan dulu." Jung Yong Hwa mengabaikan tanggapanku.
"Tapi aku ingin pulang. Bisa tidak kau makannya nanti saja?" tanyaku kesal, tapi dia mengabaikanku dan membukakan pintu untukku sebelum aku sempat membukanya. Dia menarik tanganku. "Kalau begitu kau makan saja sendiri. Aku akan pulang dengan taxi."
Jung Yong Hwa menatapku tajam, "Aku yang berkata akan mengantarmu pulang jadi kau akan bersamaku sampai kau tiba dirumah."
"Tapi aku tidak lapar, aku ingin pulang!" aku memberontak.
"Jangan bodoh! Kau diam saja. Jangan bertingkah seperti anak kecil!" katanya sambil menyentil keningku.
"Aww, sakit. Bisa tidak kau hentikan itu?" Jung Yong Hwa kembali mengabaikanku.
Kami memasuki sebuah restoran Jepang. Jung Yong Hwa menarikku duduk didekat jendela, lalu dia berbicara dengan pelayannya dalam bahasa Jepang. Pelayan itu menatapku, menunggu pesananku.
"Aku pesan apa yang dipesan olehnya." Jawabku singkat. Restorannya masih cukup ramai. Beberapa orang datang dengan keluarga mereka, beberapa hanya berdua dan sendirian. Pintu restoran kembali terbuka, seorang pemuda dengan kaus polo shirt dan memakai topi masuk bersama beberapa temannya. Sepertinya aku mengenal pemuda itu.
"Hey, menatap orang seperti itu tidak sopan. Kau tidak tahu tatakrama ya?" Jung Yong Hwa mengganggu pikiranku.
"Aku tidak sedang menatapnya. Aku hanya merasa pernah bertemu orang itu." Kini pemuda itu berbalik dan berjalan ke arahku. Oh tidak, jangan dia. Dari sekian banyak penduduk di dunia mengapa harus dia? Aku rasa aku tidak sanggup bertemu dengannya.
"Boleh aku duduk disebelahmu?" tanyaku pada Jung Yong Hwa.
"Kenapa? Kau ketahuan sedang menatap orang itu?" Jung Yong Hwa mencibir padaku.
"Sudah jangan berisik, lebih baik kau bergeser." Dengan cepat aku duduk disebelah Jung Yong Hwa. Pemuda itu berjalan membelakangiku, sayangnya dia duduk didepan mejaku. Dan lebih parah lagi dia menghadapku sekarang, sepertinya dia melihatku karena dia mulai bicara pada temannya dan meninggalkan mejanya. Aku duduk merapat pada Jung Yong Hwa, sepertinya Jung Yong Hwa menyadari kegelisahanku dan menepuk bahuku pelan.
"Soo Young, is that you?" aku menengadah dan pandangan kami bertemu.
"Yoo Seung Ho? Se..sedang apa kau disini?" keringat dingin mulai membasahi tanganku.
"Well, bisa dibilang aku ada pekerjaan disini." Katanya sambil menatap teman-temannya.
"Maaf aku tidak bisa datang ke pertunanganmu dengan Erika. Kudengar kalian menikah." Seung Ho terlihat gelisah saat aku mengucapkan nama Erika.
"Eh, sebenarnya pernikahan kami dibatalkan. Ehm, akan kuceritakan alasannya kapan-kapan. Oh ya, kau tinggal dimana sekarang?" katanya mengalihkan pembicaraan.
"Kalau kau tahu perpustakaan Seoul, apartemenku tidak terlalu jauh dari sana." Seung Ho mengangguk mengerti. "Dan kau tinggal dimana?"
"Aku menginap di hotel yang perusahaanku pesan. Cukup dekat dari sini." Seung Ho memeberitahu hotel tempatnya tinggal.
"Jadi kau akan berapa lama kau akan berada disini?" aku mulai tidak nyaman.
"Kenapa? Kau ingin aku segera kembali ke New York?" dia menatapku jenaka.
"Tidak, tentu saja tidak. Hanya berjaga-jaga kalau kau kan menggangguku selamua kau disini." Balasku sambil mengangkat bahu.
"Oke, oke. Aku akan disini selama dua minggu, jadi bersiaplah." Katanya sambil menopang dagu. Pesanan kami datang jadi Seung Ho harus kembali ke teman-temannya. Jung Yong Hwa menatapnya sinis.
"Geu namjanugu-ibnikka?" tanya Jung Yong Hwa tanpa basa-basi.
"Mm? hanya teman." Kataku tanpa menatapnya.
"Kau tahu, aku paling benci dengan orang yang berbohong. Jadi sebaiknya katakan siapa dia sebenarnya sebelum aku marah padamu."
"Well, dia memang temanku di New York." Aku menjawab dengan tenang.
"Kalau dia hanya temanmu, kau tidak akan segelisah tadi." Dengan terpaksa aku menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Jung Yong Hwa,, tapi aku tidak memberitahu kalau dia cinta pertamaku.
"Seperti itu. Kau puas?" Jung Yong Hwa menatapku sambil menyipitkan matanya.
"Kau menyukainya?" aku terkejut karena dia benar.
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" aku mencoba mengontrol suaraku.
"Terlihat dari gerakanmu. Terutama matamu." Semudah itukah pikiranku terbaca?
"Jangan sok tahu." Aku memalingkan wajahku.
"Choi Soo Young, jangan coba mengelak padaku." Aku mengabaikannya. "Sudah kuduga. Kau memang menyukainya." Kali ini aku benar-benar kesal.
"Ye! Aku memang menyukainya. So what's your problem, Dude?" teriakku kesal sehingga semua pengunjung memperhatikanku. Aku menghembuskan nafas perlahan dan menatap Jung Yong Hwa dengan jengkel.
"Soo Young tidak bisakah kau tinggal disini saja?" Hyo Sung kembali merengek padaku untuk kesekian kalinya.
"Mianhae, Hyo Sung. Tetapi nenekku sakit, maka aku harus berada didekatnya." Kataku lagi untuk kesekian kalinya.
"Tapi kau tidak perlu pindah apartemen begini!" aku hanya mengehembuskan nafas panjang.
Beberapa hari yang lalu bibiku menelepon. Katanya nenek masuk rumah sakit, setelah aku datang ke rumah sakit tempat nenek dirawat ternyata nenek hanya kelelahan. Maka dari itu aku memutuskan untuk pindah ke apartemen dekat rumah nenek, dan hari ini Hyo Sung dan aku sedang bersiap mengepak barang. Beberapa menit lagi truk pengangkut barang akan tiba.
"Soo Young, kalau kau tidak betah dengan apartemen barumu kembalilah kesini." Kata ajeoshi saat truk pengangkut barang tiba.
"Maj-a, Soo Young! Kau sudah seperti anak kami sendiri. Kalau ada sesuatu ceritakanlah pada kami." Ajumma menambahi.
"Gwaenchanh-a, kalian jangan khawatir. Kalau begitu, aku pergi dulu!" aku melambaikan tangan pada mereka.
Tak butuh waktu lama untuk membereskan barang-barangku di apartemen baru ini, semua barang berat telah diangkut terlebih dahulu kemarin. Aku sengaja tidak memberitahu orang lain selain orang-orang di apartemenku. Sebenarnya aku agak khawatir dengan Hyo Sung belakangan ini, dia terlihat tidak bersemangat berbeda dengan biasanya. Dia mulai terlihat murung setelah mengunjungi konser Myung Soo. Aku menanyakan apa yang terjadi padanya tapi dia hanya menggeleng sambil tersenyum simpul. Sepertinya ini memang masalahnya jadi aku tidak berhak ikut campur. Kalau dia sudah tidak kuat lagi menyimpan masalahnya kuharap dia mau menceritakannya padaku. Ponselku berbunyi saat aku sedang memasukkan pakaianku ke lemari. Aku mengatur nafas sebelum menjawab telepon itu. Yoo Seung Ho.
"Yeoboseyo?" jawabku hati-hati.
"Soo Young ini aku, Seung Ho!" suaranya ceria seperti biasa.
"Oh. Ada apa meneleponku?" kini aku mulai gugup.
"Anio. Aku hanya ingin mendengar suaramu."
"Jangan suka bercanda. Ada apa, katakan saja!"
"I just wondering, apa kau mau lunch bersamaku?"
"Kau hanya menelepon untuk bertanya itu? Kau ini!"
"Jadi kau ingin lunch bersamaku atau tidak?"
"Baiklah."
"Jeongmal? Yes! Baik, tunggu disana aku akan menjemputmu."
"Eh, Seung Ho, sebenarnya aku sudah pindah apartemen." Aku memberitahu alamatku yang baru.
"Al-ass-seo. Tunggu aku ya!" aku masih gugup untuk bertemu dengannya. Rencanaku pindah ke Seoul adalah untuk menghindarinya, tapi mengapa dia muncul lagi?
Setelah berpakaian rapi kudengar pintu kamarku diketuk. Saat kubuka Seung Ho sudah berdiri sambil tersenyum lebar memandangku. Senyum itu selalu menular bagi orang lain hingga orang yang meilhatnya pasti akan ikut tersenyum. Tiba-tiba Seung Ho memelukku, erat sehingga aku tidak bisa bernafas.
"Le..lepaskan." Seung Ho menatapku bingung. "Can't…breath…"
"Oops, sorry." Seung Ho melepaskanku. "Kau terlihat cute sekali, aku tidak tahan ingin memelukmu. Kau tak apa?"
"Gwaenchanh-a, tapi jangan pernah lakukan itu lagi padaku." Seung Ho berusaha menahan tawanya.
"Al-ass-seo. Jadi kita kan makan dimana hari ini? oh aku tahu, bagaimana kalau kita makan direstoran perancis?"
"Deal!"
Seung Ho mengaitkan tanganku pada lengannya. Bisa kurasakan pipiku mulai memerah dan kuharap Seung Ho tidak melihatnya. Kami menuruni tangga dan sebuah Picanto hijau sedang menunggu kami. Seung Ho membukanya untukku sebelum aku sempat memegang pintunya. Lagi-lagi pipiku memerah. Sadarlah Soo Young, kau tidak bisa mendapatkannya. Seung Ho akan menikah dan kau harus bersikap baik. Aku menghembuskan nafas perlahan. Sadar dengan keadaan yang sebenarnya membuat hatiku sakit. Aku tidak ingin memikirkannya. Deringan ponsel membuyarkan lamunanku. Jung Yong Hwa. Kali ini aku harus berterima kasih padanya.
to be continued
