Kupilih Yang Mana?
Aku duduk dengan tenang disalah satu café bersama Seung Ho dan sejak tadi ponselku berbunyi. Telepon dari Yong Hwa. Dengan kesal aku mengubah modenya menjadi mode getar. Aku menatap jam tanganku dengan kesal, setiap lima menit Yong Hwa meneleponku dan itu berarti sekarang. Ponselku mulai bergetar lagi. Seung Ho menatapku heran, sepertinya dia sadar dengan kelakuan anehku.
"Ada apa denganmu? Angkat saja teleponmu dulu, siapa tahu itu penting." Kata Seung Ho sambil melahap makanannya.
"Ani, ani. Itu tidak penting, dia bukan siapa-siapa. Lanjutkan saja makanmu." Jawabku cepat. Ponselku bergetar lagi, kali ini sebuah pesan.
Kalau kau tidak mengangkat telepon dariku lagi aku akan kesana dan menyeretmu keluar!
Jung Yong Hwa
Pesan yang singkat tapi mengancam, detik berikutnya ponselku bergetar lagi. Dengan kesal aku menjawabnya.
"Mwo?" jawabku kesal.
"Hei, harusnya aku yang marah."
"Cepat katakan apa maumu?"
"Dimana kau?"
"Café, ada apa?"
"Dengan siapa?"
"Temanku. Sudahlah, kalau tidak ada yang penting jangan menggangguku!" aku memutuskan sambungannya.
"Are you okay? Apa kau dan temanmu punya rencana? Sepertinya aku mengganggu rencana kalian." Seung Ho tertunduk menyesal yang membuatku ingin memeluknya. Tahan, Soo Young, tahan.
"Ghwenchanayo, dia tidak akan marah." Jawabku berbohong.
"Jeongmal?" tanyanya polos, aku mengangguk pasti.
"Jadi, ceritakan apa yang terjadi dengan kau dan Erika?" aku mengalihkan pembicaraan. Seung Ho terlihat terkejut dengan pertanyaanku. Bodohnya aku, hal yang sejak tadi kuhindari sekarang terlontar dari mulutku sendiri.
"Well,mm, sepertinya…kami…kau tahu… ya…" Seung Ho terlihat tidak nyaman.
"Yoo Seung Ho, jawab aku dengan benar." Aku menatapnya tegas, hal yang selalu kulakukan saat dia seperti ini.
"Aratsoyo. Berhentilah menatapku seperti itu. Sepertinya aku dan Erika tidak jadi menikah." Aku menatapnya seakan Seung Ho adalah alien yang tiba-tiba datang dan bicara padaku. "Aku rasa Erika masih mencintai mantan pacarnya."
"Apa yang membuatmu percaya bahwa dia seperti itu?" aku pura-pura menantangnya walaupun aku merasa tidak nyaman.
"Dia mulai bersikap aneh. Dia selalu berkata Tomoyo inilah, Tomoyo itulah. Aku bingung dengan dirinya." Aku hanya mengangguk.
Tomoyo adalah pacar Erika sewaktu di Jepang. Mereka teman sekolah sejak sekolah dasar dan mereka berpacaran cukup lama tapi berpisah karena keluarga Erika tidak setuju dengan hubungannya dengan Tomoyo. Setahun kemudian Seung Ho muncul dan menggantikan posisi Tomoyo dihati Erika.
"Mungkin kau kurang perhatian padanya. Erika itu senang sekali diberi perhatian." Aku menenangkannya.
"Aku sudah sangat perhatian padanya. Oh damn! Aku pikir kami baik-baik saja." Aku menatapnya simpati.
"Mungkin kau terlalu mengekangnya. Apa kau punya bukti lain yang cukup jelas."kataku sambil menopang dagu.
"Bukti? Huh, kalau begitu kalau Erika memanggil nama Tomoyo berulang-ulang saat dia tertidur bisa disebut bukti? Aku memintanya untuk tidak memikirkan orang lain lagi saat bersamaku apa itu sulit?" Seung Ho mulai kesal.
"Tenanglah. Aku bukannya ingin memojokkanmu, aku hanya ingin mencari jalan keluar untuk kalian berdua." Aku menghela nafas panjang. "Cinta berarti memberi, memberi perhatian, memberi kasih sayang dan cinta berarti tidak menuntut atau mengekang." Seung Ho terdiam.
"Tapi aku hanya meminta itu darinya!" Seung Ho tak mau kalah.
"Yoo Seung Ho, itu namanya mengekang. Ada hal lain yang mengganggumu?" Seung Ho menggeleng tapi aku yakin dia hanya belum siap mengatakannya padaku. "Kalau ada hal lain yang ingin kau katakan padaku kau bisa menghubungiku." Kataku sambil beranjak dari kursi dan menuju mobil Seung Ho.
Pembicaraan mengenai Seung Ho dan Erika membuatku merasa tidak nyaman. Awal yang baik berubah jadi buruk karena aku menanyakan hal yang salah .Aku menunggu Seung Ho untuk memutar mobilnya saat kulihat Cadillac XLR putih yang kurasa pernah kulihat mendekatiku. Pengemudi mobil itu menurunkan kaca mobilnya dan kulihat Jung Yong Hwa menatap lurus padaku dari balik kacamata hitamnya.
"Sedang apa kau disini?" aku menatapnya jengkel.
"Aku? Menunggumu!" Jung Yong Hwa keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati Seung Ho. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. "Ayo ikut aku!" kata Jung Yong Hwa sambil menarikku kedalam mobilnya.
"Aku sedang bersama Seung Ho. Hey, kau mendengarkanku tidak?" teriakku jengkel.
"Aku sudah bilang padanya kalau aku akan mengantarmu pulang." Dia mengabaikanku lagi. Jung Yong Hwa membawaku ke sebuah taman, cuaca mulai bertambah dingin saat aku keluar dari mobilnya dan itu membuatku menggigil.
"Pakai ini! kenapa kau tidak membawa baju yang lebih hangat? Membuat susah saja." Jung Yong Hwa memberikan jaketnya padaku. "Aku memperhatikanmu saat kau ada di café tadi."
"Jeongmal? Lalu mengapa kau masih meneleponku?" aku memutar bola mataku.
"Hanya mengetes. Tapi kemudian kau terlihat bosan, mungkin sedikit ragu. Jadi aku menunggumu dan membawamu." Kata Jung Yong Hwa sambil mengangkat bahu.
Kami duduk disebuah kursi taman. Taman ini cukup ramai karena sebentar lagi hari natal. Jung Yong Hwa sedang menelepon dengan salah satu temannya dan aku ditinggal sendiri. Kudengar suara musik natal yang diputar salah satu toko dari kejauhan, lalu sekumpulan pengamen yang juga menyanyikan lagu natal yang sama lengkap dengan alat musiknya. Sambil menunggu Jung Yong Hwa kembali aku mengirim pesan pada Hyo Sung. Balasannya datang dengan cepat, sepertinya Hyo Sung sedang tidak sibuk.
Aku : Sedang apa? Bagaimana kabarmu?
Hyo Sung : Ghwenchanayo, kau sendiri?
Aku : Fine! Bagaimana dengan Myung Soo? Kau sudah mengatakannya?"
Hyo Sung : Ya, dan dia menolakku. Tepat saat kita menghadiri konsernya. T_T
Aku : Lalu kau berencana menyerah begitu saja?
Hyo Sung : Tentu saja tidak! Sudah kukatakan padanya, siapa pun orang yang disukainya aku tidak peduli. Aku akan tetap menyukainya.
Aku : Itu hebat. Bagaimana dengan rencana natalmu? Natal sudah sangat dekat.
Hyo Sung : Sepertinya aku akan menghabiskan natalku di rumah sakit.
Aku : Kau sakit?
Hyo Sung : Tidak, bukan aku tapi Myung Soo. Tangannya patah karena kecelakaan saat konser.
Aku : I feel sorry for him. Aku doakan supaya dia cepat sembuh.
Hyo Sung : Gomawo! Karena telah menyemangatiku.
Aku : Bukan masalah. Dan maaf karena tidak bisa menjenguknya. Aku sedang repot akhir-akhir ini.
Beberapa pria tidak dikenal mendekatiku, "Hei nona, kau sendirian? Bagaimana kalau bermain bersama kami?"
"Maaf, tapi aku sedang bersama temanku!" aku menolak dengan sopan.
"Oh, ayolah! Temanmu juga tidak akan marah kalau kau ikut kami!" kali ini seseorang dari mereka mulai menarikku.
"Lepaskan! Kumohon lepaskan!" aku berusaha melepaskan tanganku tapi mereka memegangnya dengan kuat. Tanpa berpikir panjang, aku mendekatkan diriku pada pria yang memegangku. Dengan sekali hentakan aku membantingnya. Hal yang pernah kupelajari saat belajar judo di New York.
"Oi, yeoja! Beraninya kau!" seorang dari mereka mulai menarik rambutku. Aku berteriak kesakitan.
"Lepaskan dia!" kudengar seseorang berteriak, lalu bunyi orang dipukul terdengar.
Kini pria yang menarik rambutku sudah melepaskannya dan membantu temannya yang sedang berkelahi dengan seseorang. Aku menendang salah satu dari mereka dan ikut memukulnya. Tak lama setelah itu mereka berhasil dikalahkan dan kabur oleh seseorang yang ternyata adalah Jung Yong Hwa. Mereka pergi sambil mengancam akan membalasnya.
"Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?" tanyanya khawatir. Aku menggeleng.
"Kau sendiri?" dia menggeleng juga.
"Akan kubelikan teh untukmu. Tunggulah disini, aku akan kembali." Aku menghela nafas panjang, tanpa kusadari tanganku bergetar.
Tiba-tiba Jung Yong Hwa sudah duduk disampingku. Dia memberikan teh yang dibawanya padaku. Kami berdua diam sambil meminum teh kami sendiri, sibuk dalam pikiran masing-masing. Aku merasakan tatapan Jung Yong Hwa mengarah padaku tapi saat aku menoleh kulihat Jung Yong Hwa sedang menatap lurus. Mungkin itu hanya perasaanku saja.
"Sudah baikan?" tanya Jung Yong Hwa memecah keheningan. Aku mengangguk. "Kau tidak perlu bersikap like you're fine. Penampilan dapat menipu, tapi matamu tidak."
"Tahu apa kau tentang aku? Jangan bersikap seperti kau tahu segalanya!" entah mengapa aku merasa kesal. Bukan pada Jung Yong Hwa tapi lebih kepada diriku.
"Aku tahu kau gelisah saat bicara dengan laki-laki itu. Kau terus mendegarkan keluhannya seolah kau tidak merasakan apa pun dan bersedia membantunya. Tak masalah kebohongan apa yang kau buat, tapi kau tidak bisa membohongi hatimu. Kau bahkan tidak berkutik saat that jerk comes to you." Jung Yong Hwa menatapku tajam sampai rasanya aku bisa terluka karena tatapannya.
"Kau tidak perlu mencampuri urusanku. Urus saja urusanmu!" jawabku ketus.
"Rencananya begitu, tapi melihatmu memasang tampang hampir menangis begitu aku jadi bingung. Kesalahan seorang pria adalah membuat wanita yang disukainya menangis." Kata Jung Yong Hwa lalu pergi menuju gerombolan pengamen yang sedang bernyanyi. Sepertinya dia akan meminjam salah satu alat musik mereka karena sekarang Jung Yong Hwa berjalan kearahku sambil membawa gitar.
It's the most beautiful time of the year
Lights fill the streets spreading so much cheer
I should be playing in the winter snow
But I'mma be under the mistletoe
I don't want to miss out on the holiday
But I can't stop staring at your face
I should be playing in the winter snow
But I'mma be under the mistletoe…
Lagu Mistletoe milik Justin Bieber mengalun lembut saat Hung Yong Hwa menyanyikannya. Beberapa pejalan kaki melihat Jung Yong Hwa bernyanyi sambil tersenyum. Kini kurasakan wajahku memerah, rasanya aku hampir menangis. Suara lembut Jung Yong Hwa membuatku tidak bisa berkata-kata. Pengamen yang tadinya hanya beristirahat akhirnya ikut mengiringi Jung Yong Hwa bernyanyi. Tanpa sadar kerumunan orang yang menonton semakin banyak.
Kiss me underneath the mistletoe
Show me baby that you love me so
Ohhh, ohhh…
Jung Yong Hwa menyelesaikan lagunya dan penonton bertepuk tangan dengan meriah. Jung Yong hwa hanya tersenyum pada mereka sambil mengembalikan gitar itu pada pengamen tadi. Lalu tatapannya beralih padaku, dia menyilangkan tangannya didada sambil berusaha menahan tawa.
"Mengapa kau tertawa?" tanyaku dengan ketus.
"Tidak, haha, harusnya…kau melihat …wajahmu tadi. Hahaha…" aku mendekatinya dan meninju lengannya dengan keras. "Hey…" Jung Yong Hwa berteriak protes tapi aku hanya tersenyum. "Akhirnya kau tersenyum juga. Ternyata menghibur penonton dengan suaraku lebih mudah dari pada membuat seorang wanita tersenyum!"
"Kau tidak perlu berbuat seperti itu, tapi gomawo." Rasanya melihat senyum Jung Yong Hwa bisa membuatku kembali tenang.
Jung Yong Hwa sudah duduk disampingku, tiba-tiba wajahnya mulai mendekati wajahku. Detik berikutnya yang kutahu bibir Jung Yong Hwa sudah berada dibibirku. Saat itu aku tidak bisa berkutik, rasanya tubuhku dialiri sengatan listrik yang hebat. Ciuman singkat selama lima detik itu akhirnya berakhir juga, menyisakan rona merah pada wajahku. Aku tidak berani menatap Jung Yong Hwa.
"Kau demam? Wajahmu memerah." Jung Yong Hwa menaruh tangannya pada keningku.
"Bisa tidak kau tidak menciumku seenaknya?" kataku protes.
Jung Yong Hwa hanya tersenyum singkat, "Jangan katakan kalau itu adalah ciuman pertamamu!" aku hanya diam. "Oh damn! Maaf, aku tidak bermaksud kasar. Tapi sepertinya aku menciummu dengan lembut, kau bahkan tidak menolaknya!" kali ini dia tersenyum mengejek.
"Kau…kau ini…bisa tidak kau minta maaf dengan benar? Aku… aku… aku benci padamu!" teriakku kesal lalu bangkit dari kursi dan bergegas pergi. Perasaanku campur aduk saat ini dan aku tidak bisa berpikir lurus. Kurasakan air mataku hampir menetes. Jung Yong Hwa menahan lenganku.
"Mian haeyo. Jangan menangis. Aku akan mengantarmu pulang." Kata Jung Yong Hwa lembut.
"Jangan pernah kau lakukan itu lagi tanpa seijinku." Kali ini air mataku benar-benar sudah mengalir.
"Mian haeyo."
Kami duduk di mobil dalam diam. Perjalanan terasa sangat panjang dan membuatku sesak. Hal yang tidak menyenangkan itu membuatku ingin menangis lagi saat mengingatnya. Jung Yong Hwa juga mengemudi dalam diam. Setelah memberi tahu alamatku yang baru dia mengantarku sampai depan gedung lalu tanpa berkata apa-apa dia pergi.
Semenjak kejadian ditaman dengan Jung Yong Hwa waktu itu, selama tiga hari aku tidak menjawab telepon darinya. Sekarang juga begitu, tanggal dua puluh empat yang berarti malam natal harusnya kuhabiskan dengan jalan-jalan dengan santai bersama Hyo Sung, sekarang berubah jadi jalan-jalan menegangkan karena aku mengindari telepon dari Jung Yong Hwa.
"Wae? Kau sepertinya sibuk sekali dengan ponselmu!" kata Hyo Sung saat kami sedang makan es krim di salah satu kedai.
"Anio, lanjutkan saja makanmu." Jawabku berkilah.
"Kau sedang menunggu atau menghindari telepon dari seseorang?" seperti biasa instingnya tajam.
"Sudahlah, makan saja es krimmu setelah itu kita pulang." Aku melanjutkan makanku dalam diam. Lalu ponselku bergetar.
"Yeoboseo! Seung Ho-ah, ada apa?... sekarang?...mm, makan es krim bersama temanku…kau dimana?… aratsoyo, tunggu aku sebentar!" aku menatap Hyo Sung, "Mianhaeyo, Hyo Sung. Aku harus pergi, kau bisa pulang sendiri kan?"
"Tentu saja. Memang kau ingin bertemu siapa?" Hyo Sung menatapku ingin tahu.
"Temanku." Kataku sambil menghabiskan es krim terakhirku.
"Oh, aku tahu. Dia cinta pertamamu kan?" aku menjawabnya dengan senyum simpul lalu bergegas pergi.
Seung Ho sudah menungguku dihalte dekat kedai. Tadi dia bilang ingin makan bersamaku di apartemennya. Akhir-akhir ini aku memang menghabiskan waktuku dengannya. Paling tidak aku bisa menghabiskan chrismast eve bersama seseorang. Hal pertama yang kulihat saat memasuki hotel Seung Ho adalah bau udang goring, hal yang jarang terjadi saat memasuki ruangan laki-laki.
"Kau habis memasak udang ya?" tanyaku sambil merebahkan diri di sofa.
"Hidungmu ternyata belum berubah. Tajam seperti biasa." Seung Ho tersenyum simpul. "Kau ingin sesuatu? Kau belum makan malam kan?"
"Mm, aku ingin sesuatu yang enak. Bisa kau buatkan makanan kesukaanku?"
"Kau makan semua makanan, bagaimana aku bisa tahu makanan apa yang kau suka?" aku hanya merengut. "Baiklah, aku hanya bercanda. Udang goreng saus mentega, right? Akan kubuatkan kalau kau membantuku!" aku mengangguk semangat.
Kami memang sering masak bersama saat di New York, salah satu hal yang kusuka dari Seung Ho. Tapi kini hal itu membuat dadaku nyeri. Saat sadar tak lama lagi Seung Ho akan pergi rasanya hatiku kosong. Padahal aku sudah berusaha untuk menjauh darinya, kalau aku semakin dekat dengan Seung Ho aku pasti akan patah hati lagi. Tidak,tidak, jangan biarkan harapanku melambung terlalu tinggi. Aku mohon, seseorang tolong hentikan ini!
"Wah, sudah matang! Soo Young, jangan melamun terus. Ayo kita makan!" Seung Ho memberikan udangnya padaku. Biasanya udang terasa sangat enak dimulutku, tapi mengapa sekarang rasanya hambar?
"Ada apa? Apa kau lelah? Atau kau sakit?" Seung Ho mulai terlihat cemas.
"Tidak, mungkin aku hanya lelah. Aku akan menghabiskan makanan ini dulu, bisa kau mengantarku pulang?" dia mengangguk.
Aku meminta Seung Ho menurunkanku di halte dekat apartemen. Awalnya dia menolak tapi aku tetap memaksanya. Dengan berat hati Seung Ho menurunkanku di halte. Aku sedang berjalan menuju aparteman ketika kulihat seseorang sedang duduk dikursi air mancur dekat apartemenku. Aku mendekati orang itu dan dia mengangkat wajahnya. Oh crap!
"Jung Yong Hwa, apa yang… astaga ada apa dengan wajahmu?" kini terlihat jelas wajahnya dipenuhi luka.
"Aku baik-baik saja. Mengapa kau lama sekali?" Jawabnya lemah.
"Apanya yang baik-baik saja? Kau harus ke rumah sakit sekarang!" aku yang harus kulakukan?
"Lebih baik kau duduk. Aku lelah mengangkat wajahku lebih lama lagi." Aku duduk dengan bingung dan gelisah. Jung Yong hwa menaruh kepalanya pada bahuku. "Begini lebih baik."
"Yong Hwa, kumohon. Kau harus ke rumah sakit!" kini aku benar-benar putus asa menghadapinya.
" Aku benci rumah sekarang kau… khawatir terhadapku?" apa maunya orang ini? tanyaku dalam hati.
"Ya, aku khawatir padamu. Bagaimana kita ingin mengobati lukamu kalau kau tidak ke rumah sakit?"Jung Yong Hwa hanya menggeleng. "Oke, ayo ke apartemenku. Aku akan mengobatimu!" aku membantunya berdiri dan memawanya ke apartemenku.
Aku mendudukkan Jung Yong Hwa di sofaku. Dengan cepat aku mencari obat p3k dan segera kembali. Jung Yong Hwa terlihat lemah, hal yang jarang kulihat. Aku mengopres lebam dibibir dan pipinya, dia mengernyit sedikit. Setelah semua lukanya kubersihkan aku pergi ke dapur dan kembali dengan membawa air dingin.
"Apa yang kau lakukan sampai kau babak belur begini?" tanyaku sambil menuang air ke gelas Jung Yong Hwa.
"Berkelahi." Jawabnya singkat sambil meneguk airnya sampai habis.
"Dengan siapa?"
"Orang yang waktu itu kita temui ditaman."
"Mengapa kau berkelahi dengan mereka?"
"Mereka yang memulainya."
"Hhh, you're hopeless. Lalu kau kalah?"
"Jumlah mereka terlalu banyak untuk aku tangani sendiri."
"Jadi bagaimana kau bisa kesini? Kau harus pulang."
"Ini tempat terdekat dari taman, dan rasanya aku tidak sanggup lagi untuk pulang."
"Jinjja…kalau begitu kau menginap saja disini malam ini. Besok aku akan mengantarmu pulang." Aku menghembuskan nafas panjang.
Aku tidak tega menyuruhnya tidur di sofa jadi aku membiarkan dia tidur dikasurku dan aku tidur di sofa. Keadaan Jung Yong Hwa terlihat lebih baik setelah aku membersihkan lukanya. Tapi dia tetap masih lemas untuk berdiri tanpa dibantu. Kasurku terlihat kecil saat tubuh Jung Yong Hwa yang tinggi tidur diatasnya. Tentu saja karena kasurku berukuran queen sedangkan kasurnya sendiri berukuran king. Oh crap! Mengapa aku jadi membandingkan kasurku dengan kasur miliknya? Lebih baik aku keluar saja. Tangan Jung Yong Hwa menahanku saat aku hendak keluar.
"Please don't go. Stay with me." Pintanya pelan. Aku mengangguk.
"Akan kutemani kau sampai kau tidur." Tangan Jung Yong Hwa tidak mau melepaskan tanganku. Aku hanya menggeleng-geleng sambil menepuk pelan tangannya. Rasanya aku seperti mengasuh anak kecil. Malam sudah larut, seharusnya aku segera tidur tapi tangan Jung Yong hwa masih menggenggam tanganku erat. Kalau begini terus bagaimana aku akan pergi. Rasa kantuk mulai menyerbuku, aku berusaha melawannya tapi kantuk ini terus menyerang. Akhirnya mataku tak sanggup lagi untuk terbuka dan aku tertidur.
To Be Continued
