Masalah Bagiku


Tubuhku sudah berada di ranjang saat aku membuka mata keesokan paginya. Saat aku menolehkan wajahku ke kenan, kulihat Jung Yong Hwa sedang tertidur dengan pulas. Aku sedikit terpekik dan sepertinya itu membuatnya bangun. Perlahan Jung Yong Hwa membuka matanya dan menatapku sambil tersenyum.

"Pagi, Soo Young. Merry christmas." Aku menatapnya bingung. Seakan baru sadar dengan posisiku, aku bangun dengan cepat.

"Ehem. Bagaimana lukamu? Masih sakit?" Jung Yong Hwa menggeleng.

"Tidak begitu."

"Baguslah. Aku akan mengambil minuman dulu." Kataku sambil turun dari tempat tidur, tapi Jung Yong Hwa menarikku kembali sehingga aku jatuh tertidur di kasur.

"Kau belum mengucapkan sesuatu padaku." Dia menatapku serius.

"Selamat pagi?"

"Bukan. Aku sudah mengucapkan padamu setelah selamat pagi." Ucapnya jahil.

"Oh, yeah. Merry chrismast, Yong Hwa. Kalau kau ingin pulang katakan saja padaku." Aku segera turun dari tempat tidur sebelum Jung Yong Hwa menahanku lagi, dan sebelum jantungku berdebar lebih cepat lagi.

Aku bergegas menuju kamar mandi. Mandi bisa menenangkan pikiranku sejenak. Air yang hangat membuat tubuhku rileks, untungnya aku sudah mengambil baju ganti tadi. Kalau tidak aku bisa malu hanya memakai handuk untuk mengambil pakaian. Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat Jung Yong Hwa sedang menonton televisi.

"Hey, siapa yang mengijinkanmu menonton dirumahku?" kataku sambil menyilangkan tangan didada.

"Oh ayolah. Aku bosan hanya tidur saja." Jawabnya tanpa menoleh.

"Kalau begitu sebaiknya kau pulang, Yong Hwa!" aku memutar bola mataku.

"Aku malas pulang Soo Young. Rumahku sepi sekali." Kini dia mulai bertingkah seperti anak-anak.

"Jung Yong Hwa, jangan cari alasan denganku. Sekarang cepat cuci mukamu lalu aku akan mengantarmu pulang!" perintahku tegas.

"Tapi kita belum sarapan." Katanya berkilah.

"Aku akan buatkan sarapan untukmu saat kau mencuci muka. Sekarang pergi ke kamar mandi dan cuci wajahmu!" aku mendorongnya ke kamar mandi, sekarang aku benar-benar seperti ibunya.


Saat aku mengantar Jung Yong Hwa pulang, ternyata mobil Tae Min oppa sudah terparkir didepan rumahnya. Rencananya hari ini Jung Yong Hwa harus tampil disalah satu acara tapi Tae Min oppa tidak bisa menghubungi ponselnya. Aku hanya mengantarnya dan menyapa Tae Min oppa sebentar lalu pulang. Diperjalanan ponselku berdering.

"Yeoboseo, Seung Ho-ah. Ada apa? Oh ya, merry christmast." Sapaku ceria.

"Merry chrismast, Soo Young. Apa kau ada rencana hari ini?"

"Tidak, memangnya kenapa?"

"Well, aku hanya ingin mengajakmu ke beberapa tempat."

"Maksudmu kau mengajakku kencan?"

"Bisa dibilang begitu, kau mau kencan bersamaku?"

"Baiklah, kutunggu jam sepuluh ya." Klik, sambungan diputuskan. Aku tersenyum senang, rasanya sudah lama sekali aku merayakan natal bersama Seung Ho. Senang rasanya sampai-sampai aku merasa melambung ke awan.

Natal pertamaku di Korea, natalku tanpa keluarga dekat. Yah, paling tidak masih ada Hyo Sung, bibiku, dan Seung Ho yang akan menemaniku sampai malam tahun baru. Setidaknya aku tidak sendirian, hiburku dalam hati. Tak lama kemudian aku sudah sudah sampai didepan apertemenku, kulihat Seung Ho melambaikan tangannya padaku. Dengan cepat aku memarkir mobilku dan menghampiri Seung Ho.

"You're come early! What makes you come here early in the morning?" tanyaku pada Seung Ho.

"You see, I have a date today so I don't wanna be late." Dia menatapku lembut. Tatapan yang selalu kusukai.

Kami pergi ke berbagai tempat hari itu. Kebanyakan tempat yang kami kunjungi adalah tempat-tempat yang terkenal di Korea. Well, aku baru tiga bulan disini dan belum sempat berpergian karena pekerjaan yang menumpuk, sementara Seung Ho dia baru seminggu disini. Walaupun Seung Ho lahir di Korea, tapi keluarganya pindah ke Amerika saat dia berumur tujuh tahun, jadi Seung Ho tidak begitu mengenal tempat ini. Seung Ho membawaku ke salah satu tempat yang kusukai di Korea. Sungai Han. Salju sedang turun tapi itu tidak mematahkan semangat kami dan beberapa pengunjung disini. Bahkan dinginnya udara yang berhembus seakan tidak berpengaruh pada kami semua. Aku duduk disebuah anak tangga sambil minum coklat panas yang baru saja Seung Ho beli. Kami hanya diam sambil memperhatikan kegiatan pengunjung lain, tapi suasana ini menurutku nyaman. Duduk bersama Seung Ho saja sudah membuatku nyaman. Saat ini, hanya saat ini saja, bolehkah aku membuat permohonan? Aku tahu permohonan ini mustahil, tapi tetap saja aku ingin mengatakan permohonanku! Seandainya Seung Ho tidak bertemu Erika, seandainya Seung Ho tetap bersamaku, apakah aku akan bersamanya nanti? Apakah Seung Ho juga akan mencintaiku?

"Maaf, selama ini aku tidak tahu kau kesepian." Ucap Seung Ho tiba-tiba.

"Sorry?" aku menatapnya terkejut.

"Yah, betapa sakitnya bagimu, betapa beratnya bagimu, akhirnya sekarang aku menyadarinya." Kata Seung Ho perlahan.

"Tidak apa-apa. Aku tidak seperti itu, buktinya aku masih kuat, ne?" aku menepuk dadaku lalu sadar itu hal bodoh karena sekarang aku kedinginan. Seung Ho memberikan syal yang dipakainya padaku. Nyaman rasanya, seakan hanya kami berdua disini, mendengar nafasnya membuatku nyaman.

"Kau tidak perlu berpura-pura lagi!" Seung Ho mengacak-acak rambutku, kebiasaannya. "Aku tidak ingat siapa tepatnya yang mengatakan ini saat di New York, tapi apa benar kau menyukaiku?" aku terkejut, seketika itu juga wajahku memerah.

"Si…sia...siapa yang mengatakannya padamu?" tanyaku gugup.

"Sudah kubilang aku lupa siapa dia. Tapi saat dia mengatakan kau menyukaiku, rasanya aku senang sekali. You know, hari itu aku terus memikirkanmu. Apa yang kau lakukan, kau sudah makan atau belum, dan yang terpenting apa kau masih tersenyum." Seung Ho mengehentikan ucapannya, seakan-akan mancari kata yang tepat.

"Huh, akan kupukul orang yang mengatakan aku menyukaimu. Well, walaupun itu benar." Aku tersenyum padanya dan Seung Ho terlihat terkejut. "Sejujurnya saat kau kembali dari Jepang dan memberitahuku kalau kau sedang pacaran dengan Erika, aku agak terkejut. Kukira kau menyadari perasaanku lalu kau menghindariku, tapi ternyata aku salah. Aku terus menunggumu, dan harus kuakui aku sangat senang ketika kau datang mencariku walaupun hanya untuk menceritakan Erika. Setidaknya kalau kau senang aku juga senang, jadi aku berusaha tersenyum."

"Apa itu mengganggumu?" tanya Seung Ho hati-hati.

"Ya, itu memang SEDIKIT menggangguku. Bisa kulanjutkan ceritaku?" Seung Ho mengangguk. "Kau masih ingat saat kita mengunjungi patung Liberty waktu itu? Kau kelihatanya senang sekali dan saat itu ada Erika, jadi aku memberi kalian sedikit privasi. Saat melihatmu tersenyum rasanya hatiku sakit, dan lebih sakit lagi saat harus membalas senyummu. Aku tahu aku harus gembira melihat kalian berdua, tapi tetap saja…" tiba-tiba Seung Ho memelukku.

"Aku minta maaf, aku tidak tahu kau sangat sakit." Dia terus memelukku tapi aku mendorongnya pelan.

"Biar kulanjutkan dulu, ok! Saat kita bersepeda berdua saat musim gugur waktu itu, rasanya hatiku bahagia sekali. Rasanya semua kebahagiaan didunia ini milikku. Tapi saat aku sadar, aku mulai menyesalinya, aku bertindak egois lagi. Perlahan-lahan semua itu membuatku lelah, membuatku sedih. Lalu kesedihan itu menumpuk, walau aku tahu kau pergi aku hanya bisa berharap untuk jadi lebih baik saat kau kembali. Ini salahku karena aku menyukaimu, salahku karena aku tidak bisa melepasmu, salahku dan ini membuatku sakit. Sangat sakit sampai rasanya aku tidak bisa lagi tersenyum padamu." Rasanya air mataku akan menetes.

Seung Ho menatapku dalam, "Kau itu seperti pelengkap bagiku, rasanya aneh saat kau tak ada. Seharusnya aku lebih berani saat itu, seharusnya aku mengatakan padamu tentang perasaanku. Dan sekarang semuanya terlambat dan aku hanya menyesalinya. Tapi sekarang aku sendiri, aku menyukaimu dan begitu juga kau. Aku akan bersamamu kalau kau memintanya, aku bahkan akan meninggalkan Erika kalau kau mau." Seung Ho tiba-tiba berlutut dihadapanku. "Soo Young, maukah kau menikah denganku?"

Kalimat itu seharusnya membuatku bahagia, itu kalimat yang kutunggu sejak lama. Tapi sekarang rasanya berbeda, hampa. Lalu aku sadar bahwa Seung Ho sedang bingung, terlihat jelas di matanya. He doesn't mean it, dia hanya bingung dan mencari tempat untuknya berlari menjauh dari masalahnya.

"Seung Ho, aku tidak bisa menjawabmu sekarang. Kuharap kau mengerti, kurasa kau sedang bingung." Ucapku pelan.

"Bingung apa? Apa maksudmu? Kau hanya perlu mengatakan 'ya' dan itu tidak sulit Soo Young. Please, I beg you." Kini dia menatapku dengan frustasi.

"Sudah kubilang aku tidak akan menjawabmu, sebelum kita mulai bertengkar disini, bisa kau antar aku pulang?"


Siang itu aku main ke apartemen Hyo Sung. Awalnya yang lain terkejut dengan kedatanganku, tapi saat aku menanyakan dimana Hyo Sung mereka mengerti dan membiarkanku. Hyo Sung membuka pintu setelah aku mengetuknya beberapa kali.

"Jadi, apa tujuanmu datang kesini?" tanya Hyo Sung langsung.

"Apa aku harus punya alasan untuk main ke apartemenmu?" candaku.

"Choi Soo Young, jangan main-main. Aku tahu sesuatu telah terjadi padamu, kau bukan orang yang suka datang melewati salju yang dingin ke apartemen orang lain. Jadi katakan apa tujuanmu!" perintah Hyo Sung tajam.

"Al-ass-seo, you got me! Sebenarnya pagi ini Seung Ho confess to me." Ucapku sambil menunduk.

"Jinjja? Lalu apa yang kau katakan?" tanyanya bersemangat.

"Kubilang, tak bisa menjawabnya sekarang." Kini dadaku sesak saat mengingat kejadian tadi.

"Wae? Mengapa kau tidak menjawabnya saat itu juga?" Hyo Sung mendesah kecewa.

"Hyo Sung, dengar, Seung Ho sudah bertunangan. Aku tidak mungkin merebutnya." Ucapku dengan susah payah.

"Mereka hanya bertunangan, Soo Young. Belum menikah, kau masih punya kesempatan!" Hyo Sung tak mau kalah.

"Tapi tunangannya itu sepupuku sendiri… dan…dan mereka akan menikah, yah walaupun pernikahannya batal tapi tetap saja aku tidak bisa!" kali ini Hyo Sung terdiam.

"Mianhae yo. Bisa kau ceritakan kejadiannya padaku?" tanya Hyo Sung lembut.

Aku mulai menceritakan kejadian tadi pagi. Sakit rasanya. "Aku tidak bisa merebutnya meski aku ingin. Siapa pun bisa melihatnya kalau Erika sangat mencintai Seung Ho. Bagaimana ini? Eotteohge?"

"Sepertinya kau memang harus melepaskannya. Kalau menurutmu Erika sangat menyukai pria itu, kau harus melepaskannya. Dan kuharap kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu. Aku tahu, semakin dekat kita dengan seseorang, semakin menyakitkan saat kita melepaskannya." Hyo Sung menepuk-nepuk punggungku.

"Gomawo, aku sudah lebih baik. Aku akan mengatakannya hari ini."


Percuma saja ,empat hari kemudian aku belum juga menjawab Seung Ho. Rasanya sangat berat untuk mengatakannya. Malam itu aku menghabiskan waktuku dengan bermain gitar, berharap bahwa dengan begitu aku bisa melanjutkan hariku besok. Saat itu ponselku berdering, nomor asing tertera pada layarnya.

"Hello?" sapaku ragu.

"Moshi-moshi, Soo Young?" Erika bicara dalam bahasa Jepang dengan cepat.

"Erika? Ada apa?"

"Apa Seung Ho bersamamu?" sekarang dia bicara bahasa inggris.

"Beberapa hari yang lalu dia bersamaku, ada apa?"

"Apa sekarang dia masih bersamamu?"

"Kudengar dia sedang mengurus kepulangannya. Lusa dia akan kembali."

"Damn, Soo Young, bagaimana ini?"

"Apanya yang bagaimana?

"Kami bertengkar saat natal. Sepertinya Seung Ho marah besar padaku!" bahasa Jepang lagi.

"Ok, tenang dulu. Sebenarnya ada masalah apa dengan kalian berdua?"

"Seung Ho cemburu saat aku bilang akan membantu Tomoyo dengan usahanya."

"Bukan karena kau membandingkannya?"

"Well, mungkin sedikit. Tapi tetap saja! Lagi pula dia mengekangku, dia melarangku bertemu dengan ini, dengan itu, dia melarang semua pertemuanku! Aku tidak tahan!"

"Erika, itu karena dia menyayangimu."

"Shikashi, dia melarangku, bahkan mengancam Tomoyo. Aku jadi malu, aku harus bagaimana, Soo Young? Aku masih mencintai Seung Ho! Pernikahan kami tidak boleh batal!"

"Wakata! Akan aku usahakan. Datang kesini besok, ambil penerbangan pertama ke Korea Selatan. Temui aku di apartemenku, dekat rumah nenek." Aku menutup teleponnya. Aku yakin besok adalah hari terberat untukku.


Tepat jam sembilan pagi, Erika mengirimiku pesan, dia menanyakan nomor kamarku. Rupanya dia sudah sampai di Bandara dan sedang dalam perjalanan. Sambil menunggunya aku memilih untuk menonton televisi. Baru saja ingin duduk, terdengar ketukan dari luar apartemenku. Saat kubuka, Seung Ho sudah berdiri didepannya dengan pakaian rapi tapi sorot matanya seperti kelelahan. Aku membiarkannya masuk dan menyuruhnya duduk.

"Jadi apa jawabanmu?" tanya Seung Ho langsuk ke topiknya.

Aku menghiraukannya, "Kau mau teh, kopi, atau susu?"

"Jawab aku Soo Young!" Terdengar hembusan nafas keras dibalakangku.

"Aku tidak tahu. Aku bahkan belum siap. Kalau aku menikah denganmu bagaimana dengan Erika?"

Seung Ho menggeleng "Aku tidak peduli dengannya. Aku akan meninggalkannya untukmu!"

Aku mengepalkan tanganku dengan kuat "Erika sangat mencintaimu, Seung Ho. Kau harus memikirkannya lagi."

"Aku sudah memikirkannya, Soo Young. Keputusanku adalah aku akan menikahimu!" saat itu pintu apartemenku kembali terbuka. Kulihat Jung Yong Hwa masuk bersama dengan Erika.

"Hentikan, Seung Ho. Kumohon hentikan ini!" mohon Erika sambil memegang tangan Seung Ho.

Sepertinya Seung Ho mengabaikannya dan dia terus menatapku. "Seung Ho, kurasa kau bingung. Lihat, Erika sudah datang dari Jepang kesini hanya untuk mencarimu."

"Soo Young benar, Seung Ho. Kumohon kembalilah. Aku janji tidak akan berurusan dengan Tomoyo, aku tidak akan membantunya lagi. Tapi kau harus kembali padaku." Suara Erika terdengar sangat putus asa.

Aku mengatur nafasku. Aku bisa mengatakan ini, aku harus bisa. Aku menatap Seung Ho yang sekarang sudah berdiri persis didepanku. "Seung Ho, kurasa Erika benar. Kau harus kembali padanya."

"Tapi kau menyukaiku, Soo Young!" Seung Ho tidak menyerah.

Aku menutup mataku perlahan lalu membukanya lagi, "Dulu aku memang menyukaimu. Tapi sekarang kau sudah punya Erika dan sepertinya rasa itu menghilang. Aku sudah tidak…menyukaimu lagi. Mianhae yo." Aku berhasil!

Seung Ho menatapku tak percaya. My chest is hurt, it's sufocating. Rasanya air mataku akan mengalir sekarang juga. Aku mengangkat wajahku supaya air mata ini tidak jatuh. Kudengar Erika masih memohon pada Seung Ho, aku menutup mataku lagi. Aku kembali lagi ke ruang tamu setelah meminum segelas teh, cara terbaik untuk menenangkan diriku. Aku mendekati Seung Ho.

"Aku tahu kau pasti mencintai Erika juga. Aku mengenalmu dengan baik, kan? Huh, kuharap kalian berdua kembali bersatu. Kalau tidak aku juga pasti yang repot, hahaha." Tawaku terdengar aneh, bahkan untuk telingaku sendiri.

Sepertinya sekarang mereka sudah berbaikan, "Ka..kalian sudah berbaikan kan? La..lain kali, jangan pernah datang kesini lagi dengan membawa masalah. Nah, karena masalahnya sudah beres kalian boleh pulang. Bicarakan tentang pernikahan kalian, atur semuanya. Makanannya, undangannya, konsepnya, tapi sepertinya aku tidak bisa datang lagi. Pekerjaanku sibuk sekali disini, maaf ya. Baik, ayo sana pergi!" kataku seceria mungkin.

Mereka pergi, dan masalahnya selesai. Aku menutup pintu dengan cepat. Aku mengepalkan tanganku lagi sampai kuku jariku memutih, kuharap sakit ini ikut hilang tapi tidak bisa. Kini nafasku mulai tidak teratur. Bodoh, mengapa air mata ini harus jatuh sekarang? Aku membalikan badanku, saat itu pandanganku bertemu dengan tatapan Jung Yong Hwa. Aku baru sadar kalau dia ada disini sejak tadi. Aku berlari ke kamarku lalu masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Airnya dingin, aku lupa menyalakan air hangatnya. Tapi aku mengabaikannya. Dinginnya menusukku, kuharap rasa sakit ini hilang. Seseorang, tolong aku! Rasanya aku hampir mati kesesakan! Hentikan sakit ini! tolonglah!

Seseorang membuka pintu kamar mandiku lalu mematikan showernya. Tanpa buka mataku pun aku sudah tahu kalau itu Jung Yong Hwa. Dia menungguku. Aku tahu kalau aku disini lebih lama lagi aku akan sakit, tapi aku tidak peduli. Aku sudah sakit, mengapa tidak sekalian saja. Jung Yong Hwa bergeming, kurasakan dia duduk disebelahku, tak peduli dengan bajunya yang basah. Dia menghembuskan nafas panjang tapi dia tetap diam. Dai menungguku. Setelah rasanya aku sudah tenang, aku mengangkat wajahku. Kulihat Jung Yong Hwa sudah membawa handuk ditangannya. Aku berusaha berdiri tapi kakiku kram. Dengan sigap Jung Yong Hwa mengendongku dan mendudukanku di kasur. Dia mengeringkan badanku dengan handuk lain yang dibawanya. Sekarang aku merasa pusing, aku memegang kepalaku. Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum.

"Kau pusing?" aku mengangguk. Jung Yong Hwa meraba keningku lalu menggeleng. "Kau demam. Kau tahu berapa lama kau di kamar mandi?" aku menggeleng lagi. "Hampir tiga jam. Dengan air sedingin itu di musim dingin begini, siapun pasti akan sakit. Babo ya!" dia menggerutu terus. Sku ingin membalasnya tapi tenggorokanku terasa kering.

"Yong Hwa… air…" hanya kata itu yang bisa kuucapkan, tapi sepertinya Jung Yong Hwa mengerti dan memberiku segelas air dan baju ganti untukku.

"Gantilah bajumu." Katanya singkat lalu keluar kamar. Beberapa menit kemudian dia masuk lagi dan aku sudah mengganti bajuku.

Dia menyelimutiku. "Tidurlah! Aku akan menunggumu sampai kau terlelap."

Tiba-tiba kekecewaanku muncul lagi. Tanpa sadar aku sudah menyuarakan semua isi pikiranku. "Apa aku egois? Apa aku salah karena menyukainya? Apa menurutmu aku egois?" Jung Yong Hwa hannya menatapku dalam diam. Sepertinya dia tahu kalau aku hanya butuh seorang pendengar.

Aku menutup mataku. "Rasanya…rasanya dadaku sesak sekali. Rasanya aku hampir mati! Aku tahu ini salahku. Salahku karena menyukainya, salahku karena terlalu berharap dia membalas perasaanku. Tapi aku…aku bisa apa? Aku hanya bisa menunggunya. Kalau saja aku bisa memutar waktu, aku ingin dia tersenyum padaku. Melihatku saja."

Air mataku mulai mengalir deras tanpa bisa kuhentikan. Ini terlalu berat untukku. Terlalu berat untuk aku pendam sendirian. Akhirnya setelah sekian lama aku menyembunyikan perasaanku, hari ini aku bisa menyuarakannya juga. Rasanya lega, tapi juga sakit. Aku berhasil memasang poker face beberapa saat yang lalu, tapi sekarang semuanya berakhir. Poker face yang kupakai telah hancur. Semuanya sudah terlambat.


Sepertinya aku ketiduran setelah menangis. Kulihat sebuah memo tergeletak di meja riasku. Dari Jung Yong Hwa. Katanya dia ada pemotretan jadi harus segera pergi. Dia juga minta maaf karena harus meninggalkanku sendiri. Aku menghembuskan nafas panjang. Kulihat lagit sudah gelap. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, sebaiknya aku segera mandi.

Selesai mandi dan berpakaian, aku duduk disofa sambil menonton tv dan makan semangkuk sereal. Hal yang aneh karena seharusnya kau makan sereal di pagi hari. Ponselku berdering. Sebuah pesan masuk, dari Hyo Sung. Dia hanya menanyakan kabarku. Kubalas dengan 'I am ok' lalu mengirimnya. Perhatianku kembali lagi ke tv, serealku sudah habis tapi aku malas membereskannya. Saat itu asap mulai masuk ke dapur, awalnya aku mengabaikannya karena kupikir itu hanya bayanganku. Kemudian asap mulai masuk ke ruang tv, pasti ada yang tidak beres. Aku panik, tak tahu harus berbuat apa. Aku tahu aku harus keluar dari apartemenku sekarang, aku mengantongi ponselku dengan cepat. Aku mencari sesuatu untuk menutup hidungku dan yang kutemukan hanyalah syal dari Jung Yong Hwa. Tanpa pikir panjang aku segera berlari keluar menuju lift. Sia-sia saja, lift itu mati, kebakaran ini mematikan semua system. Aku berlari menuju tangga darurat, tangga itu sepi. Sepertinya semua orang sudah keluar.

Aku sampai di lobi dengan selamat. Kulihat banyak orang sudah berada diluar menyelamatkan diri mereka lebih dulu. Beberapa orang menangis, beberapa lagi tertunduk lesu, sisanya hanya menatap nanar kea rah apartemen. Rasanya pikiranku kosong, aku berjalan tanpa tahu kemana tujuanku. Aku melihat apartemenku yang bagian atasnya sudah dilahap api, aku hanya menatapnya kosong. Kudengar staf apartemen menelepon pemadam kebakaran, lalu dia marah-marah, sepertinya pemadam akan terlambat datang karena ada kecelakaan di jalan. Mengapa hari ini aku sial sekali? Mengapa masalah datang bertubi-tubi padaku hari ini? Kapan aku bisa istirahat sejenak dari semua kekacauan ini?

"Soo Young? Kau tidak apa-apa? Kau terluka?" seorang pemuda menepuk bahuku, aku menggeleng. Aku kenal suara itu, tapi aku tidak ingat siapa dia.

"Kau siapa?" tanyaku heran, tapi pemuda itu tidak menjawab pertanyaanku.

"Kau yakin tidak terluka? Ikutlah denganku." Kata pemuda itu lagi, aku mengangguk. Aku tahu seharusnya aku menolaknya, tapi tubuhku bergerak dengan sendirinya.

Aku ikut naik mobilnya yang lagi-lagi terasa tidak asing. Kurasakan tanganku sedikit gemetar, pemuda itu sepertinya melihatnya, dia menggenggam tanganku lembut. Aneh sekali, rasanya aku kenal pemuda ini. Dia membawaku ke sebuah rumah putih yang megah, saat kami masuk sekitar lima sampai enam orang menatap kami. Seakan mereka memang sedang menunggu kami. Pemuda itu masih memegang tanganku, dia mulai menuntunku ke sofanya.

"Listen to me. Apa yang terjadi?" pemuda itu menatapku hangat. Dia menaruh tangannya di pipiku.

Seakan sadar apa yang terjadi air mataku mulai mengalir, "Aku…hiks…menonton tv…hiks…asap…datang…hiks…masuk…aku…hiks…aku berlari…hiks…sesak sekali…pemadamnya…hiks…mereka terlambat…hiks…apartemennya terbakar…aku bingung…hiks…kepalaku pusing…lalu kau datang…hiks…kau…kau…" aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku karena tangisku mulai pecah. Sekarang aku sadar, pemuda itu adalah Jung Yong Hwa.

Jung Yong Hwa memelukku, "Ok, I got it. Kau tidak perlu menjelaskannya lagi. Sekarang kau tidur saja." Dia mengantarku ke atas lalu membawaku ke kamarnya. "Maaf, kamar disini penuh. Mereka akan menginap disini, kau tidur saja di kamarku. Aku akan bergabung dengan mereka."

To be continued