Finnaly


Aku terbangun keesokan paginya dengan baju yang sudah pasti bukan milikku. Baju yang kupakai terlalu besar untuk tubuhku. Aku mencoba mengingat kejadian kemarin, ugh kepalaku serasa ditusuk ribuan jarum. Kalau tidak salah Jung Yong Hwa memintaku untuk ganti dengan bajunya karena bajuku kotor. Ugh, lagi-lagi kepalaku sakit mengingatnya. Aku berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamar, berjalan ke wastafel dan mencuci wajahku lalu menggosok gigi. Aku melihat pantulan diriku dicermin, tidak terlalu buruk untuk orang yang baru saja kena musibah.

Aku berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu. Sepi sekali, sepertinya mereka semua sudah pulang. Aku berbelok menuju halaman belakang. Sepertinya dugaanku salah, karena halaman belakang ramai sekali. Aku melongokkan kepalaku, sepertinya Tae Min oppa melihatku, dia melambaikan tangannya menyuruhku menghampirinya. Aku duduk disebelah Tae Min oppa yang sepertinya sedang asyik melihat orang-orang bermain bola.

"Uhm, aku turut prihatin dengan apartemenmu." Kata Tae Min oppa memecah keheningan.

Aku menatapnya sebentar, "Tak apa, sepertinya itu memang bukan apartemen yang cocok untukku."

"Kau yakin? Kalau kau mau aku bisa mencarikan apartemen baru untukmu." Aku menggeleng sopan.

Kemudian Jung Yong Hwa duduk disebelahku. Dengan santainya dia merebut minumanku dan meminumnya. "Ah, segar sekali. Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?"

"Sepertinya aku baik-baik saja. Tak ada yang terluka." Aku menatap Jung Yong Hwa heran.

Dia tersenyum, "Kau yakin? Tanganmu?"

"Tanganku? Astaga! Mengapa tanganku diperban begini?" aku terkejut. Aku bahkan tidak sadar kalau tanganku terluka.

"Apa syokmu separah itu sampai kau tidak ingat kalau kau terluka?" kini Jung Yong Hwa kembali lagi dengan sikapnya yang menyebalkan. Sekarang dia menarikku masuk rumah dan menyuruhku duduk diruang makan.

"A…ada apa?" tanyaku panik. Detik berikutnya tubuhku sudah berada dalam pelukan Jung Yong Hwa.

"Aku senang kau selamat. Kau tahu, saat aku melihat apartemenmu terbakar dari tv aku sangat terkejut. Saat itu yang kupikirkan hanya satu hal, kau. Aku bergegas ingin melihatmu, aku bahkan tidak tahu mobil siapa yang kupakai kemarin. Aku takut, takut seandainya kau masih didalam gedung, takut kalau kau tidak bisa tertolong. Pikiranku sangat kacau saat itu, tapi saat menemukanmu aku lega sekali…" kata Jung Yong Hwa sambil terus memelukku.

Aku hanya mengangguk pelan, Jung Yong Hwa melanjutkan kalimatnya. "Saat aku menemukanmu diantara kerumunan orang itu, kau hanya diam. Kau seperti tidak mengenaliku, tapi kau menurut saat aku membawamu kesini, dan kau gemetaran saat itu. Setelah aku mengantarmu ke kamarku, kau mulai menangis. Rasanya…hatiku sakit, it hurting me. Oh ya sudahlah. Yang penting sekarang kau masih disini walau dengan sedikit luka." Dia tersenyum hangat, senyumnya yang sekarang membawa dampak buruk bagi jantungku, karena sekarang jantungku berdetak dua kali lebih cepat.

"Uhm, jam berapa sekarang?" tanyaku mengganti topik.

Jung Yong Hwa melepas pelukannya, "Memang kenapa?"

"Aku hanya bertanya." Jawabku sambil mengangkat bahu.

"Aku tidak tahu."

"Kau kan pakai jam tangan!"

"Sudahlah, aku tidak ingin tahu sekarang jam berapa. Aku ingin sedikit lebih lama bersamamu."

Aku yakin saat itu pipiku sudah semerah tomat. Ingin rasanya cepat-cepat pergi dari hadapannya, aku malu sekali. Aku mengalihkan pandanganku, mencari sesuatu yang bisa kulihat. Rasanya jantungku mau copot, kuharap Jung Yong Hwa tidak mendengar suara detak jantungku yang berisik ini. Sekarang Jung Yong Hwa menarikku ke arah piano, dia mulai memainkan sebuah intro yang tidak asing di telingaku.

I can show you the world
Shining, shimmering splendid
Tell me, princess, now when did
You last let your heart decide!I can open your eyes
Take you wonder by wonder
Over sideways and under
On a magic carpet ride…

Dia mulai menyanyikan lagu A Whole New World. Kadang dia menatapku disela-sela nyanyiannya. Musik masih mengalun lembut bersama dengan suara Jung Yong Hwa. Aku mulai bersenandung mengikuti lagu itu, terbawa suasana. Kuharap waktu berhenti saat ini, rasanya aku tidak ingin momen ini berakhir. Suara Jung Yong Hwa seperti membawaku ke dunia yang baru, damai dan tenang. Sejenak aku bisa melupakan masalahku, masalah yang beberapa hari ini menghampiriku. Lagunya berakhir saat aku masih ingin menikmatinya.

"Sekarang giliranmu!" Jung Yong Hwa menyilangkan tangannya didada.

"Maksudmu?" tanyaku bingung.

Jung Yong Hwa memutar matanya, "Giliranmu bernyanyi, tadi kan aku sudah bernyanyi untukmu."

"Tapi aku tidak bisa main piano." Kilahku cepat.

"Siapa yang menyuruhmu main piano?" Jung Yong Hwa berjalan ke studio dan kembali dengan membawa gitar ditangannya. "Kau main ini."

"Lagu apa ya? Oh ya, aku baru mendengarnya beberapa hari yang lalu…" aku mulai memainkan intronya dengan gitar, All My Love Is For You milik SNSD mengalun lembut dengan gitar ini.

Atarashii machi de notta
Densha no mado utsutta
Fuan-souna me wo shita watashi wa...

Anata ga oshiete kureta
Jibunrashisa wasurenaide
Ima mo kagayaite iru ka na…

"Mengapa kau menyanyikan lagu itu?" tanya Jung Yong Hwa setelah aku menyelesaikan lagunya.

Aku mengangkat bahu, "Entahlah, kupikir aku harus menjawab lagumu dengan laguku."

"Hanya itu?" tanyanya dengan nada mengejek, aku mengengguk. "Kalau begitu kau sama bodohnya dengan sepupuku Jessica."

"Nugu? Apa maksudmu aku mirip dengan siapalah namanya itu?" tanyaku jengkel.

"Jessica Jung. Dia sama bodohnya denganmu."

Aku terdiam sebentar, aku baru sadar beberapa saat setelahnya. "What?"


Hari sudah sore dan semua orang sudah pulang kecuali Tae Min oppa yang masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya disini. Sejak tadi Hyo Sung menelepon untuk menanyakan kabarku yang kujawab dengan 'ya, aku baik, terima kasih' tapi tetap saja dia bersikeras untuk menolongku. Dan akhirnya Hyo Sung dalam perjalanan menuju kemari untuk membawakan pakaian untukku, sebenarnya aku tidak memintanya untuk meminjamkan pakaiannya, tapi ya sudahlah.

Bel berbunyi beberapa kali, sepertinya dia sudah sampai. Jung Yong Hwa yang membukanya karena aku sedang masak makan malam. Kulihat Hyo Sung tercengang dengan rumah Jung Yong Hwa. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sementara itu Jung Yong Hwa kembali menonton tv, terdengar sebuah berita yang menarik perhatianku. Aku berdiri beberapa meter dari Jung Yong Hwa, tapi dia menyuruhku mendekat dan menarikku sampai aku duduk tepat disampingnya.

"Hey, aku sedang merebus air!" ucapku protes.

"Kalau sudah mendidih tekonya juga akan bunyi. Tenang saja!" jawab Jung Yong Hwa enteng.

Saat itu berita sedang menayangkan kebakaran di apartemenku yang sekarang telah hancur. Kudengar pemadam kebakaran baru datang satu jam kemudian yang artinya setengah jam setelah aku pergi. Tanpa sadar tanganku bergetar lagi dan dengan cepat Jung Yong Hwa menggenggam tanganku dengan lembut.

"Ehem!" dehaman Hyo Sung mengangetkan kami berdua, rupanya dia berada persis dibelakang kami.

"Eh, dari mana saja kau? Aku mencarimu dari tadi." Tanyaku setelah pulih dari kaget.

"Well, aku tidak mau mengganggu kalian jadi aku ke halaman belakang dan mengobrol ddengan Tae Min oppa." Aku memutar mataku.

Hyo Sung melihatku dengan tajam, aku tahu dia sedang melihat posisi dudukku dengan Jung Yong Hwa yang menempel satu sama lain. Aku berdeham, "Mm, sebaiknya aku kembali ke dapur. Makan malamnya hampir siap." Aku beranjak dari kursi, begitu juga dengan Jung Yong Hwa. Dia mematikan tv-nya tanpa melepaskan tanganku dan mengikutiku ke dapur.

"Bisa tidak kau melepaskan tanganku?" aku menatapnya jengkel.

"Memangnya kenapa?" tanyanya datar.

"Kau bukan pacarku begitu pun sebaliknya. Aku tidak ingin orang lain salah paham dengan ini." jelasku sambil bertolak pinggang.

Jung Yong Hwa mengangkat bahu, "Mungkin kau tidak tahu, tapi aku sedang berusaha mendekatimu, jadi biasakanlah!"

"You know what, kau adalah pemuda teraneh yang pernah kutemui!" aku menghembuskan nafas panjang.

"Yong Hwa bisa kau bantu aku sebentar?" Tae Min oppa tiba-tiba muncul dibelakang kami.

"Tae Min, kau tahu tidak kalimat 'jangan mengganggu momen orang lain'?" gerutu Jung Yong Hwa.


Malam itu kami makan malam berdua saja karena Tae Min oppa sudah pulang dengan Hyo Sung. Kami makan dalam diam, asyik dengan makanan kami masing-masing. Kalau mengingat kata-kata Jung Yong Hwa sore itu aku jadi malu sendiri. Well, aku memang sadar dia baik padaku akhir-akhir ini, tapi kukira sikapnya itu sama pada semua orang.

"Hari ini salju akan turun." Ucap Jung Yong hwa tiba-tiba.

"Oh." Hanya itu satu-satunya kata yang keluar dari mulutku.

"Pohon natal yang kita pesan waktu itu sudah diantarkan. Maaf aku belum sempat menghiasnya. Kau mau menghiasnya bersamaku?" aku menghentikan makanku.

"Sekarangkan sudah tanggal tiga puluh. Natal sudah lewat, kau tahu itu." Jawabku sambil berdiri untuk membereskan piring kami.

Jung Yong hwa mengambil piringku danpiringnya dari tanganku. "Biar aku saja yang mencucinya. Walaupun natal sudah lewat tidak ada salahnya kalau menghias pohonnya, kan?"

Setelah selesai mencuci piring, Jung Yong Hwa menyuruhku duduk di sofa dekat piano, kulihat sebuah pohon natal yang cukup besar berdiri disudut ruangan itu. Jung Yong Hwa kembali dengan membawa sebuah kardus besar yang kutahu pasti hiasan pohon natal yang kami beli bersama waktu itu dan sebuah kursi yang tinggi.

Aku mengaduk-aduk isi kardus, memastikan tidak ada yang hilang. "Kau tahu tidak hiasan bintang yang kubeli waktu itu?"

"Ada didasar kardus, cari saja." Jawab Jung Yong Hwa sambil menaruh kursi tadi.

"Mengapa kau menaruhnya didasar kardus? Aku jadi sulit untuk mengambilnya!" gerutuku kesal.

Jung Yong Hwa menoleh padaku, "Kau tahu kan aku ini laki-laki, kalau aku menaruh bintang itu dipaling atas, itu akan membuatku canggung. Bintang itu punya bentuk hati yang cukup besar ditengahnya, bagaimana aku tidak malu kalau begitu?"

"Yong Hwa, itu hanya hiasan. Menurutku tidak ada yang aneh dengan bintang ini, menurutku ini lucu." Kataku sambil memegang bintang yang akhirnya berhasil kutemukan.

"Soo Young, hal lucu menurutmu dengan hal lucu menurutku itu berbanding terbalik, kau harus tahu itu!" Jung Yong Hwa menatapku jengkel.

Kami mulai menghias pohon natalnya, senang rasanya seperti kembali lagi ke masa lalu. Walaupun hari ini bukan hari natal tapi sepertinya Jung Yong Hwa cukup terhibur, begitu pun denganku. Sekarang Jung Yong Hwa bermain dengan pianonya, memainkan lagu All I Want For Christmast Is You milik Mariah Carey. Aku hanya menggerakkan kepalaku mengikuti musiknya.

I won't ask for much this Christmas
I don't even wish for snow
I'm just gonna keep on waiting
Underneath the mistletoe
I won't make a list and send it
To the North Pole for Saint Nick
I won't even stay awake to
Hear those magic reindeers click
'Cause I just want you here tonight
Holding on to me so tight

Aku tinggal memasang bintang dipuncak pohon yang ternyata tidak sampai walaupun aku sudah menaiki kursinya. Jung Yong Hwa menghentikan pianonya tapi masih tetap bernyanyi dan menggendongku hingga aku sampai untuk menaruh bintang tadi dipuncaknya.

What more can I do
Baby all I want for Christmas is you

Jung Yong Hwa kembali memainkan pianonya dan aku berdiri disampingnya sambil ikut bernyanyi pelan.

Oh I don't want a lot for Christmas
This is all I'm asking for
I just want to see my baby
Standing right outside my door
Oh I just want you for my own
More than you could ever know
Make my wish come true
Baby all I want for Christmas is...
You

Lagu selesai, sekarang dia menatapku dalam diam tapi rasanya dia mencari sesuatu didalam mataku. Kalau dia menatapku terus seperti itu rasanya wajahku akan semerah tomat. Aku memalingkan wajahku tapi Jung Yong Hwa segera berdiri dan membuatku menatapnya lagi. Jantungku berdebar semakin kencang bersamaan dengan wajah Jung Yong Hwa yang semakin dekat.

"Harusnya kau bersiap-siap. Aku kan sudah bilang kalau aku sedang mendekatimu." Setelah itu bibir Jung Yong Hwa sudah melumat bibirku. Tidak seperti saat kami di taman, sekarang rasanya berbeda. Sangat dalam dan lembut sampai aku pun bisa meleleh karenanya.

Rasanya kakiku sudah tidak kuat lagi menopang berat tubuhku, aku mencengkeram baju Jung Yong hwa dengan erat. Seakan tahu dengan kakiku yang lemas, Jung Yong Hwa mendudukanku dikursi tapi tidak melepas ciumannya. Ini tidak bagus karena sepertinya aku kehabisan nafas, tapi aku seperti menikmatinnya, rasanya manis dan menenangkan. Akhirnya kami berhenti, aku kehabisan nafas dan sekarang aku gemetaran.

"Soo Young, nan…nan neol salanghae." Jung Yong Hwa terdengar gugup.

"Wae?" dengan bodohnya aku bertanya.

"Apakah aku harus punya alasan untuk mencintaimu?"

"Oh. Aku…aku ingin mengambil pakaianku yang tertinggal dikamarmu sebentar. Nanti…nanti aku akan kembali."

Aku berlari menuju kamar Jung Yong Hwa lalu menutup pintu. Aku duduk dikasurnya sambil menatap kosong ke jendela. Aku bingung harus menjawab apa. Tatapanku beralih pada meja disebelah tempat tidurnya. Foto dirinya, fotonya dengan Lu Han, lalu foto seorang gadis. Latar belakang gadis itu adalah air mancur, sepertinya gadis itu sedih. Wajahnya kurang jelas karena foto ini diambil dari jauh dan sepertinya gadis itu tidak tahu kalau sedangn difoto. Aku mengamati foto itu lebih cermat, rasanya aku kenal dengan foto ini, bahkan rasanya aku pernah ada disana. Perlahan aku sadar, aku bukan 'pernah disana' karena aku memang disana. Gadis dalam foto itu adalah aku, astaga mengapa aku tidak ingat?

"Jung Yong Hwa, siapa yang memotret dia?" teriakku sambil menuruni tangga.

"Dia siapa? Oh, aku yang memotretnya. Kau suka?" dia tersenyum padaku, membuatku melihat bibirnya dan membayangkan kejadian tadi.

"Dimana kau memotretku?" aku berhenti.

"Ditaman dekat patung Liberty. Kau tidak ingat? Aku itu yang duduk disebelahmu waktu itu, aku yang memberimu tissu saat kau menangis waktu itu. Kau bilang waktu itu matamu perih jadi matamu berair." Katanya panjang lebar.

Ya, aku ingat hari itu. Aku sedang bersama Seung Ho dan Erika dan saat aku melihat mereka berdua rasanya… aku bahkan tidak bisa menjelaskan bagaimana keadaanku saat itu. Saat itu aku merasa lelah sekali dan aku memilih duduk, tanpa sadar air mataku mengalir. Aku tidak ingat pada sekelilingku tapi seseorang memberiku tissu. Aku tidak ingat wajahnya tapi aku ingat saat itu kupikir dia orang yang baik. Aku kembali fokus pada tangga yang sedang kupijak.

"Bagaimana kau bisa yakin kalau orang dalam foto ini adalah aku?" aku kembali menuruni tangga.

Jung Yong Hwa mengangkat bahu, "Menurutku saat itu kau wanita yang menyedihkan. Aku juga tidak mengerti mengapa aku memberimu tissu, itu gerakan reflex. Kau tahu saat itu otakku sedang kacau, aku tidak punya ide untuk lagu baruku, lalu aku bertemu denganmu dan kau yang memberiku inspirasi saat itu, dan kurasa waktu itu aku mulai menyukaimu. Kalau aku bertemu denganmu lagi aku akan mengucapkan banyak terima kasih saat aku hampir menabrakmu waktu itu aku merasa pernah bertemu denganmu."

Aku memiringkan kepalaku, masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Jung Yong Hwa. Dia melanjutkan.

"Sebenarnya aku ingin bertanya langsung padamu tapi aku masih ragu saat itu, jadi aku menyuruhmu untuk bekerja denganku selama satu bulan. Setelah itu aku sadar bahwa orang yang kutemui di New York adalah kau. Aku mencoba meyakinkanmu, mencoba membuatmu mengingatku walau secara tidak langsung. Ternyata usahaku tidak berhasil." Dia mengakhiri kata-katanya dengan hembusan nafas yang panjang.

"Dengar, aku minta maaf karena aku tidak mengenalmu, aku juga berterima kasih untuk tissunya saat itu. Tapi aku bingung dengan cara kerja otakmu, bagaimana kau bisa menyukaiku padahal kita baru bertemu." Aku menutup mataku, menenangkan diri.

"Aku juga tidak tahu! Tapi aku ingin kau tahu, sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu, rasanya aneh saat kau tak ada. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri! Ayolah aku benci menjelaskan hal yang sama dua kali. Kumohon tetaplah disisiku." Dia menatapku serius.

"Kalau begitu kau harus tahan dengan semua ocehanku, semua komentarku, dan aku tidak akan segan-segan untuk memukulmu." Aku menatapnya tak kalah serius.

"Jadi kau sudah memikirkan jawabanmu?"

"I've been doing a lot of thinking, and the thing is, I love you. I don't understand why it must be you to be the one in my heart!" aku duduk dengan putus asa.

"Aku juga tidak tahu, mungkin karena ketampananku yang membuatmu terus saja memikirkanku." Dia tersenyum jahil sambil menggenggam tanganku.

"Jadi mulai sekarang aku pacarmu?" tanyaku sambil menatapnya.

"Tenang saja, itu tidak akan lama." Jung Yong Hwa balas menatapku.

Aku menatapnya heran, "Maksudmu?"

"Kau tidak akan jadi pacarku dalam waktu yang lama, karena aku akan menikahimu. Dan mulai sekarang kau harus tinggal disini, al-ass-seo?" dia mencium hidungku lalu beranjak pergi, meninggalkanku yang belum pulih dari terkejut.

-The End-