WARNING! BOYBOY

PAIRING: KHUNWOO/KHUNYOUNG, CHANHO, TAECSU/OKKAY

CAST: 2PM, IU, AHN SOHEE (WONDER GIRLS)

INSPIRED BY: -CHILLING ROMANCE

HAPPY READING^^

Chansung terus mengamati Junho yang tengah membuatkan secangkir teh untuknya. Rasa penasaran menyeruak dari dalam diri Chansung.

"Junho-ya, kau tidak perlu repot-repot membuatkanku minum, tidak apa-apa kok. Lagipula aku tidak enak terlalu banyak merepotkanmu," seru Chansung yang masih mengamati gerak-gerik junho

"Tak usah sungkan Chansung-ah. Hanya membuat teh saja, itu tidak merepotkan kok," jawab Junho sambil membawakan dua cangkir the hangat untuk mereka berdua.

"Jadi, bagian mana yang kau tidak mengerti?" Junho yang sudah duduk disebelah Chansung pun membolak-balik buku catatannya.

"Ntahlah Junho, selama pelajaran Park Songsaengnim aku hanya tertidur. Aku bahkan tak tahu apa materi yang diajarkan olehnya," Jawab Chansung mengakui. Ia hanya tersenyum masam sambil menggosok-gosok tengkuknya.

"Apa? Baiklah Hwang Chansung, aku akan mengajarimu dari awal, perhatikanlah baik-baik, ya?"

"Baiklah Lee songsaengnim!" ujar Chansung sambil meletakkan tangan didepan kepalanya membentuk posisi hormat. Junho sedikit terkekeh melihat tingkah teman satu sekolahnya yang berbadan lebih besar darinya. Walaupun Junho tetap lebih muda daripada Chansung.

Selama Junho menerangkan pelajaran Park songsaengnim, selama itu jugalah Chansung berusaha konsentrasi dan berusaha mengerti. Chansung memang tak terlalu hebat dalam bidang palajaran. Walaupun begitu, Chansung sangat ahli dalam bidang dance, menyanyi serta Taekwondo.

Chansung mendengus pelan. Ia benar-benar sudah menyerah memaksakan diri untuk mengerti. Ia menoleh pada Junho untuk meminta waktu istirahat sebentar agar otaknya dapat tenang. Chansung mendongakkan kepalanya keatas mengahadap Junho sampai tiba-tiba ia terpaku menatap wajah Junho yang sedang asik berceloteh menerangkan pelajaran pada Chansung.

Jarak mereka memang cukup dekat. Chansung sampai harus menahan nafas agar Junho tidak menyadari bahwa nafasnya tengah memburu sekarang. Melihat Junho dari jarak sedekat ini membuat Chansung kehilangan kata-kata. Bibir merah kecil Junho yang tengah berceloteh seakan menantang Chansung untuk membekapnya dengan mulut Chansung. Tak sadar, Chansung menjilat bibir atasnya membayangkan betapa lezat 'santapan' yang ada di depannya.

Junho yang sedari tadi sudah sadar bahwa ia diperhatikan oleh Chansung hanya dapat mematung melihat tingkan aneh teman raksasanya itu. Sampai akhirnya Junho memberanikan diri untuk angkat bicara

"A-ada apa Chansung?" ucap Junho sedikit terbata-bata. Chansung yang cepat kembali kealam sadarnya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya menghapus imajinasi konyol nya barusan.

"Kau baik-baik saja Chansung-ah?" Tanya Junho sekali lagi

"Eo?" Chansung gelagapat karena tertangkap basah oleh Junho bahwa ia sedang memperhatikan Junho

"Ada apa Chansung? Apa kau baik-baik saja?" kali ini Junho menghadapkan seluruh perhatiannya pada chansung. Mata sipit Junho yang tajam seakan mengunci mata cokelat Chansung yang bulat. Chansung yang masih gelagapan akhirnya hanya dapat mengucapkan

"Err… A-apa kau punya pisang, Junho?"

.

.

.

.

.

Wooyoung melangkah menyusuri tepian jalan kota Seoul dengan gontai. Ia mendesah pelan membayangkan tentang apa yang sudah terjadi di hidupnya. Ini tidak masuk akal. Ini tidak wajar, gumamnya.

"Oppa, kau mengapa seperti tidak bersemangat begitu?" Tanya sesosok perempuan di sampingnya. Perempuan itu tampak tembus pandang. Jalanan di sekitar Wooyoung masih cukup ramai, sehingga Wooyoung mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan gadis itu.

"Oppa, kenapa kau tidak menjawab?" Tanya gadis itu sekali lagi. Tetapi tetap tidak ada reaksi yang berarti dari Wooyoung

"Oppa!" kali ini gadis itu berteriak cukup keras sehingga membuat Wooyoung sedikit menyeringit karena kupingnya yang kesakitan mendengar suara gadis tersebut.

"Haish," umpat gadis itu pelan

Wooyoung terus saja berjalan menyusuri kota Seoul. Taman. Hanya itu yang ada diingatannya sekarang. Ntah kenapa ia sangat menyukai taman. Ramai ataupun sepi, taman tetap akan menjadi tempat yang paling menyenangkan.

Namja itu tak tahu pasti sudah berapa jauhkah ia melangkah, yang jelas ia sudah cukup lama berjalan sampai akhirnya ia menemukan taman di tepian kota Seoul. Tentu saja taman itu sepi. Memangnya siapa yang mau pergi ke taman malam-malam begini dalam udara yang begitu dingin.

Dengan sigap ia berjalan kearah sebuah ayunan di taman tersebut. ia hempaskan pantatnya ke ayunan sehingga menimbulkan sedikit bunyi mendecit dari ayunan. Setelah mendapatkan posisi yang pas dan sudah ia pastikan bahwa disekitarnya sudah tak ada orang, barulah ia mulai berbicara

"Sampai kapan aku harus mengingatkan mu agar tidak mengajakku berbicara didepan orang banyak, IU? Kau tentu tidak ingin orang-orang beranggapan kalau aku gila bukan?' desah wooyoung sambil menghadap kearah yeoja yang lebih muda darinya itu.

"Tapi aku ingin bicara denganmu!" jawab yeoja yang bernama IU itu keras kepala.

"Kita pasti akan bicara, tapi tidak ditempat ramai!" tegas namja berkulit putih tersebut

"Kalau begitu ikutlah denganku. Jika kita berada di alam yang sama tentu kita akan dapat sering berbicara dimana saja dan kapan saja oppa," desak IU

"Maaf IU," hanya suara lirik tersebutlah yang dapat keluar dari bibir mungil Wooyoung.

"Oppa, kau kan tahu aku sangat mencintaimu,"

"Iya, iya, aku tahu. Kau sudah terlalu sering mengatakannya padaku

"Lalu apa lagi? Kenapa kau tidak mau ikut denganku?" ujar yeoja itu polos

"Aku.. Aku.. Aku hanya…arghhh" ujar namja itu frustasi sambil mengacak-acak rambutnya

"Dengar IU,aku juga ingin mempunyai kehidupan normal seperti orang lain, kau tidak bisa menggangguku terus-terusan, aku tidak bisa hidup seperti ini ter — AWW!" belum sempat wooyoung menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja ia merasakan sakit dilengannya

"Jadi kau tidak mencintaiku?!" teriak IU sambil mencubit lengan wooyoung keras.

Saat wooyoung ingin membalas perkataan IU, tiba-tiba saja datang seseorang dari belakang Wooyoung

"Kau baik-baik saja?" seru sumber suara itu. Wooyoung yang masih sedikit kesakitanpun menjawab

"Ya, aku—" belum semua kalimat ia selesaikan, tiba-tiba wooyoung membeku. Sudah berapa lama namja ini ada disekitarnya? Kenapa wooyoung bisa tak menyadari? Wajah namja itu tak begitu jelas dihadapannya, selain karena gelapnya malam, namja itu memakai pakaian yang super tertutup.

"Apa kau melihat apa yang sedang kulakukan barusan?!" pekik wooyoung panic

"Oppa, aku rasa dia tidak melihat kau berbicara denganku," bisik IU disebelah wooyoung. Mendengar perkataan IU membuat wooyoung sedikit lega. Ia tak bisa berlama-lama lagi disini. Akhirnya wooyoungpun memutar badan dan setengah berlari pergi meninggalkan namja tersebut. masih terdengar jelas di telinga wooyoung ketika namja itu memanggilnya. Tapi wooyoung tetap terus saja berlari tanpa sadar bahwa ada barangnya yang terjatuh.

.

.

.

.

.

..

in the morning

"Junnie ayo banguun, ini sudah siang, tahu" Ujar Taecyeon sambil menggoyang-goyangkan badan Junsu yang berada dibalik selimut tebalnya. Tetap tak ada reaksi apa-apa dari Junsu

"Chagiyaa, palli ireonaa (saying, cepatlah bangun)" seru Taec lagi kali ini dengan suara yang dibuat-buat sok imut

"Taec, aku benar-benar masih lelah, beri akan waktu 5 menit lagi," gumam Junsu dengan aksen daegunya yang kental

"Hey, dari satu jam yang lalu kau terus mengatakan 5 menit. Cepatlah, sebentar lagi kita harus pergi ke lokasi syuting dan kupastikan kau akan mendapat sarapan sebelum pergi kesana," Taec berkata penuh penekanan

"Aku tahu Taec, tapi kali ini aku bersungguh-sungguh, 5 menit lagi," jawab junsu sambil mengeluarkan kelima jarinya dari balik selimut. Taec menggeleng-geleng frustasi menyaksikan Junsu yang sangat susah bangun. Tapi tiba-tiba Taec tersenyum nakal menampakkan deretan giginya yang rapid an besar

"Baiklah kalau itu maumu Junnie, aku akan kembali 5 menit lagi," perkataan Taecyeon hanya dibalas gumaman kecil oleh Junsu

Langkah kaki Taec terdengar makin pelan, itu tandanya ia sudah meninggalkan junsu dikamar, 'ah, akhirnya anak itu menyerah juga' ucapnya dalam hati sambil tertidur dengan senyum penuh kemenangan. Tak berapa lama kemudian, ketika Junsu mulai berkelana kembali kea lam mimpinya, tiba-tiba saja..

"Junnie! Kim Junsu, lekas lah kesini dan lihat apa yang terjadi dengan boneka-boneka pandamu!" teriak Taecyeon dari ruang tengah

"Ck, anak itu mau apa lag—" Deg! Tadi taec bilang apa? boneka panda? Panda?!

"M-MWOO?!" teriak Junsu segera. Ia lepaskan selimut yang sedaritadi menutupi seluruh tubuhnya

"sepertinya ada orang yang sengaja mencabik-cabik bonekamu Junnie," sorak Taec lagi. Mencabik-cabik?! Apa?! SIAPA YANG BERANI MENYENTUH PANDA-PANDA KU! Geram Junsu

Seketika ia langsung terlonjak dari tempat tidurnya dan menuju ke sumber suara yang dihasilka Taec. Setiba di ruang tengah, Junsu hanya melongo mendapati Taecyeon sedang bermain-main dengan boneka-bonekanya yang UTUH. Kemudian Taec mengambil sebuah boneka panda dan mengamatinya dengan seksama. Lalu perhatiannya tertuju pada Junsu yang masih keheranan

"Kenapa wajahmu seperti orang kebingungan seperti itu Junnie? Harusnya aku yang memasang tampang seperti itu. Aku bingung, bagaimana bisa boneka panda ini yang bahkan tidak lebih tampan daripada aku dapat membuat kau segitu paniknya?" Tanya Taecyeon sembari memasang wajah nya yang polos yang tak lama kemudian menjadi gelak tawa yang menggelegar

"Ap-apa yang…" Junsu masih kebingungan dengan situasi ini sampai akhirnya ia diam dan tersadar. Ia sedang dikerjai

"Kena kau Kim Junsu," ucap Taecyeon disela tawanya yang menggelegar.

"Yah, Ok Taecyeon! Kemari kau!" wajah Junsu yang sudah mulai berwarna merah padam karena kesal. Bagaimana bisa seorang Kim Junsu masuk dalam perangkap Taecyeon? Harusnya dia yang mengerjai Taecyeon. Aish.

Junsu yang kesal pun segera mengambil ancang-ancang untuk mengejar Taecyeon, tapi Taecyeon yang menyadari gelagat Junsu pun lebih dahulu lari lebih kencang agar tidak tertngkap oleh Junsu.

Aish anak itu. Omel Junsu dalam hati. Percuma saja mengerjarnya, Junsu tidak pernah menang melawan Taecyeon dalam adu lari. Saat Junsu ingin kembali masuk ke kamarnya, tiba-tiba saja terdengan bunyi sebuah ponsel

Ah, ponsel Taec ternyata, gumamnya. Ia pun segera meraih ponsel tersebut dan mengecek nya, disana terdapat sebuah pesan singkat yang baru masuk

"Selamat pagi, Oppa^^ sudahkah kah kau sarapan pagi ini?"

"Huh? Siapa ini?" Gumam Junsu, ketika ia melihat ke kotak pengirim, tertulis sebuah nama disana. Ahn Sohee.

.

.

.

.

.

..

"Selamat pagi Lee sonsaengnim," Ujar seseorang dibelakang Junho tiba-tiba. Junho pun menoleh ke asal suara tersebut

"Ah kau Chansung-ah, mengagetkan saja," ujar Junho sambil tersenyum, "Selamat pagi juga," sambungnya.

"Matamu terlihat agak hitam Junho, apa kau baik-baik saja?" Tanya Chansung khawatir, "Atau mungkin ini karena kau terlambat tidur tadi malam gara-gara membantuku belajar?"

"Tidak Chansung, aku baik-baik saja kok," ujar Junho yang masih menampilkan senyumnya yang sangat manis.

"Baiklah Junho. Hmm, omong-omong, apakah kau ingin ikut bersamaku ke konser Bi Rain? Aku sudah lama tak menontonnya konser secara live," kata Chansung

"Apa? kenapa kau mengajakku?" Tanya Junho polos, "Maksudku begini, kau tahu, orang-orang menjulukiku kutu buku. Ya, mereka benar. Aku rasa aku lebih nyaman berkumpul bersama buku-buku daripada pergi ke konser, aku hanya takut jika nanti kau menyesal telah membawa orang yang salah," lanjut junho lagi, ia takut salah paham, bisa saja Chansung mengira Junho tak menghargai tawarannya

"Sebenarnya aku beli tiket ini tiga, untuk aku, Jinwoon dan Kwon hyung. Tapi ntah kenapa mereka berdua mendadak tidak bisa. Aku jadi bingung harus diapakan tiket ini. Lagipula, kau harus istirahat belajar Junho-ya, kau belajar terlalu keras. Aku saja bahkan bisa mendengar erangan otakmu yang sudah bosan melihat rumus-rumus yang berbelit," kilah Chansung. Junho hanya terkekeh mendengar ocehan Chansung.

"Dan juga, jika kau memiliki seorang teman, kau boleh mengajaknya. Ingat, hanya seorang ya, karena tiketku Cuma ada tiga," sambung Chansung dengan mimic wajah yang sok serius

"Benarkah aku boleh mengajak seorang teman?" ulang Junho lagi untuk memastikan.

"Tentu saja," jawab Chansung yang keheranan melihat Junho begitu bersemangat.

"Baiklah kalau begitu Chansung. Oh ya, sekarang kau akan ke kelas Kim songsaengnim bukan? Ayo kita pergi bersama," Ujar Junho menarik tangan Chansung. Seandainya saja Junho tau kalau perlakuan kecilnya yang seperti itu saja dapat membuat jantung Chansung berhenti berdetak.

.

.

.

.

.

..

"Wooyoung-ah, aku pulang," seru Junho saat baru memasuki pintu apartemen nya

"Kenapa wajahmu kelihatan sangat gembira?" ujar Wooyoung yang ikut tersenyum melihat rona dari wajah sahabatnya ini.

"Tadaaaa!" teriak Junho sambil memamerkan dua lembar tiket yang berwarna hitam tersebut

"Apa itu?"

"Ini adalah tiket konser Bi Rain, penyanyi yang terkenal itu," jawab Junho sumringah

"Lalu?"

"Chansung memberiku dua buah tiket ini, dia bilang aku boleh mengajak seorang teman. Kau mau ikut kan wooyoung?" seru Junho yang kini tampak berusaha mengeluarkan aegyo nya

"Chansung siapa? Apakah dia kekasihmu Lee Junho?" Goda wooyoung dengan sebelah alis yang terangkat

"Apa—? oh tentu saja tidak!" ucap Junho berusaha menyembunyikan mukanya yang mulai memanas,"Ia hanya teman satu sekolah ku," tangkas Junho

"Benarkah?" wooyoung tak henti-hentinya menggoda Junho, tapi kali ini ia mulai mencolek bagian lengan Junho

"Yah Jang Wooyoung! Aishh!" umpat Junho, "kau jangan mengalihkan pembicaraan, kau ikut kan ke konser itu?" Tanya Junho ulang

"Tidak," ucap namja Busan itu singkat

"eh? Waeee?" Junho merengek protes

"Tidak apa-apa, aku hanya merasa lebih nyaman dirumah,"

"Kumohon wooyoung, kau ikutlah. Kau tahu, aku berusaha untuk menerima ajakan Chansung karena aku pikir aku bisa mengajakmu. Kalau kau tidak mau ikut, ya lebih baik aku belajar saja dirumah. Dan kau juga harus tau, aku juga sebenarnya tidak terlalu mengenal siapa Rain itu," sungut Junho panjang lebar

"Lalu kenapa kau terima tawaran orang itu? Batalkan saja," ucap wooyoung masih tak acuh

"Aku menerimanya karena kau. Kurasa kau butuh sedikit hiburan. Kau tak bisa terus-terusan murung seperti itu. Ayo, bangkitlah Jang Wooyoung, kau tak bisa selamanya terus-terusan terpuruk. Lagipula, kalau tidak salah Rain itu penyanyi favoritemu kan?" ucap Junho lagi. Kali ini wooyoung terdiam. Merenungi kata-kata sahabatnya itu. Ia tahu, Junho mempunyai maksud yang baik untuknya.

Lagipula Junho benar. Sampai kapan ia akan terus-terusan terpuruk? Lalu tiba-tiba saja wooyoung berbalik menghadap Junho

"Baiklah Lee Junho, aku akan ikut," katanya sambil tersenyum. Tak sampai beberapa detik, senyum manis wooyoungpun dapat mempengaruhi Junho untuk menarik bibirnya sehingga ia ikut-an tersenyum sekarang.

Ah, sudah lama sekali rasanya Wooyoung tidak pernah merasakan hiruk-pikuk ditengah konser.

.

.

.

.

.

..

"Yo, Nichkhun~" ucap Taecyeon merangkul pundak Nichkhun yang sedang sibuk bermain Playstation nya.

"Panggil aku 'Hyung'" ujar Nichkhun yang masih berkutat pada gamesnya, tidak mempedulikan kehadiran Taecyeon

"Hey, setidaknya tolong lihat aku sebentar," dengus Taec. Tapi tetap, tak ada reaksi yang berarti dari Nichkhun. Taec mengambil nafas panjang sebelum akhirnya Taecyeon memperlihatkan sebuah kertas berwarna hitam tepat di hadapan Nichkhun

"WOW! Itu tiket konser Rain bukan?" ucap Nichkhun dengan mata yang terbelalak, kini playstation itu ia biarkan begitu saja

"Kau sangat keren Taecyeon-ah," ujar Nichkhun sembari merangkul pundak Taec dan mulai mengacak-acak rambutnya

"Ya! Nickhkhun! Kau harus tau berapa lama waktu yang aku gunakan untuk membuat rambutnya menjadi keren seperti ini. Dan sekarang dengan berani-beraninya kau merusak rambutku!" sungut Taecyeon kesal.

Sementara itu, Nichkhun kembali tidak mempedulikan Taecyeon. Sekarang Nichkhun malah sibuk senyum-senyum sendiri melihat tiket didepannya

.

.

.

.

..

"waah, disini sangat ramai sekali ya," seru Junho sambil menyebarkan pandangannya menyusuri tempat Konser Rain diadakan,"

"Tentu saja, Junho. Rain itu salah satu artis papan atas Korea. Bahkan sekarang ia sudah jarang konser di Korea karena sudah sibuk di Luar Negeri, makanya orang-orang antusias saat mengetahui ia akan mengadakan konser di Seoul,"

"Ah, begitu" gumam Junho sambil mengangguk-angguk takjub

"Lekaslah kita masuk kedalam, aku tidak nyaman disini. Daritadi ada seseorang yang terus-terus memperhatikanku," ujar wooyoung kesal

"Uh? Nugu?" Tanya Junho

"Ntahlah, aku rasa aku belum pernah bertemu dengannya," jawab wooyoung sambil melangkah pergi. Saat baru saja berjalan beberapa langkah, Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang meraih pundaknya

"Hey, apa kau masih mengingatku?" ujar namja yang ada didepan wooyoung. Namja itu berkulit putih, sedikit agak tinggi dari wooyoung dan matanya yang bulat indah. Tapi rasanya wooyoung tidak mengenali wajah itu

"Maaf, sepertinya aku lupa. Apa kau mengenalku?" Tanya wooyoung balik

"Ngg, ya aku mengenalmu, tapi aku tidak tahu namamu. Maksudku, kita belum sempat berkenalan," ujar namja itu sambil menggaruk-garuk tengkuknya

"Benarkah? Kalau begitu aku rasa lebih baik kita berkenalan sekarang," ujar wooyoung sambil mengulurkan tangannya, "Wooyoung. Jang Wooyoung,"

"Ah, Jang Wooyoung! Tentu saja, JWY!" ujar namja itu tak bisa dimengerti Wooyoung

"Kalau aku Nichkhun Buck Horvejkul, tapi kau bisa memanggilku Nichkhun." Ujar namja dihadapan wooyoung

"Jadi, kapankah kita pernah bertemu?" Tanya wooyoung lagi

"Beberapa hari yang lalu, waktu itu aku melihatmu sendirian di taman malam-malam," ujar Nichkhun agak pelan. Deg! Kata-kata itu berhasil membuat wooyoung terpaku.

"Apa mau orang ini? Kenapa dia masih bisa mengenaliku?" ujar wooyoung dalam hati. Saat wooyoung mencoba hendak kabur, tiba-tiba saja namja yang bernama Nichkhun tersebut sudah memegang pergelangan tangannya.

"Aku hanya ingin mengembalikan ini," Ujar Nichkhun sembari menyerahkan sebuah saputangan yang berwarna biru tua

"Kau…. Kenapa sepertinya sangat takut melihatku?" Tanya Nichkhun lagi. Wooyoung yang Cuma menunduk tidak tahu harus bilang apa.

"Wooyoung-ah, cepatlah kita masuk, atau kita tidak akan kebagian tempat," seru Junho yang berada tidak jauh dari Wooyoung. Sontak saja wooyoung langsung mengangkat kepala dan hendak pergi kearah Junho

"Aku harus pergi sekarang," ucap Wooyoung tanpa ia sadari bahwa tangan Nichkhun masih memegang pergelangan tangannya.

"Tunggu sebentar!" ucap Nichkhun, "Nanti malam jam 8, aku tunggu kau ditaman kemarin di tempat yang sama. Dan ingat, aku tidak akan pergi sebelum kau datang," seru Nichkhun yang kini telah melepaskan tangan Wooyoung.

"Sampai jumpa nanti malam," Nichkhun kini yang sudah berjalan menjauhi Wooyoung tetap melambaikan tangannya sampai akhirnya ia hilang di kerumunan orang-orang.

Namja itu, kenapa aneh sekali? Pikir Wooyoung.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

Huaa! Akhirnya bisa juga menyelesaikan Chap 2 ini. Sebelumnya, icha ingin minta maaf yang sebesar-besarnya jika FF ini tidak seperti yang kalian harapkan, maklum, ini adalah FF pertama Icha hihihi^^

Oh iya, mohon REVIEW nya ya, soalnya Review dari kalian itulah yang bikini cha semangat ngelanjutin FF ini hohoho ^o^ THANKYOU~

NB: maaf ya kalau character IU disini icha bikin agak jahat ._.v