Euforia yang terjadi antar penonton yang menonton konser penyanyi terkenal Bi Rain membuat Nichkhun, Taecyeon dan Junsu menjadi sangat bersemangat. Peluh yang membasahi tubuh mereka diacuhkan begitu saja. Kini, diantara kerumunan beribu-ribu prang, mereka ikut bernyanyi, bergoyang dan bersorak. Ah, sudah berapa lama mereka tak merasakan kebabasan seperti ini?

Nichkhun yang sedaritadi asik berloncat-loncat mengikuti irama music terus bergoyang tanpa mengacuhkan 2 orang teman yang berada agak dibelakangnya. Ia bernyanyi mengikuti Rain. Ya, selain berakting, kualitas vocal Nichkhun tidaklah begitu buruk.

Sementara tak jauh di belakang Nichkhun, dua orang namja—Tacyeon dan Junsu—juga sibuk menikmati irama music. Tawa mereka seakan lepas. Taecyeon menoleh kearah Junsu, tawa junsu yang sangat manis membuat Taecyeon terkesiap. Diperhatikannya setiap lekuk wajah junsu sembari berpikir, tuhan memang telah menciptakan seorang makhluk yang sangat sempurna. Tak terlihat sedikitpun wajah penat yang biasa disembunyikan junsu. Mau tak mau hal itu membuat senyum Taecyeon mengembang. Ia bahagia bila melihat junsu tertawa. Ia bahagia jika melihat orang yang ia cintai dapat tersenyum senang.

Merasa diperhatikan, Junsu pun mendongakkan kepalanya keatas menghadap Taecyeon, ia bisa melihat deretan gigi Taecyeon karna sakin lebarnya senyum Taec kepadanya. Melihat hal itu, Junsu pun membalas senyuman Taec tak kalah lebarnya. Tapi kali ini ia bisa merasakan sesuatu menggenggam tangannya. Ah, sangat hangat sekali. Junsu pun membalas genggaman tangan Taecyeon. Mereka sempat berpandangan cukup lama, menghiraukan setiap hiruk pikuk disekitar mereka, sampai akhirnya Junsupun kembali menoleh kearah panggung, Taecyeon pun melakukan hal yang sama. Dalam kerumunan orang yang sangat ramai, mereka tak mau terpisah sedikitpun, genggaman tangan mereka makin erat mengartikan bahwa mereka selalu ingin menjaga satu sama lain.

Sementara disisi lain, Wooyoung sibuk dengan music yang mengalun kencang disisi mereka. Sementara Junho tampak risih. Ya, ini memang kali pertamanya junho menonton konser secara langsung, dan ia berjanji, ini juga akan menjadi kali terakhirnya. Apa bagusnya melihat seseorang bernyanyi diatas panggung dan banyak orang yang ikut bernyanyi seperti kesetanan? Maksud Junho, ia lebih nyaman berada di apartemen hangatnya sambil berkutat menyelesaikan soal-soal yang lebih menantang adrenalin otaknya? Tsk. Tanpa sengaja Junho mendesah kecil

Chansung yang sedari tadi hanya tertegun. Ia tidak bisa berkonsetrasi sedikitpun pada konser yang tengah berjalan. Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Tidak, tidak! Ini pasti salah, semuanya pasti salah! Teriaknya dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya. Mencoba menghapus segala kemungkinan yang ada dipikirannya. Ia kembali melihat Lee Junho cukup lama. Padangannya kosong, tak mengartikan sesuatupun, hanya ada tampak rasa frustasi yang mendalam.

.

.

.

.

..

"Ah, Jinjja! Konser tadi sangat menyenangkan, bukan? Tapi aku tidak mengerti kenapa konser itu cepat sekali selesainya—"

"Konser tadi sudah berlangsung selama 3 jam Khun-ah, kau saja yang terlalu menikmatinya dan lupa waktu," ucap junsu mengingatkan. Tapi Nichkhun menghiraukan dan tetap saja berbicara

"Kalian tahu? Tadi itu teriakan yang paling keras berasal dari suara ku! Aigoo, aku sangat merasa lega sekarang," Nichkhun yang tak henti-hentinya berceloteh sepanjang perjalanan menuju apartemen mereka. Memang semenjak memulai syuting drama terberu, tiga sekawan ini berpikiran untuk tinggal di tempat yang sama. Selain karena urusan pekerjaan, mereka bertiga memang sudah memiliki rencana akan tinggal disatu tempat sejak dulu.

Berselang sekitar setengah jam, mereka pun sampai ke dorm. Nichkhun yang sedri tadi tetap tidak berhenti berceloteh tiba-tiba langsung terdiam,

"Bukankah itu Sohee?" katanya sambil menyipitkan mata kearah pintu apartemen mereka. Sontak saja Junsu dan Taecyeon yang daritadi berjalan santai dibelakang Nichkhun menegang. Pandangan arah mereka tertuju pada satu titik yang ditunjuk Nichkhun

"Apa yang dia lakukan disini?" bisik Taec tak jelas bertanya pada siapa

"Tentu saja mencarimu," jawab Junsu ketus

"Yah Junnie, kenapa kau bilang seperti itu?" Tanya Taec lagi.

"Jangan pura-pura bodoh, Taec. Kau tahu kan kalau gadis itu menyukaimu," balas Junsu masih tetap dengan nada ketus. Kali ini ia memalingkan wajahnya.

"Hey, hey, ada apa ini? Kenapa malah rebut? Lebih baik kita segera menemuinya," seru Nichkhun yang kini tengah meraih kedua pundak temannya, mencoba melerai mereka berdua. Ketiga sekawan itu pun berjalan kearah Sohee yang terlihat sedang sibuk dengan Handphone nya. Menyadari ada suara langkah kaki yang mendekat, Sohee pun langsung menoleh kearah mereka

"Oh, Taec oppa! Baru saja aku akan menelpon mu," seru Sohee gembira. Kini ia tampak mengalihkan pandangannya kearah Nichkhun dan Junsu

"Annyeong Khun oppa, Junsu oppa," sapanya yang tampak ramah. Nichkhun membalas sapaan itu dengan lembut pula. Tapi lain hal nya dengan Junsu, ia tampak berusaha keras menyunggingkan sebuah senyuman dibibirnya.

"Lebih baik kita mengobrol didalam, disini sangat dingin sekali. Sohee ayo masuk," Taecyeon mempersilahkan Sohee masuk kedalam apartemen mereka. Ya, diluar cuacanya memang sangat dingin.

"Jadi, ada apa kau datang kesini, Sohee-ssi?" Tanya Taec sambil menutup pintu apartemen sembari melepaskan mantel tebalnya. Sementara itu Nichkhun sudah terlebih dahulu meesat kedalam kamarnya dan Junsu kini tengah duduk di sofa ruang tamu mereka.

"Ngg, Sebenarnya aku kesini hanya ingin mengantar Topokki buatanku, cuaca yang sangat dingin ini akan membuat Topokki bertambah lezat," seru Sohee sambil menyerahkan bungkusan Topokki hangat tersebut kerah Taecyeon. Sebelum mengambil Topokki itu dari genggaman Sohee, Taec menyempatkan diri untuk melihat kearah Junsu yang kini tampak sibuk dengan boneka pandanya.

"Tsk, kenapa harus sibuk dengan panda-panda itu lagi?" batin Taecyeon dalam hati. Kini ia mengarahkan pandangannya menuju Sohee dan mengambil bungkusan itu.

"Terimakasih Sohee, maaf telah merepotkanmu," ujar Taec sambil tersenyum

"Gwenchanayo oppa, kau makanlah yang banyak ya," ujar Sohee membalas senyuman Taec, "Ah, Junsu oppa juga coba lah Topokki ini," seru Sohee melirik kearah Junsu.

"Ne, akan aku makan nanti," ucap Junsu yang masih sibuk berkutat dengan boneka pandanya. Taec merasa sedikit jengkel. Apa salahnya ia melihat sedikit kearahku? Kenapa dia terlalu sibuk dengan boneka-boneka bodoh itu? Batin Taec kesal. Tiba-tiba saja Taec tersenyum penuh arti.

"Sohee-ya, apa kau tidak kedinginan menunggu diluar tadi?" Tanya Taec yang kini merubah posisinya menjadi duduk tepat di sebelah Sohee. Jarak diantara mereka berdua sangat dekat. Sementara Junsu terbelalak melihat adegan tersebut. ia katupkan bibirnya menahan kesal.

Taec yang menyadari rencananya menarik perhatian junsu berhasil, kini tetap melanjutkan aksinya,

"Ah, tanganmu sangat dingin, berapa lama kau tadi menunggu diluar Sohee?" ujar Taec yang kini menggenggam tangan Sohee

"Tidak lama kok oppa, hanya sekitar 15 menit saja," jawab Sohee dengan pipi yang merah padam.

Melihat tingkah Taec yang semakin menjadi, akhirnya Junsu memutuskan untuk berdiri

"Aku mau kekamar dulu. Sangat capek," ujarnya langsung melengos pergi. Taec pun melihat junsu yang sudah pergi, sebuah senyuman mengembang dibibirnya, "benar, Junnie sedang cemburu," ucapnya dalam hati

"Sohee-ya, besok kau ada jadwal syuting kan? Lebih baik kau pulang sekarang, beristirahatlah dengan baik," ucap Taec tiba-tiba.

"Ngg tapi oppa…" Sohee terkesiap. "Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu oppa. Sampaikan salamku untuk Junsu oppa dan Nichkhun oppa," kata Sohee akhirnya

Sesampainya didalam mobil, Sohee berpikir. Kenapa ia merasa ada yang aneh? Junsu oppa sepertinya tidak senang melihatnya. Lalu kenapa Taec oppa tiba-tiba menyuruhku pulang setelah Junsu oppa pergi? Batin Sohee

Segera saja ia menggeleng-gelengkan kepala menghapus semua pikiran negatifnya. Mobil Sohee pun melaju kencang membelah kota Seoul.

.

.

.

.

.

..

Sementara didalam kamar apartemen tiga sekawan itu, Nichkhun sedang berbaring diranjangnya sambil mengamati sebuah saputangan berwarna biru tua.

"Jang Wooyoung, mengapa kau membuatku begitu penasaran?" ucap Nichkhun lemah

"Jangan salahkan aku jika nanti rasa penasaran ini berubah menjadi perasaan yang lain," lanjut Nichkhun dengan sebuah senyuman tipis dibibirnya. Sejenak ia pun melirik kearah jam yang menggantung di dindingnya,

"Dua jam lagi," bisiknya lirih

.

.

.

.

..

Junho yang tengah berada di dapur membuatkan secangkir Teh untuk Chansung yang kini sedang ada di rumahnya. Sementara wooyoung? Saat baru sampai di rumah, ia langsung berlari kekamar dan sekarang sepertinya tengah terlelap.

"Maaf membuatmu repot sekali lagi, Junho-ya," ucap Chansung perlahan

"Tak apa Chansung. Kau kenapa sangat sungkan sekali kepadaku?" Tanya Junho terkekeh. Chansung pun tersenyum kecil kearah Junho. Kini chansung mencoba menelusuri apartemen Junho yang tidak terlalu kecil itu.

"Kau sepertinya sangat cinta sekali ya dengan semua pelajaran," seru Chansung tiba-tiba karena melihat banyak tumpukkan buku

"Itu Karena sudah terbiasa," jawab Junho yang kini membawakan teh untuknya

"Terbiasa?" Chansung membeo

"Ya, dulu aku itu sama seperti anak-anak biasa. Lebih memilih bermain daripada belajar. Tapi semenjak appa meninggal…" Junho menggantungkan perkataannya

"Semenjak appa meninggal, aku melihat umma bekerja sangat keras untuk mencukupi kehidupan kami. Aku jadi tidak tega. Tapi apalah yang dapat aku lakukan saat itu? Aku masih terlalu kecil untuk bekerja. Akhirnya aku mencoba belajar dan terus belajar hingga aku mendapatkan beasiswa seperti saat ini. Setidaknya ini bisa mengurangi beban yang ditanggung umma," jawab junho lirih. Tak terasa, sudah ada saja air yang menggenangi pelupuk matanya

"Junho-ya.." ucap Chansung sambil menepuk-nepuk punggung Junho, "Kau tak apa?" tanyanya kepada Junho

"Ya, aku taka pa Chansung-ah. Ah, aku ini babo sekali, sudah besar masih saja tetap cengeng," ucap Junho sambil memukuli kepalanya sendiri. tanpa ia prediksi, sebuah tarikan mengahantarkan badan kecilnya ke dada bidang Chansung

"Menangis itu manusiawi Junho. Menangislah kalau itu membuatmu lebih lega," ucap Chansung yang kini tengah memeluk Junho. Junho terkesiap dengan tingkah Chansung. Tetapi hatinya luluh, ntah kenapa, ada saja sebuah dorongan yang membuat Junho ingin lebih lama berada dipelukan Chansung. Ia pun melepaskan segala tangisnya di dada yang bidang itu

Selang beberapa saat setelah Junho selesai menangis, ia pun permisi ke Chansung untuk pergi kekamar kecil untuk membasuh muka. Kini tinggallah Chansung sendiri di ruang tamu tersebut. sambil menghela nafas berat, akhirnya Chansungpun mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa nomor,

"Hyung.. Jay hyung," ucap Chansung lirih ketika telponnya sudah tersambung

"Oh? Chansung? Bagaimana tadi? Apakah sudah ada perkembangan?" Tanya namja yang bernama Jay itu bertubi-tubi

"Aku tidak bisa hyung….rencana ini harusnya dibatalkan saja" Suara Chansung makin pelan dan terasa makin menusuk.

"Apa? Tapi kenapa?" Tanya Jay lagi

"Aku…sepertinya…aku tidak tega hyung," ucap Chansung kemudian

"Hey, sejak kapan kau punya rasa belas kasihan pada si kutu buku itu?" Tanya Jay heran.

.

.

.

.

..

Taman, 08.00pm

Nichkhun sesekali menggosok-gosokan kedua tangannya. Baru saja beberapa menit yang lalu ia sampai disebuah taman tempatnya bertemu dengan seorang namja aneh yang bernama Jang Wooyoung. Ia sangat tidak sabar. Berkali-kali ia melirik jam tangan yang melekat indah di tangannya yang putih.

10 menit….20menit…40menit.. dan satu jam pun telah berlalu. Tak ada tanda-tanda akan kehadiran Wooyoung

"Apa benar dia tidak akan datang?" desah Nichkhun kecewa. Tapi ntah apa yang membuat dirinya tetap kekeuh menunggu

.

.

.

.

..

"hooaaaam," Jang Wooyoung yang baru saja terbangun dari tidurnya yang lelap langsung beranjak menuju dapur. Ia baru ingat bahwa sejak pulang dari menonton konser tadi, ia belum sempat minum. Pantas saja tenggorokannya terasa begitu kering. Saat hendak berjalan menuju dapur, tak sengaja ia melihat jam yang menggantung di dinding, tepan jam 9 malam. Wooyoung terdiam agak lama sampai akhirnya matanya terbelalak.

Sontak saja ia langsung berlari kekamarnya dan mengambil mantelnya lalu memasangnya. Saat hendak berlari ke pintu, tiba-tiba saja ia berpikir, "Apa gunanya aku pergi kesana? Siapa tau saja dia sudah pergi karena bosan menunggu kan?" batin wooyoung. Ia kembali membalikkan arah langkahnya sebelum akhirnya sebuah bayangan tadi terputar kembali kedalam memorinya

""Nanti malam jam 8, aku tunggu kau ditaman kemarin di tempat yang sama. Dan ingat, aku tidak akan pergi sebelum kau datang,"

Tapi bagaimana jika dia benar-benar menungguku? Batin wooyoung kembali. Ia mengadahkan pandangannya keluar jendela. Salju memang tidak turun selebat kemarin-kemarin, tapi tetap saja angin dingin yang berhembus kencang tersebut bisa saja membuat beku seluruh tubuh.

"Arghh, orang itu menyusahkan saja!" gumam wooyoung kesal sambil langsung melejit keluar.

.

.

.

"Aishh jinjja, dingin sekali!" rutuk Nichkhun sembari menggosok-gosokkan kedua tangannya. Nichkhun sekarang sangat was-was. Mungkinkah namja itu sungguh-sungguh tidak mau datang? Tapi kenapa? Apa dia takut padaku? Apa wajahku tampak seperti pedofil yang suka menculik anak-anak? Ah tentu saja tidak! Aku ini tampan dan rupawan! Batin Nickhun.

"Ya!" panggil sebuah suara dibelakang Nichkhun. Sontak saja Nichkhun membalikkan badannya kebelakang. Ia mendapati seorang Jang Wooyoung dengan nafas yang tidak beraturan berdiri tak jauh darinya. Langsung saja Nichkhun berdiri dari ayunan yang sedaritadi ia duduki sambil tersenyum lebar

"Aku benar, kau pasti akan datang," ucap Nichkhun masih dengan senyum yang mengembang

"Jangan terlalu percaya diri dulu, sebenarnya tadi aku tidak ingin datang, tapi tadi aku lewat didepan taman ini dan melihatmu masih menunggu. Ya sudah aku hampiri saja, aku tak mau melihat kau mati konyol karena kedinginan dan aku menjadi tersangka satu-satunya," kilah wooyoung berbohong.

"Jinjja?" Tanya Nichkhun sambil menaikkan kedua alisnya

"Memangnya ada apa sih?" Tanya wooyoung sedikit ketus

"Yah, kau kenapa begitu galak padaku? Aku hanya ingin mengembalikan ini kok," ujar Nichkhun sambil menyodorkan sebuah saputangan, "Kemarin waktu pertama kali kita bertemu, kau tak sengaja menjatuhkan ini,"

"Jadi kau berlama-lama menungguku disini hanya untuk mengembalikan saputangan ini?" seru wooyoung tak percaya

"Kau ini gila atau kelewat nekat?" lanjut wooyoung lagi

"Hm? Kenapa memang?" Tanya Nichkhun polos

"Cuaca begitu dingin, dank au mau mati kedinginan hanya untuk saputangan ini?" seru wooyoung sekali lagi sambil mengangkat saputangan itu tepat dihadapan Nichkhun

"Tidak juga," sanggah Nichkhun, "selain mengembalikan saputangan ini, aku juga ingin bertemu denganmu," ucap nichkhun seraya menurunkan saputangan yang tepat berada dihadapannya

"M-mwo?" ucap wooyoung terbata-bata melihat senyuman Nichkhun yang ia rasa dapat membunuh siapapun yang melihat

"Ayo kita pergi, disini sangat dingin sekali," ujar Nichkhun sambil memasang kancing mantelnya,

"Tapi kita mau kemana?" Tanya wooyoung yang masih keheranan

"Kau ikuti saja aku, kalau kuberi tahu, bukan kejutan lagi namanya," jawab nichkhun sembari menarik tangan wooyoung

"Kau…" ucap wooyoung mencoba menahan badannya agar tidak tertarik oleh Nichkhun. Hal itu pun menyebabkan Nichkhun menoleh kebelakang kearah wooyoung, wooyoung pun melanjutkan perkataannya

"Kenapa kau suka sekali membuat keputusan sepihak seperti itu?"

Tanpa mereka sadari, seseorang yeoja yang tak kasat mata sedang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan tidak suka. Ia pun terbang melayang keudara dengan kecepatan tinggi sambil menggerutu

.

.

.

.

To Be Continued

.

Note: akhirnya Chap 3 ini keluar^^ terimakasih buat semua Reviewer, tanpa kalian mungkin icha ga bakal semangat ngelanjutin FF ini ^^

REVIEW?