"Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana sih?" dengus Wooyoung kesal. Sejauh ini, ia masih tidak tahu kemana Nichkhun akan membawanya.

"Tidak ada, aku hanya ingin berjalan-jalan saja" jawab Nichkhun santai

.

.

.

.

..

STAY HERE BESIDE ME: CHAPTER 4

KHUNYOUNG3

CHANHO3

TAECSU3

2PM3

WARNING! BOYXBOY

INSPIRED BY: CHILLING ROMANCE

.

.

.

.

ICHANNIEE FANFICTION~

HAPPY READING~^^

.

.

.

Chansung duduk berhadapan dengan Jaybum diruang tamu rumah mereka. Jay menatap sepupunya tanpa ekspresi yang dapat menjelaskan apa isi hatinya nya sekarang.

"Jadi kau sudah tidak mau membantuku lagi, chansung?" ucap Jay dengan suara berat

"Bukan begitu hyung," jawab Chansung sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "aku rasa, bukan salah Junho kalau Fei menyukainya. Lagi pula, aku perhatikan ia juga tidak pernah tertarik dengan wanita apalagi Fei. Dan dia lebih mementingkan beasiswa nya, hyung" chansung berkata agak gugup dan tidak berani menatap wajah apalagi mata hyung nya ini.

"Tapi tetap saja, Fei memutuskan hubungan kami gara-gara kutu buku itu! Dan dari awal kau juga tidak menyukainya kan?" balas Jay yang sekarang tampak mulai kesal.

"Ya, kau benar hyung. Tapi dulu itu aku tidak terlalu mengerti masalahnya. Awalnya ku kira ia yang mendekati Fei, tapi ternyata aku salah hyung. Lagipula akhir-akhir ini aku mulai berpikir, ini adalah masalah antara kau, Junho dan Fei. Aku tidak bisa ikut campur terlalu jauh," lanjut Chansung lagi. Ntah kenapa ia merasa yakin dengan kata-katanya kali ini.

Jay hanya dapat berdecak kesal menatap Chansung. Bagaimana bisa adik sepupunya ini yang dulu sangat menggebu-gebu untuk membalaskan dendam Jay kepada Chansung tiba-tiba kini berubah drastis untuk keluar dari masalah ini

"Aku memang tidak bisa menaruh kepercayaan besar padamu Chan," desis Jay

"Maafkan aku hyung," kata-kata maaf chansung diabaikan oleh Jay yang sekarang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Sebuah bunyi hempasan pintu yang cukup keras dapat membuat chansung bergidik ngeri melihat amarah hyung-nya tersebut.

Sampai sekarangpun Chansung sendiri masih tidak mengerti kenapa ia tak rela melakukan hal itu kepada Junho. Mungkinkah ini hanya faktor kasihan? Ya, benar! Ini pasti hanya karena kasihan. Ia merasa kasihan pada Junho yang harus mati-matian mempertahankan beasiswanya yang sangat susah untuk didapatkan. Ia hanya kasihan pada Junho karena keluarga nya yang sudah tidak lengkap lagi.

Tapi, apakah rasa ingin menjaga Junho dan selalu ingin bersamanya, apakah itu termasuk rasa kasihan? Apakah rasa sakit yang ia rasakan saat melihat wajah murung Junho termasuk kasihan? Chansung mengacak-acak dan meremas rambutnya frustasi. Apa yang akan ia lakukan sekarang?

.

.

.

..

Sohee yang tengah berbaring di tempat tidurnya yang empuk sembari tersenyum memandangi foto seorang namja. Sesekali ia menyentuh layar ponselnya seakan-akan dapat merasakan foto namja tersebut secara nyata.

"Ok Taecyeon oppa, apakah kau dapat merasakan perasaanku padamu?" gumam Sohee pelan. Ia sendiri tak tahu pasti sejak kapan ia mulai menyukai Taecyeon. Yang jelas, tiap kali ia bersama Taecyeon, ia merasa sangat nyaman dan rasa nyaman ini tak pernah ia rasakan saat bersama orang lain. Ya, hanya saat bersama Taecyeonlah kenyamanan itu muncul. Rasa lelah yang tengah menyelimuti Sohee saat syuting dapat sirna tak berbekas saat Taecyeon menghampirinya dan mengajaknya bercanda. Sohee tersenyum sendiri mengingat wajah namja yang telah membuatnya jatuh cinta ini.

Tapi tiba-tiba, senyuman dari wajah chubby Sohee sirna. Ia mulai berpikir sejenak.

"tapi, apa yang sebenarnya sedang terjadi diantara Taec dan Junsu? Kenapa mereka kadang terlihat begitu dekat, tapi kadang mereka juga terlihat seperti seorang musuh," gumam sohee sambil mengerutkan kedua alisnya.

Sohee yang menyadari sesuatu kemudian terlonjak dari tempat tidurnya sembari berlari kecil kearah Laptopnya. Kini ia tengah membuka file foto yang berisi foto-foto yang ia ambil secara paparazzi saat syuting bersama Taecyeon, Junsu dan Nichkhun.

Ia mengamati setiap foto yang muncul di Laptop dengan seksama. Mata kecilnya semakin ia sipitkan. Alisnya berkerut melihat kejanggalan dari foto-foto tersebut. kini ia menarik nafas panjang dan menyandarkan badannya di kursinya.

"Ternyata, sepertinya dugaanku tidak salah," lirih Sohee dengan wajah sedih. Ia kembali mengamati setiap foto dilayar laptopnya. Kini tengah terpampang fotonya berdua dengan Nichkhun sambil dua jari mereka membentuk huruf "V" . Tapi bukan itu yang tengah diperhatikan sohee, yang ia perhatikan kali ini adalah gambar Taecyeon dan Junsu yang tidak sengaja terpotret dikamera Sohee. Taecyeon yang tengah memeluk Junsu dari belakang sambil tersenyum girang kearah Junsu. Sedangkan Junsu terlihat mem-pout-kan bibirnya dengan ekspresi yang tampak kesal, tapi ntah kenapa, itu membuat Junsu bertambah imut.

Sohee kembali menekan tombol "next" kali ini terdapat foto Taecyeon, Nichkhun dan Junsu sedang duduk bertiga. Nichkhun yang duduk ditengah tampak antusias melihat sebuah kura-kura kecil yang lucu. Sementara Taecyeon dan Junsu sama-sama bersandar di kursi mereka dan saling bertatapan penuh arti.

Ia pun kembali melihat foto yang selanjutnya, kini terpampang di layar laptop foto Sohee dan para pemain lainnya serta kru sedang makan bersama. Semuanya terlihat menghadap ke kamera termasuk Junsu dan Taecyeon. Jika diamati sekilas, memang semuanya tampak wajar. Tapi mata Sohee tidak bisa dibohongi. Walaupun samar tapi ia dapat melihat cukup jelas tangan Taecyeon tengah memegang tangan Junsu yang terletak di meja makan.

"Apakah hubungan mereka sespesial itu?" gumam sohee lirih. Ia teringat kejadian kemarin saaat ia akan mengantarkan Topokki ke apartemen Taecyeon. Kenapa sikap Junsu terlihat sangat aneh? Apakah ia tak enak badan? Atau cemburu?

.

.

.

.

.

"Ya! Sebenarnya kita akan kemana sih?" wooyoung yang kali ini benar-benar kesal karena Nichkhun. Nichkhun yang sedaritadi hanya tersenyum saja, kini mengarahkan jarinya tepat kedepan mereka. Wooyoung menyipitkan mata untuk melihat apa yang sedang terjadi.

"Pertunjukan sulap?" gumam wooyoung pelan.

"Benar sekali! Sebenarnya, aku tidak punya ide untuk membawa mu kemana, tapi untung saja aku ingat bahwa malam ini ada pertunjukan sulap," gumam Nichkhun sambil menggaruk lehernya.

"Tidak begitu buruk," wooyoung kini menatap Nichkhun dalam, tak beberapa lama kemudian sebuah senyum tipis mulai mengembang menghiasi wajah mungil Wooyoung. Nichkhun tertegun sejenak. Ini pertama kalinya Wooyoung tersenyum padanya. Tak bisa dipungkiri, senyuman namja chubby itu sangatlah manis, sampai-sampai membuat Nichkhun tertegun di tempat.

"Cepatlah, kalau tidak orang akan semakin ramai," seru Wooyoung sambil menarik tangan Nichkhun. Kali ini ia pasrah, terserah namja chubby itu mau menariknya kemana saja. Kehangatan tangan wooyoung terasa jelas menyentuh telapak tangan Nichkhun.

Kini, Nichkhun dan Wooyoung telah berada diantara kerumunan orang yang hendak menyaksikan pertunjukan sulap jalanan itu. Sebenarnya, Wooyoung memang tertarik pada sulap, itu sebabnya ia sangat gembira.

Wooyoung memperhatikan pesulap itu dengan seksama sesekali bertepuk tangan dan berdecak kagum melihat keahlian pesulap itu. Kali ini, si pesulap mengambil sebuah kertas kosong dan meremukkannya dengan kedua tangannya. Tapi ketika tangannya dibuka, kertas polo situ telah berbentuk menjadi pesawat terbang mainan. Wooyoung pun kembali bertepuk tangan sambil sedikit bersorak. Si pesulap pun melemparkan pesawat mainan tadi ke arah samping panggung. Mata sipit Wooyoung tanpa sadar mengikuti arah gerak pesawat tersebut, tetapi tiba-tiba…

DEG! Senyuman lebar wooyoung kini pun menghilang, wajahnya berubah menjadi pucat dalam sekejap. Disamping penonton, ia melihat seorang gadis belia berdiri dengan keadaan penuh darah, wajah yang sangat pucat dengan mata hitam sedang memandang wooyoung. Wajahnya hancur seperti baru kecelakaan.

Refleks, wooyoung berjalan mundur beberapa langkah sampai akhirnya badannya menghantam sesuatu, dengan nafas yang di tahan dan mata yang membulat mengantisipasi apa saja yang akan terjadi, Wooyoung pun segera berbalik dan mendapati Nichkhun tengah menatapnya heran disana.

"Hey, apa yang terjadi?" Tanya Nichkhun cemas yang melihat perubahan besar pada ekspresi wooyoung. Wooyoung yang seperti orang kebingungan kembali menoleh kearah sebelah panggung. Dan kini, ia menghembuskan nafasnya lega.

"Tidak apa-apa, hyung. Ku rasa sebaiknya kita mencari tempat lain," jawab wooyoung sambil menunduk

"Tapi kenapa? Bukankah kau sangat senang disi—" belum sempat Nichkhun menyelesaikan kalimatnya, wooyoung pun memotongnya

"Aku tidak suka disini!" ucap Wooyoung dengan nada tinggi sembari berjalan menjauhi tempat pertunjukan tersebut.

"Hey, tunggu! Kau mau kemana Jang Wooyoung?" teriak Nichkhun sambil berlari mengejarnya

.

.

.

"sebenarnya kau mau kemana?" Tanya Nichkhun lagi yang kini telah berhasil mengimbangi jalan Wooyoung. Setelah cukup lama mereka berjalan, baru akhirnya Wooyoung berani membuka suara

"Aku mau kesini," ujar wooyoung pelan sambil berdiri di depan sebuah bangunan.

"Kedai soju?" Nichkhun mengerutkan alisnya sambil menatap wooyoung dalam-dalam. Merasa diperhatikan, akhirnya Wooyoung pun mengadahkan kepalanya keatas hingga tatapannya dengan Nichkhun beradu.

"Memangnya kenapa?" balas wooyoung bertanya dengan ekspresi datar. Seperti ia sangat lelah sekali. Nichkhun makin bertambah heran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Wooyoung. Nichkhun mengikuti wooyoung masuk ke kedai soju tersebut.

"Aku pesan tiga botol!" seru wooyoung kepada pelayan disana saat baru duduk di dalam kedai tersebut

"Apa kau gila? Kau bisa mabuk!" tegur Nichkhun memperingatkan. Tapi wooyoung diam saja, tampak acuh.

Nichkhun hanya dapat memperhatikan wooyoung yang meminum soju seperti orang gila. Ia memang sudah memiliki firasat sepertinya wooyoung memiliki masalah yang tidak sepele. 3 botol sojupun dihabiskan oleh wooyoung sendiri. kini mukanya tampak memerah dan kesadarannya sudah sebagian hilang. Dengan sisa tenaga yang ada, wooyoung pun kembali berseru

"Aku tambah 3 botol lagi!" teriaknya sambil meminum sisa-sisa soju yang ada.

"Ini sudah cukup," balas Nichkhun tampak prihatin melihat kondisi wooyoung. Kini dia segera memapah wooyoung keluar dari kedai itu. Agak susah, karena jalan wooyoung sudah mulai sempoyongan akibat soju tadi. Nichkhun pun menyetop taksi yang lewat dan mulai masuk kedalam nya bersama wooyoung.

"Kita mau kemana?" Tanya supir taksi tersebut

"Kita ke apartemen ku saja," ucap Nichkhun cepat sambil menyebutkan alamat apartemennya.

Sesampainya di apartemen, Nichkhun segera membopong wooyoung yang sudh tertidur kedalam kamarnya. Setelah membaringkan wooyoung ditempat tidur, nichkhun pun berkata lirih

"Maafkan aku, Uyoungie. Bukannya aku bermaksud lancing, tapi aku tak tahu kau tinggal dimana," lirih Nichkhun

Tiba-tiba saja mata nichkhun terasa sangat berat dan tubuhnya terasa sangat lelah. Ia segara mengambil tempat disamping wooyoung untuk tidur, dan ntah bagaimana, ia terlelap begitu saja

Rasanya baru beberapa menit Nichkhun tertidur, tapi tiba-tiba ia merasakan ada sebuah cairan yang jatuh di wajahnya. Setetes, dua tetes dan akhirnya pada tetesan ketiga, nichkhun pun mulai membuka matanya, mata nya mengerjap-ngerjap. Air itu terasa amis ketika di bau-i nya. Ketiga penglihatan nichkhun sudah sepenuhnya pulih, mata nya seketika melotot. Sekitar 30cm dihadapannya, terpampang jelas wajah wajah seorang gadis yang hancur dengan banyak darah di wajahnya. Bibirnya yang sobek menganga jelas membuat Nichkhun semakin tak berkutik. Bulu kuduknya berdiri, ia hendak bergerak, tapi tak bisa. Sampai akhirnya sebuah telapak tangan menutupi matanya hingga ia tak lagi melihat sosok yang mengerikan itu.

"Tahan sebentar, dia akan segera pergi" Ucap sebuah suara disampingnya. Dengan cepat ia langsung dapat mengenali bahwa itu adalah suara wooyoung.

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

Jeongmal mianhae atas keterlambatan updatenyaL beberapa hari ini icha sgt sibukL icha harap ff ini sesuai dgn harapan kalian ya walaupun lebih pendek dari biasanya ehheeh *ditimpuk* well, selamat membaca dan jangan lupa REVIEW^^