STAY HERE BESIDE ME: CHAPTER 5
KHUNYOUNG3
CHANHO3
TAECSU3
2PM3
WARNING! BOYXBOY
INSPIRED BY: CHILLING ROMANCE
.
.
.
.
ICHANNIEE FANFICTION~
HAPPY READING~^^
Badan Nichkhun terlalu lemas untuk membalas perkataan Wooyoung. Semua ini persis bagai sebuah ilusi semata. Ya, ini pasti hanya bayangannya saja. Makhluk halus itu tidak nyata kan? Ia mencoba memejamkan matanya yang masih tertutupi oleh tangan Wooyoung. Tubuhnya terlalu lemas untuk bertanya apa yang sedang terjadi
.
.
.
..
Sejak kejadian semalam, Wooyoung tidak bisa melanjutkan tidurnya, walaupun kepalanya sangat pusing, tetapi tetap ia putuskan untuk bangkit dari tempat tidur. Waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Wooyoung melirik kearah Nichkhun yang masih tertidur pulas disampingnya dan termenung sejenak. Tidak. Namja ini tidak boleh mengetahui siapa sebenarnya diri Wooyoung. Mereka baru saja berkenalan, tidak mungkin ia langsung menceritakan siapa dia sebenarnya, batin Wooyoung.
Mata Nichkhun perlahan terbuka, mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan matanya yang telah terbiasa gelap dengan sinar kamar yang terang. Wooyoung masih tetap memperhatikan Nichkhun.
"Bagaimana tidurmu, hyung? Apakah nyenyak?"
Nichkhun segera menoleh kearah Wooyoung, menyipitkan mata. Seolah ia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
"Maaf merepotkan mu, hyung. Aku akan pulang sekarang," ujar Wooyoung datar sambil hendak pergi dari tempat tidur. Tapi secepat apa wooyoung berusaha pergi, secepat itu pula tangan Nichkhun meraih tangannya.
"Tadi malam itu… apa?" ada sebuah raut ketakutan di wajah Nichkhun. Tetapi jika dicermati lebih teliti, raut wajah penasaran lebih besar daripada raut wajah ketakutan.
"Semalam? Memangnya ada apa?" ujar Wooyoung lagi dengan nada yang sama herannya.
"Ya benar, semalam. Ada sesuatu yang mengerikan dihadapanku dan tiba-tiba saja kau menutup mataku.." jawab Nichkhun dengan nada yang tidak pasti. Seperti orang linglung.
"Apa yang kau maksud hyung? Sepertinya tadi malam tidurmu sangat nyenyak, dan aku juga tidak pernah menutup matamu," kilah wooyoung
"Apa? tidak mungkin! Aku melihatnya dengan jelas, dan aku merasakan tanganmu dengan pasti berada tepat diatas mataku," sanggah Nichkhun
"Hyung, pasti kau hanya bermimpi, itu sangat tidak mungkin terjadi," ucap Wooyoung lagi dengan nada yang sama datarnya
"Tidak mungkin hanya mimpi," lirih Nichkhun frustasi. Tapi, apakah mungkin itu hanya mimpi? Tapi mengapa terasa begitu nyata dan mengerikan? Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah gadis itu berada tepat di hadapannya. Wooyoung pun meraih pundak Nichkhun, mencoba menenangkannya.
"Hyung, mimpi itu hanya bunga tidur, siapapun bisa saja mendapatkan mimpi buruk seperti yang kau alami. Percayalah padaku, semua itu hanya mimpi," ujar wooyoung lagi. Nichkhun hanya dapat menunduk, berpikir keras bagaimana hal yang begitu nyata tersebut hanya mimpi.
"Baiklah, sepertinya aku sudah terlalu banyak merepotkan mu hyung, aku akan pulang sekarang sebelum teman-teman mu dikamar yang lain bangun." Ucap wooyoung. Tapi lagi-lagi, pergelangan tangannya ditarik oleh Nichkhun. Wooyoung yang melihat hal tersebut mengangkan sebelah alisnya sebagai tanda Tanya.
"Berapa nomor ponselmu?" ucap Nichkhun dengan wajah innocence nya.
.
.
.
.
Dering ponsel membangunkan junsu dari tidur pulasnya. Dengan kesal ia pun meraih ponselnya sambil menggerutu. Siapa memangnya yang akan mengirimkan pesan sepagi ini padanya? Huh.
Ketika matanya sudah terbiasa dengan cahaya ponsel, ia dapat melihat nama yang tertera di laying ponselnya. Ahn Sohee
"junsu oppa, apakah kita dapat bertemu hari ini? Ada yang perlu aku bicarakan. Kita bertemu di café biasa^^ "
.
.
.
..
"kenapa kau harus mengganggunya juga?" lirih Wooyoung pelan sembari berjalan. Ia berusaha berbicara selambat mungkin karena tidak ingin ada orang yang melihat ia berbicara "sendiri"
"Kalian itu baru saja berkenalan, tapi mengapa sudah sekarab itu?!" ketus gadis cantik disamping Wooyoung. Sebenarnya, gadis itu akan terlihat lebih cantik jika saja wajahnya sedikit memiliki rona, tidak pucat pasi seperti saat ini.
"Itu hanya hal biasa! Aku juga ingin mendapatkan teman!" emosi Wooyoung yang kini sudah pada puncaknya membuat IU seketika terdiam. Wooyoung benar-benar merasa terkekang akan sikap posesif IU ini.
"Kenapa kau selalu mengganggu orang-orang yang berada di sekitarku?" desah wooyoung putus asa.
"Tidak juga, setidaknya aku tidak pernah mengganggu temanmu yang bernama Junho itu. Yah, walaupun terkadang kalian bertingkah seperti sepasang kekasih dengan perhatiannya padamu yang sangat dramatic itu"
"Itu karena kau sudah berjanji padaku. Lagipula, awas saja jika kau benar-benar mengganggu Junho, kau akan lihat sendiri akibatnya," balas Wooyoung tak acuh sembari melanjutkan jalannya. IU mengangkat kedua alisnya dan ikut berlanjutkan berjalan dibelakang wooyoung. Namun tiba-tiba, Wooyoung menghentikan langkahnya dan dengan cepat berbalik ke arah IU
"IU-ah, tadi kau bilang apa?" kata wooyoung sambil menatap IU dalam-dalam
"Apa? memangnya aku bilang apa?" Tanya IU heran melihat sikap aneh Wooyoung.
"Ngg, tidak. Tidak jadi." Potong Wooyoung pelan. IU semakin mengerutkan dahi nya.
"Sepertinya ada yang tidak beres denganmu, oppa. Kau tidak seperti biasanya," seru IU sembari menampilkan poutnya.
"Aku akan pergi. Aku akan segera kembali jika pikiranmu sudah sehat oppa. Setidaknya sekarang kau tidak sedang bersama namja menyebalkan itu," lanjut IU disusul dengan sebuah ledakan kecil dan dalam sekejap gadis itupun menghilang.
Wooyoung masih mematung di tempatnya sampai akhirnya sebuah senyuman menghiasi wajahnya makin lama makin lebar.
"Benar! Benar sekali! Mengapa baru terpikir oleh ku sekarang?" pekik Wooyoung kegirangan. "Junho-yaaaa, tunggu akuu!" teriak wooyoung sambil berlari menuju arah rumah yang ia tempati bersama Junho.
.
.
.
.
"Tidak! Jawabanku sudah sangat jelas Wooyoung. Ide mu terlalu gila," dengus Junho sambil mengalihkan pandangannya dar wajah wooyoung yang mulai memelas.
"Ayolah Junho, hanya kau satu-satunya harapanku, lagipula ini kan hanya berpura-pura, tidak untuk sebenarnya," Wooyoung kembali memunculkan wajahnya yang memelas, berharap Junho mau membantunya. Dan sepertinya, siasat wooyoung berhasil. Junho kembali menoleh kearahnya dengan wajah yang ragu-ragu.
"Jadi, apakah dengan kau mengaku gay, kau yakin hantu itu akan menjauhi mu?" ucap Junho sedikit ragu
"Tentu saja aku yakin! Dan satu-satu nya orang yang bisa ku harapkan menjadi partner 'gay' ku hanya dirimu," ulang wooyoung lagi
"Coba jelaskan bagaimana rencanamu,"
"jadi begini, aku akan mengatakan pada IU bahwa aku menyukai mu dan aku akan segera menyatakan cinta padamu. Aku juga sudah mempersiapkan tempatnya di sebuah café yang—yahh—cukup romantic menurutku.."
"Hey, mengapa harus di café? Kenapa tidak ditempat yang lebih sepi? Apa reaksi orang-orang yang akan melihat kita?" protes junho cepat.
"Itulah tujuanku! Aku ingin membuat semuanya mengalir begitu natural. Di café itu, kupastikan IU akan menyaksikan bagaimana caraku menyatakan cinta padamu, dan setelah ia tahu bahwa aku tidak menyukai perempuan, pasti ia akan pergi menjauh dariku!" ucap wooyoung sambil mengembangkan tangannya penuh kemenangan.
"Aku memang sangat cerdas," ucapnya lagi membanggakan diri.
"Cih, selalu saja narsis sendiri," ucap Junho yang masih tidak mempercayai ide gila temannya ini.
.
.
.
.
.
Junsu sibuk menata rambutnya didepan meja rias dan sesekali menyemprotkan sedikit parfum ke pakaiannya. Tanpa junsu sadari, ada seseorang yang telah berdiri cukup lama didepan pintu kamarnya
"Kau mau kemana? Pagi-pagi begini sudah rapi," ucap Taecyeon dengan mata yang masih setengah terbuka
"Aku ada janji dengan seorang teman. Kau cepatlah cuci muka sana, wajahmu kelihatan sangat memprihatinkan," ucap junsu sambil terkekeh
"Yah, walaupun memprihatinkan, tapi menurutmu tetap tampan kan?" Taecyeon tersenyum sambil mengangkat alis untuk menggoda Junsu
"Dasar raksasa ini, cepat sana cuci wajah dan sikat gigimu," perintah Junsu yang terdengar seperti seorang ibu yang memerintahkan anaknya
"Tidak mau," Taecyeon berpura-pura membuang muka dari junsu
"Huh?"
"Mana 'Morning Kiss" ku?" Tanya Taecyeon yang telah memejamkan mata sembari menunjuk bibir tipisnya. Junsu hanya dapat menggeleng-geleng melihat tingkah kekasihnya ini. Akhirnya ia pun mengambil sebuah boneka panda yang terletak tidak jauh darinya dan menautkan bibir taecyeon dengan bibir boneka itu. Seketika itu Taecyeon langsung membuka matanya dan protes
"Kenapa aku harus mendapatkan morning kiss dari boneka itu?" desah Taecyeon dengan nada kecewa yang dibuat-buat
"Lebih baik kau cepat beres-beres sebelum jatah makananmu dihabiskan oleh Nichkhun!" ancam Junsu sambil melirik kearah Taecyeon. Mendengar nama makanan, Taec pun langsung melotot dan berlari kea rah meja makan
"Hey, Thailand! Jangan habiskan jatah sarapanku!"
.
.
.
.
..
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Mandoo?" Tanya Junsu sembari menyeruput segelas kopi yang ada digenggamannya. Ia sengaja memanggil Sohee dengan sebutan Mandoo, karena orang-orang yang cukup dekat dengan Sohee selalu memanggilnya Mandoo, dan Sohee sendiri yang meminta agar Junsu juga memanggilnya demikian. Suasana café itu begitu sepi, inilah yang disukai oleh mereka dari café ini.
"Sebelum aku bertanya, ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan kepadamu, oppa." Jawab Sohee dengan senyum yang amat manis, tapi juga menyimpan kepedihan didalamnya. Ia pun mengeluarkan Laptopnya dan memperlihatkan foto-foto yang semalam juga ia lihat.
"Hey, ini foto-foto kita saat syuting kan? Ah, sangat tidak terasa sekali drama itu cepat tamatnya," seru Junsu sambil tertawa melihat foto-foto itu
"Jangan perhatikan objek utamanya oppa, perhatikan yang dibelakang mereka," ucap Sohee dengan senyuman miris. Junsu sedikit tersentak setelah tahu apa yang dimaksud oleh Sohee. Ia tak habis pikir, bagaimana yeoja ini bisa memperhatikan hal-hal kecil seperti ini.
"Sebenarnya ada apa dengan dirimu dan Taecyeon oppa?" Tanya Sohee lagi
"Apa yang kau maksud? Tentu saja kami itu adalah teman, teman baik" ucap Junsu sedikit terbata-bata
"Teman? Apakah benar hanya teman? Tapi menurutku, perhatian yang kalian bagi satu sama lain terasa begitu special," ucap Sohee seakan menyudutkan Junsu
"I-itu hanya perasaanmu saja sohee, sikapku pada Taecyeon seperti sewajarnya seorang teman," Junsu yang mulai panic merangkai kata-kata bohong dadakan tampak tak bisa mengendalikan wajah tegangnya
"Aku tidak cukup bodoh untuk tertipu kata-kata mu, oppa" ujar sohee lagi masih dengan senyum yang sama manisnya
"Tapi aku hanya ingin memberitahumu, apa tanggapan public jika mereka tahu kau dan Taec oppa menjalin sebuah hubungan special?" kini sohee berbicara dengan suara rendah dan tampak sangat berbahaya dengan mata tajamnya
"Kau tahu kan, Taec oppa adalah tulang punggung keluarga nya sekarang, dan apa yang akan terjadi jika karirnya yang telah susah payah ia bangun runtuh hanya gara-gara kau? Bayangkan seberapa menderitanya ia nanti," Junsu menunduk semakin dalam, berusaha untuk tidak membayangkan apa yang dikatakan oleh Sohee. Tidak, ia tak mau hal itu sampai terjadi.
"Rahasia kalian aman ditanganku, tapi dengan satu syarat," ucap sohee tampak datar. Junsu pun mengadahkan kepalanya menatap dalam-dalam kearah mata sohee.
"Jangan beritahu Taec oppa tentang pertemuan kita dan jauhi dia," sambung sohee sambil menyunggingkan sedikit senyuman permusuhan kepada Junsu. Junsu tak berkutik, lidahnya terlalu kelu untuk membantah perkataan Sohee. Kini Sohee pun berdiri dari tempat duduknya dan mulai memberesi barang-barangnya.
"Sampai jumpa dilain waktu, oppa." Seru sohee tampak seperti biasa, dengan senyuman lebar yang ramah ia menatap kearah Junsu. Seakan hal tadi bukanlah hal serius yang patut dicemaskan. Ya, benar. Sohee tak mungkin mencemaskan hal ini karena ia tahu bahwa ia sudah menang.
.
.
.
.
…
Junho berjalan dengan ragu disamping Wooyoung. Ia benar-benar tak habis pikir darimana sahabatnya ini mendapatkan ide gila seperti sekarang.
"Wooyoung, tidakkah hal ini terlalu gila?" ucap Junho menatap wooyoung
"Tenanglah Junho, ini kan hanya pura-pura," ucap wooyoung santai. "atau jangan-jangan.." sambungnya lagi
"Jangan-jangan apa?" Junho menghentikan langkahnya dan menatap dalam kearah wooyoung yang tengah memasang ekspresi seriusnya.
"Jangan-jangan kau benar-benar menyukaiku dan sekarang sedang gugup karena impianmu akan segeran menjadi kenyataan," balas wooyoung kini mencondongkan badannya mendekati Junho, ia memasang ekspresi serius bak seorang detektif. Junho sempat menganga di tempat sampai akhirnya ia sadar dari lamunannya.
"Kurasa kau benar-benar sudah tidak waras, Jang Wooyoung," junho mendengus kesal sambil melanjutkan jalannya dengan agak cepat
"Eyy sexy butt, aku hanya bercanda," teriak wooyoung dari belakangnya sambil merangkul bahu junho dan mulai tertawa terbahak-bahak.
.
.
.
..
"Jadi ini café nya?" Tanya junho sambil mengamati sebuah bangunan yang bercorak cokelat dihadapan mereka.
"Benar! Bagaimana? Baguskan? Aku sengaja memilih tempat ini. Tempat ini sangat sepi dan tenang, tapi juga mempunyai kesan romantis. Didalam café nanti kau akan mendengar alunan biola! Mereka suka sekali memasang music klasik disini! Sangat sempurna!" ucap wooyoung menggebu-gebu
"Arraseo arraseo. Ayo masuk kedalam dan cepat kita selesaikan ini," ucap Junho sambil menarik tangan wooyoung masuk kedalam café tersebut. benar kata Wooyoung. Baru saja mereka masuk, alunan music klasik sudah terdengar ditelinga. Menambah kesan damai dan romantic. Hanya ada 4-5 orang didalam café tersebut. yah, memang itu bukanlah sebuah café besar, tapi cukup berkualitas menurut Junho.
Mereka memilih tempat duduk yang berada disamping jendela. Ntah siapa yang memulai, tapi dua-dua nya sama-sama berjalan kearah meja itu tanpa komando seperti ada sebuah daya tarik dari meja tersebut.
"Apakah gadismu sudah datang?" Tanya Junho gelisah memperhatikan sekitar.
"Belum. Junho, jangan bersikap risih seperti itu, dia bisa datang sewaktu-waktu dan akan curiga melihat gelagatmu," protes wooyoung yang lebih mirip seperti merengek
"Baiklah, baiklah." Junho menghela nafas dan menggeleng-geleng. Sampai akhirnya ia mendengar sebuah suara disebelahnya
"Ada yang ingin kau pesan, Tuan Lee Junho?" sontak saja junho terkaget mendengar namanya disebut. Ia segera menoleh kesamping tepat dimana sumber suara itu datang.
"Chansung?" ucap Junho tak percaya. Tetapi reaksi Chansung hanya tersenyum lebar disampingnya
"Apa yang kau lakukan disini?" ucap Junho dengan bola mata yang membulat karena kagetnya
"Aku bekerja disini," ucap Chansung tetap dengan senyumnya yang lebar. Ntah kenapa membuat jantung Junho berpacu lebih cepat.
"Nggg, a-aku baru pertama kali kesini, jadi aku tidak tahu apa yang harus kupesan," ujar Junho sembari membolak-balik halaman menu yang ada di tangannya untuk menutupi kegugupannya. Sial, ada apa dengan dirinya sekarang. Junho merutuki dirinya sendiri
"Aku bisa merekomendasikan minuman untukmu," ujar Chansung ramah
"Dan untuk temanmu juga pastinya," lanjut Chansung sembari melemparkan senyuman ramah kearah wooyoung yang masih bingung membolak-balik menunya. Mendengar namanya disebut, ia pun langsung mengadah keatas menatap Chansung
"Oh tidak usah, seperti nya aku sudah menemukan pesananku, aku mau ice cream strawberry," jawab Wooyoung membalas senyuman ramah namja berbadan besar itu.
"Baiklah, pesanan kalian akan kuantarkan sekitar 10menit lagi," seiring perginya Chansung dari meja mereka, Junho tak henti-hentinya menatap Chansung. Ia juga tak mengerti, ada sesuatu yang aneh setiap ia melihat Chansung. Junho memperhatikan gerak gerik namja itu dengan seksama, bagaimana cara ia berinteraksi dengan teman-temannya sesame pelayang café dan bagaimana caranya tertawa. Sedang asik-asik nya Junho memperhatikan Chansung, tiba-tiba saja Wooyoung menepuk pundaknya keras dan berbisik selambat mungkin ditelinga Junho
"Dia datang," seketika Junho terkesiap, wajahnya langsung menegang. Yah, memang siapa yang tidak takut jika berurusan dengan makhluk halus? Junho tetap terdiam membiarkan wooyoung meraih pundaknya dan kini mereka saling beratatapan. Junho menatap wooyoung dengan perasaan cemas dan tidak sengaja melihat kearah Chansung yang tepat berada dibelakang wooyoung. Sial! Ia lupa ada Chansung di café ini! Apa yang harus ia lakukan, tidak mungkin ia menghentikan drama ini secara tiba-tiba. Chansung tengah menatap tajam kearah mereka berdua seakan sangat penasaran dengan pembicaraan keduanya yang tampak sangat serius dan..mesra.
"Aku tahu kita sudah berteman dari kecil. Tapi aku tidak tahu, sejak kapan perasaan ku ini tumbuh untukmu," ucap wooyoung yang menatap junho dalam-dalam. Junho akui, tersirat wajah cemas di wajah Wooyoung. Kini ia mengalihkan pandangannya kepada Chansung yang kini telah mengerutkan alisnya tak percaya. Wooyoung pun mengambil setangkai mawar yang sudah ia persiapkan sebelumnya sebagai property pendukung.
"Lee Junho, aku mencin—" Junho menutup matanya tak mau melihat ekspresi Chansung yang menganga tak percaya menatap kearah mereka berdua. Tapi, mengapa ia tak mendengar suara Wooyoung melanjutkan perkataannya? Ia pun membuka matanya dan menoleh kearah wooyoung yang tengah termenung. Disisi lain, saat wooyoung akan mengatakan 'aku mencintaimu' tanpa sengaja ia melihat kearah luar jendela yang berada tepat dibelakang junho dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok Nichkhun yang tengah berdiri menghadap kearahnya dengan tatapan yang sangat marah. Sampai akhirnya junho menyikut perut wooyoung dan membuatnya tersadar. Tanpa ia control tiba-tiba saja kata itu terucap
"Aku mencintaimu Lee Junho, mau kah kau menjadi kekasihku?" perkataan wooyoung yang benar-benar spontan dan sangat cepat itu membuat junho sedikit kaget, sampai akhirnya ia berkata
"Ya, aku mau wooyoung," serunya menatap wooyoung dalam-dalam. Ia tak ingin menatap seseorang yang berada tepat dibelakang wooyoung itu.
IU yang tengah memperhatikan mereka berdua, mengepalkan tangannya erat dan menahan amarahnya
"Berani-berani nya mereka!" ucap IU dengan nada yang ditekankan setiap kalimatnya. Dan tiba-tiba saja.. PRAAANG!
Gelas ice cream yang berada diatas nampan yang sedang di pegang Chansung pecah begitu saja, sontak Chansung kaget dan tak sengaja menjatuhkan nampan tersebut. mulutnya masih menganga melihat apa yang terjadi pada gelas ice cream yang dibawanya. Ada apa ini? Mengapa semuanya menjadi tidak wajar?
Mendengar suara pecahan gelas yang cukup keras itu membuat wooyoung dan junho menoleh kearah Chansung secara bersamaan, ntah kenapa Chansung kembali menatap mereka berdua secara bergantian dan kini pandangannya kembali lagi pada gelas ice yang telah pecah dengan tatapan seperti orang kebingungan.
Disisi lain, wooyoung menoleh kearah dimana IU berdiri, dan ia mulai menghela nafas lega sembari menatap Junho
"Dia sudah pergi, dan semuanya sudah berakhir," ucap wooyoung dengan suara berat sambil menunduk.
"Kalau begitu ayo kita pergi dari sini," ucap Junho cepat dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruh nya di meja café sembari menarik wooyoung keluar dari café itu. Junho berjalan agak cepat melewati Chansung tanpa menyapa atau sekedar menoleh kearahnya. Sementara Chansung hanya dapat menunduk dan memandangi gelas ice cream tersebut. ntah kenapa, ada sebuah rasa sakit yang menjalari tubuhnya, terus bergerak menuju satu titik yaitu ulu hatinya. sakit, sangat sakit sekali, seakan seluruh kesakitan yang ia rasakan hanya berkumpul di satu titik. Sambil memegangi dadanya, ia pun mengepalkan tangannya menahan rasa kecewa yang menggerogoti dirinya. Ia tutup matanya perlahan, terputar kembali dalam benaknya bagaimana Junho mengangguk menerima pernyataan cinta dari seorang namja yang tak dikenalnya. Sakit. Hanya satu kata itu yang dapat menggambarkan keadaannya sekarang.
Sementara itu, saat wooyoung dan Junho baru keluar dari dalam café tersebut, junho menarik tangannya kearah dimana Nichkhun berdiri. Wooyoung yang sedaritadi menunduk kini memberanikan dirinya untuk menengok kearah Nichkhun. Ada sesuatu yang terasa aneh saat nichkhun menatapnya seperti itu, baru sekarang wooyoung sadari bahwa ia tak pernah melihat ekspresi nichkhun yang seperti ini. Dan untuk pertama kalinya ia melihat nichkhun berwajah sangat marah, wooyoung tahu bahwa ia merasa ketakutan.
Saat ia berjalan hampir mendekati Nichkhun dan hendak menyapanya, dengan sekejap Nichkhun pun membuang muka dan berjalan berlawanan arah dengan wooyoung tanpa menoleh sedikitpun padanya. Wooyoung tercengan melihat perubahan sikap nichkhun yang drastic padanya. Ada apa dengan namja itu? Pikir wooyoung heran.
.
.
.
.
..
"Aku pulang," ucap junsu lemah. Ia berjalan gontai memasuki apartemennya. Dan betapa terkejutnya ia mendapati managernya tengah duduk menghadap dirinya dengan sunyuman lebar
"K-kau kenapa hyung?" ucap junsu salah tingkah melihat gaya hyungnya itu
"Selamat datang dirumah, Kim Minjun!" ucap managernya bersemangat sambil merentangkan kedua tangannya.
"Kim Minjun? Apa maksudmu hyung?" Tanya junsu yang masih terkaget-kaget.
"Mulai sekarang, kau mempunyai nama baru, yaitu Kim Minjun, arraseo?" ucap hyungnya sambil mengedipkan kedua matanya
"Apa?! tapi mengapa kau tidak merundingkannya bersamaku dahulu baru merubahnya? Yah hyung, aku juga tidak menyukai nama itu," rengek Junsu tak percaya atas keputusan managernya yang tiba-tiba itu.
"Sudahlah, kau terima saja. Nama itu adalah nama yang paling keren ditahun ini, kau tahu? Well, sekarang aku akan pergi, aku masih mempunyai urusan lain. Sampai bertemu dilain waktu Kim Minjun," ucap managernya sambil menutup pintu apartemen itu.
"Bagaimana mungkin namaku yang sudah keren diubah menjadi nama yang seperti itu?! Nama paling keren ditahun ini? Hah! Aku tidak merasakan sedikitpun kekerenan dari nama itu," rutuk Junsu kesal sambil membuka mantelnya dan melemparkannya begitu saja entah kemana.
"Hey, kau baru pulang sudah ribut-ribut. Memangnya ada apa sih?" ujar Taecyeon yang baru saja keluar dari dapur dan melepaskan celemeknya
"Aku benar-benar tidak percaya ini! Seenaknya saja mereka merubah namaku tanpa persetujuan ku dahulu," ujar Junsu sambil marah-marah dengan aksen daegunya yang sangat kental.
"Ah, tentang itu. Tapi kurasa nama barumu sangat imut, Minjun-ah," jawab taecyeon sambil tersenyum lebar menatap Junsu. Dan kini junsu pun berbalik kembali menatap taecyeon
"apa? kau tahu darimana kalau namaku diubah menjadi minjun? Jadi selama ini kau sudah tahu, Ok Taecyeon?" Tanya junsu menyelidik. Taecyeon yang kelihatan salah tingkahpun menggaruk-garuk tengkuknya
"Yaaa, sebenarnya aku sudah mengetahui dari awal, tapi hyung bilang padaku agar jangan memberitahumu, ia ingin menjadikan ini kejutan untukmu,"
"Jadi kau lebih memihak pada hyung daripada denganku? Aishh jinjja," junsu masih kesal atas semua 'kejutan' ini
"Yaah, kau jangan cemberut seperti itu, meneurutku nama itu sangat imut, sama seperti dirimu," ujar taecyeon yang kini menatap dalam-dalam junsu, seakan ingin menggodanya. Tapi pada saat itu juga, Junsu tersentak. Tiba-tiba ia teringat akan percakapannya dengan Sohee barusan. Dan pada saat itu juga Junsu berniat akan benar-benar menjaga jarak dari Taecyeon sebelum karir Taecyeon yang benar-benar hancur karenanya.
"A-aku sangat lelah. Aku mau tidur." Ucap Junsu tiba-tiba dan mulai berjalan menuju kamar
"Hey, apakah kau baik-baik saja," Tanya Taecyeon cemas melihat perubahan sikap Junsu.
"Tentu," jawab junsu sambil berlalu. Taecyeon melirik kearah jarum jam, ini baru jam 12 siang, kenapa ia tiba-tiba mengantuk? Aneh. Pikir Taecyeon sambil mengerutkan alisnya
.
.
.
To be continued…
.
.
Woahh, akhirnya siap juga Chapter 5. Disini baru icha menculkan semua konflik-konfliknya,hehe~ kira-kira ada yang bisa menebak bagaimana kelanjutannya? Atau ada yang mau memberi ide untuk lanjutannya?^^ dan dimohon REVIEW nya ya, hanya review dari readers yang bisa bikin Icha semangat ngelanjutin FF ini^^ gamsahamnidaa~
