STAY HERE BESIDE ME: CHAPTER
KHUNYOUNG
CHANHO
TAECMIN
2PM
WARNING! BOYXBOY
INSPIRED BY: CHILLING ROMANCE
.
.
.
.
ICHANNIEE FANFICTION~
HAPPY READING~^^
"Argh! Bunuh saja aku!" seru Junho yang langsung menghempaskan badannya ke sofa ketika mereka baru sampai dirumah. Dengan frustasi ia mengacak-acak rambutnya dan mulai berguling-guling seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Yak, kau tenanglah sedikit," kata wooyoung sambil menggeleng-gelengkan kepala menatap Junho yang sedang bertingkah kekanak-kanakan itu. Junho pun segera menghentikan aktifitasnya tersebut dan mula melirik tajam kearah wooyoung
"Dia itu teman sekampusku! Apa jadinya jika ia menyebarkan berita ini ke orang-orang?" seru junho dengan nada panic
"Bukankah itu kabar gembira? Orang-orang tidak akan menganggapmu si kutu buku yang selama ini mereka remehkan karena sekarang mereka tahu bahwa kau mempunya kekasih yang sangat tampan sepertiku," balas wooyoung sembari bersikap cool dan menaikkan kerah bajunya keatas. Namun sikapnya itu malah mendapat lemparan bantal dari junho
"yah, kau jangan terlalu narsis, jang wooyoung," ucap junho serius, tapi wooyoung tahu bahwa junho sedang menahan tawanya, wooyoungpun menggodanya lagi
"atau jangan-jangan kau marah karena yang tadi itu pura-pura?' ucap wooyoung sembari mengangkat sebelah alisnya, sok bersikap seperti seseorang yang mengintrogasi
"huh?" junho menyeringitkan alisnya menatap wooyoung tak mengerti
"maksudku, apa kau ingin benar-benar aku tembak dan menjadi kekasihku?" balas wooyoung sembari mengeluarkan senyuman mautnya, tak lupa pula ia beri junho sebuah wink yang benar-benar membuat seseorang meleleh.
"Yaaaak!" seru junho dengan tawanya yang lepas sembari melemparkan bantal-bantal yang lainnya kepada wooyoung. Wooyoung pun ikut tertawa bersama junho, setidaknya kini junho mulai melupakan kejadian tadi, ucap wooyoung dalam hati dengan rasa bersalah.
.
.
.
.
...
Nichkhun melemparkan barang belanjaan yang baru saja dibelinya di sebuah supermarket tadi dengan kesal. Ia berjalan menuju dapur dengan wajah yang ditekuk dan mulai mengambil segelas air. Dengan satu tegukan saja, air itu sudah habis diminumnya. Ia menghempaskan gelas kaca tersebut di meja makan sembari mengatur nafas nya yang memburu disebabkan karena marah…..atau cemburu?
Taecyeon yang sedang menonton TV tercengang melihat tingkah Nichkhun. Nichkhun yang biasanya adalah lelaki yang ramah dan lembut serta sangat jarang marah, kini tiba-tiba seperti orang yang kesetanan
"apa yang terjadi? Mengapa kau terlihat kesal seperti itu?" Tanya Taecyeon sambil menatap Nichkhun. Tetapi tidak ada jawaban ataupun respon yang berarti dari Nichkhun
"Yah, aku sedang bertanya pada—" belum sempat Taecyeon menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba saja dipotong Nichkhun
"Kau jangan menonton terus! Kita sangat jarang mendapatkan hari libur dan sekarang kau malah enak-enakan menonton?! Kau harusnya sekarang tidur, kumpulkan semua tenaga mu! Bukannya malah menonton TV atau malah pergi ke café dan membuat momen yang sangat menjijikan! Oh ayolah, ada apa dengan semua orang, huh?!" ucap Nichkhun tanpa jeda dengan nada yang tinggi. Taecyeon hanya dapat melongo melihat Nichkhun yang tak henti-hentinya marah dan sekarang ia malah menggunakan bahasa Thailand yang membuat Taecyeon hanya dapat menggaruk-garuk kepala tidak mengerti.
Kini Nichkhun berjalan kearah kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Dari dalam kamar Taecyeon dapat mendengar Nichkhun yang masih mengumpat kali ini menggunakan bahasa Thailand, Korea dan Inggris. Di akhir kalimatnya Taecyeon dapat mendengar suara Nichkhun mengatakan "Oh, shit man!" sebelum akhirnya suara dari kamar Nichkhun benar-benar menghilang.
"'ada apa dengan semua orang?' Apakah dia benar-benar bertanya hal tersebut? oh ayolah! Harusnya itu pertanyaanku!" Taecyeon hanya dapat berbicara sendiri tanpa ada seorangpun yang mendengarnya. Astaga, ia rasa lama-lama dia bisa menjadi gila melihat sikap minjun dan Nichkhun yang tiba-tiba aneh. Setelah puas bercuap-cuap sendiri ia pun akhirnya malah memilih tidur.
.
.
.
.
..
Chansung sempat mendapatkan teguran keras dari managernya akibat gelas yang pecah tadi sebelum akhirnya kini ia membersihkan serpihan-serpihan gelas tersebut. pikirannya masih melayang mengingat kejadian tadi. Ia merasa sangat marah pada junho. Dulu namja itu bilang ia lebih memilih focus pada beasiswanya daripada apapun, tapi kini? Ia malah mesra-mesraan dengan orang lain. Betapa bodohnya Chansung telah tertipu dengan kepolosan anak itu, pikir Chansung dalam hati.
Tanpa sadar, ia mengepalkan tangannya yang sedang memegang serpihan kaca dan menyebabkan tangannya mengeluarkan darah. Seorang temannya yang melihat hal tersebut segera menegur Chansung
"Hey Chansung, kau baik-baik saja?" Tanya temannya khawatir, tapi tetap, Chansung tak merespon panggilan teman nya tersebut, ia terus saja mengepalkan tangannya yang semakin lama semakin kuat hingga mengucur kan banyak darah
"Chansung? Hey chansung?" seru temannya semakin keras. Tetap tak mendapat respon dari Chansung akhirnya ia pergi dengan tatapan masih mengawasi Chansung khawatir.
Chansung kini makin meremas serpihan kaca itu kuat. Namja itu lebih memilih merasakan sakit yang amat sangat dibagian tangannya daripada di sebuah titik yang terasa tertusuk dalam dan terus ditusuk dengan beribu-ribu pisau, tepat dihatinya. Tapi tetap saja, sakit yang ia rasakan ditangannya tetap tidak mampu mengalahkan rasa sakit yang tepat tertancap dihatinya. Ia memejamkan matanya, berusaha melupakan setiap bayangan yang telah terekam jelas dipikirannya. Tapi semakin ia memejamkan matanya, semakin jelas bayangan itu terputar dalam benaknya. Dengan rasa frustasi yang memuncak akhirnya ia menghempaskan kaca yang ia genggam itu kelantai dan mulai berlari meninggalkan café termpatnya bekerja. Ia berlari sekencang mungkin. Menerobos setiap orang yang berada didepannya. Ia terus belari, berlari sembari membuang setiap kepingan memori tersebut.
.
.
.
.
…
11.00 pm
Wooyoung yang kini sedang berada diatas kasur mulai mundur perlahan. Wajahnya pucat serta mengeluarkan banyak keringat, dengan mulut yang bergetar, akhirnya ia mulai mengeluarkan suara
"A-apa mau mu?"
"Kau kira aku akan pergi dengan semudah itu, sayang?" ucap seorang yeoja dengan tatapan murka tepat dihadapan wooyoung
"Kau juga tahu kan? Aku akan menyingkirkan siapapun yang berani mengganggu hubungan indah kita," ucap IU dengan sebuah senyuman manis yang kini mulai mendekati wajah Wooyoung
"Termasuk namja sekalipun," lanjut IU, kini senyuman manis tersebut seketika menghilang digantikan dengan tatapan tajam yang sangat murka. Dalam hitungan detik, yeoja tersebut tiba-tiba menghilang disusul dengan pekikan panjang seorang namja dikamar sebelah.
"Junho?" bisik wooyoung ketakutan, "JUNHO!" kini wooyoung mulai berteriak dan bangkit dari tempat tidurnya menuju kekamar Junho. Saat ia mencoba membuka pintu kamar Junho, tetapi hasilnya nihil, pintu itu terkunci dari dalam
"Junho! Junho kau baik-baik saja?" ucap Wooyoung dari luar sembari memcoba terus memutar gagang pintu itu
"ARGH! Wooyoung! Sakit sekali!" pekik Junho dari dalam. Wooyoung yang tak kalah paniknya kini menarik nafas panjang dan mundur beberapa langkah dari depan pintu. Ia pejamkan kedua matanya sebelum akhirnya ia berlari kearah pintu dan menghantamkan seluruh badannya kearah pintu tersebut. dengan sekali hentakan, akhirnya pintu itu terbuka.
.
.
.
.
Nichkhun memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Sesekali ia menghela nafas berat dan mulai memejamkan matanya. Sebenarnya ada apa dengan dia sekarang? Mengapa ia merasa tak senang melihat wooyoung menyatakan cinta pada namja sipit itu? Tiba-tiba, rasa kantuk yang amat sangat mendera Nichkhun, tanpa sadar ia mulai memejamkan matanya tanpa berhenti memikirkan namja chubby itu.
.
.
.
.
Junho yang sedang membaca sebuah majalah sport kesukaannya tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Hawa didalam kamarnya mendadak berubah menjadi hangat, atau lebih tepatnya panas. Padahal cuaca diluar sangatlah dingin. bulu kuduknya berdiri seketika, ia mencoba mengusap tengkuknya dan memandang sekitar kamar, sebelum akhirnya ia merasakan sebuah tamparan keras mendarat dipipinya, belum sempat ia melihat siapa yang melakukannya, langsung saja sebuah tangan dingin ia rasakan tepat dilehernya, mencekiknya kuat dengan tatapan penuh amarah. Junho berusaha meronta melepaskan cengkraman gadis tembus pandang itu, tapi percuma. Ntah kenapa tenaga gadis itu dapat lebih kuat darinya.
"Tidak ada yang bisa merebut Uyoungi-ku, tidak ada. Termasuk kau, Lee Junho," ucap gadis itu dengan tutur kata yang halus, namun Junho bersumpah, ia dapat melihat siratan kebencian dari mata gadis itu.
Tak sampai disitu saja, IU pun mulai menyentuh lengan Junho dan menggoreskan kuku-kuku tajamnya disana. Hingga baju kaus lengan panjang yang dipakai Junho pun robek mengikuti alur kuku tersebut.
"Argh!" Junho mengerang dan berusaha memberontak sekuat tenaga. Tapi hasilnya nihil. Sebelum akhirnya ia mendengan Wooyoung mulai menggedor-gedor pintu kamarnya. Dengan tenaga yang masih tersisa, Junho mulai berteriak "ARGH! Wooyoung! Sakit sekali!"
.
.
.
.
In the morning
"Kau harusnya tidak sekolah dulu," ucap Wooyoung sambil menundukkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa, wooyoung. Percayalah," balas junho diikuti dengan senyumannya yang lembut menenangkan wooyoung.
'Aku…benar-benar minta maaf atas kejadian semalam. Aku tidak tahu dia akan memberontak seperti itu. Ini semua kesalahanku, Junho" wooyoung masih menunduk tak mau melihat Junho. Ia merasa sudah terlalu banyak meropotkan teman karibnya ini. Agak lama respon dari Junho sebelum akhirnya wooyoung mendengar sebuah helaan nafas panjang dan akhirnya Junhopun mulai duduk disebelah wooyoung
"Tak apa, wooyoung. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Ku rasa, lama-lama mungkin aku akan terbiasa," jawab Junho sambil terkekeh, bermaksud untuk mencairkan suasana yang tegang. Namun, wooyoung malah menunduk semakin dalam. Junho mulai memandangi wooyoung dan berkata
"Semuanya akan baik-baik saja,"
.
.
.
.
Chansung mempercepat langkahnya ketika ia mendengar seseorang memanggil namanya. Suara yang sudah tak asing lagi bagi Chansung. ia masih belum ingin bertemu dengan Junho untuk sementara waktu ini, ia belum siap. Sampai akhirnya sebuah tangan menarik lengan Chansung dam memaksanya berbalik. Chansung yang hendak protes malah bungkam ditempat. Ia merasa ada yang aneh dengan dandanan Junho sekarang. Syal biru tua nya yang menutupi setengah wajah Junho hingga hanya menyisakan setengah hidung dan matanya saja
"Kenapa kau tidak berhenti saat ku panggil?" protes Junho cepat. Ia merasa benar-benar kesal dengan namja ini. Namun, saat ia berbicara, sedikit syal nya tertarik kebawah dan mengakibatkan Chansung melihat sebuah cap merah menempel dipipi Junho. Chansung yang penasaranpun sontak menarik syal junho yang masih menutupi wajahnya. Seketika Chansung mematung melihat pemandangan didepannya. Sebuah bekas tamparan terlukis jelas dipipi putih Junho. Junho yang menyadari arah pandangan Chansung langsung gelagapan dan mulai menarik syalnya kembali.
Namun ia kalah cepat dengan tangan Chansung yang kini telah menarik lepas syal Junho yang melilit lehernya
"Sebenarna apa yang terjadi denganmu, junho?" ucap Chansung yang benar-bena sangat terkejut melihat bekas cekikan yang terpampang jelas di leher Junho.
"Kau benar-benar sangat tidak sopan, Hwang Chansung!" desis Junho sembari merebut syal nya dari tangan Chansung dan mulai berlari menjauh. Chansung hanya dapat terdiam melihat Junho.
.
.
.
.
"Jadwal untuk hari ini adalah menghadiri undangan perayaan drama kita karena telah menjadi drama terfavorite…" ujar Minjun sambil membaca sebuah note kecil
"Wah, aku benar-benar tidak menyangka drama kita akan berhasil," sambung Taecyeon yang telah mencapai meja makan.
Beda hal nya dengan Minjun dan Taecyeon. Nichkhun terlihat sangat tidak bersemangat.
.
.
.
Ketiga namja itu sampai ditempat tujuan mereka lebih awal dari yang lain, sehingga bisa membuat mereka bersantai sejenak. Taecyeon dan Minjun yang sudah menghambur keluar dari dalam mobil langsung melihat-lihat keadaan sekitar. Beda dengan Nichkhun yang masih saja murung dan lebih memilih untuk menunggu di mobil.
"Minjun-ah," seru Taecyeon yang berada tepat dibelakang Minjun. Tetapi Minjun hanya menggumam sedikit sebagai respon dari sapaan Taecyeon.
"Ada yang ingin kubicarakan," sambung Taecyeon dengan suara beratnya yang terdengar serius. Minjun sempat tersentak, kaget akan sikap Taecyeon yang tiba-tiba berubah serius. Minjun termenung sejenak sebelum akhirnya ia mencoba mengubah topic pembicaraan.
"Hey, apa kau punya makanan? Aku sangat lapar," jawab Minjun memasang tampang memelasnya. Taecyeon mendesah lelah menyadari sikap Minjun yang mulai aneh
"Jangan mengalihkan pembicaraan lagi," lirih Taecyeon pelan. Membuat Minjun menunduk bersalah. Bagaimanapun juga, ia sudah membuat kesepakatan dengan Sohee. Ia tak bisa melanggar itu, Minjun tau, dengan menjauhi Taecyeon adalah satu-satunya cara terbaik. Tapi ternyata hal itu tak semudah dalam bayangannya saja.
"Baiklah, kau mau bicara dimana?" balas Minjun mulai mengalah.
.
.
.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" ucap Taecyeon memulai pembicaraan diantara keduanya. Kini mereka berdua sedang berada disebuah taman yang tak jauh dari lokasi.
"Apa yang kau bicarakan?" balas Minjun gugup
"Aku sangat yakin kau tahu apa yang kubicarakan. Akhir-akhir ini kau terlihat sangat aneh Minjun-ah, terlihat seperti menjauhiku," balas Taecyeon sambil menunduk. Tapi, tak ada respon balasan dari Minjun. Ia mulai mendongakan kepalanya keatas untuk melihat Minjun, tetapi namja yang berasal dari Daegu tersebut malah memalingkan wajahnya dari Taecyeon.
"Apa kau lelah karena kita harus berpacaran diam-diam?" duga Taecyeon. Tetapi Minjun langsung menggeleng cepat tanpa sepatah katapun. Taecyeon meraih pundak Minjun sehingga membuat Minjun mau tak mau menghadap kearah namja yang badannya lebih besar darinya tersebut.
"Lalu apa?" ucap Taecyeon dengan nada lembut. Sekali lagi Minjun menggeleng tanpa mengeluarkan suaranya. Taecyeon yang melihat Minjun seperti menyembunyikan sesuatu lalu menarik tubuh Minju untuk lebih dekat dengannya dan mulai memeluk Minjun
"Minjun-ah, jangan pernah tinggalkan aku," belum sempat Minjun membalas ucapan Taecyeon, tiba-tiba saja terdengar bunyi sebuah kamera sedang memotret mereka berdua. Seorang lelaki dengan badan ceking dan penampilan yang acak-acakan tersenyum puas sambil memandangi kameranya
"Aku akan mendapatkan harga yang mahal untuk foto ini," ucap wartawan itu sambil terkekeh. Sementara Minjun dan Taecyeon hanya dapat mematung ditempat, masih terlalu kaget akan apa yang terjadi.
Tetapi hal yang membuat mereka lebih kaget adalah akan kehadiran seorang wanita berpipi chubby dan berambut panjang berdiri tepat dibelakang wartawan tersebut. Sohee menatap Taec dan Minjun secara bergantian dengan ekspresi datar yang susah ditebak. Dalam hati, Minjun mulai menyesali kenapa ia menerima ajakan Taecyeon. Inilah akhir karir mereka.
Sebelumnya, icha mau minta maaf yang sebesar-besarnya kepada para readers atas keterlambatan update nya, maklum anak sekolah susah punya waktu luang(?) hihihiiii:3 tapi icha harap para readers dapat menikmati chap ini. Dan ditunggu ya REVIEW nya ^^ terimakasihhhh~
