STAY HERE BESIDE ME: CHAPTER

KHUNYOUNG

CHANHO

TAECMIN

2PM

WARNING! BOYXBOY

INSPIRED BY: CHILLING ROMANCE

.

.

.

HAPPY READING o^-^o

.

.

Nichkhun yang sedari tadi duduk gelisah diatas mobil kini mulai meraih ponselnya. Ia menekan tombol Blackberry itu sampai akhirnya tertera sebuah nama di layar ponselnya, bertuliskan nama Jang Wooyoung.

Namja yang berasal dari Thailand tersebut kemudian cepat-cepat menekan tombol Back dan memasukkan lagi ponselnya kedalam saku Jaket merahnya tersebut. ia menggaruk-garuk tengkuknya frustasi. Tapi tak lama kemudian, ia mengambil ponselnya kembali dan memandang lama benda itu. Pada akhirnya ia hanya dapat menghela nafas berat dan menundukkan kepalanya

"Oppa, annyeong," sapa sebuah suara halus dari luar kaca jendela mobil nya yang terbuka

"Oh, Sohee-ah," ucap Nichkhun kemudian membukakan pintu mobil itu

"Kau kenapa? Sepertinya sedang ada masalah," ucap Sohee ingin tahu. Tetapi Nichkhun hanya membalasnya dengan kekehan kecil, seperti terpaksa. Sohee pun cukup sabar untuk menunggu agar Nichkhun mau bercerita

"Sohee-ah, pernahkan kau merasa begitu frustasi akan sesuatu yang belum jelas?" ucap Nichkhun akhirnya sembari menatap Sohee dalam-dalam.

"Mwo? Apa maksudnya?" ucap Sohee yang masih belum mengerti akan perkataan Nichkhun. Sekali lagi, namja itu menghela nafas berat yang panjang.

"Tidak, lupakan saja. Itu tidak begitu penting, kok" ucap Nichkhun sembari memaksakan senyumnya agar keluar. Sedangkan Sohee hanya mengangguk-angguk memahami posisi Nichkhun yang terlihat sulit

"Oppa, ini hanya saranku saja. Jika kau bersedih hanya karena sesuatu yang belum pasti, itu hanya akan sia-sia. Akan lebih baik jika kau mencari tahu kebenarannya dulu," Sohee menepuk pelan pundak Nichkhun yang terlihat lemas itu.

"Ya, kau benar Sohee. Aku harus mencari tahu apa yang terjadi, aku tidak boleh berdiam diri saja," ucap Nichkhun yang tampak lebih bersemangat.

"Omong-omong, kau hanya datang sendiri, oppa?" Tanya sohee yang tampak sedang mencari-cari dua sahabat namja Thailand ini.

"Tidak, aku pergi bertiga dengan Minjun dan Taecyeon, seperti biasa. Tapi tadi mereka berdua pergi terlebih dahulu. Kalau tidak salah sepertinya mereka pergi kearah taman," ucap Nichkhun yang mulai berbinar-binar tak sabar untuk menelephone wooyoung.

"Arraseo, aku akan menyusul Minjun oppa dan Taecyeon oppa. Kau mau ikut?" ajak Sohee lembut pada Nichkhun.

"Tidak Sohee-ah. Aku lebih nyaman menunggu disini," jawab Nichkhun "dan terimakasih juga atas sarannya, lilsist," lanjut Nichkhun sembari mengacak-acak kecil rambut Sohee.

.

.

.

Gadis chubby itu tetap melangkah sambil termenung. Minjun dan Taecyeon pergi ketaman hanya berdua saja, dan Sohee pun bisa membayangkan apa yang terjadi. Tanpa ia sadari, dirinya sudah berada disebuah taman yang cukup luas. Minjun dan Taecyeon sedang berdiri berdua tak jauh dari posisi Sohee. Mereka berdua tampak terdiam dan saling canggung.

Sohee tersenyum kecut melihatnya. Sakit, sangat sakit melihat orang yang begitu dicintainya tidak membalas cintanya, bahkan sekedar mengetahui perasaannya saja pun tidak. Sohe menganggap dewi keberuntungan tidak berpihak kepadanya sekarang.

Baru saja ia hendak membalikkan diri, ingin menjauh dari tempat tersebut, segera saja ia menangkap sesosok pria sedang bersembunyi tak jauh dari tempat Taecyeon dan Minjun. Lelaki itu terlihat sedang memegang kamera dan seperti sedang menguping pembicaraan kedua namja tersebut.

Merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, Sohee mengendap-endap untuk meraih jarak yang lebih dekat. Ia memilih bersembunyi dibalik sebuah pohon yang cukup besar untuk menutupi tubuh kecilnya tersebut. mau tak mau, jarak mereka yang sangat dekat itu membuat Sohee dapat mendengar pembicaraan kedua namja tampan itu.

"Sebenarnya, apa yang terjadi?" suara berat Taecyeon terdengar jelas ditelinga Sohee. Sempat Sohee merasa cemas, apa jadinya bila Minjun membongkar pertemuan rahasia mereka kepada Taecyeon dan menceritakan semuanya? Oh entahlah, jika itu benar-benar terjadi, Sohee tak kan heran bila ia dan Taecyeon tak akan pernah saling bersapaan lagi.

"Apa yang kau bicarakan?" kini suara selanjutnya menyahut. Tak sulit bagi Sohee untuk menentukan suara siapa itu. Dengan aksen Daegu yang kental, sudah dapat dipastikan itu suara Minjun. Sohee dapat menghela nafas sejenak karena Minjun seperti tak punya niat untuk membongkar rahasia mereka.

"Aku sangat yakin kau tahu apa yang kubicarakan. Akhir-akhir ini kau terlihat sangat aneh Minjun-ah, terlihat seperti menjauhiku," sohee dapat mendengar jelas suara Taecyeon yang tampak putus asa. Yeoja itu tertegun. Ia turut merasakan kesedihan yang amat dalam yang tersirat dari kata-kata namja yang ia sukai itu.

Ntah kenapa, sohee tidak berniat untuk mendengarkan percakapan mereka selanjutnya. Pikirannya sudah digerayangi dengan berbagai macam argumentasi. Sebesar apakah rasa cinta yang dimiliki Taecyeon untuk Minjun? Kalau benar-benar Taecyeon sangat mencintai Minjun, kenapa ia tak merelakannya saja? Toh hidup Taecyeon akan lebih senang jika bersama dengan Minjun. Dan apakah kata-kata 'Cinta tak harus memiliki' itu benar adanya?

Tetapi bagaimana dengan dirinya sendiri? kenapa ia terus-terusan sibuk memikirkan kebahagiaan orang lain tanpa mempedulikan kebahagiaannya sendiri? dan 'cinta tak harus memiliki' itu? Oh ayolah, itu hanya omong kosong belaka dari orang-orang munafik yang tak bisa mendapatkan kebahagiaannya. Setiap manusia itu pasti mempunya sisi egois nya masing-masing. Dan apa salahnya ia bertindak egois untuk kali ini saja?

Lamunan sohee tiba-tiba buyar akan suara sebuah kamera. Ia segera menoleh ke sumber suara tersebut. kini ia dapat melihat dengan jelas, lelaki yang sedari tadi menguping pembicaraan Minjun dan Taecyeon adalah seorang wartawan. Yeoja itu merutuki dalam hati. Sohee berjalan lambat mendekati mereka bertiga. Taec dan Minjun tampak pucat pasi melihat kehadiran wartawan tersebut.

Sohee yang berada tepat dibelakang wartawan tersebut, menyilangkan dan melipat kedua tangannya tepat didadanya. Gadis itu memandang Minjun dan Taecyeon merutuki kebodohan kedua namja tersebut untuk mengumbar kemesraannya ditempat umum seperti ini. Tak lama kemudian, ia dapat mendengar suara berat dan serak dari wartawan tersebut.

"Aku akan mendapatkan harga yang mahal untuk foto ini," kekeh si wartawan tersebut, dan kemudian melanjutkan ucapannya "mungkin foto ini terlihat seperti foto seperti teman biasa, tetapi aku tidak akan melupakan percakapan kalian berdua," ucap wartawan tersebut dengan irama yang dibuat-buat sok licik. Sohee pun memutarkan kedua bola matanya, bosan dengan tingkah wartawan tersebut

"Ekhem," sohee mengeluarkan suara batuk kecil yang dapat mengalihkan pandangan wartawan tersebut kearahnya.

"ada apa ini? Kenapa sangat ramai sekali sepertinya?" yeoja berambut panjang itu mengeluarkan suara imutnya yang terlihat ceria. Sementara Minjun dan Taecyeon tetap tidak berkutik dari tempat mereka

"Ah, sohee-ssi. Kurasa gossip yang ditimbulkan oleh kedua temanmu ini akan menjadi topic utama dan hangat untuk minggu ini," jawab wartawan itu cepat seperti salah tingkah. Pipi lelaki yang sudah agak tua itu mulai merona. Ya, tidak ada lelaki yang bisa lepas dari pesona Sohee. Bahkan diam-diam, Minjun pun mengakuinya

"Benarkah?" seru Sohee dengan mata yang membulat sempurna, "memangnya ada apa?" Tanya Sohee lagi merengek ingin tahu seperti anak kecil. Tak sampai disitu, Ia menarik-narik ujung baju wartawan itu dan merengek ingin tahu apa yang terjadi. Sohee sendiri tahu, itu adalah salah satu cara ampuhnya untuk menaklukan para lelaki.

"kau harus lihat foto ini," ujar si wartawan tersebut sembari memperlihatkan potret di kamera profesionalnya. Sohee berlagak serius memperhatikan foto tersebut.

"Memangnya ada apa dengan foto ini, ahjussi?" Tanya sohee dengan tingkah polosnya.

"Kurasa kedua temanmu ini memiliki hubungan yang special, ya" ujar si wartawan tersebut sambil terkekeh kemudian menjelaskan apa saja yang baru didengarnya

"Tidak!" Minjun dan Taecyeon berteriak berbarengan. Melihat yang baru saja terjadi, keduanya pun langsung bersikap canggung seketika. Tapi tak lama kemudian, suasana canggung itu berubah karena suara tawa seorang gadis yang sangat kencang. Ketiga pria itu menoleh kearah sohee dengan tatapan heran

"Aigoo ahjussi, aku rasa kau salah paham. Itu kan dialog ku bersama Taecyeon oppa. Mereka berdua hanya berakting lebih tepatnya. Tak kusangka kau tertipu oleh mereka berdua," ucap sohee masih tertawa sambil memegangi perutnya

"Astaga, kalian begitu hebat, sunbae-nim," ucap sohee sekarang bertepuk tangan terlihat kagum dengan mereka berdua

"acting? B-benarkah?" ucap si wartawan tersebut kelihatan malu

"Tentu saja, kau pikir apa lagi?" dengus Taecyeon dengan irama kesal

"Ahjussi, sebaiknya kau hapus foto itu sebelum tersebar, dan mungkin bisa saja mereka berdua menuntutmu," ucap sohee seperti bercanda tapi terdengar menyeramkan

"A-ah, untuk apa hal ini dilaporkan ke pihak berwajib, aku kan hanya salah paham saja. Ha-ha-ha" sambung si wartawan dengan tawa terpaksa dan mulai menghapus fotonya.

"aku rasa aku harus pergi sekarang," ucap wartawan itu gelagapan dan langsung pergi dari tempat itu

"Terimakasih, sohee-ah" ucap Taecyeon sambil mencubit pipi chubby sohee

"Oppa!" dengus sohee sambil mencubit pipi nya. "bagaimana dengan secangkir kopi hari ini sebagai ucapan terimakasih mu?" seru sohee kembali ceria. Sementara mereka berdua bercengkrama, Minjun hanya dapat tertegun dengan apa yang terjadi barusan.

Benarkah sohee yang baru saja menyelamatkan mereka? Tapi kenapa? Bukankah sohee sangat menentang hubungan mereka? Minjun benar-benar bingung sekarang

"Well, kau sudah mengetahui hubungan kami kan, sohee?" ucap Taecyeon sambil tersenyum, sementara sohee membalas dengan anggukan kecil.

"Oppa, ayo kita kembali kedalam, seperti nya acara mau dimulai,"

"Baiklah, kajja," ucap taecyeon dan mulai melangkah duluan, meninggalkan sohee dan minjun yang masih tertegun di tempat

"Ayo oppa," ajak sohee ramah

"kenapa.." ucap minjun. Lebih mirip seperti berbicara dengan diri sendiri.

"Kenapa kau mau menjauhi taecyeon oppa saat aku bilang ia akan hilang pamor dan mungkin akan jatuh miskin?" Tanya sohee kembali sambil tersenyum

"Aku..aku hanya tak mau melihatnya menderita," ucap minjun lirih

"Itulah alasanku. Kita memiliki alasan yang sama oppa," ucap sohee halus

"dan sekarang, kurasa aku lebih tenang melihat Taecyeon oppa nyaman disampingmu disbanding jika ia stress karena jauh darimu," sambung sohee

"Baiklah, aku rasa permasalahannya selesai sekarang, ayo kita kembali kedalam," ujar sohee sembari menarik tangan Minjun

"Tidak. Permasalahan tentang perasaan tidak bisa selesai secepat ini, sohee-ah. Aku mengerti perasaanmu," lanjut minjun kembali. Kali ini, sohee yang tertegun.

Nichkhun masih memikirkan perkataan sohee tadi. Yang gadis itu katakan ada benarrnya. Kini dengan pasti ia meraih ponselnya dan mulai menelpon wooyoung. Nichkhun memejamkan matanya sebelum akhirnya terdengar suara namja dari balik ponselnya

"Yeobseyo?"

"W-wooyoung-ah?" ucap Nichkhun terbata-bata

"maaf, ini bukan wooyoung, tapi Junho,"

"Apa?" ucap nichkhun sambil menyerngitkan keningnya,

"Ia sedang ada urusan, jadi ponselnya aku yang pegang. Ingin titip pesan?" ucap suara disebrang sana. Baru saja Nichkhun hendak membuka mulutnya, ia pun mendengar suara yang tak asing baginya seperti sedang berteriak dari ponsel itu,

"Junho-ya saranghae!" benar, itu suara wooyoung. Nichkhun langsung membeku di tempat dan mematikan sambungan ponselnya. Tak salah lagi, itu kekasih wooyoung.

"Wooyoung-ah, aku punya hadiah untukmu!" seru junho bersemangat saat baru saja sampai dirumah

"Sebentar Junho, aku harus menamatkan game ini dulu," ucap wooyoung sambil berkutat dengan ponselnya

"Ayolah, game itu kan bisa di pause. Aku sudah capek-capek membelinya khusus untukmu," ucap junho pura-pura kesal

"Arraseo arraseo, dimana hadiahnya?" ucap wooyoung yang kini sudah menaruh ponselnya diatas meja

"Dalam kulkas," jawab junho singkat, wooyoung pun langsung melesat kearah dapur. Tak lama kemudian, junho yang sedang serius membaca novel Harry Potter nya yang sudah ia tamatkan ntah berapa kali, kini mengalihkan pandangannya kearah ponsel wooyoung yang bergetar

"Yeobseyo?" junho pun mengangkat ponsel yang bordering itu

"W-wooyoung-ah?" ucap suara disebrang sana

"Maaf ini bukan wooyoung, tapi junho," ucap junho yang masih tetap focus dengan novelnya

"Apa?" seru suara disebrang sana kebingungan. Junho sedikit mendengus karena konsentrasinya membaca novel terganggu.

"Ia sedang ada urusan, jadi ponselnya aku yang pegang. Ingin titip pesan?" ujar namja yang bermata sipit itu. Tapi tak lama kemudian, terdengar suara wooyoung berteriak dari arah dapur

"Junho-ya saranghae!" junho sedikit terkekeh, pasti anak itu telah menemukan ice cream nya. Tapi tiba-tiba saja sambungan ponsel itu terputus

"Huh, seenaknya saja mematikan percakapan," dengus junho

"Ada apa?" seru wooyoung yang baru kembali dari dapur sambil memakan ice cream nya

"Tadi ada yang menelpon di ponselmu, tapi tiba-tiba saja ia matikan. Sangat tidak sopan," jawab junho sambil meneruskan membaca novelnya.

Menelpon? Siapa? Pikir wooyoung penasaran. Ia meraih ponselnya dan melihat kearah panggilan masuk. Tertulis sebuah nama disana

"Khunnie hyung"

.

.

.

To be continued

.

..

Maaf banget ya icha baru sempat upload chap selanjutnya sekarang, kegiatan bener-bener padat akhir2 ini T_T dan makasih banget buat yang selalu setia baca FF icha, gumawoo^^ ditunggu reviewnya yaa^^