Summary

Sakura memutuskan untuk lebih mendalami geisha disekolah pelatihan geisha. Di sana dia mengagumi Hyuga Hinata yang begitu sempurna. Namun semua pandangan Sakura terhadap Hinata seketika berubah. Terlebih lagi teryata identitas Hinata bukanlah seorang wanita tulen dan dia terpaksa harus melindungi Hinata bahwa di sekolah khusus wanita ini ada seorang pria yang bernama Hyuga Neji/NEW CHAPTER UPDATE/LETS READ MINNA SAN/RnR PLEASE.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

My Boyfriend is a Geisha

"My Boyfriend is a Geisha" is mine

Naruto by Masashi Kishimoto

( Hyuga Neji & Haruno Sakura )

Romance, Drama, Humor, Angst

Au, Typos, Rate T, miss ooc, etc.

Please your review

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

HAPPY READING

Chapter 1

Sebuah Mercedes Benz hitam berhenti tepat didepan pintu kayu gerbang sebuah sekolah. Dimana telah ada seorang gadis berkimono yang menunggu didepannya.

Gadis berkimono?

Sekolah macam apa ini?

Tunggu setelah narasi yang panjang ini berakhir.

Dari pintu depan mobil bagian penumpang, keluarlah seorang gadis bersurai bak permen kapas yang langsung berjalan cepat ke bagian belakang mobil. Tak sampai dua detik setelahnya, keluar jugalah seorang lelaki dari pintu sopir dengan terburu-buru menyusul si gadis permen kapas.

"Sakura chan, biarkan saya yang mengangkat semua barang-barang anda." Izin lelaki itu kepada si gadis yang ternyata bernama Sakura, sambil mencoba mengambil alih gagang koper yang siap dikeluarkannya dari bagasi mobil. Namun sungguh sayang nan malang, Sakura menepis tangan lelaki itu.

"Tidak perlu Yamato, aku cukup kuat untuk mengangkat koper ini sendirian." Tolaknya tanpa memperhatikan tampang terluka Yamato.

Dan benar saja, dengan satu kali sentakan, koper dengan panjang satu meter, lebar lima puluh sentimeter dan tinggi tujuh puluh sentimeter (detail banget diksinya) itu berhasil dikeluarkannya dengan selamat sehat walafiat dari dalam bagasi. Sakura kembali hendak menggapai barang lain tetapi tangannya menggantung diudara karena tangan Yamato telah mendahuluinya terlebih dahulu.

"Kali ini biarkan saya saja yang membawa ransel anda Sakura chan." Ujar Yamato masih berusaha. Lelaki itu sudah akan menggendong ransel ekstra Sakura namun lagi-lagi nasibnya sungguh malang, karena niat baiknya itu ditolak oleh Sakura. Sebuah tendangan maut ditulang kering kaki kiri Yamato seketika langsung membuatnya terjongkok seraya mengaduh pilu. Dan pastilah ransel yang siap dibopongnya melorot dengan mulus dan jatuh berdebum diatas jalan berbatu.

Sakura menyeringai senang melihat kesusahan yang kentara diwajah pria itu. Tanpa banyak cakap, diambilnya salah satu tali ransel lantas menyampirkan benda jumbo itu dipunggung kecilnya dengan santai. Seolah ransel itu begitu ringan digendongannya. Dia pun mulai melangkah sembari menyeret koper dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya bergerak melempar sebuah tas selempang kecil kepada Yamato yang masih belum juga bangkit dari kesakitannya.

"Tolong bawa benda berat itu dan cepatlah berdiri kakak." kata Sakura sambil menyeringai.

Kening Yamato berkerut. Dia memandang seonggok tas kecil yang tak jauh dari kakinya. Beberapa detik kemudian pandangannya kembali berpindah pada sosok Sakura yang berjalan kian menjauh, lalu kembali menatap tas yang belum juga diambilnya dan kembali lagi menatap Sakura. Begitu seterusnya secara bergantian sampai teriakan Sakura menyadarkannya.

"Apa yang kamu lakukan disana Kakak? Cepatlah berdiri dan kemarilah."

Dengan tergesa-gesa Yamato menyambar tas itu dan segera menyusul Sakura.

"Lama sekali." Ucap Sakura sambil berkacak pinggang ketika Yamato tiba didepannya.

"Maaf, saya hanya sedang memikirkan apakah benda yang Sakura sa- "

Yamato langsung menghentikan ucapannya ketika melihat Sakura medelik sangat lebar padanya. Dengan gugup Yamato menggaruk bagian belakang kepalanya yang seolah berkutu.

"Ano...Maksudnya saya sedang memikirkan apakah tas yang Sakura sa-" Lagi-lagi Yamato membungkam mulutnya sendiri karena pelototan Sakura untuk yang kedua kalinya. Namun, untuk yang ketiga kalinya, tanpa membuang banyak waktu dia langsung meralat ucapannya.

"Saya hanya sedang memikirkan apakah benda berat yang Sakura chan maksud adalah tas ini?" tanyanya cepat sembari mengangkat tas selempang Sakura dengan wajah horor menahan takut.

Perlahan dihembuskannya napas lega. Entah sejak kapan dia telah menahan napas karena begitu gugupnya, begitulah pengaruh adrenalin yang memuncak.

"Jadi, kamu meremehkanku begitu? Meremehkan bahwa sebaiknya aku membawa tas itu daripada membawa dua tas besar ini? Kamu meremehkan kekuatanku? Hmmm?"

Yamato kembali mengalami yang namanya 'penyempitan kerongkongan' tatkala mendengar pertanyaan balik Sakura yang menyiratkan dengan sangat bahwa gadis itu siap meledak didetik itu juga kalau Yamato tak segera memperbaiki ucapannya yang salah ditelinga gadis merah muda itu.

"Tidak...Tidak...Bukan begitu maksud saya Sakura chan. Saya hanya merasa telah salah mendengar karena itu saya menanyakan maksud Sakura chan." Jawab Yamato sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya didepan dada.

Sebelah mata Sakura memicing. Mengamati tiap lekuk ekspresi wajah Yamato yang berlumuran keringat segar. Seolah tengah menyelidiki adakah secuil kebohongan di wajah yang sebenarnya tak pandai berbohong itu.

"Saya sangat mengagumi kekuatan Sakura chan. Karena dengan tubuh yang sekecil itu Sakura chan mampu membawa barang-barang yang memilki berat diatas lima kilogram. Jadi mana mungkin saya meremehkan kekuatan super Sakura chan." sambar Yamato sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada.

Setidaknya dia segera berpikir cepat untuk menutupi kecurigaan Sakura terhadapnya dengan dalih memberikan pujian. Karena Sakura sangat suka dipuji.

Seperti yang dapat kita lihat efeknya setelah mendengar pujian kilat Yamato, air muka Sakura yang awalnya begitu gelap seketika berubah cemerlang bak sinar mentari yang menyilaukan. Senyumnya mengembang lebar hingga menyentuh matanya. "Ah! Aku memang seorang wonder woman. Yeah!"

Yamato mengangguk-anggukkan kepalanya dengan kencang. Lengkap dengan cengiran lebar yang kelewat lebar. Sepertinya lelaki satu ini masih belum bisa mengatasi ketakutannya terhadap seorang gadis berumur 17 tahun macam Sakura.

"Anda memang wonder women. Bahkan melebihi wonder women sekaligus."

Gadis itu sepertinya benar-benar masih hijau, sampai-sampai tak bisa membedakan antara pujian tulus dan pujian terpaksa yang dilontarkan Yamato.

"Yosh! Kamu benar! Mari kita buktikan pada semua orang bahwa akulah wanita terkuat. Hahahahaha."

Lihatlah duo aneh Yamato dan Sakura didepan sebuah gerbang besar. Jangan lupakan juga bahwa telah ada seorang gadis yang tengah menunggu mereka. Gadis yang dalam diamnya tengah memperhatikan ketololan keduanya.

Gadis itu tersenyum. Dia menghembuskan napas pelan sembari mengeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis pikir menyaksikan tingkah kekanakan mereka.

Hm...Kenapa ya, Sakura bisa sebegitu marahnya dengan ucapan Yamato?

Kenapa ya?


Di ruang kantor berukuran sedang, duduklah seorang wanita cantik berkimono biru dibalik satu-satunya meja besar yang ada diruangan ini. Keningnya berkerut-kerut memperhatikan tiap baris kalimat yang tercetak dalam sebuah lembaran ditangannya. Wanita berambut pirang pucat itu begitu serius melihat tiap baris kalimat yang tertera disana. Seperti tengah memeriksa apakah ada satu huruf yang hilang.

Seolah dunianya hanya ada didalam kertas itu. Padahal kertas tersebut bukanlah berisi laporan anggaran bulanan atau daftar kerugian tahunan yang harus sampai diperhatikan sebegitu seriusnya. Tapi hanya dengan biodata seorang gadis berambut ala permen kapas, sudah mampu membuat perhatiannya terpusat disana. Wajahnya yang cantik begitu keruh, kusut dan lecek.

Tsunade Senju menggulirkan matanya ke pojok kanan atas kertas. Dapat dilihat foto 3x4 si pemilik biodata yang menempel apik disana. Foto seorang gadis yang sudah amat dikenalnya dengan ekspresi masam tercetak diwajahnya. Tak ada senyum disana, melainkan kedua alis yang menyatu dengan bola mata melotot hampir keluar dari kelopaknya lengkap dengan bibir mengerucut seperti dikuncir. Sungguh foto yang aneh, mengingat apabila biasanya jika seseorang difoto pasti akan menampilkan ekspresi terbaik yang mereka punya. Sejenak Tsunade merasa kepalanya berputar.

Setidaknya Tsunade harus berterima kasih kepada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya yang mampu mengalihkan rasa sakit kepala dan perhatiannya dari kertas terkutuk itu.

"Masuk." Izinnya dengan suara tercekat.

Sekali lagi, efek dari kertas biodata horor itu.

Pintu pun terbuka, menampakkan seorang wanita cantik bersama seorang pria dibelakangnya. Tsunade langsung beranjak dari kursinya begitu menyadari siapa yang datang. Senyum seketika terbentuk diwajahnya yang lusuh. Dia membungkuk hormat kepada dua orang penyelamat mentalnya sebagai tanda selamat datang. Dua orang yang masih berdiri diambang pintu itu pun melakukan hal yang sama dengan sopan.

"Tuan Yamato telah tiba nona." Wanita berkimono itu berujar lemah lembut sembari mengeser posisi berdirinya kesamping. Membuka jarak pandang Tsunade terhadap lelaki tersebut.

"Selamat siang nona Tsunade Senju." Ucap lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Yamato. Dia kembali membungkuk mengiringi sapanya.

"Selamat siang Tuan Yamato, senang bertemu dengan anda lagi." Balas Tsunade dengan sama sopannya. Dia pun ikut membungkukkan badannya.

"Mari, silakan duduk." Persilahkannya lalu berjalan ke arah sofa tamu ditengah ruangan.

"Terima kasih" Angguk Yamato lantas mengekori Mei.

Dia baru mendudukkan dirinya disofa yang berseberangan dengan Tsunade setelah wanita itu duduk terlebih dahulu.

"Saya permisi nona" Suara selembut sutra sang wanita pengantar Yamato tadi mengalihkan perhatian keduanya yang tanpa sadar telah melupakan kehadirannya.

"Ya." Jawab Tsunade disertai anggukan.

Sepeninggalnya wanita itu, barulah pembicaraan diantara keduanya dimulai.

Tsunade lah yang memutuskan untuk angkat suara terlebih dahulu, "Terima kasih telah memenuhi permintaan saya untuk datang. Bagaimana kabar anda tuan Yamato?"

Yamato tersenyum, "Ha'i, saya baik-baik saja. Arigato. Saya lah yang seharusnya berterima kasih kepada anda karena telah membantu Sakura."

Tawa ringan menguar dari bibir Tsunade. Digunakanlah satu tangannya untuk menutupi mulutnya.

"Sakura adalah cucu dari teman baikku. Sudah seharusnya aku membantunya mengingat dulu Haruka sering membantuku." Ucap Tsunade setelah tawanya reda.

"Almarhum tuan besar sangat beruntung mempunyai sahabat seperti anda."

Tsunade kembali tertawa, "Bisa saja."

Sedangkan Yamato hanya menanggapinya dengan ikut tertawa pelan.

"Oh iya. Bagaimana kabar keluarga Hatake ?"

Pertanyaan Tsunade yang selanjutnya sejenak membuat Yamato menahan napas. Dia sudah dapat menduga bahwa wanita ini pasti akan menanyakan kabar keluarga sepupunya juga. Tapi ketika ternyata pertanyaan itu benar-benar ditanyakan, Yamato tanpa sadar tengah mengepalkan telapak tangannya yang entah sejak kapan sudah berkeringat.

"Mereka baik-baik saja." Setidaknya dia bersyukur bahwa suara yang dikeluarkannya tidak menampakkan kegugupan.

"Hmm... Tapi tidak cukup baik untuk Sakura bukan."

Eh?

Tsunade tertawa. Tawa yang janggal ditelinga Yamato, "Sakura saja sampai pindah kemari karena tidak betah disana."

Sepintas, Yamato merasakan suatu firasat aneh atas perkataan Tsunade.


Sekolah pelatihan Geisha dengan nama Gisha Art High School ini sangat luas. Menempati lahan kurang lebih 500 hektar, tak heran apabila gedung utama sekolah yang menghadap kearah utara, mampu memakan seperempat hektar dari luas lahan. Gedung ini terdiri dari tiga tingkat dengan berisikan sembilan kelas, delapan kamar mandi laki-laki dan perempuan yang letaknya terpisah, dua koperasi, ruang guru, laboratorium ipa, laboratorium bahasa, perpustakaan, uks dan dua gudang tempat menyimpan semua peralatan olahraga.

Semua ruangan dilengkapi dengan Air Coditioner, kecuali gudang dan kamar mandi yang diberi kipas penyedot debu. Tak lupa proyektor sengaja digantung di tengah-tengah langit-langit kelas untuk memudahkan media pembelajaran.

Meski masih memakai buku teks dan buku tugas, disediakan pula satu set laptop multi fungsi tab-maksudnya laptop yang dapat juga digunakan sebagai tab-yang tersembunyi di sebuah celah kecil dimasing-masing meja siswa. Tinggal menekan sebuah tombol yang terselip disisi kiri laci meja, laptop tersebut akan 'muncul' keatas permukaan meja melalui celah kecil tersebut. Jadi mereka tidak perlu pergi keruang laboratorium teknologi-yang memang tidak ada-apabila ada pelajaran IT yang mengharuskan mereka praktek menggunakan PC. Selain itu disediakannya satu set laptop adalah karena terkadang materi pelajaran yang dijelaskan guru tidak tercetak dibuku teks. Jadi siswa dapat memperoleh materi yang sedang diajarkan melalui internet. Didukung dengan wifi berspeed tinggi tentunya, tidak ada lagi yang namanya loading lama dalam proses belajar mengajar.

Gedung utama sekolah yang berbentuk huruf 'U' ini tidak menyertakan kantin ditiap lantainya untuk mencegah 'kecolongan' murid-murid nakal yang membolos pelajaran atau keluar kelas pada jam kosong hanya untuk makan atau minum. Yah, meskipun hukuman bagi tiap pelanggar termasuk dalam kategori berat dan mengingat hal tersebut, mungkin saja para siswa mustahil macam-macam tetap saja mengantisipasi hal tersebut tetap diperlukan. Walau kemungkinannya 0% sekalipun.

Jadi sebagai gantinya, dibangunlah sebuah cafe yang menghadap ke arah barat-berhadapan dengan gedung sekolah utama-secara terpisah. Cafe yang cukup besar untuk menampung seluruh siswa ini juga tak lepas dari nuansa modern. Desainnya minimalis dan simpel. Dinding yang bercat hijau daun dengan beberapa lukisan-lukisan indah digantung untuk mempermanis dinding cafe. Siswa yang ingin menikmati makanan secara outdoor juga disediakan beberapa meja berpayungkan tenda sebagai pelindung dari teriknya mentari. Stand-stand makanan yang dijaga oleh siswa secara bergiliran menyediakan berbagai makanan tradisional jepang dimana menu tiap harinya juga diganti secara rutin. Sebut saja ramen, okonomiyaki, dan don adalah salah satu dari menu list wajib makan.

Mengapa siswa yang menjaga stand makanan ? Kenapa bukan penjaga kantin ?

Asal tahu saja, karyawan disekolah ini terdiri dari guru pengajar, penjaga sekolah, tukang kebun, tukang sapu dan pel, dan yang terakhir adalah penjaga gerbang sekolah. Tidak ada penjaga kantin dalam list karyawan disekolah ini.

Kalau tanya kenapa, jawabannya mudah. Salah satu dari visi dan misi sekolah adalah meningkatkan keterampilan dan kemandirian siswa. Maka, tidak perlu dijelaskan secara detail apa hubungan antara visi tersebut dengan ketiadaan penjaga kantin karena kalian sudah pasti tahu apa hubungan keduanya.

Fasilitas sekolah selain cafe adalah gazebo-gazebo yang berjejer-jejer dipinggir danau buatan yang ada disebelah barat sekolah. Memutari danau yang tak seberapa lebar dengan bunga-bunga teratai dipermukaannya, menjadi salah satu tempat faforit siswa untuk bersantai atau sekedar menikmati pemandangan sore kala sang surya kembali keperaduannya.

Sedangkan dibagian timur sekolah dapat dijumpai dua lahan luas tanpa perlindungan pohon sama sekali. Yang satu adalah lahan beraspal dengan lintasan lari mengelilinginya dan yang lain adalah tanah berumput dengan beberapa papan bundar berjejer diseberangnya. Kedua lahan yang berfungsi sebagai lapangan olahraga itu letaknya agak rendah berkat permukaan tanah yang sedikit berbukit.

Lapangan beraspal yang terbagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya itu diberi pembatas berupa pagar berkawat setinggi lima meter yang juga mengelilingi seluruh lapangan, kecuali bagian lintasan lari. Dimulai dari lapangan dipojok kiri yaitu lapangan basket, semakin ke kanan yaitu lapangan voli, selanjutnya lapangan tenis, dan yang terakhir adalah lapangan badminton. Sedangkan lahan berumput yang sangat kontras dengan lapangan beraspal itu dipergunakan untuk olahraga memanah.

Keluar dari suasana modern yang mendominasi, dibagian selatan lebih terasa aura Jepang dengan terdapatnya bangunan bergaya tradisional. Bangunan-bangunan yang lebih mirip dengan kompleks perumahan mini-tentu saja karena jumlah bangunan disini lebih sedikit daripada kompleks perumahan yang sesungguhnya-dijaman Edo itu terdiri dari dojo karate, dojo kendo, ruang teater, ruang musik, ruang menari, ruang kesenian, ruang pelatihan yang merupakan ruang paling luas diantara yang lainnya, ruang makan malam dan yang letaknya paling jauh adalah dapur.

Sedangkan untuk bangunan asrama seluruh siswa berada dibagian barat daya dengan bangunan yang terdiri dari tiga bagian. Sama dengan ruang kelas, kamar asrama tiap-tiap tingkatan dibedakan. Hanya ada satu koridor yang menghubungkan antara asrama siswa kelas satu, dua, dan tiga.

Setidaknya begitulah visualisasi yang ada didalam otak Sakura berdasarkan sebuah kertas berjudulkan 'DENAH SEKOLAH' yang ditulis besar-besar dibagian atas kertas tersebut.

Gadis berambut sewarna permen kapas itu mengerutkan keningnya. Sejurus kemudian dia melipat kertas itu sembari mengedikkan bahunya pasrah. Sekolah ini terlalu luas dengan banyaknya tempat yang harus dihapalnya.

Entah bagaimana Yamato bisa menemukan sekolah pelatihan geisha yang super duper wah, mewah nan megah dan amazing macam Geisha Art High School di sebuah kota kecil bernama Kyoto. Ralat, pedalaman Kyoto maksudnya. Karena sekolah yang dipagari dengan dinding beton setinggi sepuluh meter lengkap dengan kawat-kawat bertegangan listrik tinggi diatasnya ini jauh dari pusat kota Kyoto. Lebih masuk ke area hutan belukar sebelum akhirnya dapat menemukan gerbang sekolah yang terbuat dari kayu dengan berat yang dapat Sakura perkirakan bahwa dia tak akan sanggup untuk menggesernya barang sesenti pun.

Dia juga tidak habis pikir dengan penjaga gerbang sekolah ini yang tak lain adalah dua orang wanita berkimono seperti yang dilihatnya sesampainya disini. Hebat sekali mereka bisa membuka tutup pintu gerbang ini.

Dan karena luasnya sekolah juga serta gambar-gambar didenah sekolah yang kelewat banyak nan membingungkan membuatnya memasrahkan diri kepada instingnya apabila dia ingin pergi ke suatu tempat. Toh, disini ada sepupunya yang akan bersedia menemaninya ketika dia mengalami kesulitan. Daripada harus memenghafalkan denah, akan jadi tantangan tersendiri baginya apabila tempat-tempat di sekolah ini baru diketahuinya setelah dia tersesat terlebih dahulu. Lagipula dia tidak akan sampai hilang dilingkungan sekolahnya sendiri kan?

Memikirkan 'petualangan kecilnya' (baca : tersesat) seperti itu saja sudah membuat perut Sakura bergolak. Kedua pipinya terasa panas dan tanpa sadar dia tengah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ternyata Yamato benar, kalau Sakura memang aneh.

"Haruno san, daijobu ka?"

Panggilan gadis yang sedari tadi berjalan disampingnya menyentakkan Sakura. Gadis merah muda itu menolehkan kepalanya ke samping dimana arah suara tersebut berasal dan mendapati Shizune, gadis yang menjadi tour guidenya ini menatapnya dengan raut khawatir.

"Iee...Daijobu Shizune san."

Shizune menghembuskan napas pelan. Dia menyunggingkan sebuah senyuman.

"Wakatta. Kalau kamu merasa tidak enak badan aku akan mengantarkanmu ke uks terdekat dilantai ini."

Sakura menggeleng. Dia pun membalas senyum Shizune.

"Aku tidak apa-apa Shizune san. Tidak perlu sekhawatir itu. Begini-begini aku ini tahan banting." Sakura berujar riang sembari menyentuhkan tinju kanannya pada dada kirinya. Senyumnya pun semakin melebar.

Shizune tertawa pelan dengan lengan yukata kanannya untuk menutupi mulutnya yang terbuka.

"Kamu gadis yang penuh semangat Haruno san."

Sakura terkekeh mendengar pujian Shizune, "Hidup itu harus penuh semangat Shizune san."

"Ah, kamu benar." Tawa Shizune pun berhenti. Meninggalkan segaris senyum dibibirnya, "Ayo kita lanjutkan perjalanannya. Masih ada banyak tempat yang belum kamu jelajahi."

Sakura mengusap tengkuknya, "Benar juga. Ini masih dilantai dua. Belum kelantai tiga dan tempat-tempat yang lain."

Sejurus kemudian Sakura tertawa. Tawa terpaksa lebih tepatnya. Tapi sepertinya Shizune tidak menyadari keganjilan itu. Gadis berambut hitam pendek dengan jepit besar mawar merah dirambutnya itu mengangguk. Dia melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti terlebih dahulu.

Ah?! Langkah kaki Sakura pun ikut terhenti rupanya. Tapi kenapa dia tidak menyadarinya ya? Mungkin karena dia sibuk dengan pikirannya sendiri.

Tak mau waktunya terbuang banyak, dia pun segera menyusul Shizune dengan langkah lebar. Berusaha memposisikan diri agar berjalan bersisian dan hal itu bukanlah hal yang sulit dilakukan menilik jangka kaki Shizune yang kecil-kecil, tertahan oleh yukatanya.

Shizune adalah murid tahun akhir dan dia juga sudah memulai debutnya sebagai geisha pemula disebuah pentas seni di kota Kyoto, maka dari itu dia memakai yukata dikesehariannya disekolah karena sudah menjadi salah satu peraturan sekolah yang mewajibkan hal itu.

Shizune kembali menjelaskan tiap ruangan yang mereka temui secara garis besarnya saja seperti tadi. Kali ini adalah ruangan bertuliskan KOPERASI disebuah papan yang tergantung di atas kusen pintu ruang yang cukup besar.

Namun, fokus lawan bicaranya tidak disana. Gadis musim semi itu tampak tengah mencari seseorang. Dapat dilihat dari kepala merah mudanya yang celingukan kesana kemari. Meski dia menimpali setiap penjelasan Shizune dengan bergumam 'Iya', 'Aku mengerti', mengangguk, atau hanya sekadar tersenyum, tetapi semua penjelasan panjang lebar gadis berambut hitam itu masuk ke telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan Sakura.

Ketika langkah kaki keduanya tinggal sejengkal dari ruang disebelah Koperasi, keluarlah tiga orang remaja perempuan dari dalam sana dengan begitu berisik. Membuat siapa saja menolehkan kepala hanya karena suara kikikan tawa mereka bertiga, termasuk Sakura dan Shizune.

Emeraldnya menyipit sedikit, memperhatikan ketiganya yang tampak seru membicarakan suatu hal. Sampai akhirnya dia menyadari sesuatu, seketika matanya melebar kala dia mendapati sosok orang yang sangat dikenalnya berada diantara ketiga gadis itu.

"Ino!" Serunya cukup keras.

Seorang gadis pirang berkuncir ekor kuda menoleh. Tak sampai lima detik, sebelah aquamarinenya yang tidak tertutup poni pirangnya melebar ketika bersiborok pandang dengan si pemanggil. Perlahan, senyumnya pun mengembang lebar.

"Sakura!"

Sakura langsung menghambur dalam pelukan Ino tanpa mempedulikan Shizune yang masih berbicara penjang lebar. Seketika kedua belah bibir Shizune berhenti berkomat-kamit begitu menyadari Sakura telah berada didepan, berbagi rindu pada seorang gadis bersurai pirang. Sebagai gantinya, Shizune tersenyum melihat keduanya yang tengah berpelukan.

Namun, coba lebih diamati lagi wajah manis Shizune dengan lebih seksama. Dipelipis kirinya terdapat tanda perempatan jalan yang samar dan lagi, senyumnya itu terlihat sedikit menyeramkan. Sayangnya, semua yang terlihat pada raut wajah Shizune tidak ada seorangpun yang menyadarinya.

Dasar gadis tidak tahu sopan santun.

Pasalnya, apabila ada seseorang yang mengacuhkannya begitu saja, Shizune akan langsung mencap jelek orang tersebut. Dan seperti yang kita lihat, dapat dipastikan bahwa kesan Shizune terhadap gadis bersurai gulali itu telah berubah hanya karena sikap tak sopannya.

Perlu diketahui, Shizune paling tidak suka apabila dirinya diacuhkan.


"Forehead, ternyata kamu benar-benar kemari. Aku kira kamu hanya bercanda pada waktu itu."

Ino kembali mendekap Sakura yang tengah tertawa riang.

"Ino pig baka. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."

Sakura mendorong tubuh Ino menjauh dengan pelan. Membiarkan kedua iris berbeda warna itu saling menatap sejenak. Dan pada saat itulah gadis bernama Ino itu tahu bahwa ada sesuatu disana. Sesuatu yang mencerminkan apa yang Sakura rasakan didalam lubuk hatinya. Tak perlu pendeklarasian dari sipemilik mata, dia sudah teramat sangat mengerti pribadi gadis musim semi itu.

Ino pun tersenyum lembut. Senyum yang menenangkan dan senyum sarat pengertian. Mungkin nanti malam, atau esok hari, dia pasti akan menjadi 'tempat sampah' bagi Sakura.

"Oke Oke. Nah, sekarang bagaimana kalau kamu berkeliling sekolah bersama kami?"

Ino melirik pada Shizune yang masih tak mengubah posisi maupun ekspresinya.

"Menggantikan Shizune senpai tentunya. Karena sebenarnya Shizune senpai itu sangat sibuk."

Kedua bola mata Sakura membeliak, "Ne? Benarkah itu Shizune senpai?"

Yang diajak bicara pun tetawa pelan dengan sikap tubuh yang sama seperti tadi, yaitu menutupi mulutnya memakai lengan yukatanya, "Hari ini tidak terlalu sibuk karena aku sudah dipesankan oleh nona Tsunade untuk menemanimu."

Sakura memperlihatkan air muka tak enak. Lantas dia merendahkan punggungnya dihadapan Shizune yang seketika terkejut akan sikap Sakura.

"Sumimasen, Shizune senpai. Harusnya aku tidak merepotkanmu."

Shizune kembali tertawa. Namun kali ini tidak dengan menutup mulutnya seperti tadi. Dia justru mengibas-ngibaskan tangannya diudara.

"Tidak usah sampai seperti itu Sakura. Aku tidak keberatan sama sekali."

Sakura meneggakkan tubuhnya. Menatap Shizune dengan raut wajah yang sama. Shizune yang mendapati hal tersebut hanya mampu terkikik geli didalam hati.

Gadis yang polos.

Tak lama kemudian, Shizune mengulas senyum.

"Kalau kamu merasa telah merepotkanku, ada baiknya kamu berkeliling sekolah bersama Yamanaka san sebagai penebusan dari rasa bersalahmu. Bagaimana?"

Setidaknya tawaran Shizune itu sangat-sangat tepat sasaran. Karena didetik berikutnya, kepala merah jambu Sakura mengangguk mantap tak lupa dengan air muka sumringah tercetak diwajahnya.

"Arigato Shizune senpai." Gadis itu kembali merendahkan tubuhnya.

Diperjalanan Shizune menuju kearah ruangan kepala sekolah, gadis itu tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyumnya kala dia diacuhkan Sakura.

Aku rasa tidak baik apabila menilai buruk seseorang pada pertemuan pertama.

Sepertinya Shizune baru menyadari, kenapa Sakura menolehkan kepalanya kesegala arah disepanjang turnya sebelum bertemu dengan gadis Yamanaka itu. Juga dari sorot matanya yang menyiratkan sesuatu kala bertatapan dengan Ino.

Tidak hanya Ino saja yang bisa menyadari, tapi Shizune pun mengerti arti dari sinar matanya yang berkilat redup.


"Nah, Haruno san mari kita berkeliling bersama."

Seorang gadis bemata violet memamerkan senyumnya yang menawan ketika Sakura mengangguk setuju akan penawarannya.

Ino bersorak semangat sementara seorang gadis lain berambut merah tua menepukkan kedua tanggannya sekali.

Ino meraih pergelangan tangan kanan Sakura. Membuatnya melangkah dibelakang Ino yang memimpin rombongan kecil itu. Jangka kaki Ino yang lebar karena kelewat semangat harus kelabakan diimbangi Sakura yang tak siap akan hal tersebut.

Karena ketidaksiapannya itulah, membuat keseimbangan tubuhnya goyah di langkah ke tiga dan menyebabkannya harus bersinggungan bahu dengan seseorang dari arah yang berlawanan.

Pantat masing-masing mencium lantai disertai pekikan pelan dari mulut Sakura.

Ino menghampiri Sakura, sementara gadis bermata violet itu meraih bahu orang tersebut, membantunya untuk berdiri.

"Daijobu Hyuga san?"

Orang yang bertabrakan dengan Sakura itu mengangguk sekali, "Arigatou Shion san."

Sakura langsung membungkukkan badannya didetik pertama dia berdiri tegak, "Gomennasai. Aku tidak sengaja."

"Aku tidak apa-apa."

Seketika kedua kelopak mata Sakura melebar kala mendapati sosok gadis berambut indigo dihadapannya. Gadis bermanik mata tak berpupil yang tengah menampakkan senyum tipisnya kepada Sakura, tanda bahwa dia tidak mempermasalahkan insiden tersebut.

Pada saat yang bersamaan jugalah, Sakura dapat merasakan bulu tengkuknya meremang. Hawa dingin asing yang menusuk membuatnya beridik ngeri tanpa sadar.

"Apa kamu tidak apa-apa?"

Sakura dipaksa kembali kealam nyata oleh suara lembut gadis berambut indigo itu.

"Iee...Daijobu." Sakura tersenyum canggung. Sepertinya aku ketahuan melamun, memalukan.

"Yokatta."

Gadis itu menghela napas lega, "Kalau begitu, berhati-hatilah ne?"

"Um." Sakura mengangguk.

"Aku ada keperluan, jadi duluan ya Yamanaka san, Shion san, Sara san dan siswi baru."

Sepeniggalnya gadis itu, Sakura menyadari bahwa hawa dingin yang sempat menyergapnya tadi juga ikut menghilang. Mau tak mau dia jadi berhipotesa yang tidak-tidak.

Apa itu tadi?


"Apa aku terkesan mencurigakan?"

Seorang wanita berambut hitam bergelombang menggeleng pelan, "Tidak terlalu Tsunade sama."

Tsunade menyunggingkan senyum. Senyum puas karena tingkahnya tidak seperti apa yang telah dipikirkannya.

"Demo..."

Senyum itu seketika lenyap. Bola mata madunya berkilat.

"Saya merasa kalau Yamato san mengetahui sesuatu."

Kalau tadi Tsunade menyunggingkan senyum, kini dia justru terkekeh.

"Biarkan saja. Hal tersebut akan semakin menyemarakkan suasana."

Tsunade bangkit dari singgasananya. Berjalan menuju sebuah kaca besar dibelakang kursi kerjanya. Kaca yang menampakkan penorama pelataran sekolah dipukul lima sore. Memperlihatkan matahari senja dihiasi siluet langit magenta yang menawan.

Cahaya sore sang surya tak luput menerpa wajah ayu Tsunade yang awet muda. Semakin menambah kadar kecantikannya diusia yang tidak bisa dibilang muda lagi.

"Anda seolah mempermainkan mereka. Padahal anda tahu bahwa anda dapat menolong mereka."

Tsunade tertawa mendengus, "Semua ini kulakukan untuk mengajari mereka Shizune."

Shizune menundukkan kepalanya.

"Terutama untuk mengajari Sakura dan Hatake Kakashi."

Wajah Shizune dibayangi keterkejutan yang ditandai dengan membeliaknya kedua manik mata sewarna rambutnya. Dengan cepat dia menengadahkan wajahya kearah Tsunade. Berniat untuk melihat keseriusan ucapan tersebut dari wajahnya, namun sayang, Tsunade masih memunggunginya. Masih menikmati keindahan yang tersaji diluar jendela.

"Bagimana menurutmu?"

Tsunade menatap Shizune dari balik bahu kirinya. Dan terlihatlah seringai yang bertengger diwajah tersebut oleh kedua mata kepala Shizune. Seringai yang mengartikan suatu rencana yang tidak main-main. Juga tahulah gadis itu, bahwa ucapan Tsunade bukanlah sebuah guyonan seperti yang tadi dikiranya.

To Be Continued


KOLOM AUTHOR:

UAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!

Gomennasai (bungkukin badan)

Maaf karena aku ga bisa update cepat seperti yang aku katakan. Tugas sekolah banyak dan keigatan klub juga padat. Selain itu, ini yang paling parah sebenarnya, yaitu, aku sempat lupa sama adegan yang mau aku tulis.

Nge BLANK!

Tiba-tiba aja aku lupa sama sekali sama alur cerita yang udah aku susun T.T

Mungkin efek kerena kecapekan di duta atau karena pikiran numpuk sama tugas yang ga kelar-kelar. Jadi aku memutuskan berhari-hari untuk kembali nyusun scene yang aku anggap pas dan nyambung sama kerangka cerita untuk masuk ke chapter pertama T.T

Dan jadilah seperti ini.

Maaf kalau chapter pertama membosankan, tapi aku sudah berusaha untuk ga bikin bosan walau entah berhasil atau tidak T.T

Aku juga berharap, sangat banget malah, kalian bersedia untuk tetap berada disisi ficku ini (disisiku juga sih) walau dalam keadaan apapun T.T

Jadi mohon maafkan atas keterlambatanku mengupdate fic ini (bungkukin badan lagi).

Terima kasih juga untuk ke tujuh belas review di prolog. Aku sangat senang menerima dukungan kalian dan maaf kalau ada beberapa reviewers yang tidak bisa aku balas lewat PM. Terima kasih sekali lagi ya minna san :D

Terima kasih juga buat silent rider. Aku sangat menghargai kalian yang sudah membaca walau tidak meninggalkan jejak karena sebelum jdi author aku juga sama seperti kalian^^ #membuka aib.

Yang terakhir, mohon dukungannya terus ya. Karena tanpa kalian aku ga akan bisa jadi lebih baik. Jadi jangan lupa review ya^^

Sampa jumpa lagi :D

Salam sayang buat semuanya,

Sakura Hanami