Summary

Sakura memutuskan untuk lebih mendalami geisha disekolah pelatihan geisha. Di sana dia mengagumi Hyuga Hinata yang begitu sempurna. Namun semua pandangannya terhadap Hinata seketika berubah. Terlebih lagi teryata identitas Hinata bukanlah seorang wanita tulen dan dia terpaksa harus melindungi Hinata bahwa di sekolah khusus wanita ini ada seorang pria yang bernama Hyuga Neji/CHAPTER 2 UPDATE MINNA SAN/HAPPY READING AND DONT FORGET RNR/.

.

.

.

Pojok Bales Review Yang Emang Belum Saya Bales:

Ciao readers! Jumpa lagi dengan saya Sakura Hanami :D

Gomen ne karena scene NejiSaku yang romance belum muncul. Aku ingin menebar lebih banyak konflik sembunyi-sembunyi yang terjadi antara Sakura, Tsunade, Yamato dan Kakashi. Tapi insyaallah chapter depan bakal muai muncul satu per satu NejiSaku-nya. Tapi aku belom bisa jamin kalo bakal roamnce sih. Ehehehehe.

Oh iya, apa ada yang merasa kalau fic ini terlalu lambat? Kalo iya sekali lagi saya mohon maaf karena memang pada dasarnya saya sengaja memakai alur seperti ini agar lebih terasa konfliknya. Semoga readers juga sama menikmatinya seperti saya :D *padahal konfliknya belum muncul* #plaakk.

Maap juga ya saya ga bales rivew klian di chapter 2 kmrn krn saya terlalu males buat nulis dan buka profil klian satu per satu #plaakkk.

Oke, dripada saya bnyak omong mending lgsng saja saya bales ya.

jessinovichan: makasih udah meluangkan waktu buat baca dan meninggalkan jejak :D. Makasih juga atas pujiannya walopun mnrtw, chapter 2 ini terkesan, errr...membosankan =.= Tapi aq ttp ngarep km terus baca My Boyfriend is a Geisha sampe tamat ya (pdhl tamatnya masih luaammmaa). Sklli lgi arigato *bungkukin badan*.

Kiki RyuEunTeuk: muehehehe, langsung nagih NejiSaku ye sayang, mugkin next chap baru scene mereka bersama keluar seutuhnya (?). Aku masih sibuk menebar sepenggal konflik-konflik tersembunyi antara TsunadexYamatoxKakashi. Sengaja pengen buat pembaca penasaran, tp kayakx ga ada yang merhatiin pergolakan (?) batin mereka yap. Tp yg pasti, arigato ya udah bersedia baca dan review di chapter yang baru *bungkukin badan lagi*.

MinAh31: makasih buanget sma kamu krn udah baca dan ninggalin jejak juga :D nih udah update. Apa masih terlalu lama updatenya? Wkwkwkwkw. Arigato ne :D

Alapenny: Makasih! kakak masih tetap minat baca dan review. Kasih saran lagi XD
Senangnyaaa *hug kak Alapenny*. Tapi gomen kak T.T, di chap ini belom ada NejiSakunya T.T. Ntar next chap baru ada. Gomen kalo kelamaan, krn aq pengen fic ini mengalir ada apanya dulu. Ini udah kilat lho (menurutku), apa mnrt kakak mash terlalu lama updatenya? Btw, kakak bilang rada bingung sama chap ini kan ya? Emng bingung dibagian mananya? Makasi atas sarannya juga :D, chap ini udah lumayan kan cara nulisnya? Makasih juga dukungannya :D. Trs yang terakhir buat kakak, kapan update fict2 kakak? Aku menanti sedari dulu lho. Jgn2 kena WB juga XP. Klo gtu kakak ttp semangat juga ya :D

Yuki-chan: Makasih masih tetep baca dan review lagi ya Yuki-chan :D Btw, kok akunmu ga bsa d buka ya un? Pdhl aq pengen bongkar-bongkar profilmu. Ehehehehe. Hm, kayanya cma kamu deh yang terpengaruh sama gelagat mencurigakan Tsunade baa-chan. Kamu jeli yak, jadi seneng deh :D. Bener un, sekolahnya guede! Kayanya d dunia asli pun ga ada sekolah seluas Geisha Art, wkwkwkw. Ntar kalo ada kita daftar jdi siswi di sana bareng2 yuk. Ntar kita maen petak umpet bareng (?) :P. Arigato skli lgi ya :D

Noeruheiwa20: Aloha! Makasih udah baca sayang *hug noeruheiwa* Tapi hei, kamu kok review yang chap 1 sih? Chap 2 nya enggak? Chap yang baru dibaca lagi ya :D Arigato lagi deh buat noeruheiwa :D

Yup! Kelar smua dah bales review d chap 2 yang ga seberapa ini. Buat silent rider makasih udah diam-dian baca ya :D
Moga klia jg masih mau baca chap yang baru d publish ini.

Nah, silakan dinikmati chap 3 dan kutunggu review dari klian smua :D

.

.

.

.

.

My Boyfriend is a Geisha

"My Boyfriend is a Geisha" is mine

Naruto by Masashi Kishimoto

(Hyuga Neji & Haruno Sakura)

Romance, Drama, Humor, Angst

Au, Typos, Rate T, miss ooc, etc.

Please your review

And

Happy Reading

.

.

.

.

.

Chapter 2

Dua buah daun pintu besar di kediaman keluarga Haruno terbuka lebar berkat tenaga dua orang berjas hitam yang membukanya. Yamato masuk dengan jangka kaki lebar-lebar. Melewati berjejer-jejer pria dan wanita berjas hitam lainnya yang membungkuk hormat sembari berujar 'selamat datang' padanya.

Namun pria itu sama sekali tidak menggubris salam mereka walau hanya sekedar tersenyum tipis. Ekspresi dingin dan datar lah yang terpahat apik diwajahnya. Menunjukkan beban pikiran yang sangat kentara sekali tengah memenuhi otaknya.

Dibelakang Yamato, mengekor seorang pria paruh baya beraut wajah cemas. Dia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan pemuda berumur dua puluh enam tahun itu. Dia pun memutuskan untuk bertanya meski takut-takut. Siapa tahu ada yang dibutuhkan oleh pemuda itu.

"Apa anda membutuhkan sesuatu, tuan?"

Yamato sengaja mengambil waktu untuk melepaskan simpul dasi silvernya dengan kasar dan membuka dua kancing teratas kemeja putihnya sebelum menjawab pertanyaan itu diujung tangga.

Diputarlah tubuhnya menghadap si penanya bername tag Hizuko Takada itu. Tak lupa pula dengan senyum kelewat lebar hingga menyipitkan kedua matanya. Mencoba berdusta akan keadaanya dihadapan lelaki paruh baya tersebut.

"Tidak perlu, terima kasih. Setelah ini aku akan langsung tidur. Makan malamnya untuk kalian semua."

Sayangnya Yamato tidak pandai berbohong. Pria itu sangat tahu, tetapi dia lebih memilih diam.

Orang-orang yang tadi membungkuk hormat di depan pintu, kecuali pria tua itu, saling bertukar pandang heran kala mendengar perkataan Yamato yang telah berlalu meniti tangga. Seolah tak percaya dengan apa yang telah mereka dengar.

"Makan malamnya kita yang makan semua?" Terdengar bisikan seorang wanita berjas kepada sesama rekannya.

"Makan malam dari Hiroshi-san? Makan malam buatan koki terbaik keluarga ini kita yang makan semua?"

"Yeeeyyy!"

"Ini baru namanya kejatuhan duren!"


Yamato langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang king sizenya. Kepalanya pening dan semakin berputar kala melihat langit-langit coklat muda kamarnya. Ditempelkanlah punggung tangan kanannya diatas kedua kelopak matanya yang sengaja dipejamkan.

Semakin lama dia melihat, justru dunia semakin berputar dan dia tak sanggup harus bolak balik kekamar mandi hanya gara-gara muntah akibat vertigo turunan ibunya ini.

Vertigo yang kini menyerangnya terasa semakin parah di saat pikirannya kembali tertuju pada Tsunade Senju dipertemuannya tadi siang.

Dia kembali ingat akan ucapan wanita tua tersebut. Ucapan yang mengartikan berbagai macam kemungkinan.

Tapi tidak cukup baik untuk Sakura bukan.

Yamato mengeraskan rahangnya.

Sakura saja sampai pindah kemari karena tidak betah di rumah itu.

Kali ini Yamato menghempaskan tangan kanan yang menekan pelupuk matanya ke samping, beriringan dengan kedua onyxnya yang terbuka. Memancarkan sinar kemarahan yang entah sejak kapan telah membara disana. Setelah ucapan Tsunade yang terakhir, menyusullah bayang wajah Sakura yang tersedu sedan dibenaknya.

Wajah gadis musim semi itu memerah berderai air mata yang bercucuran deras. Mulut gadis itu terbuka dengan susah payah. Mendengungkan kembali suara yang membuat rongga dada Yamato serasa menyempit kala suara itu terngiang di telinganya.

Bawa aku keluar dari sini. Bawa aku kemana saja asal tidak disini.

Yamato berusaha menarik napas sekuat-kuatnya. Mencoba untuk mengisi paru-parunya yang terhimpit. Memasok oksigen yang seolah menipis lantas menghembuskan gas karbon dioksida dengan sekali sentakan panjang.

Dia mendecih. Tangan kanannya bergerak mengacak rambut hitamnya dan otaknya kembali memainkan slide kala Sakura memohon dengan sangat padanya. Memohon dengan begitu menyedihkan.

Dia masih dapat merasakan cengkeraman tangan mungil gadis itu di kemeja depannya. Meremas kain putih yang membalut tubuhnya kuat-kuat sebelum dia membenamkan wajahnya dibahunya dengan tangis yang semakin keras.

Setelah hari itu, Yamato benar-benar memupuk dendam pada satu orang yang telah menyebabkan semua ini terjadi.

Setelah hari itu, Yamato benar-benar ingin mengembalikan kebahagiaan yang seharusnya didapat Sakura.

Dan setelah hari itu, Yamato benar-benar bertekad akan melakukan apa saja untuk Sakura dengan cara apapun.

Termasuk dengan kepindahannya ke Kyoto, ke sekolah itu, dan mengubah identitas aslinya dengan tetap menjaga alasan dibalik masuknya dia sebagai keluarga besar Geisha Art High School, dimana kini Yamato mencemaskan sosok bernama Tsunade Senju yang seolah mengetahui hal yang sangat rahasia tersebut.

Yamato semakin dibuat pusing memikirkan wanita tua yang meski dia pun mengerti, bahwa Tsunade Senju adalah sahabat baik mendiang kakek Sakura, Haruno Haruka, tapi untuk ukuran seorang kawan lama dia terlalu banyak tahu mengenai keluarga Haruno. Apalagi terhadap Sakura.

Dan Yamato takut apabilla semuanya benar-benar diketahui oleh Tsunade dan dia akan memulangkan Sakura kembali ke rumah itu. Rumah yang telah membuat air mata menganak sungai di pipi gadis itu.

Tsunade Senju benar-benar diluar perkiraannya.

Nada dering handphonenya membangunkan Yamato dari lamunannya.

Dia merogoh saku kiri celananya. Sebuah handphone touchscreen bercasing hitam tengah menampilkan gambar telfon hijau yang bergetar dengan sederet nomor dibawahnya.

Yamato mengerjabkan matanya dua kali. Otaknya memproses lama atas apa yang tengah dilihatnya sampai akhirnya seulas seringai muncul sebagai penanda, bahwa dia tahu siapa pemilik sederet nomor asing yang sengaja tidak ia-save kedalam kontaknya .

Dia menekan tombol 'jawab' sebelum menaruh smartphone itu ditelinga kanannya.

"Kemana kamu bawa dia pergi?"

Tak medapati sapaan 'halo' seperti pada umumnya orang bertelepon tidak lantas membuatnya mengerutkan dahi tak suka. Justru, seringainya semakin bertambah lebar.

"Kenapa aku langsung mendapat pertanyaan tidak sopan darimu ketika pertama kali mengangkat telepon? Ada apa denganmu?"

Sepertinya, Yamato ingin sedikit bermain-main.

Dapat di dengarnya si penelepon di seberang menggeram pelan.

"Kemana kamu bawa dia pergi?!"

Yamato terkekeh tanpa suara. Dia kembali berbicara, "Kamu belum menjawab pertanyaanku. Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan."

"Berhenti berpura-pura. Aku tahu kamu yang melakukannya."

Seringai diwajah Yamato lenyap. Tahulah dia bahwa suara bariton diseberang terdengar berbahaya. Pelan dan berat. Ciri khas orang yang tengah menahan amarah.

Seringai yang sama pun kembali nampak, "Ah aktingku ketahuan."

"Kemana kamu membawa dia pergi?"

Kini Yamato benar-benar menyuarakan kekehannya. Dan dia semakin menambah volume tawanya saat tersadar akan keheningan diseberang. Sekali-sekali menyulut api apa salahnya?

Refleksi wajah Sakura yang menagis kembali melintas dibenaknya. Perasaan marah itu kembali mencuat. Sensasi panas mulai menjalar dari dadanya dan terus merambat naik ke kepalanya. Membuat kekehannya terertelan rasa terbakar itu yang pada akhirnya menciptakan keheningan diantara keduanya.

"Apa..."

Jeda beberapa detik yang disengaja Yamato dan seringai itu pun kembali muncul untuk yang kesekian kali.

"...Aku harus menjawab pertanyaan dari orang sepertimu?"

Hening lagi.

Suara deru napas si penelepon bagiakan irama musik indah yang tak ada bosannya didengarkan Yamato. Terlihat dari seringai yang tetap bertengger diwajahnya. Terlihat dari kebahagiaan yang tertera di kedua matanya.

Dapat dipastikan dari suara nafasnya yang memburu, bahwa si penelepon pasti akan meledak dalam kurun waktu tak kurang dari sepuluh detik.

Dikiranya seseorang disana pasti telah menjauhkan pesawat telepon dari mulutnya disaat dia menyadari bahwa deru napas itu benar-benar telah menghilang.

Sepuluh detik terlewat tanpa adanya desisan kemarahan dari si penelepon dan seringai diwajah Yamato pun kini bertransformasi menjadi seulas senyum miring.

Dia akui, bahwa sampai kapanpun, dia akan tetap mengagumi pengendalian diri orang tersebut. Dan untuk membuatnya meledak-seperti yang diinginkannya-membutuhkan usaha yang lebih dan waktu yang tak bisa dibilang sebentar. Yah, tidak sekarang, lain kali pun bisa.

"Aku akan membawanya kembali."

Decihan Yamato tidak membawa dampak berarti untuk menyulut emosi orang tersebut.

"Kalau begitu aku akan terus membawanya pergi darimu, Kakashi."

Kini Yamato lah yang justru hampir meledak dan sudah akan melempar handphonenya ke tembok ketika pendengarannya menangkap kikikan kecil orang bernama Kakashi itu kalau dia tidak ingat akan kedua tangan Sakura yang menyorongkan kotak berbungkus kertas kado biru kepadanya dua tahun silam.

Ya, isi dari hadiah itu adalah handphone ini.

"Senang bermain denganmu, Yamato."

"Senang juga bisa menikmatinya bersamamu."

Erangan pelan langsung keluar dari mulut Yamato di detik pertama setelah sambungan itu diakhiri terlebih dahulu oleh Kakashi. Tak lupa pula dengan kedua tangan yang menjambak rambutnya kuat-kuat.

Dipejamkanlah kedua matanya erat. Dunia serasa semakin berputar walau dalam kondisi tengah terpejam sekalipun. Vertigo ini benar-benar akan membunuhnya kalau dia tidak segera menelan obat.

Tapi dia sedang tak ingin dan terlalu berat untuk membawa dirinya mengambil obat kotak P3K didapur yang berada dilantai dasar. Rasanya tidur adalah pilihan terbaik untuk sekarang ini.

Namun, otaknya tak bisa diam memutar tiap memori dan tiap masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Membuat dia ingin sekali membenturkan kepalanya kedinding sekedar untuk menghilangkan pusing.

Tapi tidak cukup baik untuk Sakura bukan.

Yamato meraih bantalnya. Membenamkan wajahnya disana.

Sakura saja sampai pindah kemari karena tidak betah dirumah itu.

Erangan kembali disuarakannya.

Jagalah anakku dan tetaplah berada disisinya apapun yang terjadi. Aku mempercayakan Sakura sepenuhnya padamu.

"TAKADAA! TOLONG AMBILKAN OBATKU!"

Tak perlu menunggu semenit, pria paruh baya yang tadi mengekori Yamato setibanya dirumah ini datang dengan wajah berkali-kali lipat lebih cemas dari yang sebelumnya. Sebuah baki berisi segelas air putih dan setablet obat dibawa oleh kedua tangannya.

Dalam tidurnya malam ini, Yamato melihat wajah nona Haruno Mebuki berikut mendengar kalimat terkahir yang diwasiatkan kepadanya, sebelum kedua mata ibu Sakura itu tertutup untuk selamanya.

Jagalah anakku dan tetaplah berada disisinya apapun yang terjadi. Aku mempercayakan Sakura sepenuhnya padamu.


Kedua bola mata tak berpupil milik siswi cantik berambut indigo yang tengah menari ditengah dojo ini menangkap bayang remaja seusianya di depan pintu yang sengaja di buka. Gadis berambut sewarna gulali yang tadi bertabrakan dengannya di koridor tampak memandang takjub ke seluruh penjuru ruangan. Kedua bola matanya membiaskan cahaya senang.

Hyuga Hinata mendengus pelan. Gadis yang tak salah lagi. Dia lah yang dua hari lalu tengah sengit diperdebatkan olehnya dan sang kepala sekolah.

.

.

.

.

.

"T-Teman sekamar?"

Hinata terperanjat mendengar penjelasan wanita tua namun canti berambut pirang dibalik kursinya, dialah sang kepala sekolah, Tsunade Senju.

"T-Tapi aku sudah pernah mengatakan kalau yang menempati kamar itu hanya aku seorang. Anda sendiri juga menyetujui keinginanku!"

Tersirat nada tak terima atas keputusan Tsunade dalam nada suaranya yang sedikit meninggi.

Wanita itu menghela napas berat. Seolah sudah sejak sedari tadi dia menahan pasokan udaranya.

"Maafkan aku Hinata tapi semua kamar di asrama ini tidak ada yang kosong kecuali kamar yang sekarang kamu tempati."

Ekspresi gadis berponi itu kontan mendingin. Tatapan seramnya tertuju begitu berani kepada Tsunade yang notabene adalah seorang kepala sekolah. Seorang dengan jabatan paling tinggi ditempat ini dan seorang yang harusnya dihormati.

Gadis itu seolah melupakan status wanita cantik yang duduk dengan jemari tangan yang bertaut dibawah hidungnya. Dia terus menghujani Tsunade dengan sorot mata tajam dan menusuk.

"Aku paling tidak suka dengan orang yang ingkar janji." Desisnya penuh amarah.

Tsunade memejamkan matanya sejenak dan begitu terbuka kembali, kedua iris sewarna madu miliknya berkilat tak kalah menantang dari sorot gelap Hinata.

"Aku tidak pernah merasa menjanjjikan hal itu padamu. Aku hanya menyetujui keinginanmu, nona Hyuga." Ujar Tsunade dengan nada bahaya pada tiap katanya.

"Kalau begitu biar kubangun satu lagi tempat untuk siswa baru i-"

"Tidak!"

Tsunade memotong cepat perkataan Hinata. Membuat mulut gadis itu terbuka sedikit atas ucapannya yang belum selesai.

"Aku tahu keluargamu memang sangat berperan dalam pembangunan dan pengembangan sekolah ini. Tapi jangan harap kamu bisa seenaknya memutuskan dan memerintahku mengabulkan keinginanmu."

Tsunade sengaja memberi jeda untuk menarik napas sekali. Juga sengaja untuk menambah tingkat ketajaman sorot matanya terhadap Hinata.

"Karena disini, akulah yang berhak untuk memimpin!"

Tsunade sudah tidak bisa mengontrol nada amarah dalam suaranya. Emosi yang memuncak itu sudah tidak bisa ditahannya lagi. Gadis sombong dihadapannya ini harus ditegaskan.

Jujur saja, Tsunade sudah cukup menahan diri dengan kelakuannya yang sok berkuasa. Dia sudah teramat muak melihat tindak-tanduk seenaknya.

Dia sudah tidak peduli lagi jika seandainya keluarga Hyuga memutuskan kontrak kerjasama mereka atau melakukan hal buruk sekalipun terhadap sekolah ini hanya karena tidak menuruti keinginan tuan puteri tersayang mereka.

Toh mereka hanya pemengang saham sedangkan dirinya adalah pemilik sah dari seluruh lahan dan aset sekolah ini. Dengan segala cara dan upaya dia akan tetap mempertahankan sekolah ini. Dia sudah tidak mau tunduk dan patuh dibawah kaki Hyuga.

Keheningan menyelimuti ruang kerja Tsunade. Hinata bediri terpaku dengan wajah yang kian mengeras. Berdiri disamping kursi yang diduduki Tsunade, Shizune memandang keduanya ngeri.

Gadis berambut pendek itu dapat merasakan bulu tengkuknya yang meremang tanda hawa dingin yang menyergap. Ruangan ber-AC ini pun semakin menambah kadar dinginnya udara.

Matanya memicing kala melihat siluet percikan api dari mata kedua insan yanng tengah saling melempar pandangan bengis.

Tetapi pada akhirnya, aksi saling memandang dengan mesra (?) itu pertama kali diakhiri oleh Hinata dengan ucapan maafnya seraya tertunduk.

Tsunade menghembuskan napas keras. Tangan kanannya terangkat untuk memijit pangkal hidungnya. Namun kedua iris madunya tetap tak mengalihkan tatapannya dari gadis berambut indigo panjang itu. Hanya saja, kali ini ekspresi wajahnya tidak sekaku tadi.

"Tapi aku tetap tidak ingin dia berada satu kamar denganku." Ujar Hinata lagi dengan ketegasan yang nyata baik dari suara maupun matanya disaat dia mendongakkan wajah. Hilang sudah cahaya marah dari kedua iris sewarna mutiara miliknya.

Sebelah sudut bibit Tsunade terangkat. Tangan kanannya bergerak turun dari pangkal hidungnya. Dia dapat menangkap semua rasa yang ada dalam kedua bola mata Hinata dan balas menatapnya pula.

"Kalau begitu berusahalah untuk membuatnya menyingkir dengan caramu sendiri."

Gadis cantik itu hanya mampu tercenung tak lebih dari lima detik setelah mendengar perkataan Tsunade. Selanjutnya, dapat dilihat sebentuk garis lengkung tercipta di bibirnya.

"Arigato, Tsunade-sama."

.

.

.

.

.

Tanpa diduganya, kedua bola mata gadis berambut gula-gula itu bersiborok pandang dengan kedua iris sewarna mutiara miliknya.

Dia sedikit terkejut. Tidak menyangka bahwa bola mata gadis yang masih berdir di ambang pintu itu akan tertuju padanya. Namun dia tidak menolak sorot mata itu dengan membuang muka. Dia biarkan saja mereka saling menatap. Dia ingin tahu bagaimana kepribadian gadis di sana dari ekspresi wajahnya walau dia tahu hal itu tidak dapat dilakukan dari jarak lima belas meter jauhnya.

"Hinata."

Tatapan keduanya terputus karena panggilan seorang wanita dewasa yang membuat kepala indigonya menoleh ke arah si pemanggil.

"Ha'i Kurenai sensei."

Dia pun melangkahkan kakinya ke tempat Kurenai berdiri bersama seorang gadis berambut pirang pendek.

"Tolong kamu praktekkan tarian yang kemarin ibu ajarkan dan Miyuki perhatikanlah baik-baik gerakan Hyuga san."

Gadis bernama Miyuki itu mengangguk seraya bersuara 'hai'.

Hinata menganggukkan kepalanya sekali. Menyangupi permintaan Kurenai.

Dia menarik napas pelan dan menghembuskannya dengan pelan juga. Kedua tangannya terangkat dan kesemua anggota tubuhnya mulai meliuk-liuk pelan nan indah.


"Waahh! Besar sekali?!"

Kedua bola mata sehijau permadani padang rumput milik Sakura membesar dilangkah pertama dia menapakkan kaki di dojo ini.

Matanya langsung menjelajah ke tiap sudut ruangan dimana banyak sekali siswi yang tengah berlatih.

Hm, kenapa jam segini aktivitas sekolah masih seaktif ini ya?

Sakura menggulirkan kedua bola matanya ke arah jam dinding besar di seberang ruangan. Pukul lima sore. Sakura mengerutkan keninngnya heran. Dia patut berpikir demikian karena setahunya dari Yamato, kegiatan belajar mengajar sekolah barunya ini berakhir pada pukul enam belas.

"Semua siswi tengah mempersiapkan diri untuk festival tahunan yang akan diadakan dua bulan lagi." Ucap Sara tiba-tiba. Seolah dia dapat mengetahui apa yang tengah di bingungkan Sakura.

"Festival tahunan?"

Sara mengangguk.

"Semua siswi wajib mengikuti festival ini dengan menampilkan kebolehan yang mereka punya dalam berbagai bidang. Dalam festival tahun ini sekolah kita akan kedatangan siswi-siswi sekolah geisha dari pulau Honsyu dan dari Tokyo yang juga ikut berfestival."

"Lebih tepatnya, festival ini seperti bentuk kompetisi dari ketiga sekolah geisha yang paling terkenal di Jepang untuk memperebutkan predikat sebagai sekolah geisha terbaik tiap tahunnya." Kali ini Ino yang memberi penjelasan.

Mulut Sakura membulat kecil.

"Berarti mereka semua tamu agung ya. Kukira sekolah geisha terbaik hanya ada d Kyoto."

Sara menepukkan tangannya sekali dengan mata berbinar, "Sekolah geisha terbaik memang ada di Kyoto. Kamu tidak salah memilih Geisha Art High School Sakura-chan."

Sakura tersenyum seraya mengangguk sekali. Tanpa Sara katakan apa saja kelebihan sekolah ini, dia sudah tahu dari Yamato. Sakura patut berterima kasih pada Yamato yang telah susah payah mencarikan sekolah pelatihan geisha terbaik sesuai dengan keinginannya.

Dia kembali memalingkan wajahnya ke ruang pelatihan yang terisi penuh oleh siswi-siswi.

"Karena festival ini wajib diikuti semua siswi maka dari itu mereka benar-benar mempersiapkan diri masing-masing."

Tanpa menoleh pun, Sakura tahu bahwa yang tadi berbicara adalah Ino, "Begitu ya.".

Sakura dapat melihat gadis-gadis itu tengah melatih diri masing-masing. Ada yang sedang menyeduh teh, merangkai bunga, menulis kaligrafi, memainkan alat musik tradisional, menari dan menyanyi.

Beberapa diantara mereka pun ada yang membentuk suatu kelompok yang terdiri dari sembilan orang dan mereka berlatih bersama.

Walau semuanya melakukan kegiatannya masing-masing, bukan berarti tidak ada yang mengawasi mereka. Ada seorang wanita muda nan cantik yang mengarahkan setiap siswa. Dia tampak membenarkan, memberi contoh dan memberi pengarahan kepada siswi yang dirasanya belum benar dalam berlatih. Wanita muda yang seorang guru itu kini tengah megarahkan gerakan tari seorang siswi beraambut pirang.

Siswi itu mengulangi lagi gerakannya dan guru itu dengan sabar kembali mengarahkannya. Sesekali dia meberikan contoh pada gerakan siswi itu yang dirasanya masih belum benar.

Sakura tersenyum. Tenaga profesional di sekolah ini benar-benar dapat diandalkan. Hal ini dapat mengantarkan semua siswi menjadi geisha profesional dengan cepat. Kalau begini, impiannya untuk menjadi seorang geisha pun akan semakin cepat terwujud.

Dalam hati, dia kembali berterima kasih kepada Yamato yang telah dengan teliti mencarikan sekolah sebonefit Geisha Art High School.

Dia megedarkan pandangannya selain ke arah siswi pirang dan guru muda itu. Namun, disaat kedua bola matanya bergulir dia menangkap seorang gadis berambut indigo tengah memadangnya.

Tatapan Sakura berhenti pada gadis itu. Beberapa detik lamanya, dia tidak berkedip menatap sosok cantik disana. Seolah tatapan gadis itu telah mengikatnya untuk terus terpaku padanya.

Sakura terkesiap karena secara tiba-tiba gadis itu memutar kepalanya ke belakang. Tak lama kemudian, dia melangkah ke satu arah. Sakura mengikuti kemana gadis itu pergi dan didapatinya gadis itu menuju ke tempat berdirinya guru muda dan gadis pirang yang tadi sempat menjadi objek pandangnya.

Sejurus kemudian, gadis berambut indigo itu mengangkat kedua tangannya beserta dengan tubuhnya yang juga meliuk dengan luwesnya.

Sakura takjub. Gadis itu menari dengan sangat indah. Seluruh anggota tubuhnya begerak teratur dan seirama dengan keluwesan tiada tara. Tubuhnya bagaikan terbuat dari karet yang sangat lentur kala dia menggerakkannya.

Sakura semakin takjub disaat dia menyadari bahwa sosok gadis dengan rambut indigonya yang digelung rapi itu menyunggingkan senyum tipis. Terlihat menikmati apa yang tengah dilakukannya.

Tanpa Sakura sadari, dia tak mampu berpaling dari sosok Yamato Nadeshiko itu.

"Ada apa Sakura?" Tanya Ino yang menyadari kemana arah mata gadis disebelahnya itu melihat.

Yang dipanggil pun menoleh pada Ino. Pertanyaannya itu juga membuat Shion dan Sara ikut menoleh.

"Kamu seperti sedang memperhatikan seseorang. Apa aku benar?"

Dapat dilihatnya Sakura yang tersenyum serta Shion dan Sara yang melemparkan tatapan bingung padaya dan Sakura.

Namun, tidak seperti dugaannya. Gadis berambut sewarna permen kapas itu justru menggeleng atas pertanyaannya.

"Tidak. Aku tidak sedang memperhatikan siapapun."

Setelahnya, Ino tertawa geli. Dahi Sakura mampu dibuatnya berkerut heran atas respon gadis itu atas jawabannya. Dan lagi-lagi Shion dan Sara juga ikut dibuatnya mengerutkan dahi sama herannya dengan Sakura.

"Kamu nggak bisa membohongiku forehead." Ejek Ino dengan masih menyisakan sedikit tawanya.

Kedua alis Sakura bertaut. Dia sudah hendak membuka mulutnya untuk menguarkan beberapa sanggahan, tapi Ino sudah terlebih dahulu angkat suara.

"Hyuga-san memang memukau. Tidak hanya kamu tapi hampir seluruh siswi disini mengaguminya." Ujar Ino tanpa memandang Sakura. Sepasang aquamarinenya tertuju ke satu arah.

Bibirnya menyunggingkan seulas senyum dan matanya tampak membiaskan cahaya kekaguman pada objek yang dilihatnya. Seolah paham akan apa yang tengah Ino bicarakan, kedua gadis yang sedari tadi terdiam itu mengarahkan masing-masing irisnya ke satu arah Ino memandang.

Tak sampai sepuluh detik, wajah Shion tiba-tiba saja memerah sedangkan Sara terlihat tengah mengigit bibir bawahnya.

Namun, Sakura masih belum mengerti. Gadis itu meneliti bola mata Ino dan memutuskan untuk mengikuti arah pandang gadis itu.

Sakura menahan napas. Sejurus kemudian, dapat dirasakan wajahnya yang memanas. Kini dia mengerti apa yang tadi Ino bicarakan.

Dari sudut matanya, Ino mengetahui apa yang terjadi pada diri Sakura. Gadis itu tertawa geli dalam hati.

"Jadi, gadis itu namanya Hyuga?"

Pertanyaan Sakura membuat Ino menolehkan kepalanya ke arah gadis itu yang ternyata masih menatap gadi berambut indigo yang juga masih menari. Dia mengangguk membenarkan, walau tahu Sakura tidak sedang melihat padanya.

"Ya. Hyuga Hinata, cantik bukan?" Kata Ino dengan senyumnya.

"Dia bagaikan putri." Ujar Sara sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada tanpa melepaskan tatapannya dari arah yang sama.

"Sangat memukau." Kali ini Shion berkata dengan kedua telapak tangan yang membingkai wajahnya. Sama seperti Sara, kedua iris ungunya juga tidak berpaling ke objek manapun.

'Hyuga Hinata ya?'


Senang.

Perasaan aneh yang tiba-tiba muncul tatkala dia tahu bahwa dia sekamar dengan si Yamato Nadeshiko alias Hyuga Hinata membuat Sakura menyunggingkan senyum yang kelewat lebar.

Mulai detik dia menggumam dalam hati nama gadis cantik berambut indigo itu ketika melihatnya di dojo latihan, julukan Yamato Nadeshiko dirasa Sakura memang cocok untuknya.

"S–salam kenal, namaku Haruno Sakura. Mohon bantuannya." Sapa Sakura sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Dia tidak mau membuat kesan buruk dipertemuan pertamanya dengan Hyuga Hinata.

Setelah dirasanya cukup, Sakura pun menarik kembali tubuhnya. Berharap mendapat jawaban salam dari teman sekamarnya itu, namun Hinata justru diam tak bergeming.

Gadis itu hanya berdiri tegak tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Tak ada seulas senyum, wajahnya datar tanpa ekspresi dan kedua irisnya yang berwarna lavender menatap Sakura dingin.

Sakura yang memang sudah gugup sedari tadi menjadi semakin salah tingkah ditatap sedemikian menusuknya. Senyum yang terkembang lebar lenyap sudah dari bibirnya. Kedua tangannya yang saling bertaut kini justru saling meremas. Dia juga tidak berani menatap balik kedua iris unik milik gadis bermarga Hyuga itu. Jadilah dia menundukkan kepalanya. Memilih menatap ujung sepatu fantovelnya daripada bertemu mata yang seolah ingin melahapnya hidup-hidup.

Tabi tiba-tiba saja gadis Hyuga itu membungkukkan badannya. Membalas salam Sakura dengan sama sopannya seperti yang dilakukannya tadi.

"Salam kenal juga Haruno-san."

Sakura terkejut. Terlebih lagi ketika mendengar suara Hyuga Hinata yang kelewat lembut. Suatu kenyataan yang diluar perkiraannya.

Tak lama setelah tubuh tinggi Hinata menegak, barulah Sakura mendongakkan kepalanya. Hinata tersenyum. Manis sekali. Tak ada lagi ekspresi datar diwajahnya. Tak ada lagi tatapan sedingin es dikedua bola matanya. Seulas senyum yang sempat hilang dari wajah Sakura kembali muncul.

Secara bersamaan dia pun dapat merasakan kedua pipinya yang serasa terbakar. Tahulah apa yang terjadi, gadis bersurai pink itu merona bak buah tomat yang siap panen, akibat dari luapan perasaan gembiranya karena Hinata telah menerimanya.

"Nah, Sakura aku cukup mengantarmu sampai sini. Kalau kamu perlu bantuan kamu bisa mengandalkan Hyuga-san. Aku harap kalian baik-baik saja ya." Kata Shizune sembari mengulas senyum.

Sakura membungkuk seraya berujar terima kasih pada Shizune yang telah mengantarkan dirinya menuju kamar asramanya sebelum dia berlalu gadis bersurai merah muda itu, Hinata tersenyum tipis dengan tubuh yang sedikit direndahkan.

Sepintas, sebelum Shizune benar-benar melangkah pergi, dapat dlihatnya Hinata sedikit menyeringai seram kala membungkuk hormat. Menyeringai seram untuk menghela napas pelan atas apa yang tengah dipikirkan gadis cantik itu.

Rupanya, Hinata benar-benar serius akan ucapannya sewaktu di ruangan nona Tsunade.

To be continued