Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto
Title : With All My Heart
Genre : Romance, Angst
Rate : T
Pairing : NaruSaku slight SasuKarin, dll.
Inspirated : Quote kali ini terinspirasi dari lagu Illa illa 'Juniel' dan saya juga mengambil lirik lagu Tohoshinki yang My Destiny untuk chapter kali ini. Semoga suka! ^^
Warning : OOC, AU, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.
Summary :"Shikamaru, kenapa harus aku? Dia bisa bersama pria lain yang lebih baik dariku."
"...tapi kau mencintainya. Jangan menyakiti perasaanmu sendiri, Naruto! Aku sudah tahu sejak lama, kau bukan hanya mengaguminya sebagai seorang fans. Kau tidak pernah memandangnya sebagai seorang idola, karena sejak awal kemunculannya hatimu terlanjur memilih dia sebagai cinta pertamu. Jadi, kumohon jangan seperti ini!" ucap Shikamaru panjang lebar, tanpa sadar dia menjatuhkan air mata.
"Aku tidak akan bisa membahagiakan Sakura-chan. Aku hanya akan membebaninya, Shikamaru."
Chapter 2 : First Love
You're the only one in my heart, because first love is beautiful, a first love is a flower. Blooming widely when spring comes- dazzling like a flower—Sakura Haruno—
oooOOcherrybloosomOOooo
Shikamaru sedang assik tiduran di kursi taman belakang KHS sambil memandangi awan yang terus berarak di langit biru yang cerah ketika tiba-tiba ada suara seseorang memanggilnya,
"Yo! Shikamaru!"
"Penganggu, mendokusai!" keluh Shikamaru sambil mengalihkan pandangannya ke arah suara itu berasal,
"Rupanya kau Naruto, tumben kau datang pagi?"
"Hari ini pelayan pribadiku yang baru mau mendaftar ke sekolahan ini...makanya kaasan meminta kami berangkat pagi-pagi sekali supaya dia bisa berkeliling sekolah dulu sebelum bel masuk berbunyi," jawab suara itu yang ternyata adalah milik Naruto,
"Kau sendiri tumben datang pagi?" tambahnya lagi sambil menghampiri Shikamaru yang sudah bangkit dari posisi berbaringnya lalu duduk disebelahnya.
"Aku datang kemari karena Neji-senpai mengirimkan sebuah email padaku, katanya sebelum bel masuk berbunyi ada yang ingin dia bicarakan dengan kita makanya kita tidak boleh datang terlambat. Memangnya kau tidak menerima email juga?"
"Entahlah! Sebentar biar aku cek," jawab Naruto yang kemudian merogoh ponsel dari saku celananya lalu mengecek email masuk.
"Ah! Ternyata dia juga mengirimiku email,"
"Huh, jadi kau baru menyadarinya? Mendukusai!"
"Hehehe, gomen ne."
"Tadi kau bilang pelayan pribadimu? Kalau kau punya pelayan yang baru, bagaimana dengan si troublesome?"
"Maksudmu, Ino? Dia kan sudah naik pangkat Shika!"
"Begitu? Lalu bagaimana dengan perawat pribadimu yang sekarang, apa dia cantik?"
"Pelayan pribadi, Shikamaru!" ucap Naruto membenarkan perkataan Shikamaru.
"Kalau untukmu perawat pribadi, kan? Memangnya aku salah?"
"Terserah kau lah, Shikamaru. Ya, dia cantik. Aku bahkan masih tidak percaya kalau aku bisa bertemu dengannya. Mungkin ini takdir?" ujar Naruto sambil tersenyum tipis.
"Senyum palsu lagi, mendokusai! Aku jadi penasaran, memangnya siapa perawat pribadimu yang sekarang?"
"...tapi ini rahasia ya, Shikamaru!"
"Iya, aku akan tutup mulut."
"Dia...Haruno Sakura."
"Nani?" tanya Shikamaru sambil menatap Naruto keheranan. Dilihatnya Naruto hanya memejamkan mata dengan wajah menengadah menghadap ke langit. Ternyata Naruto terlihat sangat manis dengan posisi seperti itu. Jika Hinata melihat hal ini, dia pasti akan langsung pingsan.
"Mungkin Kami-sama sedang mempermainkanku sekarang..." kata Naruto lagi,
"Kami-sama pasti sengaja melakukan ini agar aku meraih kebahagiaanku. Ya, setidaknya di sisa hidupku yang mungkin tidak lama lagi."
"Naruto, aku tidak suka kau bicara seperti ini. Dengar, kalau memang dia itu Haruno Sakura, bukankah ini hal yang bagus? Kau tidak perlu mencintainya secara diam-diam lagi. Kau bisa mengungkapkan isi hatimu sekarang juga,"
Naruto membuka kedua matanya kembali, kali ini ia menatap Shikamaru yang masih menatapnya tapi semua itu tidak bertahan lama karena Naruto segera memalingkan wajahnya kembali. Kali ini wajah Naruto tertunduk dan matanya memandang rumput taman yang hijau dengan pandangan yang sendu.
"Entahlah..." jawabnya lirih, suaranya terdengar lemah
"Aku tidak tau apakah aku harus merasa senang, kesal, ataukah sedih, tapi kurasa aku akan tetap mencintainya secara diam-diam...lagipula aku sangat mengenalnya Shikamaru. Tipe cowok Sakura-chan itu Sasuke teme," lanjut Naruto.
"Itu semua kan hanya tertulis di artikelnya yang tersebar di media. Kenyataannya kan belum tentu seperti itu, Naruto. Apa sebenarnya kau tak ingin dekat dengannya?" tanya Shikamaru lagi.
"Bukan begitu..." jawab Naruto, ia mengarahkan kembali pandangannya ke sebelah kiri, dimana Shikamaru sedang duduk disampingnya. Dilihatnya Shikamaru sedang menyalakan rokoknya,
"Kalau saja Sakura-chan tau, aku ingin bisa selalu seperti ini. Aku ingin Sakura-chan selalu disampingku, di dekatku, bersamaku. Kalau saja aku bisa, Shikamaru. Aku tidak akan pernah membiarkannya jauh dariku...tapi apa yang bisa kulakukan?"
"..."
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menahannya tetap di sampingku, tetap di dekatku, tetap bersamaku. Bagaimana aku bisa mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya padanya, Shikamaru? Aku sekarat. Dia tidak layak bersamaku."
"Baka!"
Shikamaru sudah menduga bahwa Naruto akan bereaksi seperti itu tapi Shikamaru masih belum ingin menyerah,
"Kenapa? Apa karena penyakitmu?"
Pertanyaan Shikamaru itu membuat Naruto kembali tertegun. Apa yang dikatakan Shikamaru benar. Semua ini adalah karena penyakitnya. Kalau saja dia sehat, dia tidak akan seperti ini. Kalau saja jantungnya tidak lemah dan hidupnya masih bertahan lama, dia tentu akan berusaha mengejar gadis yang selama ini disukainya, Sakura. Kalau saja...
"Hmm, kau benar. Semua ini memang karena penyakitku. Kau sudah tau kan? Aku akan mati Shikamaru, " kata Naruto yang kembali tertunduk memandangi rerumputan.
"Baka, bukan hanya kau yang akan mati. Aku juga akan mati, semua orang juga akan mati!"
"...tapi hidupku tidak akan lama lagi, waktuku sudah tidak banyak!"
"Aku tidak peduli!" kata Shikamaru tegas,
"Berapa lama pun sisa waktu yang kau punya, selama sisa waktu itu aku ingin melihatmu bahagia. Bahagia bersamanya, Naruto. Kumohon jangan seperti ini, aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri...sama seperti Ino!" lanjut Shikamaru yang langsung membuang rokok yang belum sempat di hisapnya lalu menginjak rokok itu hingga percikan api dalam rokok tersebut padam.
"Shikamaru, kenapa harus aku? Dia bisa bersama pria lain yang lebih baik dariku."
"...tapi kau mencintainya. Jangan menyakiti perasaanmu sendiri, Naruto! Aku sudah tahu sejak lama, kau bukan hanya mengaguminya sebagai seorang fans. Kau tidak pernah memandangnya sebagai seorang idola, karena sejak awal kemunculannya hatimu terlanjur memilih dia sebagai cinta pertamu. Jadi, kumohon jangan seperti ini!" ucap Shikamaru panjang lebar, tanpa sadar dia menjatuhkan air mata.
"Aku tidak akan bisa membahagiakan Sakura-chan. Aku hanya akan membebaninya, Shikamaru."
"Naruto, bisakah kau tidak mengucapkan kalimat seperti itu? Bisakah kau berhenti berpikir kalau kau hanya akan menjadi beban bagi orang lain?" kata Shikamaru dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya sambil bangkit dari tempat duduknya,
"...tapi itulah kenyataannya," jawab Naruto dengan suara yang lemah, masih tertunduk menghindari tatapan Shikamaru.
"Seperti inikah Naruto yang aku kenal?" tanya Shikamaru yang kini sudah berdiri di depan Naruto yang masih duduk di tempatnya dengan kepala tertunduk ke bawah. Tidak ada jawaban dari pemuda itu,
"Seperti inikah dirimu?" lanjutnya lagi dengan nada suara yang kembali melemah.
"Ya, seperti inilah diriku. Seperti inilah Naruto yang kau kenal," kata Naruto dengan tegas. Pemuda itu kini sudah berdiri di hadapan Shikamaru dan memandang Shikamaru dengan tatapan yang tajam.
"Baka, sampai kapan kau akan terus menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya?" Shikamaru terus menatap Naruto.
'Selamanya, kalau bisa aku ingin menyembunyikannya untuk selamanya...' batin Naruto.
"Kenapa aku harus bersamanya? Dia belum tentu memiliki perasaan yang sama denganku. Kalaupun seandainya dia menerima perasaanku, mungkin dia hanya merasa kasihan padaku...merasa iba dengan penyakitku."
"Jika dia tidak memiliki perasaan yang sama denganmu, kau hanya perlu membuatnya jatuh cinta padamu. Jika menurutmu dia merasa kasihan atau iba, perhatikan dia baik-baik Naruto!"
"..."
"Jika kau melihat wajahnya merona dan merasakan detak jantungnya berdebar lebih kencang seperti yang kau rasakan saat matanya dan matamu saling beradu...saat kau dan dia berada dalam posisi yang begitu dekat dan saling berhadapan, itu berarti dia juga menyukaimu."
Deg! Perkataan Shikamaru kembali membuat Naruto tetegun. Rasanya Naruto ingin sekali memeluk gadis musim semi itu dan mengatakan bahwa ia mencintainya, amat sangat mencintainya tapi lagi-lagi ada yang menghalanginya melakukan itu semua. Perasaan takutnya akan penyakitnya, perasaan takut tidak akan bisa membahagiakan Sakura, perasaan takut hanya akan menjadi beban bagi gadis yang sangat disukainya itu membuat Naruto masih berusaha menahan perasaannya pada Sakura.
"Jika seandainya dia berkata kalau dia juga mencintaimu, apa yang akan kau lakukan?"
Naruto masih terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia masih mencerna pertanyaan Shikamaru. Jika Sakura memiliki perasaan yang sama dengannya, apakah dia hanya akan diam dan menyerah atau justru bersikap egois?
Pertemuannya dengan Sakura mungkin sudah di tentukan Kami-sama untuknya? Mungkinkah Kami-sama telah memberinya kesempatan untuk bisa merasakan kebahagiaan di sisa hidupnya yang tidak lama lagi? Apakah tidak apa-apa jika ia mencintai gadis itu secara terang-terangan? Tidak perlu diam-diam lagi, tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi...bisakah?
Nauto merasakan Shikamaru menepuk bahunya pelan, seolah berusaha meyakinkan dirinya untuk berani jujur dengan perasaannya sendiri atau mungkin Shikamaru ingin segera mendengar jawaban dari mulutnya. Naruto memandang Shikamaru, dlihatnya Shikamaru tersenyum ke arahnya. Naruto pun membalas senyuman itu dan akhirnya berkata,
"Aku akan mendekatinya dan membuatnya jatuh cinta padaku!"
Senyuman di wajah Shikamaru terlihat semakin mengembang saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Naruto. Naruto akhirnya mau mengakui perasaannya yang sesungguhnya. Naruto baru saja mengakui bahwa dirinya memang mencintai Haruno Sakura.
"Arigatou, Shikamaru!" ucap Naruto.
'Kami-sama, bolehkah aku begini? Bolehkah aku terus menahannya untuk selalu di sampingku? Apakah aku begitu egois karena ingin selalu bersamanya? Sampai kapan semua ini bisa bertahan?'batin Naruto, di satu sisi ia merasa yakin bahwa Sakura akan membalas perasaannya, tapi di sisi lain ia merasa keputusannya ini tidak seharusnya ia ambil. Kelak jika ia dan Sakura jadian, akankah Sakura merasa bahagia bila bersamanya?
"Aku merindukan sosokmu yang dulu, Naruto. Sejujurnya aku sering merasa terganggu karena kau begitu berisik dan hiperaktif, kau juga sangat payah, kau ceroboh dan sering bersikap konyol seperti orang bodoh, tapi kali ini aku merindukanmu yang seperti itu, Naruto."
"Shikamaru..."
"Kau yang selalu penuh dengan kejutan, keceriaanmu, sikapmu yang selalu pantang menyerah, aku sangat merindukan semuanya. Kenapa? Kenapa penyakit itu merenggut semuanya darimu? Kenapa kakekmu yang mesum itu menurunkan penyakit seperti itu padamu?"
"Mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi takdirku, Shikamaru!"
"YOO! NARUTO-KUN! SHIKAMARU-SAN!" teriak seseorang,
"Alis tebal?" sambung Naruto, saat orang yang selalu di penuhi semangat api yang membara itu datang menghampiri mereka.
"Kalian sudah menerima pesan dari Neji, bukan?"
"Memangnya kenapa?" tanya Shikamaru malas,
"Dia memintaku untuk menyerahkan ini pada kalian. Dia bilang untuk latihan nanti siang, kalian juga harus memainkan lagu ini!" jelas Lee yang kemudian menyerahkan beberapa lembar partitur musik pada mereka berdua.
Shikamaru hanya menguap lebar. Ia sudah terlalu banyak bicara tadi, hingga saat ini ia malas untuk mengerjakan sesuatu walaupun itu hal yang sederhana seperti membaca partitur musik...sedangkan Naruto tampak serius membaca partitur musik itu.
"Kali ini dia yang menciptakan lagu?" tanya Naruto, dilihatnya Lee hanya nyengir lebar sambil mengacungkan Ibu jarinya.
"...tapi kenapa lagunya sedih? Apa Neji-senpai sedang patah hati?"
"Begitulah, kudengar minggu lalu dia baru putus dengan Sara. Ya, kurasa dia itu lebih cocok dengan Tenten..." bisik Lee, takut-takut Neji datang tiba-tiba lalu menghajarnya dengan jyuuken.
"My Destiny. Hmm, lagu yang bagus!"
"Apa tidak apa-apa Naruto, nada reff keduanya tinggi begini?" tanya Shikamaru yang sepertinya telah selesai membaca partitur musik itu.
"Memangnya kenapa Shikamaru? Itu resiko, siapa suruh dia menjadi vocalis! Kenapa bukan Sasuke-san saja yang menjadi vocalisnya?"
"Sasuke kan leader kami sekaligus gitaris utama, lagipula dia sendiri yang bilang kalau dia tidak tertarik menjadi seorang vocalis band..." jawab Shikamaru.
"Huh, dasar irit bicara! Awalnya kupikir saat shinobi band terbentuk, Naruto-kun akan memegang keyboard karena ayahnya seorang pianis terkenal tapi ternyata malah Gaara-san yang pegang keyboard."
"Apa maksudmu Lee-senpai, maksudmu suaraku jelek begitu?"
"Tidak juga, Naruto-kun. Saat kau berbicara dengan nada cempreng memang sangat jelek, tapi saat kau bicara dengan nada biasa justru terdengar bagus...serak-serak gimana gitu?"
"Lalu apa masalahnya?"
"Masalahnya adalah kau tidak sesehat yang terlihat. Aku tahu, kondisimu sebenarnya sangat lemah kan?"
"Tau darimana?"
"Neji yang cerita. Semenjak Shinobi band terbentuk aku merasa suatu saat nanti kalian berlima akan menjadi bintang besar, bukan hanya sebatas band sekolah melainkan bisa melanglang sampai ke mancanegara, dan suatu saat nanti kalian akan lebih terkenal dari Akatsuki band. Menjadi salah satu artis agency Akira-sama. Sejak saat itu aku bercita-cita ingin menjadi manager kalian tapi Neji bilang kalian tidak mempunyai impian sejauh itu, terutama kau Naruto-kun..."
"..."
"Saat kutanya kenapa, Neji bilang kau sakit. Awalnya aku tidak percaya karena setiap hari kau selalu tampak sehat, tapi pada suatu hari aku pernah memergokimu tengah kesakitan. Saat aku bertanya tentangmu pada Guy sensei, dia bilang kau juga tidak pernah ikut olahraga yang berat-berat. Benar begitu Naruto-kun?"
"Hmm, tapi kalau soal menyanyi jangan khawatir...aku masih bisa melakukannya. Ah, aku akan menyanyikan lirik bagian ini. Dengarkan baik-baik!"
Lee hanya mengangguk. Shikamaru terlihat menguap lagi. Naruto menarik nafas lalu mulai bernyanyi,
Wasuretai, kimi hitomi, kimi no namida, kimi no tameiki wo...
( I want to forget your eyes, your tears, and sigh )
Wasurenai, ringgu hazushi, kimochi karukushi, sugosu mainichi.
( Each day I take off the ring I cannot let go, still hiding my feeling)
Kokoro dake sakende iru yo, mou ichi do dake, tsutaetai...
( My mind want to shout, to send one last massage...)
You know that my heart beating for you
Another way, another lie...
Eien nante, shinjiteita aoi toki,
( I believed in fate innocently )
but i'm living without your love...
Kimi to mawari michi demo, teo toriatte, arukitakatta...
( We had to go back, but I still wanted to hold your hand )
Omoide to, tokeau my destiny.
( My destiny is fading with memories )
'PROK! PROK! PROK!' tiba-tiba saja terdengar riuh tepuk tangan, sesaat setelah Naruto selesai menyanyikan potongan lirik lagu itu.
"HYAAA! NARUTOOO-KUN!"
"Sejak kapan banyak orang berkumpul di sini, Shikamaru?" tanya Naruto yang baru saja tersadar bahwa saat ini ada banyak gadis yang mengelilingi mereka,
"Sejak kau menyanyikan bagian reff, mendokusai!" jawab Shikamaru.
oooOOcherrybloosomOOooo
'BUGGHHH!'
"Aaw!" Karin mengaduh kesakitan. Kepalanya pusing tujuh keliling karena tiba-tiba bola basket nyasar menimpa kepalanya,
"Karin-san, kau tidak apa-apa?" tanya Sakura sambil mencoba membantu Karin yang terjatuh saat bola basket nyasar itu menimpa kepala Karin.
Sejak sampai di sekolah tadi Karin yang datang bersama Ino langsung mengajak Sakura untuk berkeliling sekolah, hanya saja tadi Ino meminta mereka untuk pergi duluan karena ia harus memarkirkan mobil Karin terlebih dahulu. Ino memang selalu berangkat ke sekolah bersama Karin sebab selain merangkap sebagai ketua pelayan, dia adalah supir pribadi Karin.
"Tentu saja sakit!" jawab Karin yang mencoba berdiri dengan di bantu Sakura sambil terus memegangi kepalanya yang sakit.
"Gomen,"
Tiba-tiba saja muncul sesosok makhluk dengan gaya rambut pantat bebek dihadapan Karin dan Sakura, membuat Sakura terbengong-bengong menatap pemuda tampan tersebut. Sakura terpesona. Ia memandang pemuda itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.
'Seperti inilah tipe cowok idamanku, tapi kenapa jantungku tidak berdebar-debar saat melihatnya ya?' pikir Sakura dalam hati.
Pemuda itu tampak bingung karena tidak ada satupun jawaban yang keluar. Salah satu gadis dihadapannya itu hanya memandanginya sambil sesekali mengerjapkan matanya.
"Apa yang kau lakukan Sasuke-kun? Kau pikir hanya dengan berkata 'gomen' aku akan memaafkanmu, hah?" teriak Karin sambil mencengkram bagian atas baju olahraga yang Sasuke kenakan, tetapi walaupun Karin terlihat sangat marah Sakura bisa melihat wajah Karin tersipu.
"Tidak sengaja!" jawab Sasuke singkat.
"...tapi ini sakit. Sakit kau tahu! Kepalaku sampai pusing, kau taruh dimana matamu itu huh?" bentak Karin.
Sasuke semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Karin membuat tubuh Karin mulai bergetar tak karuan. Saat jarak keduanya semakin sempit tiba-tiba saja,
'Cup!' Sasuke langsung mengecup kepala Karin membuat wajah Karin tampak seperti sayuran favoritnya sekarang,
"Sekarang sudah tidak sakit lagi kan, my tomato?" bisik Sasuke tepat di telinga Karin.
'Plukk!' dan Karin pun pingsan dalam pelukannya.
"Suigetsu, tampaknya aku harus membawa kekasihku ke ruang kesehatan...latihannya sampai disini saja!" ucap Sasuke yang langsung menggendong Karin bridal style.
"Dasar Ice prince aneh, giliran ada si dobe itu langsung OOC dia!" dengus Suigetsu.
'Jadi orang itu yang bernama Uchiha Sasuke? Dia memang tipeku sih tapi jantungku tetap berdetak dengan normal. Aku sama sekali tidak merasakan perasaan yang spesial, rasanya biasa-biasa saja. Kurasa aku benar-benar menyukaimu, Naruto. Mungkin akan lain ceritanya jika aku bertemu dengan Sasuke-kun terlebih dahulu,' batin Sakura pula.
"Rambut gulali, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau murid baru?" tanya Suigetsu sambil menyeringai aneh tepat di depan Sakura, tentu saja Sakura sangat kaget karena ia bengong sejak tadi.
"HYAA! ADA IKAN HIU JELEK!" teriak Sakura histeris,
"Apa kau bilang? Beraninya...ingin kuhajar ya?"
"Hyaa, Inooo!" teriak Sakura lagi saat ia melihat sosok Ino berjalan melewati lapangan basket.
Sakura langsung berlari ke arah Ino, meninggalkan Suigetsu yang terlihat semakin marah dan kesal.
"Aduh! Kenapa pagi-pagi kau sudah teriak-teriak, forehead?" protes Ino, saking kesalnya dengan kelakuan Sakura...ia sampai mengatainya forehead.
"Kau bilang aku apa? Dasar Ino, buta!"
"Apa kau bilang?"
"Pig...piggy gendut," jawab Sakura sambil meleletkan lidah.
"Diam kau, forehead! Aku secantik dan selangsing ini di bilang piggy gendut!"
"Hiih, narsis..." ledek Sakura, tetapi sesaat kemudian keduanya langsung tertawa bersama.
"Jadi sebelum kau berkeliling sekolah tadi, apa kau sudah menemui kepala sekolah?"
"Yosh!"
"Kau di tempatkan di kelas berapa?"
"Kelas 2-1,"
"Hyaa! Kita satu kelas, assik! Jika ada 5 cowok populer maka akan ada 5 cewek populer. Dulu di kelasku cuma ada 4 cewek populer tapi karena sekarang ada kau, maka lengkaplah menjadi 5."
"Apa sih yang sebenarnya kau bicarakan? Aku tidak mengerti!" ujar Sakura polos,
"Di kelas kami banyak anak-anak yang unik; ada si puteri konglomerat yang sangat pemalu, si gadis tomboy, si pirang jutek plus menyebalkan, si cantik Ino, si pecinta anjing, si pecinta serangga, si gendut yang suka makan keripik kentang di sela-sela jam pelajaran, dan juga 4 members Shinobi band yang sangat keren, kau tidak akan menyesal berada di kelas kami forehead!" cerita Ino penuh antusias,
"Si cantik Ino? Hueekk!" sambung Sakura yang kemudian pura-pura muntah.
"Kau benar-benar menyebalkan, forehead!"
"Habisnya kau narsis sekali. Ah ya, tadi kau bilang ada members Shinobi band, memangnya siapa mereka?"
"Mereka band sekolah kami dan sangat populer. Sasuke-kun sebagai leader sekaligus gitaris utama, Naruto-sama sebagai vocalis, Neji-senpai bassis, Gaara-sama keyboard, dan si pemalas yang jenius sebagai drummer. Lengkaplah sudah, cewek populer dengan cowok populer. Sasuke-kun dengan Hinata-chan, Neji-senpai dengan Tenten, Gaara-sama dengan Shion, kau dengan Naruto-sama, dan aku dengan si rambut nanas, hahaha..." ujar Ino terus mengoceh,
"Bukannya Sasuke-kun itu pacarnya Karin-san ya?"
"Memang benar, tapi sejujurnya aku lebih setuju Sasuke-kun dengan Hinata-chan daripada dengan Karin-sama."
"Itu tidak benar, Ino! Yang benar itu, Sasuke-kun denganku, dan Naruto dengan anak yang bernama Hinata-chan itu. Itu baru cocok, hahaha..."
"Tidak bisa! Aku lebih suka kau dengan Naruto-sama, titik!"
"Lho...kok gitu?"
"Ya karena menurutku kalian berdua pasangan yang serasi, lagipula aku kesal karena dia terlalu memuja Haruno Sakura, jelas-jelas orang itu sama sekali tidak mengenal Naruto-sama. Aku ingin melihatnya hidup dalam realita bukan dalam mimpi konyol seperti itu, dan menurutku kau cocok dengannya. Ini bukan karena kau mirip dengan Haruno Sakura tapi karena aku menyukaimu forehead, kupikir kau lah yang bisa membahagiakannya!" jawab Ino dengan nada yang tegas.
"..tapi tipe cowokku adalah Sasuke-kun!"
"Tipe cowok itu bisa berubah sewaktu-waktu, forehead. Dulu aku juga sangat memuja Sasuke-kun, dia bukan hanya tampan, tetapi juga keren, dan jenius. Sasuke-kun adalah cinta pertamaku tapi lama-lama perasaanku berubah, bagiku Sasuke-kun itu sedikit membosankan. Dia terlalu dingin."
"...tapi justru itulah daya tariknya, pig!"
"Hello, jangan hanya terfokus pada satu orang nona! Naruto-sama jauh lebih baik, dia hangat seperti matahari, tiap kali aku menatap iris matanya aku merasa teduh, dia juga memiliki senyuman yang indah. Dia...dia...begitu mengagumkan. Aku sangat menyayanginya," kini nada suara Ino terdengar sedikit bergetar.
"Ino..."
"Bagiku dia sudah seperti saudaraku sendiri, aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Namikaze. Biarpun aku hanya seorang pelayan, mereka tidak pernah memperlakukanku seperti itu. Aku merasa di istemawakan. Untuk pertama kalinya Kushina-sama mempercayaiku untuk menjaga puteranya yang berharga, aku merasa terhormat atas itu semua forehead. Aku..." Ino menggantungkan kata-katanya, ia mulai terisak pelan.
"Aku tidak ingin kehilangan Naruto-sama."
"Ino, aku mengerti...aku mengerti perasaanmu Ino!" ujar Sakura yang reflek memeluk Ino lalu menepuk punggung Ino pelan. Berharap hal itu bisa membuat gadis pirang dengan kuncir kuda tersebut kembali tenang dan berhenti menangis.
"Tadi kau bilang dia vocalis Shinobi band, kan? Aku yakin kalau sebenarnya kau sangat mengkhawatirkannya?"
"Benar, aku sangat khawatir karena sebenarnya dia tidak boleh kelelahan, tapi itu adalah keinginan Naruto-sama sendiri. Bagi Naruto-sama keempat members yang lain adalah sahabatnya yang paling berharga. Dia pernah bilang kalau dia bahagia bisa satu kelompok dengan mereka. Walaupun aku ingin dia berhenti dan keluar dari Shinobi band, aku tidak bisa. Aku tidak tega melarangnya melakukan hal-hal yang dia sukai. Aku hanya ingin melihatnya selalu tersenyum,"
"Arigatou, Ino. Arigatou untuk ketulusan hatimu. Aku yakin Naruto juga menganggapmu sebagai orang yang berharga."
"Sakura, mungkin saat ini kau belum mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya tapi maukah kau belajar untuk menyukainya?"
"Hmm, lagipula sejak pertama kali kami bertemu aku memang sudah tertarik padanya."
"Arigatou!" ujar Ino yang kemudian melepaskan pelukkan Sakura darinya.
"Yosh! Kalau begitu ayo kita ke kelas!"
"Hai, kurasa bel masuk juga akan berbunyi sebentar lagi..." sambung Ino yang kemudian menghapus air matanya, hingga tak ada lagi sisa tangis di wajahnya.
"Smile please!" ujar Sakura seraya tersenyum pada Ino, dan Ino pun membalas senyumannya.
oooOOcherrybloosomOOooo
Sepulang sekolah Ino dan Sakura datang ke aula KHS. Tempat itu dipenuhi oleh banyak orang yang sebagian besar adalah gadis-gadis. Ya, tentu saja mereka tidak mau melewatkan penampilan kelima pria tampan yang siap beraksi dengan lagu-lagu mereka. Ini memang hanya pre performance untuk persiapan acara ulang tahun sekolah mereka yang ke 35 dua minggu lagi, tetapi tetap saja mereka semua tidak ingin melewatkannya.
"Hinata-chan, kau bisa menatap Naruto sepuas hatimu disini..." kata Tenten berusaha menggoda sahabatnya itu.
"To-tolong hentikan itu Tenten-san...aku...aku...malu..."
Tenten tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu, wajah putih Hinata sudah merona merah sekarang tetapi gadis itu tetap saja menunduk sambil memainkan kedua jari telunjuknya. Dasar, padahal sebenarnya Tenten sudah tahu kalau saat ini Hinata merasa sangat senang karena mendapat tempat yang sangat pas untuk bisa menatap Naruto sepanjang penampilannya nanti. Tenten juga tahu dengan pasti bahwa Naruto adalah cinta pertama pewaris Hyuuga itu.
Konser latihan itu pun dimulai. Semua penonton bersorak saat kelima pria tampan sekaligus keren itu memasuki panggung. Sepanjang konser, Hinata terus saja memandangi Naruto yang menyanyikan semua lagu yang di bawakannya dengan penuh penghayatan. Dia hanya sesekali memalingkan pandangannya dari Naruto saat Tenten berusaha menggodanya karena berhasil memergokinya sedang memandang Naruto.
Di bangku penonton yang lumayan jauh dari posisi Hinata dan Tenten. Sakura dan Ino juga tidak pernah melepaskan pandangan mereka dari arah panggung. Ino terus memandangi Shikamaru yang terus menabuh drumnya dengan semangat, kalau sedang tampil begini Shikamaru memang selalu terlihat serius. Diam-diam Ino tersenyum kecil, ternyata Shikamaru bukan hanya seorang pemalas yang hobi tidur dan menganggap semua hal itu merepotkan. Ada kalanya dia tampak serius dan keren seperti sekarang.
Sakura tampak menikmati lirik lagu yang sedang Naruto nyanyikan. Saat iris emeraldnya tidak sengaja beradu pandang dengan iris sapphire di atas sana, tiba-tiba saja ia merasa wajahnya memanas dan jantungnya mulai berdebar kencang. Sakura semakin tersipu saat Naruto mengedipkan sebelah matanya ke arahya seraya melempar senyum. Sakura benar-benar merasa malu, sepertinya Naruto menyadari jika sejak tadi ia terus memandanginya. Tidak tahan dengan senyuman Naruto yang membuat tubuhnya terasa meleleh, ia pun memalingkan wajahnya ke arah Sasuke.
Sasuke memang terlihat sangat keren saat sedang memainkan gitar, tampaknya pemuda itu memang sangat jago memainkan gitar tetapi biarpun begitu hanya rasa kagum yang Sakura rasakan. Detak jantungnya kembali normal. Ia sendiri heran kenapa ia tidak heboh seperti gadis-gadis lainnya yang sejak tadi terus memanggil nama Sasuke dengan histeris. Sakura pun tersenyum kecil, kini ia sudah tahu jawabannya...ia tidak seperti gadis-gadis itu.
Naruto menghela nafas berat untuk sesaat saat ia melihat Sakura tersenyum pada Sasuke. Setelah itu ia kembali bernyanyi. Gaara memainkan keyboardnya sambil terus memandangi Sakura. Biarpun Sakura baru masuk KHS hari ini, ia yakin gadis itu sebenarnya adalah Haruno Sakura. Gadis yang sangat diidolakan sepupunya—Naruto— sekaligus gadis yang diam-diam ia sukai.
Gaara menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh seperti ini. Ia tidak boleh sampai jatuh cinta pada gadis itu, tetapi jangan salahkan dirinya...sejak kemunculan Haruno Sakura, Naruto selalu menceritakan semua hal tentang gadis itu padanya hingga perlahan-lahan ia ikut merasa tertarik. Awalnya ia hanya penasaran tetapi lama-kelamaan ia jadi menyukainya juga, seakan-akan Naruto telah menularkan virus aneh padanya. Ia juga pernah mencuri salah satu foto Sakura dari Naruto. Memandanginya setiap malam, hingga akhirnya ia ingin bertemu gadis itu secara langsung. Gaara bahkan menonton konser Sakura, saat gadis itu mengadakan konser di Tokyo Dome dua bulan yang lalu. Tentu saja hal itu membuat Gaara semakin menyukai Sakura, karena penampilan sempurna Sakura saat itu benar-benar menghipnotisnya.
oooOOcherrybloosomOOooo
"Kenapa tidak kau ungkapkan saja perasaanmu kepadanya, Hinata-chan?" tanya Tenten pada Hinata saat mereka sedang menunggu mobil jemputan Hinata untuk kembali ke mansion Hyuuga setelah selesai menonton konser. Tenten memang tinggal di mansion Hyuuga karena selain sahabat Hinata, dia juga adalah pelayan pribadi Hinata.
"Tenten-san, bisakah kau berhenti membicarakan hal semacam itu?"
"Tidak bisa!" jawab Tenten polos,
"...tapi Tenten-san..."
"Doushite? Sampai kapan kau akan terus memendam perasaanmu?"
"Tenten-san..." belum sempat Hinata menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Seorang teman sekelasnya membuka jendela mobil tersebut,
"Yo, Hinata! Tenten!" kata seseorang dari dalam mobil yang ternyata adalah Kiba, memanggil kedua gadis itu,
"Sedang apa kalian disitu?"
"Guk...guk...guk?" terdengar suara anjing kesayangan Kiba yang selalu ia bawa ke sekolah dan ia tinggal di mobil—Akamaru—
"Tentu saja menunggu mobil jemputan, mana mungkin kami menunggu bus disini!"
"Butuh tumpangan untuk pulang?" tawar Kiba,
"Iie, arigatou!" jawab Hinata.
"...tapi Neji masih harus membereskan peralatan mereka, jadi mungkin ia akan datang telat. Lebih baik kalian ikut dengan kami saja?"
"Guk...guk...guk!"
"Arigatou!" ujar Tenten,
"Ayo, Hinata-chan!" tambahnya pada Hinata sambil menarik tangan sahabatnya itu,
"Tenten-san..." Hinata mencoba menahan Tenten,
"Sudahlah, ikuti mereka saja. Aku ingin cepat sampai di mansion!" tegas Tenten.
Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam mobil. Di dalam ternyata ada Shino juga yang duduk di samping Kiba yang sedang menyetir.
Sepanjang perjalanan Tenten dan Kiba terus berbincang, sementara Hinata dan Shino lebih banyak terdiam dan sesekali tertawa bila ada hal lucu yang keluar dari mulut Kiba ataupun Tenten.
oooOOcherrybloosomOOooo
"Naruto!" panggil Sakura pada sosok pemuda yang berdiri beberapa meter darinya. Dilihatnya Naruto berjalan menghampirinya. Sakura dapat melihat seulas senyum muncul di wajah Naruto yang telihat...pucat.
'Apakah penyakit Naruto kambuh lagi?' Sakura bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Sakura-chan, ada apa kau kemari?" tanya Naruto yang telah berdiri di hadapan Sakura.
"Tentu saja menjemputmu pulang, memangnya tidak boleh?" tanya Sakura heran,
"Tentu saja boleh," jawab Naruto.
"Naruto, apa kau baik-baik saja? Kau kelihatan pucat, apa kau sakit?"
"Aku tidak apa-apa, Sakura-chan." jawab Naruto yang sebenarnya bohong, karena pada kenyataannya dia mulai merasakan dadanya kembali sakit. Naruto hanya berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dari orang-orang di sekitarnya karena tidak mau membuat mereka kembali cemas, lagipula ia telah meminum obatnya dan berusaha menahan sakit di dadanya, berharap rasa sakit itu akan segera hilang.
'Semua akan baik-baik saja, Naruto. Bukankah sebelum latihan tadi obatnya sudah kau minum?' batin Naruto, berusaha menyemangati dirinya sendiri.
"Tadi bukannya cuma latihan ya, tapi kenapa kau sampai membawakan 6 buah lagu?"
"...karena saat acara ulang tahun KHS nanti, kami memang berencana membawakan keenam lagu itu."
"Suaramu bagus juga, kapan-kapan ayo kita duet?"
"Hah? Duet?"
"Yosh! Kita nyanyikan lagu ciptaanmu itu 'Song For You', mau kan?"
"Song for you? Kau melihatnya?"
"Hehehe, aku tidak sengaja melihatnya Naruto."
"Tentu Sakura-chan, nanti kita duet."
"Horre! Arigatou..."
"Sama-sama," balas Naruto. Kali ini suaranya terdengar sangat lemah dan bergetar,
Dada Naruto benar-benar terasa sakit. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk menutupi rasa sakitnya. Tiba-tiba Naruto merasakan pandangannya menjadi kabur. Ia tidak dapat melihat sosok Sakura dengan jelas. Semakin lama Naruto merasakan pandangannya semakin gelap dan...
'Brukkk!'
"NARUTOOO!"
_TBC_
a/n: Jangan bunuh Muki karena udah bikin Naruto-kun kayak begitu, okay! #peace ^_^
Chapter kali ini semakin minim deskriftif aja ya? Gomen ne, namanya juga Muki masih belajar. Udah ah, ga mau banyak bacot. Seperti biasa Muki belum siap menerima flame, jadi Muki mau minta REVIEW aja! ^^
Arigatou buat kalian semua yang udah mau read, review, bahkan ngefollow and ngefav fic perdana Muki ini. Untuk review yang kemarin nggak login Muki balas sekarang aja ya ^_^
Uzumakisaku-chan : Arigatou. Chapter duanya udah update ya.
Readers : Hai, ficnya udah dilanjut. Syukurlah kalau pada suka. Soal endingnya liat ntar aja okay, arigatou.
Namikaze-senpai : Senengnya klo bisa bikin orang penasaran hehe. Nih, udah di lanjut. Arigatou.
Astronaut22 : Alhamdulillah kalau nggak ada typo. Oh suka SasuKarin juga ya, Muki juga suka. Nih chapter 2 nya udah update. Arigatou.
Guest : Haha, ga usah ragu-ragu gitu. Ikutin aja chapter selanjutnya hehe. Ini udah dilanjut, arigatou.
Manguni : Iya, ntar bakalan ada yang cemburu kok. Hahaha, jangan sampai jadi gila dong soalnya di fic ini Muki bakalan jadiin Sakura gadis yang tegar hehe. Arigatou.
