catatan: meng-update terlalu cepat. stres minggu depan ada lima ulangan. jadinya absurd – apalag judulnya haha. beginilah fic yang dibikin secara spontan. hiks.
03: shining, shining secret stones.
Gilbert bersandar di lampu lalu lintas, menatap lekat-lekat batu kecil berbentuk lonjong yang tergeletak di ujung kakinya. Ia melihat sekelilingnya, segera menginjak batu itu saat melihat banyak orang mulai menyeberangi jalan. Batu itu menarik perhatiannya, dan setiap kali ada benda yang menarik perhatiannya, ia akan mengklaim benda itu miliknya.
Ketika trotoar mulai sepi dan mobil-mobil mulai melesat melewatinya, Gilbert akhirnya membungkuk, mengambil batu lonjong itu dan menggenggamnya erat. Kulitnya merasakan permukaan yang begitu halus dan debu mulai berpindah ke telapak tangannya. Ia memiringkan kepalanya, kelabu batu memenuhi pandangannya, jadi ia mengerjapkan mata. Ia mulai berpikir bahwa batu itu adalah kompasnya, dan ia juga sudah mulai berpikir ia terlalu gila untuk memikirkan hal seperti itu.
Baiklah, ia memang orang yang hidupnya tak punya arah. Tiba-tiba menyerahkan rumah besarnya pada adiknya, menjelajah kota dengan peta lecek dan dompet penuh uang asing, beraksi seperti badut dengan hati kesepian dalam dadanya di kota-kota asing. Ia ingin suatu kota mencintainya ketika ia beraksi gila sama seperti ketika ia memimpin sementara perusahaan warisan ayahnya, yang ia buang lima bulan setelah ditunjuk hanya karena terlalu banyak kertas di mejanya dan ia mulai merasa ia lebih baik menjadi seorang selebriti.
Heh, selebriti. Hidup seorang selebriti terlalu terang untuk pria albino sepertinya. Bisa-bisa kulitnya memerah ditimpa cahaya kamera paparazi.
Ia memutar-mutar batu misterius nan simpel itu, lalu melemparnya. Batu itu melayang dan melayang dan melayang dan terjatuh seketika, sampai di atas telapak tangannya, mengingatkannya pada pelajaran Fisika yang ia benci dahulu kala. Ujung batunya mengarah ke arah kanan, tempat waran putih dicat untuk memandu para penyeberang.
Gilbert mengangkat kepala, melihat semacam kios kecil di seberang jalan dengan poster-poster mobil di jendelanya. Cengir muncul di bibir Gilbert. Hasrat untuk membuang sedikit lebih banyak uang untuk mengelilingi kota lebih berkelas daripada jalan kaki.
Ia mencium batu yang sudah ia anggap sebagai jimat. Debu tertempel di bibirnya, jadi ia meludah banyak-banyak sebelum menunggu lampu lalu lintas menunjukkan lampu hijau bagi para pejalan kaki.
Gilbert menyewa mobil sedan berwarna hitam, berharap agar perempuan di jalan tertarik untuk menghampirinya dan salah mengenalnya sebagai agen rahasia yang begitu eksotis. Tapi ia salah memilih jalan. Jalan itu terlalu sepi. Tanda-tanda kehidupan manusia seperti ditelan oleh gelapnya malam. Mungkin saja UFO tiba-tiba muncul di langit dan mengambil semua manusia di kawasan itu untuk dijadikan objek penelitian.
Gilbert mendesah. Harapannya untuk terlihat lebih berkelas, mirip dengan dirinya pada zaman dahulu kala, pupus sudah.
Ia menaikkan volume radio, mendengarkan DJ menjabarkan fakta-fakta yang disalin dari internet. Masuk di telinga kanan, keluar di telinga kiri. Sama sekali tak berarti. Bosan melanda pikirannya.
Ia memajukan mobilnya ke ujung jalan. Cahaya temaram lampu jalan mulai tumpah ke atap mobilnya, dan saat itu, ia menemukan gadis yang menangis berjalan menyusuri trotoar dengan tangan menjelajahi dinding berlumut dan penuh akan grafiti – meski saat itu, ia sama sekali tak menangis.
Wajah perempuan itu keras dan juga halus pada saat yang bersamaan, mirip batu jimat dalam kantong jaketnya. Tak ada air mata di ujung pelupuk matanya. Yang ada cuma kantong hitam di bawah matanya dan satu eksemplar novel dalam genggamannya. Rasanya lumayan berbeda jauh dengan apa yang ia lihat di taman tadi – dan, Tuhan, pada malam itu, gadis yang menangis tidak menangis lagi, membuatnya tergoda karena wajahnya cukup untuk memenuhi standar. Lagipula, mungkin ia bisa melewatkan malam itu dengan bercinta tanpa makna.
Jadi ia menjalankan mobil sewaannya, dan berhenti di depan gadis itu. Ia menurunkan jendela. Perempuan itu menatapnya dengan iris zamrud yang cantik (yang sempat menghentikan detak jantungnya sedetik saja) dan iaberkedip, memamerkan rubi yang tertanam di tengkoraknya, hanya karena itu merupakan gaya andalannya.
"Halo! Mau tumpangan?" Perempuan itu mengerjapkan matanya. "Gratis lho."
"Tapi kau orang gila yang menjulurkan lidahnya ke langit," katanya sambil berkacak pinggang, memandang Gilbert skeptis.
"Dan kau orang yang menangis di tengah kerumunan," balas Gilbert, lalu menyeringai. "Oh, apakah aku sudah bilang kalau tumpangan yang akan kuberikan padamu itu gratis?"
(np: international love song by the black skirts; makassar, 08/09/2012)
