catatan: um... idk. tidak realistik? karena, duh, aku merasa aneh.
04: i guess i'm floating.
Elizaveta tak menemukan tempat membaca yang lebih baik selain tepi jalan dengan cahaya temaram, tak ada orang berlalu lalang. Terlalu sepi dan terlalu gelap. Tentu takkan ada yang melihat ia membuang kertas-kertas kosong yang terselip dalam novelnya, yang sebenarnya akan ia nodai dengan tinta pulpen dengan kata-kata melankolis, layaknya gadis remaja yang jatuh cinta untuk pertama kali.
Ia pun duduk di tepi trotoar, menyandarkan kepalanya ke tiang lampu, dan mulai membaca bab pertama. Ia tak begitu peduli dengan kesehatan matanya, yang mungkin saja akan memburuk bila ia terus memilih tempat yang begitu gelap.
Setelah jalinan kata-kata dalam cahaya temaram mulai melelahkan otaknya, ia menutup novelnya, menggenggamnya seakan novel itu adalah takdirnya, dan mulai melompat-lompat di atas trotoar sambil menelusuri dinding basah dan berlumut , bertingkah seperti anak kecil. Jika saja ayah Roderich melihatnya bertingkah seperti ini, ia pasti akan mengusirnya. Hell, bahkan Roderich akan meneriakinya, lalu menceramahinya dengan segala tetek bengek mengenai kebersihan.
Elizaveta memejamkan matanya, menahan air mata turun dari ujung matanya. Ia bukanlah seseorang yang melankolis. Ia orang yang tegar. Begitu tegar, sampai ia sudah lupa kapan ia terakhir kali menangis sebelum kedua pembawa pesan mengetuk pintu dengan wajah lelah.
Semuanya terlihat begitu gelap sampai ada cahaya terang seakan menembus kelopak matanya. Ia segera membuka matanya dan melihat mobil sedan hitam, diselimuti gelapnya malam. Ia hampir berpikir bahwa mobil sedan itu semacam mobil canggih yang dapat membawanya ke mana saja asalkan bukan Bumi, tapi toh yang menyempil keluar dari jendelanya cuma orang gila di taman. Ia sama sekali tak terkesan, terutama pada seringai narsis yang muncul di wajah pria itu.
"Halo. Mau tumpangan?" kata si pria. Elizaveta mengerjapkan mata. "Gratis lho."
"Tapi kau orang gila yang menjulurkan lidahnya ke langit."
"Dan kau orang yang menangis di tengah kerumunan," balasnya. Elizaveta hanya bisa memikirkan mengapa pria itu mengenalnya sama seperti ia mengenalnya. Dan ia bersumpah pada segala hal jawabannya bukan takdir.
Pria itu berkata lagi. "Oh, apakah aku sudah bilang kalau tumpangan yang akan kuberikan padamu itu gratis?"
Elizaveta mengeruk kantongnya. Ia hanya menemukan recehan. Hal itu membuat ia menggaruk kepalanya, memikirkan resiko apa saja yang bisa terjadi pada jiwa dan tubuhnya jika ia mengikuti calon pemerkosa itu. Tapi toh.
"Baiklah, aku ikut," katanya, memutari bagian depan mobil dan membuka pintu. Seringai itu masih menempel di wajah tololnya. Ia mendesah. "Tapi kau harus mentraktirku minum."
"Tentu," balas si pria albino. "Asal tahu saja, ya, aku itu kaya."
Elizaveta mengangkat alis. "Really?"
"Yep! Awesome, huh?"
"Well, kalau itu caramu untuk merayu perempuan, aku sama sekali tidak terkesan."
Pria itu membawanya ke sebuah bar di pinggiran kota. Elizaveta melihat keadaan sekitar: terlalu banyak orang mabuk tertidur di atas meja, lengkap dengan air liur dan gelas setengah kosong, serta asap rokok yang melayang begitu bebas, juga panggung yang kosong akan alunan musik. Untuk orang yang mengaku bahwa dia orang kaya, seleranya begitu buruk.
Pria itu duduk duluan sebelum mempersilakannya duduk di sampingnya. Elizaveta mencibirnya ketika pria itu menoleh ke arah bartender sambil mengangkat dua jari, berpikir bahwa setidaknya jika ingin membawa perempuan bersamamu, tunjukkanlah sisi gentleman yang kaumiliki.
Dua gelas kecil tergeletak di hadapan mereka. Eliza mengangkat alis kepada si pria asing. Pria itu hanya tertawa lebar.
"Tidak tahu apa namanya! Yang penting, sih, alkohol!"
Elizaveta mengerjapkan matanya berulang kali, tapi tetap menerima apa yang gratis di hadapannya. Ia meminum dalam satu tegukan. Alkohol membakar ujung lidahnya; otaknya mulai diracuni. Sensasi yang menyenangkan.
"Jadi, bagaimana hidup?" tanya pria itu. Pertanyaan yang begitu payah.
"Buruk!" timpal Elizaveta, sambil memicingkan mata ke arah si pria asing.
"Kau sudah mabuk?" Pria itu tertawa, menggelegar di telinganya. "Payah sekali."
"Memang. Makanya aku jarang minum. Toh suami bakal marah kalau aku minum."
Pria itu menopang dagunya. "Heh? Punya suami?"
"Yep!" Elizaveta menggoyangkan tangannya, memamerkan cincin emas putih yang berkilau ditimpa cahaya di jari manisnya.
"Kalau kau punya suami," kata pria itu, "kenapa kau ada di sini?"
"Oh, dia linglung kalau pergi ke medan perang. Jadinya mati terkena peluru. Paru-parunya berlubang!" Elizaveta mengambil gelas pria asing itu, yang sama sekali tak tersentuh, dan meminumnya, kembali merasakan sensasi yang begitu menggetarkan hatinya, membuat ia mengapung antara langit dan bumi. "Benar-benar seorang idiot."
Pria itu menontonnya meminum bagiannya, kemudian mendesah sesaat sebelum memamerkan lagi deretan gigi putih sepucat kulitnya. "Masih cinta?" tanyanya.
"Tentu saja." Elizaveta mengangkat alis, seakan meminta pria asing itu menjawab pertanyaan yang jawabannya begitu jelas. "Dia kan suamiku."
"Suami yang sudah mati," timpal pria itu, menarik air mata keluar dari ujung matanya, yang sudah berhasil ia tahan selama beberapa jam.
Elizaveta mulai terisak-isak. Sekarang lidahnya tak merasakan alkohol. Hanya air mata tanpa rasa. Hell, mengapa ia selalu menemukan pria yang begitu tolol?
Ia merasakan ada jari-jari menyentuh nadi di lehernya, menyapunya dengan kulit yang terlalu kasar untuk kulitnya yang lembut. Matanya sudah dipenuhi akan air mata untuk melihat wajah pria asing itu terlalu dekat.
"Oh, gadis yang jatuh cinta – melankolis setiap saat."
Bibir pria asing itu begitu dingin, sama seperti kata-katanya.
(np: we could be friends by freelance whales; makassar, 15/09/2012)
