catatan: i'm not really happy with this chapter; merasa tidak realistik dan eliza terlalu OOC + judul terasa kontras dengan yang ada di sini, tapi berilah pendapatmu, ok?


05: just leave me your stardust to remember you by.


Ia tak begitu yakin dengan alasan mengapa ia memutuskan untuk mencium bibir basah gadis yang menangis dan melanggar sumpah suci yang ia buat untuk dirinya sendiri, tapi sensasi alkohol bercampur air mata yang masuk ke celah bibirnya terasa hebat dan baru, membuat pikirannya melemah.

Gadis asing itu menarik diri, menatapnya dengan iris zamrud yang terlalu lebar dan bulu mata basah. Gilbert mulai memijit kepalanya, mulai merasa pusing karena tatapan si gadis yang terlalu intens. Dan ketika matanya terpejam, telapak tangan yang dingin menampar pipinya.

Gilbert segera membuka mata dan mengusap keras pipi kirinya, menatap tajam si gadis asing yang mengingatkannya pada kegagalan pada percobaan pertamanya untuk menggoda gadis yang terlalu suka menangis. Serius, deh. Apakah kegagalan harus selalu diikuti oleh kegagalan? Gilbert tak pernah ingin dianggap sebagai pria yang payah. A loser.

"Tadi itu apa?!" bentak Gilbert.

Si gadis asing mulai membersihkan air mata dengan tisu. "Itu buat menciumku sebelum mengenal namaku," jawabnya dengan tawa kecil, yang membuatnya jengkel karena suaranya tiba-tiba terlalu cempreng untuk kesukaannya. "Seriously, aku sama sekali tak terkesan. Kalau begitu caramu untuk mengalami one night stand, kau pasti dianggap pemerkosa."

"Aku tidak sejahat itu," balas Gilbert. Ia melirik sekilas bartender yang menatap mereka dengan kedipan lambat dan tangan yang seharusnya membersihkan gelas malah berhenti di tengah jalan. Ia pun mendesis, membuat bartender itu kembali ke pekerjaannya, meski sekali-kali melirik ke arah mereka.

"Memang tidak. Tapi kau sangat, sangat payah."

"I'm awesome!"

Gilbert mendengus keras. Komentar gadis itu sama sekali tak berarti baginya. Si gadis asing tertawa lagi. Merah mekar di kedua pipinya. Gilbert tak percaya satu gelas kecil alkohol sudah membuatnya seperti nenek kesalahan besar. Benar-benar suatu kesalahan besar.

"Jadi, beritahu aku namamu, yeah? Supaya aku tidak menganggapmu pemerkosa," timpal si gadis asing, memainkan gelas kosong dengan jari-jari yang ramping.

Wajah Gilbert sudah berubah muram, kontras dengan topeng yang ia pasang ketika mencari atensi di taman. "Gilbert Beilschmidt," ucapnya.

"Lovely name, Gil. Namaku Elizaveta." Suaranya terdengar lembut dan serak dan Gilbert hampir jatuh ke dalam kelembutannya. "Sayang sekali, tidak terdengar seperti nama anggota kerajaan."

"Jangan mengejek namaku, oke? Namaku itu awesome!"

Elizaveta menggeleng. "Nope. Roderich yang terdengar seperti anggota kerajaan. Cantik, eh?"

"Itu nama yang sangat jelek," komentarnya.

Elizaveta hanya berdiri, mengambil novelnya dan menarik lengan Gilbert, membuatnya hampir jatuh dari kursi. "Okay, so, masih tertarik dengan one night stand? Aku lagi punya mood yang bagus untuk melakukannya."

"Apa kau sudah gila?!"

"Yep! Terima kasih untuk alkoholnya!"


Gilbert terduduk di ujung tempat tidur, memijit keras-keras kepalanya. Elizaveta tidur dengan tubuh telanjang di sampingnya dengan sikap yang begitu tenang; begitu berbeda dengan Elizaveta yang dirasuki alkohol dan menjadi orang gila yang menepuk bahunya dengan bangga.

Banyak orang yang sudah menganggapnya gila, tapi jika orang gila itu menemukan orang lain yang lebih gila, pasti orang gila itu akan bertambah gila! Oh, bahkan Gilbert terkadang ingin menjadi orang-orang yang biasa saja. Tapi, ketika mengingat sikap serius adiknya, ia hanya bisa ingin menjadi kegilaan itu sendiri.

Gilbert memandang wajah Elizaveta sesaat sebelum turun ke dadanya, merenung sebentar.

"What the hell," gumamnya dan mulai mengambil selimut yang menutupi perut Elizaveta untuk dirinya sendiri. Setidaknya misi untuk mencari orang yang bisa diajak bercinta tanpa makna akhirnya berhasil.


Cahaya matahari siang menusuk-nusuk matanya, membuat ia terpaksa berguling ke arah yang lebih nyaman. Ia membuka matanya secara perlahan, menyadari bahwa Elizaveta telah menghilang, meninggalkan aroma parfum miliknya yang mengapung di udara. Gilbert berimajinasi tentang Elizaveta yang memakai parfum lelaki dan hanya bisa menyeringai sambil mendesah napas lega: orang gila itu takkan pernah bertemu dengannya lagi.

Tapi kemudian, di ujung matanya, terlihat sebuah novel tergeletak di bawah kursi, tersembunyi di bawah bayang-bayang. Gilbert segera menyadari bahwa buku itu adalah milik Elizaveta, yang ia genggam terus di mobil sewaannya seakan novel itu adalah benang tipis tempat hidupnya bergantung.

Gilbert mengerang keras-keras. Sama sekali benci dengan novel petaka itu. Ia mempunyai kebiasaan untuk mengembalikan barang yang bukan miliknya, terima kasih untuk teriakan ayahnya yang mempunyai prinsip seperti seorang polisi lalu lintas. Lagipula, Francis pernah mengatakan bahwa jika ada yang meninggalkan barangnya saat mengalami cinta satu malam, berarti kau terkutuk untuk bertemu dengannya di setiap sudut kota. Mitos itu terlalu konyol dan itu membuat rasa bingung mengetuk pintu otaknya.

"Dasar janda gila."


(np: 안녕, 보물들 by dear cloud; makassar, 23/09/2012)