catatan: minggu mid selesai! hell yes. & um di sini ada arthur. pengaruh baca fic uk/hungary sih (walaupun di ficnya lebih dominan belarus/hungary ahem) anyway, maaf terlambat. mencoba untuk tidak menjadi procrastinator itu susah. & saya jarang nulis si england, jadi sori kalau ooc ya.
06: lost and found
Kakinya yang telanjang tanpa alas mengambil langkah dengan hati-hati di samping trotoar, berusaha untuk tidak oleng dan jatuh ke jalan. Telapak kakinya merasakan hangatnya sinar matahari yang membakar aspal, cukup untuk memberinya sedikit kesadaran di tengah halusinasi yang melayang-layang dalam pandangannya. Sepatunya ia gantung di ujung dua jari, terlihat kusam di bawah sinar matahari.
Pikirannya sama sekali mati. Yang ia tahu hanyalah banyak sekali kata kesalahan tertulis di dinding hatinya, entah itu soal menaiki tumpangan maupun mengajak si albino itu bercinta. Akibatnya novel milik Roderich yang baru ia baca satu bab sekarang tertinggal di tempat si albino itu, membuat sumpah yang ia buat sekarang berada di ujung kayu di kapal bajak laut, tenggelam ke laut yang penuh akan janji yang diingkari. Oh, apakah jari-jarinya memiliki pekerjaan sebagai perusak janji? Ia tak begitu tahu. Tangan yang tidak menggenggam sepatu oxford-nya kehilangan sesuatu untuk dijadikan pegangan hidup.
Ia terhuyung ke dinding kaca. Punggungnya menabrak dinding yang keras dan ia mulai merosot ke bawah, duduk di lantai dengan gaya seperti pemakai narkoba. Untung saja ia mengingat bahwa hari yang seluruh manusia jalani sekarang hari Minggu, sehingga rata-rata orang pasti masih bergelung di dalam selimut, tak mau menerima sinar matahari masuk ke dalam mata mereka.
Ia memandang cahaya matahari yang penuh akan kehidupan sekarang menyinari gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di hadapannya. Kacanya mengilap terlalu terang, bahkan mengalahkan cahaya yang biasa bersinar menyorot selebritis dan penari striptis. Ia tersenyum tipis. Rasa kantuk mulai menyerang dirinya. Ia melihat sedikit siluet buku-buku antik di kaca gedung pencakar sebelum tertidur.
"―semua orang suka sekali tidur di sini, sih? Baiklah tokoku memang membosankan, aku akui itu, tapi haruskah kebosanan itu membuat orang-orang tertarik untuk menjadikan halaman tokoku sebagai tempat tidur?! Gah, apa orang-orang sekarang tak punya tata krama?"
Elizaveta mulai membuka pandangannya seraya mendengarkan setiap kata keluhan yang keluar dari bibir seorang pria. Penglihatannya sedikit kabur, tapi ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga ia yakin pemandangan yang ia lihat sudah sejernih kaca.
Sepasang mata hijau yang sama dengan iris hijaunya memandangnya tajam, kerutan terbentuk jelas di atas alis terlalu tebalnya. Elizaveta mengedipkan mata, memandang lama pada sapu yang digenggam si pria bercelemek merah itu, menganggap itu tanda bahwa ia sebaiknya pergi. Tapi tubuhnya masih lemah, jadi ia menyerah saja kepada rasa canggung yang muncul tiba-tiba.
"Sepatu oxford yang bagus. Cocok buat dijadikan hiasan, ya?" kata si pria alis tebal itu, melirik sekilas ke etalase tokonya. Elizaveta ikut melirik, menyadari bahwa siluet buku yang ia samar-samar lihat sebelum tertidur sekarang terlihat jelas di depan matanya. Pria alis tebal itu kembali memasang pandangan ke arahnya. "Aku benar-benar akan mengambilnya jika kau tak menyingkir dari halamanku."
"Aku tak bisa, oke? Aku lelah berjalan ke sini. Mungkin sejauh tiga-empat-kilo?" Elizaveta menggaruk kepalanya. "Tak bisakah kau memberiku sedikit toleransi? Aku yakin kau tidak sejahat itu pada wanita."
"Memang, tapi aku lelah melihat tunawisma tidur di depan tokoku. Dan kau datang dari mana sampai jalan sejauh itu?"
"One night stand. Entah di mana tempatnya. Lupa."
"Ah, pelacur rupanya. Okay. Tanpa rumah. Okay. Mood-ku bertambah buruk."
"Mood-ku juga," kata Elizaveta, menatapnya dengan tajam. "Kau sendiri sama sekali tak punya tata krama meski kau mendambakan bahwa setiap orang punya tata krama. Kau benar-benar harus melihat ke cermin."
Pria itu mendengus."Terserahlah."
"Ngomong-ngomong, kau penjual buku kan?"
"Iya," jawabnya, lalu berkacak pinggang. "Memangnya kenapa?"
"Punya The Great Gatsby? Kalau ada, ingin kubeli."
"Ada di dalam. Kalau mau, ya masuk."
Pria beralis tebal itu masuk ke dalam tokonya. Elizaveta mendengus, mengumpat si pria pemilik toko buku karena tidak membantunya mengangkat tubuhnya yang terasa berat dari aspal yang sekarang benar-benar sangat panas.
Dengan langkah pelan, ia masuk ke dalam. Aroma kertas-kertas dan kayu mengambil jalan masuk ke dalam paru-parunya. Elizaveta menutup matanya, bernostalgia dengan pemandangan Roderich duduk di dalam perpustakaannya, membiarkan kacamatanya merosot ke batang hidung karena terlalu fokus membaca rangkaian kata-kata yang menyulitkan pikirannya―terima kasih Sylvia Plath―bersandar dengan elegan di sofa kulit yang ia pesan diam-diam di belakang punggung ayahnya―momen di mana Roderich Edelstein adalah Roderich Edelstein, bukan boneka militer ayahnya.
Si pria beralis tebal itu menjentikkan jari di depannya. Otomatis Elizaveta membuka matanya. The Great Gatsby masuk dalam pandangannya. "Ini novel yang kau mau."
"Hm, kau baru baik kalau sama pelanggan," celetuk Elizaveta sambil mengambil novelnya. Ia mulai merogoh saku setelah melihat harga yang tertera di sampul buku.
"Penjual selalu berbuat baik pada pelanggannya. Kalau tidak baik, bagaimana toko ini akan bertahan?" katanya. Elizaveta sudah selesai mengecek sakunya dan sekarang menyerahkan uangnya pada si pria beralis tebal. Si pria beralis tebal itu mengambil uangnya dengan senang hati.
"Trims, um," Elizaveta berusaha mencari nama si pria beralis tebal di celemeknya, tapi tak menemukannya. "Siapa namamu?"
"Arthur."
"Right. Okay. Namaku Elizaveta. Trims, Arthur."
Arthur mengangguk pelan. Elizaveta menguap lebar. Rupanya rasa kantuk masih mendera pikiran, jiwa, dan tubuhnya. "Dan, um, bisakah kupinjam kamarmu? Aku masih mengantuk."
Arthur mengangkat sebelah alisnya yang tebal. "Tapi kau sudah menumpang tidur di halaman tokoku."
"Well, ya, itu memang benar. Tapi tidur di aspal bukanlah hal yang baik untuk tubuh yang lelah dan pantatku tadi benar-benar panas," timpal Elizaveta. "Tidurku sama sekali tak nyaman dan kau salah satu faktor utama dari ketidaknyamanan tidurku."
Arthur memandangnya lama, menelusuri setiap lekuk wajah Elizaveta, lalu mendesah. Ia mengangkat jari jempolnya, menunjuk lorong panjang di samping rak tempat novel-novel baru terpajang. "Lurus saja ke dalam. Pintu biru."
"Terima kasih banyak, Arthur. Kau penyelamat jiwaku."
"Yeah, karena aku itu Harry Potter. Yang Terpilih," katanya sambil menyunggingkan senyum kecil. Elizaveta yang cukup suka untuk membaca buku-buku terkenal di masa sekarang hanya tertawa sebelum menghilang di balik pintu biru.
Sementara itu, Arthur keluar dari tokonya, mengambil sepatu oxford Elizaveta yang bermandikan cahaya matahari siang yang begitu terik dan membawanya ke dalam toko. Dengan hati-hati, ia menaruh sepatunya di samping buku yang dipajang di etalase, menjadi sebuah hiasan untuk menarik perhatian orang-orang ke toko bukunya yang sepi.
(np: girl anachronism by the dresden dolls; makassar, 06/10/2012)
